Chapter 7
"Hwooo..."
"Hu'um.. Hu'um.."
"Pelan-pelaaann..."
"Hati-hatiiiiiii..."
"..."
"Hmmmmmmm..."
"YAK! NICE PASSS-SSU! KUROKOCCHI!"
PLAK!
"Diamlah, Ki-chan!"
"SAKIITTT! Momocchi,, kau kejam sekali!" Seru remaja asing bersurai kuning cerah yang serasi dengan iris matanya yang berwarna citrine itu, sambil mengusap-usap bagian belakang tubuhnya.
"Nanti kalau belakangku lecet bagaimana? Kalau aku masuk rumah sakit gi—"
"STOPP! Mou, Ki-chan! Aku tidak peduli akan hal itu! Sama sekali tidak penting! Bwee!— Ah! Tetsu-kun! Kerja bagus!" ujar gadis bersurai baby pink itu yang dengan segera menghampiri remaja beriris aquamarine itu, lalu memberikan sebotol air minum padanya. Yang diberikan pun langsung mengambil botol tersebut dengan sopan.
"Terima kasih, Momoi-san."
"Douitashimashite, Tetsu-kun~."
"Kurokocchi! Tadi kau keren sekali! Kurokocchi benar-benar heeeeebat!" ujar remaja beriris citrine itu yang langsung melompati Kuroko dengan riangnya.
"Kau terlalu berat, Kise-kun. Kumohon minggirlah." Ucapnya pada remaja beriris citrine, yang ternyata bernama Kise. Lebih lengkapnya Kise Ryouta.
"Mouu~! Aku benar-benar tidak menyangka kalau Akashi-kun akan memasukkan Ki-chan sebagai anggota first string. Dia terlalu berisik!"
"Tidak masalah bukan? Dia bisa jadi pengganti Haizaki Shougo. Adanya Tetsuya memang membuat tim kita sudah lengkap. Namun Tetsuya tidak memiliki banyak stamina seperti kita. Jadi ada baiknya kalau kita memiliki satu pemain lagi. Selain itu, Ryouta juga memiliki kelebihan yang setara dengan kita. Dia juga bisa diandalkan" Jelas remaja heterochrome itu yang baru saja muncul dari belakang Tetsuya.
Kise Ryouta merupakan nama lengkapnya. Remaja asing beriris citrine itu sudah menggunakan sebutan 'Kiseki no Sedai' seperti kelima anggota lainnya sejak dua bulan yang lalu. Berbeda dengan Tetsuya yang langsung dites agar hipotesa sang kapten bisa terbukti kalau Tetsuya juga berbeda dari yang lainnya, si blonde yang satu ini memang sudah menarik perhatian Seijuurou semenjak ia sering tanding 1 on 1 dengan Aomine. Meskipun ia, Kise Ryouta, belum pernah bisa mengalahkan sang ace, style, cara ia bermain dan tehnik meng-copynya tetap di atas rata-rata, seperti mereka. Juga, semangatnya dalam bermain basket— terutama saat melawan Aomine— membuat si pemilik mata heterochrome itu sangat tertarik dan akhirnya merekrut si blonde itu menjadi anggota club basket Teiko di first string.
Diiringi dengan keluarnya Haizaki Shougo dari club basket— dan juga sekolah karena pekerjaan ayahnya—, Kise, si blonde itu masuk menggantikan posisi Haizaki. Seperti penjelasan Seijuurou tadi, meskipun ada Tetsuya yang bisa menggantikan posisi remaja bersurai abu-abu itu, stamina yang dimiliki olehnya tidak sebanding dengan anggota Kiseki no Sedai lainnya. Malahan jauh di bawah rata-rata. Jadi mau atau tidak, mereka memang memerlukan orang yang bisa menggantikan posisi Tetsuya saat ia sudah kelelahan.
"Terima kasih, Akashicchi~! Kalau Akashicchi tidak ada, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Kurokocchi-ssu~~" ujar si blonde itu dengan tampang berbinar-binar. Ingin rasanya ia memeluk Seijuurou, seperti yang biasa ia lakukan pada remaja beriris aquamarine itu. Namun sayangnya, rasa sayang pada nyawanya itu masih lebih besar dari keinginannya untuk memeluk si kepala merah itu. Jadi ia lebih memilih untuk tidak memeluk Seijuurou.
"Ah ya, Akashi-kun. Tadi pelatih bilang kalau ia ingin membicarakan sesuatu padamu setelah latihan ini. Mungkin ada hal yang penting? Ah, entahlah. Sebaiknya Akashi-kun segera menemuinya."
"Hn? Baiklah." ucapnya lalu mulai berjalan menuju ke arah sebuah pintu. Belum sampai ia di sana, remaja beriris heterochrome itu lalu menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik lagi ke arah mereka semua. Mereka semua— kecuali Tetsuya dan Murasakibara tentunya— yang awalnya menghela nafas lega, langsung menghentikan hembusan nafasnya itu. Aomine dan Kise malah langsung berdiri dengan sigap.
"A-ada apa, Akashi?" tanya si pemilik kulit tan itu dengan gugup.
Yang ditanyai hanya bisa mendesah melihat tingkah mereka.
"Pastikan kalian tetap latihan sampai aku kembali. Untuk Ryouta, lakukan sedikit pemanasan, kemudian lari 20 kali keliling lapangan tanpa berhenti sedetik pun. Setelah itu, kau masuk latihan dengan yang lainnya. Kalian semua mengerti?"
Kise menelan ludahnya. Dan tanpa membuang waktu lagi, kelima orang yang bersurai pelangi itu langsung mengangguk mengerti.
"Bagus." Ujarnya lagi, lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari gedung tersebut.
Setelah sosok sang kapten tidak terlihat lagi, dengan kompak, mereka— dan lagi, tidak termasuk Tetsuya dan Murasakibara yang langsung menuju ke lapangan basket— menghela napas lega. Entah kenapa, bagi mereka, temperatur di gedung itu tiba-tiba saja berubah menjadi sangat hangat dari pada yang tadi.
"Akashicchi menakutkan! Ne nehh~, apa Akashicchi sudah seperti itu sejak dulu?" tanya si blonde.
"Aa. Wajahnya santai tapi iris matanya selalu memancarkan keseriusan. Orangnya tenang, tapi entah kenapa auranya selalu mencekam! Sekali kau melakukan kesalahan, saat itu pula kau akan terus-menerus berhati-hati kalau melakukan sesuatu."
"Ya, contoh konkritnya itu kau, Aomine, orang pertama yang mendapatkan bonus tambahan dari Akashi." jawab Midorima santai, seraya memperbaki posisi kacamatanya.
"Oi, Midorima! Setidaknya kau jangan membuka aibku di sini!"
"Hmp, jangan pikir aku bisa melupakan saat itu, Ahomine."
"AH YA! Waktu itu Aomine-kun dicukur sampai botak, kemudian dipakaikan gaun princess lengkap dengan make-up dan high-heelsnya! Terus, waktu itu Aomine-kun disuruh lari keliling sekolah sambil bilang 'Aku seorang pu— HMMMPPPP!"
"Pft— BWAHAHAHAHAHAHAH! Aominecchi botak! B-O-T-A-K! AHAHAHAHA!" ujar Kise sambil tertawa geli.
"DI-DIAMLAH, KISE! OI SATSUKI! HENTIKAN ITU! I-ITU ME-MEMALUKAN SEKALI TAU! Cih, sial! Kenapa kau jadi ikut-ikutan dengannya!" ujar remaja berkulit tan itu setengah berteriak. Walaupun kulitnya gelap, semburat merah masih dapat terlihat di wajahnya itu. Ya, malu, bahkan sangat malu. Oleh karena itulah, tangan kanannya itu dengan cepat menutup mulut teman masa kecilnya itu agar tidak menceritakan kejadian yang memalukan itu lagi.
'Ugh, sial! Bisa-bisa aku mati di sini hanya karena malu! A-Ah! Ti-tidak. Tidak boleh! Mati karena malu itu sama sekali tidak keren! Ya, benar, tidak boleh!' batinnya sambil menggelengkan kepalanya dengan semangat. Orang-orang yang berada di sekitarnya hanya bisa menatapnya dengan wajah bingung. Ia lalu melepaskan tangannya dari mulut Momoi.
"Aomine-kun payah! Bweeee!" gadis bersurai baby pink itu menjulurkan lidahnya seraya mengejek remaja berkulit tan itu.
"Itu salahmu, bodoh!"
"Eeeh?! Salahku?! Itu semua salahmu, A-HO-MI-NE DA-I-KI! Kalau kau lebih memilih untuk datang latihan dari pada mengantri di toko buku hanya untuk membeli majalah terbaru Mai-chan 'kan tidak masalah!"
'Heh? Hanya karena itu? Aominecchi memang bodoh!' pikir Kise yang langsung sweatdrop mendengar penjelasan sang manejer club basket Teiko.
"Sudahlah! Kalian terlalu berisik, nanodayo!" bentak si kepala hijau itu yang sejak tadi merasa kesal melihat pertengkaran kedua makhluk yang ada di depannya itu.
"Nah, kembali ke topik." ucap Kise dengan mata berbinar-binar.
"Hm. Tapi Akashi-kun tidak segalak itu kok! Dia orangnya baik, loh."
"Momoi benar, terlebih lagi.." Midorima mengarahkan pandangannya pada remaja bersurai baby blue itu,yang sedang berlatih men-shoot bola.
".. sejak kedatangan anak itu, entah kenapa, Akashi jadi terlihat lebih tenang dan tidak se-monster yang dulu. Setiap perkataan anak itu pasti bisa mendinginkan amarah Akashi. Dan setelah berkali-kali 'ku perhatikan, raut wajah anak itu juga.. mirip dengan Akashi."
"Hei, jangan-jangan..." Aomine mengambil nafas dalam-dalam.
"Jangan-jangan apa Aominecchi?" tanya remaja beriris citrine itu yang tidak mau kalah dari aksi Aomine.
"Jangan... Jangan..."
"Apa?"
"Akashi itu.. su-suka sama Tetsu!"
"HAH?!"
Aomine mengangguk mantap.
"Apa kau gila, Ahomine?"
"Hum! Aominecchi sudah gila!"
"Aku setuju kalau Aomine-kun itu memang sudah gila."
"HAAHH?! Aku tidak gila tau! Tapi kenyataannya seperti itu 'kan?! Kalau si Akashi itu me—"
Ucapannya terpotong oleh bunyi ponselnya sendiri. Remaja berkulit tan itu lalu dengan segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya yang berada di atas bangku dekat tempat ia berdiri.
[ 1 Pesan Baru ]
"Hm?"
—
Dari : Akashi Seijuurou
Daiki, lari keliling lapangan sebanyak 100 kali. Jika saat aku sudah kembali namun kau belum menyelesaikannya, maka aku akan meberikanmu hukuman yang sama dengan yang dulu. Dan, jangan pikir karena aku tidak ada di situ, lantas kau tidak melaksanakan perintahku, Aomine Daiki. Itu hanyalah akan memperburuk keadaanmu nantinya. Ah, juga biarkan Shintarou menemanimu juga. Tapi untuk Shintarou, cukup 50 kali saja. Itu hukuman karena kelalaiannya. Sekarang, kerjakan!
—
"HAAHHH?! KENAPA DIA BISA TAU?!" serunya dengan tampang tidak percaya.
"Kenapa aku juga?! Yang salah 'kan kau, Ahomine!"
"Mana aku tau! Cih! Sial!"
Piiipp.. Piiipppp..
Dengan cepat, remaja berkulit tan itu melihat kembali ponselnya.
[ 1 Pesan Baru ]
—
Dari : Akashi Seijuurou
Aku akan tiba 10 menit lagi. Jadi pastikan kau mulai dari sekarang. Dan bilang pada Ryouta. 'Lebih baik kau kerjakan perintahku sekarang atau kau juga akan lari keliling lapangan sebanyak 100 kali seperti Daiki.'
—
"HAAAAAAAAHHHHH?! CEPAT SEKALI!"
"E-Eh? Akashicchi tau darimana kalau aku belum latihan sama sekali?!"
Aomine langsung memasukkan kembali ponselnya dalam tas, lalu meletakkan tasnya di lantai dan dengan segera mulai berlari keliling lapangan basket, diikuti oleh Midorima dan Kise, sesuai dengan perintah sang kapten. Tanpa sadar, ada sepasang iris mata yang memperhatikan aksi mereka berdua dengan wajah tanpa dosanya.
"Hem, Kuro-chin."
"Ada apa Murasakibara-kun?" tanya si remaja beriris aquamarine itu dengan wajah polosnya.
"Kuro-chin sama sadisnya dengan Aka-chin."
"Ah, tidak juga. Aku hanya tidak mau tubuh mereka terlalu kaku saat latihan sebentar."
"Kuro-chin menakutkan."
"Aku tidak menakutkan, Murasakibara-kun. Lagipula, Akashi-kun yang menyuruhku untuk memberitahukan hal ini padanya. Karena Akashi-kun tahu kalau aku punya misdirection, jadi aku bisa melaporkannya tanpa sepengetahuan mereka.
"Terserah. Ah, kau mau permen, Kuro-chin? Permennya enak loh."
"Murasakibara-kun, selama latihan kau tidak boleh makan apa pun. Termasuk permen." jawabnya dengan wajah datar.
"Hem."
.
.
**Time Skip**
.
.
"Hm? Ada apa dengan kalian bertiga? Terutama kau, Daiki. Ada apa denganmu?" tanya remaja bersurai merah itu dengan wajah datar, seraya melihat ketiga makhluk pelangi yang sedang terengah-engah di depannya itu.
Mereka bertiga sukses menyelesaikannya kurang 5 detik sebelum kedatangan Seijuurou.
'Sialan! Kau yang membuatku seperti ini tau!' batin Aomine.
"Apa yang kau pikirkan, Daiki? Ah, apa kau belum puas dengan latihanku ini? Kau mau ta—"
"Tidak! Tidak terima kasih, Akashi. Aku sangat puas." ucap Aomine, lengkap dengan senyum yang sangat terlihat dipaksakan.
Seijuurou membalasnya dengan senyuman licik.
"Oh, baguslah kalau begitu."
"Akashi-kun." suara yang lembut kini terdengan memanggil nama sang kapten itu.
"Hm? Ada apa, Tetsuya?"
"Pelatih berkata apa padamu?" tanyanya to the point.
"Ah, benar juga. Pelatih ingin kita semua berlatih untuk mempersiapkan diri pada pertandingan di Winter Cup nanti. Untuk pertandingan kali ini, kita harus menang. Pertandingan di inter-high baru-baruinikita tidak ikuti, karena Ryouta belum masuk dalan tim kita. Jadi pertandingan berikutnya, pelatih ingin kita menang."
"Yeah! Pertandingan pertamaku di Winter Cup!" seru Kise dengan riangnya.
"Aa. Oleh karena itu, kalian akan menginap di rumahku sampai pada waktu di mana kita harus bertanding. Dan latihannya dimulai besok. Jadi persiapkan diri kalian."
"HAH?! SELAMA ITU?!" seru mereka kompak.
"Keberatan?"
"Bu-bukan itu. Tapi bagaimana dengan sekolah, Akashi? Kau tidak berniat untuk membolos, bukan?"
"Tentu saja tidak. Pagi harinya, kita semua akan berangkat sekolah bersama-sama. Aku hanya berpikir kalau tambahan latihan di rumahku itu akan sangat efektif nantinya. Karena kalau hanya latihan di sekolah, waktunya akan sangat terbatas."
"A-Anou, Akashi-kun. Apa aku juga ikut dengan kalian?" tanya si gadis bersurai baby pink itu ragu.
"Ya, kau juga akan ikut, Satsuki. Soal ruangan, kalian tidak perlu khawatir. Aku punya banyak kamar yang kosong."
"Tapi Akashicchi! Apa orang tuamu tidak akan marah? Kalau kau membawa orang sebanyak ini dan selama itu?"
"Soal itu kau tidak perlu khawatir, Ryouta. Kedua orang tuaku sering pergi cepat dan pulang lambat. Jadi kau tidak perlu khawatir akan mereka. Lagi pula, jika mereka memang sedang tidak ada kerjaan, mereka akan menyambut kalian dengan senang hati."
Hening. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga suara Seijuurou membuyarkan lamunan mereka semua.
"Ada pertanyaan?"
Dengan kompak, mereka semua menggelengkan kepala.
"Bagus. Sekarang kalian semua boleh pulang. Persiapkan barang-barang kalian dengan baik. Besok setelah pulang sekolah, kita langsung menuju ke rumahku. Kalian mengerti?"
"Hai!"
.
.
**Setting Skip**
.
.
"Tadaima."
"Okaeri, O-niichan!" sambut anak bersurai merah nan panjang, yang langsung berlari memeluk remaja beriris heterochrome itu.
"Hm. Kaa-san ada di mana?" tanya Seijuurou pada adik kecilnya itu.
"Okaa-chan sedang di dapul. Okaa-chan sedang membuat pudding vanilla!" serunya dengan wajah berseri-seri.
Entah kenapa, anak-anak Yutaka-Keiko pasti sangat suka dengan yang berbau 'vanilla'.
"Oh, begitu. Bagaimana dengan Tou-san? Apa Tou-san sudah berangkat?"
Yang ditanya langsung mengangguk.
"Hu'um. O-touchan sudah berangkat tepat setelah Elu sampai di lumah. Lagi-lagi O-touchan pelgi ke lual negeli. " ucapnya sedih, namun dengan cepat, raut wjahnya berubah menjadi ceria kembali.
"Tapi, O-touchan akan pulang sebelum hali ulang tahun Elu! O-touchan sudah janji sama Elu tadi."
Hari ulang tahun Eru memang sudah tidak lama lagi. Lima hari lagi, tepatnya pada tanggal 13 September, adik kecil Seijuurou akan merayakan ulang tahunnya yang ke 6. Dan tentu saja, merayakan hari ulang tahun tanpa adanya kedua orang tua sama saja tidak ada artinya, bukan?
Mendengar ucapan Eru, Seijuurou tersenyum pada adik kecilnya itu.
"Baguslah kalau begitu, Eru."
"TADAAAA~~ Pudingnya sudah siap! Ah, Okaerinasai, Sei-kun."
"Hm, tadaima, Kaa-san."
"Kau mau puding? Tapi sebelumnya, kau ganti pakaian dulu ya!" ujar Keiko sambil meletakkan setalang puding yang sudah diiris di atas meja yang ada di tengah-tengah ruang tersebut.
"Ah ya, Kaa-san. Besok teman-temanku akan menginap di sini. Jumlahnya 6 orang. Salah satunya perempuan. Untuk yang perempuan itu, aku ingin dia tidur di kamar Eru. Boleh?"
"E-Eh? Di kamal Elu? Ta-tapi, O-niichan.."
Eru mulai memainkan jari-jarinya. Dan mulai bertingkah aneh, seperti orang yang sedang gugup. Melihat hal itu, Seijuurou kembali tersenyum lembut, suatu hal yang sangat jarang ia lakukan— bagi Keiko terutama— dalam suasana apapun itu. Tangan kanannya mulai mengelus rambut panjang anak perempuan itu.
"Tidak apa-apa, Eru. Dia orangnya baik kok. Aku yakin, kalian berdua nantinya bisa akrab. Dan bukan hanya dia saja, teman-teman kakak yang lainnya juga pasti begitu."
Selang beberapa detik, akhirnya anak perempuan beriris aquamarine itu mengangguk.
"Terima kasih, Eru."
"Mereka akan menginap berapa hari, Sei-kun? Dan dalam rangka apa, sampai-sampai mereka semua menginap di sini?" tanya Keiko bingung.
"Kurang lebih 3 bulan, Kaa—"
"TIGA BULAN? Apa tidak masalah, selama itu?"
"Kaa-san, aku belum selesai bicara. Ini semua untuk memaksimalkan kemampuan mereka pada pertandinang di Winter Cup yang akan datang. Karena kalau hanya latihan pada saat pulang sekolah, akan sangat membuang-buang waktu. Lagi pula, rumah kita punya lapangan basket. Aku sudah menyampaikan hal ini pada mereka, dan semuanya setuju. Jadi aku pikir tidak masalah." Jelas remaja beriris heterochrome itu.
"Hmm. Kalau begitu, terserah kamu saja, Sei-kun. Kalau ada mereka, mungkin rumah kita juga akan jadi ramai! Dengan begitu, Eru-chan juga bisa main dengan mereka, bukan?"
"H-Hu'um!"
"Kalau begitu, aku ganti pakaian dulu." Ujar Seijuurou sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Keiko menatap anak sulungnya itu dengan seksama. Sebuah senyuman mulai tersungging di wajahnya itu.
'Teman, eh? Apa yang kau maksud berharga itu mereka, Sei-kun? Baru kali ini kau mengundang teman-temanmu untuk masuk dalam rumah ini. Bahkan, kau malah menyuruh mereka menginap di sini. Apa mereka ini yang membuatmu bisa tersenyum dengan tulus, Sei-kun?'
(Yo minna! Hisashiburii deshou nee~.. T.T''
Maaf, pengennya cepet-cepet update, eh, ujung-ujungnya malah Hiatus sebulan.. ==''
#Udah telat nge-update, ceritanya pendek amat lagi.. -_''
*Hontou ni gomen! , /\*
Dan untuk minggu ini, Seicchin udah pastikan kalau gak ada waktu untuk nge-update..
Soal.y Seicchin lagi UAS.. ; _;)
*Nasib, anak skolahan..
Setelah selesai ujian, baru deh, Seicchin bisa nge-update kembali.. :D
Dan lagi,, terima kasih buat kalian semua yang terus meng-support Seicchin baik itu yang udah mau baca, nge-review, nge-favo, nge-follow, ataupun yang jadi silent reader *seperti aku ._.''
Hontou ni,, ARIGATOU GOZAIMASU~ :3 )
RnR please?
