Chapter 3


Kuroko mendesah. Layar ponselnya sudah menunjukkan jam 18.58. Rasa lapar juga sudah menghantui perutnya. Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya ia sampai di rumah sederhananya itu.

"Tadai—"

"Darimana saja kau?"

Suara yang berat dan tatapan dingin penuh amarah menyambut kepulangan anak bersurai aquamarine itu. Melihat sosok pria bersurai coklat dan iris mata yang sepadan dengan warna rambutnya itu sedang marah seperti ini membuat Kuroko menjadi sangat gugup dan takut.

"O-Otou-san.."

"Aku tanya! Darimana saja kau?!"

Tubuh Kuroko semakin gemetar, seiring dengan naiknya intonasi pria bersurai coklat itu, yang merupakan ayah Kuroko, Kuroko Katashi. Kuroko paling tidak ingin jika ayahnya marah seperti ini.

"A-Aku.."

"Pipi kirimu memar. Ini bekas pukulan. Kau berkelahi lagi?!"

"Ti-Tidak, aku ti—"

"Bukankah sudah berulang kali ku katakan padamu untuk tidak berkelahi?!"

"Tapi, Otou-san! A—"

"Tidak ada tapi-tapian! Sekarang, kau masuk dalam kamarmu! Dinginkan kepalamu dan jangan berani-berani keluar dari kamarmu itu!"

"Otou-san.."

"Apa lagi yang ingin kau jelaskan padaku?!"

"I-Itu..."

"Apa?"

Kuroko terdiam. Ingin rasanya ia menceritakan kejadian tadi. Namun, mengingat ayahnya punya penyakit jantung, anak bersurai biru muda itu tidak ingin membebani pikiran ayahnya. Selama ini, Kuroko juga menyembunyikan alasan-alasan tentang penyebab luka pada wajah atau tubuhnya itu. Sehingga ayahnya selalu beranggapan kalau anak beriris aquamarine itu terluka karena berkelahi. Dan kali ini, Kuroko kembali mengurungkan niatnya untuk menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi. Ia lalu menundukkan kepalanya.

"Ti-tidak, tidak apa-apa." ujarnya pelan.

Katashi menghela napas panjang. Ia lalu berlutut dihadapan anak beriris aquamarine itu dan kemudian memegang kedua bahu Kuroko.

"Tetsuya, lihat ke arah ayah."

Awalnya anak beriris aquamarine itu sangat tidak berani untuk menatap ayahnya. Namun karena pria bersurai coklat itu masih saja berada di hadapannya dan terus menatapnya, akhirnya Kuroko menurut. Secara perlahan, ia mengangkat kepalanya dan kemudian menatap kedua iris ayahnya itu.

"Bukankah sudah berulang kali ayah katakan padamu? Jangan sekali-kali kau berkelahi. Apapun alasannya, lebih baik kau jauhi saja orang itu. Sekalipun mereka mengolok-olokkanmu ataupun ayah dan ibu karena keadaan kita, kau sama sekali tidak boleh memukul anak itu. Nanti dia sendiri yang menerima balasannya. Tinggal kau sendiri yang membuktikan keberadaanmu dihadapan mereka. Buktikan pada mereka kalau kau itu lebih hebat daripada mereka, tanpa berkelahi seperti ini. Kau sangat cerdas, Tetsuya. Ayah sangat bangga memiliki anak sepertimu. Tapi kalau kau berkelahi seperti ini? Ini membuat ayah jadi kecewa padamu."

"Maafkan aku, Otou-san.."

"Ya, ayah sudah memaafkanmu, nak. Tapi apa yang ayah katakan itu sudah mutlak, Tetsuya. Hukumanmu tetap berjalan. Besok kau tidak perlu sekolah dulu. Biar ayah yang beritahu gurumu. Nah, kau janji tidak akan berbuat seperti ini lagi?"

"Hai'... Ini yang terakhir, Otou-san.." balasnya pelan.

Katashi tersenyum lembut pada anak bersurai biru muda itu.

"Bagus. Kau memang anak yang baik, Tetsuya." ujarnya sambil mengelus rambut Kuroko. Yang dielus juga hanya bisa tertunduk.

Katashi memang orangnya seperti itu. Meski awalnya ia marah besar, dengan cepat, amarahnya yang tadi itu akan hilang. Dia hanya memberi nasehat pada anaknya itu ditambah dengan hukuman-hukuman ringan. Tapi Katashi tidak pernah menyimpan amarahnya. Paling lambat 3 jam, itupun kalau ia benar-benar sangat marah saja. Dia bukan tipe pendendam.

Katashi lalu berdiri, kemudian membalikkan tubuhnya dan ingin beranjak menuju dapur.

"Ah ya, kau sudah makan? Kalau belum, makanlah dulu. Habis itu, baru kau masuk dalam kamarmu."

Kuroko bisa merasakan getaran kecil pada perutnya itu. Ia lapar, bahkan sangat lapar karena sejak tadi siang dia memang belum makan apapun.

"Hai.."

.

.

**Setting Skip**

.

.

Suara decitan sepatu dan pantulan bola basket memenuhi ruangan itu. Sejumlah tatapan bingung dan tatapan kagum yang disertai dengan suara ber-'Kyaa' ria juga ikut meramaikan seisi ruangan itu. Bukan karena latihan para pemain basket, namun tatapan mereka tertuju pada seorang remaja berkulit tan yang sedang jongkok memandang ke arah para pemain basket yang sedang latihan.

'Kenapa si Aomine Daiki berada di sini?'

'Hu'um, bukannya tempat dia latihan di lapangan first string? Ini 'kan lapangan untuk third string?'

Atau bisikan-bisikan lainnya juga turut meramaikan suasana di gedung tempat para pemain basket yang tergolong dalam third string.

"Dai-chan..!"

"Hnng?"

"Daaii-chan..!"

"Hnnnngg?"

"Da-i-chan! Oh, ya ampun!"

"Jangan berisik dulu, Satsuki!"

"Mou~, Dai-chan! Kau sedang apa sih?!"

"Mencari." jawabnya singkat, padat dan tidak jelas bagi perempuan bersurai baby pink itu.

"Haaaahh?"

"Ssst!"

"Da—!"

"TIDAK ADAA! DIA TIDAK ADA DI SINI! ARRGHH! Apa yang kemarin itu hanya hantu?! TIDAK. DIA MEMANG ADA! TAPI DI MANAA?!" seru remaja berkulit tan itu dengan histeris sambil kedua tangannya memegang kepalanya.

PLAK!

Satu tamparan melayang bebas tepat di bagian belakang tubuh remaja berkulit tan itu.

"ARRGHH! SAAKKIIIITTTTT! OI SATSUKI! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Seru Aomine sambil mengelus-elus belakangnya.

"SEHARUSNYA AKU YANG TANYA! AHOMINE DAIKI! MEREKA SEMUA MEMPERHATIKAN KITA, BODOH!"

"Sudah ku bilang kalau aku sedang mencari! Oh ya ampun! Kau pergi saja dulu, nanti aku menyusul!"

"Tapi Akashi-kun sudah menunggumu dari tadi!"

"Oh, si kepala merah itu."

"Apa maksudmu, Aomine Daiki?"

Mendengar suara khas dari sang kapten barunya, remaja berkulit tan itu langsung keringat dingin.

"Y-Yo! Akashi! A-Apa kabar?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Aomine! Bukankah sudah kukatakan pada Momoi untuk memanggilmu? Dan aku yakin, Momoi sudah mengatakan hal itu padamu."

"A-Ahaahaha. Ka-kau benar. Maaf."

Anak beriris crimson itu mendesah.

"Sudahlah. Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak seharusnya berada di tempat ini, bukan?"

"Yeah, aku tahu itu. Aku hanya mencari seseorang saja."

"Siapa?"

"Hem... Pemain basket di third string berwajah datar, mungkin?"

"Haaaah? Apa maksudmu, Dai-chan?"

"Entahlah, tapi cuma itu yang ku ingat! ARRGHH! Kenapa aku tidak menanyakan namanya sejak awal?! Padahal kemarin, tinggal sedikiiitt lagi. TAPI DIA MENGHILANG!"

"ITU KARENA KAU BODOH, DAI-CHAN!"

"Sudahlah, Aomine. Lebih baik kau segera ikut aku sebelum ku gandakan waktu latihanmu. Midorima dan yang lainnya sudah menunggumu dari tadi."

"H-Hai!" balasnya seraya mengikuti anak bersurai merah itu.

Gadis bersurai baby pink itu juga mengikuti mereka berdua.

"Tapi nee~, Dai-chan. Kenapa kau penasaran sekali dengan anak itu? Tidak biasanya kau tertarik pada seseorang."

"Entahlah, Satsuki. Dia bilang kalau dia juga sekolah di sini dan yaah, dia juga masuk klub basket. Terus, aku rasa dia juga punya kepribadian yang unik."

"AAHHH! Ja-Jangan-jangan?! Ini yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama?! Dai-chan sedang jatuh cinta?!" seru gadis beriris kwarsa ros itu dengan hebohnya.

"Aku tidak menyangka kalau kau itu gay, Aomine. Sebaiknya aku juga harus jaga jarak denganmu." ujar Seijuurou sambil menggelengkan kepalanya pelan, lengkap dengan wajah tanpa dosanya itu.

Dengan segera, remaja beriris safir itu menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya.

"BUKAN BEGITU, OI SATSUKI! AKASHI! CEH! JANGAN BICARA YANG ANEH-ANEH! NANTI MEREKA BERPIKIR YANG MACAM-MACAM TENTANGKU TAHU! LAGIAN AKU INI 100 PERSEN NORMAL! N-O-R-M-A-L!"

"Jangan berisik, Aomine! Kau seharusnya lebih mendengarkan kata hatimu sendiri. Kau tidak perlu menutupinya lagi, kami semua menerimamu apa adanya. Jadi tenang saja."

"Sudah kubilang itu semua tidak seperti yang kau pikirkan, Akashi-teme!"

"Apa? Berani sekali kau memanggilku seperti itu, Aomine Daiki. Baiklah, akan kulipat gandakan waktu latihanmu itu."

"A-Akashi!"

"Kau mau tambah?"

"Ti-Tidak, lupakan saja."

"Pilihan yang bagus."

Aomine mendesah.

'Ini semua ulahnya tapi aku yang kena hukuman?' gumamnya dalam hati.

"Apa yang ada dalam pikiranmu itu, Aomine?"

"Ti-Tidak ada, Akashi!"

'Sial! Kenapa dia bisa tahu?' pikirnya lagi sambil memijat dahinya.

"Ah ya, Akashi."

"Apa? Kalau kau mau menyatakan cinta padaku, aku rasa kau hentikan saja. Itu sia-sia. Kau bukan tipeku." jawabnya datar.

"BUKAN ITU! OH YA AMPUUN!"

"Jadi apa?"

"Ini soal anak baru itu."

"Haizaki Shougo?"

Aomine mengangguk.

"Ada apa dengannya? Kau suka padanya?"

"BUKAAANN! HENTIKAN ITU, AKASHI!"

"Oh, aku kira kau jatuh cinta padanya. Terus, kenapa dengan Haizaki?"

"Itu.. Hhh.. Entahlah, tapi aku rasa.. cara dia bermain.. aku tidak suka itu."

Remaja beriris crimson itu tersenyum licik. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini.

"Hm? Begitu ya?"

.

.

**Setting Skip**

.

.

"Halo? Miu Sanae di sini." ujar seorang wanita dari seberang sana.

"Halo, Miu-san. Ini aku, Kuroko."

"Ah! Ada apa, Kuroko-kun?"

"Begini, Miu-san. Hari ini aku tidak bisa datang. Aku sedang sakit. Maafkan aku." ujarnya seraya menundukkan kepalanya, meskipun ia tahu kalau tidak ada seorang pun yang akan melihat aksinya itu.

"Aah~, soal itu rupanya! Tidak masalah, Kuroko-kun. Kau istirahat saja dulu. Eh ya! Apa kau sakit karena yang kemarin itu, Kuroko-kun?" tanyanya gelisah.

"Bukan karena itu, Miu-san. Yang kemarin itu sama sekali tidak masalah. Hanya aku sedikit capek hari ini."

"Syukurlah! Ya sudah, kau istirahat saja dulu. Nanti kalau kau sudah rasa enakan, baru kau bisa datang."

"Hai.. Maaf membuatmu khawatir dan maaf merepotkanmu, Miu-san. "

"Tidak kok! Sama sekali tidak! Ja, sampai jumpa nanti, Kuroko-kun!"

"Hai."

PIP~

Kuroko menghela napas panjang. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada tembok kamarnya.

'Maafkan aku, Miu-san.'

.

.

**Setting Skip**

.

.

2 hari kemudian . . .

.

.

Para remaja bersurai biru tua, hijau, ungu, dan abu-abu tua serta seorang gadis bersurai baby pink mulai memasuki sebuah restaurant khas Jepang.

Seorang pelayan lalu menghampiri kelima orang tersebut.

"Meja untuk berlima?"

Gadis bersurai baby pink itu mengangguk, mewakili seluruh remaja bersurai pelangi itu.

"Baiklah, silahkan lewat sini." katanya dengan sopan seraya memperlihatkan tempat untuk mereka duduk.

Sang pelayan mulai menanyakan pesanan mereka dan mereka pun mulai melihat-lihat daftar menu restaurant itu. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka mulai memesan. Pelayan itu lalu mengangguk dan kemudian membawakan catatan pesanan mereka pada sang koki.

Saat ini, mereka sedang merayakan kemenangan pertama mereka di pertandingan musim semi kemarin. Mereka berhasil membuat lawan mereka kalah telak dengan cara melipat gandakan skor mereka. Strategi dan kemampuan memprediksi gerakan lawan si pemilik mata heterocom itu sangat akurat, dilengkapi dengan analisis si gadis bersurai baby pink itu membuat mereka dapat dengan mudah menyerang dan memasukkan bola ke dalam ring.

Juga, dengan pertahanan kuat dari bayi raksasa bersurai ungu itu, setiap lawan mereka selalu susah untuk meng-shoot ataupun melakukan rebound. Di tambah lagi, kecepatan dan ketepatan remaja berkulit tan itu dalam mendribble bola, sangat mempersulit mereka untuk melakukan steal. Dan kalau pun mereka berhasil memegang bola, ujung-ujungnya bola tersebut akan berhasil di ambil kembali oleh Haizaki. Di mana Haizaki mengoper bolanya pada Midorima, dan bwussh! Tri-point berhasil dicetak.

"Oi oi, pesananmu banyak sekali, Atsushi. Kau tahu? Kau bisa gendut kalau seperti itu." ujar remaja bersurai abu-abu tua yang bernama Haizaki Shougo.

"Begitu?"

"Tapi paling tidak, dia masih lebih baik darimu, Haizaki!"

"Ara ara~, pesananku sedikit kok, Daiki."

"Tapi sama saja kalau ujung-ujungnya makananku atau pesanan Murasakibara yang kau curi!"

"Eeh~. Aku tidak mencurinya, Daiki. Kau tega sekali!" balasnya.

"Ya! Tidak mencuri! Tapi mengambil tanpa izin! Itu sama saja, bodoh!"

"Hee~, Bingo! Kau pintar juga, ya? Ahahhah!" ujarnya lagi, lengkap dengan wajah mengejeknya, membuat remaja berkulit tan itu jadi hilang kesabaran.

"CIH, KAU..!"

Semua pengunjung yang ada di restaurant itu langsung berbalik ke arah mereka. beberapa pelayan sudah mulai gelisah melihat tingkah mereka yang mengganggu pengunjung lainnya.

"SUDAHLAH, KALIAN BERDUA! Ini di restaurant Dai-chan! Haizaki-kun!"

Midorima, satu-satunya remaja berkacamata dan beriris jamrud hijau itu hanya bisa mendesah melihat tingkah teman-teman setimnya itu. Ia lalu berdiri dan meminta maaf pada seluruh pengunjung dan juga pelayan yang memperhatikan mereka.

"Hh, ya ampun."

"Momo-chin, Aka-chin di mana?" tanya si bayi raksasa itu, mengabaikan argument kedua temannya.

"Sudah ku bilang, berhenti memanggilku dengan sebutan 'Momo-chin', Muk-kun! Sa-chan! Panggil aku dengan sebutan 'Sa-chan'! Astaga, harus berapa kali ku katakan padamu tentang hal ini, Muk-kun!"

"Hai.. hai.. Maafkan aku, Sa-chin."

Gadis bersurai baby pink itu mendesah.

'Ya sudahlah! Paling tidak, 'Sa-chin' masih lebih bagus daripada 'Momo-chin' gumamnya kesal.

"Sa-chin, kau belum jawab pertanyaanku."

"Benar juga. Di mana Akashi? Apa kau tahu, Satsuki?"

"Ah, Akashi-kun? Dia bilang ada urusan hari ini. Katanya dia mau pergi ke suatu tempat, jadi dia tidak bisa ikut bersama kita hari ini."

Midorima dan Aomine dengan kompak menyeritkan dahinya.

"Suatu tempat?" tanya mereka bersamaan.

Gadis bersurai baby pink itu hanya bisa mengangguk.

"Akashi-kun hanya memberitahu hal itu. Tidak lebih dan tidak kurang!"

"Haahhh?"


"Kau siap, Eru?" tanya pria bersurai baby blue itu pada seorang anak perempuan bersurai merah.

Anak itu mengangguk. Ia lalu memakai sepatu favoritnya yang merupakan hadiah dari kakak tercintanya sewaktu Eru genap berumur lima tahun pada 13 September yang lalu.

"Sempulna!" serunya dengan penuh rasa bangga.

Sang ayah dan ibu hanya bisa tertawa melihat tingkah peri kecilnya itu.

"Nah, maukah kau bantu ibu untuk memanggil Sei-kun? Kita harus pergi secepatnya agar kita tidak ketinggalan kereta."

"Hai!" balasnya singkat lalu dengan segera berlari ke lantai dua untuk memanggil remaja beriris heterocom itu.

TOK TOK TOK . . .

"Onii-chan! Apa onii-chan sudah selesai?" sahutnya sambil tetap mengetuk pintu kamar Seijuurou.

Tidak lama kemudian, terdengar suara kunci pintu terbuka. Anak beriris heterocom itu kini muncul dari balik pintu.

"Hai hai. Aku sudah selesai." Ujarnya sambil tersenyum kecil pada anak beriris aquamarine itu.

Ia lalu berjongkok kemudian menggendong adik kecilnya itu.

"Hm? Apa kau tidak bosan memakai sepatu ini, Eru?" tanyanya seraya melihat sepatu yang dipakai oleh Eru saat ini.

"Tiiiiiiiiidak! Aku suka sepatu ini, Onii-chan! Sepatu ini sangat bagus. Makanya, Elu suka."

"Oh ya? Padahal aku pikir akan membelikanmu yang baru. Tapi karena kau suka yang ini, jadi kakak tidak perlu membelikanmu yang baru, 'kan?"

"E-Eeeehh?"

Melihat raut wajah Eru yang langsung cemberut, Seijuurou langsung tertawa kecil. Ia lalu mengacak-acak rambut adik kecilnya itu.

"Maaf, maaf. Kakak hanya bercanda."

"Onii-chan! Jangan acak-acak lambut Elu sepelti itu!" ujarnya sambil memperbaiki kembali rambutnya yang sudah diacak-acak oleh Seijuurou.

"Tenang saja, dengan rambut seperti itu pun, kau tetap cantik kok."

Yang dipuji langsung tersipu malu. Remaja beriris heterocom itu memang sangat suka menggoda adik kecilnya. Ia paling suka melihat tingkah laku Eru saat sedang malu-malu ataupun salah tingkah. Karena, hal itu mengingatkannya pada Tetsuya, adiknya yang juga menjadi kakak Eru. Tetsuya juga merupakan anak yang pemalu, mengingat saat kedua orang tua mereka kedatangan tamu di rumah mereka, Tetsuya selalu berdiri di belakang Seijuurou. Ia sangat malu bertemu dengan orang lain.

"Ayo, kita pergi."

"Um!"


Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka ber-empat sampai di Osaka. Mereka lalu memanggil taxi dan kemudian pergi ke suatu tempat.

Beberapa menit kemudian, taxi tersebut berhenti pada suatu tempat yang tidak asing lagi di mata mereka.

.

.

-Akane Kiyomi-

.

.

Itulah tulisan yang berada di depan gerbang pintu masuk rumah itu. Meskipun bangunan tersebut sudah tidak layak untuk disebut sebagai rumah lagi karena beberapa bagian dari rumah itu sudah runtuh dan bekas terbakar mengelilingi rumah itu.

Hal ini sudah menjadi tradisi mereka sejak sembilan tahun yang lalu. Setiap menjelang hari kejadian itu terjadi, mereka mulai mengunjungi rumah tersebut, di mana rumah tersebut merupakan tempat Kiyomi dimakamkan.

Mereka kemudian berjalan menuju halaman yang berada di belakang rumah tersebut. Raut wajah Seijuurou semakin lama semakin menampakkan kesedihan, seiring dengan sampainya mereka pada dua buah batu nisan yang berdiri kokoh di antara bunga-bunga yang mulai layu.

Pada batu nisan tersebut, tertulis nama 'Akane Kiyomi' dan yang satunya lagi 'Akashi Tetsuya'. Meskipun pihak kepolisian tidak berhasil menemukan paling tidak jazad tubuh mungil Tetsuya saat api tersebut berhasil dipadamkan, mereka tetap beranggapan kalau Tetsuya sudah menjadi abu dalam lautan api itu. Di tambah lagi, Tetsuya tidak pernah muncul di hadapan mereka sejak saat itu dan sama seklai tidak ada kabar tentang anak bersurai baby blue itu, walaupun dari pihak polisi sendiri yang mencari keberadaannya. Oleh sebab itu, mereka beranggapan kalau Tetsuya kecil mereka sudah tiada lagi.

Setelah berkunjung di makam keduanya, mereka lalu masuk dalam reruntuhan rumah tersebut. Sekedar melihat-lihat saja.

"Ne nee, Okaa-chan, Otou-chan. Tetsuya-niichan dan Kiyomi-bachan tampangnya seperti apa? Tidak ada yang mempellihatkanku foto meleka, jadi kuputuskan untuk beltanya langsung pada kalian saja."

Keiko memandang ke arah anak perempuannya itu. Ia baru sadar bahwa selama ini, mereka semua tidak pernah memperlihatkan foto anak keduanya itu. Ia lalu mengambil dua lembar foto yang ia simpan dalam dompetnya itu, kemudian menunduk seraya memperlihatkan foto tersebut pada Eru.

"Ini, foto mereka berdua. Yang di samping ibu, itu foto bibimu, Kiyomi. Sedangkan yang di foto yan satunya lagi, itu foto Sei-kun dan Tetsu-kun, almarhum kakakmu. Maaf, selama ini ibu dan ayah tidak pernah memperlihatkannya padamu. " Ujarnya lembut.

"Ini foto Okaa-chan dan Kiyomi-bachan? Kenapa milip sekali?" tanyanya bingung.

"Itu karena mereka kembar, Eru. Hebat, bukan?" balas Yutaka.

Eru mengangguk pelan.

"Hmm. Telus, anak belambut bilu muda ini, Tetsuya-niichan? Dan di samping Tetsuya-niichan . . . Onii-chan?! Seijuulou-niichan? Kawaii~~!"

"Ahaha. Benar, bukan?"

Anak beriris aquamarine itu mengangguk semangat.

"Oniichan-tachi sangat imut! Meleka beldua juga milip. Hanya saja beda walna mata dan lambut. Eeh? Tunggu. Kenapa di sini Onii-chan, walna matanya itu dua-duanya melah? Dan sekalang tidak?"

"Karena suatu kecelakaan, Eru." Balas Yutaka lagi.

Melihat raut wajah kedua ayah dan ibunya tampak sedih, Eru menghentikan pembicaraannya itu. Dan mengembalikan kedua lembar foto itu pada Keiko.

Eru lalu memperhatikan sekellilingnya, mencari sesuatu.

"Ah, Onii-chan di mana?" tanyanya.

"Sei-kun masih ada di sana. Biarkan saja dia dulu. Dia butuh waktu untuk sendiri." Ujar Keiko sambil menunjuk ke arah Seijuurou.

Mereka semua dapat melihat Seijuurou sedang jongkok di hadapan makam Tetsuya. Di mana Seijuurou terus-menerus menatap makam adik kecilnya itu tanpa berbicara sepatah kata apapun. Ia hanya menatap makam itu dengan tatapan kosong.

"Onii-chan…"


(Yo~! Chapter 3 sudah terupdate! :D
Sekedar info saja, saat Seijuurou masih kelas satu dan sampai awal-awal kelas dua, saat Kise baru masuk jadi anggota first string, sampai saat itu Seijuurou masih memanggil mereka dengan nama keluarganya. Dan bukan nama panggilan mereka. Jadi kalau ada yang bilang seharusnya Seijuurou panggil mereka dengan nama panggilannya, maka kalian harus cek di OVA:Tip-Off dan di flashback ep.
14
Makasih sudah mau membaca~)

RnR Please?