~12~
"Luminescence"
.
.
.
-Zephyr-
Petang di awal musim dingin yang kelabu. Kota Zephyr yang selalu sunyi tiba-tiba gempar oleh tiga suara ledakan beruntun dari arah gerbang selatan kota. Gray, Claire, dan Skye yang telah menunggu-nunggu suara ledakan itu segera bersiap untuk melaksanakan misi mereka yang tertunda.
Dirk dan kawan-kawannya menerobos masuk kota dalam waktu relatif cepat, meninggalkan para pengejarnya begitu saja. Claire yang menunggu di sisi jalan langsung mengenali Dirk dari kejauhan. Tapi berbeda dengan Claire yang tersenyum sambil melambaikan tangan, semakin mereka mendekat wajah Dirk terlihat semakin geram.
"Kauu! Hunter mesuum! Turunkan keponakanku!" seru Dirk dari kejauhan. Gray berdecak. Ia juga tak ingin melakukan ini, tapi hanya begini caranya agar mereka bisa tiba di reruntuhan secepatnya. Yup. Gray yang mampu berlari sangat cepat harus menggendong Claire di punggungnya. Sementara Skye, dengan sihirnya akan menyerang musuh sekaligus melindungi mereka. Sebuah paduan yang sempurna, meski tidak bagi Dirk.
Gray tak begitu mempedulikan omelan Dirk. Ia langsung berlari mengikuti Dirk menuju reruntuhan tanpa banyak bicara. Begitu sampai, mereka langsung disambut dengan bola-bola cahaya yang memaksa mereka mundur sedikit. Sebenarnya posisi penyihir radikal saat ini lebih unggul. Mereka dapat memblokir satu-satunya pintu masuk reruntuhan. Sementara Dirk dan lainnya tak bisa sembarangan menyerang karena bisa membuat tempat itu hancur.
Malam telah larut, namun penyihir radikal terus bertahan betapapun gempuran dilancarkan. Suara gemuruh langit semakin membuat cekam suasana. Kilatan-kilatan cahaya yang timbul dari sihir kedua kubu semakin lama semakin berkurang. Jelas mereka sudah menguras banyak energi dan kelelahan.
Skye melihat ini sebagai kesempatan untuk menyusup. Ia meminta Dirk menyibukkan penyihir di depan pintu masuk, sehingga ia, Gray dan Claire dapat masuk ke sana. Kembali ke dalam reruntuhan itu, Gray segera berlari sambil menggendong Claire ke tempat lingkaran ritual berada.
Namun seperti dugaannya, Reina masih di sana, menghadang mereka dengan berani. Bedanya, kali ini ia sendirian. Rekannya yang lain telah disibukkan oleh penyihir Konohana.
Skye membuang busurnya ke lantai, tanda bahwa ia siap menghadapi Reina dengan sihir. Skye menyerang Reina, namun Reina malah menyerang Claire. Beruntung refleks Gray yang cepat mampu menghindarkan mereka dari serangan itu.
"Mungkin aku memang harus membunuhmu, Claire... dengan tanganku sendiri," kata Reina. Claire bergidik mendengar perkataan sadis Reina itu. Tapi Skye segera berdiri di depannya, seolah bersedia menjadi tameng.
"Aku akan menahannya. Gray, bantu Claire," bisik Skye. Gray mengangguk, lalu berlari ke tempat ritual.
Tentu saja Reina tidak tinggal diam. Ia hendak menyerang kembali, namun Skye lebih cepat menyerang lengannya. Reina memandang Skye dengan pandangan benci.
"Jangan menghalangiku!" seru Reina.
Skye menggeleng sambil tersenyum. "Kau telah melanggar sumpah penyihir. Sekalipun kau bertahan di sini, tak lama lagi bantuan akan datang dari Konohana, dan kau tak akan bisa lolos dari hukuman," ujar Skye.
Selagi Skye berusaha menahan Reina, Gray masih terus berlari. Ia menurunkan Claire di dekat lingkaran ritual itu.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Gray.
Claire menggigit bibirnya. "Aku... boleh pinjam pisau yang kuberikan padamu? Dan jagalah agar tak ada yang mengganggu ritualku."
Kali ini Gray yakin bisa melindungi Claire karena Skye telah melapisi pedang Gray dengan sihir. Gray segera mengeluarkan pisau kecil itu dari saku celananya, lalu memberikannya pada Claire. "Ambil saja lagi. Toh aku tak akan membutuhkannya..."
Mendengar perkataan Gray itu Claire hanya tersenyum. Ia berbalik dan melangkah ke tengah lingkaran, menghadap batu besar bertuliskan tulisan kuno.
Claire memejamkan matanya beberapa saat untuk menenangkan dirinya. Melupakan kegaduhan yang timbul dari pertarungan Skye dan Reina. Berkonsentrasi penuh, mempercayakan pengamanan sepenuhnya pada Gray.
Ia lalu menyayat tangannya dengan pisau pemberian ayahnya sambil mengucap sebaris mantra dalam bahasa kuno. Saat ia melakukan itu, dari jauh Reina menembakkan bola cahaya ke arah Claire. Namun Claire tetap tak bergeming karena sesuai dugaannya Gray langsung membelah bola itu dengan pedang. Begitu darah Claire menetes di tengah lingkaran, lingkaran itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang.
Sangat terang sehingga menghentikan gerakan Reina maupun rekannya yang berada di luar reruntuhan. Segera setelah itu bumi bergetar cukup kuat, menggoncangkan tanah di sekitar reruntuhan itu. Dan saat itulah ia muncul. Naga bersisik hijau toska besar, dengan moncongnya yang panjang dan bergigi tajam.
Merasa terdesak, lagi-lagi Reina berusaha menyerang Claire dengan sihirnya. Dan lagi-lagi pula ia gagal karena Gray dengan sigap membelokkannya.
"Menyerahlah. Ini sudah berakhir," kata Skye. Reina menggertakkan giginya. Sihirnya sudah habis dan ia hanya mampu menyaksikan Claire berhadapan dengan naga besar itu, menghentikan semua cita-citanya...
"Dewa... aku mengembalikan darah yang telah kau pinjamkan padaku. Dengan ini, putuskanlah semua hubungan antara Rune Factory dan Harvest Moon..." pinta Claire.
Naga itu tampak mengamati sekelilingnya yang hancur berantakan, sebelum akhirnya menjawab pendek, "Ah... baiklah."
Dewa naga kemudian menempelkan moncongnya ke dahi Claire. Membuat tubuh Claire diselimuti oleh cahaya hijau toska.
"Kau yang berasal dari Pohon Sharance... akan kembali ke Pohon Sharance..." bisik Dewa Naga. Seiring dengan tubuhnya yang terurai menjadi cahaya, Claire melirik ke arah Gray, tersenyum. Dan Gray membalas senyuman Claire itu dengan senyuman pula.
Tangan Gray bercahaya, perlahan-lahan menghilang.
.
.
.
-Konohana-
Razhi menghentikan gerakannya ketika monster yang sedang ia lawan tiba-tiba berpendar. Tanpa perlu ia mengalahkannya, monster itu terurai menjadi cahaya hijau toska yang kemudian melayang ke langit. Sewaktu pandangannya sampai ke langit, ia melihat cahaya-cahaya lain melayang bersama cahaya monster itu. Langit dipenuhi bola-bola kecil cahaya hijau toska.
Diam-diam air mata menetes dari sudut matanya. Perginya cahaya-cahaya itu berarti para monster telah pergi dari dunia ini... begitu juga dengan Claire.
Pemandangan yang sama terlihat dari seluruh penjuru Harvest Moon. Langit yang gelap bergemuruh beberapa hari ini berganti dengan cahaya-cahaya magis... sesuatu yang tidak masuk akal bagi masyarakat awam, namun berarti perubahan besar bagi para penyihir.
.
.
.
Hey, Harvest Goddess... aku punya permohonan.
Seandainya aku maupun Gray memang harus pergi dari dunia ini...
Kuharap, kau bisa mempertemukan kami berdua lagi.
Dan sampaikan terimakasihku pada Dewa Naga.
Karena berkat dia aku bisa bertemu dengan Gray, Paman Dirk, Paman Kana, dan semuanya...
.
.
.
-Sharance Tree, Rune Factory-
Pagi yang tenang di Sharance Tree pecah oleh suara tangis bayi. Micah yang sejak tadi mondar mandir di teras rumah pohonnya itu segera menyeruak masuk ke dalam. Ia melihat istrinya, Raven, tersenyum kepadanya. Majorie yang membantu persalinan Raven tampak menggendong seorang bayi mungil bermata biru, sama seperti matanya.
"Perempuan," kata Majore tanpa ditanya.
Mata Micah bersinar kegirangan. Ia mengulurkan tangannya dan pelan-pelan menggendong bayinya.
"Woah, Woah! Manisnya... terimakasih, Raven," ucap Micah sambil mengecup dahi istrinya. "Kita beri nama siapa dia?" tanya Micah. Ia tak henti-hentinya tersenyum sejak tadi, meski bayi mereka masih belum berhenti menangis.
"Claire..." cetus Raven.
"Claire? Dari mana nama itu?" tanya Micah. Mengingat sifat Raven, ia yakin Raven memikirkan arti yang dalam dari nama itu.
Raven tersenyum, "entahlah. Nama itu tiba-tiba terlintas begitu saja."
Jawaban Raven membuat Micah dan Majorie sempat terdiam, tapi segera pecah oleh tawa Majorie.
"Hahaha! Kau sama saja dengan Shara! Dia juga, ketika kutanya dari mana nama anaknya, dia cuma bilang terlintas begitu saja!" seru Majorica.
Micah tertawa kecil, mengingat-ingat anak lelaki Shara yang suka mengacau di kebunnya. "Aah... Gray? Berapa umurnya sekarang? Hm..."
"Empat tahun!" seru seorang anak kecil berambut pirang kemerahan dan bermata biru. Ia baru saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di belakang anak itu tampak Shara ngos-ngosan mengatur napasnya. Rupanya ia mengejar Gray menaiki tangga Sharance Tree.
"Gray! Sudah kubilang jangan lari-lari! Bagaimana kalau kau jatuh?!" omel Shara.
"Hahaha, sudahlah Shara... kau ini. Anak lelaki sudah seharusnya aktif seperti Gray," kata Majorica sambil membereskan peralatannya. Gray tampak tak mempedulikan omelan ibunya. Ia berjingkat-jingkat berusaha melihat Claire. Menyadari ini, Micah berjongkok agar Gray dapat melihat Claire dari dekat.
"Claire, ini Kak Gray. Gray, ini Claire," Micah memperkenalkan Gray dan Claire sambil menggoyangkan tangan Claire.
"Dia kecil sekali..." kata Gray. Micah tersenyum melihat mata Gray yang membulat, membuat keinginan isengnya timbul. Micah meraih tangan Gray dan meletakkan telunjuk Gray di telapak tangan Claire. Segera saja jari-jari kecil Claire melingkupi telunjuk Gray.
"Ooh..." seru Gray senang.
"Haha! Gray, bertemanlah baik-baik dengan Claire ya..." pesan Micah. Gray mengangguk keras sambil matanya tak berhenti melihat Claire. Bagaimanapun, ini pertama kalinya Gray melihat bayi yang jauh lebih kecil darinya. Bagi Gray kecil, masih ada banyak dan banyak hal baru menantinya selain peristiwa ini.
Di bawah Pohon Sharance yang bunga-bunganya telah bermekaran... sekali lagi, kisah Gray dan Claire dimulai.
...
-END-
-COMPLETED-
...
.
.
.
A/N:
Thanks for reading, thanks for reviewing, thanks for everyyythiiing :D
Senang rasanya bisa menuliskan imajinasi di , membaca banyak banget fanfic kreatif lain, ngobrol sama member lain~
Membuatku berpikir...
Ah... Seandainya aku bikin akun dari dulu, hahaha.
Thank you for your support!
As always, I hope you like this fanfic~
See you bye bye :-*
