Chapter 9
"Tu-Tuan muda."
"Eh?"
Eiji menatap Kuroko dengan sangat terkejut dan sedikit bingung. Sedangkan di sisi lain, remaja beriris aquamarine itu hanya bisa menatap Eiji dengan wajah datarnya. Meskipun pada dasarnya, ia sedikit bingung dengan tatapan Eiji, serta perkataan Eiji yang mengatakan bahwa ia adalah 'tuan muda'.
"Tuan muda? Apa maksudnya, paman?" tanya Aomine.
Baru saja saat Eiji ingin buka mulut, Seijuurou sudah lebih dulu berbicara.
"Tidak bermaksud apa-apa, Daiki. Dan Tetsuya, itu hanya panggilan untuk teman-temanku saja. Jadi tidak perlu dipikirkan. Iya 'kan? Eiji-san?" ujarnya cepat.
Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi mungkin jalan yang terbaik adalah dengan merahasiakan hal ini terlebih dahulu. Melihat Eiji yang bisa langsung mengenali remaja beriris aquamarine itu memang bisa dijadikan sebagai bukti. Namun hanya bukti tambahan. Biar bagaimana pun, ia perlu bukti yang pasti untuk membuktikan bahwa Kuroko Tetsuya itu benar-benar adik Seijuurou yang menghilang saat kebakaran waktu itu atau hanya orang lain yang bukan siapa-siapa dan tidak memiliki hubungan darah dengannya, yang hanya memiliki wajah yang sama dengan Akashi Tetsuya yang dia sayangi.
Lagipula, akan sangat disayangkan bila Kuroko, yang kemungkinan besar adalah adik dari remaja beriris heterochrome itu, malah menjauhi Akashi karena pertanyaan dan aksi-aksi gila Akashi lainnya, hanya karena remaja bersurai merah itu terburu-buru dan tidak sabaran. Ya, itu adalah perbuatan yang sangat bodoh.
"Ah, y-ya. Dan itu berlaku untuk kalian semua." ujar Eiji sambil tersenyum paksa.
"Ceh, anda tidak perlu memanggil kami dengan sebutan 'tuan muda', paman! Kami ini 'kan hanya teman Akashi." balas remaja berkulit tan itu. Sedikit terganggu dengan sebutan yang Eiji berikan pada mereka.
"Aomine-kun benar, Eiji-san. Bukan karena kami ini teman Akashi-kun, jadi anda memanggil kami semua dengan sebutan 'tuan muda'. Panggil saja dengan nama kami. Aku Kuroko Tetsuya."
'T-Tetsuya? Ta-tapi... Kenapa dengan nama 'Kuroko'?' batin Eiji penasaran.
Merasa dirinya berdiri tepat di sebelah anak beriris aquamarine tersebut, Aomine, remaja berkulit tan itu maju satu langkah sambil tangan kirinya berkacak pinggang dan tangan kanan dikepal dengan ibu jari yang menunjuk ke arah dada kirinya. Seraya berkata, "Number one ace, Aomine Daiki." Dengan penuh rasa bangga. Namun rasa bangganya itu menciut seketika, saat Akashi melemparkan death glare-nya.
"Aku Kise Ryouta-ssu!" ucap Kise dengan riang dan tanpa embel-embel seperti yang Aomine katakan tadi. Sudah cukup ia merasakan penderitaan yang diberikan oleh Akashi pada saat perjalanan. Jadi lebih baik ia hanya menyebutkan namanya saja, daripada ujung-ujungnya menderita karena ulahnya sendiri.
"Midorima Shintarou, nanodayo."
"Murasakibara -nyam nyam- Atsushi -nyam nyam nyam-" ujar si bayi raksasa itu sambil mengunyah potato chips-nya, yang entah dari mana ia dapatkan.
"Atsushi, berhenti makan pada saat kau bicara." sela Akashi.
"Tapi~, Aka-chin~.." rengeknya.
"Atsushi." balas remaja bersurai merah yang nada bicaranya seperti telah memasuki zona berbahaya.
Murasakibara mendesah. "Hai~, Aka-chin."
Hening. Merasa keadaan sudah menjadi tenang dan aman, serta merasa diri paling akhir, gadis bersurai baby pink itu langsung memperkenalkan dirinya.
"Aku Momoi Satsuki—"
"... Pembuat makanan beracun nomor satu di dunia." sambung Aomine dengan tampang datar.
"AHOMINE-KUN!"
"Maa, senang berkenalan dengan anda, Eiji-san." ujar Kuroko, seraya mengabaikan pertengkaran suami-istri yang dilontarkan oleh Aomine dan Momoi.
"Te-tentu."
"Eiji-san, tolong panggilkan aku Eru. Bilang padanya kalau aku mencarinya. Aku akan mengantar mereka ke kamar mereka masing-masing." ujar Akashi yang lalu memberikan komando pada mereka berenam untuk mengikutinya.
Eiji memandang pundak mereka yang semakin lama semakin menjauh, dan kemudian menghilang dari pandangannya. Canda dan tawa mereka tidak luput dari pandangan Eiji. Baru kali ini, ia melihat seorang Akashi Seijuurou ikut bercanda-tawa dengan orang lain selain dengan Eru. Bahkan dengan Eru pun, ia masih bisa memakai 'topeng'nya. Memang benar, kehilangan seorang adik kecil yang paling kau sayangi itu sangat berat untuk dijalani dan sangatlah tidak akan bisa dilupakan begitu saja, apalagi kalau intuisimu yang berkata bahwa kaulah yang salah, tidak bisa menepati janji dan menyelamatkan —paling tidak— adikmu saja, itu benar-benar menjadi beban pikiran. Terutama untuk seorang Akashi Seijuurou. Jadi, bagaimana ia bisa bersenang-senang dengan pikiran dan rasa bersalah yang menghantuimu seperti itu?
'Tuan muda, anda tidak menentang atas apa yang kulakukan tadi. Tapi anda malah mengalihkan pembicaraan saja, bukan? Anda setuju denganku, iya 'kan? Tapi kenapa anda masih menutupinya?' batin Eiji dengan penuh pertanyaan dan rasa bingung.
'Ah, itu urusan anda, bukan urusanku. Yang pasti, anda akan membuktikan kebenarannya, bukan? Kalau begitu, akan kutunggu, sampai saat itu tiba.' pikirnya sambil tersenyum, lalu mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Eru.
Keenam remaja bersurai pelangi itu berjalan sambil mengikuti instruksi dari si pemilik rumah. Keenamnya berjalan sambil memperhatikan sekitar mereka masing-masing. 'Besar', 'Megah' dan 'Menakjubkan adalah tiga kata yang cocok untuk mendeskripsikan keadaan rumah tersebut. Serta 'sepi'. Ya, sepi. Mereka menelusuri rumah tersebut dengan suasana mengheningkan cipta. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dalam rumah tersebut, selain dua orang pelayan di lantai 2 dan dua orang pelayan di lantai 3, yang menunduk hormat saat mereka sedang lewat.
"Di sini sepi sekali, Aka-chin."
"Aku tahu itu, Atsushi. Ayahku sedang ke luar negeri untuk mengurus pekerjaannya, sedangkan ibuku sedang kerja. Seperti yang kau dengar tadi." jelas Akashi.
"Sial! Apa kau tidak mempunyai banyak pelayan, Akashi? Biasanya di film-film drama yang 'ku nonton, orang itu punya baaaaaaaanyak pelayan. Apalagi kalau rumah sebesar ini."
Sontak, keenamnya langsung mendesah mendengar pendapat remaja berkulit tan itu.
"Aomine-kun benar-benar bodoh."
"Sou sou! Ahomine-kun memang bodoh!"
"Aku heran kenapa kau jadi korban film, Ahomine."
"Cehh! Apa salahnya, hah?! Siapa tahu memang sama dengan di film yang 'ku nonton, 'kan?!" bantah Aomine, sedikit terganggu dengan ejekan mereka.
"Etoo~, aku pikir Aominecchi juga tidak salah. Karena pada dasarrnya sih, dunia orang kaya seperti itu." ujar si blonde yang membuat remaja bersurai navy blue itu tertegun mendengarnya. Sangatlah jarang untuk seorang Kise Ryouta membela perkataan sang ace SMP Teiko. Palingan dia juga ikut mengejek.
"Aku juga berpikir begitu." sambung Kuroko yang kini membuat Aomine semakin merasa terharu.
Akashi mendesah. "Memang biasanya seperti itu, tapi terlalu banyak pelayan hanya membuatku dan juga keluargaku, merasa tidak nyaman. Lagipula setiap kami, ingin mengurus kelengkapan dan kamar masing-masing. Terutama aku. Aku sangat tidak ingin jika barang-barangku disentuh orang lain. Jadi mereka ada hanya untuk mengurus bagian yang lainnya atau bagian tertentu saja." jelasnya, diikuti dengan anggukan dari keenamnya.
"Ah ya, Akashicchi! Tadi aku dengar, kau menyebut nama Eru. Eru itu siapa?"
"Adikku." jawabnya singkat padat dan jelas.
"Heeeee?! Akashi-kun punya adik?!" seru Momoi dengan rasa takjub.
Remaja berkulit tan itu mendesah. "Aku harap, adikmu yang namanya Eu, Eru atau Edu itu tidak mirip denganmu, Akashi." gumamnya pelan.
"Apa kau berkata sesuatu, Daiki?"
"Tidak ada, kapten!" jawabnya cepat. Sebelum Akashi mengumandangkan titahnya tentang penderitaan yang harus dijalani oleh Aomine Daiki.
"Bagus."
"Aka-chin. Apa kau tidak memiliki koki?" tanya Murasakibara tiba-tiba.
"Ibuku adalah kokiku. Jadi untuk apa menyewa seorang koki yang lain kalau ibuku juga bisa?"
"Ibu Akashi-kun hebat." puji Kuroko.
Di lain sisi, Aomine langsung menatap teman masa kecilnya itu.
"Sepertinya kau perlu belajar dari ibunya Akashi, Satsuki."
"Jangan dipikirkan, Momoi-san. Aomine-kun hanya ingin membuat masakanmu jadi lebih baik lagi karena dia menyukainya."
"TENTU SAJA TIDAK, TETSU!"
"Tetsuya benar, Satsuki. Apa kau tidak lihat semburat merah di pipinya itu?" ujar Akashi.
Momoi lalu memperhatikan wajah remaja berkulit tan itu. "Aku tidak melihatnya, Akashi-kun."
"Tentu saja kau tidak bisa melihatnya, Sa-chin. Kulit Mine-chin terlalu gelap. Kau butuh penerangan untuk melihatnya." adalah ucapan polos dari si bayi raksasa Kiseki no Sedai, yang menyebabkan seseorang menjadi sangat kesal dan terus-menerus mengoceh.
"Daiki, tutup mulutmu atau kau harus tidur di halaman belakang sampai saat pertandingan tiba!"
Mau atau tidak, Aomine hanya bisa pasrah dan menutup mulutnya. Karena jika tidak, ia harus tidur dengan beralaskan salju nantinya.
"Hai hai.." balasnya malas.
Mereka lalu berhenti tepat di depan pintu suatu ruangan. Akashi kemudian membuka pintu ruangan tersebut dan tampaklah bagian dalam dari ruangan tersebut, yang ternyata adalah sebuah kamar yang lengkap dengan 2 buah spring bed untuk satu orang, dengan lampu tidur yang berada di atas lemari kecil di setiap sisi kanan dari kedua spring bed tersebut.
Di tambah lagi sebuah sofa panjang, lengkap dengan sebuah meja yang berada di hadapannya, terpasang rapi menghadap ke sebuah layar LCD TV yang tepajang di tembok.
"A-Anu,, Akashi."
"Ada apa, Daiki?"
"I-Ini, kamar siapa?" tanyanya langsung.
"Kamarmu."
"Sendiri?"
"Ya."
Aomine menatap Akashi dengan tampang tidak percaya akan ucapan sang kapten tadi.
"APA KAU GILA?! SENDIRIAN DI KAMAR SELUAS INI?!"
"Tidak masalah, bukan? Jadi kau bisa bebas untuk tidur di mana pun kau mau. Lagipula masih banyak kamar yang kosong. Jadi kau tidak perlu khawatir, Daiki. Dan juga, aku tidak gila, Daiki. Kau akan menyesali perkataanmu tadi." ujar Akashi lengkap dengan death glare-nya. Seperti tanda peringatan, Aomine langsung bergidik ngeri seraya menelan ludah.
Keenamnya mulai menganalisis ruangan yang disebut dengan sebutan 'kamar' tersebut. Ruangan yang memiliki luas kurang lebih 8 x 10 meter itu memang sangat tidak cocok disebut dengan sebutan 'kamar'. Apalagi yang menggunakan ruangan tersebut hanya satu orang saja.
"Ano, Akashi-kun. Maaf, tapi bukan berarti aku takut seperti Aomine-ku—"
"OI TETSU!"
"Aominecchi, sangat tidak baik kalau kau memotong pembicaraan orang lain. Aku benar 'kan, Akashicchi?" tanya si blonde, dibalas dengan anggukan setuju dari pihak yang ditanya.
"Sepertinya kau sudah belajar dari kesalahanmu tadi, Ryouta. Aku bangga padamu. Dan Daiki, sekali lagi kukatakan padamu, tutup mulutmu atau kau akan kehilangan mulut berhargamu itu."
"..."
"Apa yang ingin kau ucapkan tadi, Tetsuya?"
"Ng, bagaimana kalau satu kamar itu untuk dua orang? Lagipula ada 2 tempat tidur kok. Dan dengan begitu, membersihkannya jadi lebih mudah 'kan?"
Masuk akal, pikir mereka. Kelimanya langsung mengangguk setuju dengan pendapat Kuroko. Dalam hati Aomine sedikit bersyukur karena ada Kuroko yang membelanya, meskipun pada awalnya, remaja bersurai baby blue itu malah—secara tersirat— mengejeknya dengan sebutan 'penakut'.
"Aka-chin, aku juga setuju dengan pendapat Kuro-chin. Sendirian dalam kamar seluas ini, sangat tidak nyaman. Lagipula kalau sendirian, aku tidak punya teman bermain, Aka-chin." rengek si bayi raksasa itu.
Akashi lalu menatap mereka semua. Semuanya tampak berharap cemas— terutama Aomine—. Ia mendesah.
"Baiklah. Aku mengerti."
Gadis bersurai baby pink tersebut langsung mengacungkan jarinya. "Ta-tapi bagaimana denganku, Akashi-kun? 'K-Kan tidak mungkin aku..."
Pipi Momoi yang tadinya berkulit putih, kini berubah menjadi pink, seperti warna rambut baby pink-nya itu.
"Pertanyaan bagus. Kau akan sekamar dengan Eru. Aku sudah beritahu dia kemarin. Jadi kau tenang saja."
"HEEE?!"
"Shintarou, kau pilih sekamar dengan siapa?" tanya Akashi, menginterupsi rasa terkejut yang dilontarkan oleh gadis beriris kwarsa ros tersebut.
"Murasakibara lebih baik, nanodayo. Mungkin dengan Kuroko juga bisa, tapi golongan darahku dan dia sangatlah berbeda dan tak akan mungkin bisa bersatu. Jadi, aku menolak untuk sekamar dengannya. Lalu, aku tidak ingin mendengar ocehan Kise di setiap waktu dan aku sama sekali tidak ingin mendengar suara dengkuran Aomine yang sangat berisik di setiap malam selama kurang lebih tiga bulan ini. Paling tidak, Murasakibara bisa disumbat mulutnya dengan menggunakan makanan saja, nanodayo." jelasnya panjang lebar seraya memperbaiki posisi kacamatanya.
"MIDORIMACCHI! HIDOIII!"
"CEH! DENGKURANKU TIDAK SEBERISIK ITU TAHU! LAGIPULA, SEJAK KAPAN KAU MENDENGAR DENGKURANKU?!" protesnya.
Midorima memperbaiki posisi kacamatanya (lagi).
"Bukan mendengarnya, Aomine. Tapi aku diberitahu oleh Oha-asa bahwa jangan pernah tidur sekamar dengan kenalanmu yang berzodiak Virgo karena dengkuran mereka akan mengganggu tidurmu." ujarnya bangga.
"HAAHHHH?!"
"Sekali-sekali, kau harus percaya pada ramalan, Aomine." tegasnya.
"Atsushi?"
"No comment, Aka-chin. Selama aku tidak sendirian dalam kamar seluas ini."
"Baiklah, sudah diputuskan. Shintarou akan sekamar dengan Atsushi. Bagaimana denganmu, Ryouta?"
"Aku ingin sekamar dengan Kurokocch—"
"Ditolak." bantah orang yang disebutkan oleh Kise tadi.
"Pfft!"
Layar yang berada di belakangnya Kise— yang tadinya berhiaskan bunga-bunga lengkap dengan kupu-kupu yang beterbangan dimana-mana, kini berubah drastis menjadi kilatan petir serta hujan badai.
"KUROKOCCHI HIDOIII!"
"Kise-kun, kau berisik." Kuroko lalu berbalik ke arah Midorima. "Aku setuju dengan Midorima-kun, meskipun Midorima-kun sendiri tidak ingin sekamar denganku." ujarnya sambil memasang puppy eyes. Membuat pihak lawan menjadi salah tingkah.
"Apa?!"
"Tidak ada." ucap Kuroko yang kembali dengan muka datarnya, seperti biasa.
"Kalau dengan Kise, dia terlalu berisik. Sendiri? Tidak, aku tidak mau! Tapi kalau dengan si Tetsu lebih parah lagi! Bisa-bisa aku terkena serangan jantung! " batin Aomine sambil ia menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kau sekamar dengan Daiki, Ryouta."
"TIDAK MAU!" seru mereka kompak.
"Oh. Jadi kalian ingin sekamar denganku? Begitu?" tanya Akashi.
Keduanya langsung bergidik ngeri.
"TIDAK TERIMA KASIH, AKASHI/AKASHICCHI!" ucapnya dengan lantang secara bersamaan.
Aomine langsung mendekat dan merangkul pundak Kise yang masih gemetaran.
"Ka-kami berdua saja tidak masalah, Akashi. Bu-bukan begitu, Kise?"
"A-aa! Aominecchi juga tidak masalah kok, Akashicchi."
Mereka berdua lalu memasang senyum lebar, yang dilengkapi dengan keringat yang bercucuran pada kulit hitam-putih mereka. Keduanya berusaha terlihat akrab. Ya, bisa dibilang seperti itu.
Akashi memperhatikan mereka berdua dengan seksama, membuat mereka menjadi semakin gugup lagi. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya Akashi mendesah. Baru kali ini ia benar-benar merasa kesal karena telah salah jalan, mengambil jalan musyawarah untuk pemilihan anggota sekamar. Padahal dia sangat anti dengan yang seperti itu.
"Bagus. Karena aku juga tidak berniat mendengar kicauan kalian di sepanjang waktu." ucap si remaja beriris heterochrome.
Keduanya langsung menghela napas lega, walaupun mereka masih merasa kesal karena dibuat sekamar. Tapi itu lebih baik, karena yang terpenting, tidak berurusan dengan remaja bersurai merah dengan iris heterochrome-nya. Sisanya, bisa diurus lain waktu.
Sadar akan sesuatu, keduanya langsung berbalik ke arah Kuroko dengan tatapan iba. Sedangkan yang orang yang dipandang, hanya membalas mereka dengan tatapan datar.
"Ada apa?" tanya remaja bersurai baby blue itu, seraya sedikit memiringkan kepalanya, sedikit bingung melihat tingkah mereka.
"Tetsuya, bagaimana denganmu? Ingin sendiri atau sekamar denganku?" tanya Akashi, memberi pilihan pada remaja beriris aquamarine itu.
"Ah, tampaknya aku belum terbiasa sendirian dalam kamar sebesar ini, Akashi-kun. Tapi aku juga tidak ingin menggang—"
"Kau akan tidur di kamarku, Tetsuya. Kau sama sekali tidak menganggu dan kau tidak perlu khawatir karena kamarku juga memiliki 2 tempat tidur. Mengerti?"
"Hai."
"Bagus." Akashi lalu menoleh pada yang lain. "Kalian bebas memilih kamar kalian masing-masing. Satsuki, kau harus menunggu Eru terlebih dahulu dan Tetsuya, kau akan 'ku antar sebentar. Bergerak sekarang!"
Tanpa basa-basi, mereka lalu memilih kamar mereka masing-masing. Aomine dan Kise memilih kamar yang Akashi tujukan padanya sejak awal. Sedangkan Murasakibara dan Midorima memilih kamar yang berada tepat di seberang kamar mereka. Dan dengan segera, daerah tersebut menjadi sepi kembali karena tinggal mereka bertiga saja yang tersisa.
Akashi menghela napas. "Akhirnya mereka diam juga. Dan Eru! Jangan bersembunyi di situ. Cepatlah kemari."
Dan seketika itu juga, muncullah sesosok anak perempuan berumur 5 tahun— yang tidak lama lagi genap berumur 6 tahun— mulai berjalan dengan tampang sedikit malu, mendekati mereka bertiga. Rambut merah nan indah yang terjuntai ke belakang membuat Momoi dan Kuroko langsung tahu bahwa anak itu ialah saudara sang kapten.
"Sa-salam kenal. Namaku Akashi Elu." Ucapnya dengan cadel, seraya menunduk malu. Eru masih belum berani menatap keduanya.
Lama menunggu balasan dari mereka, akhirnya Ia mengadah ke arah ketiganya. Namun, baru saja saat ia mengangkat kepalanya, ia terkejut. Tiba-tiba ia merasa dipeluk dengan erat oleh sesosok gadis yang bersurai baby pink—setidaknya, warna itulah yang sempat dijangkau oleh penglihatannya.
"Imutnyaaa~~! Aku tidak menyangka kau punya adik se-imut ini, Akashi-kun~!" seru Momoi dengan gembira, tapi masih memeluk gadis kecil itu.
"Ti-tidak bisa bel-na-pas.." ucap Eru yang sudah mulai memucat.
"AHHHH! MAAFKAN AKU!" ujarnya panik, seraya melepaskan gadis kecil tersebut dari pelukannya. Seijuurou hanya bisa mendesah melihat tingkah manager klub basket Teiko itu terhadap adik perempuannya.
"Kau tidak apa-apa 'kan?" tanyanya dibalas dengan anggukan kecil Eru.
"Salam kenal, Eru-chan. Aku Momoi Satsuki!"
"Satsuki… -neechan?"
"Hu'um!" angguknya mantap.
"Senang berkenalan denganmu, Eru-chan." Sapa remaja beriris aquamarine yang mulai terlihat dari belakang gadis bersurai baby pink tersebut.
Eru lalu menoleh ke arah datangnya suara. Melihat sosok lelaki yang berada di belakang Momoi itu membuatnya teringat akan sesuatu.
"Ah! Fotonya!" seru Eru tiba-tiba.
Kedunya, bahkan Akashi sendiri mengernyitkan dahinya. "Hm?"
"Tetsuya-niichan!"
"Eh?"
"Eru? Dia mengenali Tetsuya?" Batin Akashi, sangat bingung. Karena setahu Akashi, Eru belum pernah melihat tampang Tetsuya, kakaknya.
"Tetsuya-niichan, 'kan? Tetsuya-niichan, kakak Elu, iya 'kan? Nee, Seijuulou-nii. Elu benal, 'kan?"
"Eru." Ujarnya dingin, mencoba untuk memperingatkan adik kecilnya itu agar tidak lepas kendali.
Kuroko sendiri masih belum bisa berkutik.
"A-Apa maksudnya?"
(Yossh! Akhirnya ada waktu untuk nge-update! *Gomen nee, minna~ ._.v
Oke,, sekali lagi,, terima kasih buat para pembaca, buat yg udah nge-favo, follow dan yang udah review~
:D
Sampai jumpa d chapter selanjutnya~) RnR please?
