~8~

Sacrifice

Claire, Gray, dan Dirk duduk berhadapan di sebuah kafe kosong tak berpenghuni. Dirk mengambil minuman di kabinet seenaknya, seolah itu kafe miliknya sendiri. Ia memberikan jus anggur untuk Claire, dan wine untuknya dan Gray.

"Gray. Sebenarnya aku tak ingin menceritakan semua ini padamu. Tapi karena yang kau katakan soal ibumu tadi... kurasa kau punya hak untuk tahu."

Gray mengangguk paham. Wajah Gray yang jarang sekali berekspresi itu membuat Dirk tertawa kecil sebelum memulai penjelasan seriusnya.

"Monster-monster itu bukanlah makhluk dari dunia ini. Mereka melintasi batas dimensi yang retak dari Dunia Rune Factory," jelas Dirk. Penjelasan ini membuat Gray mengerutkan dahinya.

"Dunia Rune Factory? Apa itu?"

Dirk menenggak wine nya dahulu sebelum menjawab. "Dimensi lain selain Harvest Moon. Berbeda dengan Harvest Moon, di sana monster hidup dengan bebas dan semua manusia memiliki sihir yang dapat mempertahankan dirinya. Kau tahu bahwa Zephyr dan Castanet dulu pernah berperang kan?"

"Ya, aku tahu. Sejak itu dan gempa besar melanda Zephyr, kota itu bagaikan kota mati," jawab Gray. Ia mulai merasakan perasaan tidak nyaman di tengkuknya karena ia bisa menebak-nebak apa yang telah terjadi.

"Pemerintah Zephyr berpikir bahwa mereka bisa memanfaatkan kekuatan Rune Factory untuk memenangkan perang, karena itu mereka melakukan ritual sihir terlarang untuk memanggil naga dewa Rune Factory. Singkatnya, rencana mereka tak berhasil, justru membuat keseimbangan kedua dunia terganggu. Akibatnya kau bisa lihat, retakan dimensi di mana-mana dan menyebabkan monster masuk ke dunia Harvest Moon," jelas Dirk.

Gray terdiam beberapa saat, berpikir dalam-dalam. Ia melihat mata Dirk, lalu memastikan asumsinya.

"Kalau begitu, ibuku berasal dari Rune Factory?" tanya Gray.

Dirk mengangguk yakin, "Ya."

"Yah, itu menjelaskan banyak hal," kata Gray sambil bersandar pada kursinya.

"Maksudmu?" Dirk tersenyum tipis sambil melihat Gray. Sementara itu, disampingnya Claire memandang Gray dengan mata yang khawatir.

"Kemampuan fisikku sejak kecil tak bisa dibilang normal. Beberapa orang bahkan menyebutku monster. Kurasa karena itu aku jadi benci pada monster dan sihir," jelasnya.

"Karena itu kau menolak ku obati dengan darahku?" tanya Claire, masih memasang wajah khawatirnya.

"Ya. Maaf, Claire, mungkin aku terlalu keras waktu itu," Gray meminta maaf sambil menundukkan pandangannya dari Claire.

Claire menggelengkan kepalanya beberapa kali, "Tak apa! Aku mengerti."

Gray tersenyum tipis. Untuk ketiga kalinya Claire melihat Gray tersenyum. Karena ekspresi Gray jarang keluar, tanpa sadar Claire sangat menantikan senyuman itu. Senyuman yang sesungguhnya sangat manis di mata Claire. Meski saat ini senyum itu masih terlihat sedih.

"Lalu, apa kau juga memiliki hubungan dengan Rune Factory?" tanya Gray pada Claire.

"Ya. Hubungan yang sangat erat. Aku..."

Pembicaraan Claire terpotong oleh gebrakan meja Dirk. Suara yang sangat keras, tidak sesuai dengan wajah tersenyum lebar Dirk saat ini. "Oke, cukup! Sekarang keingintahuanmu sudah terpenuhi, saatnya kita berpisah, Gray!" seru Dirk. Ia menarik tangan Claire dan berjalan keluar kafe. Selagi Dirk menariknya, Claire menoleh dan melihat kembali wajah Gray.

Gray tidak menghentikan mereka seperti tadi. Ia hanya berdiri diam dengan ekspresi yang hampir sama.

"Apa tak apa kita pergi meninggalkan Gray?" Claire menghentikan langkahnya, membuat Dirk terpaksa berhenti.

"Itu lebih baik baginya," kata Dirk dingin sambil kembali berjalan jepat.

"Kita belum memberitahunya satu bagian penting..."

"Biar saja. Dia tak perlu tahu," tegas Dirk.

"Tidak bisa begitu, Paman. Dia harus tahu..." kali ini Claire menggunakan nada yang lebih memohon. Tapi Dirk tak berhenti. Ia terus saja berjalan tanpa mempedulikan keberatan Claire. Karena kesal, akhirnya Claire melepas paksa tangan Dirk.

"Dia harus tahu kalau dia akan menghilang begitu aku sampai di Zephyr!" seru Claire histeris. Rupanya melawan pamannya menguras segenap keberanian dan tenaga Claire sehingga ia kini agak terengah-engah.

Dirk menghela napas, mencoba tetap tenang menghadapi Claire yang emosi.

"Lalu? Jika ia tahu dan menghentikanmu apa kau akan membatalkan tugasmu?" tanya Dirk dengan pandangan yang tajam. Pandangan yang membuat Claire membeku. Ia hanya sanggup menundukkan wajahnya.

"Tidak..." jawab Claire lemah.

Berbanding terbalik dengan pandangan tajamnya, hati Dirk saat ini tidaklah setajam itu. Ia ragu-ragu tentang banyak hal. Ia hanya berusaha tetap bertumpu pada tujuan awal misi mereka...

Dirk menunduk sedikit, menyejajarkan pandangannya dengan keponakannya itu, lalu berkata dengan lembut, "Claire. Kau tahu aku menyayangimu kan?"

Claire mengangguk.

"Aku tahu. Paman tak ingin aku melakukan ini, tapi kita harus melakukannya. Aku harus mengembalikan darah yang telah kupinjam ini kepada dewa naga Rune Factory..." jelas Claire.

Dirk tersenyum. Senyuman yang samar karena dari pada tersenyum, wajahnya terlihat sangat sedih.

"Lalu semua akan kembali seperti semula... aku, dan semua yang berhubungan dengan Rune Factory akan menghilang..." lanjut Claire dengan wajah yang tertunduk.
Dirk berusaha menaikkan senyumnya, tapi tak bisa. Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya setelah itu... "Maafkan aku, Claire..."

.

.

~000~

.

Gray tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ia bermaksud mengejar mereka, meski ia sendiri tak tahu kenapa ia melakukan itu. Tapi...

Aku akan menghilang?

Claire akan menghilang?

Misi apa yang sebenarnya ia jalankan?

Darah yang dipinjam?

Aaah... aku tak mengerti satu pun perkataan mereka...

Tapi...

Menghilang?

Maksudmu... sepertimonster itu?

Kepala Gray terasa panas karena ia sama sekali tak bisa berspekulasi sekarang. Namun semua itu tak berlangsung lama. Suara teriakan dari kejauhan membuat Gray, Dirk, dan Claire mengaktifkan posisi siaganya. Mereka otomatis berlari ke arah sumber suara. Benar saja, lagi-lagi ada monster yang muncul. Kali ini monster berbentuk manusia seperti yang Gray lawan di Forget-Me-Not Valley. Bedanya ia bertubuh lebih gempal dan memegang kapak sebagai senjata. Monster itu tampak menyudutkan dua orang anak kecil.

Dirk segera memunculkan palu besarnya, lalu menyerang monster itu. Badan gempal makhluk itu ternyata tak berarti ia kuat. Palu Dirk dengan sangat mudah membuatnya terurai menjadi cahaya.

"Sedang apa kalian di sini? Bukankah semua orang sudah mengungsi ke barat kota?" tanya Dirk dengan nada yang tak begitu bersahabat, membuat kedua anak itu ketakutan dan nyaris menangis.

Claire berusaha menenangkan mereka, dan akhirnya salah satu dari mereka menceritakan apa yang terjadi. Mereka adalah kakak beradik yang awalnya tinggal di dekat situ. Ibu mereka sakit dan mereka hendak mengambil obat yang tertinggal di rumah mereka.

"Kalian tak boleh melakukan itu. Bukankah sudah ada peringatan kalau monster bisa muncul kapan saja?" omel Dirk.

Si adik menghapus air matanya dengan lengan bajunya, lalu berkata dengan lugu, "tapi bukankah ada penjaga yang berpatroli?"

Dirk berdecak kesal. Sifat emosiannya mudah sekali muncul kalau sudah berhadapan dengan anak kecil. "Dengar, bahkan di kota ini tak ada cukup penjaga untuk mengamankan setiap sudut kota. Jika saja aku tak berada di dekat sini, kalian pasti sudah mati! Kalau begitu apa kata ibu kalian?" ceramahnya.

Claire tertawa kecil mendengar omelan serta ceramah Dirk. Dirk mudah emosi, suka menceramahi orang, dan punya rasa keadilan yang tinggi. Dulu waktu Claire kecil, Dirk juga sering memarahinya. Bagi Claire yang besar tanpa orang tua, Dirk adalah ayah, ibu, dan sekaligus kakak baginya. Dirk yang selalu memikirkan kebahagiaannya, paman yang sangat disayanginya. Demi kebahagiaannya dan semua orang di dunia ini, ia harus melakukan misi pentingnya. Meskipun itu berarti harus mengorbankan nyawanya sendiri.

"Paman tetaplah di sini. Kota ini membutuhkanmu," kata Claire sambil tersenyum. Ia lalu menolehkan wajahnya pada Gray yang sejak tadi hanya diam menyaksikan kejadian itu. "Aku akan pergi bersama Gray," lanjutnya yakin.

Gray yang masih belum lepas dari keterkejutannya hanya diam dan mengerutkan alisnya. Tampaknya Claire tidak tahu bahwa ia mendengar percakapan mereka barusan. Namun mengikuti instingnya, Gray berencana untuk terus menemani misi penting gadis ini.

"Tak apa. Aku akan menemaninya ke Zephyr dengan selamat," jamin Gray dengan wajah datarnya. Tak mudah bagi Dirk untuk melepaskan Claire, baik saat ini maupun dulu saat pertama kali misi ini dimulai. Namun pada akhirnya Dirk mengikhlaskan segalanya karena perintah dari Sheng dan tetua lainnya. Sekarang ia kembali harus merelakan Claire pergi bersama pria yang tak begitu dikenalnya... benarkah semua ini karena takdir dari Harvest Goddess?

Ia ingin pergi ke Zephyr, kota kelahirannya dan Claire dulu, sehancur apapun kota itu sekarang. Tapi ia sedang menjalankan perintah Sheng untuk 'mengurangi jumlah korban sebisa mungkin sebelum retakan dua dunia tertutup kembali'. Sebagai penduduk satu-satunya desa yang masih memegang teguh tradisi sihir, ia harus melindungi masyarakat awam. Mungkin karena itu Sheng menyuruhnya dan Reina menyerahkan tugas penutupan gerbang sepenuhnya pada Claire...

Setelah berpikir baik-baik, Dirk akhirnya menyetujui permintaan Claire dengan berat hati.

"Jaga dia," pesan Dirk saat mereka akan berpisah. "Dan jika saatnya tiba... kumohon agar kau tak menghalangi apapun yang dia lakukan," lanjut Dirk dengan nada yang menekan. Gray hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, berpura-pura tidak tahu tentang misi mereka.

"Jangan khawatir, aku tahu arahnya. Aku pernah ke Zephyr sebelumnya," kata Gray.
"Nah. Ya kan? Aku akan baik-baik saja. Gray orang yang baik!" Claire masih berusaha meyakinkan pamannya. Dirk tersenyum, lalu kembali memandang Gray dengan ekspresi mengancam.

"Kalian pria dan wanita yang melakukan perjalan berdua, tapi jangan pernah kau berpikir untuk melakukan sesuatu padanya," ancam Dirk serius.

"Pa-paman!" Claire protes dengan pipi yang memerah. Pamannya memang selalu protektif padanya, sampai kadang agak keterlaluan.

Gray mendengus.

"Aku tak bisa menjamin itu. Aku tak bisa mengendalikan yang di bawah sini, kan," kata Gray vulgar, membuat wajah paman-keponakan itu sama-sama memerah. Terutama Dirk, wajahnya merah karena malu sekaligus marah.

"Kau! Hunter mesum..."

"Ayo," Gray memotong kemarahan Dirk dan berjalan ke arah kudanya yang diikat di depan salah satu rumah. Gray melihat Claire pamit pada pamannya dengan sebuah pelukan. Tapi bukannya mengatakan 'sampai jumpa', keduanya malah mengucapkan 'selamat tinggal'.

~000~

Kuda cokelat yang ditunggangi Gray menerobos angin kencang musim gugur sepanjang jalur hutan Flower Bud. Untuk mempersingkat waktu, Gray berencana untuk tidak melewati Castanet dan melewati jalur hutan. Meski normalnya melewati kota lebih baik, Gray khawatir keadaan di sana akan sama dengan Flower Bud. Setelah lama berkuda, Gray merasa pegangan Claire di pinggangnya melemah. Ia berhenti dan melihat Claire yang tampak mengantuk.

"Kita istirahat dan makan malam sebentar?" tawar Gray, mengingat hari yang sudah larut. Claire mengangguk.

Mereka berada di hutan saat ini, jadi satu-satunya sumber makanan yang bisa mereka andalkan adalah dengan berburu. Untungnya tadi mereka membeli persediaan makanan di daerah kota Flower Bud yang masih berpenghuni.

Mereka membuat api untuk menghangatkan tubuh mereka. Claire menunggu di dekat api sementara Gray pergi ke sungai untuk mengisi persediaan air mereka. Tak lama kemudian Gray tiba.

"Wow. Kau membawa ikan!" seru Claire saat melihat dua ekor ikan cukup besar yang di bawa Gray.

"Lebih baik dari pada roti kan?" kata Gray. Tangannya mulai bekerja menusuk ikan itu dengan ranting. Ia lalu menancapkan ranting itu di dekat api, memposisikannya sedemikian rupa sehingga ikan mereka terbakar tanpa terlalu gosong.

Gray dan Claire duduk di dekat api sambil menunggu makan malam mereka matang. Malam hari yang sangat sunyi dan dingin. Kesunyian itu pecah ketika Claire memanggil nama Gray yang duduk di sisi lain api, berseberangan dengannya.

"Gray," panggil Claire.

"Hm?"

"Kau boleh bertanya apapun, sekarang aku pasti akan menjawabnya," kata Claire. Ia memeluk lututnya sendiri, menyelimutinya sepenuhnya dalam selimut coklat yang di bawanya.

Gray memandang gadis itu, mencoba membaca ekspresinya. Ekspresi bersalah. Dan Gray bisa menebak kenapa ia seperti itu. Karena dengan ia menjalan misinya -entah apa itu, bukan hanya Claire yang akan dikorbankan, tapi juga Gray.

"Pisau yang kau berikan padaku... itu milikmu?" tanya Gray. Diluar dugaan, sama sekali tak ada hubungannya dengan monster atau dirinya.

Claire tersenyum tipis, "itu milik mendiang ayahku."

Gray mengangguk. Itu saja. Claire menunggunya bicara, tapi ia tak juga bicara. Merasa hatinya gelisah, Claire akhirnya mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut, lalu menatap mata Gray secara langsung.

"Maukah kau mendengarkan ceritaku?" pinta Claire. Gray mengangkat alisnya sedikit terkejut. Ia tak bermaksud menginterogasi gadis ini, tapi rupanya ia sendiri yang ingin bercerita.

"Kau yakin?" tanya Gray.

Claire merengutkan wajahnya. "Karena kau tak bertanya!"

Gray sedikit kaget melihat Claire yang merajuk karena selama ini ia hanya pernah melihat wajahnya yang ceria atau sedih.

Gray tersenyum.

"Katakan saja. Aku akan mendengarkan," kata Gray, masih tersenyum. Senyuman yang membuat wajah Claire sedikit memerah entah kenapa.

"Ada yang berbeda denganmu," tuding Claire.

"Ha?"

"Kau jadi banyak tersenyum. Tadi siang kau bahkan mengeluarkan guyonan vulgar pada pamanku," papar Claire, membuat wajah Gray sedikit memerah.

Gray menyadari hal itu. Tanpa disadarinya ia melakukan hal-hal yang tak pernah dilakukannya sejak Cliff meninggal. Mungkin karena ia telah cukup lama bersama Claire, sehingga ia merasa nyaman di dekatnya.

"Apa salah? Aku juga manusia," tepis Gray. Claire tersenyum. Ia melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit, lalu menceritakan kembali kisah yang diceritakan pamannya dulu. Tentang dirinya, tentang Rune Factory, tentang peperangan Zephyr dan Castanet.

~000~

.

.

Author's note:

Terimakasih buat yang masih mengikuti fanfic ini! Makasih juga untuk reviewnya, Rere05 dan BlackHoneysmart! Hmm.. untuk facebook, author jarang buka sih sekarang, tapi bisa temui author di sini, hehe = h*t*t*p*:/t*inyurl.*c*o*m/o9lr44l (hapus tanda bintang)

Okay, sampai ketemu di chapter selanjutnya :D