Chapter 11


"Senang berjumpa dengan anda. Namaku Kuroko Tetsuya." sapa anak bersurai baby blue itu dengan sopan.

Keiko, wanita bersurai merah itu hanya bisa tetap diam di tempat ia berdiri saat ini. Ia masih sangat terkejut melihat kedatangan anak bersurai baby blue itu. Sampai-sampai tubuhnya terasa kaku dan bahkan, mengambil napas saja terasa sangat sulit untuk ia lakukan. Otaknya yang biasa mengolah suatu data dengan cepat seperti air yang mengalir, serasa tersumbat seketika itu juga, membuat ia hanya bisa diam seperti saat ini.

"Akashi-san? Ada apa?" tanya Midorima dengan hati-hati, diikuti dengan tatapan— sedikit —khawatir dari yang lainnya.

'Tidak, itu tidak benar, Keiko. Oh ayolah! Dia bukan Tetsu-kun.. Jangan salah sangka, Keiko.. Ayo.. Bergeraklah.. Jangan membuat keributan di sini..' batin Keiko, berusaha menyangkal perasaannya saat ini, sambil ia mulai mengatur nafas dan detak jantungnya yang sejak tadi tak beraturan.

Merasa bahwa ia sudah bisa menggerakkan tubuhnya, Keiko mulai mundur selangkah. Ingin pernyataan yang jelas tentang gagasannya itu, ia lalu menoleh ke arah anak sulungnya, yang malah lebih memilih untuk menatap dan memainkan serbetnya yang berwarna putih itu daripada harus menatap wajah sang ibu.

Telepati? Mungkin mirip dengan hal itu. Seperti mengerti akan maksud dari gerak-gerik anaknya itu, Keiko lalu tersenyum tipis. Ia kembali menatap remaja bersurai pelangi yang berada di hadapannya saat ini.

"Maafkan aku, anak muda. Aku hanya tiba-tiba teringat Eru-chan. Seharusnya anak itu ada di sini." adalah alasan yang ia ucapkan tanpa ada keraguan, disertai dengan acting yang sangat sempurna untuk menutupi alasan yang sebenarnya itu. Walaupun Kuroko sendiri tahu persis alasan di balik ucapan Keiko tadi. Yang lainnya hanya mengangguk kecil, sedangkan anak bersurai baby blue itu malah jadi merasa bersalah atas kemunculannya itu.

"Dan.. Ya. Aku dengar kalau Eru-chan bertengkar denganmu, Sei-kun. Apa ibu salah?" lanjut Keiko seraya memperhatikan Seijuurou yang terus-menerus memainkan serbetnya. Sesekali melirik ke arah Keiko, namun tidak mau buka suara.

Keiko mendesah pelan.

Ia mulai menunduk dan kembali menatap anak bersurai baby blue itu, yang sejak tadi hanya diam mematung.

"Senang berjumpa denganmu.. Tetsuya-kun." ujarnya sambil tersenyum tulus pada Kuroko, seraya mengelus surai biru mudanya yang lembut.

Tersenyum. Memang tersenyum. Namun dibalik senyumannya, ada kesedihan dan kekecewaan yang terpancar dari kedua iris crimson miliknya itu. Setidaknya, hal itulah yang disadari oleh anak beriris aquamarine itu, saat sepasang iris mata Keiko bertemu dengan miliknya.

'Menyakitkan.' pikirnya sambil mengalihkan perhatiannya dari kedua iris mata Keiko. Seakan-akan bahwa ia tahu tentang apa yang dirasakan Keiko saat ini.

Seperti menemukan sesuatu, Keiko kembali menegakkan tubuhnya. Namun, tangan kanannya masih berada di atas kepala anak bersurai baby blue itu.

"Aku baru sadar kalau temanmu yang satu ini memiliki tinggi yang sama sepertimu, Sei-kun." tukas Keiko, sedikit terkejut.

Sedangkan lawan bicaranya hanya bisa mengernyitkan dahinya, berniat untuk protes akan pernyataan ibunya ini.

"Aku masih. Lebih. Tinggi. Dari. Tetsuya. Kaa-san." balasnya dengan tenang, namun mengandung arti tidak setuju atas ucapan Keiko.

"Tidak! Aku yakin kalau tinggi kalian itu sama!" bantah Keiko, tidak ingin dikalahkan oleh anaknya sendiri.

"Tinggi kami tidak sama, Kaa-san. Aku lebih yakin akan hal itu." tukas Seijuurou, seraya menaikkan kedua alisnya.

"Itu karena rambut Akashi-kun lebih panjang dariku." sela Kuroko yang juga tidak ingin kalah.

"Rambut kita sama panjangnya, Tetsuya."

"Tidak sama, Akashi-kun."

"Sama."

"Tidak."

"Sama atau tidak, itu tidak penting. Ya ampun!" seru Keiko, sedikit kesal karena mulai diabaikan.

"Bibi benar. Lagipula, sejak kapan Akashi-kun mengukur panjang rambutku?" tanya anak bersurai baby blue itu, seraya sedikit memiringkan kepalanya.

Check mate.

Akhirnya ada orang yang bisa mengalahkan pemilik mata heterochrome ini, walaupun hanya dalam perdebatan. Karena pada dasarnya, seorang Akashi Seijuurou tidak akan pernah kalah melawan apapun, siapapun dan di saat apapun juga. Tapi sekarang, Kuroko berhasil memecahkan rekor muri karena telah menang dalam perdebatan one-on-one dengan Akashi Seijuurou. Ia berhasil membuat Seijuurou membungkam mulutnya.

Yang lainnya hanya bisa sweat-drop melihat pertengkaran mereka.

'Padahal, orang pertama yang mengatakan kalau panjang rambut mereka tidak sama itu 'kan si Tetsu / Tetsu-kun / Kuroko / Kuro-chin / Kurokocchi!' batin kelimanya kompak seraya menatap satu sama lain. Mungkin Seijuurou sudah terlalu banyak berpikir pada saat ini, sehingga ia tidak terlalu konsentrasi, seperti yang selalu ia lakukan.

"Nah, bagaimana kalau kalian semua duduk terlebih dulu? Bibi yakin kalau kalian semua itu makan sambil duduk, bukan?" perintahnya pada remaja bersurai pelangi itu.

Mereka mengangguk, lalu kemudian beranjak menuju ke meja makan.

Baru saja saat mereka mulai duduk secara teratur, suara derap langkah kaki seseorang mulai terdengar, semakin mendekat. Awalnya mereka mengira bahwa orang itu adalah Eru. Namun salah. Yang muncul dari balik pintu ruang makan itu bukanlah gadis kecil bersurai merah, melainkan Eiji.

"Eiji-san?"

"Ma-maaf mengganggu makan malam anda, Nyonya. Tapi nona Eru bersikeras bahwa ia tidak mau makan. Apa yang harus aku lakukan?"

Keiko mendesah pelan, lalu kemudian melirik ke arah Seijuurou yang dengan tampangnya yang seperti mengatakan bahwa 'Aku tidak salah. Dialah yang terlebih dahulu memulainya. Jadi, tolong singkirkan tatapan itu dariku, Kaa-san', yang membuat Keiko mendesah untuk kesekian kalinya di hari itu juga.

"Sei—"

"Ano.. Kalau boleh— biar aku saja yang membujuk Eru-chan." potong Kuroko, diikuti dengan tatapan bingung dari wanita beriris crimson itu.

"Kamu?"

Anak bersurai baby blue itu mengangguk.

"Hai. Sebenarnya, Eru-chan marah-marah seperti itu bukan sepenuhnya salah Akashi-kun. Tapi, sebagian besar penyebab utamanya adalah aku." jelasnya lagi.

"Tidak. Kau tidak salah, Tetsuya." bantah Akashi dengan cepat, saat setelah anak beriris aquamarine itu selesai bicara.

"Ya. Aku memang bersalah, Akashi-kun."

"Tidak."

"Ya."

"Ku katakan sekali lagi. Kau tidak salah, Tetsuya." tukasnya lagi, namun orang yang dimaksud hanya mengabaikannya dan menoleh ke arah Keiko yang sejak tadi hanya diam menyaksikan perdebatan kecil-kecilan mereka.

"Kalau begitu, aku permisi dulu." izinnya, lalu beranjak keluar mengikuti pelayan setia keluarga Akashi, yang akan menunjukkan lokasi Eru saat ini.

Semua hanya menatap keduanya hilang dari balik pintu, sedangkan Seijuurou sendiri masih sibuk dengan rasa kesalnya karena diabaikan begitu saja oleh anak bersurai baby blue itu.


Keduanya tetap saja berjalan ke tempat di mana Eru berada saat ini, dimana Eiji yang memimpin, sementara anak bersurai biru muda itu hanya diam mengikuti orang yang berada di depannya.

Sejak tadi, suasananya terasa agak ganjil. Keduanya berada dalam dunia mereka masing-masing. Tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memulai suatu percakapan untuk saling mengenal, melakukan tanya-jawab, atau.. yaah, paling tidak, sedikit berbasa-basi juga tidak masalah.

Gelisah? Itu adalah kata yang cocok dengan apa yang dirasakan oleh Eiji pada saat ini. Ia masih belum terbiasa dengan sosok Kuroko Tetsuya pada saat ini. Alasannya jelas. Ia masih beranggapan bahwa anak beriris aquamarine itu adalah anak Yutaka dan Keiko, ditambah lagi dengan Seijuurou yang lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraannya saat sore tadi, sehingga ia menyimpulkan bahwa hal itu memang benar adanya. Namun di lain pihak, anak bersurai baby blue itu tidak mengenali sosok Seijuurou sebagai saudaranya— dimana Tetsuya malah memanggilnya dengan sebutan 'Akashi-kun', ia tidak mengenali Eiji yang merupakan pelayan setia keluarga Akashi, serta mengaku bahwa namanya adalah 'Kuroko Tetsuya' dan bukan 'Akashi Tetsuya', seperti yang seharusnya ia sebutkan saat perkenalan tadi. Hal ini membuat ia merasa 'canggung' berada di sekitar anak beriris aquamarine itu.

Sedangkan Kuroko sendiri, ia masih terlalu sibuk menganalisa 'kediaman Akashi', yang menurutnya tidak asing lagi. Merasa 'déjà vu' itu memang menyebalkan. Apalagi pada suatu tempat yang menurut ingatan kita, sama sekali belum terdaftar bahwa tempat tersebut sudah pernah dikunjungi sebelumnya. Rasa sakit pada kepalanya— yang awalnya hanya nyut-nyutan kecil— kini semakin menjadi-jadi.

Sadar bahwa orang yang dituntun tidak lagi mengikutinya, Eiji berbalik ke arah anak bersurai baby blue itu dan ia mendapati sosok Kuroko yang berdiri tak jauh darinya, sedang bersandar di dinding dengan bertumpu pada lengan kanannya, sambil memegang dahinya dengan tangan kirinya seraya menutup kedua iris aquamarine-nya itu.

Eiji langsung menghampirinya, sedikit panik melihat tingkah lakunya yang aneh itu.

".. 'nak?"

"Hei, 'nak?" tanyanya ragu, sambil menepuk lengan kiri Kuroko.

Kuroko menoleh ke arah pria berusia 50 tahun itu, namun hanya menatapnya kosong dengan kedua iris aquamarine-nya.

"Anda baik-baik saja?"

"..."

"Hei!?"

Karena sama sekali tidak ada jawaban dari Kuroko, Eiji kembali menepuk pelan lengan kirinya. Dan benar saja. Usahanya berhasil. Seperti tersadar dari lamunannya, anak bersurai teal itu hanya bisa menatap Eiji dengan wajah datar.

"Apa anda baik-baik saja? Sepertinya anda tidak sehat. Anda benar-benar terlihat lelah. Apa perlu kita kemba—"

"Tidak, itu tidak perlu, Eiji-san." sela Kuroko.

"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing, tapi tidak masalah. Maaf membuatmu khawatir, Eiji-san." ujarnya seraya menunduk kecil, seperti yang biasa ia lakukan.

Eiji hanya mengangguk kecil, meskipun ia sendiri tidak begitu yakin dengan sanggahan Kuroko tadi. Mereka mulai berjalan lagi.

Tidak lama setelah mereka mulai berjalan dari tempat tersebut, sesuai dengan arah kemana perginya Eru tadi, tampaklah sebuah taman yang sangat luas nan indah, yang dipenuhi oleh perumputan dan berbagai macam bunga yang berhamburan yang juga mengelilingi taman itu. Tak lupa juga dengan beberapa pohon sakura dan pohon maple yang juga turut memeriahkan taman tersebut. Taman itu juga memiliki sebuah kolam yang ukurannya lumayan besar untuk berbagai macam ikan, serta kura-kura. Mulai dari anak kura-kura yang berukuran kecil, sampai kura-kura yang sudah dewasa.

Di tengah kolam itu, terdapat sebuah gazebo* berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu jati dan dilapisi dengan cat berwarna coklat tua, dengan sebuah jembatan yang menyambungkan gazebo dengan tepi kolam. Pada gazebo tersebut, ketiga sisinya dilengkapi dengan bangku panjang yang juga terbuat dari bahan yang sama dengan gazebo itu sendiri. Begitu pula dengan warna lapisan cat-nya. Tak lupa juga dengan sandaran yang empuk dan berwarna putih. Ditambah lagi dengan sebuah meja yang memanjang tepat berada di tengah-tengah tempat peristirahatan itu. Tempat yang sangat nyaman dengan berbagai jenis tanaman bunga yang mengelilinginya.

Dan tepat di tengah-tengah taman itu, ada sesosok anak perempuan bersurai merah— sama seperti surai merah kaptennya, Akashi Seijuurou— yang sedang duduk bebas di atas perumputan seraya tangan kanannya mengelus-elus seekor kelinci berbulu putih, sedangkan tangan yang satunya lagi menjaga agar kelinci yang bulunya bercorak hitam putih dan yang berbulu coklat, keduanya tetap aman pada pangkuannya.

"Eiji-san tunggu di sini saja. Biar aku saja yang ke sana." ujar anak beriris aquamarine itu, yang langsung beranjak dari tempatnya, menuju ke tengah taman, ke tempat di mana Eru berada.

Kuroko berjalan secara perlahan ke tempat anak bersurai merah itu. Takut kalau nantinya ketiga kelinci itu malah terkejut dan melarikan diri. Namun, walau berjalan dengan sangat pelan sekali pun, walau ketiga kelinci itu tidak sadar bahwa ada yang mendekat, Eru tetap bisa menyadari kedatangannya. Dan ia sedang tidak mood untuk bertemu dengan siapapun itu. Terlebih kakaknya, Seijuurou dan juga remaja bersurai baby blue— yang ia anggap bahwa orang itu merupakan Akashi Tetsuya, anak yang juga bersurai baby blue, yang merupakan kakaknya, yang ia lihat sama persis dengan yang ada dalam foto yang diperlihatkan oleh ibunya beberapa bulan yang lalu. Namun ternyata ia salah sangka— meskipun 'salah sangka' itu merupakan presepsinya sendiri karena kakak tercintanya malah balik membentaknya seperti tadi. Bukan membelanya dan atau membenarkan pendapatnya, melainkan memarahinya dan menyuruhnya berhenti mengucapkan hal yang sama. Hal itu yang membuatnya berdecak kesal, melihat kedatangan remaja bersurai teal ini.

"Hei o-niichan yang belambut bilu muda, yang mengaku sebagai teman Seijuulou-niichan.. Jangan sekali-kali o-niichan datang ke sini hanya untuk menyuluhku masuk ke dalam dan makan belsama-sama dengan yang lainnya, telmasuk dengan Seijuulou-niichan hanya kalena o-niichan lebih tua dariku. O-niichan sama sekali tidak mengenalku dan begitu pula denganku, dan oleh sebab itu, kalau awalnya o-niichan datang untuk hal yang 'ku sebutkan tadi, lebih baik o-niichan kelual dali sini." jelasnya panjang lebar, membuat Kuroko— sedikit kagum dengan banyaknya kosa kata yang anak itu gunakan dan juga karena anak itu menyadari keberadaannya.

Tapi hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk tetap melangkah maju, untuk mendekati anak bersurai merah itu, sampai pada akhirnya ia berhenti tepat di belakang Eru.

"Tapi Eiji-san mengenalmu sejak kamu masih bayi dan Eiji-san juga lebih tua darimu. Aku rasa kamu tahu akan hal itu, bukan?"

Eru lebih memilih untuk berpura-pura tidak mendengarkan dan tetap memperhatikan kelinci-kelincinya, sambil ia menggembungkan kedua pipi mungilnya itu.

Kuroko mulai berjongkok.

"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya sambil menepuk-nepuk rumput di sebelah kiri Eru. Namun tidak ada jawaban. Anak itu masih saja mengacuhkan usaha Kuroko.

Remaja bersurai teal itu hanya bisa tersenyum melihat Eru yang ngambek seperti ini.

"Aku anggap itu adalah jawaban 'ya'." ujarnya lagi seraya memposisikan dirinya duduk di sebelah kiri Eru.

Hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang mulai berbicara. Kuroko menunggu si kecil itu berbicara, sedangkan Eru sendiri sama sekali tidak ada niat untuk berbicara. Maka jadilah seperti saat ini, di mana Kuroko hanya duduk diam memandangi Eru dan Eru hanya duduk seraya mengelus-elus kelinci-kelincinya. Mungkin kelinci-kelinci tersebut lebih menarik dari pada sosok Kuroko yang ada di sampingnya saat ini.

Karena Eru yang tak kunjung berbicara, akhirnya Kuroko mengalah. Ia akui, sifat Seijuurou yang keras kepala itu, juga ada pada adik kecilnya ini.

"Kelinci yang lucu. Semuanya milikmu?" adalah pertanyaan singkat yang dikeluarkan oleh mulutnya itu, namun sama sekali tidak berhubungan dengan tujuannya berada di taman saat ini.

Orang yang ditanya hanya mengangguk kecil tanpa melirik ke arah sosok Kuroko yang sedari tadi dengan sabar menunggu agar anak itu mau berbicara dengannya.

"Kamu yang membelinya?" tanyanya lagi. Namun kali ini ada sedikit kemajuan. Eru menoleh ke arahnya.

"Tidak," jawabnya singkat, lalu kembali memperhatikan kelinci-kelincinya yang berbulu lebat itu.

"Semuanya melupakan hadiah ulang tahunku," lanjutnya.

"Hm? Kalau begitu, dari siapa? Ayahmu?"

Eru menggelengkan kepalanya.

"Ibumu?"

Ia menggelengkan kepalanya, lagi.

"Kalau begitu... dari Akashi-ku— maksudku, kakakmu?" tanyanya lagi.

Tangan Eru berhenti mengelus-elus kelinci berbulu coklat itu, membuat kelinci tersebut mengadah ke atas untuk melihat si pemilik tercintanya yang sangat imut itu, yang berhenti mengelus tubuh mungilnya.

'Bingo!'

Kuroko mendesah pelan, lalu kembali menatap anak bersurai merah itu.

"Ternyata benar."

"Lalu kenapa?" tanya Eru, sambil memasang wajah cemberutnya.

"Bukan hal yang sangat penting." ujarnya sambil tersenyum kecil.

"Boleh 'ku bawa pulang sa—?"

"Tidak boleh!" bantahnya spontan, seraya memeluk ketiga kelinci itu dan menjauhkannya dari remaja bersurai baby blue itu.

Kuroko hanya menatapnya dengan wajah datar, lalu kemudian mulai menyunggingkan senyum kecilnya, membuat gadis kecil yang juga beriris aquamarine itu tertunduk malu. Malu karena dua hal. Yang pertama karena ada orang selain kakak tercintanya dan orang tuanya serta Eiji dan pelayan-pelayan lainnya yang mau tersenyum seperti itu kepadanya. Lalu yang kedua, karena orang yang berada di sampingnya ini sudah mengetahui bahwa ia sangat menyukai hal apapun yang diberikan oleh Seijuurou, kakak tercintanya.

"Tidak apa, Eru-chan. Aku tahu, kok." ucapnya seraya mengadah ke atas, memandangi langit malam dan bintang-bintang yang menghiasi langit berwarna hitam itu.

"Aku tahu kalau yang tadi sore itu hanya... efek karena terkejut. Terkejut karena melihatku mirip dengan kakakmu yang satunya lagi, bukan?" tanyanya yang membuat kedua iris mata Eru kembali memandanginya dengan rasa sedikit terkejut.

"Akashi-kun yang memberitahukannya padaku. Tapi maaf, aku bukan kakakmu yang kamu dan Akashi-kun cari. Karena aku juga punya kedua orang tua." sambungnya lagi, seraya menutup mata kirinya dengan tangan kirinya itu, sedang tangan kanannya menopang tubuhnya. Sakit kepalanya masih terasa dan bahkan, belum mereda sedikitpun.

"Seijuulou.. Niichan?"

Kuroko mengangguk kecil, sementara gadis kecil itu hanya menatap kosong ketiga kelincinya.

"Aku tahu kalau kamu sangat sayang pada kakakmu, Eru-chan. Dan aku tahu kalau kakakmu juga menyayangimu."

"Tapi Elu sudah belkata kasal pada Seijuulou-niichan! Seijuulou-niichan pasti sangat malah pada Elu. Elu bahkan meneliaki o-niichan, bilang bahwa Elu benci Seijuulou-niichan. Pasti Seijuulou-niichan membenci Elu, sampai-sampai o-niichan membentak Elu sepelti tadi. Pasti o-niichan tidak mau lagi melihat Elu." ujarnya lirih. Kedua iris matanya yang berwarna biru muda bagaikan kristal itu, mulai terlihat berkilauan dengan air mata.

Kuroko meletakkan tangan kanannya di atas surai merah Eru, mengelusnya dengan lembut seraya menatap adik kecil sang kapten klub basket Teiko.

"Akashi-kun, kakakmu, tidak pernah membencimu, Eru-chan. Tidak akan pernah. Sekalipun kamu yang membencinya. Akashi-kun bukan tipe orang yang bisa membenci dan meninggalkan adiknya begitu saja, Eru-chan." jelas anak bersurai teal itu, seraya tersenyum lembut pada Eru.

"Tapi—"

"Sekarang katakan padaku, apa Akashi-kun pernah meninggalkanmu?" tanyanya, dibalas dengan gelengan pelan dari gadis kecil bersurai merah itu.

"Apa Akashi-kun pernah melupakan hari ulang tahunmu?" Dan lagi, dibalas oleh gelengan pelan Eru.

"Apa Akashi-kun pernah memarahimu tanpa alasan yang jelas?"

"Tidak pelnah." balasnya pelan.

"Lalu kenapa Eru-chan berkata seperti itu?"

"Kalena Elu takut kalau o-niichan malah." jawabnya dengan wajah polos. Mendengar jawaban Eru membuatnya tertawa kecil.

"Kakakmu tidak akan marah."

"Sungguh?"

Kali ini, Kuroko 'lah yang mengangguk setuju.

"Sungguh."

"Kalau Elu pelgi ke Seijuulou-niichan dan meminta maaf padanya, o-niichan akan memaafkan Elu?"

"Tentu saja, Eru-chan."

Jawaban dari anak bersurai baby blue itu membuat Eru kembali bersemangat. Dan dengan penuh semangat, ia mengusap air matanya lalu menaruh ketiga kelincinya di atas perumputan, kemudian berdiri dengan semangat yang membara. Senyuman kembali terulas di bibir mungilnya itu. Kuroko yang memperhatikannya, terlihat puas karena usahanya untuk membujuk Eru sudah berhasil.

Kuroko mulai berdiri. Ia lalu menepuk-nepuk celana hitamnya yang kotor karena terkena tanah yang ada di sela-sela rumput yang ia duduki tadi.

"Jadi, kamu mau masuk sekarang?"

Orang yang ditanya langsung mengangguk dengan semangat. Sepertinya kalimat panjang yang ia ucapkan pada saat Kuroko masuk dalam taman itu sudah dilupakan begitu saja.

Eru lalu memegang tangan Kuroko dan kemudian menariknya untuk ikut bersama-sama dengan dia, membuat anak bersurai teal itu sedikit terkejut dengan aksi gadis kecil ini. Tapi ia tidak berkomentar, melainkan hanya mengikuti Eru sambil memasang muka datarnya.

Tepat di depan taman tersebut, tampaklah pelayan setia keluarga Akashi yang sedang menunggu dengan wajah cemasnya. Namun melihat keduanya sudah kembali, ditambah lagi dengan wajah Eru yang sudah kembali ceria, ia menunjukkan kelegaan pada raut wajahnya yang mulai keriput itu. Ia lalu menunduk hormat saat keduanya lewat. Namun kedua kaki Eru dan juga kaki Kuroko tak kunjung menghilang dari hadapannya. Dengan kata lain, keduanya berhenti tepat di hadapan Eiji.

Karena bingung, ia lalu mengangkat kepalanya untuk melihat keduanya. Dan betapa terkejutnya ia melihat gadis kecil bersurai merah itu malah menundukkan kepalanya di hadapan pria beriris abu-abu itu.

"Paman Eiji, maaf Elu tidak mau mendengalkan pelkataan paman tadi. Elu malah balik memalahi paman. Padahal itu semua untuk kebaikan Elu. Maafkan Elu." ujarnya tulus.

Masih terkena efek kebingungan, Eiji lalu melihat ke arah Kuroko yang berdiri tak jauh di belakang Eru. Dan tatapannya itu hanya dibalas dengan senyuman tipis darinya.

Eiji lalu menoleh ke arah gadis kecil itu. "Tidak masalah, nona Eru. Yang penting, nona Eru sudah menyadari kesalahan nona dan nona tidak akan mengulanginya lagi. Janji?" ucap Eiji seraya menyodorkan jari kelingking kanannya pada Eru. Ingin melakukan pinkie swear.

Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Eru mengaitkan jari kelingkingnya pada Eiji yang kemudian tersenyum.

"Janji!"


"Ne Aka-chin~. Kuro-chin lama sekali~." gerutu Murasakibara setelah ia menghabiskan dua mangkuk penuh sup Asparagus, sepiring penuh, nasi goreng dan segelas jus jeruk.

"Biarkan dia, Atsushi. Ini keinginannya." balas Seijuurou santai seraya meletakkan sendok dan garpunya dengan rapi di atas piring.

"Tapi Tetsuya-kun belum tahu seberapa kuatnya tekad Eru-chan, bukan? Kau tidak mau pergi melihatnya, Sei-kun?"

"Itu tidak perlu, Kaa-san."

Tepat saat Seijuurou selesai berbicara, pintu ruang makan terbuka. Tampaklah Eru dengan surai merahnya yang menjuntai ke belakang dari balik pintu, diikuti oleh Kuroko. Gadis kecil itu langsung berlari ke arah kakak tercintanya yang masih menatapnya dengan muka datar. Sedangkan Kuroko sendiri hanya berjalan dengan pelan menuju ke meja makan.

'Dia berhasil.' gumam mereka —kecuali Seijuurou— kagum dengan kompaknya.

"O-niichan! Maafkan Elu. Elu janji tidak akan mengulanginya lagi." ujarnya memohon maaf dari sang kakak, seraya memeluknya dengan erat.

Awalnya Seijuurou hanya menatap kosong remaja bersurai teal yang hanya membalas tatapannya dengan wajah tanpa ekspresi, namun karena adik kecilnya ini terus-menerus menatapnya cemas sambil bergumam kata 'maaf', akhirnya Seijuurou membalas pelukan Eru. Ia lalu mengelus-elus surai merahnya dengan lembut.

"Aku sudah memaafkanmu, Eru. Jadi berhentilah mengeluarkan kata 'maaf' itu, oke?" ujarnya sambil tersenyum.

Dengan segera, Eru menggangguk semangat.

Semuanya— kecuali Kuroko— tertegun melihat adegan yang berada di hadapannya ini. Bagi remaja bersurai pelangi itu, baru kali ini ia mendapati sang kapten yang penuh dengan aura membunuh pada saat melatih anak buahnya itu, bisa melakukan adegan lovely-dovey seperti itu pada adiknya.

Tontonan gratis. Hanya itu yang bisa mereka pikirkan saat ini. Sebenarnya mereka sangat ingin mengabadikan adegan tersebut. Tapi sayangnya, aura intimidasi Seijuurou semakin kuat saat Momoi dan Kise mulai mengeluarkan handphone mereka untuk memotret keduanya. Dan faktanya, mereka lebih menyayangi nyawanya. Jadi lebih baik mereka hanya menonton saja. Itu sudah cukup.

Sedangkan Keiko sendiri tertegun karena hal lain lagi. Ia masih terkagum-kagum dengan Kuroko yang bisa membuat Eru mau masuk dengan sukarela ke ruang makan dan meminta maaf pada Seijuurou. Padahal Eru sangat keras kepala. Apapun yang sudah ia tetapkan, ia tidak bakalan mau lagi melakukan hal itu.

Ia lalu tersenyum.

"Maa~, kalian berdua makan saja dulu. Bibi mau ke dapur dulu." ujarnya lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur yang terletak di sebelah kanan ruang makan— kalau dilihat dari pintu masuk ruang makan tersebut— yang terhubung melalui sebuah pintu bar.

.

.

** Setting Skip **

.

.

Kuroko melangkahkan kakinya di atas perumputan yang ada pada taman tersebut. Taman yang menjadi tempat Eru mengadu saat sore tadi. Entah kenapa, tapi Kuroko hanya ingin berdiam diri sendirian di taman itu sambil memandang ke arah langit. Sepertinya ia suka dengan suasana seperti itu. Sekaligus untuk mencari udara sejuk di luar rumah dan juga untuk menenangkan rasa sakit pada kepalanya. Meskipun ia sendiri tidak tahu alasan mengapa kepalanya menjadi sakit seperti ini.

Awalnya ia berpikir seperti itu. Tapi ternyata ia salah. Keiko, wanita surai merah yang sepadan dengan kedua iris mata crimsonnya, yang merupakan ibu dari sang kapten juga ada di sana. Sedang melakukan hal yang sama dengan apa yang barusan ia pikirkan.

Ia lalu berjalan mendekati wanita beriris crimson itu. Namun sama seperti Eru, belum sempat anak bersurai teal itu menyapanya, Keiko sudah lebih dulu menyadari keberadaannya.

"Ah, halo, Tetsuya-kun. Kamu belum mengantuk?"

Kuroko mengangguk.

"Duduklah di sini." ujar Keiko sambil menepuk-nepuk rerumputan di sebelahnya. Anak beriris aquamarine itu menurut, lalu mengambil tempat tepat di sebelah Keiko.

"Mana Sei-kun? Eru-chan dan temanmu yang lainnya?"

"Akashi-kun sedang rapat soal latihan besok dengan Momoi-san. Eru-chan sudah masuk ke kamarnya. Begitu pula dengan yang lainnya." jelasnya, diikuti dengan anggukan singkat dari wanita bersurai merah itu.

Keduanya kemudian mulai tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Membiarkan keheningan menemani mereka, memenuhi taman yang besar nan indah itu.

"Nee, Tetsuya-kun. Apa kamu tahu alasan mengapa langit tidak pernah kosong?" tanya Keiko tiba-tiba.

Kuroko memiringkan kepalanya. Sejujurnya, ia sangat bingung dengan pertanyaan Keiko.

"Maaf, tapi aku tidak mengerti maksud bibi." ujarnya terus terang.

"Haha. Maksudku, apa kamu tahu, alasan mengapa bulan selalu menggantikan matahari saat malam hari, sedangkan matahari menggantikan bulan pada siang hari? Dan alasan bintang-bintang menemani bulan di malam hari.. seperti saat ini?"

Kuroko menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Yaa, kau tahu? Mereka selalu melakukan hal itu karena mereka memiliki ikatan satu sama lain. Walaupun mungkin mereka tidak pernah bersatu, tapi karena adanya ikatan tersebut, mereka bisa saling memahami satu sama lain. Karena adanya ikatan tersebut, bulan bisa tahu kapan matahari akan bersembunyi dari suatu tempat, lalu menggantikannya. Begitu pula sebaliknya. Karena mereka tahu, walaupun mereka tidak bisa bersatu, masing-masing dari bulan, bintang dan matahari itu tetap ada. Mereka yakin dan percaya akan satu sama lain, bahwa sekalipun mereka tidak bisa melihat satu dan yang lainnya, mereka tetap meyakini bahwa bulan akan selalu ada, matahari akan selalu ada, bintang-bintang dan benda langit lainnya pun seperti itu. Sekalipun mereka hanya bisa berharap agar bisa bertemu satu dengan yang lainnya. Meskipun pada kenyataannya, mereka tidak bisa bertemu secara bersamaan di langit yang luas ini." jelasnya panjang lebar.

Walau panjang lebar seperti itu, Kuroko tahu maksudnya, inti dari kalimat-kalimat yang disebutkan oleh Keiko itu.

Sangat jelas bahwa ia sedang berusaha menghibur diri. Menghibur dirinya dari kesedihan yang tak terlupakan. Dimana bulan itu merupakan perumpamaan dirinya, bintang-bintang merupakan keluarga dan orang-orang sekitarnya, sedangkan matahari merupakan anak keduanya yang —menurut cerita sang kapten, Seijuurou— sudah tiada lagi. Ia Akashi Tetsuya.

Kuroko jadi merasa semakin bersalah atas kemunculannya di kediaman Akashi. Mulai dari Seijuurou, Eiji, Eru, hingga wanita bersurai merah ini. Ia merasa bahwa kemunculannya malah membuat semua anggota kediaman Akashi menjadi kembali terbayang-bayang oleh sosok Akashi Tetsuya yang mereka kenali.

Anak bersurai biru muda itu menggigit bibir bawahnya. Ia lalu memberanikan diri untuk melakukan seiza** di hadapan Keiko, sambil menundukkan kepalanya, setunduk mungkin yang ia bisa lakukan. Hanya untuk meminta maaf.

"Maafkan aku, Akashi-san. Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak muncul di hadapan kalian, kalian pasti tidak akan teringat lagi akan adik laki-laki Akashi-kun. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak tahu kalau a—!"

Kuroko terkejut mendapati dirinya sudah berada dalam pelukan wanita bersurai merah itu. Wanita yang sejak tadi hanya memandangi langit yang dipenuhi oleh kerlap-kerlip bintang, yang hanya mengucapkan sebuah perumpamaan pada remaja beriris aquamarine itu, kini malah memeluknya dengan erat.

"Sssssshhh!"

"Ke-kenapa..?" tanya Kuroko bingung. Rasa sesak, sedih bercampur dengan rasa marah pada dirinya sendiri sudah bercampur aduk menjadi satu.

Namun ia juga merasakan hal yang berbeda.

Yaitu 'Kehangatan'.

"Berhenti berkata seperti itu, nak. Ini bukan salahmu. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu akan hal ini, kau tahu? Dan kami semua tidak menyalahkanmu, baik Sei-kun, Eru-chan, Eiji-san, dan yang lainnya. Jadi berhenti mengatakan hal itu, Tetsuya-kun." ujar Keiko seraya mengelus surai biru mudanya dengan lembut. Berusaha menenangkan anak bersurai baby blue itu.

"Ta-tapi.. kalau aku tidak datang kemari, itu akan jadi lebih baik, bukan?" tanyanya pelan.

"Siapa bilang? Justru bibi rasa, kau sudah mengabulkan sebagian dari harapan dan permohonan bibi. Kau tahu? Karena dengan melihatmu, bibi bisa melihat sosok anak itu saat ia tumbuh dewasa seperti kakaknya. Walaupun kalian hanya sekedar mirip saja, walau bukan dia, itu sudah lebih dari cukup."

"Tapi—"

"Stop! Tidak ada tapi-tapi'an. Jangan berkata apapun lagi." Benar. Biarkan saja seperti ini.

Untuk pertama kalinya, keduanya berharap agar waktu terhenti saat ini juga.

"Apa aku tidak membuat bibi, Akashi-kun dan Eru-chan sedih?"

"Tentu saja, Tetsuya-kun." balasnya sambil tersenyum.

Kepalanya semakin berdenyut, semakin sakit. Namun ia merasa tidak ingin melepaskan pelukan Keiko. Entah mengapa, tapi ia merasa aman dalam pelukannya. Sampai semuanya terasa berputar, hingga akhirnya semua terasa gelap gulita.

Sadar bahwa anak bersurai biru muda ini sedikit terengah-engah, Keiko mencoba untuk memanggil Kuroko. Sekedar mengkonfirmasi saja, apakah anak itu baik-baik saja atau tidak. Namun tidak ada jawaban.

Keiko lalu mencoba untuk melepaskan pelukannya, namun alhasil, Kuroko malah ambruk dengan wajah yang terlihat kesakitan, keringat dingin bercucuran dan napas yang terengah-engah. Sontak, ia terkejut mendapati kondisi anak bersurai baby blue itu. Tanpa basa-basi lagi, ia dengan segera mengambil ponselnya dari saku bajunya untuk memanggil Seijuurou, agar ia memanggil teman-temannya yang lain untuk mengangkat anak bersurai baby blue ini yang sudah terkapar lemas di perumputan.

"Ada apa Ka"

"Cepat ke taman dan jangan lupa untuk memanggil teman-temanmu! Tetsuya-kun dalam masalah."

Dan tanpa sepatah kata apapun, Seijuurou langsung menutup teleponnya dari seberang sana.

Setelah ia memanggil anak sulungnya untuk mendapatkan bantuan, ia lalu memfokuskan dirinya kembali pada sosok Kuroko yang berada di hadapannya ini.

"Tetsuya-kun? Kau dengar aku? Hei 'nak! Apa yang terjadi denganmu?!" serunya panik, sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kuroko.

Namun sama sekali tidak ada jawaban.


Notes ::

*Gazebo

(Tempat yang biasa digunakan untuk bersantai di tengah kolam atau daerah perairan, dan bahkan di tengah-tengah pekarangan. Biasanya tempat ini juga dipakai untuk beristirahat, melihat pemandangan sambil ber'teh'-ria.)

#Lebih lengkapnya, tanya sama om Google deh.. :D

**Seiza

(Cara/posisi duduk orang Jepang di atas tatami secara formal.)

#Lebih lengkapnya, tanya sama om Google aja.. :9


(Hola minna~! Seicchin datang lagi.. :D
Dan sesuai permintaan,, kali ini aku buat 'sedikit' lebih panjang dari biasanya..
*Ingat! Hanya sedikit loh! -_-*

Thanks buat para reader yang udah mau follow, favo, review ataupun jadi silent reader..
Aku sangat menghargai usaha kalian semua.. :'D

Arigatou-ssu~!)

RnR please?