~7~

"The truth"

.

.

-Forget-Me-Not Valley-

.

Langit kelabu menaungi kota Forget-Me-Not Valley di pagi yang berkabut. Di salah satu penginapan kota itu, Claire sedang mengemasi barang-barangnya. Ia telah mengganti pakaian dan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya ke Flower Bud. Ia tersenyum. Langkahnya sekarang tak seberat tadi malam. Tentu saja, karena ia tak akan pergi sendirian. Gray akan menemaninya.

"Kau sudah selesai? Ayo pergi," ajak Gray dingin tanpa ekspresi, seperti biasa.

"Uhn," sahut Claire dengan senyum di wajahnya. Perhatiannya kembali tertarik pada lengan Gray. Di balik baju longgar Gray terdapat lilitan perban yang melapisi lukanya.

"Kau yakin tak ingin kusembuhkan?" tanya Claire.

"Tak usah," tolak Gray. Gray mengulurkan tangannya, membantu Claire naik ke atas kudanya. Gray sengaja meninggalkan gerobak kudanya agar perjalanan mereka leluasa. Selain itu, Claire ingin mereka tiba di Zephyr secepat mungkin.

Claire naik di bagian belakang, berpegangan ragu-ragu pada baju Gray yang memegang tali kekang.

"Hey," cetus Gray.

"Ya?" Claire sedikit berteriak karena suara derap kuda mereka yang cukup kencang.

"... lupakan saja," tutup Gray, tidak jadi bicara.

"Haaah?"

Gray tidak menjawab lagi dan Claire pun tak bertanya lebih jauh. Mereka memulai perjalanan ke Flower Bud dengan kecepatan tinggi dalam diam.

Dia tidak memberitahuku... alasannya ke Zephyr... selain menjalankan misi penting dari desanya. Desa yang bisa menggunakan sihir.

Sebenarnya Gray ingin bertanya tentang makhluk aneh semalam. Cara makhluk itu menghilang sungguh menarik perhatian Gray. Dulu, dulu sekali, saat ia kecil, ia pernah melihat pemandangan itu. Seseorang yang menghilang menjadi cahaya ketika meninggal. Mungkin Claire tahu sesuatu... tidak, pasti Claire tahu sesuatu. Tapi ia enggan bertanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa takut mengetahui sesuatu.

-000-

Claire dan Gray tiba di Flower Bud dalam waktu tiga jam setelah melewati hamparan hutan dan padang rumput. Karena musim dingin sudah semakin mendekat, hampir semua pohon di hutan telah menggugurkan daunnya. Begitupun padang rumput yang lebih seperti gurun karena telah mengering.

Mereka hendak mengistirahatkan kuda mereka yang telah kelelahan di pos penjagaan kota. Namun ada yang aneh. Pos penjagaan pertama kota ini kosong, berbeda dari kota Forget-Me-Not Valley. Gray dan Claire dengan leluasa melewati gerbang pertama, dan baru menemukan tiga orang penjaga di gerbang dalam kota.

"Oh, Gray! Wow, lama sekali aku tak melihatmu!" seru salah satu penjaga berusia separuh baya sambil melambaikan tangannya. Tampaknya ia mengenal Gray.

"Kalian saling kenal?" tanya Claire.

"Yeah, dulu aku pernah singgah di sini."

Sama seperti Celia saat pertama kali melihat Gray, penjaga itu mencari seseorang.

Hm? Dimana Cliff? Dia tak bersamamu kali ini?"

Mendengar pertanyaan yang sama, Gray hanya menjawab tanpa ekspresi, "dia sudah tewas, Paman Cody."

"Eh? Ah... begitu," respon Cody, penjaga itu, sedikit tak menyangka. Ia lalu tersenyum untuk mencairkan suasana. "Yeah... dengan pekerjaan kalian itu, resiko kehilangan nyawa tentu saja sangat besar... yah. Tentu."

Gray mengangguk kecil.

"Lalu gadis ini? Partner barumu? Atau kekasihmu?" tanya Cody sambil melihat Claire dengan pandangan menyelidik.

"Dia klien yang menyewaku. Aku harus mengantarnya ke suatu tempat," jawab Gray datar.

"Hooooh... jadi sampai sebesar ini pun kau masih sendirian? Payah... haha."

Gray tak begitu mempedulikan ejekan Cody. Matanya berkeliling mengamati situasi gerbang kota yang sangat sepi.

"Apa yang terjadi? Terakhir aku kesini penjagaan kota ini sangat ketat," tanya Gray.
Cody dan para penjaga lainnya saling bertukar pandang, gerakan yang sangat mencurigakan bagi Gray. Seolah mencapai konsensus, Cody akhirnya bercerita pada Gray.

"Kau tak akan percaya apa yang telah terjadi di sini," terang salah satu penjaga.

"Huh? Maksudmu?" Gray bertanya dengan nada monoton.

"Monster-monster muncul entah dari mana! Penduduk bahkan telah diungsikan ke bagian barat kota. Pemerintah sangat waspada sampai-sampai penjaga gerbang pun ditugaskan berpatroli di kota. Jika kau bermaksud mampir ke kota ini, kusarankan kau kembali. Kondisi sedang gawat di dalam!" jelas Cody. Gray langsung menjatuhkan pandangannya pada Claire yang masih duduk di belakangnya. Claire kembali terlihat sangat ketakutan dan memegang baju Gray erat-erat. Gray menyadari perubahan itu.

"Kami harus melewati kota ini untuk ke Zephyr secepatnya. Biarkan kami lewat," kata Gray, dingin dan profesional. Penjaga yang tadi bicara pada mereka kini memasang wajah yang lebih takut lagi.

"Zephyr? Untuk apa kau kesana?" tanya penjaga yang berdiri di samping Cody.

Gray berhenti sejenak. Ia tak tahu persis untuk apa mereka ke sana. Tapi ekspresi penjaga itu membuat Gray curiga.

"Apa ada yang salah?" tanya Gray pada Cody. Gray turun dari kudanya, lalu membantu Claire turun.

"Ah... tidak! Haha! Hanya saja... kau tahu, ada rumor aneh baru-baru ini tentang Zephyr," jawab Cody.

"Rumor aneh?" Gray menggali informasi lagi. Dan seperti sebelumnya, ketiga penjaga itu, termasuk Cody, bertingkah tidak biasa.

Cody tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk memberitahu Gray. "Kau tahu selama ini Zephyr hanyalah kota lumpuh di bawah kendali Castanet kan? Tampaknya mulai ada pergerakan kembali di sana. Pasukan gerilya sisa-sisa kekuatan Zephyr bangkit kembali, dan kau tak akan bisa memasuki Zephyr dengan aman. Rumor mengatakan bahwa munculnya monster aneh akhir-akhir ini adalah akibat aktivitas sihir terlarang di Zephyr. Haha! Aku tahu kau tak akan percaya itu..."

Gray terdiam. Dan seperti dugaannya, ekspresi Claire terlihat tidak nyaman.
"Terimakasih peringatannya, tapi bagaimanapun kami harus kesana," Gray bersikeras, meski wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.

Cody menghela napas. Ia kemudian mendekat pada Gray dan berbisik di telinganya, "Kau benar-benar tidak takut mati, huh? Memang berapa banyak Gold yang ditawarkannya padamu sampai kau sebegitunya?"

Gray tak menjawabnya. Ia langsung melanjutkan perjalanan ke dalam kota Flower Bud. Meski begitu ia masih memikirkan pertanyaan itu.

Pertanyaan yang masuk akal.

Selama menjadi hunter, terutama setelah ia berpisah dari Cliff, uang adalah satu-satunya alasan Gray 'membantu' orang lain. Claire hanya memberikan Gray sebuah pisau kecil berbalut emas, dengan batu saphire sebagai hiasannya. Berdasarkan perkiraannya, mungkin harga pisau itu paling tinggi 25.000 Gold, jumlah yang tak sebanding dengan resiko yang harus dilalui Gray.

Lalu kenapa?

Pembicaraannya dengan Claire semalam entah kenapa membuat insting Gray tergerak untuk membantu gadis itu. Claire bilang saat ini ia sedang menggunakan nyawa yang telah diselamatkan ayahnya dengan sebaik-baiknya. Mendengar itu membuat Gray teringat pada kata-kata Cliff di suatu malam, beberapa hari sebelum mereka memulai misi berbahaya itu. Ya, misi yang membuat Cliff kehilangan nyawanya.

"Kau tahu? Hidupku sangat menyenangkan, Partner..." kata Cliff. Malam itu ia dan Gray sedang menikmati langit malam dari mercusuar terbesar di Happiness Island.

"Huh? Kenapa kau tiba-tiba?" Gray mengangkat satu alisnya, heran dengan ucapan manis sahabatnya yang sangat tiba-tiba itu.

"Haha. Entahlah. Aku hanya merasa sangat puas dengan kehidupanku selama ini. Melalui saat-saat menegangkan yang memicu adrenalin, melihat hal-hal yang berbeda dengan mata kepalaku sendiri, melihat dunia..."

Clidd berhenti. Membuat Gray tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tak pandai berkata-kata.

"... kau berlebihan."

Cliff menggelengkan kepalanya.

"Setelah Paman meninggal empat tahun lalu, kau sempat berubah total. Kau tenggelam dalam kegelapanmu sendiri."

Kali ini Gray yang terdiam, mengingat masa-masa saat ia kehilangan arah.

"Tapi aku senang kau dan aku masih tetap bersama," lanjut Cliff. Gray melihat wajah Cliff, lalu tertawa kecil.

"Karena aku dapat menemanimu berjalan di mimpimu itu?"

"Haha!" Cliff tertawa lagi. Tawanya itu lalu berubah menjadi senyum yang sangat lembut. Pandangan matanya pun berubah menjadi sangat lembut, selembut angin malam yang menghembus rambut coklatnya. Angin laut malam itu sedikit tak biasa. Hembusannya nyaris tak terasa. Hanya berhembus seadanya, sangat lembut. Seperti hawa pembunuh seseorang.

"Sekalipun kita berpisah, aku atau pun kau, harus tetap berjalan di jalan ini. Ya kan?" lagi-lagi Cliff mengatakan hal yang membuat Gray tak tahu harus menjawab apa.
"... tentu saja," jawab Gray pendek, setelah terdiam beberapa saat. Dan Cliff lagi-lagi hanya tersenyum.

Siapa sangka itu terakhir kalinya Gray mendengar keluhan melankolis Cliff. Dan seperti yang dikatakan Cliff, meski ia masih merasa tak pantas terus hidup di atas pengorbanan Cliff, ia akan terus berjalan dan hidup.

"Tempat ini benar-benar sepi..." kata Claire, membangunkan Gray dari lamunannya. Gray hanya merespon dengan "ya," seperti biasa. Mereka berjalan kaki sambil menuntun kuda mereka melewati jalan kecil daerah pertokoan Flower Bud.

Kota Flower Bud yang sekarang terlihat sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu: sepi, dingin, dan mati. Mungkin monster dapat muncul kapan saja dari sudut kota. Seolah Harvest Goddess membaca pikiran Gray, tiba-tiba suara raungan muncul bersama bunyi berdebam yang sangat keras.

Monster berbentuk serigala yang sangat besar, bahkan lebih besar dari Claire, berambut putih dengan sedikit aksen biru yang lebat menutupi tubuhnya. Ia semakin mengerikan dengan matanya yang tajam dan merah.

"Mundur..." kata Gray sambil menghunuskan pedangnya. Claire menurut dan bergerak ke belakang Gray. Merasa terancam, monster itu menyerang Gray. Namun tak sempat taringnya mencapai Gray, sebuah palu sebesar memukul monster itu dari belakang. Dengan sekali pukul, monster itu langsung tumbang dan menghilang menjadi cahaya. Kekuatan pukulan yang hebat.

Gray memicingkan matanya untuk melihat si pemukul palu yang masih terhalang oleh cahaya monster. Seorang pria dengan topi merah bulat. Rambut dan matanya keemasan, tubuhnya kurus dan putih. Namun lengan kurus itu ternyata punya kekuatan yang sangat dahsyat.

"Paman Dirk!" seru Claire, membuat Gray langsung melihat Claire yang tampak mengenali pria itu. Ya, itu Dirk, Paman Claire yang memberitahu Claire bahwa ia harus menggunakan nyawanya sebaik-baiknya.

"Claire?" ekspresi Dirk seperti seorang anak yang menemukan cincin emas dalam bungkus permen. Ia menghilangkan palu super besar itu dari kepalan tangannya, lalu segera memeluk Claire.

"Kemana saja kau? Aku dan Reina sangat mencemaskanmu!" Dirk mengudek-udek rambut pirang Claire hingga berantakan.

"Kalian mencariku?" tanya Claire, ragu. Rupanya Dirk membaca keraguan ini dengan baik.

"Kami mencarimu. Tapi tak bisa melacakmu sama sekali. Apa yang terjadi?" Dirk kali ini memasang wajah khawatir. Ia lalu menyadari seorang pria yang sejak tadi berdiri di samping Claire.

"Dia?" tanya Dirk masam. Seperti seorang ayah, Dirk sangat protektif pada Claire.

"Gray," jawab Gray tanpa ekspresi.

"Siapa?" rupanya balasan Gray membuat Dirk entah kenapa merasa kesal.

"Gray," lagi-lagi Gray hanya menjawab seadanya, membuat Dirk bertambah kesal.

"Ya, Gray, kau ini siapa?!"

Claire berusaha menenangkan pamannya dan berdiri di antara mereka.

"Dia Gray, seorang hunter. Aku memintanya menemaniku ke Zephyr sekaligus menjagaku," jelas Claire. Dirk memicingkan matanya, mengevaluasi Gray dari penampilannya.

"Kau kuat. Kurasa kau benar seorang hunter," cibir Dirk.

Gray menghela napas tak peduli. Ia melihat Claire, menyuruhnya mendekat padanya dengan isyarat tangan.

"Kau sudah bertemu pamanmu. Lalu bagaimana?" tanya Gray.

Claire tampak berpikir, lalu meminta pendapat pada Dirk. "Ehm... paman?"
Dirk melihat sekelilingnya, lalu mengajak mereka berdua duduk di bangku pinggir jalan dengan leluasa. Tak ada seorang pun di sekeliling mereka. Sudut kota Flower Bud ini benar-benar tampak seperti kota mati.

"Gray?"

"Ya,"

"Seberapa jauh Claire memberitahumu tentang urusannya?"

Gray mengerutkan keningnya. Firasatnya mengatakan bahwa pembicaraan ini akan menyeretnya pada hal yang berbahaya.

Haruskah aku terlibat lebih jauh?

"Dia tak memberitahuku apapun, kecuali ia punya misi penting di Zephyr. Tapi kurasa itu ada hubungannya dengan monster yang muncul akhir-akhir ini? Dan darah ajaibnya?"

Dirk tersenyum masam. Ia memandang Claire dengan agak kecewa.

"Kau memberitahunya soal darahmu itu?" tanya Dirk. Claire tampak agak takut, tapi mengangguk jujur.

"Ia telah menyelamatkanku dari penculik. Dan hampir mati karena aku. Karena itu... aku..."

Mendengar kata penculikan dari mulut Claire telah mengubah ekspresi keras Dirk menjadi lebih lembut.

"Begitu. Terimakasih telah menyelamatkannya," ucap Dirk sambil menundukkan kepalanya pada Gray. Gray menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Dia juga telah menyelamatkanku,"

Dua kali.

Dirk menghela napas, lalu tanpa disangka-sangka, ia tersenyum pada Gray.

"Terimakasih sudah menemaninya sejauh ini. Mulai sekarang kau bisa cuci tangan dari masalah ini," kata Dirk. Ia beranjak dari tempat duduknya sambil menggandeng tangan Claire, lalu berjalan pergi meninggalkan Gray.

"Tunggu sebentar,"

"Huh?"

"Ada yang ingin kutanyakan," kata Gray. "Monster yang berubah jadi cahaya ketika mati itu... makhluk apa?"

Dirk berbalik menatap Gray tajam. "Jika aku memberitahumu, kau mungkin akan terlibat lebih jauh. Kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri, bocah," jawab Dirk, meremehkan Gray. Lalu seolah tak mempedulikan Gray, ia kembali berjalan menjauh. Gray yang merasa kesal mengepalkan tangannya. Ia menarik jaket merah Dirk dari belakang, membuatnya nyaris terjengkang ke belakang.

"Apa yang kau lakukan?!" sergah Dirk. Namun kemarahan Dirk langsung sirna saat melihat mata Gray yang tajam. Mata yang membuat siapapun yang melihatnya serasa ditarik dalam-dalam.

"Beritahu aku. Sebenarnya siapa mereka? Bagaimana mereka bisa menghilang dan bukannya mati?"

Tekad? Tidak, bagi Dirk ketertarikan Gray terhadap monster itu sedikit aneh. Ia tak tahu apakah ia harus melibatkan Gray atau tidak.

Kali ini Claire yang bicara. "Maaf melibatkanmu, Gray. Tapi sekarang kau tak perlu lagi..."

"Libatkan aku," potong Gray serius. "Kau sudah membayarku. Dan aku juga ingin menggunakan nyawaku ini sebaik-baiknya," lanjutnya.

"Gray..." Claire tak mampu membalas perkataan Gray. Mata Gray saat ini membuat hatinya merasa seperti dicubit. Claire berbalik dan melihat Dirk dengan mata memohon.

Dirk mengangguk, tanda bahwa ia setuju untuk melibatkan Gray.

"Tapi sebelum itu, Gray. Boleh aku tahu kenapa kau sangat tertarik pada monster itu?" tanya Dirk.

Tanpa ragu Gray menjawab pertanyaan Dirk, "Aku kenal seseorang yang berubah menjadi cahaya ketika meninggal."

Jawaban lugas Gray membuat mata Dirk dan Claire sedikit melebar. Namun berbeda dengan Claire, Dirk dengan cepat menguasai emosi kagetnya.

"Orang yang kau kenal? Siapa?"

Gray tersenyum tipis. Senyuman yang sama yang dilihat Claire saat ia mengucapkan salam perpisahan di pertigaan Forget-Me-Not Valley. Jawaban yang keluar dari mulut Gray membuat bulu kuduk Claire bergidik. Membuat Dirk sepenuhnya memahami maksud kata-kata Oracle bahwa 'takdir akan menemukan jalannya'. Benar, jawaban itu akan memaksa Gray terlibat sepenuhnya dalam misi besar yang diemban Claire...

Orang itu,

Yang membuat Gray membenci sihir,

Dia adalah...

.

.

.

"Ibuku,"

.

~000~
(bersambung...)

.

Author's note:
Seperti biasa, terimakasih sudah menyempatkan waktu membaca fanfic ini!
Coba aja bisa nge tag lebih dari dua genre, author pengen bangen nambahin tag 'ANGST' utk fanfic ini.
Okcay, see ya~