Chapter 6


Dua orang remaja kini duduk di atas kursi yang ada dalam ruangan itu. Yang satunya hanya duduk diam seraya mengulurkan tangan kirinya. Sedangkan yang satunya lagi, sibuk mengobati luka tusukan yang ada pada lengan remaja bersurai merah itu.

"Maafkan aku, Akashi-kun. Maaf sudah membuatmu terluka seperti ini." ujar remaja bersurai baby blue itu seraya menundukkan kepalanya, tepat setelah ia mengobati dan membungkus luka tusukan pada lengan kiri Seijuurou di ruang kesehatan SMP Teiko.

Karena tidak mendengar sepatah kata apapun yang keluar dari mulut remaja beriris heterochrome itu, Kuroko mulai mengangkat wajahnya secara perlahan untuk melihat sosok Akashi Seijuurou. Namun, belum sampai ia memandang remaja itu dengan maksimal, tiba-tiba ia merasa kalau tubuhnya sedang ditarik ke depan, yang juga disertai dengan sebuah dekapan.

Terkejut ialah kata yang cocok untuk menjelaskan arti dari raut wajahnya itu. Meskipun demikian, Kuroko tetap saja tidak mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan sang kapten. Bahkan untuk memprotes pun, ia hanya bisa diam saja. Entah kenapa, tapi tubuhnya serasa berhenti melakukan aktivitas.

Merasa bahwa dekapan Seijuurou semakin erat, akhirnya membuat ia tersadar dari rasa terkejutnya.

"A-Akashi-kun? Ka—"

"Syukurlah. Syukurlah kau selamat. Kalau aku terlambat sedikit saja, aku pasti akan sangat menyesal."

"Tapi, kalau seperti ini. Aku yang menyesal, Aka—"

"Tidak!" sambungnya cepat, memotong pembicaraan anak bersurai biru muda itu.

Akashi lalu melepaskan pelukannya. Ia lalu menatap kedua iris aquamarine Kuroko.

"Lebih baik seperti ini. Aku akan sangat menyesal jika tadi aku tidak bisa menyelamatkanmu, Kuroko Tetsuya. Aku tidak ingin hal yang seperti ini— terulang kembali."

"E-Eh? Apa maksudmu, Akashi-kun?"

"Itu karena ka—" Seijuurou menghentikan perkataannya. Ia hampir saja lepas kendali, tidak seperti Seijuurou yang biasanya di hadapan anak-anak pelangi itu.

Ia lalu mengganti topik pembicaraannya.

"Tidak. Lupakan saja. Terus, gerakan itu.. Bagaimana dengan gerakan sewaktu kau memukul pemuda itu? Darimana kau mempelajarinya?"

"Gerakan itu? Yang mana, Akashi-kun?" tanya Kuroko bingung.

"Gerakan yang tadi kau tujukan pada pemuda yang memegang cutter itu."

Anak beriris aquamarine itu mencoba untuk mengingat kembali kejadian tadi. Selang beberapa detik, akhirnya ia teringat sesuatu. Ia lalu menatap remaja beriris heterochrome itu kembali.

"Aah. Yang itu. Maafkan aku, tapi aku sama sekali tidak tahu asal gerakan tadi. Hanya, tiba-tiba saja tubuhku bergerak sendiri."

"Bergerak sendiri? Apa maksudmu?"

"Entahlah, Akashi-kun. Memangnya.. ada apa dengan gerakan itu?"

'Dia melakukannya tanpa tahu apa yang baru saja ia lakukan? Refleks tubuh? Tidak, kalau pun gerakan itu hanya sebuat refleks, tidak mungkin gerakannya jadi seperti itu. Paling ia hanya memukul laki-laki itu atau menendangnya dengan kakinya. Lagipula, yang refleksnya seperti itu hanya—"

"Akashi-kun?"

Seperti sedang dikejutkan, dugaan yang baru saja muncul dalam benaknya itu, seketika itu juga membuyar, membuat ia kembali terkoneksi dengan remaja beriris aquamarine itu.

"Ah, maaf. Gerakan itu.. hanya ibu dan bibiku yang memakai gerakan itu sebagai serangan dasar saat melakukan perlawanan. Seperti yang kau lakukan tadi. Mereka bilang kalau dalam perlawanan, gerakan dasar juga butuh tehnik yang pasti. Bukan asal serang saja seperti orang lain pada umumnya. Jadi.."

Seijuurou menghentikan perkataannya. Ia lalu menatap anak bersurai baby blue itu lagi. Sedangkan Kuroko, ia hanya membalas tatapan remaja bersurai heterochrome itu dengan wajah datar.

"Jadi?"

"Jadi... aku pikir kalau ka—"

RIIIING~ RIIIING~

Dengan segera, Kuroko mengambil ponselnya dari saku celananya. Ia lalu melihat layar ponselnya, di mana pada layar ponselnya itu, tertera nama dan nomor telepon si pemanggil.

"Ah maaf, Akashi-kun. Miu-san menelponku." ujar anak beriris aquamarine itu, lalu mengangkat teleponnya.

"Kuroko-kun! Kau ada di mana?" tanya orang yang melepon dari seberang sana.

"Maaf Miu-san. Aku tidak bisa kerja hari ini. Aku merasa tidak enak badan."

"Eeh? Apa kau tidak apa-apa? Kau sudah ke dokter, 'kan?"

"Hai. Aku tidak apa-apa, Miu-san. Anda tidak perlu khawatir. Paling satu atau dua hari lagi akan sembuh."

"Oh! Syukurlah! Kalau begitu, kau istirahat saja. Kebetulan Makao-kun sedang mampir di sini. Jadi urusan antar-mengantar makanan, kau tidak perlu kuatir."

"Hai'. Terima kasih, Miu-san."

"Hm! Cepat sembuh ya, Kuroko-kun! Ja' nee~"

BRAKK!

"Tetsu! Akashi! Apa yang terjadi pada kalian berdua?!" tanya Aomine yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang kesehatan, diikuti oleh anggota Kiseki no Sedai yang lainnya beserta gadis bersurai baby pink itu.

Dalam sekejap, ruangan yang tadinya hanya dua orang saja yang berada di dalam, kini dipenuhi oleh mereka.

Setelah mulai tenang, akhirnya Kuroko diberi kesempatan untuk menceritakan kejadian tadi. Namun hanya sebatas aksi kedua pemuda itu. Ia belum memberitahukan alasan kenapa ia di serang seperti itu.

Seperti teringat akan sesuatu, anak beriris aquamarine itu mengalihkan perhatiannya pada Akashi.

"Ano, Akashi-kun ingin bilang apa tadi?"

"Soal apa?"

"Itu.. Jadi ?Jadi apa, Akashi-kun?"

"Ah, soal itu.." ujarnya singkat, sambil menatap anak bersurai baby blue itu.

Kuroko hanya bisa menatapnya keheranan. Penuh selidik, namun tetap tenang dengan wajah datarnya. Ia penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh pemilik mata heterochrome itu, namun hanya bisa menunggu sang kapten buka mulut saja. Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Akashi malah hanya tersenyum, kemudian menatap lantai di ruangan itu.

"Tidak. Bukan apa-apa. Aku rasa itu tidak penting." ujarnya lagi.

"Benarkah?"

"Ya."

''Paling tidak, hal itu tidak terlalu penting untuk saat ini." pikirnya dalam hati.

.

.

**Setting Skip**

.

.

Suara langkah kaki mulai mengisi kesunyian gedung tersebut. Dua orang pemuda yang sudah tidak asing lagi, kini berjalan masuk dalam lorong yang ada pada gedung tersebut dengan langkah gontainya. Mereka berdua saling menopang satu sama lain agar keduanya tidak terjatuh.

Tidak lama mereka menelusuri lorong tersebut, akhirnya mereka berdua tiba di depan sebuah gerbang berwarna cokelat pekat. Tepat di atas gerbang itu, terdapat sebuah kamera CCTV yang berukuran kecil. Sehingga para pendatang yang berdiri di depan pintu tersebut, akan secara otomatis terekam dan juga terlihat dari pihak yang berada di balik gerbang tersebut. Di tambah lagi, di samping pintu gerbang tersebut, terdapat sebuah alat pendeteksi sidik jari yang mereka gunakan sebagai alat pembuka gerbang tersebut. Jadi, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melewati gerbang tersebut.

Salah satu dari kedua pemuda itu mulai meng-scan sidik jarinya. Tepat setelahnya, pintu gerbang tersebut mulai tergeser, dan akhirnya terbuka sepenuhnya. Kedua pemuda itu kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Sampai akhirnya, nampaklah seorang pria yang sedang duduk di atas sebuah sofa yang selaras dengan warna pintu gerbang tadi.

"Bos.."

"Gagal, hm?"

Dengan cepat, kedua pemuda itu menundukkan kepalanya di hadapan pria itu.

"Maafkan kami!" seru mereka kompak.

"Hm. Tidak masalah. Dan juga, kenapa kalian sampai babak belur seperti ini? Terutama kau, Takagi. Ada apa dengan wajah dan lenganmu itu?" tanya pria itu sambil memperhatikan keadaan kedua anak buahnya itu.

"Ada yang menolong anak itu. Mungkin.. temannya?"

"Anak bersurai biru tua?"

"Tidak. Kali ini, anak bersurai merah. Dan, iris matanya.. kelihatan sangat.. aneh."

Pria itu mengernyitkan dahinya.

"Aneh?"

"Hmm.. Seingatku, anak itu.. iris matanya berwarna merah dan... kuning keemasan? Entahlah. Kurang lebih seperti itu."

"Hmmm?" gumamnya.

Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Senyuman licik mulai terpampang di wajah pria itu.

"Menarik.." ujarnya lagi sambil tangannya menopang dagu.

"Eh?"

"Anak itu.. Kalau memang tidak mempan dengan cara seperti ini, lebih baik kita pakai cara yang lain."

"Cara lain? Bagaimana?" tanya mereka kompak.

"Daripada itu, bagaimana kalau kalian membantuku mengerjakan sesuatu?"

"Sesuatu?"

"Tapi sebelum itu, kalian obati dulu luka kalian. Setelahnya, baru kalian boleh mulai beraksi."

"Tapi bos—"

"Tidak. Tidak masalah, Takagi. Kali ini, kalian boleh santai." ujar pria itu, seraya kembali memasang senyum liciknya.


"Tadaima."

"O-niichan! Okaerinasai!"

Anak bersurai merah itu pun, langsung menyambut kakak tercintanya dengan pelukan hangat. Seperti yang biasa ia lakukan. Dan seperti biasanya juga, Seijuurou menggendong adik perempuannya itu.

"Selamat malam, tuan muda." sambut pelayan setianya itu.

"Ah ya, selamat malam Eiji-san. Hmm, apa yang membuat tuan putri yang satu ini, tidak berada di lantai dua seperti biasanya? Ne, Eru?"

"Karena o-niichan pulang telat! Elu 'kan jadi gelisah." ujar Eru seraya menggembungkan kedua pipinya.

"Ahah, maaf. Aku ada urusan tadi, jadinya pulang telat, Eru. Kaa-san dan Tou-san sudah pulang?"

Anak bersurai merah itu mengangguk pelan.

"Otou-chan sedang nonton, sedangkan Okaa-chan sementala mempelsiapkan makan malam. Okaa-chan masak spaghetti! Makanan kesukaan Elu! Elu senaaaangggg seka— HYAA!"

Eru terjatuh dari gendongan Seijuurou. Untung saja, Eru bisa menyeimbangkan tubuhnya, sehingga tubuhnya tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, kaki sedikit terasa keram karena hentakan yang kuat saat ia terjatuh tadi.

"Maaf, Eru!" ujar Seijuurou yang langsung berlutut untuk melihat keadaan adik kecilnya itu. Dan baru kali ini, pemilik mata heterochrome itu bersyukur karena adiknya yang satu ini sangat gesit dan tidak cengeng, jadi ia bisa selamat dari petuah kedua orang tuanya itu.

Rasa sakit pada tangan remaja beriris heterochrome itu, akibat pengaruh tertusuk cutter tadi, kini mulai terasa. Karena ia tidak dapat menahan rasa sakitnya itulah, sehingga ia melepaskan adik perempuannya itu dari gendongannya. Meskipun wajahnya terlihat biasa-biasa saja, raut wajah menahan rasa sakit tetap saja sedikit tampak di wajahnya.

Melihat aksi kakaknya yang tidak biasa itu, sontak Eru langsung memeriksa keadaan lengan anak beriris heterochrome tersebut, yang tertutupi oleh jersey. Dan seketika itu juga, matanya terbelalak melihat perban yang melekat— lengkap dengan bercak-bercak merah yang kembali menyebar— di lengan kiri Seijuurou.

"O-niichan! Ini kenapa bisa?!"

"Tuan muda! Apa yang terjadi dengan lengan anda?!"

Seijuurou hanya bisa mendesah melihat kepanikan dari dua orang yang ada di hadapannya.

"O-niichan! Ayo kita ke lumah sakit! Tangan o-niichan beldalah!" seru Eru lagi yang lalu menarik-narik tangan Seijuurou untuk pergi ke tempat yang berbau obat-obatan itu.

"Eiji-san, Eru, suara kalian terlalu nyaring. Tenanglah, aku tidak apa-apa. Ini hanya kecelakaan kecil saja." terangnya pada kedua orang itu.

"Tapi, Tuan! Kalau seperti ini bisa berba—!"

"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?"

Sontak ketiganya langsung berbalik pada asal datangnya suara. Tepat di anak tangga ke tiga dari bawah, berdiri seorang pria bersurai biru muda yang juga memiliki warna iris mata yang selaras dengan warna surai rambutnya. Di belakang pria itu, pada anak tangga ke lima, seorang wanita bersurai merah sedang melangkahkan kakinya untuk turun dari masing-masing anak tangga tersebut. Mereka berdua terlihat sedikit bingung melihat keributan yang tidak biasa di lantai satu.

Melihat kedatangan ayah dan ibunya, Eru langsung berlari menghampiri mereka berdua.

"Otou-chan! Okaa-chan! Lengan O-niichan telluka! Bagaimana ini?" tanyanya panik.

"Apa?!"

"Tidak apa-apa, Tou-san, Kaa-san. Kalian tidak perlu khawatir." ujar Seijuurou dengan nada yang seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal, lengannya itu masih terasa sakit.

Seijuurou lalu berjalan ke arah mereka bertiga, dengan tampang 'Aku tidak apa-apa'nya. Baru saja saat ia ingin melewati ketiga orang tersebut, tiba-tiba tangan Keiko menarik pergelangan tangan anak sulungnya itu, yang membuat ia kembali tertahan. Keiko lalu memeriksa lengan Seijuurou, membuktikan bahwa memang benar, apa yang dikatakan oleh Eru. Mata Keiko membelalak kaget. Tidak hanya Keiko, Yutaka pun ikut terkejut melihat lengan Seijuurou yang terbalut perban itu.

"Jangan khawatir. Lenganku sudah diobati tadi. Aku sama sekali tidak perlu dibawa ke dokter." jelasnya yang langsung to the point.

"Apa yang terjadi, Sei-kun?!"

"Hanya kecelakaan kecil saja, Kaa-san."

"Jawab dengan jujur, Seijuurou!" bentak Yutaka padanya, membuat remaja beriris heterochrome itu kembali mendesah.

"Apa ada yang menyerangmu, Sei-kun? Tidak apa-apa, jawab saja." tanya Keiko cemas, namun tetap dengan nada lembutnya.

"Bukan begitu, Kaa-san." sanggah Seijuurou.

"Lalu apa?"

"..."

"Jawab kami, Seijuurou." Perintah yang tidak mengandung emosi, namun cukup membuat remaja itu menjawab pertanyaan kedua orang tuanya itu.

"Aku hanya ingin melindungi teman se-timku. Itu saja."

Yutaka mengernyitkan dahinya.

"Melindungi? Memangnya dia kenapa?"

"Aku belum tahu dengan pasti, Tou-san. Tapi aku rasa, anak itu sedang dalam bahaya. Dan aku tidak mau kalau anak itu kenapa-kenapa."

"Kenapa kau tiba-tiba ingin melindungi temanmu ini? Apa dia terlalu penting bagimu? Baru kali ini, aku mendengar hal seperti ini keluar dari mulutmu itu, Seijuurou."

"Ah, jangan-jangan, anak itu yang membuatmu mulai tersenyum seperti ini, Sei-kun?" tanya Keiko yang juga jadi ikut penasaran dengan anak itu.

"Bukan dia saja, Tou-san, Kaa-san. Teman-teman se-timku juga sama pentingnya. Hanya saja..."

Seijuurou terdiam. Tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya itu atau tidak. Tapi jauh dari lubuk hatinya, ia ingin sekali mengucapkan pertanyaan yang kepastian jawabannya masih fifty-fifty, sama sekali belum ada pembuktian pastinya.

"'Hanya saja' apa?"

Seijuurou lalu menoleh pada ibu dan ayahnya secara bergantian.

"Kaa-san, Tou-san. Bagaimana kalau... Tetsuya masih... hidup?"


(Minna gomen ne! Akhir-akhir ini Seicchin banyak tugas,, jadinya gak sempat nge-update.. T.T
Rencana.y mau aku update bsok,, tapi aku pikir ini sdah terlalu lama, jadinya aku update malam ini.. ._.
*Hontou ni gomenasai!
Dan aku pikir, chapter ini cerita.y gak menarik.. =_='' *Iya'kan? Hayoo ngaku aja..*

Pokok.y,, minna,, maafin Seicchin ya,, dan makasih lagi buat para readers yang udah mau nge-follow, nge-favo, nge-review, ataupun yang jadi silent reader.. :D

Kali berikutnya, akan aku usaha'in nge-update cpat..
Arigatou~)

RnR please?