Chapter 8


"Kalian siap?!" seru sang kapten beriris heterochrome itu. Kedua tangannya tersilang di depan dada, sambil ia memandang ke arah remaja-remaja bersurai pelangi tersebut.

Keenam orang itu masing-masing memegang tas yang bisa dibilang— cukup besar. Tapi semuanya itu wajar saja. Toh, mereka 'kan ingin menginap selama kurang lebih 3 bulan? Mau atau tidak, mereka memang harus membawa barang sebanyak itu.

"HAI!"

"Ano, Akashi-kun."

Seijuurou menoleh ke arah remaja beriris aquamarine itu.

"Kenapa?"

"Kita naik apa?" tanyanya polos.

"Mobil."

"Ta-tapi, dengan barang bawaan banyak seperti ini... Apa cukup, Akashi?" tanya Aomine ragu, diikuti dengan anggukan setuju dari yang lainnya.

"Tenang saja, Daiki. Kau tidak perlu khawatir soal itu."

Semuanya— kecuali Akashi— hanya bisa saling memandang dengan tatapan ragu. Sampai akhirnya, aksi mereka dibuyarkan dengan bunyi ponsel Akashi, yang dengan segera menangkat ponselnya itu.

"Jemputan sudah tiba. Ambil barang kalian lalu ikut aku." perintah sang kapten pada anak buahnya. Dan dengan segera, mereka mengambil barang bawaan mereka dan mengikuti si pemilik iris heterochrome itu.

Sesampainya mereka di depan gerbang masuk SMP Teiko, di sana mereka melihat seorang pria berkacamata dan bersurai coklat, yang memakai setelan jas lengkap dengan dasi. Saat pandangannya menangkap sosok Akashi, pria itu langsung menundukkan kepalanya.

"Selamat sore, tuan muda."

"Selamat sore, Nakamura-san. Bukankah sudah berulang kali kukatakan untuk tidak menunduk seperti itu padaku? Hal itu benar-benar menggangguku."

Pria yang bernama Nakamura itu tersenyum pada Akashi.

"Maafkan aku, tuan muda. Tapi itu sudah menjadi kewajibanku."

Sadar bahwa Akashi tidak sendirian, ia lalu memandang ke arah anak-anak bersurai pelangi tersebut, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan kedua orang yang berada di hadapannya berbicara satu sama lain. Ia lalu menatap Akashi.

"Teman anda?"

"Hm, ya. Merekalah orang-orang yang kusebutkan kemarin." ucap Akashi. Keenam orang tersebut langsung menunduk untuk memberikan salam pada Nakamura, yang kemudian membalas mereka semua.

"Eh? Bukankah tuan muda bilang kalau yang akan menginap itu 6 orang? Mana yang satunya lagi?" ujarnya bingung.

Ternyata Nakamura sama sekali tidak melihat keberadaan salah satu dari mereka, lebih tepatnya keberadaan si remaja beriris aquamarine itu. Semuanya langsung sweet-drop melihat Nakamura yang sedang kebingungan mencari sosok Kuroko. Mereka sendiri lupa, kalau Kuroko memiliki hawa keberadaan yang tipis.

"Ano, aku berada di sini, Nakamura-san."

Yang namanya disebut pun langsung terkejut melihat sosok Kuroko yang berada di sebelah kanan Akashi, yang juga tak jauh dari hadapannya.

"Ma-maaf atas ketidaksopanannya! Su-sungguh! Aku ti—"

"Tidak masalah, Nakamura-san. Semuanya juga seperti itu. Jadi tidak perlu dipikirkan."

'Ya, semuanya. Kecuali Akashi-kun.' pikir Kuroko.

"Ba-Baiklah. Kalau begitu, bolehkah aku membawa barang-barang kalian?" tanya Nakamura sambil berusaha mengambil barang-barang mereka. Namun, baru saja saat ia ingin mengangkat barang bawaan salah satu dari mereka, Kuroko menghentikan tindakan pria berkacamata itu.

Ia lalu menggeleng pelan.

"Anda tidak perlu mengangkatnya, Nakamura-san. Kami semua bisa mengangkatnya sendiri. Anda tidak perlu repot seperti itu." ucapnya sopan, diikuti dengan anggukan setuju yang lainnya.

Nakamura terlihat sedikit terkejut (lagi) melihat kekompakan dan kesopanan mereka. Baru kali ini, ia melihat teman Akashi yang tidak ingin menyusahkan orang lain. Padahal, dulu waktu Akashi masih di sekolah dasar, teman-teman Akashi— yang naik secara paksa hanya karena anak itu ingin bermain di rumah Akashi— malah dengan kasar menyuruh Nakamura untuk mengangkat barang-barangnya, layaknya ialah yang menjadi bos dan bukan Akashi. Sejak saat itu pula, Akashi tidak pernah mau memperbolehkan teman-temannya untuk berkunjung ke rumahnya lagi.

"Mereka memang berbeda, Nakamura-san." ucap Akashi yang membuat pria bersurai coklat itu sadar kembali dari lamunannya.

Ia sedikit takjub dengan kemampuan si remaja beriris heterochrome itu, yang selalu saja bisa membaca apa yang ia pikirkan.

"Anda benar. Ja, mari, ikut aku."

Ketujuh remaja bersurai pelangi itu langsung mengikuti kemana arah Nakamura pergi, sambil memegang barang masing-masing.

Tidak lama setelah itu, Nakamura terlihat mulai menuju pada sebuah kendaraan. Hal pertama yang dilihat Aomine pada saat itu ialah sebuah truk pengangkut barang. Ia lalu mengernyitkan dahinya sambil memasang tampang tidak percayanya.

'Heh? Truk pengangku barang? '

"Bukan itu, Daiki." ucap Akashi yang membuat Aomine kembali terkejut. Aomine lalu memperhatikan arah perginya Nakamura.

Ternyata Nakamura tidak berhenti tepat di samping truk tersebut. Melainkan di bagian belakangnya lagi. Tampaklah sebuah limousine yang berwarna hitam pekat, yang biasa Akashi gunakan saat pergi ataupun pulang sekolah— itupun ia gunakan saat ia pulang cepat, tidak latihan, ataupun dengan alasan lainnya—. Melihat hal itu, Aomine langsung ber'oh'-ria.

Nakamura lalu mempersilahkan mereka masuk. Dan secara teratur, mereka mulai masuk ke dalam limousine itu, sambil mengoper barang-barang mereka satu per satu.

Semuanya duduk sejajar dengan rapinya. Sedari tadi, mereka hanya duduk diam dan termenung. Melihat bagian dalam dari limousine tersebut, keenam orang itu hanya bisa menatapnya dengan takjub. Di mana dalam limousine tersebut, tepat di hadapan mereka, terdapat sebuah mini-bar yang dalam rak-raknya terdapat banyak minuman non-alkohol dan juga jus. Selain itu, di sana juga terdapat 2 kotak pendingin, di mana pada salah satu kotak, terdapat buah-buah yang masih segar.

Beralih ke sebelah kiri mereka. Di sana terdapat rak buku berukuran kecil, yang bersebelahan dengan rak kaset. Pada bagian kanan dari mini-bar tersebut, terdapat sebuah meja yang dilengkapi dengan mini-sofa yang empuk di setiap sisinya. Di bagian atas meja tersebut, terdapat sebuah papan shogi— yang biasa ia mainkan dengan ayah atau ibunya saat berpergian.

Sofa tempat mereka duduk saat ini dapat diputar posisinya, sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Jadi mereka tidak perlu kuatir saat ingin menonton sesuatu. Karena, sofa tersebut bisa diputar ke sebelah kanan, ke arah layar DVD portable yang dipasang permanen pada bagian pembatas antara ruang kemudi dengan ruang penumpang.

"He-hebat..." semuanya —kecuali Akashi dan Nakamura yang sedang menyetir— langsung mengangguk setuju dengan pendapat remaja bersurai navy blue itu.

"Apanya?"

"Aku tidak tahu kalau Akashicchi se-sekaya i..ni.." ujar Kise dengan mata berbinar-binar.

"Kau terlalu berlebihan, Ryouta. Bukankah kau juga sering menggunakan kendaraan seperti ini?"

"Tiiidaaak. Aku hanya pernah menaikinya sekali. Tapi aku tidak punya limousine pribadi. Tidak seperti dirimu, Akashicchi!"

"Ah ya, Ki-chan! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Latihan ataupun jadwal pemotretanmu pasti jadi kacau 'kan?" tanya Momoi tiba-tiba, dibalas dengan Kise yang langsung menggelengkan kepalanya.

"Tidak masalah, Momocchi! Aku sudah diberi izin untuk cuti sampai pertandingan selesai. Lagipula jadwal pemotretanku tidak terlalu padat kok! Jadi aku bisa saantaaii~" jelasnya sambil meregangkan kedua tangannya.

"Ah, bicara soal kerja, bagaimana denganmu, Tetsu? Kau juga harus kerja, 'kan?" tanya Aomine sambil memandang ke arah remaja bersurai baby blue, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka dengan tampang datarnya.

"Aku s—"

"Hoooaaaaaa! Kurokocchi juga sudah bekerja?! Kenapa aku baru tahu? Ternyata Kurokocchi lebih mandiri daripada kau, Aominecchi!" ujar Kise yang tertarik mendengar soal itu.

"Ano—"

"Kurokocchi memang partnerku yang hebat! Di usia seperti ini malah sudah bekerja. Bahkan, aku dan Kurokocchi sehati! Sama-sama bekerja gitu~~!" sambungnya dengan semangat. Tanpa tahu bahwa sepasang iris mata berwarna pink melihatnya dengan rasa kesal.

"Diamlah Kise! Aku tidak bicara padamu dan aku tidak ingin mendengar pendapatmu itu! Lagipula kau tidak berhak untuk mengejekku seperti itu!"

"Dan kau memang terlalu ketinggalan zaman dalam hal ini, Kise."

"Heeee?!"

'Bukannya Midorimacchi sendiri yang ketinggalan zaman?!' batin Kise, seraya menatap barang keberuntungan yang ada pada tangan kanan Midorima dengan tampang tidak percaya.

"Hu'um! Ki-chan benar-benar payah! Kau bahkan memotong pembicaraannya Tetsu-kun!" ujar Momoi yang sangat kesal karena dari tadi Kise meng-klaim kalau Kuroko itu partnernya.

Kise lalu menoleh pada Kuroko yang tetap diam menunggu si blonde itu berhenti berbicara.

"Kise-kun, Momoi-san benar. Aku bahkan belum selesai bicara." Ucap Kuroko sambil menatap Kise, lengkap dengan puppy eyes-nya.

"HEEEEE?! KKU-KUROKOCCHI JUGA?!"

"Sepertinya kau memerlukan latihan tambahan, Ryouta. Apa aku perlu mengajarimu ber-tata karma yang baik, hm?"

"AKASHICCHI!"

"Bagaimana dengan pertanyaan dari Mine-chin tadi, Kuro-chin? Apa tidak masalah?" sambung si bayi raksasa itu. Ia berniat untuk mengabaikan ocehan si pemilik iris citrine itu.

"Tidak masalah, Murasakibara-kun, Aomine-kun. Aku sudah berhenti bekerja."

"Oooh. Begituu.." gumam Aomine, Kise dan Momoi —secara bersamaan— dengan tampang lega.

Seperti sadar akan sesuatu, Aomine langsung mengernyitkan dahinya.

"Eh, tunggu dulu…"

"Kau… berhenti kerja?" tanya Akashi.

"EEEEEEHHHHH?!" seru ketiga orang tadi, yang baru saja mencerna perkataan Kuroko. Dengan segera, ketiganya menutup mulut mereka masing-masing karena adanya tatapan dingin nan tajam ke arah mereka, yang menjelaskan bhawa mereka bertiga itu terlalu berisik.

"Kenapa bisa begitu, oi Tetsu?!"

"Ya, kau tidak pernah cerita pada kami kalau kau sudah berhenti kerja, Kuroko."

"Maaf. Itu karena aku ketahuan—"

"KETAHUAN BOLOS KERJAA?! YANG TERNYATA KUROKOCCHI HANYA PERGI BERMAIN-MA— HMMPP!" ucapannya terputus seketika, saat sebuah selotip dengan panjang kurang lebih 30 cm terlilit rapi di sekeliling mulutnya itu.

"Kurasa ini sudah cukup untuk membuatnya diam. Atau, apa aku perlu ku masukkan dalam karung? Bagaimana kalau ku jahit saja mulutnya?" ucap Akashi dengan wajah tanpa dosanya.

Rupanya Kise tidak sadar kalau sedari tadi ia membelakangi sang kapten beriris heterochrome-nya itu, yang ternyata sudah sangat kesal melihat keributan yang dibuat oleh si blonde. Sudah tidak tahan lagi, akhirnya Akashi memutuskan untuk mengambil selotip yang tidak jauh dari tempat duduknya itu, kemudian membekap mulut Kise yang tak henti-hentinya berkicau dengan selotip tersebut, serta mengikat kedua tangannya agar ia tidak bisa melepaskan selotip tersebut dari mulutnya. Alhasil, wajah kemenangan kini terpampang di wajah Akashi.

"HM—HHMMHHUMMMMM! HMPPP!"

"Aku rasa itu sudah cukup, Akashi-kun. Aku sangat berterima kasih."

"HMMMPPP!"

"Bagus. Lanjutkan perkataanmu tadi." Ujar Akashi yang kembali ke tempat duduknya.

"Ano, aku ketahuan kerja di tempat itu. Waktu itu, ayahku, secara tidak sengaja melihatku mengantar makanan di dekat tempat kerjanya. "

"Memangnya, apa salahnya kalau ayahmu melihatmu bekerja? Bukannya mereka sudah tahu kalau kau itu sedang bekerja?" tanya Midorima.

"Tidak, mereka tidak tahu. Sebenarnya, kedua orang tuaku tidak setuju kalau aku bekerja. Bukan, bukan tidak setuju, tapi sangat menentang akan hal itu. Mereka bilang kalau soal mencari uang itu bukan urusanku , melainkan itu adalah kewajiban mereka. Makanya, saat ayahku tahu akan hal ini, beliau dan ibuku, memaksaku untuk berhenti bekerja sampai saatnya tiba nanti."

"Ternyata kau keras kepala juga, Tetsu."

"Sama sepertimu, Aomine-kun." Sambung Momoi cepat.

"HAAH?!"

"Diamlah kalian berdua." Dan tanpa diaba-aba lagi, keduanya langsung diam dan duduk manis. Mereka tidak mau dibekap seperti hal yang menimpa Kise saat ini.

"Kalau kau sudah tahu bahwa mereka menentangmu, lantas kenapa kau tetap bekerja?" lanjut Akashi.

"Karena aku berbeda dengan kalian."

Mendengar pernyataan Kuroko, semuanya, bahkan Akashi sendiri, ikut terdiam. Mendengarkan perkataan Kuroko dengan seksama. Kuroko lalu menundukkan kepalanya, sehingga wajahnya itu tertutupi oleh rambut— yang lebih tepanya ialah poninya sendiri.

"Biar bagaimana pun, aku tidak ingin menyusahkan mereka. Aku ingin memiliki penghasilan sendiri, walaupun sedikit. Yang terpenting, aku bisa membantu mereka dengan tidak meminta yang macam-macam pada mereka karena aku bisa membelinya dengan uangku sendiri." Ujarnya pelan.

"Hm, begitu."

Hening. Semuanya masih tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sampai pada akhirnya, Akashi buka mulut.

"Maaf menanyakan hal ini padamu, Tetsuya. Abaikan saja yang tadi itu."

"Nee~ Aka-chin, apa aku boleh makan apel ini? Aku lapar, Aka-chin. Aku lapaar~" Ujar— rengek — si bayi raksasa itu, seraya memasang wajah memelasnya.

"Tentu saja, Atsushi. Begitu pula dengan kalian. Ambil saja sesuka kalian."

"Hmmp!"

"Ah, sayang sekali kau tidak bisa makan buah-buah yang segar ini, Kise-kun."

"HNNHMMMPPPP!"

Semuanya hanya bisa tertawa mendengar ocehan tidak jelas yang diucapkan oleh Kise itu.


Setelah menempuh berbagai macam jalan raya, akhirnya mereka sampai di tujuan mereka, yaitu di rumah Akashi. Mereka kemudian turun satu per satu sambil membawa barang mereka masing-masing. Mereka hanya bisa diam memandang ke arah gedung besar yang Akashi sebut sebagai 'rumah'.

"Sekarang aku tidak heran alasan kenapa kau membawa kami ke rumahmu, Akashi." Ujar Aomine dengan tampang datar.

"Akashicchi, apa kita tidak salah tempat?" tanya Kise dengan polosnya. Kise baru saja berhasil melepaskan seluruh selotip yang mengelilingi pergelangan tangan dan mulutnya itu, setelah berulang kali sujud mohon ampun pada kapten yang maha kuasa, Akashi Seijuurou. Alasannya karena ia merasa iba melihat anak buahnya seperti itu, ditambah lagi, si pemilik iris aquamarine itu juga ikut memohon, sehingga jadilah seperti apa yang terjadi pada saat ini. Dan untuk yang pertama kalinya, si blonde itu memasukkan kalimat 'Diam untuk hidup' dalam daftar mottonya.

"Tentu saja tidak, Ryouta. Ikut aku."

Mereka pun menurut. Keenam remaja itu mulai berjalan, mengikuti si pemilik rumah yang memandu mereka menelusuri jalan yang berada di tengah-tengah pekarangan rumah yang lebih cocok dengan sebutan 'istana'.

Sambil jalan, Kuroko memperhatikan sekelilingnya. Memperhatikan setiap sisi yang bisa dijangkau oleh kedua iris mata Aquamarine-nya itu.

'Perasaan apa ini? Kenapa tempat ini seperti tidak asing lagi?' batin Kuroko.

"Ada apa, Tetsuya?" tanya Akashi yang sadar akan kegelisahan di balik wajah datar si remaja bersurai baby blue itu.

Kuroko tidak menjawab. Ia masih saja berjalan, namun berada dalam pikirannya sendiri yang terus-menerus bertanya akan jawaban dari kegelisahannya. Hingga akhirnya ia tersadar kembali karena sebuah tangan yang cukup kuat, merangkul pundaknya. Kuroko menoleh ke arah Aomine.

"Oh, ayolah, Tetsu! Ada apa denganmu? Akashi sejak tadi memanggilmu, kau dengar?"

Ia lalu menoleh pada Akashi yang masih menatapnya.

"Ah, maafkan aku, Akashi-kun." ujarnya sambil menundukkan kepalanya.

"Tidak masalah. Apa kau baik-baik saja, Tetsuya?"

"Akashicchi benar, Kurokocchi! Sejak tadi kau hanya menghayal. Kau baik-baik saja, 'kan?"

"Ya, aku baik-baik saja. Aku... hanya sedang berpikir akan sesuatu hal." jawabnya ragu.

"Haah?"

"Aomine-kun, kau dan barang bawaanmu terlalu berat. Tubuhku tidak kuat untuk menopangnya." ucap Kuroko dengan tampang datarnya.

"Ahaha. Maaf, maaf."

"Aka-chin, apa aku boleh makan buah itu?" tanya Murasakibara seraya menunjuk ke arah kebun strawberry.

"Tentu saja, Atsushi. Tapi tidak untuk saat ini. Kau bisa memakannya nanti."

"Akhirnya kita sampai." ucap Midorima sambil menatap pintu besar yang berwarna merah maron yang berada di hadapan mereka semua.

Akashi lalu membunyikan belnya, seperti biasa.

PIP

"Siapa?"

"Ini aku, Eiji-san."

"Hai."

PIP

Selang beberapa detik, pintu bernuansa merah maron itu mulai terbuka. Akashi lalu memimpin mereka masuk dalam rumahnya itu. Dan di sana, sudah ada pelayan setianya yang berdiri menunggu kedatangannya.

"Selamat sore, tuan muda."

"Selamat sore, Eiji-san. Eru ada di mana? Seharusnya dia sudah pulang, 'kan?"

"Hai. Nona Eru sedang berada di kamarnya. Katanya, ia ingin mempersiapkan diri." ujarnya sambil mengedikkan bahunya.

"Hm, Kaa-san juga masih kerja. Kaa-san bilang kalau ia akan pulang menjelang malam. Sepertinya sekitar jam 7. Ah ya, Eiji-san, perkenalkan, mereka semua adalah temanku, anggota tim serta manager-ku. Merekalah yang aku maksudkan." ujar Akashi seraya memperkenalkan keenam remaja bersurai pelangi itu pada Eiji, kemudan berbalik pada mereka bereenam.

"Ini Eiji-san. Kalau kalian butuh sesuatu, kalian boleh bertanya pada beliau."

"Ya, aku akan dengan senang hati membantu kalian semua." ujar Eiji dengan ramah.

Eiji mulai memperhatikan mereka satu per satu, yang kemudian berhenti tepat pada remaja beriris aquamarine itu. Kedua matanya kemudian membelalak kaget melihat sosok remaja yang sangat mirip dengan sesorang yang ia kenal dulu. Akashi sadar akan perubahan raut wajah pelayan setianya, yang sudah berjasa pada keluarganya sejak ia masih berada dalam kandungan ibunya itu. Lebih dari itu, seharusnya Eiji akan bertingkah seperti Nakamura tadi. Mengingat bahwa hawa keberadaan Kuroko sangatlah tipis.

'Ternyata benar.'

"Tu-tuan muda?"


(Yo minna! Hisashiburii deshou nee~?
Maaf telat update.y T_T,, soal.y walaupun udah ujian smester,, sekolah Seicchin blom libur..
*Tapi itu dulu* KARNA SEKARANG AKU UDAH LIBURR! *BANZAII! \(^0^)/
Jadi aku bakal usahakan update.y lebih dipercepat lagi.. :D

Thanks for my reviewers, juga yg udah nge-favo, follow, dan udah mau baca *bahkan yg jadi silent-reader* fict ku ini..
Kalian menambah semangatku untuk lanjutin fict ini..

Arigatou~ :D)

RnR please?