~9~

"Another way"

.

.

-Zephyr, 17 tahun lalu-

Zephyr. Kota yang di bagun di atas perbukitan, dengan angin sebagai sumber energi utama mereka. Kincir-kincir angin besar terpancang kokoh di antara bukit-bukit hijau yang dibelah oleh sungai-sungai kecil. Dalam beberapa puluh tahun ini, Zephyr telah berkembang menjadi pusat perdagangan dengan kekuatan finansial yang luar biasa besar. Sayangnya hal ini menimbulkan persaingan dengan negeri tetangga mereka, Castanet, semakin parah. Ketegangan demi ketegangan memercik antara kedua negeri yang bersebelahan itu. Dibalik kedua negeri yang terlihat hijau dan indah itu, sesungguhnya kedua kubu tengah mempersiapkan serangan masing-masing. Perang dingin selama bertahun-tahun akhirnya pecah menjadi peperangan bersenjata.

Di tengah situasi genting ini, di sebuah rumah di Zephyr, lahirlah seorang anak perempuan bernama Claire. Ivan, ayah Claire, menggendong Claire dengan perasaan bahagia sambil memandang istrinya, Freya. Sementara itu disampingnya, Dirk, adik Ivan yang masih berusia 14 tahun, tersenyum sama bahagianya dengan mereka sambil memandangi keponakan pertamanya itu. Kebahagiaan keluarga ini terganggu ketika tiba-tiba ketukan keras menggedor pintu mereka. Dirk membuka pintu dan kaget saat melihat seorang bertubuh tinggi besar memakai baju kebesaran kerajaan. Ia kenal orang itu. Salah satu jenderal besar Zephyr, Rod.

"Panggil Ivan," perintahnya. Dirk segera berlari pada kakaknya dan memberitahu siapa yang datang. Ivan membaringkan bayinya di samping Freya, lalu pergi memenuhi panggilan Rod.

"Mayor memerintahkanmu ikut denganku untuk menemuinya sekarang," kata Rod.

"Sekarang? Tapi istriku baru saja melahirkan... kenapa begitu mendadak?" Ivan keberatan.

"Ikut saja. Kau tahu dia tak suka orang yang membantahnya kan," paksa Rod dengan nada mengancam. Ivan menghela napas pasrah, lalu kembali masuk ke rumah untuk pamit pada keluarganya. Dirk yang merasakan hal ganjil meminta agar Ivan membawanya sebagai asisten. Begitu mereka sampai , Mayor tanpa basa basi langsung menanyakan perkembangan penelitian Ivan tentang manuskrip kuno Rune Factory yang dibiayainya.

Ivan menjawab bahwa ia telah mengerti hampir keseluruhan manuskrip kuno tersebut. Manuskrip yang tertulis pada sebuah batu besar di reruntuhan tua di kota itu. Ivan telah menghabiskan waktu lebih dari 2 tahun untuk menerjemahkannya.

"Percepat prosesnya. Zephyr membutuhkan pengetahuan itu," kata Mayor.

"Apa maksudmu?" tanya Ivan tak mengerti. Ia selama ini hanya melakukan studi tersebut karena keingintahuannya semata. Tak disangka olehnya, Mayor malah tertawa keras.

"Data terakhir yang kau berikan padaku, di sana tertulis ritual untuk memanggil dewa naga Rune Factory, bukan? Zephyr sekarang membutuhkan kekuatan Rune Factory untuk mengalahkan Castanet sialan itu. Tidak, bukan hanya Castanet... dengan kekuatan itu, kita bisa menguasai Harvest Moon ini! Bahkan Harvest Goddess tak akan bisa melawan Zephyr! Hahaha!"

Ivan dan Dirk hanya bisa terdiam mendengar pengakuan mengerikan dari mulut Mayor mereka. Dengan menahan perasaan yang berkecamuk, mereka meninggalkan rumah mayor. Ivan langsung menjumpai wajah bayi perempuannya yang masih merah itu kembali dan mengecup keningnya untuk menenangkan hatinya.

Malam harinya Ivan pergi ke kamar belajarnya dan membuka catatan penelitiannya kembali. Sebenarnya ia telah selesai menerjemahkan seluruh manuskrip itu dan ia bisa melakukan ritual pemanggilan kapan saja.

"Tapi ini tidak benar..." gumam Ivan. Ia segera menyembunyikan buku catatannya saat pintu masuk terbuka. Rupanya Dirk masuk dengan membawa secangkir kopi.

"Ivan," Dirk membuka pembicaran mereka dan duduk di kursi di samping Ivan. "Kurasa kau tak seharusnya memenuhi permintaan mayor. Perasaanku buruk soal ini," ungkap Dirk.

Ivan mengangguk. Sejak dulu ia percaya pada kekuatan firasat adiknya yang selalu benar.

Ia memutar kursinya dan menatap mata keemasan adiknya itu. "Sebenarnya aku sudah menyelesaikan seluruh manuskrip itu, Dirk."

"Sungguh? Apa isinya?"

"Ritual pemanggilan dewa Rune Factory. Sama seperti mitos pemanggilan Harvest Goddess, ia bisa memenuhi keinginan manusia. Bedanya, ia akan mengabulkan keinginanapapun."

Dirk menelan ludahnya. Ia bisa mengerti kenapa kakaknya menyembunyikan hal ini dari mayor.

"Tapi sebagai gantinya," lanjut Ivan, "dibutuhkan darah seorang manusia sebagai korban untuk ritual pemanggilan dewa Rune Factory."

Ivan menghirup napas dalam-dalam, lalu meletakkan kedua tangannya di pundak Dirk.
"Kau tahu kan maksudku?"

Dirk mengangguk. "Ritual yang mengorbankan nyawa manusia umumnya dimaksudkan untuk hal jahat..." kata Dirk.

"Itu benar. Karena itu pengetahuan ini sebaiknya tidak jatuh pada orang seperti mayor," pesan Ivan.

~000~

Gray mengangkat kedua ikan mereka yang telah siap dimakan, menyingkirkannya sedikit dari api agar tidak terlalu panas.

"Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Gray.

Claire kembali memeluk lututnya, mengarahkan pandangannya pada mata ikan yang telah matang itu.

"Mereka mencuri buku catatan ayahku, dan membunuhku..."

Mata Gray melebar saat mendengar kata terakhir itu. "Membunuh...mu?"

Claire memejamkan matanya, lalu melanjutkan bagian tragis dari kisahnya...

.

.

.

Ivan hanya bisa membatu saat melihat salah satu ajudan Mayor melemparkan mayat bayi mungilnya di altar bekas reruntuhan kuno. Ivan diseret kemari dengan paksa, begitu juga dengan Dirk.

"Claire... tidak mungkin... Claire!" teriak Ivan histeris sambil berusaha meraih bayinya. Tapi tak bisa. Tangannya dikunci erat oleh ajudan mayor lainnya. Matanya melebar ketika ia ingat istrinya yang seharusnya menjaga Claire.

"Freya! Apa yang terjadi dengan Freya?!" tanya Ivan hampir seperti orang gila. Ajudan yang melempar mayat Claire tadi tersenyum sinis.

"Entahlah. Dia belum mati, kurasa,"

Hati Ivan bagaikan dipukul dengan godam. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Tubuhnya lemas seketika. Dirk yang saat itu masih remaja hanya bisa terdiam membatu, menyaksikan mayat keponakan pertamanya berlumuran darah tak bergerak.

"Jika kau tak ingin aku membunuh adikmu juga, cepat lakukan ritual itu!" perintah Mayor Zephyr.

Ivan memandang Dirk dengan air matanya mengalir tak terhenti. Dirk memandang balik Ivan, tapi dengan pandangan yang kosong. Jelas semua ini terlalu berat untuk anak seusia Dirk.
Setelah cukup lama tempat itu hening, akhirnya Ivan setuju untuk melakukan ritual itu.

"Baiklah... akan kulakukan. Tapi lepaskan Dirk. Aku perlu dia untuk membantuku," kata Ivan. Seperti tersadar dari kebekuan, Dirk segera berusaha melepaskan dirinya dari ajudan tak bersenjata yang memegangi lengannya.

"Ivan! Kau sudah gila?!" teriak Dirk.

Mayor itu lagi-lagi tertawa jahat, "Mungkin kakakmu benar-benar sudah gila. Bagaimanapun ia telah kehilangan anak dan istrinya... mana mungkin dia masih waras? Hahaha!"

Dirk mengepalkan tangannya, menggertakkan giginya kesal. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa tak berdaya.

Salah satu ajudan lalu memindahkan mayat Claire ke tengah lingkaran yang dilukis dengan darah sapi. Lingkaran itu dibuat oleh Dirk dengan sebenarnya bermaksud melakukan ritual itu tanpa Ivan, tapi ada banyak bagian yang sengaja ditulis dengan huruf kuno yang tak mereka mengerti. Ivan melihat buku catatannya, lalu membaca mantra dalam huruf kuno itu. Dirk yang berdiri di belakang Ivan merasakan tanah di sekitar mereka bergetar, kemudian dari lingkaran itu muncul sesosok naga hijau yang sangat besar. Pemandangan yang luar biasa mengerikan. Naga itu lalu menanyakan permintaan mereka.
Saat para pejabat berkata ingin meminjam kekuatan Rune Factory untuk perang, Ivan langsung mendiamkan mereka.

"Diam! Keinginanku adalah... bisa kah kau sembuhkan anakku?" tanya Ivan sambil menangis.

Naga melihat bayi itu sebentar, lalu berkata, "ia telah mati. Dan darahnya telah dijadikan persembahan untuk memanggilku. Aku tak bisa mengembalikannya. Tapi aku bisa meminjamkan darahku padanya..."

"Tolong lakukan!" seru Ivan tanpa pikir panjang lagi. Mayor dan pejabat lain yang ada di situ tentu saja tak tinggal diam.

"Ivan! Kau sudah gila?! Kami tak membayarmu untuk melakukan itu! Batalkan permintaanmu!" perintah Mayor, diikuti seruan dari pejabat lainnya.

"Diam kalian bajingan! Jika sampai Zephyr bersatu dengan Rune Factory, maka seluruh dunia ini akan hancur!" teriak Ivan dengan penuh kemarahan.

Pertikaian antara manusia yang memanggilnya itu rupanya membuat Dewa Naga tak sabar.

"Jadi apa yang kalian inginkan?" tanya sang naga lagi.

"Sembuhkan Claire! Tolonglah!" seru Dirk sekuat tenaga.

"Kau! Bocah sialan!" salah satu ajudan yang berdiri di dekat Dirk langsung memukul Dirk hingga ia terlempar ke dekat mayat Claire.

Tapi seruan keras Dirk itu diambil Dewa Naga sebagai permintaan final mereka. Naga itu langsung menempelkan moncongnya pada dahi Claire, dan cahaya terang terpancar dari sana.

Lalu, gempa bumi besar terjadi di reruntuhan kuno itu. Ivan melompat ke arah Dirk dan Claire, mendekap mereka dalam pelukannya.

Ketika gempa berhenti, Dirk membuka matanya, dan mendapati Ivan di atasnya, melindungi ia dan Claire.

Kepala Ivan berlumuran darah. Kepalanya dan punggungnya menahan beban batu besar yang terjatuh dari langit-langit reruntuhan. Napasnya sangat berat. Dirk tahu bahwa hidup kakaknya sudah tak akan lama lagi.

"Dirk... Jaga Claire. Meskipun kau sendiri masih kecil, aku malah membuatmu dalam masalah. Maafkan kakak, Dirk..." pesan Ivan dengan segenap tenaganya yang tersisa.
"Ivan! Kau tak apa? Ivaan!" seru Dirk sambil menangis.

"Pergi. Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Kau bisa keluar lewat celah puing... pergilah..." kata Ivan sambil tersenyum.

"Ivan... aku tidak mau..."

"Kumohon, Dirk. Hanya kau yang bisa kuandalkan sekarang, Saudaraku..."

Dirk hanya bisa menahan air matanya, lalu membawa Claire yang masih bayi bersamanya pergi dari sana.

Dirk berusaha bertahan hidup bersama Claire, dan akhirnya mereka tiba di Desa Konohana, desa kecil yang damai, jauh dari hiruk pikuk politik. Namun karena letaknya yang terpencil itulah, sihir masih ada di sini, terlindungi dan berada di tangan bijak yang aman. Dirk, Kana, dan Hiro yang seumuran tumbuh bersama dan sudah seperti kakak dan ayah bagi Claire kecil.

Diusia Claire yang 17 tahun, tampaknya keseimbangan dunia semakin terganggu. Di puncak Gunung Konohana tiba-tiba muncul makhluk buas dengan kekuatan sihir yang hebat. Ketika para tetua desa berkumpul untuk mendiskusikan apa yang terjadi, Dirk menceritakan kisah dirinya dan Claire.

Sheng, salah satu tetua Konohana segera menghubungi Oracle untuk berbicara dengan Harvest Goddess. Namun tampaknya Harvest Goddess pun tak dapat berbuat banyak.

"Dia berbeda denganku, dia itu kolot dan kaku. Jika kau ingin menutup hubungan dengan Rune factory, katanya kalian harus mengembalikan semua yang berasal dari Rune Factory," kata Harvest Goddess pada Oracle.

"Semua?" Oracle menaikkan satu alisnya.

"Termasuk darah yang ada pada diri Claire. Kau sudah tahu kan darahnya itu bukan darah biasa?"

"Tapi itu berarti... ia akan mati?" tanya Oracle dengan wajah takut.

"Bukan hanya dia. Tapi semua yang berhubungan dengan Rune Factory di dunia ini harus menghilang. Dengan begitu takkan ada lagi yang mengganggu keseimbangan antara kedua dunia."

"Benarkah tak ada cara lain selain dengan melakukan pengorbanan?"

Melihat keragu-raguan Oracle, Harvest Goddess tersenyum, berusaha meyakinkannya.

"Yang kita lakukan hanyalah mengembalikan segalanya seperti semula, Oracle," ucapnya.

"Kau benar."

Harvest Goddess berenang ke tengah spring, bermaksud untuk kembali ke persemayamannya. Sebelum berenang masuk, ia menoleh lagi ke arah Oracle.

"Demi kebaikan anak itu, suruhlah ia pergi ke Zephyr dengan ditemani seorang wanita kuat di desa kalian," pesannya.

"Hanya seorang wanita?"

Harvest Goddess kembali tersenyum. "Sekalipun kau tidak melakukannya, takdir akan tetap berjalan, Oracle."

~000~

.

.

Kedua ikan yang Gray tangkap kini tinggal sisa belulang. Ia baru saja mendengar cerita yang sulit dipercaya, tapi ia tahu itu benar. Mata Claire yang menatapnya dari balik api membuat tangannya terasa dingin.

"Maafkan aku, Gray," ucap Claire, disusul oleh butiran air mata yang keluar dari sudut matanya. "maafkan aku..." isaknya.

Gray tak bicara. Ia hanya melihat Claire menangis dalam diam. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia tak bisa mengatakan apapun dalam situasi ini.

"Kenapa minta maaf?" tanya Gray datar.

Claire memeluk lututnya lagi, menyembunyikan wajah menangisnya. "Karena keberadaanku... membuat semua bencana ini terjadi... dan aku... mungkin akan membuatmu menghilang..." jawab Claire terbata-bata.

Menghilang. Entah kenapa Gray tak terlalu peduli soal itu. Jika ia menghilang pun, ia tak merasa akan ada yang berubah dari dunia ini. Ia hidup tanpa terikat pada siapapun. Tapi Claire mungkin berbeda. Ia punya banyak orang yang menyayanginya di Konohana dan paman yang mengkhawatirkannya.

"Soal menghilang... aku tak begitu peduli," kata Gray. Ia memandang langsung mata Claire dari balik api. "Lalu keberadaanmu... bukankah jika gerbang itu tak pernah terbuka, aku tak akan pernah ada di sini?"

Claire masih berusaha menghentikan air matanya sambil terus berpandangan dengan Gray.

"Mungkin aku seperti tak tahu diri, tapi kurasa aku harus berterimakasih padamu dan ayahmu? Aku bisa hidup, melihat dunia, dan menemukan sahabat baik... kurasa itu cukup bagus. Haha, aku bicara seperti Cliff," kata Gray. Ini perkataan terpanjang Gray sejak mereka pertama kali bertemu. Bukan hanya terpanjang, tapi juga termanis. Claire menghapus air matanya, lalu tersenyum. Ia mengingat banyak hal baik yang terjadi dalam hidupnya.

"Kau benar. Mungkin aku juga harus berterimakasih pada ayahku. Meski aku harus menyerahkan hidupku ini kembali, tapi seandainya dulu aku mati, aku tak akan bisa bertemu denganmu, Gray!" seru Claire dengan tawanya yang masih bercampur air mata. Tawa yang membuat Gray ikut tersenyum.

Setelah semua cerita panjang itu, Claire berbaring dengan selimut membungkusnya rapat-rapat. Matanya masih terbuka lebar. Ia tak bisa tidur.

"Gray..."

"Hm?" sahut Gray yang berbaring di sisi berlawanan dengan Claire. "Setelah mendengar kau akan menghilang, apa kau tidak merasa takut?" tanya Claire.

Gray berpikir sejenak.

"Entahlah. Aku tak ingin memikirkannya," jawab Gray. Claire mengangkat tangan kanannya ke arah langit, lalu menjabarkan jari-jarinya di antara bintang-bintang.

"Kau hebat. Aku selalu memikirkannya. Jika aku menghilang, apa yang akan terjadi pada tubuhku? Ingatanku? Apa yang akan terjadi pada semua yang telah membentukku selama ini? Dan tiba-tiba aku jadi takut. Apalagi saat radar sihir paman tak dapat menemukanku. Aku merasa tidak yakin akan keberadaanku sendiri..."

"Kau tak perlu memikirkan soal itu. Karena aku sedang bicara padamu di sini, tentu saja kau ada," kata Gray. Ia mulai sangat mengantuk. Dan ia mulai merasa bahwa Claire terlalu banyak bicara. Setelah itu Claire terdiam, tapi Gray yakin bahwa Claire masih belum tidur.

"Kau sudah tidur?" tanya Gray.

"Belum..."

"Haaah..." keluh Gray. Ia lalu mengangkat kantong tidurnya ke samping Claire, dan merebahkannya di sana, membuat Claire kebingungan. Claire semakin bingung saat Gray berbaring di samping Claire dan merengut tangan kanan Claire.

"Hangat?" tanya Gray cepat, tanpa ekspresi.

"I,iya..."

"Artinya kau hidup dan ada di sini. Tidurlah, aku lelah sekali," pinta Gray dengan nada sedikit kesal.

"Ma-maaf..." Claire berusaha melepaskan tangan Gray, tapi Gray tak mengizinkannya.
Tangan Claire terasa hangat. Tidak, bukan hanya tangannya. Kehangatan itu merambat ke hatinya hingga hatinya berdebar keras. Claire memandang wajah Gray yang telah tertidur. Ia tak pernah sedekat ini dengan laki-laki seumurannya. Ia juga tak pernah merasa jantungnya berdetak aneh seperti ini. Namun ia merasa nyaman dengan perasaan itu. Perasaan yang mengganggu, tapi menyenangkan. Claire tak merasa perlu mendefinisikan perasaan ini. Ya, karena ia tahu bahwa sebentar lagi, ia maupun perasaannya itu akan segera menghilang.

~000~

Hari masih subuh ketika Gray memicu kudanya kembali. Kuda cokelat itu tampak segar kembali setelah istirahat semalaman, begitupun dengan Gray dan Claire. Seperti biasa Claire membonceng di belakang Gray, meletakkan kedua tangannya di pinggang Gray dengan ragu-ragu. Tak lama kemudian mereka telah melihat istana Castanet dari kejauhan. Sesuai rencana, mereka hanya melewati wilayah pinggiran Castanet dan tak memasuki kota karena tak ingin menjumpai hambatan yang tak diperlukan. Ketika fajar menyingsing, mereka telah melewati hamparan pegunungan yang memagari wilayah Castanet.

"Pegangan yang kuat, Claire," kata Gray saat ia hendak melompati wilayah bebatuan. Claire mempererat pegangannya. Tubuhnya hampir melompat di atas punggung kuda itu. Mereka terus berkuda dengan kecepatan tinggi dan baru berhenti saat kuda mereka terlihat kelelahan di siang hari. Beruntung mereka menemukan sumber mata air dengan banyak rerumputan di sana.

Selagi membiarkan kuda mereka merumput dan beristirahat, Gray tidur siang sedangkan Claire merendam kakinya di air yang sejuk. Perhatian Claire tertarik pada gelembung yang tiba-tiba muncul dari tengah spring itu. Tiba-tiba saja, angin seperti berhenti berhembus. Tidak, bukan seperti. Angin memang benar-benar berhenti berhembus. Dedaunan yang berjatuhan seperti tergantung di udara, tak bergerak sama sekali. Begitupun Gray dan kuda cokelat itu, mereka berhenti bergerak sama sekali. Waktu telah berhenti.

"Hai, Claire!" suara sapaan ceria dari arah spring itu membuat Claire segera mengalihkan pandangannya dari Gray ke spring. Apa yang dilihat Claire merupakan pemandangan yang sangat janggal. Seorang wanita berambut hijau panjang, tampak mengapung di atas permukaan spring. Ia tak punya kaki. Kakinya itu digantikan dengan ekor ikan bersisik hijau. Terlepas dari semua kejanggalan itu, Claire akui bahwa wanita itu sangat cantik. Dan meski ia baru pertama kali melihatnya, Claire yakin wanita ini persis seperti gambaran yang selalu diceritakan orang-orang...

"Harvest... Goddess?" ucap Claire pelan.

"Yep, aku Harvest Goddess!" wanita itu mengkarifikasi identitasnya. Sadar bahwa Claire mulai memundurkan duduknya, Harvest Goddess segera menyuruhnya untuk tetap diam dan tidak takut.

"Aku hanya ingin menemuimu sebelum kau sampai di Zephyr. Dan berterimakasih atas kesediaanmu menyelesaikan masalah ini," jelas Harvest Goddess. Ia berenang mendekati Claire, lalu melihat wajah Caire lekat-lekat.

"Bersiaplah. Mungkin perjalananmu tak akan mudah... Zephyr adalah kota yang dipenuhi oleh aura negatif. Mereka masih saja berusaha menempatkan diri mereka di atas segalanya..." pesan Harvest Goddess. Claire berkedip, berusaha tetap menatap mata Harvest Goddess, tapi tak bisa. Akhirnya ia memilih untuk menunduk.

"Seandainya aku mati sebelum mempersembahkan darahku kepada Naga Rune Factory, apa yang akan terjadi?" tanya Claire, menyuarakan salah satu rasa penasarannya sejak dulu. Harvest Goddess meletakkan telunjuk di dagunya, tampak berpikir.

"Hm... kurasa keadaan akan tetap sekarang," jawab Harvest Goddess. "Hey, apa kau tak pernah berpikir bahwa ada cara lain untuk menyelamatkan dirimu dan pria itu?" tanya Harvest Goddess, memancing Claire. Claire mengerutkan dahinya, lalu menggeleng.

"Bukankah tak ada cara lain?"

"Memang tidak ada, haha,"

"Hmm... Harvest Goddess, kudengar dari Oracle kau bisa bicara pada Naga Rune Factory?"

"Ya, aku bisa. Kenapa?"

"Bisakah kau bicara padanya sekali lagi dan menyampaikan permohonanku ini padanya?" pinta Claire sambil melihat Gray yang tertidur. Harvest Goddess menyadari itu dan menebak keinginannya.

"Kau ingin Naga tak mengambil ruh pria berdarah campuran itu?" tebak Harvest Goddess.

Claire tersenyum.

Setelah ia menyatakan permintaannya, Harvest Goddess masuk ke dalam air, dan waktu yang tadinya berhenti kini bergerak kembali. Claire melihat wajah tertidur Gray yang damai. Ia ingin selalu melihat wajah itu, meskipun ia harus menghilang dari dunia ini. Tangan hangat yang telah beberapa kali menyelamatkan nyawa dan hatinya.

"Gray, kurasa aku menyukaimu…" kata Claire pelan, dengan senyum hangat terlukis di bibirnya.

~000~

.

.

(bersambung…)

Author's Note:

Chapter ini lebih banyak dari biasanya. Okay, di chapter selanjutnya mereka akan memasuki Zephyr. Tentu saja, keadaan tak akan semudah ketika mereka ke Flower Bud… See ya!