A/N : Sekedar pengumuman. Setelah chapter lima berakhir, chapter enam sampai sepuluh akan dibawakan lewat sudut pandang Rivaille. Seperti rencana saya sejak awal, saya akan menggunakan lebih dari satu sudut pandang. Di chapter ini, Eren akan lebih banyak menceritakan masa lalunya


Part V: Eren

"Jangan dekat-dekat dengan dia! Dia monster bergigi tajam!"

Namaku Eren Jaeger.

Bukan kejutan lagi jika aku selalu menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Sejak umur sembilan tahun, usia di mana aku belum bisa menerima kenyataan bahwa Mikasa adalah wanita dan jauh lebih maskulin dibandingkan diriku, aku sudah terbiasa menghabiskan sarapan berupa ocehan dari para peternak sapi dan penjual buah di Desa Shinganshina yang membunuhku perlahan-lahan dengan sorot mata setajam pisau dan perkataan sinis mereka. Sebagai anak yang belum mencicipi kekejaman dunia, aku merasa terlalu banyak orang tua yang menghabiskan waktu istirahat sore harinya dengan mengata-ngataiku anak iblis ketika aku kebetulan melintas di depan kebun dandelion halaman rumah mereka.

Dan sebuah kesalahan fatal bersifat sensitif dan krusial yang kulakukan pada hari pertama di Universitas Scouting Legion telah menjadi pedang bermata dua yang menyeretku hingga sampai ke kasus pembunuhan ini. Terima kasih pada Marco karena telah membuka mata semua orang untuk menaruh bibit kebencian padaku.

Banyak ingatan yang timbul-tenggelam di dalam kepalaku selang beberapa tahun terakhir. Terkadang ingatan itu akan tergambar amat nyata di dalam mimpiku, membuatku terjaga sepanjang malam akibat kelelahan berteriak dalam tidur. Bahkan terkadang berselisih dengan ingatan-ingatan yang belum pernah kualami sebelumnya. Ada beberapa ingatan negatif yang membuatku gemas ingin mengambil cangkul dan mengubur semuanya dalam-dalam ke dasar bumi. Namun ada beberapa pula memori yang akan kujaga sampai mati.

Salah satunya adalah pesan dari Armin Arlert, sahabat baikku, yang permohonannya muncul di sela-sela perbincangan terakhir kami di depan gerbang hitam berkarat milik Universitas Scouting Legion di Sabtu sore yang dingin. Sebuah pesan yang bahkan nyaris tak berbekas di ingatan dan tertanam di antara kenangan-kenangan menyakitkan.

Di Juni yang mendung itu, aku melihatnya berdiri di hadapanku, tepat di sebelah terali besi gerbang masuk utama Universitas Scouting Legion yang menjulang tinggi empat meter dengan ujung-ujung runcing di puncaknya, serta dijaga dua patung elang retak. Ekspetasinya memupuk keinginan bagi penjahat manapun yang ingin menembus pertahanan terluar dari Universitas itu. Para pengantar memang hanya diperbolehkan untuk menemani sampai ke perbatasan gerbang. Di kesempatan yang minim itu, Armin membekaliku dengan banyak sekali nasihat berharga yang tak mampu kuingat semuanya satu per satu. Aku ingat di hari itu kehidupanku akan berakhir.

Di hari penting itu, aku masih diizinkan untuk menyesap bermacam-macam aroma daun pepohonan yang kental di sekitarku, mendengar suara-suara hewan hutan yang berisik dari balik rimbunan daun lebat, dan merasakan sinar matahari untuk terakhir kalinya.

Namun sebelum kakiku menginjak tanah mati dengan rumput-rumput ilalang tinggi di halaman Universitas, aku ingat Armin sempat menyampaikan sesuatu padaku.

Aku mengingat pakaian Armin waktu itu biru langit, senada dengan iris matanya, dengan setelan kemeja yang terkancing rapi, contoh tipikal anak baik-baik. Rambutnya yang lurus pirang terlihat menyala bagai emas di bawah terpaan radiasi mentari. Dua iris birunya nampak menguarkan kesedihan, ekspresi wajar dari rasa kehilangan seorang sahabat. Namun aku tahu Armin sedang berusaha untuk membuat semua itu terlihat tak kentara. Aku tahu dia mengerti bahwa tidak ada gunanya menghibur orang yang bersedih jikalau dia sendiri terlihat jauh lebih menderita.

Aku merasakan jari-jemarinya yang kurus dan biasa menemaniku memunguti ranting di senja itu kini mendarat di kedua bahuku, meremas kencang, membuatku seakan berkeinginan untuk takkan pernah masuk ke sana. Membuatku ingin ikut serta dengannya untuk pulang kembali ke rumah. Matanya memancarkan sorot penuh harap yang membuatku tak bisa berpaling. Seketika membuatku merasa seperti orang paling brengsek di dunia karena sudah menyeretnya sampai sejauh ini.

"Eren, kau harus bisa mengenali dirimu sendiri." kata Armin padaku di mendung yang lembab itu. Bau-bau hujan mulai tercium dari kejauhan. Tidak ada yang terdengar selain suara Armin yang mendesir. "Setelah kau ke luar dari sini, kembalilah menjadi Eren yang aku kenal. Eren yang pantang menyerah. Eren yang selalu bersemangat dalam melaksanakan hal apapun. Eren yang menjadi sahabatku seperti dulu." Aku melihatnya tersenyum, terlihat sangat susah payah di antara lapis bening kesedihan di dalam bola matanya. "Aku yakin kau pasti bisa."

Aku takkan pernah bisa untuk membencinya seperti aku membenci seluruh penduduk desa. Aku merasa hidupku telah rusak permanen. Seperti ibarat patung porselen yang jatuh dari meja, pecahannya tidak akan bisa utuh seperti sedia kala. Aku tahu harapan Armin akan sia-sia, karena secara pribadi, aku sudah putus asa duluan.

"Mereka semua sudah membenciku, Armin. Aku tidak punya kesempatan—"

"Itu tidak benar, Eren!" Suara Armin meninggi. Aku agak terkejut karena dia baru saja membentakku. "Aku yakin jauh di dalam dirimu masih ada Eren yang aku kenal! Aku percaya itu! Kau hanya perlu melihat ke dalam dirimu sendiri!" Remasannya semakin mengetat di pundakku. Tidak, Armin, semuanya sia-sia, aku berusaha memperburuk keadaan. Aku berusaha menulikan telingaku. Aku berusaha mengenyampingkan kenyataan itu. "Eren yang dulu bukanlah Eren yang mudah kalah." Suara itu bergetar kemudian berangsur melemah. Tidak, Armin. Namun aku tetap tak bisa mengelak jika Armin menuntut sesuatu. "Kau harus mengalahkan 'dia', Eren." Kalimatnya semakin pelan, kemudian hilang sama sekali. "… kau harus kembali."

Lidahku terkekang di dalam mulut. Rahangku terkunci. Selama kami bersahabat, Armin selalu mampu menamparku hanya dengan kata-kata, sekalipun aku tak mengerti konteksnya. Tapi aku tahu siapa yang Armin maksud.

Dia. Dia itu yang membuatku seperti ini. Dia yang membuat semuanya menjadi kacau. Dia yang memakan jati diriku. Dia yang menghancurkan hidupku dan meggempurnya menjadi puing-puing penyesalan. Keinginanku seratus persen serupa dengan apa yang Armin harapkan. Aku juga ingin berubah.

Tapi… tetap saja…

Aku tetap tak bisa menemukan perbedaan spesifik antara aku dan 'dia'.

Wajahku kami berdua sekarang pasti sama menyedihkan. Masing-masing dari kami berdua sedang bergelut dengan pikiran kalut masing-masing. Aku sebisa mungkin tak membuat kontak langsung dengan mata Armin. Terlalu banyak kesakitan yang terpancar di dalamnya. Terlalu banyak orang yang kusakiti selama ini. Sebagai gantinya mataku tak sengaja menangkap sinar jingga yang terlihat menyembul dari balik dedaunan hijau, pipiku diterpa angin semilir senja, telingaku dapat mendengar nyanyian burung dara. Semua ini akan kutinggalkan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

"Cepat pulang, Eren."

"Aku akan berusaha, Armin."

Permohonan itu meluncur lemah bagai semilir angin pagi hari.

Jika ada satu faktor yang dikatakan memberi andil besar untuk membuatku terus hidup dan menghalangi usaha bunuh diriku sampai sejauh ini; maka pesan Armin adalah jawabannya.

Jika saja aku mampu mengingat. Jika saja aku mampu menemukan dalang utama di balik semua kejadian ini, bedebah yang membuatku menjadi seperti sekarang, maka aku tidak akan segan-segan membuatnya merasakan penderitaan orang-orang yang menjadi korban ketidaksadaranku. Seandainya aku diberikan wewenang untuk membalas semua darah yang tertumpah sia-sia, maka aku akan membuat sampah itu merasakan siksaan mental seumur hidup dan menyesal karena pernah menginjakkan kakinya di dunia. Bila saja aku diizinkan untuk membunuh, maka aku tidak akan ragu untuk membunuhnya.

Dan selama pesan Armin masih belum terpenuhi, maka aku akan terus mencari jawabannya.

Karena aku tahu, setelah semua ini berakhir, aku bukan lagi Eren yang sekarang.

.

.

ALTER

a fanfiction by Raputopu

Shingeki no Kyojin/Attack on Titan © Hajime Isayama

Warn: AU, OOC, typo, mature content

.

.

Eksekusinya dibatalkan? Pertanyaan itu terus-terusan memenuhi kepalaku.

Bunyi-bunyi tembakan yang gencar di sebelah kepala kontan menulikan telingaku, seakan-seakan semua peluru menghunjam masuk ke dalam telinga dan melumpuhkan indera pendengaranku. Aku terlalu bodoh untuk mengenali situasi yang terjadi sekarang. Tubuhku masih terikat dan aku tak bisa berbuat banyak untuk sekedar mencari tahu apa yang terjadi. Sepintas lalu aku mendengar bunyi gemeretak kayu patah melintas cepat di sebelah telinga kananku, menghantam kilat bahuku sebelum sempat aku menghindar. Tapi aku masih belum berani membuka kelopak mata dan melihat apa yang terjadi di sini. Telingaku pecah oleh detonasi letusan senapan yang hadir bertubi-tubi. Di belakangku terdengar kentara erangan kesakitan yang panjang, kemudian disusul bunyi daging jatuh yang berdebam.

Hidungku mulai mencium semerbak bau-bau mesiu yang menguar ke udara. Aku dapat mendengar jelas derap kaki bertalun-talun yang bersusulan dan menghentak cepat lantai marmer. Ruang Interogasi tidak lagi sehening sedia kala. Ruangan ini telah kehilangan stigma ruangan yang sunyi dan senyap.

Suara Hanji, tak terhalang oleh segala keributan yang tercipta, melarang Levi untuk tidak melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Erwin Smith, gema suaranya kian menajam di dinding-dinding rapat, menggelegar dan kian mendekat, memerintahkan Levi untuk menurunkan senjata. Mereka semua berusaha menghentikan Levi, tapi aku tak mau melihat. Suara-suara erangan meledak ke udara dan selalu disusul bunyi daging jatuh yang keras selanjutnya. Bunyi-bunyi tembakan terdengar bergaung liar di dalam telinga, terlalu brutal dan terlalu buas. Sebenarnya apa yang dipikirkan Levi sekarang? Menghabisi seluruh Kepolisian Militer?

Untuk apa?

Sebelum aku sempat berpikir, sesuatu yang dingin tiba-tiba menyergap tubuhku. Tangan liar itu menjalar cepat melewati lengan yang tergantung di balik sandaran kursi dan membuka borgolku secepat yang ia bisa.

"Eren, kau harus pergi dari sini." Aku mendengar suara Levi.

Ketika aku akhirnya membuka mata, tidak sanggup lagi mendengar segala raung kematian di sekitarku, aku melihat sosok laki-laki berambut hitam yang diselimuti kegelapan dengan siluet percikan api yang membayangi wajahnya yang berkeringat. Ruang Interogasi kini dikuasai kegelapan dengan sumber cahaya yang hanya muncul dari ledakan mesiu yang meluncurkan semburan timah panas. Lampu pasti sempat menjadi target bidikan sebelumnya.

Aku mendengar derap langkah kaki di belakangku lalu Levi tiba-tiba bangkit berdiri dan bunyi letusan senapan kembali terdengar.

Aku melihat Hanji mulai diserang kepanikan. Dia terlihat mengobrak-abrik laci di meja interogasi dan mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam dari dalam sana.

"Terjadi masalah teknis di Ruang Interogasi! Aku ulangi! Terjadi—"

Aku melihat sekelebat api tipis melintas dan mendepak radio satu arah di tangan Dekan gelang kuning tersebut tanpa peringatan. Hanji tak sempat mengelak ketika alat itu menepis dari tangannya membentur dinding dengan keras.

Merasakan ancaman serta didasari kuat oleh keinginan hati untuk benar-benar ingin sesegera mungkin angkat kaki dari ruangan ini—setelah borgolku bergemerincing meluncur jatuh ke lantai—aku langsung menurunkan punggung dan cepat-cepat melepaskan ikatan di kakiku sebelum tubuhku terhunus peluru nyasar.

Bunyi sirine panjang memecah bising di sepanjang lorong lantai dua. Lampu merah darah kontan berkedip-kedip mewarnai ruangan dalam tempo cepat dan konstan. Interkom di luar ruangan turut menyala dengan kalimat peringatan yang berulang. Suara gemerisik radionya meresap ke dalam dinding Ruang Interogasi yang tebal dan terdengar bagai desau bisik di dalam ruangan. Aku tak bisa mendengar kalimatnya dengan jelas karena bunyi tembakan yang terus bersusulan dan memecahkan udara.

"Mundur!" Aku mendengar bunyi senapan dikokang. Di depanku, aku melihat Hanji dan Erwin terlihat ragu untuk maju selangkah lagi. Di dalam mata mereka, aku tahu ada dilema yang bergolak.

Pintu Ruang Interogasi tiba-tiba berderit mengayun dan secercah cahaya dari lorong lantai dua yang meruyup masuk ke dalam areal gelap langsung memberi siluet setengah badan Dot Pixis.

Dot Pixis berceletuk dari sudut ruangan. Ekspresi wajahnya yang khas itu selalu terlihat padam disertai tampilan hidung memerah dan seringai ganjil di antara kumisnya. "Ya. Tidak ada yang bisa memprediksikan penutupannya." Gagang pintu yang tergenggam di tangannya mundur membuka lebar. Sementara tangan satunya berayun dan menunjukkan gestur mempersilahkan keluar bagi siapapun yang berada di ruangan ini.

"Levi. Kau sadar dengan apa yang kau lakukan sekarang?"

"Jauh lebih dari sadar, Erwin."

Aku menangkap gejolak emosi di masing-masing suara. Keduanya terlihat berusaha mempertahankan argumen pribadi.

Seiring berjalannya waktu, nominal tembakan yang membombardir orang-orang berpakaian seragam hitam telah menghilang bersama bunyi desah angin. Bau besi yang pekat semakin merayap kuat ke atas atmosfer. Membuatku merasakan aroma familiar yang kerap mengusik ketenanganku selama beberapa tahun terakhir. Tidak. Itu bukan aroma besi. Itu bau darah. Darah yang sangat banyak. Amukan muntahan senapan yang tadinya membabibuta kini berganti dengan denging panjang berfrekuensi tinggi dan memekakkan gendang telinga. Sebentar lagi pasti seluruh Kepolisian Militer akan menyergap ruangan ini.

Lagi. Perasaan aneh itu menubruk dadaku. Sebenarnya apa yang aku perbuat sampai Levi berbuat sampai sejauh ini?

"Bukankah aku sudah bilang Eren tidak bersalah?" Aku mendengar suara Levi meninggi. "Aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan laporan anak ini."

"Tapi keberadaan pendapat itu masih belum bisa dibuktikan, Levi."

Suara Levi terdengar menggeram tertahan. "Tidak ada yang perlu dibuktikan lagi. Semuanya sudah jelas."

Gejolak perasaan aneh di dalam dadaku merangsang mataku untuk melirik ke sebelah dan menyaksikan sosok Levi mengangkat senapan dalam posisi siaga, berdiri tegak dalam balutan cahaya merah yang berkedip cepat di sekujur tubuhnya. Matanya terlihat lebih mengerikan dari hewan buas manapun di dunia.

"Sebaiknya kalian cepat menyelesaikan masalah ini karena sebentar lagi tikus-tikus hitam itu akan datang." sahut Dot Pixis sambil melihat ke luar koridor.

Levi mendecih. Senapan yang mengeluarkan asap panas lewat moncongnya dilemparkan dengan keras ke dinding, seakan-akan benda itu sudah tidak berguna lagi. Kakiku membeku seketika dalam hitungan detik kala melihatnya berjalan ke arah kursiku. "Anak ini menjadi milikku sekarang." Suaranya yang berhembus pelan itu seperti datang dari tempat yang sangat jauh dan membuat darahku berhenti mendesir. Tidak ada yang berusaha menghentikan langkahnya. Sorot mata dinginnya membuat wajahku seakan teriris belati tajam. Tenggorokanku mengering melihat keringat di sekitar kening dan bahunya yang terengah dengan aura kelelahan yang terpancar kuat. Namun aku tahu dia tidak akan berhenti sampai di sini.

"Levi, jangan gegabah." Aku melihat Erwin berusaha menenangkan, tapi Levi berpikiran lain.

"Kita tidak mungkin hidup terus-terusan seperti ini, Erwin."

Levi berhenti di sebelah kursiku. Aku tak bisa untuk tidak melihat matanya yang lancip berkilat dalam kegelapan. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari wajah dinginnya yang menyimpan banyak pergolakan emosi tak kasat mata. Aku tak bisa menggerakan kakiku hanya karena melihatnya berdiri satu jengkal dari tubuhku yang menggigil. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari sosok Levi.

Seseorang yang sudah menyelamatkan nyawaku hari ini.

"Ambil bocah ini dari tanganku kalau kalian bisa. Silahkan tangani tikus-tikus hitam bersenjata itu sendiri."

Aku tak sempat mengelak ketika tiba-tiba merasakan sebuah ujung besi tajam menghunus dalam-dalam ke pundak. Aku mengamuk kesakitan dalam hati. Gemuruh sengatan elektrik kontan menyentak setiap jengkal sendi-sendi dan menggigit kulitku tanpa ampun, menguliti dagingku dan menggerogoti seluruh organ tubuh dengan gelombang listrik yang membesut tanpa ampun. Tiba-tiba saja aku merasakan kakiku terlalu lemah untuk berpijak dan punggungku terlalu rapuh untuk menahan berat badanku. Dan sebelum kilatan putih beralih menjadi titik-titik hitam yang semakin pekat, aku melihat siluet wajah Levi yang tidak seperti biasanya.

Tepat di depan wajahku.

Dan tubuhku melayang dari kursi.

.

.

.

"Ayah mau pergi ke mana?"

Sore itu ayahku bergegas pergi ke luar rumah. Walau senja belum berakhir, namun kegelapan sudah berkuasa. Pohon-pohon mengamuk liar dan genangan air hujan mulai tercipta di mana-mana. Sepatuku tenggelam beberapa sentimeter di dalam jilatan lumpur dan sosok ayahku nampak kabur di dalam jas hujan yang mengkilat oleh air. Ayahku hendak membuka pagar tanpa cat ketika akhirnya melihat aku berdiri menyergapinya dari pintu dapur. Hari ini Ayah tak seperti biasanya. Hari ini Ayah banyak menghindar.

"Ah, Eren." Dia menyapaku. Senyumnya tidak terlihat tulus seperti biasanya. Suaranya tenggelam dan mencicit di dalam gelegar petir. Aku tahu ada yang disembunyikan. Ayah selalu menyembunyikan sesuatu. Ayah selalu merahasiakan segala hal dariku. "Kembali masuk ke rumah. Badai akan datang." katanya kemudian.

"Ibu sedang memasak makan malam. Ayah tidak mau menunggunya?"

"Ayah sedang ada urusan, Eren."

Kalimat itu selalu berhasil menahanku untuk tak berbicara banyak.

Dan aku tak ingin menjadi anak yang menyusahkan.

"… Baiklah."

Dan aku melihat Ayah menerjang deru hujan, dan tubuhnya menghilang di balik kegelapan baris pepohonan.

Esoknya, Ayah tak banyak berbicara pada kami. Aku bahkan seolah-olah tak mengenalinya lagi. Aku bertanya pada Ibu, namun Ibu selalu membalas dengan senyuman. Dan aku tak pernah mengerti maksud dari senyuman Ibu.

Setelah melewati tiga hari dalam keheningan, satu kursi di meja makan tidak terisi, barang-barang Ayah telah lenyap dari rumah, Ibuku meringkuk dan menangis di sudut kamar berdebu, umurku bahkan belum genap delapan tahun, dan tidak ada pesan untuk kami yang ditinggalkan. Aku masih terlalu polos untuk meyakinkan diriku bahwa Ayah memang sedang ada urusan.

Malam berganti minggu. Musim berganti tahun. Kami melewati tujuh musim dingin tanpa Ayah. Pintu selalu terbuka setiap saat. Namun Ayah tak pernah datang mengetuk dan menyapa.

Aku terbiasa menghabiskan hari di depan teras, merenung dan mengayunkan kaki di sebelah tangga. Aku terbiasa memakai sepatu jalan dan bersiap-siap di depan pintu, sehingga ketika Ayah tiba, aku dan Ayah bisa langsung bergegas ke toko nelayan favorit kami dan membeli kaitan pancing untuk dihabiskan di danau Shinganshina. Aku terbiasa menunggu tanpa hasil, memandangi pagar yang terbuka, dan melihat daun-daun berguguran yang berhujanan di udara.

Ayah belum pulang sampai sekarang. Ibu seakan-akan tidak mengingat lagi siapa Ayah.

Dan sampai detik ini, aku menyadari satu hal, bahwa Ayah tidak akan pernah pulang.

.

.

.

Aku merasakan aroma harum yang pekat dan hangat. Bau-bauan itu semakin terasa dekat dan nyata, mirip wangi pel dan campuran lemon yang kuat, yang anehnya terasa familiar. Baunya datang dari segala arah dan hidungku tak bisa menolaknya.

Ketika cahaya mulai membentuk segaris tipis, hal yang pertama aku temui adalah visual kabur langit-langit plafon yang rapi dan bersih, tanpa retakan, atau kebocoran, atau bolong sana-sini seperti yang biasa aku temukan. Warnanya abu-abu tua dan lampu yang berada di dalam ruangan ini menerangi nyaris seluruh sudut dinding tanpa menyisakan areal gelap. Dinding-dinding terbuat dari batako buram dengan beberapa tumpuk kertas yang menempel di satu tempat.

Aku merasakan kehangatan dari seprei rapi dan matras lenting di bawah punggung. Aku tidak merasakan ada jaket yang melekat di tubuhku lagi. Aku menggelinjang ketika merasakan telapak kakiku digigit oleh suhu dingin. Jemariku bagai tertahan oleh serangan keram yang hebat. Tulang leherku masih tak mampu bergerak banyak untuk sekedar menoleh.

Gemerisik bunyi radio yang masuk ke lubang telinga sebelah kanan membuatku terbangun sepenuhnya. Aku baru sadar ada radio satu arah di sebelahku ketika mendengar suara seorang wanita yang serak mengiang sayup memanggil-manggil nama Levi seperti alarm kebakaran.

"Levi! Kepolisian Militer sedang mencarimu!"

"Levi! Bagaimana keadaan Eren di sana?"

"Levi!"

Radio bergemirisik riuh-rendah. Ada suara pria yang lain masuk. Aku yakin benar itu suara Erwin Smith. "Levi, kau mendapat panggilan dari—"

Suara itu terputus di udara.

"Berisik." Aku mendengar desisan samar.

Dan ketika aku memaksakan diri untuk menggerakan kepala, sensasi pedih dan panas tiba-tiba menyerang kulit di pundakku. Namun bersamaan dengan rasa sakit itu, selanjutnya ada sesuatu yang lembut dan berserat, mungkin kapas, menekan-nekan area yang sakit itu secara pelan-pelan. Rasa dingin dan nyeri yang menyergap di area yang perih itu seketika membuatku berjengit tak nyaman dan refleks memaksakan diri menggeser pundak.

"Jangan bergerak, bodoh. Aku bisa menyakitimu."

Suara itu membuat kesadaranku kian mengental. Siluet sosoknya mulai terlihat jelas di antara bias cahaya terang yang menyilaukan. Ah, tentu saja itu kata-katanya. Aku harus terbiasa dengan intonasi sarkastiknya yang membuat sakit telinga. Satu hal yang pasti, kehadiran suara itu selalu membawa pertanda buruk.

"Sir?" sahutku. Tenggorokanku mengering. Suara yang mampu keluar hanyalah berupa lirihan lemah.

Masih didera warna kabur, aku dapat melihat lengannya yang berbalut baju lengan panjang melintas di atas mataku yang menyipit. Bergerak-gerak dan terlihat seperti sedang melakukan sesuatu pada pundakku. Apapun itu, aku yakin dialah orang yang membuat pundakku nyeri.

Oh, benar. Dia adalah orang yang menyetrumku.

"Bagaimana rasanya menjadi orang yang kini diburu Universitas?" Levi bertanya. Hal yang membuatku terbangun sepenuhnya dari alam bawah sadar. Suaranya membuatku menoleh dan mendapati dirinya tengah duduk di sebelahku dengan posisi mengangkat satu kaki ke atas tempat tidur. Sebuah posisi santai yang diidamkan setiap orang.

Aku menegak ludah kering. "… buruk." jawabku serak.

Gesturnya membuatku tak bisa berbicara banyak, karena dari sini aku bisa melihat lututnya yang amat dekat seakan-akan hendak menonjok hidungku sebentar lagi.

"Oh. Aku pikir kau berniat membuat heboh satu Universitas."

Akan lebih tepat jika mengatakan bahwa dirinyalah yang justru membuat heboh satu Universitas.

Aku melihat baju berkabung yang ia kenakan di pemakaman terlihat masih melekat pas di tubuh. Dan aku bisa menyaksikan tekstur otot-otot perutnya yang terbentuk tegas dari luar pakaian. Tidak ada lagi darah yang melekat di sana. Pemandangan kontur otot trisepnya nampak jelas dari bawah sini. Di dalam genggaman tangan satunya ada sebuah botol alkohol yang terbuka. Di atas pahanya ada bertumpuk-tumpuk kapas yang berserakan; sebagian basah, sebagian lagi masih kering.

"Aku sama sekali tak berniat demikian."

"Tapi kami melihat ada unsur kesengajaan di dalamnya. Pasti kau sengaja membuat heboh satu Universitas. Nonsense." katanya dengan tekanan kalimat yang tak bisa lagi diganggu-gugat.

Kami? Apakah yang dia maksud adalah dia dan ketiga orang teman-temannya itu? Tiba-tiba aku berpikir bahwa Levi lebih banyak menghabiskan waktu dengan para pengajar dan Dekan ketimbang mahasiswa lain. Ingatanku langsung berkelebat dan kembali ke kejadian sebelum aku berada di tempat ini. Ruang Interogasi. Hukuman mati. Penembakan besar-besaran. Mengingat bahwa aku hampir mati dua jam lalu, hal itu sama sekali tidak mengusikku. Aku mengingat senapan Levi semula terpancung lurus di depan keningku, dan berlanjut menjadi gelimpang mayat Kepolisian Militer bergelimang darah. Terlalu banyak kejanggalan di dalam tempat ini. Aku tak mampu mengingat lebih jauh. Otakku masih didera nyeri hebat.

"Maksud anda?" Jemariku mencengkram permukaan seprei dan tanganku mendorong punggungku agar tegak. Ada sesuatu yang harus aku tanyakan. Namun tangan itu jauh lebih cepat dan memblokade gerakan tubuhku agar tidak condong dan tetap dalam posisi berbaring.

"Aku bilang jangan banyak bergerak."

Kalimat yang mengandung intimidasi dan otoritas miliknya langsung membuatku bungkam dan patuh. Aku dituntun untuk berbaring dan membiarkan dia kembali menuntaskan pekerjaannya.

Dua kaki dari depan tempat tidur, aku dapat melihat wastafel putih melekat di sudut sebelah kiri. Pipa-pipa air dari plafon berbaris meluncur melalui dinding menuju bagian kerannya yang masih meneteskan air. Di sebelah kanannya, tepat di bawah jendela kayu kecil berbingkai gorden putih transparan kusam yang berkibar akibat diterjang udara pagi, aku melihat sebuah meja kayu sederhana, lengkap dengan tumpukan buku-buku beraneka ukuran yang berjejer rapi di deret atas, juga diramaikan oleh tumpukan map-map hitam yang berserakan di sebelah lampu duduk berwarna merah tua. Di sudut ruangan sebelah kanan, tempat sampah hitam dengan kantung plastik sebagai wadahnya mematung sendirian. Aku tidak dapat melihat barang-barang lain yang berderet di dinding sebelah kanan karena terhalangi tubuh Levi yang sibuk menorehkan alkohol pada lukaku.

Tempatnya terasa asing, namun sekaligus familiar.

Dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Saya ada di mana, Sir?"

"Di Asrama Gedung Utara." katanya datar. "Lantai enam." Aku melihat Levi membereskan kapas-kapas di tempat tidur sebelum beringsut dan berjalan menuju tempat sampah di sudut kanan. "Kamarku."

Sejenak aku mengira-ngira bagaimana cara Levi membawaku sampai ke lantai teratas Gedung Utara yang jaraknya tiga puluh meter dari tanah. Tapi mengingat bahwa dirinya adalah seorang Levi yang sangat kuat dan menjadi mimpi buruk bagi semua Kepolisian Militer, mungkin saja hal itu bisa terjadi.

Aku melihat Levi beranjak menuju meja kecil bertaplak kaca di sebelah lemari cokelat setinggi satu meter di seberang bagian kanan tempat tidur. Nampak beberapa bungkus plastik hitam di atas permukaan meja bundar.

Ukuran kamar Levi sama seperti bilik-bilik lain di gedung ini. Berkisar empat kali lima meter dengan beberapa furnitur yang dijejali pada satu area sisi dinding. Dengan pintu aluminium di sebelah kanan dan barang-barang pribadi diproriataskan untuk diletakkan di sebelah kiri.

Kamarnya tidak remang-remang seperti kamar manapun di gedung ini, lampunya jelas berfungsi dengan baik. Tidak ada tikus-tikus balapan di atap triplek yang berlipat, tidak ada kecoak berpesta di dinding berlumut, tidak ada bau lembab dari pipa ledeng yang bocor di atas kepala, dan tidak ada air hujan yang menetes ke wajahmu ketika kau tidur. Suasananya sangat berbanding terbalik dengan tempat manapun di Universitas ini. Rasanya seperti pulang ke tempat yang tidak asing; sesuatu seperti rumah.

Tempat tidurnya hanya satu buah di sebelah kiri dengan dua buah bantal dan memiliki kapasitas untuk seorang saja. Sepreinya berwarna putih bersih dengan selimut tebal berwarna kelabu tua. Di sebelah tempat tidur sebuah ada nakas cokelat tua berpostur rendah dengan jam beker kotak kecil yang menunjukkan angka digital delapan lewat tiga. Dan di sana ada sebuah radio satu arah dan sedang tidak dalam kondisi menyala; benda tadi yang berhasil membuatku terjaga karena mendengar suara Hanji yang berteriak-teriak dari dalam sana. Aku baru saja menyadari satu hal. Mungkin benda itu yang digunakan Levi untuk terus berkomunikasi dengan teman-temannya.

Ingatanku kembali melayang ke peristiwa tadi.

Aku terlalu terbiasa berhadapan dengan eksekusi mati selama tujuh tahun terakhir. Dan selama itu pula, akan ada Armin yang datang menerobos barisan benteng warga desa, memberi pembelaan secara susah payah dan membujuk para penduduk setempat untuk menurunkan obor dan tombak mereka. Dan jika dihitung dari berapa kali aku mengalami eksekusi mati, seharusnya aku sudah tewas dihunus pisau dari para hakim desa sejak umur sembilan tahun. Jika bukan karena dipengaruhi usia mudaku waktu itu dan kehadiran Armin yang selalu setia berdiri di sampingku, mungkin aku sudah dikuburkan bersama mayat nenekku di pemakaman desa.

Dan jika bukan karena ada Armin selalu mencekokiku dengan motivasi dan petuah bijak yang menyadarkanku untuk terus hidup dan mencari kebenaran tentang diriku sendiri, mungkin tanganku sudah mengambil pisau dapur dan menyayat nadiku diam-diam di dalam kamar.

Namun di tempat ini, tidak ada Armin. Di sini, Mikasa juga memiliki sederet kewajiban yang harus dipatuhinya sebagai bawahan dan tidak memiliki akses bebas untuk menemuiku.

Di sini, tidak ada orang yang akan membersihkan namaku.

Tapi di sini, ada Levi yang tiba-tiba hadir dalam sosok yang belum pernah kutemui sebelumnya, dan menjadi satu-satunya orang yang kembali menyelamatkanku. Di sini, aku sadar bahwa aku tidak akan mampu membedakan yang salah dan yang benar. Maupun yang salah namun nampak benar, dan yang benar padahal kenyataannya salah. Levi pasti tahu jawabannya.

Aku melihat Levi sedang mengeluarkan beberapa bungkus daging-daging yang dibalut plastik bening dari dalam plastik hitam. Melihat jangkauan Levi yang berada jauh dari tempat tidur, aku langsung susah payah mendorong tubuhku sendiri dan berusaha duduk tegak sebelum dia melarangku lagi. "Sir Levi," panggilku.

Levi tak menjawab, tapi aku tahu telinganya sedang mendengar.

"Mengapa—" Kalimat itu tertahan di mulut. Aku melihatnya sedang sibuk menaruh beberapa nasi di atas piring. Aku tahu ini tidak sopan, tapi aku harus bertanya. "Mengapa anda menolong saya? Bukankah—" Aku menelan ludah susah payah. "saya seharusnya dieksekusi dan dijatuhi hukuman mati?" tanyaku susah payah. Lidahku membeku kelu. Bahkan rasanya untuk berbicara saja sulit. "Mengapa anda tidak membunuh saya saja?"

Aku mendengar Levi mendengus geli. Apa ada yang lucu dari pertanyaanku?

"Jangan berkata seperti itu, bodoh. Keberadaanmu sekarang terlalu berharga untuk dibunuh." katanya. "Tapi kau akan aman jika terasa berada di dalam jangkauanku."

Aku benar-benar tak mengerti dengan maksud dari ucapannya.

Aku kemudian melihatnya melintas di tengah ruangan menuju tempatku berbaring, duduk di pinggir tempat tidur dan di tangannya kini ada sepiring nasi. Aku tak mengerti dengan perkataan orang-orang di Universitas ini. Mungkin mereka terlalu depresi dan diserang stress berlebihan sehingga kalimat mereka sering membuatku kelimpungan. Mata elang Levi yang entah mengapa mampu membuatku tunduk patuh, kini tertumbuk lurus ke dalam mataku, membuatku tak mampu berkutik.

"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya." katanya lunak, seolah-olah sedang bertanya mengenai keadaan cuaca hari ini dan lupa dengan kejadian beberapa jam yang lalu. "Apa saja yang kau ketahui tentang tempat ini, Eren?"

Pertanyaan yang agak di luar dugaan. Tapi, aku merasa harus menjawabnya walau aku yakin jawabannya tidak akan sesuai dengan pertanyaanku. Murni karena insting naluriah, aku menjawab sesuai dengan yang ada di pikiranku."Sebuah Universitas yang menangani penjahat tanpa pungutan bayaran." jawabku, merasa tak yakin dengan jawabanku sendiri. Mungkin dia memiliki opsi lain.

Dia terlihat geli dengan jawabanku. Padahal jawaban itu memang realita yang terjadi di tempat ini.

Aku melihatnya menarik napas panjang sebelum memulai kembali pertanyaannya yang lain. "Dan apa yang kau ketahui jika ada mahasiswa yang lulus dari sini?" tanya Levi lagi, kali ini terlihat berusaha menguji pengetahuanku. Dan aku cukup kesulitan untuk memberi jawaban

Aku berpikir selama lima detik.

"Mungkin…" kalimatku tertahan di ujung lidah. "menjadi orang baik dan berguna bagi negara."

Tapi Levi memberi gelengan kasar. "Kau salah besar."

Tentu saja dia lebih tahu karena sudah sepuluh tahun berada di sini, tambahku dalam hati. Namun aku tahu jawabanku sebelumnya terdengar terlalu berlebihan.

"Apa ada jawaban lain?"

"Tidak." Levi menyanggah. "Jawabannya hanya satu dan pasti." Aku mendengar suaranya merendah. "Mereka akan bekerja untuk Pemerintah."

Itu adalah hal yang baru untukku. Sebenarnya agak mengejutkan. Pemerintah kami memang terkenal bertangan besi, walau kehadirannya bisa dibilang cukup tertutup dari media. Kehadiran Universitas ini pun tak lain juga merupakan hasil campur tangan Pemerintah yang menanggapi dengan serius perihal kriminalitas yang sedang marak-maraknya. Dan segala hal yang berkaitan dengan tempat ini dikendalikan sepenuhnya oleh para petinggi negara.

"Apa itu hal yang buruk?" tanyaku.

"Lebih baik mati di tempat kotor ini daripada diwisuda dan bertekuk lutut di depan bajingan itu."

Kata-kata itu langsung membuatku terdiam. Bajingan? Bajingan siapa? Apakah itu Pemerintah?

Aku menyadari kalimat yang meluncur dari mulutnya terdengar dingin dan menikam ulu hati. Aku merasakan ada gejolak emosi tak terbaca ketika melihat ke dalam matanya yang berkabut. Aku tahu bahwa masuk ke tempat ini adalah mimpi buruk yang nyata, tapi aku tetap enggan untuk mati di tanah ini dan aku juga tidak akan menolak jika diharuskan bekerja untuk Pemerintah. Bisa ke luar dari sini saja sungguh merupakan anugerah.

"Mengapa? Apa karena pelayanan di sini buruk?"

Kepala Levi terlihat tertunduk dan tangannya sedang memain-mainkan nasi di dalam piringnya. "Itu alasan ke dua."

"Lantas mengapa anda berpikir seperti itu?"

"Apa yang kau harapkan setelah lulus dari sini?" Pertanyaan itu diluncurkan tiba-tiba. Aku agak sedikit tergagap karena belum mempersiapkan diri sebelumnya.

"Aku—" Kalimatku tertahan. Jujur, aku belum pernah memikirkan itu semua.

Sebelum selesai berpikir, Levi melempar pertanyaan baru. Dia terlihat sudah terbiasa untuk tidak menjawab pertanyaanku dan balik menyodorkan pertanyaan lain.

"Kau mau mencari pekerjaan? Menjadi orang sukses dan tidak berpaling pada masa lalu? Membangun sebuah keluarga? Memiliki anak? Bahagia sampai tua?"

Oke, ini mulai jauh dari konteks sebelumnya. Aku tidak mengerti hubungan antara mengapa dia menyelamatkanku dan pekerjaan setelah lulus dari tempat ini. Tetapi jika ditanyai seperti itu, jawabanku hanya satu kurasa. "Mungkin aku akan kembali ke rumah orang tuaku di Desa Shinganshina dan membantu mereka di ladang."

Levi menggeleng percuma, seakan membanting kalimatku ke tanah. "Cita-citamu tidak buruk, bocah. Tapi sayangnya impian itu tidak akan terealisasikan."

"Apa maksud anda?" Suaraku berbisik pelan.

"Semua itu tidak akan terjadi, Eren."

Kalimat itu memancing keheningan yang panjang. Dan selanjutnya tidak ada satupun dari kami yang berbicara selama tiga detik selain mata kami yang saling memandang kaku.

"Mengapa?" tanyaku kemudian.

"Apa kau pernah mendengar kabar dari orang-orang yang pernah diwisuda dari tempat ini?" Mata Levi sedikit memicing.

"Tidak." jawabku pelan.

"Apa nama-nama mereka pernah disebutkan di media?" Levi semakin mendesakku lebih jauh.

Aku tahu ini adalah kejanggalan yang baru kupikirkan sekarang. Aku pikir mungkin saja pihak Universitas memiliki alasan lain untuk tidak memberitakan nasib para mahasiswa mereka yang telah lulus. Namun kedengarannya memang tidak masuk akal untuk merahasiakan identitas mahasiwa-mahasiswa yang telah berpisah dengan Universitas ini.

"Keberadaan Universitas ini hanyalah perpanjangan tangan dari para anjing-anjing Pemerintah. Kau seharusnya tahu itu. Faktanya adalah pemimpin Scouting Legion melakukan kerja-sama dengan Pemerintah untuk bersama-sama membasmi penjahat lewat jalan pintas."

Aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak pernah tahu dengan keberadaan pahit dari kenyataan itu. Namun keganjilan tersebut juga baru saja mengusik memoriku. Topik obrolan yang dibawakan Levi kali ini membuat ujung-ujung jariku membeku.

Levi meletakkan piring ke atas nakas. Seolah-olah pembicaraan ini jauh lebih penting ketimbang memberiku makan. "Tidak ada yang namanya kelulusan. Mereka akan tetap menyeretmu ke Pengadalian dan menebas kepalamu di depan Pemerintah. Dengan didirikannya neraka ini, mereka menjadi jauh lebih mudah dalam mengumpulkan penjahat dan menaruh semuanya di satu tempat untuk dimusnahkan."

Mulutku tiba-tiba mengering. Pembicaraan Levi membuat perutku bergolak. "Sir…" Aku merasakan ujung-ujung jariku membeku. Kepalaku mendadak terlalu berat untuk tetap tegak. Perasaan menjalar aneh yang dingin menyelimuti sekujur tubuhku.

"Eren," desau suara Levi terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh, namun kalimatnya terdengar teramat jernih di dalam telinga; sekalipun kata-katanya sama sekali tak membuatku merasa lebih baik. "keberadaanmu sangat tidak aman di sini. Bukan hanya kau, tapi kita semua."

Udara di sekitarku terasa kian menipis. Sorot matanya seakan mengungkung dan memenjarakan lidahku. Tanganku mendadak lemas.

"Apa maksud anda?" Tiba-tiba aku merasa kadar oksigen di sekitarku terlalu rendah untuk membuatku tetap sadar. "Maaf, Sir. Tapi saya tidak mengerti."

"Sudah banyak pemberontakan yang terjadi di dalam Universitas ini untuk melawan Pemerintah. Namun semuanya hanya berbuah kematian sia-sia. Keberadaanmulah yang justru menyelamatkan kami semua. Kau adalah bumerang untuk menampar wajah eksklusif Rektor Universitas Scouting Legion."

"Maaf, Sir. Tapi, saya… Saya benar-benar tidak mengerti."

Tubuh Levi berpindah, bahunya nyaris menyentuh dadaku. Aku menyaksikan sepasang manik jelaga itu menginspeksi mataku lebih intens.

"Eren, apa kau pernah mengenal siapa Rektor kita?"

Aku menggeleng lemah. Pertanyaan itu lebih membunuh dari bisa ribuan ular.

Wajah kami nyaris bersentuhan ketika ia membisikkan sebuah kalimat yang membuat paru-paruku merosot ke perut dan punggungku menjadi terlalu lemah untuk menopang tubuhku.

"Tapi mungkin kau mengenal siapa itu Grisha Jaeger."

Otot-ototku mati rasa. Aku tidak mampu mendengar kalimatnya lagi. Tidak. Tidak mungkin, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini tidak nyata. Jari-jariku meremas kain seprei. Aku berharap aku salah dengar. Aku mati-matian menepis kenyataan bahwa semua ini hanya ilusi. Tidak, ini tidak mungkin. Semua ini hanya delusi semu. Ini semua tidak benar. Aku berusaha menulikan telinga.

"Tidak mungkin..." Aku berbisik.

Walau pada akhirnya aku tetap mendengar kalimat itu meluncur bagai bola penghancur. "Eren. Kau adalah anak dari pemilik Universitas ini."

.

.

.

Next:

Part VI: Rivaille

A/N :

Plis bunuh saya saja karena telat nulis

Dan karena chapter depan akan diisi bagian Rivaille, mungkin bobotnya jadi jauh lebih padat dari chapter-chapter sebelumnya, karena kalau dilihat secara teknis, Rivaille tahu lebih banyak apa yang ada di USL ketimbang Eren. Dan saya akan berusaha memperbaiki tulisan saya yang masih kaku dan amatiran ini, plus banyak typo sana-sini.

PS: Semua review dan pm yang masuk sudah saya baca dan semua isinya berhasil bikin saya menggelinjang bahagia. Namun untuk saat ini mungkin balasan reviewnya jauh lebih terlambat karena ada beberapa faktor teknis, tapi saya akan tetap membalas semuanya satu per satu. Percayalah, tanpa dukungan kalian, chapter ini mungkin masih mendekam di dalam folder dan belum diselesaikan sampai sekarang. Maaf kalau gaya penceritaan saya semakin berubah tiap chapter. Saya akan berusaha agar mengembalikan bahasa di dalam cerita ini seperti di chapter satu atau dua.

Terima kasih banyak bagi kalian semua yang sudah membaca Alter. Mudahan Alter bisa terus dilanjutin sampai tamat, ya.

Sign, Rapuh