Part IV:Eren

Dia Levi.

Laki-laki maskulin kepala tiga dengan tinggi 160 sentimeter dan kulit sepucat kapas. Sekilas, dia memang terlihat kurus, namun bila diperhatikan lebih dekat, akan nampak kentara sekali sulur-sulur otot di tangan dan leher. Mata elang penuh aura depresif, rambut hitam kaku, bibir yang selalu tertekuk, punggung lurus kelewat tegak. Pakaian yang dikenakannya juga tidak pernah jauh-jauh dari warna hitam; karena memang pada dasarnya warna yang diwajibkan Universitas Scouting Legion adalah warna-warna yang kontradiktif dengan kebahagiaan. Melihat wujudnya saja bisa membuat sebagian besar orang langsung tertekan. Dan kehadiran sosoknya mungkin akan membuat sebagian orang bertanya:

'Dengan tinggi 160 sentimeter dia bisa apa?'

Well, jawabannya adalah dia bisa membunuhmu.

Sudah sepuluh tahun katanya dia bernaung di dalam tempat kotor bertitel Universitas pemerintah ini sebagai seorang mahasiswa. Dan selama itu pula tidak banyak orang yang berani mengusik kehidupannya, sekalipun itu para pengajar bahkan Kepolisian Militer.

Tidak banyak cerita-cerita keji mengenai dirinya yang marak menjadi tajuk pembicaraan umum, tentu saja karena berita-berita itu tidak pernah diorbitkan ke media. Sebagai mahasiswa yang menghabiskan waktu paling lama di gedung ini, Levi adalah manusia yang suka mengasingkan diri. Kehadirannya yang misterius langsung memicu pendapat sebagian besar orang untuk beranggapan bahwa dirinya adalah simbol kegagalan terbesar Universitas ini. Sebagai Universitas besar bermotor Pemerintah yang kabarnya memakan devisa negara paling banyak, ternyata harus terseok-seok juga hanya karena meladeni seorang mahasiswa saja. Dan aib tersebut semakin diperparah dengan masalah internal yang meledak di dalam institusi itu. Padahal kabarnya sudah berkali-kali, puluhan, bahkan ratusan vonis hukuman mati telah dilayangkan padanya, bahkan terjadi hampir di setiap tahun. Mulai dari tuduhan pembunuhan, pemerkosaan, vandalisme, konspirasi, teror, namun semua kejahatan itu tak pernah berakhir pada eksekusi.

Ketika menyelam ke dalam matanya, aku menyadari satu hal.

Kehadirannya tak ubah seekor serigala liar yang rela tunduk pada manusia. Wujud seorang tirani bengis yang memilih untuk memimpin kerajaan kecilnya seorang diri.

.

.

.

ALTER

a fanfiction by Raputopu

Shingeki No Kyojin by Hajime Isayama

warning: AU, OOC, typo, mature content

.

.

.

Aku melihat Levi berdiri hening, tepat satu langkah di depan sepatuku yang dikotori tanah, berbeda dengan sepatunya yang mengkilat seperti pekerja kantoran eksekutif; milikku seperti milik kuli bangunan. Bahu menyandar malas di bingkai pintu, melipat tangan, tegak bergeming seperti arca. Memasang ekspresi stagnan seperti biasanya, kasual dan tidak banyak bicara.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dia sudah maju selangkah.

"Anak kecil tidak boleh main-main dengan ini." Dia mendesis di depan wajahku. Botol sabun yang semula tergenggam di tanganku mendadak berpindah tangan tanpa peringatan. Wajahku tertekuk heran.

Rona ekspresi yang mewarnai wajah tirusnya selalu terlihat tegang. Dengan aura kesuraman dan raut tekanan mental, seakan-akan hidupnya yang sekarang selalu dijejali himpitan masalah.

"Saya tidak pernah main-main dengan benda itu." kataku pelan.

"Sayang sekali." desaunya.

Jempolnya yang kurus membuka tutup botol lalu menuangkan sebagian carian kental berbau lemon ke atas telapak tangan. Bayangan dua gelang merah yang melingkar bisu di pergelangan tangan kirinya memberi afeksi rasa aneh di perutku.

Kehadirannya bahkan jauh lebih dingin daripada hawa beku di toilet aula.

Aku melihatnya sedang melumasi tangannya dengan sabun ketika aku menangkap ekspresinya lebih dekat.

Wajahnya kini menjadi terasa familiar dalam ingatanku karena kami kerap bertatap muka dalam jarak dekat. Bau tubuhnya yang khas, hangat seperti aroma rerumputan basah di pedesaan tempat tinggalku; wangi, pekat di hidung, harum dan membuai, kontradiktif dengan aroma lumut dan semerbak pesing dari segala penjuru yang menyerang hidungku. Rambut hitamnya meruncing dan menghalangi sebagian warna bola mata hitam berair miliknya yang depresif, kaku dan membunuh. Dagunya yang tegas terangkat angkuh, gestur yang mengumumkan bahwa dirinya tidak takut pada apapun. Dan ujung-ujung bibir tipis yang tak pernah memberikan senyum, itu adalah kesan awal yang kudapat dan masih berlaku untuk sampai saat ini.

"Kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama—" Matanya memicing. "Eren."

Aku tersadar dari lamunan ketika dia menyebutkan namaku. Geraman tak samar dalam suaranya membuatku diserang gelisah. Hanya dengan mendengar intonasinya saja bisa membuat guncangan kecil tidak nyaman di perut.

"Ya." jawabku hambar. "Benar, itu nama saya." kataku. "Dari mana anda tahu?"

Setelah aku melihatnya memasukkan kembali botol sabun ke sakunya dengan hati-hati, seakan mencegah agar sabun gumpalan sabun tidak mengotori bajunya, aku melihatnya berjalan ke luar toilet tanpa berbicara apa-apa. Namun baru dua langkah meninggalkan pintu nomor tiga, dia berhenti dan berjalan ke arahku.

"Hei, bisa kau ambilkan air dari westafel di sebelah sana?"

Nada otoritas di dalam suaranya membuatku patuh tanpa sadar.

"B-baik." Aku mengangguk.

Aku berjalan cepat ke luar toilet, menghampiri wastafel dan membuka kerannya. Suara guyuran air yang deras kontan langsung menggema di dinding-dinding toilet berkerak kotoran. Bunyi gemuruh hujan yang rancak di luar sana pun langsung berbaur dengan suara deru air yang mencurah. Ketika siraman air itu menerpa kulitku yang kering, tanganku langsung tersengat rasa dingin yang membuatku ingin cepat-cepat menarik tangan dari sana.

Namun, begitu mataku melihat cermin, aku langsung menangkap refleksi sosok Levi masih berada di tempat yang tadi, berdiri di dalam toilet, dengan tangannya yang dilumuri sabun, menungguku, sementara matanya yang dingin itu menghujam lurus ke dalam mataku, seakan menuntutku untuk cepat. Sontak aku segera memutuskan kontak mata.

Setelah menampung air yang cukup banyak di tanganku yang membentuk wadah, aku berjalan hati-hati menghampirinya.

Di hadapanku, dia menangkupkan tangannya. Aku mengernyitkan kening. Semula aku tidak mengerti maksudnya. Namun dengan insting yang melejit tiba-tiba, serta-merta aku mengguyurkan air itu ke tangannya, dan dia langsung membilas.

Jadi tujuannya hanya untuk membilas?

Seolah menyadari raut kebingungan di wajahku, dia berkata setelah menarik napas panjang, "Sabun adalah satu-satunya barang yang sulit diselundupkan di tempat ini. Hukumannya sama dengan menyelundupkan kokain." Levi mengutuk tanpa memandang wajahku. "Semua peraturan di sini aneh-aneh…" katanya sarkastik.

Aku mengangguk-angguk mengerti.

Dalam hati, aku menyetujuinya. Sejauh yang aku tahu, di dalam Universitas ini kabarnya memang ada kebijakan tersendiri mengenai aturan penggunaan sabun. Sabun yang digunakan hanya boleh dari yang disediakan Universitas, dan sabunnya bahkan tidak lebih baik dari shampo kucing. Konon, semua ekspor sabun yang datang dari luar, baik yang dikirim oleh keluarga ketika waktu kunjung atau yang memang sejak awal dibawa dari rumah, semuanya dilarang. Semuanya itu terjadi akibat insiden tiga tahun silam ketika beberapa oknum putri dari Gedung Timur membawa sabun yang dioplos dengan pil-pil terlarang ke dalam asrama. Peredaran substansi psikotropika di kalangan mahasiswa itu sudah terjadi hampir lima tahun secara diam-diam. Pelakunya bersumber dari mana, itu yang belum diketahui sampai sekarang. Namun yang pasti, hingga saat ini keberadaan sabun yang datang dari luar, merk apapun itu, dengan aroma apapun itu, sangat dilarang keras. Dan persis seperti yang Levi katakan, hukuman bagi yang tertangkap menyelundupkan sabun sama dengan hukuman penyelundupan kokain. Yaitu cambukan di punggung dua puluh kali ditambah pengasingan selama satu bulan di sel tikus.

Aku tidak percaya semua cerita itu ternyata benar adanya.

"Airnya kurang. Ambil lagi."

Lagi-lagi ada elemen asing di dalam tutur katanya yang absolut, membuatku patuh tanpa sadar.

Diserang panik, aku buru-buru ke wastafel, menadahkan air di atas telapak tangan, menahan kuat sensasi dingin yang kembali menerjang kulitku, dan cepat-cepat kembali ke tempatnya berdiri.

Setelah menuangkan air ke atas telapaknya, aku melihatnya mulai membilas lagi, dan dia kembali melempar perintah.

"Kurang. Ambil lagi."

Patuh di luar kesadaran, untuk yang ketiga kalinya aku kembali berlari menuju wastafel, mewadahi air di dalam tangan yang merangkup seperti mangkuk, kali ini aku isi lebih banyak, lalu kembali berlari hati-hati menuju tempatnya.

Aku memandanginya membilas tangan. Bunyi decitan kulit yang bersih menggema di dalam telingaku menandankan tangannya pasti sudah bersih sekarang.

"Lagi?" tanyaku antusias.

"Tidak usah."geramnya pedas. Dia berjalan menuju gantungan tisu toilet dan merenggut tiga potong tisu, meremas-remasnya dengan satu tangan, lalu menekan-nekannya lembut ke permukaan telapak tangannya yang basah. Sebenarnya agak ganjil melihat orang sepertinya ternyata bisa memperhatikan kebersihan. Dia bahkan sampai rela-rela menyelundupkan sabun—walau yang merknya murahan sekalipun—, menulikan telinga pada peraturan mengenai pelarangan penggunaan sabun, dan tetap menggunakannya walau masih berada di lingkungan Universitas. Tapi aku berani taruhan dia tidak cukup bodoh untuk menggunakan sabun terang-terangan di depan para pengajar. Tidak ada orang tolol di dunia ini yang mau dicambuk hanya gara-gara memakai sabun.

Aku berjengit ketika tiba-tiba tangannya melempar gumpalan putih tisu basahnya yang keriput ke arahku tanpa berbicara. Kaget bercampur refleks karena melihat sebuah materi tiba-tiba dilayangkan ke arahku, spontan aku menangkapnya dengan kedua tangan. Entah saat ini dia sedang memberi kode untukku agar membuangnya ke tempat sampah atau memang pada dasarnya gerakan barusan hanya intimidasi verbal sederhana, aku pun tidak tahu.

Aku sedang sibuk memandangi wajahnya ketika pintu toilet di luar menjeblak terbuka. Kontan aku tersentak kaget dibuatnya.

Segaris kilatan di mata Levi langsung melirik waspada setelah ia baru saja selesai membersihkan tangan. Sedetik kemudian, baru saja aku hendak bertanya; seolah tengah melihat ancaman genting di luar sana, tiba-tiba Levi mendecih berang.

Tanpa isyarat, tangannya serta-merta mendorong dadaku paksa meruyup masuk ke dalam toilet diiringi dorongan tubuhnya yang menerobos ambang pintu dengan kasar.

.

.

.

Dorongan dari tangannya membuat tubuhku nyaris terjungkal akibat kehilangan keseimbangan. Sepatuku menggelincir di keramik licin yang basah. Tubrukan pada dinding lapuk di sebelah kirilah yang menghambat laju tubuhku agar tidak terpelanting jatuh mengenaskan.

Suaraku terbungkam oleh kehadiran telapak tangan.

Bunyi desisan pendek membuatku membuka mata. Telunjuk di bibirnya serta-merta menyuruhku untuk tak bersuara. Aku terpana. Sejenak aku lupa caranya melawan. Dan ketika aku melihat wajahnya yang begitu, dengan dengan warna gelap di dalam matanya yang dingin dan menusuk bagai ribuan jarum menghujam ke dalam iris mataku, aku tahu bahwa aku tidak akan sanggup melawan. Punggungku makin terdorong merapat pada permukaan dinding seiring dengan tubuh Levi yang berangsur maju mendekat pada wajahku.

Alisku mengernyit heran. Gelagat aneh Levi membuatku bertanya-tanya. Suaraku teredam di balik tangannya dan terdengar seperti suara dengusan hewan. Walau Levi belum menjawab pertanyaanku, tapi ada mozaik lain yang berkecamuk di dalam bola mata granitnya, yang terlihat berkali-kali lipat jauh lebih risau dibandingkan diriku, yang kontan membuatku patuh tanpa sadar dan menyadari bahwa dia sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih buruk di luar sana.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki yang berjalan masuk ke dalam toilet pria. Hal itu otomatis membuat remasan telapak tangannya menajadi makin solid, seolah terkunci rapat di wajahku bagai magnet yang kuat. Kerutan penuaan di wajahnya jadi nampak kentara di wajahnya ketika dia mengerutkan kening.

Seolah gelagatnya masih kurang aneh, sekonyong-konyong laki-laki ini malah terus menyeret punggungku yang berkontak dengan dinding agar makin menyusup ke dalam sudut, seiring dengan mendekatnya bunyi langkah itu di depan toilet kami. Dalam hati, aku mengutuk diriku sendiri yang tak mampu melawan. Dampaknya tubuh kami berdua kini sepenuhnya beradi dalam areal sempit di balik pintu terbuka yang gelap dan dingin. Refleks, aku berusaha mendorong balik, tidak sempat ketika tangan Levi yang satunya lagi bekerja dan memenjarakan tanganku agar tak memberontak. Tangannya yang tadi dilumuri sabun kini merengkuh erat pergelangan tanganku dan masih terasa licin. Telapak tangan dingin dan beku, kokoh mengunci tanganku agar tak bergerak.

Aku bersikeras menjadi pihak yang memberikan perlawanan ofensif sembari berusaha mendorong tubuhnya yang ternyata luar biasa bertenaga, dan semuanya sia-sia. Dan tepat pada saat itu pula, langkah kaki berat yang sedari tadi merayap di lorong toilet, akhirnya berhenti di depan pintu. Kelihatannya akan ada seseorang yang akan masuk.

Aku bahkan tidak sadar ketika Levi tiba-tiba memajukan dagunya agar sejajar dengan leherku yang terbuka. Aku terkesima. Deru napasnya yang berat, panas dan terasa begitu dekat membuatku merinding ketakutan. Pori-poriku dengan gamblang merasakan terpaan hawa membakar di bawah telinga. Desirannya seketika bereaksi dengan kulit epidermisku yang tipis dan membeku, langsung melahirkan sensasi merinding aneh yang menjalar di sepanjang pangkal paha.

Yang aku tahu adalah; selanjutnya ada bisikan mengejutkan di sebelah wajah yang membuatku terkesiap. Kehadiran suara bariton rendah di dekat telinga yang merasuk ke dalam kepala, membuatku seketika memejamkan mata tanpa sadar, entah karena takut atau lebih tepatnya tertekan batin agar menjadi patuh. Sebuah perintah absolut darinya entah mengapa langsung mempengaruhi kesadaranku untuk segera tunduk pada kalimatnya—

"Tetap tenang dan jangan melawan."

—tepat ketika pintu toilet kami akhirnya dibuka oleh seseorang.

.

.

.

Aku melihat pintu toilet di depan mata berderit membuka. Rasa gugup langsung mendera.

Levi menyadari aku terlihat tidak baik-baik saja, dan dia memberi perintah untuk tetap tenang lewat aba-aba matanya. Namun dia tidak tahu bahwa dirinyalah objek utama yang membuatku gelisah. Dan bila aku mematuhinya untuk tetap diam, mungkin aku akan mati perlahan.

Ketika sesosok bayang-bayang gelap mulai membayangi di dinding toilet kami, menandakan orang itu akan segera masuk, tepat pada saat itu pula terdengar hardikan suara pria yang berteriak lantang tiga meter dari toilet kami.

"Kaney!"

Sekujur tubuhku mengejang. Kaney?

Aku menahan napas, berusaha mengikuti skenario Levi yang bahkan tidak aku ketahui tujuannya. Rambut di tengkukku langsung berdiri. Sebaliknya, wajah Levi terlihat berpaling dariku. Matanya memandang waspada pada pintu yang menjadi satu-satunya penyekat di antara kami bertiga.

Dari balik pintu, terdengar bunyi gemeretak keras—ada seseorang di balik sana, pastinya itu Kaney.

"Reiss, jangan bikin orang kaget kalau sedang di toilet." kata suara itu berat, mengiris atmosfer dengan nada serak.

"Maaf. Tapi ngomong-ngomong dia tidak terlihat di manapun. Anak itu juga tidak terlihat di kelompoknya."

"Tadi aku melihat anak itu masih berada di kelompoknya. Cari lagi sana."

Aku tidak tahu siapa subjek yang mereka maksud. Namun tanpa sadar, aku mencengkram kaus Levi lebih erat. Meremas kulitnya yang keras di balik kaus tipisnya yang dingin.

"Pencarian ini akan sia-sia. Petinggi kita memang suka memberikan perintah aneh-aneh."

Suara itu menjauh. Aku mengindentifikasi bahwa Kaney sedang melipir ke luar. Alisku mengernyit heran pada mata sayu Levi, meminta jawaban. Sementara dia terlihat acuh tak acuh. Tak berapa lama kemudian terdengar bunyi seretan langkah. Dan selanjutnya aku menangkap suara kaki yang berjalan menjauh.

Levi baru benar-benar menarik tangannya kembali ketika suara-suara di udara menghilang. "Cih. Selalu saja muncul tiba-tiba, bikin kaget saja." Levi mengutuk pelan sambil mengeluarkan sebagian kepalanya dari pintu, memeriksa keadaan yang ada. Kakinya mundur selangkah, mendorong pintu agar kembali tertutup dan memberikan ruang bagiku untuk mencuri napas. Sementara itu, aku berdiri seperti orang mati dengan darah yang tak mengalir di seluruh nadi, mematung dengan kesadaran yang nyaris tercabut ke awang-awang.

Mata suramnya yang dingin itu menusuk ke dalam mataku.

"Lihat apa yang terjadi? Makanya jangan makan yang aneh-aneh, bocah."

Aku tercenung. Tiba-tiba aku merasa ada sensasi yang ganjil di dalam kalimatnya, sesuatu yang membuatku merinding, mual, dan pening serta-merta. Aku mendongak menatap matanya penuh tanya, dan seketika itu pula aku menangkap ada ornamen lain yang berkecamuk di dalam bola mata granit miliknya. Sebuah perasaan yang tak bisa kujelaskan. Ekspresi itu adalah raut rumit antara dendam, frustasi, dan rasa geram yang bercampur aduk menjadi sebuah sorotan mata tajam tak terlawan. Dan ketika aku merasakan warna di dalam matanya yang dingin dan menusuk bagai ribuan jarum itu menghujam ke dalam iris mataku, aku sadar tidak diberkahi kemampuan untuk mengelak dan keberanianku telah ciut hingga ke titik terendah.

Tanpa berbicara apa-apa lagi, aku melihatnya berlagak seolah-olah tidak pernah berbicara padaku dengan kalimat ambigu itu, melintas tanpa basa-basi di sebelah bahuku, mengacuhkanku, lalu berjalan dalam keheningan melewati deretan wastafel menuju pintu ke luar.

Kesadaranku baru benar-benar menyala ketika aku merasakan suara-suara di udara menghilang total, menguap bersama hawa dingin yang terasa kian pekat di balik dinding-dinding toilet yang buram. Suhu-suhu tajam yang mengerumit kulit tipis di balik jaketku menjadi sepuluh kali lipat lebih beku dari sebelumnya. Levi sudah ke luar, sementara aku masih berming di bilik toilet nomor tiga tanpa berniat beranjak dari sana. Derasnya hujan di luar Gedung Pertemuan menyadarkanku kini aku berdiri seorang diri lagi di tempat ini. Seperti seharusnya.

Apa lagi yang harus kulakukan sekarang?

Aku menurunkan pandangan, menatap barang di tanganku. Dan selanjutnya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan tisu ini.

.

.

.

Sejauh ini, Aula Pertemuan adalah satu-satunya tempat yang membuatku nyaman. Sejauh mataku memandang, terlihat banyak mahasiswa yang menggelar koran edisi lama di lantai berdebu tebal, berkumpul bersama teman-teman satu gelang di beberapa titik, berbicara satu sama lain dengan tawa samar yang seolah-olah membuatku berpikir pembicaraan mereka pasti seru. Setidaknya di kelompokku ada Sasha yang untungnya punya bibit pelawak.

Di jam-jam reguler, biasanya tidak banyak mahasiswa yang akan berkumpul untuk sekedar bertegursapa dengan teman-teman, apalagi sampai berbincang panjang. Di samping karena alasan tugas yang dibebankan kepada mahasiswa setiap harinya sangat menumpuk dan membuatmu tidak sempat melakukan aktifitas lain; sekalipun itu sekedar ke toilet, masing-masing dari mereka juga sadar, di tempat ini tidak banyak hal-hal yang bisa menstimulasimu untuk bercerita banyak.

Aku perhatikan, karena sebagian besar dari mereka ada yang belum saling mengenal, mungkin kelompok-kelompok yang terlihat sedikit canggung adalah dari gugusan mahasiswa baru. Mungkin mereka masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa harus tinggal satu gedung dengan para penyamun dan preman untuk waktu yang lama. Kenyataannya diskriminasi memang selalu ada di semua tempat. Aneh, kan? Padahal mereka semua sama-sama pelaku kriminal, sama-sama melakukan kejahatan, sama-sama dijebloskan ke Universitas Scouting Legion untuk satu alasan; satu-satunya Universitas di dunia ini yang berdedikasi untuk melayani penjahat. Hal yang membedakan mereka antara satu dengan yang lain hanyalah warna gelang. Selebihnya, mereka sama-sama pernah melakukan tindak kriminal. Tidak ada alasan untuk membenci spesies manusia yang sama dengan dirimu. Cepat atau lambat, mereka akan menyadari semua kenyataan itu.

Aku melihat Sasha menurunkan kotak makannya sambil mengusap mulutnya yang dihiasi butiran nasi. Rambut cokelatnya yang dikuncir terlihat semerawut dengan anak-anak rambut yang berbaris di kening, poni dan surainya. Terlihat seperti serabut kelapa. Segala jenis makanan yang berada di dalam kotak makannya sudah lenyap dalam hitungan detik. Dan wajahnya masih saja terlihat menderita.

"Aku masih lapar." Dia merintih dengan ekspresi dramatis, menatap langit-langit, meremas perut seolah-olah didera kelaparan hebat karena belum makan lima hari.

Melihat roman mukanya yang didera gaya kelakar aneh, berbanding kontras dengan ekspresi tertekan dari mahasiswa baru yang menyebar di sekitarku, kontan langsung menggoda bibirku untuk mendengus geli sekaligus merasa kasihan padanya.

Aku melihat tangan Sasha yang berusaha memungut satu potongan daging dari tempat makan Reiner tanpa meminta izin.

"Reiner, minta satu."

"Sasha, kau sudah mengambil dagingku tadi!" sergah Reiner, menolak tangan jahil itu sebelum jatah makanannya berpindah kepemilikan.

Sasha merintih berlebihan dengan ekspresi kelaparan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. "T-tapi, dagingku lebih sedikit dari milikmu. Aku butuh asupan yang sama seperti kalian." katanya memelas sedih, menarik-narik ujung kain pakaian Reiner dengan tingkah gelisah.

"Heh, daging kita sama saja!"

"Tapi milikmu lebih tebal, Reiner!"

"Aku juga kelaparan, Sasha." bantah Reiner. "Minta saja sana sama Eren."

Aku melihat tiba-tiba Reiner menunjuk wajahku. Aku yang baru saja hendak memasukan makanan ke dalam mulut, kotan langsung terhenti di udara.

Reiner, dengan kejamnya berakhir mengambil keputusan untuk tidak memberikan dagingnya pada Sasha. Dan dia bahkan dengan terang-terangan menikmati dagingnya yang tersisa dan tertawa di atas derita kelaparan Sasha yang entah benar atau manipulatif belaka.

Dan sebagai gantinya, aku yang kena batunya.

Perlu diketahui, setelah muntah besar-besaran di toilet pagi tadi, keinginanku untuk mengunyah sesuatu menurun drastis. Makanan sudah terlihat tak menarik lagi, dan perutku masih diserang gejolak rasa mual yang membuatku duduk bersila dengan perasaan tak nyaman. Dan aku tidak mau menerima resiko muntah untuk yang kedua kalinya, karena yang pertama tadi sudah cukup menguras tenaga. Merasa tidak ada pilihan sekaligus melihat ada kesempatan cerah yang terbuka di depan mata, aku akhirnya memutuskan untuk berkelakuan baik.

"Ambil saja punyaku."

Kataku sukarela, menyodorkan kotak makanku pada Sasha, dan seketika itu pula langsung timbul binar-binar percik kebahagiaan di dalam mata cokelatnya. Dia menangkupkan tangannya dan menjerit tertahan. "Terima kasih, Eren! Ah, tapi aku hanya mau dagingnya saja, kok."

"Tidak masalah." Aku menaikkan kedua bahu.

Lagipula aku sudah merelakan semuanya.

Reiner menyenggol lenganku dengan tangan kekarnya. Berbisik di bawah telinga. "Kalau aku jadi kau, aku lebih baik memberikan jatah makanannya Jean."

"Aku dengar itu, Reiner." balas Sasha tajam. Aku melihat tangannya mengambil potongan daging yang masih utuh dan melahapnya dengan rakus.

"Jadi Jean belum kembali juga?" tanyaku.

Reiner menggeleng. Matanya kosong menatap nasi yang sudah dikeruk-keruk sambil memainkan sendoknya di koyakan daging. "Katanya, sih, dia dipanggil ke Ruang Interogasi."

"Apa?" Aku mengernyitkan kening. Jean dipanggil ke Ruang Interogasi? Tidak mungkin. Pasti ada yang salah!

"Ya." sambut Sasha dengan kunyahan daging di antara gigi-giginya yang rapi, tepat setelah melihat ekspresiku yang kandas, dan mendukung penuturan Reiner. "Ternyata anak yang meninggal adalah itu sahabatnya Jean."

Tidak mungkin!

Mulutku kaku dengan rahang yang mengejang, membuatku tak bisa berkata-kata. Hatiku langsung mencelos jatuh begitu menerima kenyataan tersebut. Aku memandangi wajah mereka bergantian, meminta kebenaran yang sesungguhnya, apakah itu fakta atau mereka hanya bermain-main saja. Namun dari ekspresi duka yang mendalam dari wajah keduanya, aku tahu informasi yang mereka sampaikan seratus persen benar. Tapi aku masih tak bisa menerimanya.

"Jadi, Marco itu sahabatnya Jean?" tanyaku memastikan, masih diliputi rasa ketidakpercayaan. "Lalu bagaimana keadaan Jean sekarang?"

Aku melihat Reiner baru saja hendak menjawab ketika matanya tiba-tiba terpaku pada sesuatu di balik punggungku. Bayangan gelap seketika menjulang di atas kepala. Ketika melihat Reiner yang tiba-tiba berhenti makan, Sasha otomatis juga menghentikan kunyahannya dan mengikuti titik pusat pandangan Reiner dengan rasa ingin tahu. Seketika, sosok keduanya langsung tak bergerak seperti adegan film yang diberi jeda.

Melihat mereka berdua berkelakuan aneh membuatku mengerutkan kening. Karena aku tidak melihat apa yang ada di balik punggungku, aku jadi tidak mengerti dan mengikuti arah pandangan mata mereka.

Serta-merta, penglihatanku langsung terhalangi bayangan dua sosok manusia berpakaian kasual seperti mahasiswa biasa yang berdiri di belakang punggungku. Mereka adalah seorang pria dan wanita yang berdiri berdampingan, dengan perbedaan tinggi badan yang sangat kentara. Yang wanita, berambut pirang dengan ikatan cepol kecil, menyisakan sisa-sisa surai di depan mata dan menutupi sebagian wajahnya yang mengerikan, dengan lengkung bibir yang cemberut dan mata tak berkespresi tanpa warna. Sementara yang pria, dengan tinggi nyaris melampaui dua meter, tegap dan siap bak tentara, berambut hitam dengan sorot mata yang jauh lebih bersahabat; ketimbang wanita berhidung bengkok di sebelahnya, tegang dengan ekspresi serius dan nampak pendiam.

Kedua-keduanya sama-sama mengenakan gelang kuning. Gelang yang sama seperti milik Reiner.

Aku berasumsi orang-orang ini adalah temannya Reiner.

"Reiner." Aku menyaksikan bibir tipis wanita itu bergerak mengeluarkan intonasi dengan aksen aneh yang asing di telinga. Terlampau berat dan tidak feminim untuk wanita pada umumnya. Tidak jauh berbeda dengan suara dingin seperti deru gemuruh badai salju milik Mikasa. Tapi kedua-keduanya sama mengerikan.

"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kita seharusnya menghindari kumpulan orang-orang bodoh?"

Sasha terlihat sabar saja dikatai bodoh, tapi itu tidak berlaku untukku.

Reiner terlihat kelimpungan. Dia serta-merta meletakkan kotak makannya dan langsung beranjak meninggalkan kami berdua, seakan-akan merasa bersalah karena melanggar peraturan yang barusan wanita itu tuturkan.

Kehadirannya langsung disambut hangat si pria bertubuh raksasa, namun tidak dipedulikan oleh si wanita. Mereka terlihat berbincang-bincang sebentar, kemudian obrolan itu merendah dengan desau bisik-bisik tak kentara sambil sesekali melirik ke arahku, lalu obrolan itu akhirnya diputus oleh si wanita. Dia berjalan meninggalkan tempatku dan Sasha, kemudian diikuti dengan patuh oleh Reiner dan pria tinggi itu.

Setelah jarak di antara mereka dan tempat kami sudah terlampau sekitar dua belas meter, Sasha akhirnya mendekatkan wajahnya dan berbicara dengan nada pelan. "Teman-temannya Reiner?" tanya Sasha penasaran.

"Tidak tahu." kataku ketus sambil mendengus berat. "Dan tidak mau tahu."

Ketika membuang muka, mataku tak sengaja menangkap sosok Kaney dan orang gemuk botak yang berdiri di sudut aula dan tengah memandangiku dari jauh.

.

.

.

Sudah tiga hari berlalu dan hasil investigasi pada kematian Marco belum dibeberkan pada umum. Jadi, entah penyelidikan itu berujung pada ditemukannya identitas penjahat tersebut atau belum, sampai sekarang kami belum diinformasikan oleh pihak Universitas sendiri.

Aku mengingat beberapa hari lalu Dekan Hanji menyampaikan pada kami semua bahwa bukti yang tersisa hanyalah saputangan putih yang tertinggal di balik punggung Marco. Selebihnya, terhanyut bersama guyuran air hujan selama semalam suntuk. Entah apa yang bisa mereka dapatkan hanya dari sebuah saputangan, kurasa mereka yang lebih tahu.

Aku bisa mendengar sepatu kets Converse-ku berdentam keras di aspal. Aku dapat merasakan angin lembab pagi hari menarik kausku yang tipis. Aku dapat mencium bau ter panas di bagian jalan setapak halaman Universitas Scouting Legion yang baru diaspal kemarin. Aku dapat melihat burung Albatross menukik rendah dan membungkuk untuk memeriksa patung malaikat yang hancur di tengah-tengah taman, dengan bagian kepala yang patah tepat di tengah dan membuatku mengira-ngira kerusakan itu pasti sudah berlangsung lama sekali. Awan hitam pekat terlihat menggulung dari arat barat daya dan bergolak liar di puncak Gedung Dosen. Kelihatannya sebentar lagi akan ada badai.

Kabut yang melingkupi tempat ini tidak tebal seperti biasanya, sehingga aku dapat melihat beberapa mahasiswa dari gedung asrama yang lain mulai ke luar satu persatu di pagi ini. Mereka berbaris berbondong-bondong menuju bagian utara universitas dan masuk melewati jalan setapak menuju danau rawa di selatan. Di dekat danau, akan ada cabang antara pemakaman dan kandang hewan buas yang terpisah oleh deretan pohon dedalu yang merambat liar hingga ke jalan.

Hari ini adalah hari pemakaman Marco Bodt.

Aku masih kehilangan jejak teman-temanku hingga detik ini. Namun khusus Jean, aku berani taruhan, dia sudah berada di barisan terdepan bahkan sudah tiba di pemakaman satu jam sebelumnya.

Kehilangan seseorang yang berarti di hidupmu bisa membuat seorang manusia lupa bahwa dirinya masih hidup di dunia yang kejam ini.

Sasha dan Reiner, tidak terlihat sejak aku melenggang ke luar dari Gedung Utara. Sasha, mungkin agak terlambat karena gedung asramanya terletak jauh di Gedung Selatan. Sedangkan Reiner, entahlah. Sejak kejadian kemarin, aku jadi malas bertemu dengannya. Menerima fakta bahwa kami tinggal satu gedung tidak memupuk rasa kebersamaanku untuk menunggu atau mencarinya. Entah perasaanku saja atau memang benar adanya, tapi aku memperhatikan Reiner memiliki banyak teman di sini.

Aku berjalan ditemani Thomas, dan bersama teman-teman mahasiswa lain, kami berbaris beriringan melewati deretan pohon-pohon suram yang menyerupai benteng kokoh dengan wujud tanaman merambat. Cahaya bulan sisa semalam yang masih menggantung di langit dan mengintip di antara kemelut awan mendung, tersaring oleh cabang-cabang pohon ek yang menyebabkan munculnya bayangan-bayangan bergaris di sepanjang jalan, membuat kami kesulitan melewati medan sulit yang dijejali cengkraman sulur-sulur pohon, kalau tidak harus tersandung.

Suara burung hantu terdengar samar dari kejauhan, tersembunyi di balik kegelapan barisan pohon yang kelam. Bunyi hewan-hewan malam bersahut-sahutan, seakan menyambut kedatangan manusia-manusia yang terlampau banyak yang sedang melewati area mereka. Aku melihat beberapa gadis dari gelang hijau terlihat berdiri berdempet-dempetan, ketakutan, memeluk satu sama lain, merengek ingin cepat-cepat ke luar dari sini. Sementara itu sepuluh meter di depan barisan, aku melihat bayang-bayang kepala Hanji dan Erwin, berjalan beriringan menuju lorong gelap pepohonan yang terlihat tak berujung.

Pukul empat pagi tadi, pengumuman lewat pengeras suara membangunkan kami semua tanpa ampun. Isi pengumuman memberitahukan bahwa untuk hari ini masa orientasi mahasiswa baru dan kegiatan perkuliahan ditiadakan untuk memperingati kematian Marco. Mahasiswa diminta bersiap sebelum datang ke pemakaman sebelum pukul enam pagi. Pemakaman di pagi hari adalah hal yang baru bagiku. Dan bahkan kami belum diberikan sarapan.

Memasuki area ladang rerumputan kecil, suasana gelap mulai mengendur. Setidaknya ada secercah cahaya fajar yang terbit dan mulai menyinari sosok-sosok pelayat yang ada di sini. Aroma lumpur yang lembab dan tajam memenuhi udara, membuatku berpikir pasti ada sumber air di dekat sini. Aku menaiki tanjakan bukit rendah, melewati barisan batu-batu nisan yang terlihat begitu tua, berderet miring seperti set domino yang mengerikan. Genangan lumpur mulai mengotori sepatuku, makin diperparah ketika tak sengaja kakiku menginjak tumpukan daun-daun mati. Angin berhembus sangat kencang ketika kami akhirnya tiba di puncak.

Karena satu-satunya geraja di sekolah ini sedang mengalami perekonstruksian ulang, maka upacaranya harus dilangsungkan di daerah pemakaman rawa-rawa yang suram.

Di sana, nampak peti mati Marco yang dikelilingi oleh puluhan pengajar. Nampak pula lusinan Kepolisian Militer berjejer di dua sisi dengan senjata dalam posisi istirahat.

Jean terlihat berdiri di belakang staf pengurus dengan pakaian berkabung, menyeka matanya dengan punggung tangan, dan bahunya terlihat bergetar dari jauh. Di sebelahnya nampak Petra Ral, sosok gadis pendek berambut jahe yang memegang kuasa atas kantin, serta mendapat tempat terpandang di hierarki kepengurusan Universitas. Gadis bertampang baik itu menepuk-nepuk punggung Jean prihatin, berusaha menghiburnya dengan senyum hambar. Di sebelahnya nampak beberapa dosen di bidang Ketahanan dan Psikologi yang sudah terkenal, di antaranya adalah Gunther Schultz, Auruo Bossard, dan Erd Gin. Di antara mereka pula nampak sekelompok pengajar dan para pengurus sekolah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Tiga kolom di sebelah kanan barisanku, nampak Reiner dan dua teman baru-nya berdiri berdampingan dan berbincang satu sama lain. Mungkin Reiner tidak melihatku di sini, tapi aku tidak peduli.

Di barisan sebelah Barat, aku melihat kelompok kecil yang terdiri dari Hanji, Erwin dan Levi, yang terpisah dari pengajar lain, di mana mereka berjejer di barisan ke dua dengan raut kaku tak terbaca. Kepala Levi terlihat menunduk, jauh lebih dalam dari orang-orang di sekitarnya. Dan dari jauh beginipun dia tetap saja terlihat suram.

Dalam keremangan pagi buta, burung nasar terbang berputar-putar di atas tanah basah.

"Dari tiap tetes keringat di wajahmu engkau bisa hidup," pendeta berkepala botak dengan mata keriput pucat dan suara kecil berpidato di sebelah batu nisan. "Hingga engkau kembali ke tanah. Karena dari sana engkau diambil, dari debu engkau berasal, dan menjadi debu engkau akan kembali."

Tidak banyak orang yang mengenal Marco. Dia hanyalah mahasiswa baru. Tidak banyak teman-teman universitas yang terlihat menangis. Tidak banyak yang terlihat berduka. Ironis rasanya jika harus mati di tempat seperti ini, tempat di mana harga dirimu sebagai manusia dihilangkan sama sekali. Seharusnya Marco dimakamkan di tempat yang lebih layak. Dan aku tidak melihat ada keluarganya di sekitar sini. Apakah pihak Universitas tidak memberitahukan pihak keluarganya? Dan tiba-tiba aku berpikir, seandainya aku mati di tempat ini suatu saat, apakah aku juga akan mengalami nasib seperti Marco?

Pikiran negatif di dalam kepalaku kontan berhenti menceracau ketika melihat peti berukir sederhana itu akhirnya diturunkan ke dalam galian tanah. Satu persatu suara tangisan mulai terdengar.

Dari kejauhan, mataku entah mengapa kembali terpancing untuk melihat barisan Levi.

Aku tertegun. Di saat sang pendeta sedang merapalkan doa, di antara desau tangis beberapa mahasiswa yang samar, di tengah deru angin yang bergulung kuat di pelataran pemakaman, aku melihat mata dari dua Dekan itu tengah terpancung lurus ke arahku. Merasa diperhatikan intens oleh dua orang besar di Scouting Legion membuatku melepaskan pandangan seketika. Gugup langsung mendera, tertahan di kerongkonganku.

Walau pada akhirnya aku membuang muka, ekor mataku kembali melirik secara tak kentara. Dan pada saat itu menangkap sosok Levi yang juga memasang target mata yang sama seperti kedua orang tadi. Ini tidak mungkin. Hanji dan Erwin terlihat sedang berbincang pelan sambil meneliti sosokku dari jauh. Mereka bertiga jelas-jelas sedang membidikku. Tindakanku yang barusan memang bodoh. Dan sekarang, aku diserang kepanikan.

Aku berusaha konsentrasi pada jalannya pemakaman, ketika untuk yang ketiga kalinya, aku menoleh dan memastikan apa mereka benar-benar memperhatikanku. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Mereka berbalik dan meninggalkan barisan pelayat. Aku bertanya-tanya ke mana mereka hendak pergi.

Tepat pada saat itu pula terdengar suara seok-seok samar dari belakang barisanku. Beberapa mahasiswa terdengar menjerit tertahan. Terdengar gemerisik rerumputan yang berisik dan derap kaki yang ramai. Tiga mahasiswa yang berdiri di depanku berbalik, dan wajah mereka langsung nampak ketakutan.

Dan sebelum aku menyadari apa yang terjadi, dua Kepolisian Militer tiba-tiba muncul di kanan-kiriku, mengunci lenganku dengan cengkraman kuat dan menyeretku paksa meninggalkan kerumunan.

.

.

.

Aku sadar sudah melewati perjalanan yang jauh selama mataku ditutup oleh sehelai kain. Tanganku dicengkram sangat kuat hingga aku dapat merasakan jari-jari besar itu seakan hendak meremukkan tulangku. Aku merasakan sempat melewati rumput-rumput lunak, menapaki jalan panjang dari semen keras, melewati lantai marmer dengan dentum yang menggema di dinding, menaiki anak-anak tangga, hingga akhirnya mendengar bunyi derit pintu yang terbuka pelan.

Aku diseret paksa, kemudian dituntun untuk duduk di sebuah kursi kayu dengan barisan jarang di bagian tempat duduknya. Tanganku ditarik ke balik sandaran lalu aku merasakan permukaan besi yang dingin menjentik kulitku, selanjutnya diikuti dengan bunyi borgol yang mengunci kedua pergelangan tangan. Kakiku masing-masing diikat pada anak kursi oleh sesuatu yang keras dan fleksibel, sesuatu seperti tali atau kawat yang tebal, menjerat betisku dengan sangat rapat dan kencang sehingga membuat pergelangan dan telapak kakiku mendadak diserang keram ringan.

Aku mendengar bunyi langkah kaki yang ramai dan mendetum di udara. Bunyi gebrakan sesuatu di atas permukaan keras. Suara cakap-cakap beberapa orang di dekatku yang terdengar samar. Kemudian terdengar suara perintah yang menggelegar.

Dan setelah itu kain penutup mataku ditarik kasar oleh seseorang.

Berusaha membuka kelopak perlahan, visual bintik-bintik hijau yang memusingkan langsung mendera penglihatanku, membuatku kesulitan untuk melihat apa saja yang berada di sekitarku. Lampu remang yang menggantung rendah di atas kepala juga memperburuk keadaan. Cahaya dalam jumlah minim yang merasuk ke dalam iris mata membuat mataku kesulitan untuk membuka lebih lebar.

Samar, agak kabur, aku melihat meja besar aluminium berdiri tepat di hadapanku. Di belakangnya, nampak beberapa orang berdiri di belakang meja dan terlihat sedang menunggu kesadaranku. Warna-warna cokelat tua yang menguar dari garis tebal di bagian tengah seragam itu membuatku langsung mengenali mereka.

Para Pengajar.

"Jangan pasangi listrik pada anak ini. Dia menderita gangguan jiwa."

Suara itu. Suara Hanji.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Cahaya-cahaya yang masuk ke mataku berangsur nyata dan tegas seiring dengan melebarnya kelopak mataku yang terasa berat. Perlahan-lahan aku dapat mengenali tekstur-tekstur pada setiap lini ruangan yang temaram ini beserta beberapa orang yang berdiri di sekitarku.

Ruangan kecil, pengap, tanpa saluran udara. Didominasi warna abu-abu tua dengan lampu kecil murahan di tengah-tengah. Meja besar. Alat-alat penyiksaan. Kepolisian Militer. Para Dekan berdiri berjejer.

Tidak salah lagi. Ini pasti Ruang Interogasi.

Hanji berjalan mengitari meja, mendekat ke arahku. "Nah, Eren. Seharusnya kau tahu alasan kau dimasukkan ke tempat ini," Wajahnya terlihat bergairah dengan kilatan semangat di dalam bersit matanya yang meluapkan emosi berapi-api yang kentara. Tangannya yang kokoh mencengkram kuat rahangku dan menarik kepalaku paksa agar melihat ke dalam matanya yang berkobar mengerikan. "Bukan begitu, wahai orang yang sudah membunuh Marco?" Dia terkikik geli, menambah suasana mencekam yang pekat. Aku tahu wanita ini gila sejak awal. "Atau harus dibilang, orang yang sudah memakan Marco."

Tangan satunya yang bebas terlihat menggerumit liar di udara, mencakar-cakar tak sabaran, seakan-akan hendak meremas atau menghancurkan sesuatu. Gigi-giginya bergemeratak nyaring seperti hewan buas kelaparan. "Apa yang membuatmu memakannya, Eren, hm? Apa Marco terlihat menggiurkan? Apa karena kau belum pernah merasakan daging manusia? Apa karena manusia itu enak?"

"Hanji!"

Suara teguran dari interkom yang menyala di dalam ruangan langsung membuatku tersentak. Hanji serta merta langsung menarik tangannya dari wajahku dan berdiri tegap dengan sikap siaga. "Siap!"

"Jangan membuang-buang waktu! Laksanakan perintahku sekarang!"

Erwin yang berdiri di sudut ruangan terlihat memerhatikanku lekat-lekat, begitu pula dengan Dot Pixis yang berdiri di sebelahnya. Di sekitar mereka adalah beberapa Kepolisian Militer yang berdiri siaga di beberapa titik dengan senjata api di tangan mereka.

"Baik!" sahut Hanji lantang.

Ketika Hanji berbalik dan kembali menatap wajahku dengan ekspresi aneh miliknya yang menggebu-gebu mengerikan, suara berat dan rendah yang familiar dari sudut ruangan di belakangku menghentikan tingkah anehnya seketika.

"Mengapa Rektor kita tidak turut serta dalam eksekusi ini?"

Aku tertegun. Itu adalah suara Levi.

"Itulah yang menjadi pertanyaan kami sejak tadi." Kali ini Erwin Smith yang membuka suara. "Entah eksekusi ini terlihat tidak penting baginya atau mungkin karena ada masalah lain." Suara itu mendesau rendah seiring sorot mata tajam yang mengandung ribuan arti di dalamnya.

"Ada atau tidak, eksekusi ini tetap harus dilaksanakan." ujar Dot Pixis dengan nada tenang.

"Baiklah," Aku mendengar suara Levi mendekat seiring dengan dentum sepatu yang menggema. "Bila Rektor kita sudah berkata demikian," Aku melihat sosoknya melintas di sebelahku, berjalan menuju meja besar di tengah ruangan, mengambil sebuah senapan laras panjang yang tergeletak sejak awal. "Berarti kita harus mematuhinya."

Bunyi kokangan terdengar menyentak udara. Senapan itu mengarah lurus di depan mata. Kilatan moncongnya yang mengkilat dengan tampilan lorong gelap sebagai jalur peluru yang akan menerjang tengkorakku terpancang di depan kening. Aku melihat semua orang di dalam ruangan memerhatikanku. Menunggu saat-saat krusial di mana akhirnya nyawaku tercabut. Saat-saat di mana aku akhirnya mati seperti yang diramalkan. Aku akan mati seperti Marco. Mungkin tidak akan dikubur dengan normal seperti mayat pada umumnya. Mungkin jasadku akan dibuang ke danau dan menjadi santapan ikan-ikan kelaparan. Mungkin bangkaiku akan menjadi makanan burung nasar. Mungkin aku tidak akan mati dengan layak.

Mungkin memang sudah seharusnya demikian.

Hanji berdiri di sebelah meja, membuka-buka dokumennya, kemudian membacakan apa yang tertera di dalamnya dengan suara nyaring. "Eren, umur enam belas, jenis kelamin laki-laki, mahasiswa angkatan pertama gelang merah. Pelaku pembunuhan dari mahasiswa angkatan pertama gelang hijau, Marco Bodt, usia tujuh belas, jenis kelamin laki-laki. Dituduh berdasarkan laporan kit forensik yang tertera di riwayat hidup serta laporan saksi mata ketika kejadian sedang berlangsung."

Aku terpaku. Saksi mata? Apa ada yang melihatku saat itu?

"Dengan ini, Eren, dijatuhi hukuman mati, dengan pengeksekusi, Levi. Disahkan oleh Rektor kami—"

"Maaf." Aku dengan berat hati memotong kalimat pengeksekusian itu. Mungkin aku adalah satu-satunya orang kurang ajar yang menginterupsi ketika sedang dibacakan tuduhan eksekusi. "Bisakah anda menyebutkan nama keluarga saya juga? Saya ingin memakai nama itu hingga saat-saat terakhir." kataku pelan.

Hanji terlihat kebingungan. "Oh, kau punya nama keluarga? Tapi di sini tidak dicantumkan." Hanji terlihat memeriksa dokumen-dokumennya. "Baiklah. Sebutkan nama belakangmu."

Aku menarik napas pendek dan menjawab dengan rasa bangga setengah hati. "Jaeger. Eren Jaeger."

Suara-suara di udara tercabut seketika.

Seluruh aktifitas di dalam ruangan membisu seketika.

Aku dapat melihat sorotan mata orang-orang di dalam Ruang Interogasi langsung tertuju ke arahku. Samar namun pekat, aku dapat merasakan ada pergumulan aneh di dalam sinar mata mata mereka yang serta-merta memandangiku heran, terpana, terkejut, terpukau, kaget. Tidak ada yang mengeluarkan bersuara. Mereka semua menggeming dalam posisi membeku yang kentara. Pembacaan eksekusi yang terpotong tidak jadi dilanjutkan. Atmosfer beku menjadi jauh lebih dingin dan tajam dari sebelumnya. Sesuatu di dalam pandangan mereka membuatku turut merasakan gejolak yang aneh di dalam dadaku.

Levi nampak terpana dan memandangiku tidak percaya.

Aku melihat senapan itu turun perlahan.

"Tidak mungkin…"

Aku melihat kerutan marah di alis Levi berangsur mengerut berang. Wajahnya meredam amarah, terlihat seratus kali lebih mengerikan dari sebelumnya. Jemarinya mencengkram kuat senapan di tangannya dengan seluruh kekuatan seakan ingin meremukkan benda itu menjadi serpihan. Levi terlihat memandangiku tidak percaya.

Suara interkom tiba-tiba meledak murka.

"Apa lagi yang kau tunggu! Tembak dia sekarang!"

Aku memejamkan mata. Mendengar geram Levi yang meradang bengis.

Giginya bergemeretak liar. Aku mendengarnya mendesis. "Mau berapa kali kau menyuruhku membunuh orang, Pak Tua sialan?"

"Levi! Hentikan!" Hanji mencegah.

Lalu aku merasakan lecutan angin kencang melesat melewati pipiku seiring dengan bunyi dentuman timah panas yang pecah di sebelah telinga, beberapa helaian rambutku terlempar ke udara, suara teriakan menggema ke udara bersamaan dengan bunyi daging yang bertubrukan ke permukaan marmer. Seru-seruan Kepolisian Militer riuh panik menyerbu dinding langit-langit, menyerukan kalimat sama dengan raungan murka yang mendera, tembak dia tembak dia tembak dia! Bunyi puluhan kokangan senjata serentak menggertak atmosfer dengan geraman marah tak terkira.

Dan selanjutnya aku menangkap kilatan-kilatan api samar di dalam pejaman mata, mendengar dengan gamblang bunyi tembakan-tembakan sporadis di yang menggerogoti telinga, yang kemudian beralih menjadi tembakan brutal dan berkecamuk liar.

Pada detik itu, aku menyadari satu hal. Levi sedang membantai seluruh Kepolisian Militer di dalam ruangan ini.

.

.

.

Next:

Part V: Eren

A/N :

Bersujud mohon ampun karena benda ini telat dua minggu. Alasannya sudah pernah diutarakan sih. Yah, sebenarnya karena saya UAS. Dan itupun UAS-nya baru selesai hari Kamis kemarin. Dan setelah UAS pun bukannya ngelanjutin, malah dengan brengseknya lebih milih hangout bareng temen-temen seperjuangan. Karena ini telat banget, words-nya juga jadi banyak banget. Sesak napas sendiri ngeliat words yang berserakan. Berdoa semoga nggak ada typo nyelip.

Anyway, saya lupa ngejelasin perilaku abnormal Eren di chapter lalu yang ngorek-ngorek kerongkongannya sendiri supaya ngeluarin isi perutnya itu. Sebenarnya kalo dibayangin agak jijik, ya. Tapi perilaku itu sebenarnya ada, biasa dikenal sebagai Bulimia. Kelainan di mana orang cenderung makan berlebihan lalu dimuntahkan kembali. Rata-rata kelainan itu menyerang artis-artis besar yang terobsesi dengan badan bagus. Tapi kalo dalam cerita Alter, tujuan Eren melakukan hal itu adalah untuk ngeluarin semua materi yang sudah dia makan.

Saya pernah baca cerita keren banget dari forum b*yzforum dot c o m, judulnya Student Bedroom karangan Maximillian_s (Aib seketika terbongkar). Jadi ada seorang tokoh remaja laki-laki yang digambarkan manis banget, bottom, idola sekolahan, top-nya bule, tapi rada-rada psiko karena keluarganya berantakan, ibunya mantan wanita panggilan, ayahnya mabuk-mabukan dan dia terobesi supaya tetap terlihat menarik di mata semua orang. Sebenarnya cerita itu yang menginspirasi saya bikin ALTER, dan aura gloomy di fik ini terinspirasi dari cerita awsum itu, walau plotnya jadi beda jauh. Sekedar trivia aja, sosok Eren yang kalem-kalem tapi sakit jiwa di sini terinspirasi dari tokoh di cerita itu.

Namanya Millo dan dia suka ngorek-ngorek kerongkongan sampai nyaris pingsan supaya bodinya tetap oke dan bikin top-nya kian bergairah. Dari luar keliatan slutty banget, incaran top-top kelaparan, rela di-harem-in supaya terkenal, tapi kalo diceritain dari sudut pandangnya, sebenarnya dia rapuh banget dan nggak punya siapa-siapa. Hiks. Kalo diceritakan lebih lanjut bisa bikin saya nanges darah dan pengen lari meluk Millo /nangesbeneran /santetauthornya

Dan maaf karena nggak sempat membalas satu-satu review kemarin. Sebenarnya karena kehadiran review-review mega-awsum kalianlah yang bikin saya semangat ngetik ini. Semua review yang masuk selalu bikin saya hepi :')

Harumi Ryosei: Itu grepe-grepenya pas Eren lagi nggak sadar pula. Yep, kalo di manganya Grisha memang bapaknya Eren. Alasan itu belum bisa dibeberin ya :') Pertanyaan itu sudah terjawab di beberapa scene di atas. Makasih ya sudah baca Alter.

Zasm: Marco bahkan nggak sempat nongol semenit, tau-tau udah koit. Pukpuk nisan Marco. Sebenarnya kalo Eren ngelakuin yang 'aneh-aneh', dia dalam kondisi nggak sadar :') Cepat atau lambat Eren pasti kena eksekusi /pukpukEyen Makasih ya sudah baca Alter.

Dodol: Alasannya nanti ya di chapter mendatang :') Eren pernah diraep atau nggak hanya Eren yang tahu /pukpukEyen Lebih suka Netherlands x"D Makasih ya sudah baca Alter.

Imro I-rin: Duh :') Maaf ya kalo deskripsi latar tempatnya rada-rada eksplisit. Karena semuanya ditulis berdasarkan apa yang Eren lihat :') Duh itu analisanya udah nyaris ketebak satu. Tebak-tebakan lagi, dong x'3 Makasih ya sudah baca Alter.

Nine: Kebetulan di part ini hawa keberadaan LeviEren agak-agak meningkat x'D Makasih ya sudah baca Alter.

Dan sekali lagi terima kasih untuk Harumi Ryosei, digimonfan4ever101, Hayasaka Kairi, kyuminloid, Daiki Hanna, Ao-Mido, MeganLim, Zasm, Dodol, Raicho19, syalala uyee, army1004, Seijuurou Eisha, allsundayjaegerjaquez, Imro-rin, Nine, Kim Arlein 17, Yaoumi.S, tiwiizqitama, shyaren rohana, rururei serta semua teman-teman FFn yang sudah baca fic ini, entah yang sudah baca dari chapter pertama sampai sekarang, atau yang baru-baru aja karena salah klik. Semoga Alter selalu bisa menghibur.

PS : Selamat menjalankan puasa bagi yang merayakan :)

PSS : Duh, itu abang Netherlands lagi gencar-gencarnya merebut titel seme sejagat! Nggak sia-sia abang di-uke-in di Euro 2012 ya, bang! Sekarang mainnya makin ngamuk, agresif, dan nggak puas-puas, ya, tipe seme sejati banget! /plak

PSSS : Bagi kalian yang juga baca fik SnK saya yang judulnya 'Cenayang', missing part 4, 5, dan 10 udah update, yaa! Silahkan dibaca !

Sign, Rapuh