.
~10~
"The Alliance"
.
-Konohana-
Malam hari di Konohana selalu diramaikan dengan lantunan melodi yang terbentuk dari gesekan sayap jangkrik, getaran pada leher perut para kodok, serta gesekan daun-daun pepohonan. Namun ada yang berbeda malam ini. Derap langkah kuda yang keluar dari gerbang desa membuat gaduh melodi harian Konohana.
Mereka adalah kuda-kuda kekar para penyihir didikan Konohana yang dikirim untuk membantu pertahanan di berbagai region Harvest Moon. Sheng, tetua sekaligus pemimpin sihir tertinggi di Konohana, baru saja kedatangan seorang tamu penting. Tamu itu adalah petinggi Aliansi Natsume, atau yang biasa disebut polisi internasional, organisasi independen yang bergerak dalam pengamanan dunia. Mereka mendata buronan internasional, menyelesaikan konflik antar region, serta mengatur regulasi sihir dunia. Pekerjaan yang disebut terakhir itu merupakan job desk rahasia mereka yang hanya diketahui segelintir petinggi Aliansi Natsume. Mereka mendeteksi manusia-manusia dengan bakat sihir lalu mengirim mereka untuk belajar di Konohana. Dan malam ini, ia melakukan pertemuan dengan Sheng. Keduanya duduk bersila di lantai kayu rumah sederhana Sheng, saling berhadapan di antara tungku pembakaran tradisional rumah itu.
"Mewakili Aliansi Natsume, aku mengucapkan terimakasih atas bantuan Konohana pada dunia, Tuan Sheng," ucap Van, petinggi itu. Ia berubuh besar, memakai jas biru dengan banyak atribut yang menandakan pangkatnya.
Sheng menyeruput tehnya dan memilin ujung kumis putih lebatnya. Tanpa senyum, ia menjawab, "menjaga stabilitas dunia sudah menjadi tugas desa kami. Aku hanya berharap agar aliansi tak menghalangi pergerakan kami."
Perkataan Sheng itu mengundang tawa kecil Van. "Untuk apa aku menghalangi kalian?"
Sheng ikut tertawa namun dengan nada sarkastiknya, "hahaha! Entahlah, hanya saja... bukankah pengetahuan mengenai naga yang dapat mengabulkan apapun merupakan hal yang sangat menakjubkan?"
Dan Van tiba-tiba terdiam. Ia mengganti posisi duduknya sedikit, lalu tersenyum. "Maksudmu?"
Ini dia. Sheng tahu Van akan berkelit dari kecurigaannya. Baru-baru ini Ina menangkap seorang mata-mata wanita yang bekerja di bawah Van. Dengan menggunakan sihir tertentu, Ina membuatnya memuntahkan seluruh kebenaran darinya. Ia telah mencuri informasi mengenai rahasia Claire dan Dirk yang hanya diketahui tetua dan orang terdekat mereka saja. Sheng masih belum tahu latar belakang aliansi melakukan itu, tapi ia telah sepakat dengan Oracle untuk tetap waspada kepada siapapun.
"Hmf. Hanya karena kekuatan kami sedang terpencar, jangan harap kau bisa mencari celah. Sekarang pergilah, orang tua ini sudah sangat mengantuk," kata Sheng menutup pertemuan mereka. Van bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah Sheng. Tampak jelas ketidaksukaan di wajahnya. Ia segera masuk ke dalam kereta kuda yang menunggunya dan meninggalkan Konohana.
"Rudolf!" seru Van dari dalam kereta, memanggil salah seorang bawahannya.
"Ya, Tuan?"
"Kirim pesan pada Skye di Zephyr untuk mempercepat pencarian manuskrip itu. Aku tak ingin para penyihir sialan itu menggunakan sihir hitamnya untuk membunuhku," perintah Van. Bawahannya segera menyanggupi dan pergi mengambil burung pembawa pesan.
Setelah bawahan itu pergi, ia memikirkan banyak hal dan menggerutu sendiri, "Kenapa para penyihir itu begitu sok? Seandainya aku bisa mendapatkan satu saja dari mereka untuk berpihak padaku..."
~000~
-Zephyr-
Gray dan Claire akhirnya tiba di Zephyr setelah berkuda selama dua hari dua malam. Sebelum mereka masuk Gray kembali mengingatkan Claire untuk berhati-hati, mengingat rumor aneh yang mereka dengar dari penjaga gerbang Flower Bud.
Menurut Gray yang pernah kemari, Zephyr tidak memiliki gerbang perbatasan yang jelas, mengingat kota ini sudah lama tak diurus. Castanet tampaknya tak ambil pusing dengan nasib Zephyr setelah kekalahannya dalam perang. Pemerintah Castanet beralasan bahwa Zephyr lah yang menyerang mereka duluan, karena itu Castanet hanya membalas untuk mempertahankan diri. Mereka tak pernah berniat mengambil wilayah Zephyr ataupun menjajah sumber daya mereka. Maka seperti itulah, Zephyr yang telah kehilangan tampuk kekuasaan kini tak jelas nasibnya.
"Jika kubungkan dengan kisahmu, Zephyr itu seperti manusia yang mencoba melawan tembok raksasa, namun tak mampu. Pada akhirnya, mereka hancur karena keserakahan mereka sendiri..." kata Gray.
Claire menatap bangunan-bangunan kota sepi yang mereka lalui dengan pandangan sedih. Bagaimanapun, dulu ayah dan ibunya terbunuh di sini. Gray kali ini berjalan di belakang Claire, membiarkan Claire menuntun jalan dengan ingatan yang diperolehnya dari Dirk. Sebelum Claire meninggalkan Konohana, Dirk telah menggunakan sihir untuk menanamkan ingatannya tentang jalan-jalan di Zephyr agar Claire bisa pergi ke tempat reruntuhan itu.
Tiba-tiba Claire dikagetkan oleh pegangan Gray di pergelangan tangannya. Gray menarik Claire untuk bersembunyi di sebuah gang kecil. Sekitar satu menit kemudian lewatlah beberapa orang berpakaian hitam. Salah satu dari mereka sangat menarik perhatian karena rambut perak panjangnya, meski Claire yakin dia itu pria.
Claire mundur sedikit ke belakang, namun terbentur oleh Gray yang berada tepat di sana. Menyadari jarak mereka yang terlalu dekat, Claire bermaksud untuk maju sedikit. Sialnya, kakinya menabrak tumpukan kayu tua. Kayu-kayu itu jatuh menimbulkan suara yang tidak kecil. Claire hanya bisa meringis saat Gray memandangnya dengan marah.
"Siapa di sana?" tanya pria berambut perak dengan nada yang mengancam. Begitu ia hendak memeriksa tempat Claire dan Gray bersembunyi, sebuah tanda api berwarna hijau tampak dilepaskan ke atas langit.
"Tuan Skye, mereka muncul kembali!" seru salah satu anggota rombongan itu. Awalnya Skye, si rambut perak itu, tampaknya tak terlalu peduli. Tapi begitu satu tanda api berwarna merah terlihat di langit, ia dan rombongannya segera pergi ke arah tanda itu.
Claire menghela napas lega.
"Itu Skye..." cetus Gray, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Skye? Kau kenal dia?" tanya Claire. Claire merasa bahwa Gray kenal banyak orang dari berbagai tempat, tentu ia telah banyak bepergian kemana-mana.
"Dia petinggi polisi internasional. Aku dan Cliff pernah sekali bekerja untuknya," jelas Gray, diikuti oleh kerutan dalam di dahinya. "Sedang apa dia ditempat seperti ini?"
Gray curiga, dan ia ingin mencari tahu. Tapi ia merasa itu tak begitu penting. Berkaca dari kesalahan masa lalunya, Gray tak mau lagi melakukan hal berbahaya yang tak ada gunanya. Ia mengenggam pergelangan tangan Claire, membawanya keluar dari lorong gelap itu.
"Lupakan mereka. Kita punya misi kita sendiri," ucap Gray. Claire mengangguk dan lanjut berjalan sambil menggali ingatannya. Sayangnya, baru berjalan beberapa langkah, sebuah panah mendarat di dekat mereka. Skye masih di sana dengan membawa busur besar di tangannya.
"Siapa kalian?" tanya Skye.
"Hunter. Kudengar di sini ada hal yang menarik. Tak kusangka aku menemui petinggi polisi internasional," kata Gray dengan wajah datar dan tanpa keraguan sedikit pun.
Skye memicingkan matanya, "rupanya kau mengenalku."
"Aku pernah bekerja denganmu sebelumnya, Tuan Skye," lanjut Gray, berusaha melepaskan diri dari Skye tanpa pertikaian lebih lanjut.
Skye memandangi Gray dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku tak mengingatmu," kata Skye.
"Itu tak penting. Kalau begitu aku permisi," ucap Gray sambil menganggukkan kepalanya, menyudahi pertemuan mereka sesegera mungkin.
"Tunggu dulu. Gadis itu, aku harus mengambilnya darimu."
"Ha?"
"Bukankah kau Claire, gadis berambut pirang dan bermata biru, yang dikirim kemari untuk menutup gerbang Rune Factory?" tuding Skye dengan mata peraknya yang dingin menusuk Claire.
Gray segera menghunuskan pedangnya dan memposisikan dirinya di depan Claire. Pandangan tajamnya balik menusuk Skye, "apa urusan aliansi Natsume dengan mitos rakyat yang sama sekali tak masuk akal itu?"
Skye tersenyum, mengagumi kesigapan Gray. "Aku juga tak mengerti. Belakangan dunia jadi sama sekali tak masuk akal," sahut Skye. Ia menoleh saat mendengar teriakan dari kejauhan. Mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada para bawahannya.
"Tapi yang kutahu... ini bukanlah sesuatu yang dapat kita atasi," Skye masih tersenyum. Sejak awal Gray mengenal orang ini, dia selalu tersenyum. Tapi senyuman manisnya itu menakutkan. Dan Gray tak pernah tahu apa yang ada di balik senyuman itu.
"Jika kau mencari reruntuhan ritual tujuh belas tahun lalu, pergilah menyusuri jalan ini terus hingga kincir angin besar di barat laut. Selesaikan masalah ini secepatnya, Gray," ungkap Skye tak terduga. Tanpa panjang kata lagi, Skye pergi menyusul bawahannya dengan berlari. Claire dan Gray masih terdiam di tempatnya, hingga Gray memecah keheningan mereka.
"Apa benar tempatnya dekat kincir angin?" tanya Gray.
Claire mengangguk.
"Ia memberitahu kita? Sungguh mengejutkan," Gray diam-diam merasa lega karena tak perlu melawan Skye.
"Dan ia mengingat namamu," tambah Claire. Gray mengangguk setuju.
"Kukira dia akan membunuh kita," kata Gray sambil melangkah, menyuruhnya melanjutkan perjalanan mereka.
"Kenapa? Kau bilang dia polisi internasional? Tentu saja dia menolong kita kan?" tanya Claire polos. Mendengar pertanyaan Claire -yang seharusnya benar, membuat Gray mendesah pasrah. Claire tak mengerti bagaimana dunia ini berjalan di atas sana. Jika mereka mau, mereka bahkan bisa membuat seorang pemuka masyarakat menjadi maling ayam. Begitu banyak manipulasi yang tak terekam terjadi di Aliansi Natsume. Mengapa orang hebat seperti Skye bergabung dengan mereka, bagi Gray masih sebuah misteri.
Lokasi reruntuhan itu cukup jauh. Gray mulai menyesal meninggalkan kuda mereka di gerbang kota, sementara jarak yang harus mereka tempuh lebih dari satu kilometer. Sepanjang perjalanan hampir tak ada seorang pun yang mereka temui. Sampai kemudian Gray merasakan keberadaan makhluk hidup dari sebuah rumah. Bukan, bukan manusia. Tapi makhluk aneh yang pernah Gray temui di Forget-Me-Not Valley. Makhluk yang disebut Claire dengan 'goblin'.
Goblin itu keluar dari rumah dengan cara melompati jendela dan menghadang mereka. Goblin itu mengenakan gaun wanita yang tampaknya ia ambil dari salah satu rumah. Untuk kesekian kalinya, Gray melihat pemandangan yang sangat janggal. Ia tak membuang waktu dan langsung membunuh sang goblin.
"Mereka ada di mana-mana," komentar Gray sambil menyarungkan pedangnya.
"Karena itulah kita harus segera menutup retakan antara kedua dunia," kata Claire. Matanya masih melihat cahaya goblin yang melayang ke langit.
"Ayo," ajak Gray sambil menggandeng tangan Claire. Entah tujuannya untuk mempercepat gerak Claire atau untuk menenangkan pikiran Claire, Gray lagi-lagi membuat Claire merasa nyaman. Mereka melanjutkan perjalanan mereka hingga sampai ke reruntuhan yang dimaksud. Lokasinya tersembunyi di dalam hutan.
Tempat yang hancur. Hanya bongkahan batu sisa-sisa bangunan tua yang hampir keselurannya telah ditutupi lumut. Mata Claire mengamati lokasi itu baik-baik, menyamakannya dengan peta di ingatannya. Ia lalu menunjuk sebuah lubang berbentuk kotak yang cukup besar untuk dilalui satu orang. Tampak kerangka kayu di sekeliling lubang itu lengkap dengan engselnya, menandakan tadinya ada pintu di sana.
"Tetap waspada. Bisa jadi ini jebakan," Gray memperingatkan Claire sebelum mereka memasuki situs reruntuhan itu. Gray masuk duluan, disusul Claire di belakangnya. Tiba-tiba langkah Gray terhenti.
"Claire, siapkan hatimu," kata Gray.
"Eh?"
Claire segera mengerti maksud Gray ketika ia memasuki tempat itu. Ada rangka yang tertimpa bebatuan. Claire tiba-tiba ingin muntah. Ia takut. Rangka siapa itu? Bagaimana jika itu ayahnya?
Perlahan tangan Gray meraih tangan Claire yang terasa dingin dan gemetar. Menggenggamnya erat.
"Sepertinya tempat ini tak pernah dimasuki siapapun sejak gempa itu," tebak Gray setelah matanya menjelajahi ruangan bawah tanah yang hancur itu.
Di ujung tempat itu Gray melihat darah kering berbentuk lingkaran. Ia hampir tak menyadarinya karena sekitar tempat itu penuh dengan bongkahan batuan marmer. Ia menyingkirkan beberapa bebatuan besar itu. Setelah tiga batu disingkirkannya, gerakannya terhenti. Ia berdiri tegak, lalu melihat Claire yang mengamatinya dari samping.
Claire bergerak mendekati Gray untuk melihat apa yang di balik bebatuan itu, tapi Gray menghentikannya dan menutup mata Claire dengan tangannya.
"Jangan lihat. Mundurlah. Biar kubereskan dulu tempat ini," kata Gray datar. Tapi Gray terlambat. Ia merasakan air hangat melalui tangannya yang menutup mata Claire. Claire memegang lengan Gray dan menundukkan kepalanya di bahu kiri Gray.
"Claire..." ucap Gray sambil meletakkan tangannya di punggung Claire, menggeser posisinya sehingga ia tepat berada di pelukan Gray. Pelukan yang tak erat, seperti Claire yang berpegangan ragu ke pinggang Gray waktu mereka berkuda. Gray seperti sangat berhati-hati saat memeluk Claire. Claire balas memeluknya, dengan erat, meyakinkan Gray untuk memeluk Claire dengan erat juga.
Mereka berpelukan cukup lama, hingga Claire sadar bahwa Gray menumpukan berat tubuhnya sepenuhnya.
"Gray?" Ketika Claire melihat wajah Gray, ia baru sadar bahwa mata Gray terpejam. Dan tubuhnya tak bertenaga. Begitu Claire melepaskan pelukannya, Gray terjatuh begitu saja.
"Gray! Kau kenapa?!"
Sebuah siluet manusia dari balik batu besar di belakang Gray membuat saraf Claire menegang. Jelas orang itu sudah berada di sini sebelum mereka. Hati Claire berdetak cepat, dan ia tidak tahu harus bagaimana. Mereka telah masuk dalam perangkap.
~000~
(bersambung...)
.
.
Author's note:
Dou? Author pribadi merasa deg degan di bagian terakhir hahaha. Terimakasih utk pembaca fanfic ini, baik yg ngasih review ataupun silent reader ;).
Omong-omong, review kalian adalah sumber energi author *kedip-kedip mata* *kode keras*
Okaay, see ya! xD
