Bonus Part: Sasha
Namaku Sasha.
Aku menerobos lorong sempit yang rendah selebar dua meter dan merapatkan almameterku. Hawa dingin dari batu-batu granit yang membeku membuatku pakaianku menjadi sepuluh kali lipat lebih sejuk dari musim dingin Sina. Obor-obor dari kayu legam yang berbaris setiap dua meter layaknya penjaga malam terus mengawalku menuju destinasi, sebagian padam, sebagian bergemerisik menyala dengan percikan api yang terjun ke lantai batu-bata. Warna jingganya meletup-letup di dinding seperti kembang api tahun baru yang gagal meledak. Cahaya oranye redup yang bergetar menguar samar di dalam perut koridor di kanan dan kiri ini akhirnya berhenti tiga meter di depan mata.
Apakah di sini tempatnya?
Kegelapan statis yang pekat itu membuatku mengira-ngira akankah perjalananku terhenti di sini atau sebaliknya aku harus menyapa sebuah ekspedisi baru? Entahlah, aku tidak tahu.
Udara dingin menggigit kulit leherku yang terbuka. Mungkin seharusnya aku urai rambut saja. Tapi aku selalu kesulitan mengikat rambutku sendiri!
Di pangkal daerah yang terselubung nyala obor terakhir, aku melihat siluet cahaya kurus sepanjang satu meter membias menghantam tanah. Dan tiga detik kemudian terlihat beberapa ngengat yang balapan terbang dengan gaya oleng dari dalam celah mencurigakan tersebut.
Pasti itu pintunya, pikirku.
Sepatuku terasa berat, berbanding terbalik dengan suara-suara motivasi di dalam kepalaku yang terus meraung histeris.
'Bukankah kau lapar?'
'Lihat, di sana ada daging.'
Jangan, Sasha! Jangan lagi!
Berkomunikasi dengan diriku, itulah yang kuputuskan. Namun aku terlalu naif untuk menerima kenyataan bahwa usaha itu tak lebih seumpama memanggang daging dengan sebatang korek api bekas. Tidak ada artinya. Aku tetap mendengarkan suara-suara itu.
Tidak ada orang. Apalagi yang kau tunggu?
Ketika jiwaku terbangun dari halusinasi, ternyata motorik kakiku telah lebih dulu menggiring tubuhku menuju sederet kayu mahogani kokoh yang menjadi pintu penghubung dengan sesuatu yang kuinginkan. Tempat terlarang itu, terbuka menggoda dengan aroma submisif yang menguar liar.
Ah, itu dia.
Tergolek lemah di atas meja tanpa pertahanan. Kau tidak bisa lari lagi.
Dengan mempertaruhkan nyawa dan harga diri, memanjatkan cita-cita dan impian pribadi, aku melayang dan berlari.
Aku berhasil mendapatkannya! Daging paling molek dan mengkilat dari semua daging yang ada. Kau adalah daging terbaik! Sekarang kau menjadi milikku. Milikku. Milikku.
.
.
ALTER
a fanfiction by Raputopu
Shingeki No Kyojin by Hajime Isayama
warning: AU, OOC, typo, mature content
.
.
Part VII: Alter II
Aku melihat Erwin mati di depan mataku sendiri.
Jika ada satu-satunya orang yang aku harapkan untuk berdiri bersamaku di atas puing-puing kehancuran Universitas Scouting Legion, maka Erwin Smith adalah orang itu. Erwin, adalah seorang manusia robot kaku, tegas, bertangan dingin, dan sangat berpegang-teguh pada komitmen terhadap tugas-tugasnya dan tidak pernah sekalipun menentang perintah atasan, kecuali hari ini.
Erwin tidak suka membesar-besarkan kapabilitasku di depan pengajar lain, tapi aku tahu dia sangat menghargai keberadaanku di tempat ini lebih dari siapapun. Bersama Hanji, seorang lulusan Fakultas Kimia, penggila ilmu pengetahuan, wanita ilmuwan berkacamata besar dengan hidungnya yang bengkok dan besar, yang terus mempertahankanku keberadaanku agar tetap hidup di bawah rasa kasihan dan ampunan dari petinggi, kami bertiga menjadi sangat dekat dalam segala situasi. Kami sudah mengenal satu sama lain sejak delapan tahun yang lalu ketika jabatan Erwin baru menyentuh puncak jajaran pengajar Ketahanan Fisik dan Hanji baru saja memegang jabatan sebagai ketua Bagian Kesehatan, dan aku masih menjadi seorang mahasiswa liar yang terus menjadi sorotan Polisi Militer.
Kami mengawali hidup yang suram di dalam tembok pengaman Universitas Scouting Legion dalam rasa tanya dan sama sekali belum menemukan titik terang dari misteri hilangnya mahasiswa-mahasiswa lama dari perederan.
Aku tidak pernah peduli pada nilai. Aku tidak suka menilai, apalagi dinilai. Namun berkat otak jenius Erwin, aku berhasil menembus lulusan terbaik—karena sudah membunuh lima belas Polisi Militer dan tiga mahasiswa Merah. Alasan paling bodoh dan tidak manusiawi yang pernah kudengar seumur hidupku. Tapi dengan begitu, aku berhasil menjadi bagian mahasiswa-mahasiswa yang hilang.
Aku menjadi bagian Pasukan Penjaga selama satu tahun. Aku kabur sebelum perekrutan anggota baru di tahun selanjutnya. Aku kembali ke dunia bawah tanah dan hidup seperti sediakala. Namun mata-mata Universitas Scouting Legion terlalu rajin berpatroli menguliti tanah Sina dan mencari kriminal liar yang berkeliaran. Dan aku kembali tertangkap.
Aku menjalani kehidupan dengan dua kali menjadi sebagai Pasukan Penjaga. Aku ingin memuntahkan protes pada sistem kelulusan yang tidak wajar di tempat ini. Namun, Universitas ini jauh lebih kejam. Universitas ini tahu cara untuk menyeretmu ke dalam pusaran ketakutan. Mereka tahu titik kelemahanmu dan menyerang areal sensitif itu dengan serangan bertubi-tubi. Mereka tidak pernah memberikan rasa tenang. Memang seperti itulah tugas mereka seharusnya. Membuat manusia kehilangan akal sehat. Membuat manusia tidak lagi bersikap seperti manusia pada umumnya. Membuat manusia kehilangan jati diri dan menghancurkan manusia lainnya.
Aku tidak membutuhkan manusia. Terlebih manusia yang tak berguna dan kerjanya hanya meluluh-lantahkan skema kehidupan manusia lain.
Aku terbiasa hidup sendiri, melakukan segalanya dengan pikiran dan tanganku secara mandiri.. Aku tidak pernah takut pada manusia-manusia di luar sana, baik yang menghabiskan uang di brankas demi mencecap gemerlapan kota urban atau yang sejenis pengemis bermental penjahat dan gelandangan misterius dari dunia bawah tanah yang hobi mematai-matai gelagat orang lain. Aku pernah melalui dua jenis kehidupan itu. Dan mataku sudah dikenyangkan oleh hal-hal yang tidak seharusnya tidak aku lihat. Tempat ini adalah salah satunya.
Menerima takdir baru untuk menjadi bagian dari sebuah institusi akademik bertajuk kriminal, merupakan garis kehidupan paling buruk yang kujalani selama ini. Sejauh apapun aku berusaha menjaga jarak, secepat itulah mereka menarikku kembali.
Aku tidak percaya kutukan, namun kebetulan yang pelik ini terus terjadi berulang-ulang.
.
.
.
Jari-jariku menjalar di serat-serat kayu tajam, meraba-raba meja mahogani berpotongan rendah di sebelah kursi kerja besar berukir milik Erwin, hingga menemukan permukaan tabung licin yang dingin dan bergejolak dengan bunyi air beriak. Aku menyambar botol gin dengan label terkoyak itu tanpa membuang mata dan menenggak kasar sebelum menyadari bahwa aku sudah menghabiskan minuman keras itu ketika berniat menamatkannya.
Kepalaku sakit luar biasa setelah eksekusi itu. Mataku dipaksa melihat eksekusi sahabat dekatku sendiri di depan mata. Aku melihat pedang itu menebas—aku tahu mengapa Grisha tidak menggunakan senapan, dia tentu ingin membuat Erwin merasakan sakit sebelum kematiannya, mendesakku untuk melihat kepala Erwin terlepas dari tubuhnya—dan menarik nyawa seorang Dekan paling hebat dan berdedikasi untuk menangani tempat tanpa pemimpin yang waras seperti di sini dengan kematian yang paling hina.
Setelah eksekusi itu, aku terus berjalan, memutuskan setiap kontak mata dengan semua sorot rasa ingin tahu yang langsung menudingku ketika tiba di bawah tangga. Mereka datang dan pergi, menanyakan hal yang sama, lalu menyingkir, berkumpul bersama manusia-manusia berisik, kemudian membicarakanku dari sudut tepian bersama babi-babi penggosip lainnya.
Mereka bilang, Erwin pantas mati.
Telingaku sudah kelewat panas dengan segala omong kosong dari pantat ayam yang berkoar-koar itu. Yang pantas bersua dengan ajal adalah mereka—babi-babi peternakan berseragam Universitas itu. Mereka sepatutnya harus malu pada diri sendiri sebab kata-kata yang keluar dari mulut itu sebagaimana sama dengan apa yang dicampakkan dari dubur mereka.
Jantungku masih belum berhenti terlepas dari guncangan. Keringat dingin masih menjamur di atas telapak tanganku.
Sudut mataku menangkap siluet Pixis perlahan-lahan mendekat dari kanan, mengendap nyaris tak terdengar seperti tentara yang hendak melancarkan serangan senja, mencakar tenggorokannya sendiri dengan senandung batuk pelan untuk memuntahkan tegur singkat. Aku memandang bibir di balik kumis tebal itu tidak terbuka untuk menyampaikan simpati, namun tangannya terangkat dan menempatkan dua botol gin lain di atas meja sebagai penghibur.
Tanganku berdenyut dan merenggut botol itu sebagai santapan keempat.
"Hari ini tidak apapun selain gin." katanya.
Aku mengenal Pixis yang sudah menjalani turbulensi hidup selama lebih dari setengah abad itu adalah tipe kakek-kakek yang kikir luar biasa, dimana ia akan selalu mengamankan harta karun yang dianggap tabu oleh sebagian besar orang dan menikmatinya di akhir pekan untuk kesenangan pribadi di bangsal bawah tanah. Sekalipun serangan penuaan kentara sudah menggerogoti wajah mesumnya yang mengkerut, namun orang tua botak satu itu selalu tahu cara menyelundupkan alkohol ke dalam institusi lewat jalan tikus. Menulikan telinganya dengan sederet peringatan bahwa jabatannya adalah pemegang sebuah jurusan, dan masih tetap membutakan mata pada sederet peraturan dan melanggarnya selama beberapa tahun terakhir walau sering dikirimi teguran. Dan aku sama sekali tidak melarang perbuatan bejatnya satu itu.
Pergi kau dari sini. Aku tidak mau menyakiti orang tua bau tanah dengan tangan kosong.
Aku nyaris saja berkata seperti itu. Namun satu-satunya kalimat yang meluncur dari mulutku selanjutnya adalah, "Tinggalkan aku sendiri."
Aku mendengar deheman pelan. Untungnya Pixis telah membaca situasinya. Aku melihat bayangannya berjalan keluar dari ruangan Erwin setelah melihat ekspresiku yang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun. Terima kasih karena sudah mengerti, Pixis. Dan di luar sana, aku mendengar suara Hanji berteriak, berisik, menanyakan keadaanku, dan untungnya Pixis mengambil inisiatif dengan menutup pintu dari luar dan melarang Hanji mengedarkan kakinya ke sini.
Lidahku panas. Pekat dan bercampur dengan segala rasa asin dari gin yang terus-menerus menggasak leherku yang sibuk berkontraksi menelan apapun yang masuk ke dalamnya tanpa peduli. Aku berusaha membuat lambungku penuh dan dikenyangkan bergalon-galon gin, sehingga aku tidak perlu lagi mempermalukan diri dengan merayap ke Kantin dan menghabiskan stok sarapan milik Petra seperti binatang kelaparan. Namun indera pengecapku mulai mati rasa oleh kegetiran dan terbakar hambar pada akhirnya.
'Mulai sekarang Eren adalah tanggung jawabmu.'
Bicara apa kau, Erwin? Kau mengingau di saat-saat terakhirmu? Mengapa dari ribuan pilihan pesan terakhir yang bisa saja kau sampaikan malah perintah untuk mengangkangi bocah itu yang kau tinggalkan untukku?
.
.
.
Bunyi rebas-rebas hujan yang menghajar atap seng berkarat dan mencakar jendela Gedung Dosen membangunkanku dari tidur. Ketika mataku terbuka dan cahaya masuk ke dalam retina, aku melihat jarum pendek sudah bergeser lima angka. Aku terus diam tanpa melakukan apapun sampai awan mendung terbentuk dan kegelapan menelanjangi langit di luar jendela. Kabut menjalankan tugasnya dengan mengenggam pepohonan dan menghilangkan warna di dalam kaca. Suara hujan sama sekali tidak membuat sendi-sendiku rileks, sebaliknya malah menyulut api di kepalaku yang kian melecut panas dan membakar benih emosi. Gin dari Pixis tidak memberikan efek berarti.
Bunyi gaung gemuruh rinai hujan di luar sana menderu-deru sengit dan bersanding dengan semburat hawa dingin yang menguar terdengar seperti frekuensi statis dari raksasa yang mengacaukan saraf otak di dalam kepala, dan membuatku ingin mengais organ tubuh manusia terdekat. Dadaku masih sesak, tapi aku tahu sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang.
Telapak tanganku mengeriap ketika menyadari leher botol minuman di tanganku menyusut. Tanganku—lagi-lagi—tak sengaja meremukkannya. Entah situasi ini sudah terjadi berapa kali; aku tidak peduli. Aku tidak pernah peduli dengan tindakan di luar kendali yang dikerjakan tanganku. Aku tidak pernah peduli. Dan seharusnya aku tidak menggerakkan bola mata ke dearah itu. Noda darah dari orang-orang keparat itu tidak mau luntur walau aku sudah mencucinya repetitif. Aku tidak ingat sudah melayangkan kapak pada berapa kepala. Panorama buku-buku jariku yang menjadi buruk dan merah padam akibat semburan darah ketika melakoni insiden dengan Polisi Militer tadi pagi.
Hanya gara-gara kotoran bodoh ini nominal stok sabunku akan menipis drastis. Pemandangannya membuat perutku berputar tidak nyaman. Pola darah itu terlihat sangat menjijikkan, menempel di tanganku seperti kotoran hewan, kontras dengan warna kulitku yang pucat. Sewajarnya darah manusia tidak mengecap selama ini. Alih-alih luluh bersama sabun, warna sialan itu masih melekat di sana, membuat jariku seolah-olah baru saja menggerayangi daerah intim seorang perawan.
Sialan. Perawan atau tidak, orang-orang itu memang pantas mati.
Pada akhirnya mozaik merah yang merekah lebar itu menyala dan menantang. Seperti sebuah memorandum yang mengingatkan bahwa aku juga memiliki tangan yang juga pernah membunuh banyak orang dan membuatnya pantas disejajarkan dengan tangan dingin milik bedebah tua itu. Dan hal itu membuatku lupa caranya berpikir rasional. Segalanya menjadi irasional. Memoriku bercampur aduk dengan pergolakan depresi ketika realita menampar wajahku.
Mengapa aku harus mengutuk bajingan yang menggenggam sifat tak lebih seperti seekor binatang jalang sedangkan di dalam diriku ada jiwa yang sama? Dan pada akhirnya semua orang akan selalu beranggapan bahwa aku-lah penjahatnya.
Selalu seperti itu.
.
.
.
MP83RK9C. MP-83-RK-9-C.
MP- 83-RK-9-C.
Kombinasi itu terus mengiang di dalam kepalaku. Aku memateraikannya di dalam ingatanku.
Kode itu adalah bordir benang hitam di dada kanan seorang Polisi Militer yang menjalankan eksekusi Erwin. Dilihat dari tahun yang tertera di belakang inisial Military Police, sudah dipastikan umurnya dua puluh ke atas. Masuk pada tahun ke-sembilan setelah gedung ini didirikan. Jika dia di golongan C berarti shift kerjanya adalah petang mendekati malam. Dia akan berjalan mengitari Gedung Pertemuan dan Gedung Dosen, kemudian tiba di Gedung Selatan, asrama Hijau.
Aku tahu harus berbuat apa.
Ya. Tunggu saja di sana. Aku akan mencarinya sampai dapat. Aku akan menemukannya. Dan aku akan membuat bedebah itu merasakan hal yang sama seperti Erwin.
.
.
.
Kau tidak akan bisa lari.
Turun dari tangga Gedung Dosen, hawa-hawa dingin dari sisa hujan deras sebelumnya langsung menerpa kulit tanganku yang menganga di bawah pakaian. Bunyi menggelegar di langit-langit menghantarkan rintik hujan ke tanah basah. Genangan air kotor kehitaman dengan titik-titik air hujan yang mulai liar di atas permukaannya terlihat menutupi sebagian areal berlumpur dan daerah rawa di kanan dan kiri, mengukung jalan setapak batu-bata tua yang lapuk dan ditumbuhi rumput-rumput liar di tiap sela-sela susunan simetrisnya.
Mataku menangkap pemandangan dua pohon ek setinggi tiga meter yang mati kering selama hampir dua tahun di depan Gedung Dosen kini nampak bergetar pelan, bergemerisik samar dan konstan, sementara daun-daunnya yang kecokelatan dan tergerus lubang mulai berterbangan ke segala arah, sebagian melintas cepat di depan mataku, kemudian pergi bersama angin.
Sepuluh meter di depan mataku, aku mendongak untuk mengamati visual Gedung Pertemuan yang besar dan megah, menjulang sombong seperti balok abu-abu kokoh di antara semua gedung di wilayah Universitas ini, simbol tirani dan kekuasaan yang mengunci kebebasan setiap mahasiswa. Kabut semakin liar dan menutupi tanah landai yang digerogoti sulur-sulur tanaman rambat. Namun asap putih ini sama sekali tidak menghalangiku.
Ujung-ujung jari kakiku merasakan air dingin yang merembes menembus sepatu ketika aku melewati lapangan becek. Aku berjalan menuju kamar peralatan di belakang Gedung Pertemuan. Puncak kepalaku terus-menerus dihajar oleh ratusan titik air hujan yang mengamuk. Aku dapat merasakan air mengalir di sekujur tubuhku sekarang. Aku merasakan asin yang mengalir ke dalam mulutku ketika aku mengerang.
Aku mendobrak kamar peralatan dan berjalan menuju meja perkakas. Meja itu melekat di dinding batu-bata berlumut dengan sebaran peralatan tukang yang berhamburan di atas permukaan kayunya. Aku berjalan menabrak kegelapan dan mengambil kapak yang tergeletak. Lampu lima watt yang bergoyang akibat tertampar amukan angin deras dari arah luar itu bergetar dan mencetak siluet bayangan hitamku sendiri yang berjalan ke luar pintu yang menganga.
Aku mematung di sebelah ruang peralatan, bersandar di permukaan dinding berdebu sepanjang koridor belakang Gedung Pertemuan yang berhadapan langsung dengan lapangan kosong bersama barisan kabut tebal yang berpatroli. Jari-jariku mencekik kuat-kuat tongat kayu dari kapak yang mulai berkarat, dan mencuri napas di dalam selubung udara dingin. Kabut dari segala arah mulai bergumul dan berjalan ke arahku, namun aku tidak peduli. Dari kejauhan, aku dapat mendengar hewan-hewan malam mulai berisik dan menjajah pohon-pohon kering untuk beristirahat. Sebentar lagi alarm jam makan malam akan berdering di puncak Gedung Pertemuan. Dan aku tidak akan membatalkan keputusanku karena aku sudah sejauh ini.
Aku menunggu dengan sabar. Bagaimanapun orang itu tidak akan bisa lari dari tempat ini. Aku akan terus mengejarnya ke manapun dia pergi. Dia tidak akan bisa hidup tenang. Dia akan mati dalam penyesalan. Dia akan merasakan kesakitan yang sama seperti Erwin. Aku akan membuatnya merasakan sakit yang sama.
.
.
.
Seorang anak laki-laki yang berdiri kaku, menggigil, dengan semburat merah yang membakar wajah di antara helaian rambut cokelat yang berantakan. Dia berdiri di sana dan membuat si Polisi Militer mundur ketakutan. Tubuhnya yang berbalut jaket hitam berjalan mendekat. Bibirnya gemetar dan membiru.
Aku tidak salah lihat. Itu benar-benar Eren.
"Oi, minggir, bocah." Aku menyalak.
Eren tidak bereaksi. Eren tidak berkata apa-apa hingga punggungnya tiba-tiba merunduk dalam-dalam. Kedua tangannya sibuk meremas perutnya kuat-kuat. Menggeram. Meraung dan berteriak. Apa-apaan dia—
Sebelum aku sempat mengerti situasinya, kaki Eren tiba-tiba berlari. Kencang. Ketika aku bersiap-siap menghentikannya, tubuh itu menerjang si Polisi Militer. Membantingnya ke tanah. Tangannya mencekik si Polisi Militer sampai wajahnya berselubung biru. Kulit leher si Polisi Militer tercabik. Nadinya terputus. Teriakannya mengambang sia-sia ke udara. Darah merembes ke seragam ketika kulit-kulitnya mulai robek dari tulang, bersarang di antara gigi-gigi Eren. Eren tidak berhenti. Dia mencabik, merobek, mencakar, menancapkan giginya ke kulit yang terbuka. Dia terus menelan hingga bunyinya terdengar dari luar tenggorokan.
Lehernya mendongak dan Eren memperlihatkan wajahnya yang memerah. Darah kental turun menyelimuti jakun, merembes luas di lehernya dan turun terus hingga membanjiri pakaiannya. Mata hijaunya yang berkabut dan nyaris tidak berwarna lagi, menatap mataku nyalang. Aku melihat lapis tebal bibirnya yang merekah dengan merah kental, perlahan-lahan terbuka dengan serbuan uap panas dari lidah dan giginya yang berlendir darah.
"Lapar… "
Aku mendengus setengah tertawa.
Bocah ini. Anak ingusan satu ini sudah membunuh buruanku.
Mataku tertuju pada tangan yang tergeletak layu dan berenang di atas kubungan darah dengan warna yang masih terlihat segar. Aku mengambil potongan organ tubuh yang terpisah dari si Polisi Militer itu, menimbang-nimbang, merasakan darahnya yang dingin dan kental menjilat liar kulit tanganku hingga menggumpal, lalu menetes jatuh membentuk noda besar di atas fabrik celana. Aku juga ingin merasakannya, tapi Eren terlihat jauh lebih kelaparan.
"Ambil." kataku, menyodorkan tangan kaku dengan ujung-ujung jari yang membeku. Mendekatkan daging itu ke arah mulutnya yang bergetar.
Mata hewan yang marah menyala nyalang itu menantang sengit. Kami saling mengunci pandangan satu sama lain hingga pada akhirnya tangan kurus Eren menebas udara di sekitarku dan merampas daging itu dari genggamanku. Dia merunduk dalam-dalam dan menggigit daging kotor dengan selubung kain hitam yang menyelubungi permukaan pucatnya, hingga aku dapat mendengar bunyi tegukan nyaring dari lehernya yang terus mengempis dan berkontraksi.
"Kau baru saja mengambil buruanku, Eren." Aku mendesah berat. Kecewa, sudah pasti. Tetapi melihatnya sibuk memuaskan diri dengan daging dan darah dari manusia seperti hewan kelaparan, menjadi hiburan tersendiri untukku. Aku melihat kuku-kuku jarinya menyala di bawah siraman lampu dengan siluet merah kental, terus menghujam dan mengoyak ke dalam daging yang menganga lebar. Dia sama sekali belum terlihat lelah. Dia sedang mencari kenikmatannya seorang diri.
Eren tidak mendengar.
"Hei, jangan sia-siakan makanan, bodoh." Tanganku terangkat dan menepuk-nepuk puncak kepalanya yang ditumbuhi rambut cokelat kasar yang menjuntai tegang dan berdiri kaku "Jika kau lapar, habiskan saja semuanya. Tapi sisakan kepala bajingan ini untukku." Aku berbisik di sebelah telinganya.
Bau darah menusuk indera penciumanku. Aku tidak bisa menolak aroma pekat bau besi berkarat yang menghantam kepalaku dengan godaan warna merah menyala di sepanjang tubuhnya. Bau-bau itu terus menari-nari di dalam kepala dan mengacaukan indera penciumanku. Aroma daging dari seorang pria dua puluhan. Masih segar dan belum terkontaminasi. Dan Eren menghabiskannya seorang diri.
Aku… sudah tidak pernah merasakannya. Mungkin sekali lagi saja.
Aku bertumpu pada lutut dan memajukan tubuh, mendekatkan bibir pada wajahnya. Menghirup aroma darah segar yang membuai. Aku merasakan denyut nadinya yang menggebu cepat bergetar liar di bawah lidahku. Terdengar deru napasnya mendengus susah payah saat aku menjilat area di perpotongan bahu dan leher yang digenangi darah paling banyak. Eren belum sepenuhnya sadar, namun bibirnya mengeluarkan kembali mengecap rasa yang sama setelah bertahun-tahun, ketika darah itu masuk ke dalam tenggorokan dan membakar leherku. Aku kembali merasakan kenikmatan yang telah lama hilang. Lidahku terus menyapu sisa darah di leher hingga rahangnya. Naik hingga ke mulut dan merasakan daging-daging yang melekat di gigi-geliginya.
Setelah sekian lama…
.
.
.
Gelap menguasai pandanganku ketika aku berjalan melalui lorong Ruang Kesehatan. Bau-bau obat dari segala arah yang mengamuk liar terus-menerus menggerogoti hidungku. Lampu-lampu neon yang berkedip dengan kondisi mati hidup yang miris menghantarkanku menuju Ruang Bedah. Mataku melihat ke dalam kaca jendela besar dan tidak menemukan ada seorangpun yang berdiri di sana, kecuali mayat Erwin yang tergolek dengan selembar kain di atas meja operasi.
Aku berjalan menerobos pintu kaca dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Di sana ada mayat Erwin. Ujung-ujung jarinya yang membiru dan nyaris menghitam terlihat menyembul dari balik kain putih yang berantakan. Aku membuka kain dan melihat jasad Erwin untuk terakhir kalinya. Tidak ada darah yang mengotori tubuhnya lagi. Dan di sebelah tubuhnya, aku melihat kepala Erwin, menengadah dengan mata sayu yang belum sepenuhnya terpejam. Kondisi kepalanya sudah bersih tanpa warna merah. Dan aku mengangkat kepala itu perlahan-lahan, memandangi wajahnya yang lebam dengan seksama. Aku membentangkan kain besar di tanganku, dan membungkus kepala Erwin hati-hati.
Aku berjalan ke luar tanpa menoleh kembali.
Dan, tempat di mana semula kepala Erwin berada, aku telah meletakkan kepala si Polisi Militer di sana.
.
.
.
Part VII:
Rivaille
A/N :
Heichou juga manusia, punya rasa punya hati. Jangan samakan dengan Bapaknya Ereen~ uwoo~ Eniwei, ada bonus part Sasha, lho. Habisnya saya nge-fans sama Sasha. Isinya emang nggak berkaitan sama inti cerita, sih, tapi baca aja deh. Hohoh.
Well, spoiler tentang Levi, kawan-kawan. Sebenarnya chapter ini masih panjang karena gabung sama Part VII: Rivaille. Tapi jumlah words keseluruhannya bisa bikin muntah darah, jadinya saya bagi jadi dua part. Kalo nggak ada halangan, chapter selanjutnya akan di-publish nanti malam.
Dan ngomong-ngomong selama pengetikan ini saya dihibur sama video Levi lagi joget Gwiyomi.
…..
Ada apa antara saya dan Gwiyomi… dan Levi… Kenapa jari tengah Levi lucu sekali /apaan
PS :
Mengenai lonceng yang dibunyiin kalo ada orang meninggal itu, saya ambil inspirasinya dari tempat tinggal saya sendiri. Soalnya di daerah dekat rumah saya itu kalo ada yang meninggal biasanya samar-samar bakal kedengaran bunyi lonceng yang dibunyiin (biasanya tiga kali) dari tempat ibadah.
PSS :
Sasha suka makan daging. Secara teknis, bener-bener daging. Daging yang diambil dari hutan maksudnya HAHAHAHA /plak
PSSS :
HAPPY BIRTHDAY, FERRA RII AKA FEROMON AKA OWNER WARTEG!
Dan terima kasih banyak saya curahkan dari lubuk kokoro yang paling dalam untuk kim arlein 17, Kirisa Mio, allsundayjaegerjaquez, minri, Hantu Belau, Kuro Kisaragi, Yaoumi. S, Rivaille Yuki Gasai, Network Error, Yuuchan, widi orihara, kyuminloid, Seijuroo Eisha, Typeacety95, Nini males login, Daiki Hanna, Monokurobo, Hayasaka Kairi, syalala uyee, Nick Say FuckerShit For Kagari, Kucing Bishie, dan killuablue serta semua pembaca baik hati yang sudah membaca Alter, baik yang dari awal chapter, maupun yang baru-baru aja karena kebetulan mampir. Terima kasih semuanyaaaa.
Sign, Rapuh.
