Part II:Eren

Aku menatap ke luar jendela, memandangi refleksi wajahku yang diterpa bulir-bulir air hujan.

Di luar sana sedang hujan deras dan aku dapat melihat dari kejauhan sebuah rupa bangunan abu-abu yang didesain mirip penjara militer tengah diterpa gelombang badai yang kuat. Di sekitarnya nampak pohon-pohon ek suram tanpa daun yang menari liar bersama guyuran hujan. Gedung itu terlihat tinggi dan tak terkalahkan. Aura-aura gelap yang pekat terpancar kuat hampir pada tiap-tiap selanya. Seluruh wilayah bangunan itu diselimuti kabut tebal yang berjalan mundur dan saling mendorong. Di antara selubung kabut itu, terdapat beberapa burung nasar yang terbang liar dan sesekali terlihat menghilang. Sementara itu di wajah dinding gedungnya yang berjamur, aku dapat melihat jalar-jalar daun dari pohon dedalu yang merambat liar dan menutupi sebagian besar tembok seperti selubung hitam.

Itu Gedung Utara, asramaku nanti. Dan asrama Levi.

Suasana di sekitarku menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Setiap tarikan napas udara lembap yang kuhirup tersangkut di paru-paru. Untuk sekedar bernapas di Universitas Scouting Legion saja akan membuatku merasa terbenam di dalam lumpur hisap. Aku tidak tahu indera mana lagi yang akan disakiti oleh suasana mencekam di tempat ini.

Barisan di depanku mulai berjalan. Jumlah kami ada sekitar tiga puluh orang yang digiring berpasangan dalam diam. Lampu-lampu neon redup yang terpasang di sepanjang lorong utama Gedung Pertemuan membuat kami semua terlihat seperti barisan pelayat.

"Ini adalah Ruang Interogasi! Ruang favoritku! Jika kalian adalah tipe-tipe pembuat masalah yang suka mengelak, maka di sinilah kalian akan berakhir."

Seorang pembimbing wanita berkacamata dan kuncir satu bergerak enerjik kala memperkenalkan tiap-tiap ruangan di Gedung Pertemuan pada kami semua. Dan dia terus memberi penjelasan intensif mengenai sejarah pembuatan ruangan ini dan apa tujuannya.

Aku mendongak dan melihat sebuah pintu besar aluminium dengan kaca yang dilindungi terali besi berkarat. Ruang Interogasi yang terletak di Gedung Pertemuan berada sangat jauh dari aula dengan posisi yang sangat terpojok. Sejauh yang kutahu, di dalam ruangan selebar empat kali lima meter, tanpa jendela dengan meja aluminium besar di tengah-tengah, dan lampu lima wattrusak yang tak pernah diganti itu, mereka akan menghadapkanmu pada lima pengajar sebagai penginterogasi dan tiga petugas Kepolisian Militer yang siap siaga, dengan kondisi dirimu terikat di kursi dan dijejali alat-alat pendeteksi yang memiliki daya sengat. Jika sudah dihadapkan pada kondisi seperti itu, maka untuk sekedar berkata jujur pun akan sulit.

"Jangan mencoba-coba untuk berbohong, apalagi berpikiran yang tidak-tidak. Aku akan memberi tips jika suatu saat kalian terperangkap di sini. Peraturan yang terpenting adalah jangan lihat mata para penginterogasi! Itu bisa membuatmu berbohong lebih tenang. Oh, tapi jangan harap hal itu membuat kalian selamat. Karena alat kami lebih sensitif dalam mendeteksi gelombang kebohongan kecil di otak kalian. Dan hal itu akan mengirimkan tegangan listrik yang lebih besar. Yeah, jadi intinya… jangan pernah membuat masalah dengan kami!"

Kami semua bergidik.

"Jadi dahulu kala, ada seorang mahasiswa pembangkang yang selalu melawan para pengajar dan petugas. Dia kemudian dituduh menjadi pelaku pada aksi penganiayaan mahasiswa lain beberapa bulan kemudian. Statusnya langsung dinaikkan menjadi gelang merah, namun dia mengelak dan berakhir di sini."

Wanita berkacamata itu adalah Dekan Hanji Zoe, seorang petinggi Scouting Legion yang khusus mengepalai para mahasiswa gelang kuning selama tiga tahun. Golongan manusia yang cukup aneh untuk dijadikan seorang Dekan. Perangainya sulit ditebak dan selalu bersemangat mengurus masalah mahasiswa-mahasiswa kelas berat. Dikenal sebagai orang yang tak pernah mengindahkan hak azasi manusia dan keji dalam memberi hukuman.

Namun sebagai pembimbing kami selama sembilan puluh menit terakhir dalam menjelaskan identitas tiap-tiap ruangan di Gedung Pertemuan, dia cukup membuat kami merasa nyaman.

"Psst, Eren."

Sebuah ujung jari mencolek punggungku. Berjengit sesaat, aku langsung menoleh dan mendapati Jean yang sedang mencondongkan tubuhnya ke arahku serta-merta mencoba berbisik.

"Kau mengenal gadis berambut hitam tadi? Siapa namanya?" tanyanya bersemangat. Matanya berbinar-binar dan terlihat menginginkan sesuatu. "Kau tidak mengenalkannya pada kami tadi." sungutnya.

Aku mengernyit. Sudah kuduga. Pasti Jean akan bertanya mengenai hal ini. Aku bisa melihat tatapannya yang tak lazim ketika melihat Mikasa masuk ke dalam toilet. "Maksudmu orang yang memelukku tadi?"

Dia langsung terlihat kesal dan wajahnya seperti ingin menerkamku hidup-hidup. "Iya! Pokoknya yang tadi masuk ke toilet wanita. Yang berlari memeluk dan memeriksa wajahmu."

"Apa aku harus menjawab?"

Jean mendengus. "Beritahu saja, Eren! Dia bukan pacarmu, kan? Aku hanya mau tahu nama—"

"Hei, yang di belakang!"

Dekan Hanji berteriak dari ujung. Semua mahasiswa yang semula berbaris memunggungiku kontan langsung balik badan dan melempar tatapan dingin pada kami berdua. Dua detik yang hening dan canggung seketika menguasaiku. Dan kini, aku baru saja menjadi pusat perhatian setiap tatapan manusia yang berada di lorong temaram. Kulihat telunjuk Dekan menunjuk lurus ke arah wajah kami.

"Kalian berdua maju dan berdiri di barisan paling depan!"

.

.

ALTER

a fanfiction by Raputopu

Shingeki No Kyojin by Hajime Isayama

warning: AU, OOC, typo, mature content

.

.

Setelah, entah bagaimana caranya Mikasa menemukanku, gadis itu langsung menerobos toilet dan menerjangku dengan pelukan erat, bahkan sebelum aku sempat menyapa. Tidak peduli di luar sana ada banyak sekali petugas yang sedang berpatroli, tidak peduli pada teman-temanku yang seketika menghentikan pekerjaan mereka dan melempar pandangan heran pada kami, tidak peduli pada diriku yang kehabisan napas dan kesulitan untuk berbicara.

Rambut Mikasa kini dipotong pendek dan seluruh atribut yang melekat di tubuhnya berwarna hitam, senada dengan warna rambut dan bola mata hitamnya yang segelap jelaga. Kini dia sedikit lebih tinggi dariku dan aroma tubuhnya juga jauh berbeda. Satu-satunya warna mencolok dan kontras dari sosoknya yang diselimuti kegelapan hanyalah syal merah yang melingkar longgar di lehernya.

Pelukannya erat sekali dan tubuhnya bergetar. Sebelum aku berusaha menenangkannya, serta-merta Mikasa langsung melepaskan pelukannya dan meneliti wajahku dengan seksama. Meraba-raba dan memeriksa wajahku dan bertanya dengan deru napas tak beraturan. "Apa yang kau lakukan di sini, Eren? Apa mereka menyakitimu? Mana yang sakit?" Tangan satunya yang mencengkeram lenganku meremas lebih kencang dan membuatku meringis tertahan.

Bimbang dan cemas. Ekspresi itulah yang selalu dia tunjukkan padaku sejak kecil. Khawatir, was-was, berspekulasi dan beranggapan aku melakukan sesuatu yang berbahaya dan mencelakakan diriku sendiri. Berpikir aku tidak bisa melakukan apapun jika tidak ada dirinya. Berasumsi liar jika aku akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Rasa posesifnya yang terlampau besar, bahkan melebihi kategori perhatian antar-saudara. Aku merasa semua hal itu maklum.

Lewat sudut mata, aku dapat melihat tatapan melongo teman-temanku yang tampak tak bereaksi. Terlebih-lebih Jean. Jika semula wajahnya terlihat menyebalkan dan sangat mengundang untuk dipukul, yang sekarang ini malah terlihat bodoh. Mungkin memang bodoh sejak lahir.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Mikasa. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Aku bertanya balik. Balas menatap dirinya yang memandangiku risau.

Mikasa terlihat berusaha keras untuk lebih tenang di hadapanku. Memang seharusnya dia begitu. Mikasa yang panik seperti ini bukanlah Mikasa yang kukenal. Aku dengan sabar menunggunya untuk tenang sebelum dia menjawab. Dari balik punggungnya, aku melihat pintu toilet yang sedang terbuka setengah. Dan aku berharap tidak ada yang sedang memata-matai kami di dalam sini.

Dan belum sempat aku berpikir demikian, sekalipun belum ada sepatah-kata pun keluar dari mulutnya, tahu-tahu terdengar suara bentakan menggelegar dari arah pintu dan menyentak kami semua.

Brak!

Kami semua sontak menoleh dan mendapati Keith yang berdiri tegak dan memandangi wajah kami berlima dengan mata yang melotot. "Kalian semua, ke luar sekarang! Kalian akan diajak berkeliling menuju tempat-tempat penting di Universitas Scouting Legion! Berjalan sesuai kelompok! Kalian akan dibimbing oleh para pengajar!"

Sebelum melangkah, dia keburu melihat sosok Mikasa yang juga berada di antara kami. Kontan suaranya langsung menjadi lebih lantang dan nyaring dari sebelumnya. "Hei! Mahasiswa tingkat dua dilarang berada di sini! Kembali ke tempatmu!" Tunjukknya pada Mikasa. Dalam beberapa milidetik, kontan ekspresi takut dan gundah yang semula mewarnai wajah Mikasa kini berubah menjadi kaku dan lebih dingin.

Kami semua tak ada yang bersuara hingga akhirnya Keith berjalan pergi dan membiarkan kami bersiap-siap.

Sebelum Mikasa juga akan beranjak keluar meninggalkanku dan bergabung bersama teman-temannya di luar sana, dia berkata pelan sambil meremas lenganku erat-erat.

"Temui aku di taman asrama putri setelah pukul tujuh malam. Jelaskan semuanya padaku. Ikuti saja jalan setapak dengan barisan batu granit di pinggirannya. Aku akan menunggumu di bawah pohon cemara kering di sebelah Gedung Timur. Kita tidak akan tertangkap kamera pengawas."

"Bagaimana jika aku ketahuan petugas?"

"Kabut akan melindungimu." ucapnya pelan sebelum memandangi wajahku selama beberapa detik, kemudian berbalik dan berjalan ke luar.

.

.

.

Bunyi derai hujan membuatku terbuai.

Dan hingga pada detik ini, mataku terus melayang ke luar jendela dan mencari-cari pohon cemara tinggi dan katanya berada di dekat Gedung Timur itu. Di tengah hujan begini, tidak ada rupa gedung yang nampak normal. Semua yang kulihat hanyalah kabut tebal, puncak-puncak gedung lain yang aku tahu itu adalah tempat ibadah dan gedung olahraga kami, dan baru-baru ini aku melihat sekumpulan gagak berkoar-koar di udara dan menari liar di antara badai.

Mungkin aku akan mengecek pohon itu nanti saja setelah jam makan siang.

Ketika aku akan menoleh ke depan, mulutku langsung mengeluarkan jerit tertahan saat mendapati sebuah wajah yang tiba-tiba berada amat dekat di sebelah pipiku dan memandangi intens dengan penuh konsentrasi. Seketika aku menyadari sosok itu tak lain adalah Dekan Hanji yang membulatkan matanya lebar-lebar dan memandangi wajahku dengan tatapan kosong. Kehadiran bahkan deru napasnya yang begitu dekat dengan wajahku bahkan tidak terdeteksi sama sekali. Dan aku ragu sudah berapa lama dia memandangiku seperti itu. Yang menjadi pertanyaanku selanjutnya, mengapa Jean sama sekali tidak memberitahuku dan membiarkannya begitu saja?

Murni refleks, aku memundurkan wajahku beberapa sentimeter. Agak takut.

"Kita pernah bertemu sebelumnya…" Suaranya datar dan dingin. Ada aura sadis di dalam nada suranya yang membuatku merinding. Matanya terus menatapku nyalang dengan ekspresi seperti mayat hidup yang sudah mati dan dibangkitkan berkali-kali.

Aku menggeleng canggung. "M-maaf. Kita belum pernah bertem—"

"Aku pernah melihatmu." Wajahnya didorong semakin dekat, sementara aku mati-matian berusaha menjaga jarak.

Dekan Hanji langsung memutuskan perkataanku yang menggantung di udara dengan suaranya yang bergetar dan tatapan membulat horor. Seketika keinginanku untuk kembali buang air besar kembali membludak.

"Aku pernah melihat fotomu di dalam sebuah map…"

Aku memandanginya heran. "Map?"

"Ya." balasnya getas. "Sebuah map hitam… yang terpisah dari map-map lainnya."

Aku mengernyitkan alis. Ada yang aneh dari orang ini.

Dia langsung mendengus geli seraya menyeringai tajam. Aku merasa tidak ada yang lucu dari wajahku, namun setelah mengucapkan kalimat barusan, mendadak timbul kejanggalan dari ekspresinya. Sambil bergeleng-geleng pelan, Hanji kembali menegakkan punggungnya dan memaku pandangannya lurus ke depan.

Tanpa berbicara apa-apa lagi, dia mulai berjalan kembali dan kami semua mengikutinya patuh. Semula aku mengira semuanya sudah selesai. Semuanya kembali berjalan normal. Segala intimidasi yang kuterima baik secara verbal maupun tidak langsung sejak pertama kali menginjakkan kaki ke tempat terkutuk ini seketika membuatku tersadar, bahwa akan ada berapa banyak lawan yang nantinya akan kuhadapi. Ini hanyalah satu dari kesekian.

Aku berjalan dalam diam sambil memandangi punggung Hanji yang sementara menjauh di depan, lalu baru saja tersadar bahwa orang itu kini sedang berbicara di dalam keheningan. Berbaur bersama gemuruh bunyi hujan dan gelombang atmosfer dingin yang menyakitkan. Baik aku maupun mahasiswa baru yang lain tidak ada yang merespon perkataannya. Dia seperti berkata dengan seseorang di dalam lorong ini.

"Jika aku jadi kau, aku akan berhati-hati,nak." ucapnya. Dan wanita itu terkikik singkat. Dia meregangkan lengannya lebar-lebar lalu memainkan otot-otot di tangan dan kepala. "Aah, tidak sabar rasanya memeriksa kriminal dengan kelainan mental seperti ini setelah sekian lama."

.

.

.

Setelah diajak berkeliling selama hampir dua jam sampai-sampai membuat kakiku mati rasa dan pandanganku berkunang karena kelaparan, akhirnya kami semua dikumpulkan di dalam ruang kantin dan diwajibkan untuk duduk sesuai warna gelang kami.

Lagi-lagi diskriminasi dari warna gelang.

Kantin yang dimiliki Universitas Scouting Legion terlihat sedikit lebih memiliki 'jiwa' ketimbang ruang-ruang maupun bangunan lain manapun di dalam Universitas ini. Langit-langitnya didesain sangat tinggi dengan kaca-kaca besar sehingga membuat kami semua merasa seperti hewan-hewan kecil yang terperangkap di dalam kandang gajah.

Panjang mejanya per-buah sendiri ada sekitar 12 meter dan dua meja dihubungkan menjadi sebuah meja panjang. Masing-masing meja yang telah terhubung akan dijejerkan menjadi sepuluh kolom yang rapi. Itulah mengapa kantin di Universitas Scouting Legion masuk dalam kategori tiga teratas untuk ruangan terbesar di seluruh tempat ini.

Empat lajur meja panjang di sebelah Timur akan di isi oleh kami, para mahasiswa gelang merah. Bukan rahasia lagi jika makanan untuk tipe gelang merah akan selalu lebih sehat ketimbang pemilik gelang lain. Alasannya sederhana. Kami semua akan berada di tempat ini sedikit lebih lama daripada gelang kuning dan hijau. Sebagai penjara yang berlandaskan pendidikan dan bernaung di bawah payung pemerintahan, tentu kami diharapkan untuk tidak sakit atau dihinggapi berbagai macam penyakit karena bakteri. Menderita fisik akibat hukuman atas perbuatan kita rasanya akan kedengaran jauh lebih baik ketimbang menderita akibat keracunan makanan.

Selanjutnya, tiga lajur meja yang berada di tengah akan diisi oleh Reiner dan kawan-kawannya. Setelah mendengar bahwa kami akan duduk terpisah, wajahnya langsung terlihat tegang. Terang saja. Baik para penghuni internal maupun eksternal Universitas ini pun tahu bahwa semua mahasiswa yang mengenakan gelang kuning sebenarnya berdiri di antara dua tipe kriminalitas yang berbeda. Antara yang ringan sekali, hingga yang berat sekali. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa banyak mata-mata di dalam tipe kuning yang sebenarnya adalah pemilik gelang merah yang sudah turun derajat. Untuk melakukan relasi dengan para mahasiswa gelang kuning ini merupakan pilihan sulit. Di satu sisi mungkin kau akan menemukan yang berperangai hijau, namun di sisi lain mungkin saja ada merah yang diam-diam mengintaimu.

Sementara tiga deret meja yang terlihat paling ramai, yaitu meja-meja di sebelah Barat akan diisi oleh para pemilik gelang hijau. Walaupun hitam kini adalah warna dominasi yang melekat pada tubuh mahasiswa-mahasiswa bertipe kejahatan ringan itu, namun warna-warna hijau yang melingkar di tangan kiri mereka terlihat memberikan warna tersendiri.

Masing-masing meja juga telah diberi ketentuan untuk memisahkan wanita dan pria sehingga mereka tidak boleh duduk dalam meja yang sama. Para wanita biasanya diletakkan di samping kanan dan kiri, mengapit para pria-pria pemilik gelang yang sama dengan mereka. Alasan dibuatnya kebijakan seperti ini tak lain adalah agar para pria gelang merah tidak berdekatan langsung dengan wanita di gelang kuning, dan begitu pula sebaliknya.

Di dalam kantin, walau diisi oleh hampir tiga ratus lebih mahasiswa yang masih segar dan baru, tetap tidak ada suasana ramai yang tercipta. Tidak ada nuansa canda tawa dan keceriaan. Tidak ada keributan seperti kantin pada umumnya. Tidak ada jiwa di dalam ruangan ini. Aku melihat mereka semua tertunduk dalam diam dan murung, tidak banyak bergerak dan termenung. Mungkin semuanya sedang menyesali perbuatan mereka; yang membuat mereka akhirnya berakhir di sini. Jelas mereka semua sudah tahu pasti suatu saat nanti akan dihadapkan pada hukuman-hukuman dan pembelajaran yang tidak manusiawi. Mereka tahu bahwa rasa kemanusiaan sudah lama tercabut di dalam gedung ini. Dan tidak ada cara lain untuk mengelak.

Di hadapanku ada sekitar berpuluh-puluh tampang kriminal yang bergerak-gerak tidak nyaman. Beberapa di antara mereka bahkan sedang menatap tajam dengan wajahnya yang bengis ke arah seorang petugas yang sedang balik badan. Banyak di antara mereka yang terlihat acuh tak acuh bahkan mati rasa dengan perlakuan ini. Mereka semua terlihat sedang melawan tekanan, sementara aku berusaha tetap diam dan tak banyak bicara, bahkan tak berbicara sama sekali.

Kami memang dilarang ngobrol satu sama lain, bahkan sekedar untuk melakukan interaksi singkat pun dilarang. Di belakang setiap punggung lima mahasiswa, masing-masing akan berdiri seorang Kepolisian Militer, lengkap dengan peralatan mereka dan bertugas untuk menjaga kelakuan mahasiswa yang membuat masalah. Dan kebetulan salah satunya sedang berdiri tepat di belakangku.

Setelah menunggu lima belas menit yang menyiksa, akhirnya piring-piring kami datang.

Dari ujung meja, piring-piring makan siang kami akhirnya diedarkan oleh sang juru masak. Juru masak kami bertubuh pendek dan rambutnya berwarna merah jahe. Dan dia tersenyum ramah. Mahasiswa yang duduk di barisan pertama bertugas untuk menggeser piring ke mahasiswa di sebelahnya. Dan begitu seterusnya.

Tak lama kemudian, semua piring sudah berada di tangan kami masing-masing. Aku memandangi beberapa potong daging dan sayur-sayuran di depan mataku. Ada sekitar tiga hingga empat ons daging di setiap piring. Ditambah setengah cangkir sayur-sayuran, tiga perempat cangkir salad dan sausnya. Satu roti dan sebuah minuman. Dan pencuci mulut bisa kita ambil sendiri dari kulkas di sebelah meja saji setelah kita selesai makan dan mencuci piring kita sendiri. Tentu saja.

Aku melihat sebagian besar orang-orang yang berpakaian seragam pengajar kini tengah berkeliling dan mengawasi kami.

Aku mengenal beberapa di antara mereka. Ada Erwin Smith yang kini berjalan di sepanjang mahasiswa bergelang merah sambil mengawasi wajah-wajah mereka. Ada Dekan Hanji yang terlihat menepuk-nepuk punggung seorang mahasiswa pria sambil tertawa-tawa, sementara laki-laki bergelang kuning yang bersangkutan itu baru saja menelan makanannya. Selain itu ada juga beberapa wajah lain yang terlihat tidak asing. Pria berambut gundul dengan kumis tebal dan senyum tipis itu yang kini sedang berkeliling tenang di areal sekitar meja Sasha adalah Profesor Pixis. Dekan untuk mahasiswa bergelang hijau. Dari tahun ke tahun, dia sudah memegang jabatan itu dan tidak pernah ada masalah di wilayah gelang hijau. Dia terkenal ramah, agak berantakan, namun tegas. Selain ketiga orang itu, aku juga melihat beberapa sosok yang terlihat tidak asing. Di antara mereka, ada beberapa dosen pengajar tetap yang sering kulihat tampil di televisi, seperti Auruo, Mike, dan–oh tidak!

Aku cepat-cepat menunduk dan fokus pada makananku.

Aku berpura-pura memotong daging dan langsung berusaha terlihat tenang. Melalui ekor mata, aku dapat melihat sosoknya mendekat. Suaranya yang berat dan dingin terdengar beberapa meter di sebelah telinga kananku ketika ia sedang berbicara pada mahasiswa lain. Baunya yang khas juga menyeruak ke dalam rongga penciumanku ketika dia semakin mendekat. Aku dapat mendengar suara datarnya yang sedikit membentak namun tak sampai dalam taraf berteriak, satu meter di sebelahku.

"Oi, habiskan makanannya. Kami tidak menyediakan fasilitas rumah sakit di sini. Yang sakit tidak menjadi tanggungan kami."

Aku kesulitan menelan makananku.

Levi. Levi di sini.

Sudah selesai main sabunnya? pikirku.

Seharusnya aku ingat bahwa dia adalah kepala asrama Gedung Utara. Sudah pasti dia akan mendatangi meja-meja kami dan mengawasi dengan ketat. Sial. Aku menunduk dan langsung mengunyah makananku. Degup jantungku berdebar kencang sekali dan terasa akan mendobrak ke luar. Aku makan cepat sekali. Tidak konsentrasi pada hidangan yang tersaji di depanku, aku langsung menghabiskan beberapa potong daging dan berlembar-lembar sayuran, sementara minumannya tidak kusentuh sama sekali.

Ketika itulah aku merasakan tepukan keras di kepala dan membuat beberapa potong daging di mulutku tertelan paksa dan sisanya menyembur ke luar mulut.

"Hei, makan yang tenang. Jangan seperti dikejar setan."

Suara dingin dan berat menggema di sebelah telinga, seketika membuatku berjengit kaget.

Aku terbatuk-batuk dan mendapati beberapa mahasiswa di sekitarku langsung melempar tatapan heran. Sial. Bikin kaget saja. Bukannya terkejut, aku malah kaget bercampur takut. Dan pada saat itulah sebuah saputangan putih bersih disodorkan di ke arah wajahku.

Aku termangu beberapa detik.

Fungsi otakku berhenti seketika dan aku baru saja menyadari bahwa saputangan itu adalah milik Levi.

"Bersihkan wajahmu." katanya pelan. "Potongan sayur itu membuat wajahmu terlihat buruk."

.

.

.

Pukul 6.58 malam di Gedung Utara.

Setelah seharian berhadapan dengan berpuluh-puluh Kepolisian Militer bersenjata lengkap ditambah tekanan dari efek warna-warna suram yang mengelilingiku, makin diperparah dengan ceramah-ceramah panjang dari masing-masing pengajar yang menceritakan kisah hidup mereka yang menyedihkan, belum lagi dari tatapan-tatapan sinis mahasiswa-mahasiswa lain yang tak melepaskan pandangannya dariku, hari ini aku sudah cukup dibuat lelah.

Di dalam suasana kamar yang suram, aku berbaring telentang dan memandangi visual langit-langit berupa kawat besi yang malang-melintang dengan gumpalan kapas yang sudah sobek-sobek dari tempat tidur reot di atas kepalaku. Setelah makan dan mencuci piring kami sendiri, kami diwajibkan membersihkan diri dan mencuci pakaian kami. Tentu saja tidak memakai mesin cuci dan sabunnya pun harus berbagi. Entah bajuku tadi sudah bersih benar atau masih kotor, aku tidak bisa memastikan.

Aku ditempatkan di lantai tiga nomor 63 di Gedung Utara. Banyak mahasiswa baru yang ditempatkan di sini, dengan alasan bahwa mungkin karena lantai ini berbatasan langsung dengan para pemilik gelang kuning, sehingga kami jadi dapat lebih mudah beradaptasi dengan tipe-tipe mahasiswa bergelang lain. Atau mungkin juga mereka beranggapan jika kami masih memiliki sikap yang kurang lebih sama seperti mereka dan akan kesulitan beradaptasi dengan para senior kami di lantai atas.

Ada dua ranjang susun di dalam kamar kami, sehingga maksimal orang yang dapat tinggal di sini adalah empat mahasiswa. Aku mengambil ranjang di sebelah kiri bersama Thomas yang mengambil tempat tidur di atas. Kami berdua adalah mahasiswa baru dan ada dua mahasiswa senior lainnya yang akan berbagi kamar dengan kami.

Kamar kami berukuran kecil, sangat memprihatinkan, bahkan kalah jauh dengan toilet wanita. Di dalam ruangan lima kali lima meter itu ada jendela kecil tanpa gorden yang diletakkan searah dengan pintu masuk, sebuah meja belajar di bawah jendela, masing-masing sebuah lemari kecil di sudut kanan dan kiri, sebuah tempat sampah di bawah meja belajar, sebuah wastafel rusak dan cermin besar di belakang pintu. Oh, tidak lupa dengan lampu neon berwarna kehitaman yang temaram dan menimbulkan bunyi berderik ketika kami pertama kali menyalakannya.

Di tanganku, tergenggam sesuatu yang ringan dan berbahan kain fabrik. Benda yang mendekam di dalam kantung celanaku sejak jam makan siang tadi. Permukaannya lembut dan dingin. Warnanya putih dan beraroma harum. Sebuah saputangan yang bersih dan terawat. Saputangan yang ini kini terpisah dari pemilik aslinya.

Alasan kenapa benda ini masih berada di tanganku adalah bukan karena aku malas mengembalikannya atau mau belas dendam karena dia sudah memaksaku menyentuh alat vitalnya. Sebenarnya aku sudah berniat baik untuk mengembalikan setelah selesai makan, tapi salah sendiri dia tidak kelihatan setelah jam makan siang. Entah pergi ke mana. Dan jika aku diizinkan untuk bertanya pada petugas, maka aku akan menitipkan barang ini untuknya. Itu jika aku diizinkan.

Mungkin saat ini dia sedang menghukum mahasiswa lain, atau sedang main sabun di toilet wanita lagi. Entahlah.

Sama seperti Sasha, Jean dan Reiner yang terlihat berusaha menjauhkan diri dari Levi, Thomas Wagner, salah satu teman kamarku, juga membombardirku dengan cerita-cerita seram dan mengaku sedang berusaha mencari akal agar tidak bertemu dengan Levi. Siapapun yang mendengar riwayat hidup Levi dalam balutan kengerian di Universitas Scouting Legion pasti akan mengambil tindakan serupa.

Dan aku sudah melanggar aturan pertama yang sakral. Aku sudah bertemu Levi. Walau secara teknis, dia yang menemukanku. Dua kali. Dalam sehari.

Jika orang-orang seperti mereka mendengar ceritaku yang sudah bertemu Levi lebih dari sekali dalam sehari dan mengetahui kami sudah melakukan beberapa interaksi, mungkin mereka akan langsung kena serangan jantung.

"Levi tinggal di lantai enam. Lantai paling atas dan yang terujung. Dia memiliki kamar khusus yang hanya ditempati olehnya dan tidak ada satupun orang di asrama ini yang berani menyentuh areal tersebut, sekalipun itu para petinggi Universitas Scouting Legion."

"Oh, ya?" aku mengernyitkan alisku.

"Itu benar. Aneh, kan?" sahut Thomas, berusaha meyakinkanku betapa peliknya sosok Levi ini. "Setiap pukul lima pagi, dia akan berjalan berkeliling asrama dan membangunkan seisi gedung dengan sebuah tongkat besi. Jika ada yang ketahuan masih tertidur ketika Levi menendang pintunya, maka orang itu akan dihadiahi hantaman keras di kening."

Aku membayangkan hal itu pasti akan sakit sekali. Tentu saja sakit secara fisik dan batin. Bayangkan saja. Ketika kau sedang khusyuk bermimpi indah—apalagi mimpi basah—lalu tiba-tiba saja muncul tongkat besi yang melayang keras dan menghantam wajahmu, menarikmu paksa ke dunia nyata, kau pasti akan dongkol setengah mati setelah itu. Selain mendapat benjol di kepala, mimpi indahmu juga terpotong.

Mengenai bagaimana caranya Levi bisa mendapat akses untuk masuk ke dalam kamar-kamar mahasiswa itu dengan mudah, aku pernah mendengar ceritanya. Tiap-tiap kamar di asrama Gedung Utara didesain agar tidak memiliki kunci pintu. Alasannya adalah agar para pengurus Universitas ini bisa leluasa mengecek mahasiswanya setiap saat. Dan kebijakan itu cukup efektif untuk menjadi alarm pagi hari.

Thomas melanjutkan, "Seperti tugas kepala asrama pada umumnya, Levi akan mengecek kehadiran mahasiswa di kamarnya pada jam tidur. Dan jika ada satu mahasiswa yang kedapatan tidak berada di tempatnya sesuai waktu yang ditentukan, maka Levi wajib mencari mahasiswa itu sampai dapat. Dan jika Levi sudah menemukannya, maka jangan harap wajah orang itu akan sama seperti bentuk semula."

Aku meringis. "Jadi tidak ada lagi waktu untuk begadang?" tanyaku pelan tanpa sadar.

"Jangan pernah harap itu akan terjadi!" bantah Thomas.

Jam tidur kami adalah pukul sembilan dan kami harus—bahkan diwajibkan—untuk sudah tertidur pada jam-jam itu. Thomas mengatakan, jika kau ketahuan belum tidur, maka Levi akan menidurkanmu.

Maksudnya dipukuli sampai pingsan.

Aku memandangi sesaat suasana kamarku ketika Thomas akhirnya bangkit berdiri dan berkata ingin tidur lebih cepat karena kelelahan. Thomas merangkak menuju tempat tidurnya dan kini tersisa aku dan dua senior lain yang sedang main kartu di seberang yang sama sekali tidak memperdulikan keberadaanku. Benar kata Thomas. Ketika kami belum berkenalan dan dia dengan baik hati membawakan barang-barangku masuk ke dalam kamar asrama, dia sempat berkata "Kau tahu, tidak ada rasa sosialisasi di asrama ini. Jangan harap kau bisa mendapatkan teman baik di tempat ini."

Dan itu seratus persen benar.

Merasa tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di kamar suram ini, akhirnya aku berjalan gontai ke luar ruangan dan berniat mencari pohon cemara tinggi di sebelah asrama Gedung Timur.

.

.

.

Pukul 07.05

Pada jam ini, para mahasiswa masih diizinkan untuk bebas berkeliaran di luar asrama. Ketika aku turun menuju lantai dua, aku melihat banyak sekali mahasiswa bergelang kuning di sepanjang lorong dan ada Reiner di sana.

Beberapa di antara mereka terlihat berdiri berjejer di tembok dengan sikap siaga dengan wajah tegang dan keringat dingin. Di depan mereka ada lima mahasiswa dengan tubuh lebih tinggi dan berbicara dengan gaya otoriter bak diktator yang terlihat sedang menggertak mahasiswa-mahasiswa baru di hadapannya.

"Cukup tiga kali ketukan!Yang berani berdiri di sana selama lima detik tanpa bergerak sedikitpun akan diberikan dua botol gin dan tiga botol beer! Bonus, akan lalu langsung diangkat menjadi anggota di grup! Jika kalian memang bermental penjahat sejati, seharusnya kalian berani melakukan tantangan kecil seperti ini! Kuning tidak ada bedanya dengan merah!"

Gemuruh bersahut-sahutan ramai dan menyerukan setuju kontan menjalari tiap mahasiswa bergelang kuning yang lain.

Tanpa bertanya siapa yang subjek yang dimaksud, aku tahu orang yang dimaksud adalah Levi. Sebagai orang terkuat di asrama ini, siapa yang berani menantangnya akan dinobatkan menjadi sebagai sang jawara. Sudah hal lumrah jika akan ada banyak sekali golongan-golongan pemberontak seperti ini di wilayah kampus. Bukan rahasia lagi jika Levi memiliki banyak musuh.

Aku memandangi sosok Reiner sesaat, dan dia balas menatapku.

Kami tak saling bertegur sapa. Aku hanya tidak menyangka jika dia berani melakukan hal sampai sejauh ini untuk melampaui Levi. Dan bukannya aku berusaha membela Levi, tetapi jika Levi memang diisukan sebagai penjahat paling berkuasa di sini, lengkap dengan sederet prestasi kriminal yang membuatnya tidak bisa dipandang remeh dan pantas mendapatkan penghormatan dari mahasiswa lain, pastinya orang-orang seperti Reiner dan mahasiswa bergelang kuning yang lain itu bukanlah tandingannya.

Tanpa menoleh yang untuk yang kedua kalinya, aku berjalan menuruni tangga.

.

.

.

Aku menyusuri lorong sempit menuju pintu keluar. Di kanan-kiriku banyak pintu yang tertutup. Seperti kata Thomas, tidak ada hubungan sosial di tempat ini. Interaksi lebih banyak dilakukan di balik pintu tertutup. Dan privasi adalah harta satu-satunya yang harus dijaga ketat.

Aku mulai dapat merasakan terpaan angin malam dari pintu masuk yang terbuka. Jaketku tak bisa melindungi tubuhku lebih dari ini. Permukaan dinding di sini berwarna seperti papan tulis berdebu—dan seluruh suasana yang menyelemuti tempat ini adalah sunyi total. Hanya ada dengungan monoton lampu-lampu neon kuning yang menggantung di langit-langit triplek bernoda air.

Aku berjalan ke luar asrama dan mendapati kabut tebal yang berjalan pelan beriringan di depan mata, memakan hampir semua bangunan-bangunan tinggi dan pepohonan ek di sekitarnya. Tingginya ada sekitar enam meter dan ketebalannya membuatku hampir tak bisa melihat rawa di depan asrama kami. Kabut-kabut ini membuatku merasa seperti terkurung di dalam dunia paralel yang kecil dan dingin, membuatku tanpa sadar mengetatkan jaketku lebih erat dan bernapas lewat mulut. Bunyi hewan-hewan malam mulai terdengar.

Dari kejauhan, terdengar nyanyian burung hantu berbalas-balasan. Tak selang beberapa lama kemudian, bunyi katak-katak rawa juga terdengar mulai memainkan orkestra malam hari mereka. Beberapa burung gagak juga sudah mulai beterbangan di sekeliling gedung dan bertengger di puncak asrama kami.

Ada visual menara gelap di sebelah kiri yang terlihat mencuat ke atas.

Itu adalah asrama Mikasa.

.

.

.

Ini pertama kalinya aku berjalan di dalam kabut.

Berjalan di dalam dinding abu-abu tebal seperti ini terasa tidak ada bedanya dengan berjalan di dalam kegelapan dengan sebuah senter. Aku memandangi sepatuku yang saling mendahului di jalan setapak batu-bata dengan batu granit di pinggirannya, takut tersandung. Puncak menara Gedung Timur masih dapat terlihat dari tempatku berdiri, walau awan-awan mendung gelap mulai menutupi cahaya bulan purnama dan membuat taman ini perlahan-lahan terasa suram.

Jika saja aku terus mengikuti jalan setapak ini dan tetap fokus pada bangunan itu, mungkin aku akan tiba di asrama Mikasa dengan selamat.

Detik demi detik, menit demi menit, aku terus berjalan di dalam area setapak sambil sesekali waspada jika ada seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang atau depan. Semoga saja ucapan Mikasa benar. Semoga saja tidak ada Kepolisian Militer yang sedang berkeliaran di sekitar sini.

Namun sekitar lima belas menit aku berjalan dalam diam di tengah kabut, aku baru tersadar bahwa aku tersesat.

"Bodoh." erangku.

Kini aku tidak tahu persisnya sedang berada di mana. Kabut memelukku kian erat. Aku tidak dapat melihat apapun lagi. Aku bahkan tidak tahu ke mana arah aku pergi.

Sementara itu pula titik-titik air mulai membasahi kepalaku dan kabut-kabut merayap semakin tinggi.

Aku tidak mungkin terperangkap di sini dan kembali ke asrama keesokan paginya.

Ketakutan dan rasa gelisah mulai menguasai diriku. Aku merasa tidak berada di mana-mana. Aku bahkan merasa tidak sedang berada di dalam wilayah Universitas Scouting Legion. Aku merasa tidak sedang berada di manapun!

Bagai mendengar seruan cemasku, samar-samar terlihat sesosok manusia yang berada dua meter di hadapanku dan sedang berjalan di dalam kabut. Tubuhnya tinggi dengan warna hijau redup yang terlihat menyala di pergelangan tangan kirinya. Seketika aku mengenali orang itu. Mahasiswa gelang hijau! Akhirnya aku tertolong. Setidaknya dia bukan tipe gelang-gelang lain, atau yang lebih parah, Kepolisian Militer.

Ketika aku berniat menghampirinya, ada sesuatu yang terasa asing di dalam leherku. Dengung-dengung suara hewan malam yang bernyanyi menghilang seketika di dalam telinga. Aku tak lagi fokus pada kabut. Aku tak lagi fokus pada rintik hujan di atas kepalaku. Aku merasa lain.

Tiba-tiba aku tak bisa lagi merasakan kakiku. Telingaku berdengung statis. Seluruh anggota tubuhku mati rasa. Pandanganku kabur dan dapat kurasakan sesuatu yang janggal bergejolak di dalam tubuhku. Membakar kerongkonganku. Mengaduk-aduk isi perutku dengan amat cepat. Membuatku tubuhku bergetar.

Dingin tak lagi mengungkungku. Saliva membahasi rongga mulutku. Tubuhku meremang dalam perasaan dingin dan menyesakkan. Aku memeluk diriku sendiri. Apa yang terjadi denganku?

Seketika itu pula dorongan rasa lapar yang luar biasa menggerogoti tiap sendi-sendi tubuhku.

Aku merasakan kelaparan yang teramat sangat.

Aku bergidik ketika mendengar sebuah suara berat dan pekat menggema di dalam gendang telinga. Merasuk ke dalam otak dan melumpuhkan syaraf. Menggigit kesadaran dan akal sehatku. Aku merinding. Menggigil. Suara itu menari-nari di dalam kepala. Membuatku tak bisa mengontrol tubuh. Aku gemetar. Aku lapar. Sensasi perasaan lapar yang aneh ini kian menjalar ke seluruh tubuhku. Perutku bergejolak liar. Bibirku bergetar.

'Lihat, Eren. Di sana ada daging.'

'Bukankah kau lapar?'

Kerongkonganku panas. Leherku kering. Perasaan lapar ini tak bisa tertahan. Aku memberontak dalam hati. Jangan lagi. Jangan lagi! Jangan lagi!

Perlahan-lahan, suatu energi berusaha menarik nyawaku hingga tercabut paksa dari raga. Hingga napasku terputus dan mengambang di awang-awang. Hingga aku merasakan sebuah bayangan gelap berusaha menarik paksa kesadaranku dan mengambil alih. Aku memberontak dalam hati.

'Sekarang, beri aku makan, Eren.'

Kegelapan total menyelimuti pandangan mata.

Tangan dan kakiku mulai bergerak di luar kesadaran.

.

.

.

'Bukankah manusia dan daging sama saja?"

.

.

Next:

Part III:Eren

A/N :

Kirain cuma saya yang demen cerita-cerita psiko beginian. Makasih buat siapapun yang sudah baca, bahkan sampai meninggalkan review, kenang-kenangan berupa fave dan follow, bahkan sampai kontek-kontekan sama saya di FB. Terima kasih banyaak. Saya sayang kaliaaan.

Dan untuk semua yang baca, fave dan follow, makasih banyak yaa. Makasih juga sudah baca Alter.

Harumi Ryosei :

Haloo, ini udah dilanjutin :) Makasih yaa sudah baca Alter. Saya juga kepengen ada lemon, tapi lihat dulu nasib Eren ke depannya gimana :') Makasih ya reviewnyaa.

syalala uyee :

Haloo, makasih ya sudah baca Alter. Aura psikonya kerasa gara-gara yang nulis juga psiko :') Walau ketimbang dibilang psiko sebenarnya saya lebih condong ke arah rapuh, sih (gaknanya). Ditunggu ya kisahnya Levi. Makasih reviewnya, yaaa.

wizald :

Makasih ya sudah baca Alter. Iya, ini udah dilanjutin, kook :') Makasih reviewnya, yaa.

Anaknya Riren:

Belum apa-apa Levi Eren udah punya anak, toyoong x') Iya, ini udah dilanjutin. Makasih ya sudah baca Alter. Makasih juga reviewnya.

Auliaul :

Haloo, makasih ya sudah baca Alter. Makasih bangeet :') Makasih juga reviewnya, ya.

kirs :

Hohoho, makasih yaa sudah baca Alter. Makasih juga reviewnyaa :D

PS :Jadi sebenarnya, di bagian paling atas itu seharusnya ada POV-nya Levi. Dan nulis POV Levi ternyata jauh lebih susah ketimbang nulis POV Eren. Sebenarnya aslinya itu ada satu chapter, tapi kepikiran kalo ini kan diceritain dari sudut pandang Eren, jadinya saya urungkan niat itu dan menjadikan POV Levi sebagai arsip untuk chapter-chapter mendatang (kalo memungkinkan fik ini dilanjutkan lebih jauh).

Sign, Rapuh