~11~
"Crisis"
.
.
.
-Mineral Town-
Langit mendung menyelimuti Mineral Town sejak beberapa hari lalu. Sementara daun-daun telah meranggas sepenuhnya –menyingkirkan warna cokelat yang mendominasi musim gugur, salju pertama turun di kota ini. Meski begitu, tak satupun warga kota ini yang menyambutnya. Bahkan Stu, anak laki-laki yang biasanya segera berlari ke Rose Square, berteriak "Salju! Salju!" kali ini tak tampak di jalan.
Hari ini Stu hanya bisa melihat turunnya salju pertama musim ini dari jendela gereja. May, teman kecilnya juga berada di sampingnya sambil melihat keluar jendela. Karena situasi darurat, sudah tiga hari ini penduduk di pusatkan di Inn dan gereja.
"Aku ingin keluar..." keluh May.
Stu menghembuskan napasnya ke jendela, membuat bulatan embun di sana, lalu membuat gambar manusia salju dengan jarinya.
"Tidak boleh. Di luar banyak monster," kata Stu.
Mai yang bosan lalu duduk di kusen jendela gereja yang besar sambil mengayun-ayunkan kakinya "Mungkin orang dewasa bohong? Monster itu tidak ada kan?"
Kata-kata May ini rupanya membuat Stu jengkel. Stu meletakkan kedua tangan di pinggangnya, meniru pose kakaknya saat mengomelinya.
"Monster itu ada! Aku dengar sendiri dari seorang hunter hebat!" seru Stu sedikit menyombong.
"Heeeh... apa yang dikatakannya?" tanya May, sambil mencondongkan diri ke arah Stu.
Stu melipat tangan di dadanya dan mengangkat dagunya dengan gaya sok tahu.
"Dia bilang... dia kenal seorang monster penyendiri. Tapi waktu kutanya apa dia bisa mengalahkan monster itu, dia bilang: tentu saja bisa. Bahkan sekarangpun sepertinya monster itu sudah mati,"
May mengerutkan dahinya dan membulatkan bibir kecilnya, "apa maksudnya?"
Stu nyengir. Ia juga tidak tahu. Hunter bernama Gray itu tak mengatakan banyak hal meskipun Stu terus berusaha mengorek informasi darinya semalaman. Hanya saat ia bertanya tentang monster, hunter itu membuka sedikit matanya yang terpejam untuk menjawab pertanyaannya.
~000~
Claire memeriksa tubuh Gray yang lunglai. Ia menyentuh leher Gray dan dapat merasakan denyut nadinya. Artinya Gray masih hidup. Dan tak ada luka apapun. Jika ini racun, setidaknya Gray akan bereaksi sedikit. Tapi ini...? Mungkinkah sihir?
Mata Claire memicing memperhatikan siluet manusia yang ada di balik bongkahan besar reruntuhan. Seorang wanita yang memakai rok, rambut pendek namun ada dua kepang kecil di bagian bawah. Siluet yang ia kenal.
"Re... Reina-san...?" Mata Claire membulat tak percaya.
Wanita itu berjalan ke arah Claire, memperlihatkan sosoknya dengan lebih jelas. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Lama tak bertemu, Claire..."
Tangan Claire yang menahan tubuh Gray gemetar. Hatinya mencelos. Berbagai kemungkinan negatif berkumpul di pikirannya.
"Kenapa... kau... di sini? Paman bilang... kau..." seiring dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, pikiran Claire secara otomatis mulai menyusun kejadian-kejadian yang telah terjadi pada dirinya. Ketika ia terpisah dari Reina, ketika ia diculik, ketika Dirk bilang mereka tak bisa melacak keberadaan Claire. Dulu ia berpikir... bagaimana mungkin Reina tak bisa segera menemukannya?
Kecuali...
"Kau yang menutupi keberadaanku selama ini?" tanya Claire.
Wajah Reina yang biasanya memang tak berekspresi sekarang bertambah dingin. Reina berjalan ke arah Claire, lalu menarik tangan kirinya, mengambil sebuah gelang manik-manik yang melingkar di sana.
"Ingat ini? Gelang yang kuberikan padamu di festival. Aku telah mengisinya dengan sihir agar tak seorangpun dapat melacakmu dengan sihir," jelas Reina. "Kupikir kau akan berakhir di tangan perampok bersaudara itu. Tapi ternyata Dirk mengabariku bahwa kau tetap pergi Zephyr bersama seorang hunter."
Reina mengulurkan tangannya ke kepala Gray tapi Claire segera menampik tangan Reina. Secara spontan Caire menarik pedang Gray. Pelan-pelan ia menurunkan tubuh Gray sambil terus mengarahkan pedangnya pada Reina. Ia memang tidak bisa menggunakan sihir. Tapi setidaknya, ia bisa sedikit bela diri.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Claire.
"Hanya sedikit sihir. Meski sebenarnya bukan dia sasaranku. Tiba-tiba saja dia bergeser dan sihirku meleset..." jelas Reina. Membuat Claire sedikit tersentak. Itukah alasan Gray memeluknya tadi? Karena ia menyadari keberadaan seseorang di tempat ini?
"Aku tak akan membunuhmu, Claire. Aku tak ingin kau mati," Reina lalu menggumamkan sesuatu sambil tangannya menunjuk bebatuan. Ia menyingkirkan semua bebatuan dari area lingkaran bekas ritual, termasuk rangka yang ada di situ. Pemandangan yang sangat kejam menurut Claire. Bagaimana mungkin ia memperlakukan rangka sama seperti batu?
"Hmm... jadi ini manuskrip itu," kata Reina sambil melihat tulisan pada sebuah batu besar di dekat lingkaran itu. "Ayahmu hebat, bisa menerjemahkan tulisan ini. Tapi ia tak lebih dari tulang belulang sekarang," lagi-lagi ia bicara dengan kata-kata yang membuat hati Claire perih.
"Kau berhianat? Kenapa? Kau bekerja untuk Skye?" tanya Claire. Reina memperhatikan juniornya itu. Ia gemetar. Lemah. Tapi matanya nyalang. Dan itu membuat Reina muak.
"Skye? Aku tak peduli pada manusia lemah itu. Aku hanya ingin dunia ini menjadi seperti seharusnya."
"Ha?"
"Yang kuat yang bertahan. Mereka yang lemah akan terseleksi. Dengan begitu, hanya pengguna sihir yang akan bertahan."
"Ke...napa?" Claire menelan ludahnya. Ia merasa mata Reina saat ini sangat dingin hingga bisa membekukannya.
"Bukankah kau juga merasakannya? Dunia ini sudah terlalu busuk. Kekuasaan dipegang oleh orang-orang lemah dan bodoh." kecam Reina. Ia lanjut memprovokasi Claire, "Tidakkah terpikirkan olehmu? Dengan menyuruhmu ke Zephyr sendirian... bukankah sama saja menggagalkan misi ini? Harvest Goddess, Oracle, Sheng... mereka ingin dunia ini hancur!"
Tangan Claire gemetar. Ia berusaha menahan air matanya dan menguatkan hatinya.
"Itu tidak benar. Harvest Goddess... sama sekali tidak seperti itu..."
"Lalu kenapa ia membuatmu melakukan misi yang tidak mungkin ini?" potong Reina.
Claire terdiam tak mampu menjawab.
Di tengah keheningan mereka, sebuah panah melesat ke arah Reina, membuatnya harus mundur beberapa langkah.
Reina dan Claire melihat ke arah panah itu berasal. Pelepas panah itu adalah seorang pria berambut perak... Skye.
"Pertama kalinya dalam hidupku... aku menemukan seorang Konohana berhianat," ujar Skye sambil memasang senyum lebar yang biasa. Reina memasang posisi siaganya. Matanya tajam menatap Skye. Ia mengarahkan telunjuknya pada Skye lalu mengeluarkan api yang cukup besar untuk menyerangnya. Tak disangka, Skye hanya menggunakan tangannya untuk menampik api Reina. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh pengguna sihir.
Senyum Skye melebar menyadari mata Reina yang memicing. "Kupikir Sheng bisa tenang karena ada aku di sini?" Skye bicara dengan nada menebak.
Claire tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Skye bisa menggunakan sihir!
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Reina setelah berhasil meredam keterkejutannya.
"Skye. Ketua Divisi XIV Aliansi Natsume. Murid pribadi Sheng. Mata-mata Konohana untuk dunia," papar Skye dengan singkat, jelas, dan padat.
Skye berjalan mendekati Claire dan berkata dengan senyum lembut di wajahnya, "aku akan mengurus penghianat ini. Kau lakukan saja tugasmu."
Setelah itu ia kembali menatap Reina. "Biar kuluruskan cara berpikirmu yang salah itu. Kita selesaikan di luar?" tawar Skye.
"Tidak," tolak Reina. "Mulai sekarang, kami akan menguasai tempat ini," lanjut Reina.
"Kami? Ah... haha. Ternyata begitu," Skye menyampirkan busur ke lengannya ketika menyadari banyak siluet manusia lain bermunculan di ruangan itu. Rupanya Reina tidak sendiri, meski Skye yakin ia tak 'merasakan' keberadaan siapapun di ruangan ini tadi. Sepertinya mereka baru masuk setelah ia masuk. Suatu penyamaran keberadaan yang sempurna yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki sihir.
Daripada harus menghadapi beberapa orang penyihir sekaligus, Skye memutuskan untuk mundur. Ia segera membawa pergi Claire di lengan kanannya dan Gray di lengan kirinya. Reina tak mengejarnya. Mungkin karena tujuan Reina sejak awal hanyalah menghalangi Claire melakukan ritual itu.
Setelah berlari cukup jauh, Skye menurunkan Claire dan Gray di dekat sebuah kincir angin besar. Claire masih tampak shock dengan cara Skye membawanya yang seperti membawa bantal guling, tapi ia segera mengumpulkan kesadarannya kembali.
"Terimakasih... Tuan Skye," ucap Claire.
"Ah, sama-sama," Skye tersenyum. "Tapi maaf. Aku memutuskan untuk kabur," Skye menurunkan alisnya, tampak menyesal. Claire segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak, itu keputusan yang benar. Aku bahkan tak bisa menggerakkan kakiku... saat melihat penyihir lain juga di sana..." kata Claire. Ia lalu melihat Gray yang terbaring di sampingnya. "Bisakah kau membebaskan Gray dari sihir ini?"
Skye sempat terdiam, mengamati cepatnya gadis ini dalam menerima kenyataan mengejutkan yang baru saja terjadi.
"Tentu," jawab Skye sambil tersenyum lembut.
~000~
Gray membuka matanya. Seperti de ja vu, ia melihat pemandangan yang pernah dilihatnya dulu. Rambut pirang itu... iris biru itu... Claire. Namun ada yang berbeda. Di sebelah Claire ia melihat rambut silver yang ia kenal...
"Tuan Skye?" tanya Gray sambil berusaha bangun. Claire segera membantunya dengan mengangkat punggungnya.
"Yup. Ah, tolong jangan pakai 'tuan'. Aku bukan atasan atau clientmu lagi," sapa Skye.
Gray mengamati sekitarnya, lalu memandang wajah Claire yang terlihat lelah. "Claire..."
Kata-kata Gray terpotong kata Claire segera memeluknya. Gray berusaha melepasnya, ia tak nyaman karena ada Skye di sini. Tapi Claire tak mau melepasnya.
"Jangan lakukan itu lagi... " ujar Claire.
"Ha?" Gray tak paham maksud Claire.
"Membahayakan nyawamu untukku... jangan lakukan itu lagi, Gray..." isak Claire. Gray hanya menghela napas, sementara Skye mengawasi mereka berdua dengan tatapan hangat yang menurut Gray sangat mengganggu.
"Kau pernah menyelamatkannya sebelum ini?" tanya Skye.
Gray berdecak. Ia tak ingin menjawabnya, karena itu membuatnya merasa malu. Tampaknya Skye membaca pikiran Gray dan senyumnya melebar.
"Aah... aku merasa ingin muda lagi," gumam Skye. Ia kemudian menyingkir untuk memanggil elang pembawa pesannya. Pesan yang kali ini dikirimkannya pada Sheng pasti akan membuat kakek panda itu bersungut-sungut.
Penyihir radikal... hah. Yang benar saja?
~000~
-Konohana-
Sheng menyeruak masuk ke Town Hall menemui Ina, Mayor Konohana, yang tengah duduk di ruangannya.
"Ina, aku baru saja dapat kabar dari Skye!" seru Sheng terengah-engah. Sebuah pemandangan langka dari Sheng yang selalu terlihat tenang dan tegas.
Ina segera bangun dan menghampiri Sheng. "Ada apa? Duduklah dulu."
Sheng tak repot-repot duduk, ia tak mau buang-buang waktu. "Musuh utama kita bukanlah Aliansi Natsume," kata Sheng, mengulangi surat kilat yang dikirim Skye dengan elang. "Musuh kita adalah penyihir radikal... dan pemimpin mereka adalah Reina."
Kata-kata Sheng membuat mata Ina membulat tak percaya. Bagaimanapun, Reina adalah murid terbaiknya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Sheng tidak memberikan waktu bagi Ina untuk berpikir. Ia segera mendesak Ina lebih jauh. "Ina... katakan padaku. Apa kau juga terlibat?"
Kecurigaan Sheng rupanya mendapat reaksi keras dari Ina. "Kau gila? Sebagai mayor, aku sudah bersumpah kepada Harvest Goddess untuk mengutamakan keharmonisan dunia. Kau lupa aku ikut bersamamu memberantas kelompok penyihir radikal tiga puluh tahun lalu?"
Sheng berdeham, meminta Ina untuk menurunkan nada suaranya. Ina segera meminta maaf atas reaksinya yang berlebihan.
"Aku tahu. Aku percaya padamu. Untuk saat ini, kerahkan penyihir di sekitar Zephyr untuk membantu Claire dan Skye secepatnya. Setiap detik berharga, Ina," perintah Sheng.
Ina lega mendengar kepercayaan Sheng pada dirinya dan segera bergerak memenuhi perintah Sheng. Meski begitu, di dalam benaknya masih ada banyak hal yang mengganjal, terutama tentang Reina.
Ia tak pernah menyangka Reina bergabung dengan kelompok radikal. Mereka adalah kelompok yang menginginkan sihir sebagai kekuatan terbesar dunia, dengan menyingkirkan non-pengguna sihir. Kelompok yang telah lama diredam oleh ia dan Sheng. Apakah Harvest Goddess sudah tahu soal ini? Jika ya, kenapa Harvest Goddess meminta gadis terkuat di desa itu –yang tidak lain adalah Reina, untuk menemani perjalanan Claire?
"Aku tak mengerti... Harvest Goddess. Kepada siapa kau berpihak?" gumam Ina.
Pertanyaan yang sama juga muncul di benak Oracle. Oracle menemui Harvest Goddess di danaunya segera setelah Razhi menyampaikan pesan Sheng padanya.
"Aku tak berpihak pada siapapun," kata Harvest Goddess ketika Oracle bertanya padanya. "Kau juga merasakannya kan? Ada kekuatan besar yang mengendalikan dunia ini. Bukan kekuatanku. Dan kita hanya bisa bergerak mengalir sesuai dengan takdir, tapi... bagaimana kita tahu mana yang takdir? Kurasa menarik melihat manusia berjuang mewujudkan takdir yang diinginkannya... haha."
"Harvest Goddess..." Oracle mengerutkan alisnya, tak percaya ia baru saja mendengar Harvest Goddess mengatakan hal yang begitu penting dengan santainya.
"Haha, tenanglah Oracle. Kau tahu ini?" Harvest Goddess menunjuk kalung mutiara di lehernya.
"Mutiara?"
"Benda cantik ini terbentuk karena luka dari kerang yang hidup di dasar laut dangkal. Ia mengolah luka itu menjadi secantik ini. Kuharap... aku bisa menemukan banyak mutiara setelah semua ini selesai," terang Harvest Goddess dengan senyum di bibirnya.
Oracle menatap mata hijau Harvest Goddess.
Dan akhirnya ia mengerti maksud Harvest Goddess.
Apakah mutiara-mutiara itu akan terbentuk atau tidak... ia hanya mampu mengamatinya.
~000~
-Zephyr-
Skye, Claire dan Gray duduk melingkar di salah satu bangunan kosong. Sejak tadi mereka telah saling bertukar informasi dan mencari solusi untuk menyelesaikan misi mereka. Bagaimanapun, mereka harus melakukan ritual di lokasi yang sama seperti 17 tahun lalu. Tapi tempat itu saat ini telah dipenuhi oleh lebih dari sepuluh orang penyihir radikal. Sementara Skye adalah satu-satunya di antara mereka yang dapat menggunakan sihir. Mungkin seperti yang dikatakan Skye, mereka hanya bisa menunggu bantuan dari Konohana.
"Bagaimana dengan Aliansi Natsume?" tanya Gray. Ia berharap mereka bisa memanfaatkan bawahan Skye dari Aliansi Natsume. Namun Skye menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak bisa mempercayai Aliansi Natsume. Van juga ingin mendapatkan kekuatan untuk dirinya sendiri, karena itulah ia mengirimku kemari. Tapi yah, tak akan ada penyihir yang mau bekerja untuk Aliansi Natsume," jelas Skye.
"Kenapa?" Gray heran melihat keyakinan Skye.
Kali ini Claire yang menjawab, "Karena penyihir patuh pada hukum keharmonisan. Penyihir memiliki kode etik dan telah bersumpah kepada Harvest Goddess. Mereka yang melanggarnya diancam dengan karma yang tak terbayangkan..."
"Seberat itukah?" tanya Gray lagi.
"Ya, karena hanya sedikit orang yang bisa menggunakan sihir sekarang,"
Gray mengangguk-angguk. Setelah Skye dan Claire menceritakan banyak hal tentang Konohana, ia rasa ia mengerti kenapa bisa ada penyihir yang mengambil jalan radikal. Ketika seseorang memiliki kekuatan, ada kecenderungan ia ingin menguasai dan diakui. Bekerja di balik layar seperti yang dilakukan Konohana selama ini tentu membutuhkan kebijaksanaan dan kerendahhatian.
"Aku akan kembali ke pasukanku. Mereka akan kuperintahkan mencari di dekat pegunungan, sejauh mungkin dari tempat ini. Kalian beristirahatlah dulu," kata Skye.
"Ah, maaf! Apa ada pemukiman penduduk di sekitar sini?" tanya Claire. Skye menggeleng.
"Tak ada siapapun di kota ini saat ini. Tapi ada penduduk yang tinggal di kaki bukit di utara. Wilayah itu masih masuk dalam kekuasaan Zephyr. Kenapa?"
"Ah... tidak."
"Kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Skye. Begitu Skye pergi, Gray kembali melihat keadaan Claire. Wajah sedihnya kembali.
Ia lalu memandang wajah Gray dengan mata birunya yang tampak kosong. "Gray... seandainya aku memutuskan untuk tidak peduli... kita mungkin akan tetap hidup dan dunia ini akan dikuasai oleh penyihir. Bukankah semua itu menguntungkan kita?"
Mendengar perkataan Claire itu, Gray balas menatap mata Claire dengan lembut. Tatapan yang membuat air mata Claire menetes. "Kau client ku. Apapun keputusanmu, aku akan mengikutinya. Tapi lakukanlah apa yang tak akan membuatmu menyesal," jawab Gray.
Claire mengangguk pelan, lalu tersenyum.
~000~
Fajar merah terbit di ufuk timur kota Zephyr, menyinari bangunan-bangunan tua yang tak berpenghuni. Dirk akhirnya tiba di dekat pintu gerbang Zephyr setelah berkuda selama seharian penuh tanpa istirahat. Di sana telah menunggu lima orang penyihir Konohana lainnya. Mereka belum mendekati kota karena di gerbang itu telah berjaga beberapa orang penyihir radikal. Sheng pasti sudah menduga ini, karena itu ia memerintahkan penyihir yang telah tiba untuk menunggu setidaknya sepuluh orang, baru memperlihatkan diri mereka pada musuh.
"Kenapa kita tak segera menyerang, Kak Dirk?" tanya seorang penyihir laki-laki muda.
"Tak perlu terburu-buru. Saat ini mereka hanya bisa mengulur waktu hingga kedua dimensi bersatu sepenuhnya. Mereka tak akan melakukan tindakan apapun selain bertahan," jelas Dirk.
Alis penyihir muda itu berkerut. "Kenapa?"
Dirk tersenyum, "karena hanya aku satu-satunya orang yang bisa membaca manuskrip itu sekarang."
Itu benar. Hanya Dirk saksi kejadian tujuh belas tahun lalu yang masih hidup sampai sekarang. Claire masih bayi saat itu dan Dirk hanya memberi tahunya cara melakukan ritual pengembalian, tak lebih.
"Manuskrip apa maksud Kakak?" tanya seorang penyihir lain. Dirk berdecak. Ia benar-benar lupa bahwa tak banyak orang Konohana yang tahu tentang masa lalunya dan Claire. Mereka hanya tahu bahwa mereka diperintahkan ke Zephyr untuk mengatasi penyihir radikal.
Tapi mau tidak mau Dirk harus memberi tahu mereka sedikit gambaran mengenai misi ritual pengembalian Claire. Walaupun ada resiko penghianatan, Dirk memutuskan untuk percaya pada sumpah para penyihir muda Konohana ini.
"Aku akan memberi tahu detailnya kalau sepuluh orang sudah berkumpul di sini," ujar Dirk.
~000~
Sepuluh orang telah berkumpul di sore harinya. Karena pertarungan ini akan menjadi pertarungan sihir, menyerang secara menggerombol hanya akan melemahkan kekuatan mereka. Dirk sebagai yang tertua di antara mereka memberi komando untuk menyerang secara beruntun dari lima titik untuk menyebar kekuatan musuh. Di setiap titik, satu orang bertugas menyerang, dan satunya melindungi partnernya. Mereka akan terus maju hingga kincir angin besar di utara, tempat manuskrip itu berada. Dengan begitu musuh tak akan punya waktu untuk mengatur strategi.
Sebelum memulai aksinya, ia mengirimkan seekor merpati ke tempat Skye, Claire, dan Gray berada.
"Mereka akan menyerang malam ini. Kita harus bersiap dan mengikuti mereka jika mendengar suara ledakan," kata Skye. Gray mengangkat tangannya, meminta izin untuk bertanya.
"Dari tadi aku penasaran. Kenapa burung itu tau dimana kita berada meskipun ia tak pernah kemari?" tanya Gray.
"Burung pembawa pesan penyihir bukanlah burung biasa. Ia terbang dengan sangat cepat dan langsung bisa melacak orang yang dituju," jelas Skye. Lagi-lagi Gray dibuat kagum dengan kehebatan sihir, seperti ketika pertama kali ia melihat Dirk dengan palu besarnya. Sayang sekali Cliff maupun ayahnya belum pernah melihat keajaiban ini.
Tiba-tiba Skye tersenyum sambil melihat Gray dan Claire secara bergantian.
"A-ada apa?" tanya Claire. Wajahnya sedikit memerah.
"Tidak. Aku hanya merasa kagum. Di saat banyak pihak berusaha mengambil keuntungan dari situasi ini, kalian mampu mengorbankan nyawa kalian demi mengembalikan segalanya seperti semula," puji Skye. Ia telah mendengar asal usul Gray dan cerita pertemuannya dengan Claire. Dan ia tahu bahwa Gray juga akan menghilang bersama seluruh yang berhubungan dengan Rune Factory.
Suara gemuruh yang cukup besar terdengar dari langit. Untuk kesekian kalinya. Ya, sejak beberapa hari ini, langit Harvest Moon selalu diselimuti awan gelap yang sesekali mengeluarkan suara bergemuruh. Sama sekali bukan langit mendung musim dingin yang biasa dilihat Claire. Meski biasanya Claire akan bersemangat ketika melihat langit... langit yang sekarang justru membuatnya ketakutan.
Jika ia tidak cepat, bisa-bisa gerbang antar kedua dunia benar-benar terbuka sepenuhnya. Dan akan ada korban jiwa dari rakyat sipil yang tak terhitung jumlahnya.
Seandainya nyawanya mampu menghindari semua itu... ia rela membuangnya.
Tapi...
Harvest Goddess... kumohon. Setidaknya, biarkan salah satu permohonanku terkabul.
.
.
.
(Bersambung...)
.
.
.
Author's Note:
Maaf atas keterlambatan update~
Sebenarnya gk bisa dibilang sibuk juga sih... cuma sedikit hambatan yg sering terjadi ketika author menulis bagian menuju klimaks~ :3
Okeey, chapter selanjutnya akan jadi chapter terakhir fanfic ini :)
Terimakasih buat para pembaca... Terimakasih juga untuk Mai, Sierra, dan ChinatsuKanjitan atas reviewnyaa xD
