Part III:

Alter

'Apa kau takut, Eren?'

Apakah aku takut? Mesti kah?

Ketika aku membuka mata, hal yang pertama aku rasakan adalah segalanya terlampau gelap. Namun visual postur tubuhku masih nyata terlihat.

Aku dapat menonton tangan dan kakiku yang melayang di lautan kosmos hitam tanpa batas, sementara kedua belah bibirku merekat erat satu sama lain bagai dilumuri cairan lem. Telingaku mendenging tuli di antara ruang udara, sampai-sampai aku dapat mendengar gema suaraku sendiri di dalam kepala.

Atmosfer di sekeliling terasa dingin dari pada suasana musim salju di Kota Sina, dan gigitan suhunya merembes ke dalam kulitku yang tipis meremang pucat, menggerumit lapisan tulangku yang rapuh. Udara di sekitar terasa terlalu pekat dan tipis, untuk menarik napas saja harus mengerahkan seluruh tenaga. Rasanya bagai terkungkung sendiran di dalam kotak kecil rapat tanpa celah, ditenggelamkan di dasar lautan terdalam, dan menghilang dalam dimensi berbeda.

Tempat ini tidak asing lagi.

Entah mengapa, muncul suatu gejolak aneh di dalam diriku; yang memaksa jiwaku untuk membenci diri sendiri pada detik itu juga.

Dan sedetik kemudian keganjilan yang familiar merangkulku, mengalir dari ujung rambut hingga turun ke pergelangan mata kaki. Kental yang merah segar merembes liar di sepanjang tubuh dan menganak-sungai hingga menetes menuju permukaan tanpa dasar di bawah kaki yang telanjak. Namun aku tidak merasakan sakit. Semuanya terasa sangat intim.

'Jawab, Eren.'

Otakku memaksa alam bawah sadar untuk segera merespon: apakah aku merasa takut? Apa seharusnya demikian? Dan jawabannya muncul ke permukaan begitu saja.

Tentu saja tidak. Tidak sama sekali.

Aku tidak pernah merasa takut. Tidak ada yang pernah membuatku takut.

Namun di sanalah letak keanehannya.

Bagaimana caranya dengan kodratmu yang sebagai manusia ini kau tidak pernah merasa takut? Aku seharusnya takut pada beberapa hal, entah hal-hal minor atau mayor yang ditakuti oleh sebagian besar orang, itu hal yang manusiawi. Dan sebagai seorang manusia, sudah sewajarnya aku merasa takut. Itu adalah hal internal yang dibekali pada setiap manusia agar tidak terlihat sempurna.

Terkecuali jika aku bukan manusia.

Lagipula bagaimana aku harus takut jika orang-orang di dunia inilah yang takut padaku? Untuk apa takut jika justru akulah satu-satunya objek yang membuat mereka semua takut? Paradoks itulah yang terus menguntiliku selama beberapa tahun terakhir dan perlahan-lahan membentuk benteng tak kasat mata yang kian memproteksiku dari koneksi dengan masyarakat luar.

Aku tidak pernah tahu siapa diriku sebenarnya.

Aku bahkan tidak pernah tahu untuk apa aku dilahirkan.

Dan aku tak pernah mengenal siapa diriku yang sebenarnya.

Sebuah cermin besar mengambang di depan wajah. Menampilkan refleksi satu badan seorang anak laki-laki yang memandang tanpa nyawa.

Sekilas dia memang mirip denganku. Namun dia bukan diriku.

.

.

.

ALTER

a fanfiction by Raputopu

Shingeki No Kyojin by Hajime Isayama

warning: AU, OOC, typo, mature content, double POV

.

.

.

Part III:Eren

Ketika aku membuka mata, hal yang pertama kali aku lihat adalah langit-langit pipa berkarat yang bocor, tikus-tikus hitam yang berlarian liar di sepanjang rel pipa dengan suara melengking, dan tetesan air yang berbunyi statis. Suara hujan terdengar samar-samar jauh di luar sana, seperti terhalangi sesuatu yang padat; sesuatu seperti dinding. Hidungku seketika mengendus bau hujan yang melayang-layang di udara, tidak jauh dari sini.

Dan secara bertahap, inderaku yang lain mulai bereaksi.

Bagian atas kepalaku berdenyut nyeri, membuatku meringis pelan. Memoriku masih buyar. Segala visual bercampur aduk antara halusinasi dan realita. Menggulung-gulung ingatan di otak. Delusi bergumul dengan kenyataan. Kesadaran beradu dengan kelumpuhan sendi-sendi. Aku bahkan terlalu lelah untuk sekedar membuka mata.

Kelopak mataku kembali terpejam. Tangan dan kakiku menggeliat tak nyaman di permukaan kain kasar, merasa terlalu lelah seperti baru saja melakukan banyak pekerjaan berat selama beberapa jam terakhir, sehingga otot-ototku mengejang hampir di seluruh bagian. Kulit punggungku tergesek di bidang garmen yang tak beraturan ketika aku memutar tubuhku sembilan puluh derajat, lalu membenamkan sebagian wajah di balik kain berbau amis.

Bahan fabrik selimut yang membalut tubuhku memberi sensasi gatal-gatal di beberapa bagian dan sukses membuatku tidak nyaman. Bagian gatal yang terparah adalah di areal pribadi. Namun, aku tak menggubrisnya. Terlalu malas untuk bergerak, atau menggaruk. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan saat ini adalah tidur. Hibernasi berkepanjangan dan tidak terbangun untuk waktu yang sangat lama.

Bunyi air hujan yang menghantam seng di luar sana menjadi melodi pengantar tidur.

Andai saja tidak ada suara asing yang merasuk ke dalam rongga telinga ketika kesadaranku sedang memasuki alam astral, maka seharusnya aku bisa melanjutkan tidur dengan tenang. Dan jika saja suara itu tidak memanggilku dengan julukan yang tidak aku inginkan, maka seharusnya aku bisa mengabaikannya begitu saja.

"Hei, kanibal..." Suara itu menari liar di dalam kepala. "Buka matamu sekarang."

.

.

.

Walau ada dua orang di dalam ruangan ini, namun tidak ada satupun dari kami yang membuka suara.

Suasana di ruangan ini terasa sempit. Langit-langitnya dirancang terlampau rendah dengan lembar triplek yang sudah membusuk akibat air hujan dan terlepas dari paku-paku kecil, sehingga memperlihatkan pipa-pipa ledang berwarna hitam di baliknya. Lantai ubin kotak-kotak kecil yang retak dan berlumut di beberapa bagian terlihat tergenang oleh air hujan yang masuk melalui daun pintu aluminium yang dibiarkan terbuka sebagian. Melihat dari bayangan pohon-pohon yang bergoyang liar sesuai irama angin dan pemandangan kabut tebal yang berjalan pelan di luar sana, dapat dipastikan kami berdua sedang berada di lantai dasar. Tepatnya di ruangan laudry.Namun terlihat lebih mirip bangsal penjara bawah tanah tak terurus yang berfungsi menahan orang sakit jiwa.

Matras keras dengan permukaan sobek-sobek tak terurus yang terletak di depan sebuah mesin cuci dan terposisikan tepat di tengah-tengah ruangan adalah tempatku berbaring sejak tadi. Ada sebuah kain karpet tebal berbahan beludru murahan yang terbentang lebar, menyelimuti sekujur tubuhku yang sudah berganti pakaian entah sejak kapan. Karpet inilah yang membuatku gatal-gatal sejak tadi.

Aku bergeming.

Baik aku maupun orang asing ini tidak ada yang mengeluarkan suara. Dia duduk di atas kursi lipat reyot tanpa baut di beberapa bagian dengan kaki terangkat di atas mesin cuci sementara tangan satunya menggamit puntung rokok yang terselip di bibir. Sosoknya yang berbalut hitam menyesap nikmat tembakau dalam diam sementara sepasang mata jelaga tipis sedingin atmosfer beku di sekelilingku itu memandang kosong ke luar pintu tanpa bersuara.

Dia adalah seorang pria paruh baya dengan keriput penuaan di sekitar matanya yang memiliki kantung mata. Tulang pipi tinggi, postur wajah yang tirus, janggut yang meruncing, dengan bola mata kemerahan seperti orang mabuk. Sekilas wujud fisiknya mengingatkanku pada penampilan koboi zaman dulu dalam film western. Warna kulitnya padam ditambah dengan fisik kurus yang menjulang. Rambutnya gondrong dan amburadul seperti ijuk, mencuat-cuat melewati lehernya. Dia mengenakan topi fedora butut dan memosisikan topi itu agar menutupi sebagian wajah.

Sok misterius.

Lima mesin cuci dengan warna putih keruh dan kaca-kaca yang menggelap oleh kotoran hitam berderet di sepanjang dinding berlumut dan membentengiku bersama dirinya. Di dalam ruangan yang jauh lebih kecil dari Ruang Interogasi—yang memang sengaja dibuat sempit dengan tujuan untuk menekan psikologi mahasiswa—itu kami tidak bercakap satu sama lain sejak dua menit canggung yang lalu; tepatnya ketika aku menyadari bahwa pakaianku sudah berganti dari yang sebelumnya, dan dia adalah satu-satunya oknum yang patut dicurigai karena berada di sini.

Satu-satunya suara yang saat ini terdengar hanyalah bunyi ringsek daun pintu yang berayun karena diterpa angin malam. Serta bunyi sahut-sahutan jangkrik yang beradu dengan orkestra badai.

Orang itu tak beringsut sama sekali dari tempatnya. Sebaliknya dia terlihat merasa nyaman sekali bisa duduk di tempat lembab seperti ini, walau ditemani orang sepertiku. Sekalipun ekspresinya terlihat acuh tak acuh, bahkan kelewat tenang, namun dari sorot matanya aku tahu orang ini sedang waspada.

Entah dorongan dari mana yang memaksaku untuk bertanya pada sosok yang sedang mematung di sebelah matras. Walau dari gesturnya terlihat jelas bahwa dia terang-terangan sedang mengabaikanku dan sudah menjelaskan dengan gamblang lewat eksprsi matanya; bahwa aku tidak seharusnya memberi interupsi padanya. Namun aku tetap keras kepala melempar pertanyaan.

"Maaf. Baju saya di mana?" tegurku sopan.

"Basah," balasnya datar. "akibat air hujan."

Aku mengernyitkan kening. "Bagaimana bisa aku terkena hujan?"

"Maaf, nak. Tapi aku tidak melayani pertanyaan bodoh."

Aku bungkam. "Baik." ucapku singkat, tertahan di bibir.

Suaranya menggema. "Namun jika kau memang benar-benar membutuhkannya, kau bisa mengambilnya sendiri di sana." Telunjuknya mengarah lurus ke arah mesin cuci di baris pertama yang bersebelahan dengan pintu aluminium yang rongsok.

Di dalam sana ada baju-bajuku.

Aku menggeram dalam hati. Yang benar saja? Dia pasti berusaha mempermainkanku.

Bagai merespon perubahan ekspresi di wajahku yang merasa tak nyaman, dia langsung menegakkan punggung, sembari membuang puntung rokoknya ke lantai, lalu mengambil sebuah pistol berkerak kotoran kuning di atas sebuah mesin cuci lalu bangkit berdiri dan berangsur meninggalkan kursinya.

Bagaimana caranya dia diperbolehkan membawa senjata api?

Dan ngomong-ngomong dia juga mengenakan gelang merah di lengan kirinya. Sama sepertiku. Pastinya penjahat kelas berat.

"Ini sudah pukul lima pagi dan si pendek itu akan berpatroli berkeliling gedung selama dua puluh menit. Sebaiknya kau tidak ke luar dari sini sampai lima belas menit ke depan." katanya seraya menahan pintu agar tidak bergoncang karena intensitas dorongan angin kencang.

Si pendek?Aku mengernyit. Levi, maksudnya?

Aku tak berniat menghentikan langkahnya ketika dia mulai berjalan ke luar.

Sebelum meninggalkan pintu, dia mematung sejenak dan berkata satu hal tanpa memandang wajahku.

"Oh, ya, nak. Kita belum berkenalan." katanya dengan gelagat seakan lupa sesuatu. "Jika suatu saat kita bertemu lagi, panggil saja aku Kaney." ujarnya singkat sembari memberi senyum tipis. Aku malas menjawab. "Kau bisa mengenalkanku namamu di pertemuan kita selanjutnya nanti."

Tidak akan.

Tanpa menunggu jawabanku lagi, dia kembali berjalan dan menghilang di balik kegelapan.

.

.

.

Hari ke dua masa orientasi. Pagi ini diisi oleh apel singkat yang agak berbeda di dalam aula.

Tidak ada sarapan, tidak ada kata sambutan, dan tidak ada nuansa makan yang tenang seperti kemarin. Tidak seperti biasanya, di mana-mana nampak hampir seluruh anggota Kepolisian Militer yang membawa masing-masing senjata api dan berjejer hampir di setiap sudut ruangan. Sebagian besar dari mereka membentuk formasi persegi dan mengurung kami semua dalam bentuk deret barisan rapat hingga tiga lapis ke belakang. Dan mereka sama sekali tak mengizinkan salah seorang dari kami untuk ke luar dari benteng itu sekalipun alasannya untuk buang air kecil.

Entah mengapa, perutku terasa mulas dan mulutku ingin memuntahkan sesuatu.

Di panggung aula, berdiri orang-orang penting penggerak utama dari bangunan instansi khusus kriminal ini. Di antaranya adalah Erwin Smith, seorang pria berambut pirang tiga puluhan yang bertubuh tegap dengan fisik seperti tentara andal, Hanji Zoe, wanita atletis berkuncir satu dengan perangai seperti lelaki tulen, dan Pixis, jenderal botak dengan senyum mesum dan wajah merah padam akibat alkohol. Mereka adalah masing-masing Dekan untuk setiap warna gelang yang tersedia. Sementara itu di antara para pengurus akademik yang berdiri di belakang mereka bertiga, nampak beberapa pengajar utama veteran yang berbaris dengan wajah tanpa ekspresi dan memandangi kami semua dengan tatapan sinis.

Sebagai moderator, Hanji adalah orang yang paling tepat dan paling ekspresif dalam menyampaikan masalah. Sepak-terjangnya selama mengajar di Universitas ini adalah tameng permanen yang membuatnya tidak dapat terbantah dalam setiap argumen.

Tidak seperti apel normal pada umumnya, pertemuan kali ini membahas tentang kematian.

"Nama korban adalah Marco Bodt, mahasiswa angkatan satu dari Gedung Barat. Ditemukan sekitar pukul empat pagi oleh seorang saksi mata dari mahasiswa gelang hijau bernama Connie Springer."

Dapat kulihat ekspresi tegang dan gelisah yang mewarnai wajah-wajah mahasiswa tiap angkatannya, ketika Hanji mulai membacakan topik permasalahan yang sedang genting itu pada kami semua. Dia menjadikan kami semua sebagai calon tersangka dan pihak utama yang tertuduh. Ekspresi takut yang paling parah dapat terlihat di deretan mahasiswa baru seperti kami. Karena pada dasarnya, kasus kematian di wilayah Universitas adalah hal yang cukup inferior bagi anak-anak seperti mereka. Mendapat kenyataan bahwa masuk ke tempat ini sudah cukup mencoreng masa depan dan membuat malu nama keluarga, sekarang malah dihadapkan pada kematian di areal kampus dan diposisikan sebagai fraksi yang tertuduh atas sebuah tindak pembunuhan. Orang waras manapun pasti akan terguncang psikologisnya.

Baik para mahasiswa dari angkatan manapun, maupun para pengajar dan staff dewan pelatihan, satupun dari mereka terlihat tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka semua menunduk dalam keheningan dan suasana duka. Dan tidak ada suara lain yang tercipta selain bunyi hujan di luar sana yang belum reda sejak tengah malam.

"Korban ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Mati dengan kulit tercabik-cabik dari rahang kanan hingga areal pinggul, menghabiskan hampir sepertiga kulit di tubuhnya, dan hanya meninggalkan sisa-sisa tulang."

Dan di antara kesunyian itu, tiap setiap sorotan kini mata tertuju pada areal barisan mahasiswa baru dengan gelang hijau di tangan kiri mereka.

"Namun hujan semalam menghapus hampir seluruh barang bukti dan menghambat jalannya investigasi. Indikasi sementara kami, pelaku masih berada di wilayah Universitas. Dan hingga petunjuk lain ditemukan, selama itu pula kalian semua tidak diizinkan untuk meninggalkan Gedung Pertemuan."

Aku melihat, hampir seluruh pengajar dan staff-staff lain terlihat mengenakan kain hitam yang terikat di lengan kiri mereka. Pastinya itu adalah wujud rasa duka cita dan apresiasi sebagai penghormatan terakhir pada mahasiswa yang bersangkutan.

Sasha yang berdiri di sebelahku menyikut sambil berusaha berbisik. "Di mana Jean?"

Aku mengangkat kedua bahu. "Tidak tahu."

Sasha terlihat kecewa dan memutar kepalanya ke segala arah untuk mencari subjek yang dimaksud. Kali saja Jean tersesat di antara barisan mahasiswa lain.

Kekhawatiran Sasha bukan tidak beralasan. Laki-laki menyebalkan bertampang kuda itu memang tidak terlihat sejak pagi tadi. Setelah melewati jam mandi dan di saat kami semua sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri di antara sisa waktu yang ada, bunyi interkom di tiap-tiap lantai gedung menyala dan memberi mandat bagi kami semua yang berada di setiap asrama untuk segera berkumpul di aula Gedung Pertemuan. Tanpa terkecuali.

Semenjak tiba di tempat ini, kami langsung diperintahkan untuk berbaris tertib dan diberi waktu kurang dari lima menit untuk berbaris rapi jika tidak ingin 'ditertibkan' oleh Kepolisian Militer. Setiap mahasiswa yang masih berstatus baru seperti kami akan diberikan barisan khusus tersendiri di deret terdepan dan terpisah dari mahasiswa angkatan lain. Sasha yang pertama kali menemukan kehadiranku langsung datang merapat dan menggembor bahuku dengan pukulan-pukulan dahsyat sembari menanyakan apa yang terjadi. Dua menit kemudian, Reiner muncul di antara gerombolan barisan yang masih berantakan di sebelah kiri dan menyapa kami berdua.

Satu-satunya orang yang tidak kelihatan batang hidungnya sejak kami semua berbaris lurus dan berkumpul dalam posisi istirahat selama hampir dua puluh menit adalah Jean. Entah apa yang sedang dilakukannya di luar sana.

"Insiden ini adalah cambuk bagi kami semua, dengan mengetahui bahwa kalian ternyata memang tak lebih dari seonggok sampah yang tega menghabisi nyawa teman kalian sendiri. Membuat citra Universitas ini semakin rusak di luar sana dan memperlama interval waktu kalian untuk berada di tempat ini! Dan jika aku berhati kejam, maka aku akan dengan gamblangnya mengatakan bahwa kalian semua memang seharusnya tak pantas hidup sejak awal! Beruntung nyawa kalian masih dilindungi pemerintah."

Beberapa tarikan napas terkejut terdengar di dalam sejumlah barisan. Sementara itu bisik-bisik samar mulai terdengar hampir di seluruh bagian. Aku dan Reiner diam saja, namun melalui sudut mata dapat kulihat lirikan Sasha yang seketika mendelik liar dan terlihat tidak setuju dengan ungkapan itu.

"Kami akan mencari pelaku pembunuhan ini sampai dapat dan memberi hukuman yang setimpal untuknya!"

Suara Hanji adalah peringatan bagi kami semua untuk kembali menutup mulut.

"Walau hampir semua barang bukti penting terhapus oleh hujan dan membuat kami berputar-putar di tempat karena tidak menemukan sesuatu yang berarti, sang korban sendiri ternyata sudah membantu para tim penyidik untuk menemukan si pelaku!"

Beberapa mahasiswa-mahasiswa lain terlihat kebingungan, dapat terlihat dari ekspersi heran yang membanjiri wajah mereka semua. Pertanyaan yang timbul di pikiran mereka pasti sama dengan yang berada di pikiranku. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa membantu orang yang masih hidup dengan memberi barang bukti pembunuhan?

Jawaban kami terjawab ketika dari kejauhan, nampak siluet seringai Hanji yang khas dan membuat sebagian besar mahasiswa bergidik ngeri. Biasanya gestur tak wajar itu akan menandakan dua hal penting yang tidak boleh disepelekan. Yang pertama, adalah ketika penyambutan siswa baru. Dan yang kedua, hal yang paling krusial, adalah ketika ada mahasiswa yang akan masuk ke Ruang Interogasi. Dan kedua hal itu bukan peristiwa yang baik bagi siapapun yang sudah mengenal sosok manusia dengan gender yang dipertanyakan itu.

Hanji terlihat merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah plastik bening tertutup rapat dan sebuah benda lunak yang berada di dalamnya, wujudnya seperti kain. Lalu diperlihatkannya benda itu pada kami semua.

"Kalian lihat ini? Marco sepertinya mati dengan tidak tenang dan meminta bantuan kami untuk menangkap pelakunya. Ini adalah hal yang menarik; karena benda ini sepertinya akan membawa kami selangkah lagi menuju pelaku pembunuhan Marco." Hanji terlihat berusaha keras sedang menahan diri untuk tidak menyeringai lagi.

Dapat kurasakan suasana tegang yang seketika melingkupi semua wajah mahasiswa kala melihat ekspresi sang dosen pengajar yang khusus menangani pelajaran obat-obatan terlarang itu terlihat semakin menggila. Semua manusia yang berada di aula kini dipastikan tidak akan merasa tenang, sekalipun sebenarnya mereka sama sekali tak pernah terlibat dan tidak tahu-menahu dengan peristiwa menggemparkan ini. Para pengajar tak pernah main-main dengan pelaku kriminalitas yang berulah di wilayah Universitas mereka. Menantang berarti mati.

"Benda ini ditemukan di balik punggung mayat Marco dan terlindung dari serangan hujan. Segala yang kami butuhkan, semuanya berada di sini. Dan bagi Tuan atau Nyonya yang sudah menghilangkan nyawa Marco semalam, bersabarlah… karena barang ini akan kembali ke tanganmu."

Aku tercekat. Benda putih yang terlihat samar dari jauh itu bukanlah sesuatu yang asing. Aku mengenalnya. Sangat sangat mengenalinya. Itu adalah saputangan Levi.

.

.

.

Hari ini hujan turun seharian, seolah menangis dengan tragedi dari kematian seorang mahasiswa baru. Awan hitam pekat bergulung-gulung dari barat dan bergejolak di atas Gedung Pertemuan. Hal itu sama sekali tak membantu kami semua untuk menjernihkan pikiran. Dan aku sama sekali tidak tenang. Hujan turun dalam gelombang yang tidak rata—sebentar gerimis, lalu lebat, kemudian berangin, lalu dihantam badai. Hingga saat ini, para mahasiswa masih tidak diizinkan untuk ke luar dari Gedung Pertemuan. Pasalnya, para tim penyidik yang dikepalai oleh Hanji belum selesai mengidentifikasi bukti-bukti pembunuhan yang ada.

Ruangan aula terdengar agak riuh rendah oleh cakap-cakap mahasiswa. Beberapa pengajar nampak membagikan makanan—atau sarapan—pada beberapa mahasiswa yang duduk berkumpul dalam satu kelompok, melantai di atas keramik berlumut. Tak berapa lama datanglah kardus-kardus berisi suplai makanan kami yang didorong oleh beberapa Kepolisian Militer.

Di salah satu sudut ruangan yang terpencil dan jauh dari keremangan cahaya, ada seseorang yang kukenal sedang duduk selonjoran dan menyendiri dengan topi fedora butut yang turun menutupi sebagian wajahnya. Dia terlihat jauh dari kumpulan mahasiswa gelang merah yang lain, seolah-olah memang sedang menjaga jarak karena tidak mau berkomunikasi dengan siapapun.

Dia Kaney.

Mendapati fakta bahwa dia sudah mengganti bajuku semalam dengan keyakinan bahwa matanya yang mengerikan itu sudah melihatku telanjang bulat, aku baru saja merasa seperti dilecehkan. Ketimbang Levi, aku merasa harus lebih membentengi diriku dari Kaney. Setelah pertemuan mengejutkan kami pagi tadi, timbul aura aneh di dalam matanya yang seketika membuatku merasa tak nyaman.

Seakan menyadari gerakan bola mataku yang belum beralih dari sosoknya, kepala Kaney tiba-tiba terangkat sementara ujung telunjuknya manaikkan sedikit pinggiran topi dan mengintip wajahku. Aku terpegun. Melihatku yang sedang sibuk memandanginya dengan ekspresi aneh, dia langsung mendengus setengah tertawa.

Orang aneh.

Satu-satunya objek yang mengalihkan pandanganku dari orang tua abnormal itu adalah ketika dari kejauhan nampak sosok Keith yang berjalan menghampiri kami bertiga. Di tangannya tergantung beberapa bungkus makanan yang pastinya akan diberikan untuk kami.

"Mana teman kalian yang satu lagi?" tanya pria gundul itu ketika melihat jumlah kami yang tidak maksimal seperti kemarin. Nampaknya dari semua kelompok yang ada, hanya kelompok kami yang memiliki masalah utama pada kehadiran anggota.

Sementara teman-temanku berusaha menjelaskan ketiadaan Jean di kelompok kami, otakku malah sibuk berpikir dengan keberadaan saputangan Levi yang ditemukan di sekitar mayat korban.

"Jean tidak terlihat sejak tadi." kata Sasha, cemas. "Kami sudah mencarinya ke mana-mana, namun kami belum menemukan dia."

Keith terlihat murka. Dia pastinya ingin memerintahkan kami semua untuk mencari Jean. Tapi mengingat instruksi terkini dari petinggi Universitas Scouting Legion yang tidak mengizinkan kami semua untuk keluar dari gedung untuk saat ini, pastinya Keith tidak memiliki keleluasaan lagi untuk mengomandoi kami.

"Sisakan ini untuk teman kalian." katanya getas sambil menyodorkan sebuah bungkusan hitam, sama seperti milik kami semua. "Jika dia sudah datang, suruh dia habiskan makanan itu sebelum jam delapan." Aku menerima uluran makanan itu.

Jika Jean belum datang juga, maka aku akan memberikan makanan itu pada Sasha. Dari fisik kurusnya yang menipu, ternyata Sasha adalah mesin pemakan apapun.

"Kabarnya mahasiswa itu mati karena diserang hewan." kata Reiner sembari membuka plastik makan styrofoam-nya setelah Keith pergi meninggalkan kami.

"Hewan atau manusia?" Sasha menoleh cepat, sambil ikut-ikutan membuka bungkusan dengan tidak sabar. Nampak siluet keraguan di wajahnya.

"Dia mati tergigit katanya. Mana mungkin dia bisa diserang oleh manusia dengan luka cabikan besar seperti itu." balas Reiner, sambil menyiapkan sendok dan membuka plastik saus.

"Mungkin saja itu memang manusia." tukas Sasha santai. "Atau monster." Sedetik kemudian dia memasang tampang horor dan berusaha menakut-nakuti kami berdua dengan gelagatnya yang aneh, namun tentu saja hal itu tidak berhasil memengaruhi kami. "Lagipula tidak ada hewan yang mau masuk ke area ini. Areal gelap dan suram dengan rawa di mana-mana. Belum lagi dengan sinar matahari yang sama sekali tidak menembus pohon-pohon lebat di sekeliling kita." kata Sasha sambil mendeskripsikan suasana di sekitarnya dengan tangan bergerak-gerak di udara. "Kalau mau mencari hewan buas, kalian tidak usah jauh-jauh, semua manusia di sini adalah hewan buasnya."

Sasha benar. Bahkan seratus persen benar. Kalimat itu sangat menohokku.

Sementara Reiner dan Sasha kembali bercerita, aku mulai sibuk membuka kotak makanan; berusaha mengabaikan keberadaan Kaney yang berada tak jauh dari sini. Maupun Jean yang belum kembali.

Mataku menangkap visual daging ikan berminyak dan nasi satu kepal. Serta tak lupa timbunan sayur yang menutupi hampir seluruh kotak.

"Kalian tahu apa yang dikatakan oleh mahasiswa senior atas peristiwa ini? Tak lama lagi tempat ini akan menjadi sarang psikopat." kata Reiner ketus sambil memainkan daging dengan sendok plastiknya.

"Tak lama lagi?" protes Sasha, alis cokelatnya bertaut dan wajahnya jadi terlihat mengerikan. "Bukannya sejak dulu tempat ini memang sarang psikopat?"

Sekali lagi, Sasha benar.

"Dulu ibuku bilang tempat ini adalah sarang penyamun." tambahku, sambil memasukkan sendok berisi beberapa lembar sayur ke dalam mulut.

"Sarang penyamun atau bukan, tempat ini tetaplah mengerikan." tuding Sasha sembari mendelik ke arahku. "Jagalah kewarasanmu dengan baik, Eren—sama seperti kau menjaga keperjakaanmu. Tempat ini bisa membuatmu kehilangan akal sehat."

Aku tersenyum tipis, miris.

Ketika perbincangan kami menguap ke udara dan menghilang bersama bunyi kunyahan, mendadak perutku kembali terserang terasa mual. Aku nyaris memuntahkan makanan yang berada di dalam mulut ketika Sasha mulai bereaksi saat melihat wajahku yang terlihat kesakitan.

"Eren, kau baik-baik saja?" tanyanya cemas, bulu matanya yang lebat berkedip cepat ketika memandangi kondisiku yang sedang membungkam mulut dan meremas perut. Aku tidak tahu bagaimana rupaku sekarang, yang pasti hal itu bisa membuat Sasha khawatir.

"Tidak." Aku cepat-cepat menggeleng. "Maksudku—ya, aku baik-baik saja." tukasku buru-buru.

Dari ekspresinya, Sasha jelas tidak percaya dengan perkataanku. Namun sedetik kemudian mata cokelatnya membulat binar seolah mengetahui sebuah rahasia intrinsik yang selama ini tidak diketahui banyak orang. Dengan ekspresi terkejut yang berlebihan, dia menarik napas secara dramatis sambil menunjuk lurus-lurus ke arah wajahku.

"Eren, jangan-jangan kau hamil!"

"Tidak!" Aku cepat-cepat memotong. Langsung menyingkirkan telunjuknya dari hidungku. Mana mungkin laki-laki bisa hamil!

Mendengar hal itu Reiner langsung tersedak daging ikannya dengan tidak elit. "Sasha! Kau belajar dari mana teori itu?!" sergah Reiner sembari membersihkan mulutnya.

"Dari internet." sahut Sasha polos.

"Jangan pernah percaya pada internet!" geram Reiner.

Mendengar perdebatan mereka yang tak masuk akal, kepalaku jadi terasa semakin sakit. Dan keinginanku untuk cepat-cepat pergi dari tempat ini semakin menjadi-jadi. Lagipula rasa mual ini makin tidak tertahan. Satu menit lagi aku duduk bergeming di tempat ini, dipastikan aku akan muntah dan menjadi pusat perhatian.

Murni karena keterpaksaan atas situasi dan kondisi sekarang, aku memutuskan untuk pergi ke tempat terkutuk yang menjadi saksi bisu pertemuan pertamaku dengan Levi kemarin.

"Aku pergi ke toilet dulu." kataku pamit dengan sopan sembari bangkit berdiri.

.

.

.

Sudah dua menit aku berdiri tercenung di depan kloset.

Demi nama baik ibuku di kampung halaman serta nama baik ayahku yang sedang merantau ke negeri orang, aku berani bersumpah tengah menyaksikan substansi familiar berwarna putih kental yang mengambang malas di atas air kloset dan bercampur aduk bersama sisa-sisa kotoran manusia lainnya. Aku sudah cukup dewasa untuk mengenal entitas biologis yang menggumpal dalam volume tak sedikit itu, dengan bau pekat yang mengambang ke udara dan mengontaminasi oksigen di sekitar.

Sebagai laki-laki, aku tahu nama cairan kental itu. Tapi milik siapa, aku tidak tahu. Dan tidak mau tahu.

Namun, bukan itu masalah utamanya sekarang.

Tubuhku membungkuk di depan kloset sementara tanganku menahan berat tubuh dengan bertumpu pada dinding toilet yang lapuk. Tak peduli dengan banyaknya cairan-cairan hitam menyerupai lumut kini berkontak langsung denganku tangankku yang gemetar. Tak peduli sepatuku mulai basah karena dijejali genangan bekas air seni dan air yang bercampur dengan genangan tetesan pipa ledeng. Aku merasa harus menyelesaikan ini secepat mungkin. Sekarang juga.

Walau diserang rasa ragu, namun aku berusana berani. Dengan perlahan, aku memasukkan jariku ke dalam mulutku yang lambat-laun membuka, menyusuri lidahku yang basah, lalu terus—dan terus dan terus—hingga akhirnya ujung jariku menyentuh daging bertekstur lunak, lembek dan licin di bagian terdalam rongga mulut. Rasa asin seketika menguasai indera pengecap. Spontan ada sedikit rasa pening yang kurasakan dan timbul dorongan yang kukenal bergejolak liar dari dalam perut. Sebelum terlambat, dengan cepat aku menarik ke luar jari dari dalam kerongkongan dan membiarkan semua materi yang kumakan beberapa jam lalu ke luar dengan lancar dan meluncur menuju lubang kloset, bercampur bersama cairan oranglain.

Cairan kental putih yang semula menggenang secara mendominasi di permukaan toilet, kini dihasi cairan kental merah yang lain, serta potongan-potongan daging berwarna pucat. Merembes memenuhi toilet berbanding lurus dengan berapa kali aku memuntakan semuanya. Aku juga memuntahkan semua sarapan yang baru dua sendok kumakan beberapa menit lalu. Cairan merah segar segera menetes dari lubang hidung. Energiku seperti tercabut sepenuhnya dan volume isi perutku kini menyusut. Mendadak pandanganku buram, kepalaku pusing, dan otakku rasanya diperas-peras.

Sakit. Tapi ini belum sebanding dengan apa yang sudah kulakukan. Tubuhku bergetar hebat dan bahuku menggigil. Sekarang yang terpenting adalah, aku harus menjaga kesadaranku agar tidak pingsan.

Tanganku menekan tombol di kloset dan semua cairan-cairan aneh yang sudah bercampur aduk itu berputar-putar cepat dan menghilang bersama guyuran air. Aku mengusap sisa-sisa darah di mulut dan hidung dengan telapak tangan, sementara mataku yang sembab melayang ke dinding toilet lembab yang dihiasi lumut merambat, lalu turun dan menyaksikan guratan-guratan arang di atas kloset yang mengukirkan kalimat sumpah-serapah. Rata-rata isinya ditujukan untuk Kepolisian Militer dan para pengajar. Bukan hal yang mengejutkan lagi untuk ukuran penjara. Aksi vandalisme bisa terjadi di mana saja, bahkan di dinding toilet.

Aku harus kembali ke teman-temanku sekarang sebelum Sasha mengira satu lagi temannya juga menghilang, sama seperti Jean. Namun sebuah botol sabun kecil dengan fisik polos yang tak asing dan berdiri menggeming di atas kloset langsung mengalihkan perhatianku.

Aneh. Aku merasa mengenalnya, namun tak mengingat dengan jelas. Merasa penasaran, aku meraihnya dan meneliti benda itu dengan seksama.

Alisku mengernyit dan ingatanku kontan melayang ke kejadian kemarin pagi.

"Kalau bawa ini biasanya mau ngapain? Tidak ada wanita di asrama pria. Hanya tempat ini yang tidak diawasi kamera CCTV."

Sial. Ini punya Levi. Jadi sebelumnya dia orang yang tiba di toilet ini?

Jangan bilang barusan dia—

Suara di pikiranku tertebas di udara ketika mendengar bunyi derit pintu nyaring dari balik punggung. Sebelum aku sempat menoleh, sebuah suara familiar yang pernah kudengar beberapa jam terakhir tiba-tiba merasuk ke dalam telinga, membuatku terkena serangan jantung dadakan ketika melihat sosok pendeknya yang berdiri di depan pintu stainless dengan postur malas. Tubuhnya memblokade jalan keluar dan membuatku seketika mematung dalam diam. Dia melihat botol sabunnya yang tergenggam di tanganku lalu balik menatap wajahku tanpa ekspresi.

Bibir tipis yang beku itu membuka suara. Dengan intonasi kasual dan sombong seperti biasa. Dan aku langsung terhipnotis oleh kata-katanya.

"Oh, jadi kau yang namanya Eren, ya?"

.

.

.

Next:

Bonus Part: Rivaille

(Hari Pertama Masa Orientasi Mahasiswa Baru)

Inilah suasana baku yang sering terjadi.

Langit sedang menangis suram dan kesunyian terasa menggigit. Awan-awan gelap terlihat mengambang malas di dalam bingkai jendela. Titik-titik air bersusul-susulan menabrak permukaan kaca yang retak. Atmosfer yang mencekik. Suasana di Universitas Scouting Legion selalu sama. Gelap. Mendung. Berkabut. Dunia terasa berada jauh di luar sana. Seolah-olah kebahagiaan sedang berusaha menjaga jarak dan tak pernah kembali. Di sini, kematian terasa begitu dekat. Di sini, hanya maut dan kesedihan yang merengkuhmu. Kau bisa sembunyi, namun tak bisa lari. Semua kenyataan yang berada di sini menjijikkan. Semua realitas yang ada di sini menjemukkan.

"Teh hitam, Levi?" Suara itu mengusik melodi harmoni bunyi hujan.

Cangkir porselen berukir jalar bunga tulip perak pada gagangnya digeser ke arahku. Aku mengangguk malas. Genangan hitam beraroma pekat balik menatap, sementara kepulan asapnya meliuk-liuk menggoda di udara. Sesaat aku berspekulasi kira-kira bagaimana rasanya minuman yang biasa kusajikan untuk diriku sendiri itu kini kuserahkan pada orang lain. Ah, lagipula bukankah sudah aku bilang padanya bahwa aku ingin beristirahat hari ini? Dia pasti mengerti. Selama 365 hari aku terkungkung oleh tembok-tembok raksasa berlumut, mengurusi mahasiswa-mahasiswa bebal, dikelilingi jeruji besi yang memagari teritorial pribadi, terpaku pada peraturan.

Sehari lagi aku mengurus mereka, aku pasti akan kehilangan akal sehat.

"Tercatat ada 354 mahasiswa baru yang terdaftar tahun ini. Presentasi merah lebih tinggi dari pada hijau. Ini jauh lebih buruk dari perkiraanku."

"Aku tidak kaget mendengarnya." kataku pendek sambil menyeruput singkat.

"Entah karena pengaruh eksternal, atau didikan orang tua. Atau memang gangguan mental sejak lahir, nominal anak-anak labil berotak psikopat ini semakin sering dilahirkan."

"Setidaknya mereka berada di tempat yang aman." balasku pendek. Berusaha tidak terpancing. Muak menatap wajahnya yang manipulatif itu, dengan ogah-ogahan kulemparkan pandangan ke luar jendela. Memandangi bulir-bulir air hujan yang meluncur jatuh perlahan. Memandangi refleksi sosokku sendiri yang menyedihkan dan menatap kosong di dalam kaca.

"Benar." Pria berjanggut itu mengangguk."Yang paling parah jika ada yang terjun ke dalam komunitas. Satu anggota tertangkap, sisa anggota lainnya akan hadir di daftar mahasiswa baru pada tahun berikutnya." Matanya menyipit, memintaku untuk berkonsentrasi pada kalimatnya. "Seperti mata rantai yang tidak pernah putus, kau tidak akan bisa menghancurkan mereka jika memotong di tengah-tengahnya saja. Musnahkan mereka dan spesies-spesiesnya hingga ke akar. Itu merupakan pilihan yang paling tepat."

Aku menghela napas tidak sabar sambil meletakkan cangkir porselen ke atas meja dengan suara nyaring.

"Sudahlah, Grisha. Jelaskan saja alasan kau memanggilku kali ini." potongku jengah.

Tanpa basa-basi, berkas itu melayang dan terhempas dalam keadaan terbuka.

Halaman 52, bagian tipe gelang merah.

Ini kah yang dimaksud Grisha? Aku memandang sekilas gambar mahasiswa yang tertera di sana. Foto polaroid hitam dan putih yang menampilkan visual kabur seorang anak laki-laki berekspresi kaku dengan deskripsi lima paragraf di sebelahnya. Wajahnya terlihat nakal dan badung, sama seperti anak-anak bawah umur lain yang mendekam di tempat ini. Tapi dia manis, pipinya penuh, dan bibirnya ranum. Sama sekali tidak mengeluarkan aura penjahat. Namun aku tahu benar, mahasiswa dengan ciri-ciri bartampang tak mencurigakan seperti inilah yang justru sebenarnya berbahaya. Kita tak bisa menebak yang mana wajah aslinya.

Eren. Namanya. Tanpa nama belakang. Aneh.

Tunggu, aku merasa pernah melihat anak ini. Tadi pagi. Di toilet pria. Sedang buang air besar.

Rambutnya di foto terlihat kasar, matanya mengerling sangar, ekspresinya gahar. Sorot matanya tidak ragu, apalagi terlihat takut. Daripada disebut bertampang penjahat, anak ini lebih pantas disebut canggung ketika difoto. Raut internalnya pasti sudah seperti ini sejak lahir.

Alisku mengernyit tak nyaman. Langsung membuang tatapan. Aku paling malas membaca deskripsi anak-anak bermasalah. Tidak ada gunanya dan membuang-buang waktu saja. Melihat sepak terjang kriminal mereka dengan umur yang tak matang membuatku mual dan semakin muak berada di tempat ini. Entah mengapa anak-anak di zaman sekarang terlampau kompetitif dan berambisi tinggi untuk berlomba-lomba menjadi penjahat. Sebenarnya apa tujuan hidup yang mereka cari dengan menjadi seorang kriminal? Jati diri? Bodoh.Sel penjara adalah tempat mereka yang sesungguhnya.

Dan aku tak mengerti mengapa jenis anak-anak seperti ini pantas dipertahankan. Universitas ini sudah memiliki mahasiswa seperti itu sejak dulu. Satu saja sudah cukup merepotkan dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Aku melempar pertanyaan dingin, "Kenapa dia?"

Hening.

"Aku minta yang satu ini diawasi ketat." ucap Grisha getas.

Lagi-lagi permintaan aneh dari orang yang aneh.

Aku menatap mata yang berair di dalam bingkai kacamata. Dia terlihat berharap. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku tidak langsung menjawab.

Dan sebagai gantinya, dia menunggu jawabanku dengan tak sabar, tapi aku berpikiran lain. Dia seharusnya sudah tahu jawabanku, tapi pria tua ini terus mendesak lewat ekspresi memelasnya.

Sebagai pengalihaan emosi, aku menghela napas berat. Merasa muak jika orang terlalu menaruh harapan besar padaku. Apa yang bisa diharapkan dari sampah masyarakat? Apa mereka tidak pernah belajar dari pengalaman? Aku sudah rusak sejak awal. Kebahagiaanku sudah tercabut hingga ke akar-akarnya. Hati nuraniku sudah mati berpuluh-puluh tahun yang lalu. Jiwaku telah tertanam sepenuhnya di tanah jahanam ini. Jangan membuatku terlihat seperti orang baik. Kau hanya akan membuatku terus kehilangan jati diri.

Aku membuang napas, panjang dan berat.

"Tidak. Aku menolak."

Ekspresi Grisha selanjutnya mudah tertebak. Merah padam. Marah. Dan aku tetap tak bergeming. Mau dia marah pun aku tak peduli. Aku berharap dia cepat-cepat memanggil Kepolisian Militer atau siapapun untuk membunuhku di tempat. Lebih cepat, lebih baik. Aku memang tak pantas hidup lama.

"Baiklah." Suaranya berat dan dalam, ada nada emosi yang membludak namun tertahan di dalam kerongkongannya, namun dia berusaha tidak memperlihatkannya padaku.

"Tidak ada jalan lagi. Aku akan memanggil Erwin untuk mengatasi masalah ini."

"Memangnya apa yang akan dilakukan Erwin?" balasku memberi tanya. Memangnya dia pikir Erwin orang yang seperti apa? Ibu-ibu katering yang dengan mudah meng-iya-kan pesanan pelanggannya?

"Aku sudah mendiskusikan hal ini dengan Erwin jika kau ternyata tidak menyanggupinya."

Well,dan ramalanmu memang benar.

"Oh, pasti keputusan yang dibuat Erwin akan tepat sekali." balasku sarkastik.

"Ya, tepat." sahut Grisha dengan percaya diri yang berlebihan.

Perangai Grisha jauh lebih aneh dari biasanya. Aku tidak yakin, tapi ada aura membunuh mencurigakan di balik senyum tipisnya.

"Kami sudah menyiapkan eksekusi mati untuk anak ini—secepatnya." katanya dengan nada final yang tegas. "Dan kau diberi kehormatan sebagai orang yang akan menarik pelatuknya."

.

.

.

Next:

Part IV:Eren

A/N :

Hueee, ini malah ada Kaney. Grisha pula. Kenapa malah orang-orang tua yang mendominasi chapter ini? Dan, sial, chapter 58 SnK bikin saya naksir Kaney (hah?), tapi jadi lebih naksir lagi sama Heichoou! Heichou, kadar keseksianmu meningkaat! Nikahi aku, dong! /plak Dan karena di sini ada Kaney, apa Levi bakal ngerelain ukenya digrepe-grepe om-om tua yang suka ngangkang itu? Ah, nanti kita bahas di chapter mendatang /lari

Mungkin ada beberapa yang mengira kalo Dekan-nya Eren itu Hanji. Padahal di dalam Universitas itu ada tiga Dekan, masing-masing ngurus satu warna gelang. Hanji, sudah dijelaskan di chapter dua, ngurus gelang kuning. Pixis, menangani gelang hijau. Dan di chapter ini juga diceritain kalo Erwin itu Dekan. Nah, silahkan ditebak dia Dekan apa.

Dan kalo ada yang teliti, sebenarnya di chap kemarin juga disinggung soal map hitam yang isinya ada data-data Eren. Di POV-nya Levi yang mendatang, map itu akan kembali dibahas lagi. Yah, tinggal tunggu tanggal mainnya kapan POV Levi beraksi (yeahahaha /plak)

Bagi yang bertanya-tanya soal psikologi Eren, entah dengan beranggapan dia kanibal atau gangguan jiwa atau berkepribadian ganda, silahkan berekspetasi sebebas mungkin. Karena sampai sekarang, belum dijelasin alasan utama Eren dimasukkin ke sana. Jawabannya nanti deh tunggu chapter mendatang /plak

Ada yang kecewa karena Eren ternyata nggak sekamar sama Levi? Tenang aja. Pair utama kan tetap Levi-Eren, dan suatu saat mereka akan sekamar, kok /ohok

Selain beberapa karakter SnK yang sudah dideklarasikan di chapter-chapter sebelumnya, pastinya akan muncul karakter-karakter lain, seperti Ymir, Historia, Berthold, Annie, bahkan Armin. Marco udah muncul, loh. Walau baru muncul sebentar tapi langsung koit /plak Adegan bunuh-bunuhan? Nanti kita lihat, ya.

Chapter kemarin memang terasa kurang greget. Entah mengapa saya juga ngerasain hal yang sama dengan beberapa pembaca. Mudahan yang kali ini lebih baik, ya.

Dan maaf bagi yang merasa jika fanfic ini berat. Berat dalam artian apa dulu? Kalo dari segi bahasa memang rada berbelit-belit, sih. Akan saya usahakan agar tulisannya terlihat lebih sederhana. Dan maaf juga atas typo-typo berseliweran yang bikin sakit mata. Saya usahain yang chapter ini kadar typo-nya berkurang.

Dan makasih banyak bagi yang sudah ngerekomendasiin bahkan sampai ngizininin saya masuk ke grup super kece tempat ngumpulnya teman seperjuangan :') Sekarang asupan saya bertambah dan saya bisa fangirlingan lebih gila lagi. Yeahahaha.

Terima kasih untukallsundayjaegerjaquez,Harumi Ryosei,syalala uyee,Daiki Hanna,Nine,Kunogi Haruka,akucintarendang,Dodol,Yaoumi. S,army1004,Anaknya RIREN,widi orihara,digimonfan4ever101,TitanMilikHeicho,Wizald,Seijuurou Eisha,serta semuateman-teman FFnyang sudah baca fic abal ini, entah yang udah dari chapter pertama sampai sekarang, atau baru-baru aja karena salah ngeklik. MudahanAlterbisa terus dilanjutin, ya.

PS :

TAK LAMA LAGI ADA PIALA DUNIA, KAWANS. NONTON LAKI-LAKI GANTENG BERGULAT SATU SAMA LAIN DI LADANG HIJAU LAGIII. YEAAH.

Sign, Rapuh