Chapter 4
"Dai-chan, malam ini kau harus makan di rumahku!"
"HAAAHH?! TIDAK! AKU TIDAK MAU! AKU MASIH SAYANG HIDUPKU, SATSUKI!" balas remaja berkulit tan itu dengan wajah histeris.
"HEE?!"
"Tidak, ini tidak boleh terjadi! Aku belum baca majalah terbarunya Mai-chan. Arghh! Mana terbitnya masih 3 hari lagi! HUAAHH! KENAPA HAL INI TERJADI PA—!"
PLAK !
"Berisik! Tenanglah, A-HO-MI-NE!"
"Kenapa kau sadis sekali, Satsuki! Sakit tahu!"
"Itu karena kau terlalu berisik, Dai-chan! Hari ini Okaa-san datang ke rumah, jadi dia menyuruhku untuk mengajakmu makan malam bersama!"
"Ooohh! Karena itu… Syukurlah!" ujar anak beriris safir itu sambil mengelus-elus dadanya lalu menghela napas lega.
"Memangnya apa yang kau pikirkan barusan, Dai-chan?!"
"E-Etoo, bu-bukan apa-apa, Satsuki."
"Bisakah kalian berdua tenang sedikit? Ini sudah malam, nanodayo ! Kalian menggangu warga yang tinggal di sekitar sini!" ujar remaja bersurai lumut itu kesal.
Sejak tadi, ia hanya diam mendengarkan ocehan sepasang sahabat—yang lebih cocok disebut dengan sepasang suami istri— itu sambil memegang benda keberuntungannya hari ini, lampu senter bercorak gambar Hello kitty.
Saat ini, mereka bertiga masih dalam perjalanan pulang ke rumah mereka masing-masing. Murasakibara sudah pulang lebih dulu dari mereka. Katanya, dia harus pergi ke toko untuk membeli snack-snack keluaran terbaru. Soal Haizaki, dia sudah menghilang entah kemana saat setelah latihan. Sedangkan Akashi, dia masih ada urusan dengan pelatih, jadinya dia masih tinggal di sekolah. Jadi kini, tinggal mereka bertiga saja yang belum sampai di rumah.
"Kenapa kau masih mengikutiku, oi Midorima!"
"Jangan salah sangka! Itu hanya kebetulan saja karena rumahku juga lewat jalan ini, nanodayo. Aku dengar dari Akashi kalau kau ini gay. Jadi kukatakan sekali lagi padamu, jangan salah sangka! Aku sama sekali tidak tertarik padamu, Aomine."
"APA?! SI KEPALA MERAH SIALAN ITU! GRR!"
PIP
"Eh?"
Kedua remaja itu menoleh ke arah datangnya suara.
"Perkataanmu tadi sudah berhasil 'ku rekam, Dai-chan. Akan kupastikan Akashi-kun mendengarnya." ujar Momoi sambil menyeringai ala tokoh antagonis di drama-drama televisi.
"EEHHH?! HOI, HENTIKAN HAL ITU SATSUKI! Kenapa kau kejam seperti ini padaku?!"
"Kau yang memulainya lebih dulu, Dai-chan! Aku tahu! Pasti kau mengejek soal masakanku, 'kan?!" Gadis bersurai baby pink itu lalu menggembungkan kedua pipinya, kemudian menoleh ke arah yang berlawanan dari tempat Aomine. Ia berniat untuk mengacuhkan tatapan gugup yang dilemparkan oleh remaja berkulit tan itu.
"Tidak! Aku tidak mengejekmu, Satsuki! Kau hanya salah sangka saja! Lagipula, ini juga salahmu! Kalau saja itu hari kau tidak berkata yang aneh-aneh, pasti tidak akan seperti ini jadinya! Oh ya ampun!" seru remaja beriris safir itu.
"Bohong! Bweee!" ujar gadis itu lagi sambil menjulurkan lidahnya.
"Aku tidak bohong, Satsuki! Sungguh! Kau juga tidak ingin melihatku dikubur hidup-hidup oleh Akashi, bukan? Ayolah, Satsuki." ucapnya dengan nada dan muka memelas, lengkap dengan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuhnya.
"Tidak!"
"Oh ayolah, Satsuki! Kalau besok aku dikubur hidup-hidup olehnya, akan kupastikan orang pertama yang akan kuhantui itu kamu, SAT-SU-KI." ujar Aomine lagi sambil menggoda gadis bersurai baby pink itu.
"Bo-Bodoh! Dai-chan benar-benar bodoh! Aku tidak penakut sepertimu!"
"Heee~? Benarkah itu~?"
"Mou~, tentu saja, Dai-chan! Ah ya! Soal hantu, aku dengar, ada rumor mengatakan kalau di lapangan third string ada hantuny—KYAAAAAAAAAAA! DAI-CHAN IDIOT!" teriak gadis beriris kwarsa ros itu karena terkejut.
Bagaimana ia tidak terkejut? Tepat pada saat ia berbalik ke arah kedua remaja bersurai pelangi itu, sesuatu yang remang-remang tiba-tiba saja bersinar terang.
Ya, 'sesuatu' yang remang-remang itu ialah Aomine Daiki. Remaja berkulit tan itu sedang menyalakan lampu senter bercorak hello kitty milik Midorima, tepat ke arah wajahnya. Ia berniat untuk menakut-nakuti sahabat masa kecilnya itu, yang mengaku bahwa ia tidak takut dengan yang namanya 'hantu'. Dan alhasil, remaja beriris safir itu malah mendapatkan sebuah tamparan di pipinya.
"Kembalikan lucky itemku, Aomine!" kata si pemilik lampu senter itu dengan kesal. Ia lalu merampas kembali benda keberuntungannya hari ini.
"Sungguh! Dai-chan! Akan kuberikan rekaman ini pada Akashi-kun!"
"JANGAANN!"
"Ah ya, Momoi. Apa yang kau maksudkan tadi? Lapangan basket third string ber—hantu?"
"Oi Midorima! Jangan memotong pembicara—!"
"Ah, soal itu? Entahlah, tapi mereka bilang kalau salah satu dari mereka pernah mendengar suara orang sedang bermain basket. Namun, saat dia mengecek tempat itu... ti-tidak ada seorang pun di sana!"
"Eehh?! Serius?!"
Momoi menggangguk mantap, di balas dengan tatapan ngeri dari kedua lawan bicaranya itu. Meskipun raut wajah Midorima tidak seperti Aomine. Ia hanya diam sambil menyeritkan dahinya, tetap memasang tampang sok coolnya itu. Sedangkan Aomine sendiri, ia malah menunjukkan ekspresi yang sama dengan yang tadi, saat Momoi berkata kalau ia akan memperdengarkan rekaman itu pada si pemilik iris heterocom, Akashi Seijuurou.
"Bo-Bodoh! Tidak ada yang namanya hantu, Satsuki! Itu hanya rekayasa saja!"
"Jangan-jangan, kau takut dengan hantu, Aomine?"
"Ti-tidak! Jangan bercanda kau, Midorima! Ma-mana mungkin aku takut hantu! Sesuatu yang seperti itu mana mungkin ada, bodoh! Atau jangan-jangan, kau sendiri yang takut pada hantu, Mi-do-ri-ma?"
"Diamlah, Ahomine! Kau terlalu berisik!"
"Kau yang seharusnya diam, Satsuki! Dan satu lagi, AKU TIDAK BODOH! Astaga!"
"Ja, aku duluan." ujar Midorima sambil mempercepat langkahnya. Ia benar-benar tidak ingin berada di samping mereka karena mereka terlalu berisik. Midorima tidak ingin, reputasinya sebagai anak yang baik menjadi hancur hanya karena perdebatan kekanak-kanakkan kedua temannya itu. Sekaligus, untuk menghindari pertanyaan dari remaja bekulit tan itu.
"Oi Midorima! Jangan kabur kau! HOII! Ceh!"
.
.
**Setting Skip**
.
.
"Heeee?! SERIUSS?" seru Aomine saat ia masuk dalam tempat di mana ia biasa berlatih.
Tempat yang seharusnya hanya orang-orang tertentu saja yang boleh masuk dan latihan, kini dipenuhi dengan wajah-wajah yang asing dari ingatan remaja berkulit tan itu. Bukan hanya itu saja, gedung yang seharusnya hanya beberapa orang saja yang ada di dalamnya, kini dibanjiri oleh sekitar sebelas kali lipat dari jumlah mereka berenam. Jadi, wajar saja kalau ia menatap mereka dengan tampang keheranan.
"Oh, Dai-chan! Di sini kau rupanya." ujar Momoi yang tiba-tiba muncul di sebelah kanan Aomine.
"A-Apa maksud dari semuanya ini, Satsuki? Kenapa di sini ramai sekali?! Selain itu, mana mereka semua?! Mana si Akashi? Midorima? Si bayi raksasa itu? Haizaki ShougAHo?! Di mana mereka semua?"
"Tenanglah, Dai-chan! Akashi-kun sedang bertanding di kejuaraan Shogi tingkat SMP se-Jepang. Kalau Muk-kun, dia langsung pergi setelah kuberitahu bahwa hari ini tidak ada latihan. Midorin sendiri, dia juga ikut dengan Akashi-kun. Mereka berdua diminta tolong oleh kepala sekolah untuk mewakili SMP Teiko dalam kejuaraan Shogi. Sedangkan Haizaki-kun, entahlah. Tapi sepertinya, dia sedang jalan-jalan dengan tiga orang siswi."
"O-Oi! Tunggu dulu! Yang paling pertama 'ku tanya bukan soal itu! Kenapa di sini ramai sekali, Satsuki?! Kita tidak latihan? Tapi tunggu, Haizaki Shougaho— apa? TIGAAA?!"
Melihat tampang kaget dari teman semasa kecilnya itu, Momoi hanya bisa mengangguk, sekaligus mendesah.
"Dai-chan! Sudah aku bilang, jangan berisik! Para senpai sedang latihan untuk pertandingan di festival akhir semester nanti. Pertandingan terakhir mereka sebelum lulus. Pertandingan ini, tiap-tiap kelas harus memiliki minimal 5 orang wakil. Jika tidak, kelas tersebut akan di eliminasi. Nah, kebetulan Akashi-kun sedang ada urusan, jadi dia bilang kalau hari ini kalian tidak perlu latihan." jelasnya lagi.
Mendengar hal itu, remaja berkulit tan tersebut hanya bisa mendesah dan pasrah saja. Ia lalu berjalan keluar dari gedung tersebut dengan langkah gontai menuju ke taman yang ada di Teiko. Tingkahnya ini sangat mirip dengan orang yang baru saja diputuskan oleh pacarnya.
Setelah lama duduk berdiam diri dan juga terlalu bosan karena tidak latihan, akhirnya Aomine menyerah. Ia mulai melangkah lagi untuk mencari tempat di mana ia bisa latihan kembali. Namun sia-sia saja, lapangan luar sudah kuasai oleh anggota klub olahraga lainnya dan lapangan basket second string yang ia kunjungi juga sudah penuh dengan siswa siswi kelas 3.
Sisa satu lapangan yang ia belum kunjungi, yaitu lapangan third string. Sesampainya ia di lapangan tersebut, ia langsung tersenyum bahagia. Ternyata, tidak ada seorang pun yang berlatih di lapangan third string.
"SURGAA!" serunya dalam hati.
Namun dalam sekejap, ia kembali tersadar dari lamunannya. Tepat saat ia melangkah masuk ke area lapangan tersebut, ia mendengar suara decitan sepatu dan juga suara pantulan bola. Remaja bersurai biru tua itu lalu melihat sekitarnya, tapi tetap saja, tidak ada seorang pun di sana. Kemudian otaknya langsung mengingat kembali perkataan teman masa kecilnya itu.
"..mereka bilang kalau salah satu dari mereka pernah mendengar suara orang sedang bermain basket. Namun, saat dia mengecek tempat itu... ti-tidak ada seorang pun di sana!"
Mengingat hal itu, tubuh Aomine mulai gemetaran. Ditambah lagi, suara pantulan bola tersebut tiba-tiba saja berhenti dan suara langkah kaki semakin dekat dengannya, benar-benar membuatnya semakin gugup, sampai-sampai ia berjongkok sambil menutup matanya erat-erat dan juga menutup kedua kupingnya menggunakan kedua tangannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa yang namanya hantu itu, 'memang ada'. Dan, teriakannya pun langsung pecah, saat sebuah tangan bekulit pucat menyentuh pundaknya.
"Ano, maaf kalau aku membuatmu terkejut." ujar remaja tersebut dengan datar.
Mendengar suara yang tidak asing lagi, Aomine mulai menoleh ke arah datangnya suara.
"E-Eh?"
"Ah, Aomine-kun. Apa yang kau lakukan di sini?"
"KA-KAUUUUU! TI-TIDAK BISAKAH KAU MUNCUL DENGAN CARA NORMAL?! OH, ASTAGA!" serunya dengan napas yang terengah-engah, sambil ia mengelus dadanya karena kaget.
"Maaf, Aomine-kun. Aku muncul dengan cara biasa, kok. Tapi, tidak heran kalau kau terkejut seperti ini. Yang lainnya juga sama sepertimu, Aomine-kun."
"Bodoh! Untung saja aku tidak terkena serangan jantung! Kalau tidak, mereka pasti menebarkan gosip kalau aku ini korban pertama karena terkena kutukan hantu di lapangan third string!"
"Ah ya, kenapa kau sendiri di sini? Mana teman-temanmu?" tanyanya lagi saat rasa terkejutnya mulai mereda.
"Mereka semua sudah pulang sejak tadi. Aku masih ingin latihan, jadinya aku pulang lebih lama dari mereka. Lagipula, mereka memang berbeda denganku."
Aomine menyeritkan dahinya.
"Berbeda? Apanya?"
"Dalam segala hal, mungkin? Aomine-kun sendiri, kenapa kemari?" tanyanya dengan wajah polos.
"Hm? Ah, para senpai lagi memakai lapangan tempatku berlatih, di lapangan luar juga sudah di kuasai oleh anggota klub lain. aku coba ke lapangan second string juga sama. Jadi yaah, akhirnya aku ke sini, dan ternyata, di sini memang kosong!"
"Hm. Aomine-kun sangat suka bermain basket, ya?"
"Tentu saja! Dan kau juga begitu, bukan? Kalau tidak, untuk apa kau repot-repot ingin berlatih sendirian di tempat ini, ya 'kan?"
"Mungkin."
"Ahahah! Ternyata kau memang menarik! Yossh! Sudah kuputuskan! Aku akan menemanimu latihan setiap hari seperti ini. Etoo, tunggu dulu. AHHH! Namamu siapa?"
"Hm? Kuroko Tetsuya. Maaf baru saat ini aku memperkenalkan diriku, Aomine-kun." ujarnya sambil menunduk untuk meminta maaf pada remaja berkulit tan itu.
"Tidak masalah. Ayo, kita mulai!"
"Hai!"
.
.
**Setting Skip**
.
.
"Momoi, apa kau tahu di mana Aomine berada?" tanya remaja beriris heterocrome itu.
"Aomine-kun? Entahlah, akhir-akhir ini dia jarang kelihatan."
"Apa Mine-chin bolos latihan?"
"Aku rasa itu tidak mungkin, Muk-kun. Aomine-kun sangat suka bermain basket. Ah ya, aku juga ingat, waktu itu hari saat latihan ditiadakan, Aomine-kun terlihat kecewa. Jadi aku rasa, Aomine-kun tidak mungkin membolos." Terang gadis bersurai baby pink itu.
"Mungkin dia latihan di tempat lain?" usul Midorima akhirnya.
"Mungkin? Dari pada kita membuang-buang waktu di sini, bagaimana kalau kalian bertiga ikut aku untuk mencarinya?"
Mereka semua mengangguk. Mau atau tidak, mereka harus menuruti permohonan (baca : perintah) sang kapten. Lagipula, beberapa hari lagi, mereka harus bertanding melawan SMP yang juga terkenal hebat dalam bermain basket. Dan untuk memenangkannya, mereka harus berlatih bersama-sama, sekaligus untuk mengatur beberapa strategi agar mereka dapat bermain dengan baik.
Sementara dalam pencarian si remaja berkulit tan itu, tiba-tiba Seijuurou teringat akan sesuatu. Ia lalu menghentikan langkahnya. Otomatis, ketiga temannya itu juga ikut berhenti. Remaja bersurai merah itu lalu mengaba-aba mereka bertiga untuk mengikutinya. Ia bilang kalau ia sudah tahu di mana tempat Aomine berada.
Setelah berjalan tak jauh dari tempat mereka tadi, akhirnya mereka berhenti.
"Sudah kuduga kau berada di sini, Aomine."
"Eh? Ah. Yo, Akashi! Semuanya!"
Si pemilik iris heterochrome itu memperhatikan sekitar. Ia lalu menyadari bahwa ada seseorang di belakang remaja berkulit tan itu. Sedikit terkejut, karena awalnya, dia sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan anak itu.
"Kenapa kau latihan di sini sendir—"
"Tidak, dia tidak sendiri." Ujar Akashi, memotong pembicaraan si remaja pecinta oha-asa itu.
"Siapa yang di belakangmu itu, Aomine?" tanyanya lagi dengan tampang penuh selidik.
"Ah, dia? Dia ini orang yang kubicarakan waktu itu, Akashi! Pemain basket di third string berwajah datar!" serunya bangga. Yang lain hanya menatapnya dengan wajah datar.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Aomine-kun?" protes anak yang berada di belakang Aomine itu, namun tetap dengan wajah datarnya.
"Maaf, maaf. Awalnya 'kan aku sama sekali tidak tahu namamu." Jelasnya.
"Ah semua, ini dia orang yang kubicarakan saat itu." Ujarnya lagi seraya menarik lengan Kuroko untuk berdiri di sampingnya, agar dia bisa terlihat oleh teman-temannya itu.
.
.
"Ceijuulou-niichan!"
.
.
Kalimat itu yang langsung terlintas di kepala si pemilik mata heterochrome itu. Matanya langsung membelalak melihat sosok yang berada di depannya saat ini. Sosok yang sangat mirip dengan seseorang yang ia sangat sayangi. Tetsuya, Akashi Tetsuya, adik kecilnya yang sudah tiada sejak kejadian 10 tahun yang lalu karena insiden kebakaran.
"Ada apa, Aka-chin?" tanya Murasakibara heran. Yang lainnya juga langsung menatap Akashi dengan tatapan bingung karena baru kali ini, mereka melihat raut wajah si pemilik iris heterochrome tersebut seperti itu.
"Ka-kau.. Tetsu.. ya..?"
(Maaf telat update.y minna! *nunduk 180 derajat Celcius(?)*
Membosankan? Aku rasa juga begitu. *Gomen nee /\''
Sesuai dengan keinginan para pembaca, kali ini aku pertemukan mereka *Seicchin jadi Cupid(?) ceritanya XDv*
Daripada itu, makasih ya, sekali lagi buat kalian yang udah mau baca, nge-follow, nge-favo, nge-review, bahkan yang jadi silent reader! :D)
RnR Please?
