Chapter 5
"Ka-Kau.. Tetsu.. ya..?" tanya si pemilik mata heterochrome itu pada Kuroko.
Kuroko, orang yang ditanya, beserta anggota timnya hanya bisa menatap remaja bersurai merah itu dengan wajah kebingungan, kecuali Murasakibara yang sibuk menikmati cemilannya.
"Kalian saling kenal? Hoi Akashi, kau kenal dengan Kuroko?"
Akashi menatap remaja berkulit tan itu heran.
"Kuroko?" tanyanya.
"Hai, namaku Kuroko, Kuroko Tetsuya. Salam kenal." ujar anak bersurai aquamarine itu sambil tunduk memberikan salam pada Akashi dan teman-temannya.
"Kuroko... Tetsuya?"
"Hai. Ano, apa kita sudah bertemu sebelumnya?" tanyanya bingung.
"Apa kau yakin, namamu benar-benar Kuroko?"
"Hoi hoi, kau bicara apa, Akashi? Aku sama sekali tidak mengerti!"
"Diamlah, Aomine." ucap Akashi, seperti memerintah si remaja berkulit tan itu, namun tidak menggunakan emosinya sama sekali. Ia menyuruhnya dengan nada datar.
Yang diperintah pun langsung keringat dingin mendengar ucapan Akashi. Tidak biasanya, Akashi menyuruhnya diam atau apapun itu, tanpa ancaman-ancaman seperti akan melipat-gandakan porsi latihannya atau jika tidak, ia harus makan masakan ala Momoi selama seminggu penuh.
Ia lalu menelan ludahnya. Kemudian berjalan menuju ketiga temannya itu.
"Ha-Hai, lanjutkan saja pembicaraanmu."
"Kuroko, maaf, sepertinya aku salah orang. Perkenalkan, aku Akashi Seijuurou. Orang yang di samping kananku ini namanya Murasakibara Atsushi, dan di sebelahnya lagi, Midorima Shintarou. Dan yang ini, Momoi Satsuki. Maaf atas ketidaksopananku tadi." ujar Akashi seraya meminta maaf pada anak berwajah datar itu.
Melihat tingkah laku sang kapten yang sangat aneh, Aomine langsung bergidik ngeri. Midorima memperbaiki posisi kacamatanya, kemudian menatap Akashi dengan tampang tidak percaya. Momoi hanya bisa menyeritkan dahinya. Sedangkan Murasakibara, ia malah berpikir kalau kaptennya ini salah makan, kepalanya habis terbentur atau mungkin karena ia memakan masakan Momoi, jadinya pemilik mata heterochrome itu berubah sikap seperti ini.
Mungkin bagi Kuroko, seseorang yang meminta maaf itu adalah hal biasa. Namun bagi keempat remaja yang juga berada di situ, untuk seorang Akashi Seijuurou, hal itu adalah hal yang luar biasa, yang juga sangat mustahil bagi seorang Akashi Seijuurou untuk membuang waktunya hanya karena meminta maaf. Dan juga, biasanya Akashi menyuruh teman-temannya untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Namun kali ini, tidak biasanya ia dengan senang hati memperkenalkan nama mereka pada seseorang yang sama sekali tidak mereka dan Akashi kenali— kecuali Aomine pastinya.
Anak bersurai baby blue itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya aku sedikit terkejut mendengar kamu memanggilku dengan nama depanku tadi. Jadi, aku pikir kalau kita sudah pernah bertemu sebelumnya."
"Hm." gumamnya pelan seraya terus-menerus menatap anak beriris aquamarine itu.
"Ada apa?"
Seijuurou mendesah pelan. Ia lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, bukan apa-apa." ujarnya lagi sambil tersenyum kecut.
'Haha, bodohnya aku ini. Mana mungkin dia adikku 'kan? Kiyomi-bachan saja tidak bisa menyelamatkan diri, apalagi Tetsuya. Dia 'kan masih kecil? Ahah, bodoh.'
"Hoi Akashi! Apa yang ka— ummm!"
"SSSSTTTTT!" disis Aomine dan Momoi dengan kompak.
Tangan kanan Aomine masih mendekap mulut remaja bersurai abu-abu yang baru saja tiba di tempat tersebut. Yang didekap hanya bisa meronta sambil bergumam tidak jelas.
"Diamlah! Shougaho! Jangan ganggu dia!"
"Hu'um! Haizaki-kun, kau tidak boleh mendekat!" tegas gadis bersurai baby pink itu.
"Haaahh? Memangnya dia kenapa? Apa salahnya kalau aku ke sana?"
"Dengar ya, kalau kau pergi kemari, kau akan mati!" jelas Aomine dengan raut wajah yang tegang.
"Kau terlalu berlebihan, Aomine-kun! Gezzzz! Tapi pokoknya, kau lebih baik jangan ke sini, Haizaki-kun!"
"Makanya aku tanya! Memangnya ada apa di dalam?!"
"Ada Aka-chin. Aka-chin lagi terkena gangguan otak, jadi sebaiknya kau berhati-hati, Zaki-chin." balas si bayi raksasa itu yang tiba-tiba muncul dari belakang Aomine dan Momoi, sambil mengunyah biskuit susu yang baru ia beli saat istirahat tadi.
"Hah?!"
.
.
**Setting Skip**
.
.
"HAAAAHHHHHHH?!"
"Diamlah, Haizaki!"
"OI MIDORIMA! KENAPA JADI SEPERTI INI?!"
"Apanya yang kenapa, Shogaho?" tanya remaja berkulit tan yang berdiri di samping remaja beriris jade itu.
"I-Itu! Siapa dia? Kenapa dia ada di sini?"
"Oh, maksudmu Tetsu? Dia sudah berhasil melewati tantangan yang Akashi berikan padanya. Jadi, yah.. Begitulah. Dia sudah menjadi anggota first string tiga hari yang lalu, saat kau tidak datang ke sekolah. Lagipula, kalau aku sih, sama sekali tidak masalah." jelasnya santai. Tapi tidak dengan orang yang mendengarkan penjelasannya itu.
"TAPI ITU'KAN MUSTAHIL, AHOMINE DAI—"
BUK!
Sebuah bola melayang tepat di wajah Haizaki. Wajah yang tadinya putih, kini mulai berwarna pink kemerahan. Raut wajah yang tadinya penuh keheranan, kini malah berubah dengan raut wajah yang tampak kesakitan sekaligus kesal. Ia langsung mencari si pelempar bola tersebut yang ternyata sudah berdiri kurang lebih satu meter di hadapannya, dengan wajah yang datar seperti biasanya.
"Ah, maafkan aku. Tadi aku kurang berhati-hati, jadinya arah lemparanku meleset."
"Hmpf—HUAHAHAHAHHAHAHAH! HIDUNGMU JADI SAMA SEPERTI HIDUNG BADUT!" seru Aomine yang sejak tadi menahan tawa.
"KA-KAAUUU! OI AHOMINE, DIAMLAH! DAN KAU.. ANAK KECIL! KAU BEN—!"
BUK!
"Ah maaf, arah lemparanku meleset lagi. Midorima-kun, sebaiknya kau berikan benda keberuntungan Haizaki-kun, agar dia tidak sial seperti ini. Aku ingin melanjutkan latihanku dulu, permisi." ujar Kuroko dengan wajah tanpa dosa, meninggalkan remaja bersurai abu-abu yang terus memegang hidungnya dengan penuh kekesalan.
"Ugh! Sial! Hanya orang bodoh yang mau memasukkannya menjadi anggota first string!"
"Oh. Aku yang memasukkannya ke dalam tim. Kenapa? Ada masalah?" tanya Akashi sambil menatap laki-laki bersurai abu-abu itu dengan tatapan dingin, seperti biasanya.
"A-Ah, tidak masalah. Oh ya! Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."
"Oh, begitu? Kebetulan aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Hoo?"
"Ikut aku." ucap Akashi seraya melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat, diikuti oleh remaja bersurai abu-abu itu.
Suasana yang dingin dan tegang yang tadinya menyelimuti area tersebut, langsung hilang seketika itu juga, tepat saat tidak ada lagi sosok sang kapten di gedung tersebut. Kedua remaja itu langsung menghela napas lega.
"Fyuuh! Aku pikir akan ada peristiwa pemenggalan di sini. Kalau biasanya, si Shougaho akan dipenggal dengan gunting-gunting antiknya itu. Apalagi, tadi dia bilang, hanya orang bodoh yang mau memasukkannya dalam tim. Heh, ternyata dia masih bisa hidup. Keajaiban terjadi!"
"Ya, aku pikir juga begitu. Tapi, apa kau tidak merasa sedikit kejanggalan?"
"Kejanggalan? Apanya?" tanyanya bingung.
"Hhh. Ternyata kau memang bodoh, Ahomine. Itu.. semenjak ia bertemu dengan anak itu, entah kenapa, tapi aku rasa sifatnya sedikit berubah. Jangan bilang kalau kau tidak menyadarinya?!"
"Tentu saja tidak, bodoh! Aku tahu, sejak Akashi bertemu dengan Tetsu, dia jadi sedikit berubah. Kalau aku berbuat sesuatu yang salah, dia tidak mengancam hal ini dan itu. Padahal beberapa hari sebelumnya, hal-hal yang salah, walaupun hanya sedikiiiiittt salah, ia pasti akan menghukumku. Saat Tetsu mulai bergabung dalam tim, di dengan senang hati membuatkan pesta kecil-kecilan —seperti saat Haizaki dulu—, tapi saat perayaan si Haizaki, dia tidak mau ikut pesta kecil-kecilan seperti itu. Bahkan saat kemenangan pertama kita, dia malah tidak hadir dan ikut bersama kita. Tapi waktu Tetsu bergabung, dia malah ikut pergi bersama kita semua. Apa dunia mau kiamat?" tanyanya lagi sambil memasang wajah polos.
"Kau terlalu cerewet, Ahomine. Tapi, entahlah. Bagaimanapun, tingkah laku Akashi jadi sedikit berubah. Dan semua hanya karena anak itu."
"Ada apa ya, dengan si Akashi?"
"Di sini saja."
"Baiklah."
"Biar aku saja yang mulai. Kau, apa kau benar-benar ingin menyerahkan surat yang kau simpan itu?" tanya Akashi, coba untuk menebak hal yang akan dilakukan oleh Haizaki.
"Aha, kau memang selalu tahu akan gerak-gerikku selanjutnya. Ku akui, kau memang pantas jadi kapten, Akashi Seijuurou."
"Oh?"
Haizaki mulai mengambil amplop surat yang berada di saku celananya itu. Ia lalu menyerahkan surat tersebut pada Akashi.
"Ambillah. Dua hari lagi, aku akan pindah dari sekolah ini. Jadi lebih baik kalau hari ini saja ku serahkan padamu."
"Kenapa kau ingin pindah?"
"Alasan aku ingin pindah sebenarnya itu bukan urusanmu. Tapi yaah, biarlah. Ini karena ayahku dipindah-tugaskan keluar negeri. Jadi mau atau tidak, aku harus ikut ayahku. Secara, ayahku adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa."
"Hmm."
"Aku pikir tidak masalah. Toh, ada anak itu yang menggantikanku. Dan juga, aku dengar, kau sedang tertarik dengan seseorang lagi, bukan? Kalau kau yang menentukan seperti itu, maka aku anggap itu tidak masalah. Karena—"
"Aku selalu benar, bukan?" sambungnya cepat.
Remaja bersurai abu-abu itu langsung menyeringai ke arah Akashi. Si pemilik mata heterochrome itu juga membalas seringaian Haizaki. Haizaki lalu membalikkan tubuhnya, kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu sambil melambaikan tangannya.
"Ja nee~! Dan bersiap-siaplah. Di kali berikut kita bertemu, kau dan aku akan berada di tempat dan posisi yang berbeda."
"Aa! Akan ku tunggu."
"Kenapa kalian semua tidak latihan?"
"Ah, Akashi-kun. Kau dari mana saja?" tanya gadis bersurai pink itu.
"Dia tadi pergi dengan si Shougaho." jawab Aomine, orang yang tidak ditanya sama sekali.
"Lalu? Haizaki ada di mana, Akashi? Dia tidak ikut latihan?"
"Tidak. Dia keluar dari tim."
"HAAAAHHH?!" seru mereka kompak dengan tampang terkejut. Sedangkan Akashi, ia hanya menatap mereka dengan wajah biasa-biasa saja.
"Dia bilang, dia harus pindah keluar negeri karena pekerjaan ayahnya. Dia akan pergi dua hari lagi."
Dengan kompak, mereka semua mengangguk mengerti kemudian langsung terdiam.
Tidak lama mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing, Seijuurou, si pemilik mata heterochrome itu tiba-tiba merasa sedikit gelisah. Meskipun raut wajahnya tampak tenang seperti biasa. Ia lalu menyadari bahwa ada yang kurang dari mereka.
"Ah ya, Kuroko. Di mana anak itu?" tanya Akashi tiba-tiba, membuyarkan lamunan mereka.
"Tetsu? Dia sudah pulang. Dia bilang kalau hari ini adalah jadwal kerja sambilannya. Jadi dia harus pulang cepat."
Akashi mengernyitkan dahinya.
"Kerja?"
"Aa. Dia memang sedang bekerja di rumah makan khas Jepang. Aku lupa nama tempatnya, tapi lokasinya tidak jauh dari sini kok." jelas remaja berkulit tan itu.
"Dia masih SMP tapi sudah bekerja?"
"Mine-chin, seharusnya kau tahu nama tempatnya. Supaya kalau aku datang makan di sana, ada Kuro-chin yang memberikanku potongan harga."
"Mou~, Muk-kun! Jangan menyusahkan Tetsu-kun seperti itu! Walaupun Tetsu-kun memang anak yang baik, tapi kau tidak boleh mempergunakannya, Muk-kun. Tetsu-kun, kalau Tetsu-kun pasti akan memberikan apa yang kau inginkan. Tetsu-kun memang anak yang baik. Belum lagi Tets—"
"Ho'oh, kau benar Midorima. Dia bekerja sebagai pengantar makanan sih. Tapi, bekerja sebagai pengantar makanan ternyata cukup berbahaya, menurutku. Waktu itu saja, si Tetsu hampir disuruh ganti rugi sama bosnya. Padahal diperjalanan, dia diserang dengan dua orang pemuda yang aneh. Mana dia mengejek si Tetsu, ditambah lagi, makanan yang harus diantar oleh Tetsu, diinjak-injak oleh mereka. Gaahh! Kalau mengingatnya, entah kenapa rasanya aku kesaaaall, sekali!" ujar Aomine, memotong pembicaraan gadis bersurai baby pink itu sambil membayangkan kembali, kejadian sebulan yang lalu. Sedangkan Momoi, ia hanya bisa menatap Aomine dengan kesal seraya menggembungkan kedua pipinya, seperti biasa.
"Efek cinta mungkin?" sambung Midorima cepat.
"Sudah kubilang, aku ini 100% laki-laki, Midorima!"
"Apa tadi kau bilang? Dua orang pemuda... aneh?"
"Ha? Oh, ho'oh. Mereka berdua menyerang Tetsu. Ah ya! Si Tetsu juga sempat di pukul waktu itu. Untung saja aku lewat situ. Kalau tidak, mungkin anak itu sudah babak belur."
Perkataan remaja berkulit tan itu semakin membuat Seijuurou gelisah. Entah kenapa, tapi dia merasakan firasat buruk.
"Di mana tempat itu, Aomine?" tanya Akashi dengan tampang serius.
"Eh? Kalau dari sini, tinggal belok kanan lalu terus-terus sampai di perempatan kedua, kemudian belok ke kanan lagi. Hanya ada satu rumah makan di situ, meskipun rumah makannya cukup mungil. Pokoknya, tidak akan sulit untuk mencari rumah makan tersebut. Tapi, jalanan itu cukup sepi sih, karena rumah makan itu berada di antara tanah dan lapangan kosong. Memangnya ada apa?"
Akashi tidak menjawab. Remaja bersurai merah itu lalu mengenakan jersey nya, kemudian mengambil tasnya.
"Kalian semua, tinggal di sini dan latihan. Aku akan mengejar Kuroko. Anak itu... mungkin sedang dalam bahaya."
"Eh?"
"Apa maksudmu, oi Akashi?!" tanyanya setengah berteriak. Namun Akashi tidak menggubrisnya. Ia terus saja mempercepat langkah kakinya, keluar dari gedung tersebut, sambil menggertakkan giginya.
'Ku harap, aku tidak terlambat. Ck!'
Tidak berapa lama dari perempatan pertama, akhirnya Akashi sampai pada perempatan kedua. Sedikit terengah karena capeknya berlari dan juga rasa gelisah yang terus-menerus menyelimuti pikirannya.
Tidak membuang-buang waktu, remaja bersurai merah itu langsung mencari sosok Kuroko. Jalanan tersebut benar-benar sepi. Ia lalu kembali berlari, menelusuri jalanan tersebut sambil melihat-lihat di setiap gang atau lorong-lorong kecil yang ia lewati. Dan benar saja, matanya kemudian menangkap seorang Kuroko Tetsuya sedang dihadang oleh dua orang pemuda yang sama, walau Akashi sendiri tidak mengenal kedua pemuda itu, tapi ia tahu kalau kedua pemuda itu bukanlah orang yang baik. Ditambah lagi, salah satu dari mereka memegang sebuah cutter, sedangkan yang satu lagi sedang memegang kedua lengan anak bersurai baby blue itu.
Dan setelah diperhatikan, ternyata pipi remaja bersurai biru muda itu tergores dan masih berdarah. Tanpa diaba-aba lagi, Akashi langsung berlari ke arah ketiga orang tersebut. Dengan menggunakan kakinya, ia lalu menendang tangan pemuda yang sedang memegang cutter itu. Kemudian langsung berputar ke arah kiri sambil mengarahkan kaki kanannya ke bagian pinggang pemuda yang satunya lagi. Sehingga pemuda itu langsung terlungkup kesakitan dan sukses melepaskan Tetsuya dari cengkramannya. Remaja bersurai baby blue itu menatap Seijuurou dengan tampang keheranan, juga sedikit terkejut melihat kedatangannya.
"A-Akashi-kun, ke-kenapa kau bisa berada di sini?" adalah hal yang pertama kali keluar dari mulutnya itu.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang, cepat! Kita harus pergi dari sini." ujar Akashi seraya menarik remaja beriris aquamarine itu, berusaha untuk keluar dari gang tersebut.
Namun sayangnya, letak cutter tersebut tidak jauh dari pemuda yang tadi menyerang Kuroko. Pemuda itu meraih benda itu kembali, lalu mencoba untuk menusuk salah satu dari mereka.
Alhasil, cutter tersebut sukses melukai lengan Akashi. Untung saja si pemilik mata heterochrome ini menyadari keberadaan pemuda itu. Jadi ia masih sempat menghindar dari tusukan yang sebenarnya mengarah tepat pada punggung bagian kirinya.
"AKASHI-KUN!"
"Ceh!"
Entah kenapa, saat ia melihat Akashi yang terluka seperti itu, tubuhnya langsung bergerak sendiri. Ia lalu menghampiri pemuda yang menusuk lengan Akashi, kemudian tangan kanannya dengan segera menepis tangan kiri pemuda itu, sehingga cutter yang ia pegang, kembali terjatuh.
"A-apaa?"
Belum sempat pemuda itu mengambil kembali cutternya, kepalan tangan kiri Kuroko kembali melayang ke wajah pemuda itu. Diikuti oleh kepalan tangan kanannya, yang kemudian memukul pipi pemuda tersebut. Ia lalu mengakhirinya dengan memukul dari bawah wajah pemuda itu dengan tangan kirinya. Benar-benar sukses membuat pemuda itu merasa pusing, yang akhirnya membuatnya terjatuh.
"Ge-gerakan itu. . ." gumam Akashi yang terkejut melihat aksi Kuroko. Sepertinya ia merasa tidak asing lagi dengan gerakan tersebut.
Melihat pemuda itu masih saja terbaring di tanah, Kuroko menganggapnya sebagai suatu kesempatan untuk melarikan diri. Ia lalu kembali menghampiri Akashi.
"Lukanya cukup dalam, Akashi-kun. Sebaiknya kita kembali ke sekolah. Jam segini, ruang kesehatan pasti masih terbuka."
Akashi hanya mengangguk. Sedikit heran, karena biasanya dialah orang yang memberi perintah akan hal yang harus mereka kerjakan selanjutnya. Tapi kali ini berbeda. Kali ini, ia hanya bisa terdiam melihat keseriusan yang baru kali ini terpampang di wajah anak beriris aquamarine itu.
Sementara mereka berjalan kembali ke sekolah, Akashi mulai memegang kalung yang diberikan oleh almarhuma bibinya itu. Ia lalu melihat ke arah Kuroko dari sudut matanya.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa begitu mengenalmu, Kuroko Tetsuya? Tapi.. kau bilang kita belum pernah bertemu sebelumnya.. Atau kau hanya berbohong padaku? Yang mana yang benar?"
(Langsung aja, gomen nee minna! T_T
Seicchin lagi tegila-gila akan sesuatu *ce'ilah*, jadinya kelupaan update deh.. ._.''
Adegan Akashi di atas merupakan salah satu ikatan batin kali ya? ._."
Terus,, Seicchin ucapin terima kasih lagi bagi kalian yang udah nge-review, nge-Favo, nge-Follow, udah baca maupun jadi silent reader.. X3)
RnR Please?
