Part VI: Rivaille

Sudah lima menit dia tidak bergerak.

Ada kalanya serangan psikologis akan jauh lebih menyiksa daripada serangan fisik.

Anak itu bergeming dengan tatapan naas. Menyedihkan. Terlalu miris. Terlalu tak lazim. Terlalu—memilukan.

Aku beringsut mengambil segelas air putih dari meja makan. Eren akan sangat membutuhkannya sekarang.

Jarinya gemetar ketika gelas berpindah tangan.

"Jadi kau mengerti bagaimana situasinya sekarang, Eren?" Air di gelasnya belum berkurang. "Bukan hanya kau. Tapi aku, Erwin, semua pengajar, dan semua teman-temanmu yang malang itu sudah tercatatat di agenda kematiannya. Apa perlu kusebutkan jika tukang kebun dan cleaning service juga akan bernasib sama? Aku yakin kau tidak cukup bodoh untuk membiarkan kami semua mati sia-sia." Aku benci melihat wajah yang ragu-ragu. "Atau mungkin kau lebih berpihak pada ayahmu…"

Reaksinya mengejang seperti boneka listrik yang tersiram air. "T-tidak! Ayah saya tidak seperti itu! Dia tidak berada di sini! Itu pasti bukan Ayah saya! Dia sedang pergi ke luar pulau dan—"

"Sudah berapa lama Ayahmu menghilang?"

Mulut Eren merekat rapat.

"Aku yakin delapan tahun adalah angka yang muncul di pikiranmu."

Dan aku yakin jawabanku seratus persen benar karena mendapati ekspresi Eren yang selanjutnya adalah menuding mataku horor seperti melihat sosok pembunuh tanpa kepala di depan tempat tidur. Wajah tertohoknya semakin kandas tanpa rona darah. Pucat pasi. Kosong dan nestapa. Air di tangannya itu harus ditenggak secepatnya untuk pengganti oksigen.

Eren membuatku teringat pada sosokku sendiri di masa lalu.

Kami masuk ke kerangkeng ini karena alasan yang sama.

Bedanya mungkin dia jauh lebih sial. Dan aku juga tidak memiliki Ayah dengan otak miring sebelah yang tega menendang harga diriku ke tempat pengasingan ini.

Aku melihat Eren mulai menegak minumannya. Bahunya masih bergetar samar.

Persepsi Erwin yang memunculkan pendapat dengan adanya keberadaan anak Grisha di tempat ini awalnya terdengar tidak masuk akal. Kami semua menganggap otak rasionalnya sudah tertukar dengan milik Hanji waktu itu. Data-data statistik mengenai keluarga Grisha tidak pernah tercatat sejak gedung ini didirikan, selain itu dia adalah satu-satunya orang dengan identitas paling misterius di sini. Dan dengan mengesampingkan fakta bahwa Grisha adalah orang tua gila yang tidak akan tertarik pada wanita, tidak disangka ternyata sudah memiliki seorang anak laki-laki yang beranjak remaja.

Beruntung Grisha menyodorkan beberapa aspek yang patut dipertanyakan di pertemuan kami yang terakhir. Kehadiran map hitam Eren adalah senjata makan tuan.

Untuk membuat seseorang didepak ke dalam Universitas Scouting Legion dengan status "mahasiswa map hitam", ada dua komponen yang harus terpenuhi dan diarsipkan ke dalam dokumen bagian logistik.

Komponen dasar yang pertama adalah adanya saksi mata. Minimal sang pelapor harus menghadirkan dua orang saksi mata dalam kasus berat; satu untuk yang menyampaikan kronologi dan satu lagi di posisi korban. Jika kedua tipe saksi mata itu tidak terpenuhi, maka satu saja sudah cukup; dengan catatan: minimal tetap harus ada dua orang saksi mata. Dan mengingat dengan adanya keberadaan dari map aneh itu yang jelas-jelas tidak lengkap, peraturan pertama sudah dilanggar dengan cukup gamblang. Tidak ada saksi mata, namun ada korban. Bagaimana mungkin Grisha tahu jika kematian korban tersebut adalah hasil perbuatan Eren bila tidak ada saksi mata? Oh, tentu semua itu akan masuk akal jika dia sudah mengenal Eren sebelum ini, atau mungkin saja dia adalah salah satu saksi matanya.

Komponen kedua adalah komponen penunjang, komponen yang bisa menyokong peraturan pertama jika tidak terpenuhi—biasanya dengan situasi di mana korban sudah mati atau kondisi di mana saksi mata tidak berani mengaku—adalah dengan adanya keberadaan barang bukti. Klasik. Jika komponen pertama tidak memungkinkan para penyidik untuk memperoleh dua saksi mata dalam persidangan seorang mahasiswa, maka barang bukti bisa membantu. Hanji dan teman-teman sintingnya itu bukanlah sekelompok orang gila yang dengan mudah memasukkan suatu barang bukti ke dalam laporan. Semua itu memerlukan proses yang panjang, penyelidikan, analisa, dan pengumpulan barang bukti forensik lainnya dari lapangan. Ya, Eren memang boleh dikatakan tidak harus memenuhi peraturan kedua karena kasusnya adalah kanibalisme dan segala yang dia butuhkan hanyalah gigi untuk mengunyah. Tapi apa pernah ada pemeriksaan terhadap gigi-gigi Eren mengenai DNA-DNA dari korban atau identifikasi potongan daging dari manusia yang sudah tercabik-cabik akibat dirinya? Tidak pernah ada.

Dan ada pula satu komponen yang tidak terlalu penting, yaitu situasi di mana si pelaku sendiri yang mengaku telah melakukan kejahatan dan akhirnya menyerahkan diri dengan sendirinya. Sering ditemukan dalam kasus anak-anak Hijau yang sudah terpipis-pipis di celana duluan ketika melihat Kepolisian Militer. Namun tak jarang fenomena ini juga ditemukan di kalangan Merah dan Kuning yang berlagak sok berani terhadap petugas keamanan. Eren jelas tidak akan masuk ke dalam kategori ini.

Namun ada satu hal yang membuatku semakin bertanya-tanya dengan sosok anak misterius ini sejak awal. Yaitu ketiadaan nama keluarga di belakang namanya. Sudah tertera jelas di peraturan bahwa alamat lengkap dan informasi dari keluarga mana dia berasal adalah salah satu syarat agar seorang anak bisa diterima di Universitas Scouting Legion. Lalu bagaimana mungkin sosok anak dengan identitas ganjil dan rancu tiba-tiba muncul begitu saja di lembaran map hitam tanpa alasan yang jelas? Oh,aku yakin betul itu bukanlah suatu kebetulan yang lazim.

Dan mengapa Grisha seolah-olah sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari publik—sesuatu yang bersifat sensitif—dengan mengambil langkah untuk mengeksekusi anaknya sendiri? Ingin menyembunyikan aib, huh? Sekarang semua orang telah mengetahui borokmu, Pak Tua.

Eren harus belajar menerima itu semua. Eren harus menerima kenyataan bahwa Ayahnya adalah pesakitan kelas kakap yang mendedikasikan sisa hidupnya untuk perut-perut berlemak Pemerintah. Eren akan menjadi korban selanjutnya, itu tidak bisa dipungkiri lagi. Dan sama halnya dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang terperangkap di penjara naas berlabel instansi pendidikan ini—bangunan tua yang mereka sebut-sebut sebagai Universitas—mereka semua akan mati dengan cara paling tidak manusiawi.

Tapi jika Eren tidak cukup bodoh dan tetap ingin meletakkan bokongnya di tempat kotor ini, maka dia harus menghapus seringai menjijikkan semua dedemit bodoh itu.

Tidak. Eren harus melawan.

"Sir," Suara Eren yang sayup membuatku melirik. Aku menyadari ekspresi kaku yang semula merembes di seluruh wajah badungnya kini luntur menjadi semburat kesedihan pekat. "Anda belum memberikan bukti bahwa Ayah saya adalah pemilik Universitas ini. Dan saya tidak bisa percaya begitu saja dengan anda. Ya, memang benar dia sudah menghilang sejak delapan tahun lalu… tapi… Tapi saya tak pernah mendengar dia bekerja di tempat ini."

Pertanyaan bodoh lagi. Helaan napas dari hidungku berhembus percuma. Aku malas mengulang perkataan, tapi otak bocah ini perlu direkonstruksi ulang.

"Apa perlu dilakukan tes DNA?"

Hening panjang mengunci bibir kami berdua.

Eren menggigiti bibirnya bawahnya yang kering dan membiru dalam-dalam. Kedua bahunya bergetar pelan dan—oh, sial. Menangis bukanlah respon yang aku harapkan untuk saat ini.

Eren yang ada di hadapanku sekarang berbeda dengan yang tertampil di foto laporan. Tidak ada lagi sosok bocah berandal dengan sorot mata abnormal kelewat berani yang dominan. Semua bayangan anak heroik itu terhapus oleh kehadiran remaja ringkih yang kurus dan mengenaskan. Jaketnya pun hanyalah tipuan. Aku tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Grisha hingga membuat Eren menjadi seperti ini. Dia bahkan jauh lebih kurus dari Hanji.

Sekarang apa yang bisa kulakukan agar membuatnya bisa merasa lebih baik? Aku tidak pandai merangkai kata-kata dalam menyusun bujukan. Ada banyak cerita yang belum kusampaikan, tapi kelihatannya suasana hati Eren sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk membuat kesadarannya tetap menyala dalam beberapa menit ke depan.

Aku membenci orang lemah tapi—

Ya. Begini saja. Kau benar. Sandarkan kepalamu di bahuku seperti itu. Begini lebih baik. Menangislah sepuasmu. Aku tidak akan pergi sampai kau merasa tenang. Aku tidak akan melarang. Lakukan hal apapun yang bisa membuatmu baikan. Kau boleh mengotori bajuku dengan air mata dan ingusmu yang jorok itu. Kau sangat memerlukannya untuk saat ini.

Rambutmu kasar, jariku memang tidak lembut, tapi aku akan berusaha membuatmu merasa tenang.

Kita masuk ke tempat ini karena alasan yang sama, kau tahu. Kita akan mencari kebebasan bersama-sama.

Rembesan air hangat menembus baju. Untuk kali ini saja, bocah. Karena yang selanjutnya kau harus mencucikannya untukku.

.

.

.

ALTER

A Shingeki no Kyojin fanfiction by Raputopu

Shingeki No Kyojin/Attack on Titan © Hajime Isayama

warning: AU, ooc, typo, mature content, chara death

.

.

.

Setelah memastikan Eren menghabiskan sarapannya, aku berjalan meninggalkan kamar—setelah sebelumnya memerintahkan Eren untuk tidak sekali-kali angkat kaki dari kamarku. Kunci kamarku terlalu jelek sampai-sampai akan mudah didobrak oleh siapapun, namun hingga saat ini beruntung tidak ada orang tolol yang cukup berani masuk ke area itu. Aku harap Eren agak sedikit pintar untuk tidak kabur dari sana.

Sejak kejadian di mana Eren kuseret meninggalkan Ruang Interogasi, Erwin tak henti-hentinya memanggilku.

Setelah insiden tadi pagi, semua pengajar mendapat teguran keras. Dampak dari tindakanku dibebankan sepenuhnya pada Erwin sebagai bagian dari tanggung-jawab Dekan.

Hubunganku dengan Erwin seperti arus timbal-balik antara bawahan terhadap atasan. Tidak lebih. Laporan pembelaan Erwin selalu menjadi tameng perlindungan untuk kami di tiap persidangan. Erwin, jika dipasangkan dengan Hanji adalah duo pembantah hebat. Tapi aku tahu Erwin memang tidak pandai dalam memutar-balikkan tuduhan dari Rektor yang arogan, namun dia selalu menyiapkan keterangan otentik untuk membuatku tetap bertahan di persidangan. Sedangkan Hanji—ah, sudahlah, si kacamata itu memang pada dasarnya terlalu bersemangat saja.

Di lorong lantai enam, para mahasiswa tahun keempat yang baru pulang dari pesta pemakaman sudah tiba di asrama mungkin sekitar lima menit yang lalu, berlalu-lalang masuk ke dalam kamar dengan baju basah kuyup dan wajah letih. Sekarang sudah pukul delapan dan waktunya sarapan.

Dan itu adalah waktu sarapan terlama yang pernah ada selama aku hidup di sini.

"Ganti baju kalian! Yang sudah langsung turun ke kantin! Kantin akan ditutup pukul delapan lewat dua puluh! Aku tidak peduli dengan yang terlambat!"

Aku yakin tidak ada jagoan yang cukup pongah untuk menolak makanan gratis, semua ingin cepat-cepat melesat ke kantin.

Jumlah kamar di lantai enam ada dua puluh ruangan yang saling berhadapan dan dipisahkan koridor kecil selebar dua meter. Dengan jalur rapat yang sangat minim ditambah jejalan manusia-manusia bau hujan yang bergerombol liar di tiap-tiap pintu kamar membuat tempat ini tak ubahnya seperti antrian brutal di stasiun kereta api Sina.

Aku benci dengan suasana yang terlalu ramai.

Aku melihat siluet Kaney berdiri di sebelah pintu kamarnya dan bersandar lesu dengan gaya rangah bak preman di pasar buah.

"Sedang menyembunyikan sesuatu, eh?"

"Itu bukan urusanmu." balasku datar.

.

.

.

Aku meninggalkan asrama Gedung Utara dan berjalan melewati jalan setapak batu-bata menuju Gedung Dosen yang jaraknya sekitar tiga puluh meter dari sini.

Awan kelabu gelap menguasai langit dan gerimis mulai menyerang.

Ukuran Gedung Dosen tidak terlalu besar seperti gedung-gedung yang lain. Bentuknya rendah, luas, terdiri dari dua lantai, dan dikelilingi pilar-pilar besar yang kokoh. Atapnya dipahat menyerupai garis-garis simetris yang berpusat di puncak, memiliki wujud seperti kubah raksasa dengan sebuah dekorasi ujung yang meruncing.

Para staf yang bertugas untuk melatih dan mengawasi mahasiswa kriminal memiliki tempat kerja di lantai dasar, lengkap dengan segala atribut administrasi dan pernak-pernik tidak penting lainnya. Tugas utamanya adalah untuk mendata seluruh mahasiswa yang resmi terdaftar, mulai dari mahasiswa prematur yang baru masuk hingga mahasiswa yang mengganti warna gelang. Lantai dua adalah tempat khusus bagi para Dosen-Dosen utama yang bertugas untuk memberikan pelajaran psikologi pada penjahat-penjahat kecil itu agar menjadi orang yang rapuh dan mudah dikendalikan. Mereka sebut itu pengendalian karakter. Aku menganggap semua itu pencucian otak.

Ruang pribadi Erwin terletak di lantai dua. Berjejer dengan dua ruang Dekan lainnya. Kami terkadang berdiskusi diam-diam di salah satu ruang-ruang itu.

Aku sudah mengetahui wajahnya sejak lama sekali, sekitar delapan tahun yang lalu. Dan hampir setiap minggu aku menghabiskan sore yang jenuh di ruangan pribadinya yang kecil, dibentengi rak-rak buku antik berukir jepara dan dinding krem berselimut bentang peta-peta raksasa berdebu. Ada sebuah meja besar tempat kami biasa bertukar-pikiran dan gramofon tua di sudut dinding. Seluruh lapisan interior ruangan didesain dengan dominasi warna cokelat tua.

Visual ruangan ini sudah melewati batas lebih dari kata familiar.

Dan dia di sana, berdiri bergeming dan bertatap muka dengan jendela yang berembun, membelakangi meja kerjanya yang besar dan artistik, berdiri kaku tidak seperti biasanya. Wajahnya terpantul dalam visual kabur lewat refleksi kaca yang beruap. Segala yang kulihat hanyalah punggung tegak dan dua tangan yang bertautan dalam posisi istirahat. Gelagat kaku Erwin membuatku curiga, belum lagi karena sebelum ini dia sudah beradu lidah dengan Grisha mengenai keberadaan Eren. Dan aku tahu segala hal yang berhubungan Grisha tidak akan pernah berujung harmonis.

Erwin tetap bertahan di tempatnya bahkan setelah mengetahui keberadaanku di ruangan ini. Aku melintas di atas permadaninya dan dia langsung angkat bicara.

"Kau tidak benar-benar membunuh para Polisi Militer. Apa itu disengaja?" Erwin langsung menggiringku ke dalam poros masalah.

"Ya." balasku lambat. Aku mengambil gelas di pelataran rak-rak cokelat gelap di sebelah meja kerjanya. "Aku tidak ingin berhadapan dengan sidang manapun tahun ini. Aku ingin istirahat."

"Tindakan untuk menolong Eren sudah melewati prosedur. Kau mungkin akan berhadapan dengan sidang lagi untuk waktu yang tidak lama. Dan tidak seperti sidang-sidang sebelumnya, Eren akan diikutsertakan."

Aku membuka lemari kecil di atas dispenser dan mengambil kantung teh hitam dari dalam kotaknya."Aku yakin Grisha tidak cukup goblok untuk membawa anak kanibalnya ke persidangan publik." balasku datar. "Aku bisa menyerangnya di persidangan."

"Benar, kecuali jika dia tetap berkomitmen dengan keputusan yang dia ambil sebelumnya dan memasang target untuk rencana baru." Erwin menyanggah ketika punggungnya akhirnya berbalik. Aku tidak pernah takut dengan rencana Grisha sepelik apapun rupanya. "Apa saja yang kau ceritakan pada Eren?"

"Aku menceritakan hal-hal yang diperlukan saja. Hanya tentang Grisha." Aku berkata lamat-lamat sembari mengisi air panas ke dalam cangkirku. "Tidak lebih."

"Keadaannya?"

"Syok berat."

"Kau tidak menyinggung apapun soal Ibunya?"

Ah, masalah itu. Erwin terlalu khawatir dengan psikologi Eren.

Kami pernah mengangkat topik tersebut sebagai titik-berat di dalam rapat kami. Aku beranggapan itu adalah kejahatan terbesar yang pernah kutemui selang sepuluh tahun terakhir. Siapa sangka Eren dengan tubuh rentan seperti itu bisa melakukan perbuatan brutal lebih dari sekedar kanibalisme? Dan dengan mengetahui fakta bahwa dia melakukan segalanya di luar kesadaran adalah hal yang membuatku tak habis pikir dengan kewarasannya sekarang.

Aku baru memberi tanggapan ketika duduk di kursi tamu, mencari area beludru yang dingin dan duduk dengan nyaman. "Perihal 'itu'? Tentu saja tidak. Aku tidak cukup gila untuk membuat seorang anak enam belas tahun kena serangan jantung."

"Cepat atau lambat dia akan tahu." Erwin mengandaskan segalanya.

"Benar. Dan itu ide yang buruk." balasku datar, mengangkat satu kaki ke atas paha dan bersandar tegak. "Segalanya akan menjadi berantakan jika dia tahu apa yang dia perbuat dengan Ibunya."

Semua orang pasti akan gila jika ada di posisi Eren. Mungkin saja dia akan memakan kami semua. Mungkin saja dia akan memakan dirinya sendiri.

Namun memang benar dengan apa yang diungkapkan Erwin. Eren akan mengetahuinya seluruh kebenarannya di kemudian hari.

"Kau yakin ingin melibatkan Eren untuk ini semua?" tanyaku dongkol, mengaduk air hitam pekat di dalam cangkir. Aku menonton kerutan di wajahku sendiri yang mengeras di dalam sana. "Apa yang kau harapkan darinya? Menjadi bagian dari tentara rahasiamu? Bagaimanapun keberadaan Eren yang sekarang masih sangatlah prematur untuk menyentuh taring Universitas ini. Bila salah bertindak, bukan tidak mungkin jika malah kita yang akan membahayakan keselamatannya."

Aku menyambung kembali kalimatku sebelum menenggak minumanku dengan nikmat. "Walau sebenarnya aku sangat mendukung hal itu."

"Kasus kematian Marco di wilayah sekolah akibat ulah Eren adalah cerminan pemberontakan tidak langsung. Bukankah fungsi utama sekolah ini adalah untuk membuat para kriminal jera dan tunduk sepenuhnya pada para pengajar dan Polisi Militer? Memberikan perlawanan pada staf sekolah sama saja dengan pembangkangan terhadap sistem otoritas Universitas dan Pemerintah." Gurat wajah Erwin nampak jelas ketika lampu menyiram sosoknya. "Figur Eren bisa mendorong mahasiswa lain untuk memberontak."

Aku tahu ke arah mana pembicaraan Erwin akan berujung.

"Maksudmu kau ingin mencuci otak Eren untuk menjadikannya anak durhaka untuk melawan Ayahnya sendiri?"

"Jika kita tidak mencobanya sekarang, sekolah ini akan terus-terusan menjadi ladang peti mati yang tidak ada habisnya. Pemerintah akan terus menyeleksi para lulusan terbaik yang memiliki kompetensi bertarung untuk dimasukkan ke dalam Pasukan Penjaga demi menjaga reputasi mereka sebagai pasukan pembunuh terunggul. Bila kita tidak bertindak dini, akan semakin banyak lulusan yang memenuhi kapasitas pasukan itu dan kita tidak akan memiliki apapun untuk melawan." Aku terus mendengarkan Erwin berbicara tanpa melihat ke arahnya. "Doktrin mereka harus dipatahkan. Masyarakat kita tidak bisa terus-terusan hidup sebagai budak Pemerintah dan mengabdikan diri sepenuhnya pada mereka. Mereka berhak menentukan pilihan hidup mereka sendiri sekalipun mereka adalah penjahat."

"Aku sudah tahu itu." bantahku. "Jadi maksudmu kau ingin melibatkan Eren untuk semua ini?" Aku mengulang kembali pertanyaanku.

"Kehadiran Eren akan banyak membantu." Erwin tak memberikan jawaban sesuai yang aku harapkan.

Aku menegak teh hitam lamat-lamat. "Hanya karena dia anaknya Grisha dan bisa menjadi serangan balik untuk kakek itu belum tentu kita akan berhasil mengalahkan mereka."

"Eren bisa membuka langkah awal kita pada pemberontakan."

Jangan lagi. Aku meletakkan cangkir Erwin hati-hati ke atas meja dan angkat bicara.

"Asal jangan ada kematian yang sia-sia." Aku mengingatkan. Nada keras. Peringatan. "Kau tahu aku paling membenci itu." balasku tajam sambil melipat tangan.

Erwin tidak bereaksi untuk meladeni ucapanku. Dia memutar tubuhnya menatap jendela basah tanpa berbicara lagi.

Segala obrolan kami seketika tertelan oleh bunyi hujan.

Sirine merah tua di ruangan Erwin tiba-tiba menyala dan mengagetkanku dengan bunyi sialnya.

Aku mengutuk bagi siapapun yang sudah merakit piranti kerdil dengan suara hingga radius tiga puluh meter itu. Benda hitam itu tidak akan menyala kecuali jika ada panggilan dari Grisha. Aku menatap Erwin yang kini berdiri geming dan menatap tajam perangkat kecil itu dari jauh.

Kami sama-sama mencoba menduga tujuan dari panggilan ini. Dan pikiran kami sama-sama tertumbuk pada satu hal.

"Kau harus menjaga Eren mulai sekarang." pinta Erwin, dengan suara paling lemah yang pernah kudengar. "Mulai sekarang anak itu yang menjadi tanggung-jawabmu."

Sorot mata Erwin lain dari sebelumnya. Lidahku terkekang di dalam mulut dan aku tak bisa berbicara banyak. Lalu aku melihat Erwin melintas di sebelahku begitu saja sebelum aku tuntas menghabiskan minuman. Ekspresi Erwin kelewat ganjil. Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Dan aku tak punya hak untuk melarangnya pergi. "Hanya itu yang ingin kusampaikan untuk hari ini." Suaranya berhembus seperti angin pagi.

"Selamat tinggal."

Tepukan pelan mendarat di sebelah bahuku sebelum Erwin beranjak pergi meninggalkan ruangannya.

.

.

.

Setelah menghabiskan minuman dalam kesendirian di ruangan Erwin, aku berjalan keluar meninggalkan Gedung Dosen. Tuntutan pekerjaan memaksaku untuk berjalan menuju Kantin. Untungnya jarak antara Gedung Dosen dan Kantin hanya berkisar dua belas meter, sehingga ketika tiba di sana, keadaanku tidak benar-benar basah.

Aku melewati Aula, menaiki tangga, melewati lorong lantai dua dan membuka pintu Kantin, menyaksikan setiap kursi masing-masing telah terisi oleh manusia.

Setelah menghitung seluruh jumlah mahasiswa pria yang duduk di meja grup Merah dan menyamakannya dengan nominal yang tertera di dalam daftar hadir milik Petra, aku menyadari ada lima orang yang tidak tercatat dalam absensi. Karena Eren tidak masuk hitungan, berarti sekarang ada empat orang kurang ajar yang bokong kudisannya perlu diseret paksa ke tempat ini.

"S-Sir," Suara rendah takut-takut milik seorang wanita bergaung di sebelahku.

Petra berdiri tak jauh dari sini. Dengan apron putih bernoda saus tomat dan minyak makan yang terciprat tidak karuan di mana-mana. Sarung tangan plastik miliknya menimbulkan bunyi kesat ketika ia menangkupkan kedua tangan dan menautkan jari-jemarinya dengan gelagat gelisah. Dia selalu seperti jika bertemu denganku. Rambut warna jahenya yang mengeras karena keringat pun tak digubrisnya walau sudah menutupi satu mata. Apa dia sudah mulai tertular penyakit sembelitnya Hanji?

"Ada apa?"

Dia baru angkat bicara ketika mengajakku duduk di kursi plastik di sebelah pintu masuk yang terbuka lebar, tempat di mana Polisi Militer maupun mahasiswa tidak banyak menghabiskan waktunya untuk berlama-lama di sini. Areal terbuka untuk rehat bagi para pengajar yang lelah berteriak-teriak seharian akibat mengalami tekanan setelah meladeni mahasiswa bebal yang berkelakuan seperti anak kecil di meja makan. Dari sini aku lebih mudah mengawasi keberadaan delapan meja makan raksasa yang ukurannya seperti panjang tubuh Titan.

"Saya dengar Anda dan para Polisi Militer terlibat masalah pagi ini?" Suara Petra menyadarkanku. Gerlingan mata jingganya yang khawatir menerawang jauh ke dalam mataku.

Aku membalas dingin. "Aku memang selalu terlibat masalah dengan Polisi Militer." jawabku ketus.

"Tidak, tidak." Dia menggeleng cepat. "Maksudnya…" Lidah Petra terlihat kesulitan mengatakan sesuatu. Tampangnya jadi mencurigakan. "ketika Anda menolong seorang anak laki-laki dari Polisi Militer… Itu… benar-benar… tindakan yang heroik." ucapnya dengan senyum canggung.

Dia pasti bercanda. Itu sama sekali tidak heroik. Aku melanggar perintah Grisha dan tidak sepantasnya dia memujiku. Dan kenapa berita di dalam Universitas ini cepat sekali menyebar?

"Dari mana kau dengar berita itu?"

"Auruo menceritakannya pada saya ketika sedang saya sibuk memasak. Katanya dia mendengar desas-desus itu dari obrolan mahasiswa Merah."

Aku menahan tensi yang sudah memuncak ke ubun-ubun. "Si mulut ember itu..."

Melihat perubahan ekspresi pada wajahku, Petra tertawa, mencoba mencairkan suasana. "Sosok Anda yang unik itu selalu menjadi bahan pembicaraan anak buah sendiri."

Walau menyedihkan, memang itu kenyataan.

Dan aku tidak unik.

Aku harus segera angkat kaki dari kantin karena teringat ada bocah labil yang masih mendekam di kamarku sekarang. Sebelum ingusnya yang jorok itu mengotori bantal dan seprei, aku harus segera tiba di sana sebelum terlambat. Tapi sebelumnya aku harus memastikan situasi kantin sedang dalam keadaan kondusif dan anak-anak makan seperti manusia normal.

"Bagaimana keadaan kantin sebelum ini?"

"Hmm…" Petra melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, memandangi sosok beberapa mahasiswa yang mulai bangkit berdiri dan membawa piring mereka menuju dapur pencucian. "Sejauh ini baik-baik saja." Baru saja hendak pamit dan bangkit berdiri, Petra kembali berkata. "Tapi tadi sempat ada masalah dari meja putri Merah terhadap dua Polisi Militer." Petra tersenyum miris. "Ymir dan teman-temannya. Seperti biasa."

Lagi?

"Apa ada yang terluka?"

Petra menggeleng.

Wanita jadi-jadian itu. Ulah Ymir selalu menjadi sorot perhatian para pengajar akhir-akhir ini. Sebagai seorang kepala asrama putri Merah, dia sama sekali tidak menunjukkan indikasi berpihak pada Universitas. Untuk di wilayah mahasiswa putri sendiri, dia adalah pencetak rekor dengan nama terbanyak di daftar catatan hitam. Entah apa yang ada dipikiran Erwin saat itu dengan menarik keputusan untuk tetap mempertahankan perempuan tersebut di puncak jabatan asrama. Anak buah yang ditangani Ymir adalah yang paling sedikit di antara enam kepala asrama, tetapi dia adalah satu-satunya yang paling bermasalah di dalam komunitasnya.

Ymir adalah sosok inovator pemberontakan radikal. Dia selalu memberontak pada Polisi Militer sejak tiga tahun silam. Selain aku, Ymir juga memiliki koneksi dengan para petinggi Universitas Scouting Legion dan menjalin relasi yang cukup baik dengan mereka. Aku yakin dia juga sudah mengetahui segala seluk-beluk tentang tempat ini dan menjadikannya sebagai sulut pemberontakan. Tetapi dia tidak cukup handal untuk mengumpulkan sekutu dan mengajak mahasiswa lain untuk melawan. Kabarnya sekarang dia menarik Annie untuk ikut ke dalam pasukan kecilnya, tapi aku tidak tahu pasti bagaimana kelanjutannya.

Dan aku tidak melihat Ymir sekarang.

"Lalu bagaimana selanjutnya?"

"Seperti biasa pula, seseorang datang dan langsung melerai." Petra menanggapi santai. Dia menyelipkan rambutnya yang berminyak ke sela-sela telinga. "Mikasa Ackerman. Sejauh ini tidak ada masalah yang tidak berhasil ditangani olehnya."

Berarti tidak ada masalah lagi. Sebelum aku beranjak pergi, Petra kembali memanggilku.

"Sir. Anda yakin tidak ingin makan dulu?" Dia bertanya dengan antusias.

"Nanti saja. Aku masih ada urusan." tolakku pelan.

Aku tiba di puncak asrama tiga menit kemudian dan berjalan di sepanjang lorong lantai enam sambil mengawasi pintu-pintu kamar. Ada empat orang yang tidak tercatat dalam absen. Bandit-bandit sialan…

Lantai tiga hingga lima bersih. Berarti kemungkinan terakhir mereka berada di—tunggu sebentar. Ada segaris cahaya dari sela pintu terbuka di kamar paling ujung.

Sial. Itu kamarku. Kakiku menghampiri pintu secepat mungkin.

Ada sembilan kemungkinan terburuk yang tumbuh di pikiranku untuk saat ini, tapi satu yang paling adalah—

kurang ajar. Anak itu benar-benar kabur.

.

.

.

Seprei ditinggalkan dalam keadaan kusut. Piring kosong ditelantarkan di atas nakas. Jaket hitamnya yang tergantung di kursi pun lenyap. Beraninya si bodoh itu berkeliaran di luar pengawasanku.

"Mencari barang hilang, huh?"

Suara Kaney adalah rudal yang spontan membuat emosiku bergejolak.

Aku melewati dua pintu yang memisahkan bilik kamar kami berdua, menghampiri sosoknya yang berdiri menumpu pada bingkai pintu dengan wajah memuakkan seolah-olah hidupnya tak pernah dihinggapi perkara. Aku menatap asap rokok yang meliuk mengitari wajah keriputnya itu sama sekali tak mengaburkan kilatan tajam di dalam mata elangnya.

Si bangsat ini.

Dia adalah satu-satunya penghuni asrama yang berperangai seperti anjing liar, keluyuran kesana-kemari, bertualang mencari mangsa untuk dieksploitasi, dan selalu mencuri kesempatan untuk bermain api dengan para Polisi Militer.

Namun ada benteng transparan yang terbentuk di sekitarnya akibat relasinya dengan Grisha—dia adalah mata-mata Grisha atau sebangsanya—membuatku tidak memiliki hak untuk menonjok dagu runcingnya itu. Dia bukan sekedar mahasiswa biasa. Orang ini adalah monitor bagi Universitas Scouting Legion untuk mendeteksi mahasiswa yang ingin menghancurkan pondasi kekuatan Universitas ini dari dalam. Kaney selalu mengawasi tindak-tanduk kami selaku orang-orang penting. Dan sudah banyak nyawa yang tercabut sia-sia akibat perannya itu.

"Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui?" tanyaku sinis. Berusaha tidak termakan omongannya.

"Aku selalu tahu. Tepatnya aku akan selalu berada satu tingkat di atasmu." Rokoknya yang sudah setengah habis dibanting ke lantai. Menghembuskan sisa-sisa asap ke wajahku. "Kali ini kau melibatkan anak kecil, huh?" Dia memandangiku sesaat sebelum kembali membuka suara. "Semoga berhasil dengan usahamu yang sia-sia itu."

"Di mana dia?"

"Mengapa kau tanya padaku?"

Aku tidak bodoh. "Di mana dia!"

Matanya menatap tajam. Namun aku sama sekali tidak takut. Lalu dia mengalah.

Helaan napas keluar seiring kalimatnya. "Berlari keluar dari kamarmu. Mukanya bagai dikejar setan. Seperti anak kecil yang hilang di tempat perbelanjaan dan mencari-cari Ibunya."

Si tolol satu itu

"Sudah berapa lama dia pergi?"

"Kisaran sepuluh menit yang lalu." jawab Kaney. "Sebaiknya kau temukan dia sebelum keduluan Kepolisian Militer." Aku melihat seringai di wajahnya mekar.

"Ke mana dia pergi?" tudingku.

"Kenapa tanya aku? Mana aku tahu."

"Bukankah kau selalu mengintainya?" Gigiku bergemeretak.

Mata Kaney menyipit. Wajahnya yang mengeras menjadi jauh lebih serius dari sebelumnya. Aku tahu dia tidak akan suka dengan pertanyaan ini.

"Mengintai." Suara Kaney meninggi. "Bukan menangkap." Kaney menaikkan ujung topinya agar bisa melihatku lebih jelas. "Mungkin tidak untuk sekarang."

Satu-satunya hal yang memotong percakapan kami adalah bunyi lonceng dari kejauhan. Dentum tiga kali yang lambat. Kami berdua sama-sama tahu sinyal tersebut adalah isyarat kematian. Pertanda di mana seseorang baru saja atau akan menemui ajalnya.

Tidak. Itu bukan lonceng kematian Marco. Pastor Nick sudah membunyikannya ketika tim penyidik menemukan mayat Marco tiga hari yang lalu. Lalu…Ada yang mati lagi? Dua dalam seminggu? Siapa lagi kali ini?

"Kelihatannya seseorang akan memerlukan penghormatan terakhir." Siluet kilatan mata tajam dan suara Kaney yang rendah menunjukkan gelagat seolah-olah dia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui.

Aku memandang lurus ke dalam mata gelapnya.

Orang tua ini benar. Dia akan selalu berada satu tingkat di atasku.

.

.

.

Intuisi menggiringku menuju Gedung Pertemuan.

Ketika tiba di sana aku langsung berpapasan dengan banyak sekali Dosen, para staf-staf pengajar, Polisi Militer, dan lima kepala asrama lainnya yang terlihat berdiri menunggu di beberapa titik, mengasingkan diri satu sama lain.

Aku melihat Mikasa langsung melempar pandangan negatif dari kejauhan. Sorot mata tajamnya terlihat kentara sekali walau jarak kami terpisah lima belas meter. Setelah membalas tatapan dingin itu sesaat, aku melihat dua kepala asrama dari Hijau dan Kuning berkumpul di sebelah meja kayu panjang, berbincang bisik-bisik, Farlan dan Samuel, isyarat dari wajah keduanya tercermin seolah-olah topik mereka sangat rahasia dan tertutup, sehingga mereka nampak anti untuk berbagi. Di sisi sebelah Timur, Ymir dan Historia, masing-masing kepala asrama Merah dan Hijau, berdiri saling bertatap muka dengan posisi Historia yang meringkuk terpojok, sudah dua tahun mereka terlihat selalu bersama-sama dan memercikkan spekulasi yang absurd di kalangan kepala asrama lainnya; aku tidak ingin membayangkannya. Bagaimanapun sosok anak baik-baik dari gadis kecil berambut pirang itu terlihat timpang dengan kepribadian Ymir yang amburadul.

Gedung Pertemuan adalah pusat dimana arus-arus manusia di dalam Universitas Scouting Legion akan berkumpul, poros di mana gedung-gedung besar seperti Gedung Olahraga, tempat ibadah, Gedung Pelatihan, Gedung Asrama, dan gedung-gedung lain berdiri mengitarinya. Gedung setinggi tiga puluh meter dengan struktur persegi polos dan konstruksi berbahan utama beton hitam ini akan menghubungkan lima ruangan primer. Aula, Kantin, Ruang Interogasi, Ruang Rapat, dan Ruang Eksekusi, tidak ada ruang khusus untuk pertemuan dengan orang tua mahasiswa.

Aku mengerti mengapa Eren harus dimasukkan ke dalam Ruang Interogasi. Karena ruangan itu terletak di lantai paling atas, lantai tiga, dan berada jauh sekali di pojok. Selain itu tidak ada jendela atau akses manapun yang membuat orang di luar mampu melihat apa yang terjadi di dalam, kecuali sebuah pintu kecil dengan tinggi lima sentimeter yang lebih tinggi dari tubuh Erwin, satu-satunya jalur yang tersedia. Beda halnya dengan Ruang Eksekusi, sepenuhnya terbuat dari kaca anti peluru, sedikit lebih besar dari Ruang Interogasi dengan dominasi dinding berwarna putih pucat, didesain demikian agar setiap orang dapat dengan leluasa menyaksikan drama kematian dari awal hingga akhir. Dan setiap eksekusi wajib dihadiri oleh Rektor, itulah alasan mengapa Grisha melakukan sesi kematian Eren di dalam Ruang Interogasi.

Riko Brzenska, seorang pengajar dengan sosok wanita mungil berambut pirang yang pendek, mengenakan kacamata, dengan wajah serius yang terpancar lewat dua mata abu-abunya, menghampiriku yang baru tiba.

"Levi," Aku menangkap ada keragu-raguan di dalam suara dan matanya, campuran antara ekspresi kalut dan gelisah yang kentara. "Kau harus ke Ruang Eksekusi sekarang."

Alisku mengernyit. Lagi? Dua eksekusi dalam sehari? Siapa lagi yang—

Tenggorokanku tiba-tiba mengering. Ada satu nama yang langsung berkelebat cepat.

Eren. Jangan katakan jika Grisha akan membunuh anaknya sendiri di depan publik.

"Siapa lagi yang akan dieksekusi kali ini?" tanyaku curiga.

"Kau harus melihatnya sendiri. Beberapa Dekan sudah menunggu di atas. Pembacaan sidang sudah dimulai dua menit yang lalu."

Itu menjelaskan alasan mengapa mereka semua tidak terlihat sejak tadi.

"Mengapa yang lain belum naik?"

"Karena dia hanya memanggil orang-orang tertentu untuk mengikuti jalannya eksekusi." Riko menjawab dengan sangat pelan.

Aku mulai merasakan keganjilan.

Aku mendengar ribut-ribut derap kaki dari tangga sebelah Barat. Dua Polisi Militer muncul di bawah tangga dengan persenjataan lengkap, kehadiran sosok mereka sontak menghentikan segala aktivitas yang terjadi di dalam Aula. Aku melihat salah seorang dari keduanya, yang bertubuh gempal dan tinggi besar, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Aula, berseru lantang dan membuat seluruh mata langsung melirik curiga ketika ia memanggil namaku.

"Levi Ackerman. Dipanggil menuju Ruang Eksekusi!"

.

.

.

Polisi Militer dengan seragam hitam yang solid dari ujung kepala hingga ujung kaki menggiringku menelusuri lorong lantai tiga yang sempit, menuju Ruang Eksekusi yang terang benderang. Lampu-lampu bodoh yang tidak pernah diganti di atas kepalaku ini terus berbunyi bergemerisik ketika kami melintas. Bunyi guntur dari kejauhan terus menghantam gendang telingaku. Aku merasakan ujung-ujung jariku membeku karena hawa dingin yang datang menyerang mulai mengikis jendela-jendela besar di sepanjang lorong dan melingkupi tubuhku. Dua orang sialan dengan lambang Universitas di punggung mereka ini terus berjalan merapat di kanan dan kiriku, mengangkat dua senjata yang berbeda, mengurungku agar tetap dalam jangkauan, dengan pandangan lurus ke depan.

Di dalam pikiranku, aku sudah menduga bahwa eksekusi bodoh kali ini untukku. Sudah pasti untukku.

Bagaimana tidak? Aku melumpuhkan seluruh Polisi Militer di Ruang Interogasi. Aku mengotori tanganku di pagi hari demi membuat bocah enam belas tahun yang bodoh itu agar tetap hidup. Aku melanggar perintah Grisha. Aku tidak mendengarkan pengarahan dari Dekan. Aku memberontak. Aku melakukan segala hal yang dianggap tabu oleh para petinggi.

Bajingan tua itu pasti sudah merangkai sandiwara kematian ini agar akhir dari ajalku dapat disaksikan seluruh teman-temanku. Sebagai sebuah peringatan bahwa kami tidak seharusnya mengangkat senjata pada senyum mahal dari manusia paling terpandang di tempat ini.

Grisha pasti akan senang sekali ketika menonton fragmen kematianku tersaji di depan matanya.

Namun aku sama sekali tidak takut.

Di depan jendela besar milik Ruang Eksekusi, aku melihat Hanji dan Pixis berdiri di luar dengan sikap siaga yang kaku. Tubuh mereka tersiram cahaya terang dari dalam Ruang Eksekusi. Mata mereka menyaksikan sesuatu yang terjadi di dalam ruangan itu tanpa bergerak, berdiri dengan sikap istirahat. Di sekitar mereka nampak lima Polisi Militer yang berdiri mengurung dan langsung melempar tatapan begitu melihat kehadiranku. Mereka berdua menyadari kedatanganku, namun kedua Dekan itu sama-sama tak mengeluarkan reaksi respon.

Ini aneh. Jika Grisha memanggil seluruh Dekan, seharusnya—

Tubuhku berhenti bergerak.

Di mana Erwin? Seharusnya dia juga berada di sini. Mengapa dia tidak ada?

Leherku mendadak panas.

Tidak mungkin!

Kakiku berlari secepat mungkin, aku mendengar dua Polisi Militer di belakangku berseru nyaring memerintahkan temannya untuk bertindak cepat, beberapa petugas keamanan dari depan langsung membentuk benteng dan memblokir jalan.

Aku tak bisa lagi merasakan ototku, mereka bekerja di luar kendali. Segala kemungkinan terburuk menghinggapi pikiranku, namun yang aku harapkan sekarang semoga orang itu bukan Polisi Militer berusaha meraihku, aku menunduk sebelum tangannya sempat menyentuh bajuku, kakiku terangkat menyepak perutnya hingga ia tersungkur di lantai. Aku merampas senjata dari tangannya dan menyerang masing-masing kepala dua Polisi Militer lain yang hadir dari kanan, hingga aku merasakan kemunculan dua tangan tiba-tiba merampas senjata itu dan mengunci pergerakanku dari belakang. Aku spontan memutar badan, menggiring tubuhnya dan menggebrak punggungnya ke dinding dengan keras. Aku melihat bayangan Polisi Militer lain berusaha menghentikanku dari belakang, sikuku terangkat dan menyikut wajahnya sebelum terlambat, tubuhnya terhempas keras ke dinding dan mengucurkan darah dari hidung.

Aku tiba di jendela besar, terengah, menyaksikan segalanya secara langsung. Tanganku mengeras.

Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin itu Erwin.

Di sana terlihat Grisha yang duduk pongah di atas kursi kayu berukir seni, berselimut dalam pakaian biru gelap, dengan senyum yang mahal, semahal kursi itu. Wajah keparat itu. Aku melihat lusinan Polisi Militer nampak berjejer rapat, mengelilingi suatu titik, di mana seseorang terlihat berlutut, dikawal oleh tiga Polisi Militer di setiap sisi.

Jantungku mencelos jatuh dengan cepat.

Erwin di sana. Tidak ada yang memberitahukan padaku bahwa semua ini adalah eksekusi untuk Erwin!

Tanganku meraih kerah Hanji yang berdiri tak bereaksi di sebelahku. Mengapa dia diam saja dengan semua ini? Mengapa mereka tidak melawan? Mengapa mereka membiarkan semuanya terjadi begitu saja?

"Apa-apaan ini!"

Mata Hanji menyipit, bibirnya menjawab datar, dingin tanpa ekspresi. "Erwin telah gagal melakukan tanggung-jawabnya sebagai seorang Dekan. Seluruh kesalahan mahasiswa akan dibebankan padanya. Setiap Dekan yang dianggap gagal akan dihukum mati." Aku menangkap raut kesedihan di dalam matanya. Tetapi mengapa ia membiarkannya Grisha melakukan sesuka hatinya?

Kesalahan mahasiswa? Apa yang dia maksud adalah kesalahanku? Kesalahan Eren? Semua itu—

Tenggorokanku mengering. Hanji benar. Peraturan itu memang ada.

"Dia telah membiarkanmu begitu saja!" Hanji menepis tanganku kasar. Dia belum pernah membentakku sebelumnya. "Dia tidak berusaha menghentikanmu! Dia membiarkanmu menyerang seluruh Polisi Militer! Itu bukanlah tugas Dekan yang sebenarnya!" Suara Hanji bergetar. "Bukankah perintahnya mengatakan Eren harus mati?"

"Mengapa harus Erwin!" aku menggertak. "Aku yang mengangkat senjata itu. Aku yang membunuh mereka!"

Hanji menggeleng dengan wajah kecewa. "Grisha telah berpikir Erwin gagal melaksanakan tugasnya."

Aku mendengar suara-suara senjata bergemeratak dari dalam ruangan. Aku melihat seluruh senapan api kini diarahkan lurus padanya. Tidak. Grisha tidak menggunakan senjata-senjata itu untuk mengeksekusi Erwin. Aku melihat seorang Polisi Militer lain berdiri satu meter di depan Erwin dengan sebuah pedang mengkilat di tangan kanannya. Erwin tak bereaksi. Dia tidak melawan. Erwin diam saja di sana. Dia pasrah pada takdirnya. Segala yang aku saksikan membuatku emosiku terbakar hebat dan menyulut rasa muak yang menguasai seluruh inderaku.

Grisha mengangkat satu tangannya sebagai aba-aba, dan sebuah pedang teracung ke udara.

Aku hanya bisa membentuk satu pemikiran jernih. Eksekusi ini harus dihentikan. Aku harus bertindak cepat.

Aku tidak menyadari kakiku telah berlari di luar kesadaran menuju pintu aluminium yang tertutup rapat. Aku merasakan sesuatu yang kasar menahan tanganku dan menyeret tubuhku hingga terhuyung ke belakang, dua hingga tiga Polisi Militer menarikku dengan paksa kembali ke tempat. Kakiku digiring paksa dan wajahku dihadapkan kasar ke arah jendela.

Memaksaku untuknya menyaksikan seluruh sesi kematian Erwin dari luar.

Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa melihat kematian sahabatku terjadi begitu saja di depan mataku sendiri. Emosi membuat seluruh ototku mengejang dan bertumpu pada tangan kiriku, dan aku menyingkirkan seorang Polisi Militer. Tanganku terlepas dari cengkeraman dan kaca itu mengguncang keras ketika aku memukulnya. Bunyi retakan terdengar merambat namun hal itu tidak cukup kuat untuk meremukannya.

Mereka terus berdatangan, seperti serbuan meriam, menahanku dari berbagai sisi. Mengunci segala ruang hingga aku benar-benar tak bisa bergerak. Tubuhku terus diseret hingga wajahku nyaris menyentuh lapisan kaca yang dingin.

Eksekusi ini tidak bisa dihentikan. Gejolak adrenalin menghentak jantungku tanpa ampun.

Tangan Grisha turun.

Momentum yang aku takutkan akhirnya terjadi. Pedang itu menebas di udara tanpa halangan. Aku melihat segalanya. Aku melihat pedang itu memutuskan kepala Erwin dari tubuhnya. Aku memandang nanar pada tubuh Erwin ambruk ke tanah, hingga potongan kepalanya yang bersimbah darah menggelosor jatuh dan menggelinding pelan, menyentuh ujung kaki Grisha dengan wajah menengadah.

Mendadak aku merasakan oksigen di sekitarku terlalu tipis untuk bernapas. Dan kakiku terlalu lemah untuk berpijak.

Aku melihat Hanji dan Pixis tidak bereaksi. Orang-orang itu seolah membutakan mata mereka dari pemandangan tidak manusiawi itu. Aku tidak peduli lagi dengan dua Dekan sialan ini. Aku tidak peduli dengan siapapun.

Grisha duduk menggeming di sana. Tidak bereaksi. Matanya menatap lurus ke dalam mataku. Kakinya yang berbalut sepatu hitam mengkilat menyingkirkan kepala Erwin dari daerahnya. Erwin tidak seharusnya mati seperti binatang, dipenggal dan direndahkan. Dia tidak seharusnya mati di tangan bedebah ini.

Dari kejauhan, telingaku menangkap samar dentang lonceng gereja yang berdentum tujuh kali.

Aku baru sadar maksud dari ucapan 'selamat tinggal' Erwin tiga puluh menit yang lalu adalah pesan untuk pergi selamanya. Erwin sudah mengetahui kematiannya sejak awal. Mengapa dia tidak memberitahuku? Mengapa dia merahasiakannya?

Dan aku melihat mata yang menggelap di balik kacamata Grisha mengeluarkan aura aneh, dia tertawa. Dia telah mendeklarasikan pada kami semua bahwa dia tidak akan terkalahkan. Dia telah memperingatkan pada kami semua bahwa tidak ada siapapun yang bisa menghalangi rencananya.

Aku tidak bisa lagi berpikir jernih.

.

.

.

Next:

Part VII:Rivaille

A/N: I'm not sorry

A/N2: I'm not sorry kalo Armin kehilangan semenya

A/N3: I'm not sorry. Bohong sih. I'M TRULY DEEPLY SORRY. Apalagi buat yang suka Erwin, saya juga nepsong sih kalo liat dia, tapi semuanya sudah terjadi… /nanges /mengasingkandiri /makanorang

A/N 4: Nulis POV Levi kayak nyari mati, sodara-sodara. Sepuluh kali lipat lebih sulit daripada POV Eren. Tapi karena saya memang pada dasarnya masokis yah apa boleh buat /apaan

A/N 5: Dan buat yang bertanya-tanya ke mana Eren hilang… hanya Eren yang tahu /jogetoplosan

Itu apaan isi interview di Frau Magazine sudah ngasih kode-kode kalo istri masa depannya Levi itu Eren. Kita semua udah tau kok. KITA SEMUA UDAH TAU KOK KALO DARI AWAL HUBUNGAN DUA ORANG ITU MEMANG CANON /kalap /makankakisendiri ENDINGNYA MEREKA BAKAL MENIKAH, PUNYA ANAK, DAN BERSAMA-SAMA MEMIMPIN DUNIA. MRUAHAHA /nyebur /dibakarmassal

Sign, Rapuh