Chapter 12
Sesampainya mereka— Seijuurou, Aomine, Kise, Midorima, Momoi si manager dan bahkan Eiji, yang pada awalnya tidak tahu apapun, namun karena melihat mereka begitu tergesa-gesa dan wajah mereka yang terlihat sedikit panik, akhirnya ia mengikuti mereka untuk mengetahui apa yang sedang terjadi,— di taman, keenamnya langsung mencari sosok wanita bersurai merah yang baru-baru ini memanggil Seijuurou untuk segera ke taman dengan alasan 'Kuroko Tetsuya dalam masalah'.
"Tetsu-kun!"
"Apa yang terjadi, Kaa-san?"
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja Tetsuya-kun terengah-engah lalu hilang kesadaran seperti saat ini." jelas Keiko. Sekarang ini, tubuh remaja bersurai baby blue itu sudah tidak berdaya di atas perumputan, dengan posisi kepalanya yang berada di atas pangkuan Keiko. Dimana tangan kiri Keiko digunakan sebagai alas atau bantalan, serta tangan kanannya yang ia letakkan di atas dada Kuroko yang sejak tadi hanya naik-turun tak beraturan untuk menjaganya agar tetap nyaman dan aman.
Mengerti akan situasi yang ada, Seijuurou lalu memberikan komando pada anak buah-nya.
"Atsushi, angkat Tetsuya lalu ikut denganku. Shintarou, tolong carikan kain bersih untuk menyeka keringatnya. Sedangkan Eiji-san, tolong ambilkan segelas air hangat untuk Tetsuya." pinta— atau perintah? —Seijuurou pada mereka, dibalas dengan anggukan singkat dari semuanya.
Dengan segera, Eiji berlari menuju ke dapur untuk mendapatkan segelas air hangat, seperti yang diminta oleh tuan mudanya. Di saat yang sama, Murasakibara mulai bergegas mengangkat tubuh Tetsuya yang sedang tak sadarkan diri.
"Hati-hati, Atsushi. Jangan sampai ia terjatuh." tegasnya.
Murasakibara hanya mengangguk kecil, sementara mulutnya sendiri sudah terisi setangkai lollipop. Melihat si bayi raksasa yang sedang mengemut lollipop dengan santainya sambil mengangkat tubuh teman seperjuangannya, yang tidak tahu mengapa ia bisa pingsan seperti itu sangatlah tidak masuk akal bagi Seijuurou. Namun masuk akal bagi Murasakibara sendiri. Seijuurou hanya bisa mendesah karenanya. Ia lalu menyuruh si bayi raksasa itu untuk mengikutinya. Dan secara serempak, pihak-pihak lain yang berada di taman juga tidak mau kalah dan mengikuti anak beriris heterochrome itu.
"Taruh dia dengan hati-hati, Atsushi."
"Hai hai~ Aka-chin~"
Sesuai dengan perintah, si bayi raksasa bersurai ungu itu mulai meletakkan Tetsuya di atas spring bed yang empuk secara perlahan. Dilanjutkan dengan Seijuurou yang menarik selimut untuk membungkus tubuh anak bersurai baby blue itu agar ia tetap hangat.
Tidak lama setelahnya, Eiji datang dengan membawa segelas air hangat, diikuti dengan remaja berkacamata dan bersurai hijau yang membawa sehelai kain di tangan kanannya.
"Semuanya keluar dari sini. Biar aku dan Kaa-san yang mengurusnya."
"Tapi—"
"Satsuki, kau dan yang lainnya butuh istirahat. Untuk itu, kau perlu masuk ke dalam kamarmu dan tidur. Kau harus istirahat."
"Sei-kun benar, gadis manis. Seorang gadis tidak boleh tidur terlalu larut. Nah, sekarang pergilah beristirahat. Dia akan baik-baik saja. Kalian juga."
Walaupun pada mulanya mereka bersikeras untuk tidak beranjak dari tempat itu, akhirnya semuanya menyerah. Mereka memang butuh istriahat.
Setelah semuanya keluar, Seijuurou lalu menutup pintu kamarnya, menghiraukan tatapan penuh harap dari teman-temannya. Kemudian mendekat ke arah sang ibu dan Tetsuya yang terlelap.
"Sei-kun, apa anak ini mengidap suatu penyakit?" tanya Keiko, seraya menyeka peluh-peluh keringat anak bersurai baby blue itu dengan perlahan.
"Aku sangat yakin kalau dia tidak memiliki penyakit apapun, selain hawa keberadaannya yang tipis. Dan menurut biodata yang 'ku baca, dia tidak memiliki riwayat sakit sama sekali."
'Kecuali sakit karena luka lebam.' gumamnya dalam hati. Karena, yah, biar bagaimanapun, hal itu tidak ada hubungannya dengan kondisi Tetsuya saat ini.
"Tapi kenapa dia seperti ini ya?" tanya Keiko sambil meletakkan punggung tangannya di atas dahi Tetsuya. "Dia juga tidak demam."
"Entahlah. Atau mungkin hanya kelelahan saja? Yang pasti, aku ingin tahu jawabannya setelah ia sadar nanti."
Gelap. Seluruh daerah itu sangat gelap. Tidak ada cahaya walaupun hanya setitik saja. Tetsuya bahkan tidak bisa melihat tangannya sendiri. Tempat yang aneh.
"Ini di mana?" batinnya.
Ia lalu melangkahkan kakinya secara perlahan, seraya kedua tangannya meraba-raba untuk mencari pegangan yang dapat menuntunnya keluar dari tempat yang gelap itu. Namun usahanya tidak berhasil. Tetap saja, tangannya tidak berhasil meraih apa pun.
Setelah beberapa lama menelusuri jalan yang gelap dan -sepertinya- tidak berujung itu, Tetsuya akhirnya menyerah. Ia merasa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanannya. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak, walaupun ia sendiri tahu bahwa akan lebih baik jika ia tetap menelusuri tempat yang gelap itu. Siapa tahu ia akan menemukan jalan keluarnya.
Saat ia sedang memikirkan tentang tempat macam apa ini dan di mana ia saat ini, tiba-tiba kabut menyelimuti tempat itu, sehingga tempat tersebut tidak segelap tadi. Sontak, ia langsung terjaga dan memperkuat penjagaannya.
"Apakah ada orang lain selain aku di tempat ini?" tanyanya se-sopan mungkin.
Masih tidak ada jawaban, ia memutuskan untuk berjalan lagi, sambil kedua iris mata aquamarine-nya memperhatikan sekitarnya dengan seksama.
Tidak lama setelah itu, di balik kabut tersebut, tampaklah seorang anak kecil —walaupun sosoknya masih terlihat samar-samar di mata Tetsuya—, sedang diam mematung sambil menatap lurus ke depan, hanya memperbolehkan Tetsuya untuk melihat punggungnya saja.
Tidak ingin membuat anak itu terkejut, ia lalu berjalan secara perlahan, menghampirinya. Dari dekat itulah baru ia tersadar bahwa anak kecil itu sedang gemetaran.
Seketika itu juga, matanya membelalak karena kaget. Bagaimana tidak? Lautan api kini menyelimuti tempat itu. Bukan sekadar ilusi. Ia benar merasakan panasnya api itu, serta sesaknya nafas karena asap yang tebal, membuatnya terbatuk tak karuan.
"Apa yang terjadi? Siapa yang menyalakan apinya?"
"Huuuuu..."
Mendengar suara tangisan anak kecil, Tetsuya langsung teringat akan anak yang diam mematung tadi. Ia langsung panik dan mencari anak itu.
"Adik? Kamu ada di mana?!" tanyanya dengan suara lantang, menyaingi tingginya volume suara berisik dari kayu-kayu yang terbakar dan patah, serta runtuhnya satu per satu bagian bangunan tersebut.
"Hiks.. Tolong.."
Suara anak itu terdengar samar di telinga Tetsuya. Walau demikian, ia belum putus asa. Tetsuya tetap mencari anak itu.
"Kamu di mana?!" teriaknya lagi. Namun lagi-lagi, anak itu tidak menjawab pertanyaan Tetsuya.
"Tolong jawablah pertanyaan kakak! Biar aku bisa menolongmu!"
"To..long.. Hiks.. Tolong selamatkan meleka.. Hiks.."
"Bagaimana kakak bisa menyelamatkan dirimu dan orang-orang yang kamu maksud? Sedangkan kamu sendiri tidak menjawab pertanyaanku?!" sahutnya lagi.
"Ciapa..pun.. Hiks.. To..long.. Hiks.. Aku takut.."
Asap tersebut semakin tebal, sehingga akan menjadi semakin sulit untuk mencari sosok anak itu. Belum lagi, oksigen dalam tubuhnya sudah semakin berkurang. Membuatnya mulai merasa pusing karena kehabisan nafas. Sempat ia melihat anak kecil itu sedang berjongkok sambil memeluk kaki mungilnya, sebelum ia mendengar tangisan yang disertai dengan teriakan keras dari anak itu dan akhirnya, semua menjadi gelap kembali.
Malam itu, pukul 02.11 tengah malam, Seijuurou tersadar dari tidurnya lelap karena suara teriakan, yang tidak lain hanya dari Tetsuya seorang. Sedangkan suara pelan pun dapat membangunkan remaja beriris heterochrome itu, apalagi dengan sebuah teriakan histeris yang cukup panjang?
Ia lalu mendapati Tetsuya, sedang duduk di atas ranjangnya— masih dengan mata tertutup—, sambil mencengkram selimut yang ia kenakan dengan kuatnya. Melihat remaja bersurai baby blue itu tidak bergerak sedikitpun, ia menghampirinya.
Alangkah terkejutnya ia, saat ia memperhatikan Tetsuya dengan seksama, ia melihat bahwa remaja beriris aquamarine itu sudah sangat pucat dari yang biasanya, dan tidak bernafas— atau lebih tepatnya, ia terlihat ingin mengambil nafas, namun sepertinya, organ tubuhnya yang tidak mau bergerak sesuai dengan perintah otaknya sendiri.
"Ck! Tetsuya! Sadar dan bernafaslah!" serunya sambil mengguncang tubuh Tetsuya dengan pelan. Namun anak itu tetap saja tidak merespon.
Baru pertama kali dia mendapati seseorang yang mengalami hal seperti ini. Meskipun raut wajahnya terlihat tenang, tapi seperti biasa, sinar matanya menampakkan ke-khawatir-an. Jadi, ia putuskan untuk membangunkan sang ibu. Paling tidak, Keiko terlihat lebih berpengalaman dalam soal ini.
Dengan segera, ia beranjak ke kamar tidur orang tuanya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Kaa-san! Tolong buka pintunya! Cepatlah, Kaa-san!" sahutnya setengah berteriak.
Belum ada balasan, ia mengetuk pintu kamar orang tuanya lagi. Namun kali ini, lebih keras dari sebelumnya.
"Sabar, Sei-kun! Ibu mendengarmu!" balasnya dari dalam.
Sesaat setelah mendengar balasan dari Keiko, Seijuurou dapat mendengar suara langkah kaki sang ibu yang semakin lama, semakin terdengar. Dan pintu kamar itu pun terbuka.
"Ada apa, Sei-kun? Kenapa kau ribut sekali?" tanya Keiko, seraya mengucek mata kirinya dengan tampang 'Ibu-masih-mau-tidur'.
"Tetsuya tidak bernafas." jawabnya dengan tenang.
"APA?!"
Tanpa basa basi lagi, Seijuurou mengisyaratkan sang ibu untuk mengikutinya, dan Keiko pun menurut. Mereka bergegas menuju ke kamar Seijuurou.
Sesampainya mereka di sana, Seijuurou mendapati posisi Tetsuya masih sama seperti tadi. Hanya saja, kali ini kedua kelopak matanya terbuka, memperlihatkan kedua iris mata aquamarine-nya. Namun setelah diperhatikan lebih dekat, kedua iris matanya tidak berfokus pada suatu titik. Lebih tepatnya, ia terlihat seperti sedang menerawang.
"Sejak tadi Tetsuya hanya seperti itu. Dia juga membangunkanku dengan teriakannya, yang langsung dilanjutkan dengan batuk-batuk tanpa sebab."
Tanpa ba-bi-bu lagi, Keiko langsung menghampiri Tetsuya dan mencoba untuk berbicara padanya, memastikan bahwa ia baik-baik saja.
"Tetsuya-kun, kamu bisa mendengarku?"
Tidak ada jawaban.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Tetap tidak ada jawaban yang diterimanya. Yang ada malah Tetsuya mulai terbatuk-batuk tak karuan lagi. Dengan tangan kanannya, Keiko menepuk punggungnya secara perlahan.
"To...long.." ujar Tetsuya lirih, dengan air mata yang mulai membasahi pipinya, membuat Seijuurou dan Keiko langsung terkejut melihatnya.
"Apa yang terjadi, Tetsuya?", kini giliran Seijuurou yang bertanya. Namun hasilnya sama saja. Anak bersurai teal itu masih belum sadarkan diri dan malah terus-menerus batuk.
Keduanya terus-menerus mendengarkan Tetsuya yang menggumamkan kata 'Tolong' dan 'Takut'. Sampai akhirnya, Keiko menarik Tetsuya kembali dalam pelukannya, seperti yang ia lakukan saat mereka sedang berada di taman beberapa jam yang lalu.
Dan dengan lembut, ia mengelus punggung anak bersurai aquamarine itu.
"Bibi di sini, Tetsuya-kun. Kami ada di sini, di sampingmu saat ini juga. Kamu tidak perlu takut." ujarnya berusaha menenangkan.
"Kaa-san besar, Tetsuya. Kami akan menemanimu. Jadi jangan mengucapkan kata-kata itu lagi!" tambahnya.
Tetsuya masih tidak bergeming sedikit pun. Pandangan matanya masih terlihat menerawang. Namun ada kemajuan. Ia sudah bisa bernafas kembali, meskipun masih terengah-engah.
"Nah, ada Sei-kun yang akan menemanimu di sini. Jadi kamu jangan takut lagi, ya?"
Walau Tetsuya tidak mengangguk, Keiko dan Seijuurou mendapatkan jawabannya dengan cara yang berbeda. Dimana Tetsuya menutup kedua iris matanya yang masih sembab, kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Keiko, dan akhirnya terlelap kembali.
Menyadari akan hal itu, Keiko lalu membaringkan remaja bersurai teal itu dengan perlahan-lahan— agar ia tidak terbangun untuk saat ini, kemudian kembali menyelimutinya.
Keduanya menghela nafas lega. Setidaknya, Tetsuya sudah bisa bernafas seperti semula.
Wanita bersurai merah itu mengambil selembar tisu yang terpajang di atas lemari kecil yang berada di sisi kanan dari tempat tidur tersebut. Ia lalu mengusap tisu itu di sekitar kedua pipi Tetsuya yang dibanjiri dengan air matanya sendiri.
"Nah, sekarang dia sudah tenang. Lanjutkan tidurmu, Sei-kun. Ibu tidak ingin kalau kamu lagi yang sakit hanya karena kekurangan tidur." tukasnya seraya mengacak rambut anak sulungnya. Refleks, Seijuurou menepis tangan sang ibu sambil mendengus, sedikit kesal karena diperlakukan seperti anak kecil. Menurutnya, hal itu sangatlah tidak cocok dengan seorang Akashi Seijuurou, kapten yang— menurut budak-budak-nya— tidak kenal dengan yang namanya 'takut', yang siap merelakan waktunya untuk mengeluarkan titahnya yang sakti bila orang tersebut tidak patuh padanya.
Keiko tertawa kecil.
"Tidak perlu malu begitu, Sei-kun! Hanya ibu yang melihatmu."
"Tetap saja, Kaa-san." bantahnya.
"Ja', oyasuminasai, Sei-kun." ujar wanita itu sambil memaparkan senyuman lembut ke arah Seijuurou.
"Oyasumi, Kaa-san."
.
.
**Settingskip**
.
.
Sinar mentari mulai menyelinap masuk dari balik tirai kamar Seijuurou. Dilengkapi dengan suara kicauan para burung yang berjejer rapi pada ranting pohon bunga sakura. Berhubung karena posisi tempat tidurnya yang berada paling dekat dengan jendela, Tetsuya tidak bisa berbuat apa-apa, selain bangun dari tidurnya yang begitu nyenyak. Walau kedua iris mata aquamarine-nya masih terlalu berat untuk ia tampilkan, otaknya tetap saja berkata lain. Ada yang salah.
'Terang sekali..' batinnya setengah sadar.
Terang. Ya, terang. Sangat terang malah. Sontak, matanya langsung membelalak kaget. Dengan segera ia mencari ponselnya, yang ternyata belum keluar dari saku celananya.
"Ja-jam sebelas?!" seru Tetsuya saat melihat layar ponselnya yang menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit.
"Tapi tunggu, sejak kapan aku tertidur?"
Mengabaikan pertanyaannya barusan, ia langsung menaruh ponselnya di atas lemari kecil tersebut, lalu bergegas ke kamar mandi, mengenakan gakuran* dan sepatunya, merapikan rambut baby blue-nya yang sangat berantakan, dan memasukkan buku-buku pelajarannya untuk hari ini ke dalam tasnya. Setelah itu, ia turun menelusuri tangga dengan kecepatan penuh— paling tidak, ia sudah berusaha semaksimal yang ia bisa. Meskipun pada kenyataannya, ia tidak secepat yang lainnya.
Melihat anak bersurai teal itu begitu tergesa-gesa, Eiji yang berada di dekat pintu tersebut langsung menatapnya dengan tampang heran.
"Kuroko-san, kenapa anda terburu-buru seperti itu?" tanyanya bingung.
"Eiji-san! Akashi-kun, Aomine-kun, dan yang lainnya ada di mana?"
"Ah, tuan muda dan yang lainnya sudah pergi sejak tadi pagi. Mungkin sekitar jam tujuh."
"Eeh?! Lalu mengapa aku tidak dibangunkan?" tanyanya dengan nada datar. Namun, bila diperhatikan dengan seksama, raut wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Maafkan aku, 'nak. Tapi nyonya Akashi yang memerintahkan kami untuk tidak mengganggu istirahat anda." jelas Eiji, seraya menundukkan kepalanya.
"Tapi..!"
"Ah, Tetsuya-kun! Selamat pagi!" sapa Keiko yang baru muncul dari balik pintu, memotong pembicaraan anak bersurai teal itu.
Tetsuya— dengan sikapnya yang sopan seperti biasa— sedikit menundukkan kepalanya, seraya menjawab kembali sapaan dari wanita bersurai merah itu, "Selamat pagi, bibi." ujarnya.
"Loh? Kenapa kamu berpakaian seperti ini?" tanyanya sambil jari telunjuknya diarahkan pada seragam yang dipakai oleh Tetsuya saat ini.
Bukannya menjawab, Tetsuya malah balik bertanya pada Keiko, "Ano, bukankah seharusnya aku pergi ke sekolah pada hari ini? Seperti Akashi-kun dan yang lainnya?" tanyanya.
Keiko lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Ooh, tentu saja tidak, Tetsuya-kun. Hari ini kamu harus beristirahat. Apa kamu tidak ingat kalau kemarin kamu pingsan?"
"Aku? Pingsan?" tanyanya dengan wajah datar, yang dibalas dengan anggukan mantap dari lawan bicaranya.
"Nah, aku tidak tahu kalau kamu lupa atau tidak. Yang jelas, hari ini kamu tidak boleh ke sekolah. Lagipula, sekarang sudah hampir jam setengah dua belas! Bisa-bisa kamu datang hanya untuk diceramahi oleh guru piket saja!"
"Tapi—"
"Cukup. Tidak ada tapi-tapian lagi."
Tetsuya hanya bisa pasrah dengan keputusan Keiko. Ibu dan anak memang benar-benar mengerikan. Keduanya sama-sama harus dipatuhi oleh siapapun.
"Nah, bagaimana kalau kita sarapan terlebih dahulu? Meski bibi sendiri tidak yakin kalau ini namanya sarapan. Tapi kamu belum makan pagi ini. Begitu pula denganku. Bibi sudah persiapkan makanannya. Dan, ah! Bagaimana kalau kita makan di taman? Kelihatannya seru! " ujarnya dengan penuh antusias.
Tidak ingin membuat ibu dari sang kapten tersebut kecewa, Tetsuya akhirnya mengangguk kecil. Tak lupa juga dengan senyuman tipis yang terpoles di wajahnya yang putih pucat, "Sepertinya begitu. Aku ikut bibi saja," ucapnya.
"Oke! Sudah ditetapkan! Sekarang, ayo bantu bibi!"
"Hai."
.
.
**Setting Skip**
.
.
"Akashicchi~~ Menurutmu Kurokocchi akan marah?" tanya si model bersurai kuning itu.
"Hm. Aku rasa tidak, Ryouta."
"Tapi sepertinya Tetsu akan marah padamu, Kise. Aku yakin itu!"
"Eeeh?! Kenapa hanya aku?! Aku 'kan tidak berbuat apapun, Aominecchi!" protesnya membela diri.
Aomine mengangkat kedua alisnya, seraya berusaha mempertahankan raut wajah datarnya, "Jawabannya mudah. Itu karena wajahmu sangat mirip dengan wajah-wajah kriminal," balasnya singkat, yang langsung diprotes oleh pihak yang bersangkutan.
"Salah! Kalau wajah kriminal itu lebih mirip dirimu, Dai-chan!"
"HEI!"
"Aku setuju. Dan menurut pendapatku, Kise lebih cocok dengan tampang orang-orang yang ingin ditindas. Apa aku salah, Akashi?"
"Midorimacchi!"
"Bravo. Nilai seratus untukmu, Shintarou." puji Akashi, lengkap dengan wajah tanpa dosanya.
"Mou~ Akashicchi!"
"Ne nee~, Aka-chin~. Aku kehabisan cokelat~"
"Muk-kun! Kalau kau terlalu banyak makan cokelat, nanti gigimu bisa rusak, loh!"
"Satsuki benar, Atsushi. Bisa-bisa gigimu akan dicabut hanya karena terlalu banyak makan yang manis-manis. Apa kau rela kalau tidak bisa makan apapun lagi?" tanya Seijuurou dengan wajah serius, sambil kedua tangannya disilangkan di depan dada.
"Tapi Aka-chin~, cokelat kali ini persediaannya terbatas. Hanya orang-orang yang beruntung saja yang bisa mendapatkannya. Dan aku tidak mau jadi orang sial hanya karena tidak mendapatkan cokelat itu, Aka-chin~," rengeknya lagi.
"Oi Murasakibara! Berhentilah merengek hanya karena masalah seperti itu! Sekali-sekali tidak makan makanan yang persediaannya terbatas 'kan tidak masalah?!"
"Dai-chan memang benar. Tapi sama saja kalau hanya karena majalahnya Ma—?! HUMMPH!"
Tangan remaja berkulit tan itu langsung menempel di bibir lembut sang manejer, membekapnya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa. Lalu dengan gagah berani +plus —maksudnya, lengkap dengan peluh-peluh keringat karena gugup—, ia membisikkan sebuah kalimat dengan suara sang sangat teramat lembut, sampai-sampai membuat Satsuki sedikit merinding karenanya, "S-Satsuki, jangan b-buka aibku di sini atau... aku akan menggoda si Tetsu agar men—"
Ucapannya terputus saat gadis bersurai baby pink itu melepaskan tangan Aomine secara paksa dari mulutnya, lalu meneriakkan sebuah kalimat, "TERNYATA DAI-CHAN ITU BENAR-BENAR SEORANG GAY?!" seru Momoi sambil membelalakkan kedua matanya.
"HOII! BU-BUKAN BEGITU SATSUKI-TEME! ITU TIDAK SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN!"
"Aominecchi! Tidak boleh berkata seperti itu pada seorang gadis-ssu~! Seorang gadis itu perlu diajak berbicara dengan penuh rasa cinta~" jelasnya yang langsung disambut dengan kata-kata "playboy" dari Midorima dan Momoi, sedangkan Murasakibara lebih memilih kalimat "Kise-chin si om-om genit".
"HIDOI-SSU!"
"Masalahnya, aku rasa Satsuki sangat tidak cocok dengan sebutan "seorang gadis"!" bantah Aomine.
"Hweee~! Dai-chan hidoi!" Kali ini, giliran Momoi yang merengek. Tak lupa juga, ia membuat tatto dengan motif telapak tangan di pipi Aomine yang berwarna gelap itu. Alhasil, gadis bersurai baby pink itu berhasil membuat lelaki bersurai navy blue itu meringis kesakitan.
"SAKITTTT!"
"Kerja bagus, Satsuki. Daiki memang pantas mendapatkannya. Dan, aku turut berduka cita untukmu, Daiki." Ucap sang kapten yang dengan 'polos' memasang wajah tanpa dosanya. Namun Aomine berani bersumpah kalau ia melihat sinar mata Seijuurou yang terlihat sangat tertarik dengan adegan penyiksaan dari si manajer kepada dirinya itu.
"Akashi!"
"Apa? Kau mau tambah, Daiki? Baiklah, dengan senang hati akan 'ku lakukan." Ujarnya sambil tersenyum ramah. Saking ramahnya, sampai-sampai Aomine merasa kalau bulu kuduknya merinding.
Oleh karena itu, Aomine langsung membalasnya, "Tidak terima kasih, Akashi. "
"Bagus. Lagipula, aku juga tidak ingin mengotori kedua tanganku. Tapi jika kau meminta, maka akan dengan senang hati 'ku kabulkan."
"Whooaaaa! Murasakibaracchi~! Edisi terbatasnya masih ada! Kau masih beruntung!" seru Kise saat mulai melangkahkan kakinya di dalam supermarket tersebut.
Dan benar apa yang dikatakan oleh si model bersurai kuning itu, di sana masih ada terdapat sebuah stand kecil di mana di situ terdapat tumpukan cokelat yang dibungkus rapi dengan bungkusan berwarna-warni —ada yang berwarna merah, mewakili rasa cokelat + strawberry; berwarna biru muda, mewakili rasa cokelat + mint; dan lain sebagainya. Bahkan, ada yang berwarna hijau, mewakili rasa cokelat + wasabi, membuat Kise, Aomine, dan Momoi langsung bengong melihatnya.
"Onigiri dengan wasabi saja belum tentu enak, apalagi dengan cokelat?!" batin mereka kompak.
Namun hal tersebut tidak berpengaruh pada si bayi raksasa itu. Ia malah memasukkan segala jenis rasa ke dalam kantong belanjaannya dengan mata yang berbinar-binar. Dan dengan segera, mengantri di kasir.
Melihat tingkah laku mereka —terutama Murasakibara yang dengan wajah berseri-serinya, Midorima langsung menggelengkan kepalanya pelan, sambil memperbaiki posisi kacamatanya, "Benar-benar kekanak-kanakan, nanodayo." Ujarnya sambil mendesah.
"Tidak usah dipedulikan , Shintarou. Daripada itu, mumpung kita lagi di sini, apa kau tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Seijuurou dengan memasang wajah datar.
"Tidak ada. Bagaimana denganmu? Kenapa kua juga tidak masuk ke dalam?"
"Sama seper—"
BRUK!
"Ugh!"
Pria bersurai coklat itu langsung menunduk, mencari sosok orang yang ditabraknya saat Ia berlari tadi. Dan di situlah ia, kedua iris heterochrome Seijuurou dan iris mata pria itu bertemu. Pria itu sedikit merasa takjub dengan kedua iris mata lelaki bersurai merah itu. Sepertinya, baru kali ini ia melihat iris mata yang seperti itu.
"Ah! Maafkan aku, 'nak! Aku tidak bermaksud menabrakmu seperti ini. Aku terlalu terburu-buru sampai-sampai aku tidak memperhatikan jalan di depanku." Ujar pria beriris coklat itu, seraya mengulurkan tangannya di hadapan Seijuurou yang tengah duduk di atas aspal.
"Ya, tidak masalah, paman." Balasnya sambil menerima uluran tangan dari pria yang menabraknya.
Akashi lalu memperhatikan di sekitar orang itu. Bungkusan yang ia bawa dari dalam supermarket tersebut kini berhamburan di atas aspal, membuat pria itu harus berjongkok untuk memungutnya satu per satu. Mulai dari makanan ringan, air mineral, sampai beragam jenis obat pun ikut terhambur di sana. Tapi, tunggu—
Seijuurou mengernyitkan dahinya, "Obat apa itu?"
"Aka-chin~, Mido-chin~, ayo kita pulang~!" seru Murasakibara tiba-tiba, membuyarkan pikiran Seijuurou saat ini.
"Ayo kita pergi, Akashi." Timpal Midorima lagi.
Pandangan Akashi kembali tertuju pada pria bersurai coklat itu, "Kalau begitu, kami permisi dulu, paman." Ujarnya sambil sedikit menundukkan kepalanya, diikuti oleh Midorima.
Pria bersurai coklat itu mengangguk seraya memaparkan senyuman kecil. Ia lalu kembali melakukan aktivitasnya memungut barang belanjaannya.
"Haah.. Maunya cepat malah jadi lambat seperti ini." Gumam pria itu sambil sesekali mendesah.
Kedua iris mata coklatnya kini terpaku pada sebuah benda yang sejenis dengan kalung. Hanya saja, ukurannya bisa dibilang tidak dapat digunakan untuk remaja manapun, "Ah, ini pasti punya anak itu!" batinnya. Ia lalu bangkit berdiri, kemudian memanggil Seijuurou yang masih tidak terlalu jauh untuk dijangkau.
"Hei, nak! Barangmu terjatuh!" teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan kanannya.
Seijuurou yang mendengar teriakan dari pria itu, langsung berbalik arah dan kembali menghampirinya.
Merasa bahwa remaja beriris heterochrome itu mendengarnya, ia merasa lega. Mungkin benda itu sangat berharga baginya, pikir pria bersurai coklat itu. Ia lalu memperhatikan benda itu dengan seksama. Tekstur dari kalung itu sepertinya tidak asing lagi di hadapannya. Sontak, kedua iris matanya membelalak kaget melihat kedua giok yang terpasang di atas lapisan besi putih berbentuk persegi. Hanya huruf "S"-nya saja yang berbeda dari kalung yang ia tahu. Dengan segera ia mendongak untuk melihat remaja beriris heterochrome itu, yang kini berada tepat di hadapannya.
"Terima kasih, paman." Ujarnya seraya tangan kanannya mengambil kalung berukuran kecil itu dari tangan pria tersebut.
"Kamu, siapa namamu?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf, tapi atas dasar apa aku harus memberitahukan namaku, paman?"
"O-oh, maaf aku terlalu lancang menanyakan namamu. Maafkan paman, nak. Soalnya kamu mirip dengan kenalanku." Balasnya setengah berbohong.
"Hm. Namaku Akashi Seijuurou."
"Dugaanku tepat!" batinnya sedikit terkejut.
"Begitu yah."
"Ada apa, paman?"
"Tidak, tidak ada apa-apa."
"Hm, Kalau begitu, aku permisi dulu." Ujar Seijuurou lagi, lalu kembali menghampiri yang lainnya, meninggalkan pria bersurai coklat tersebut yang masih diam memandang ke arah Seijuurou. Seijuurou harus pergi, teman-temannya sudah menunggu. Jadi, meskipun ia sendiri tidak yakin dengan jawaban dari pria itu, ia harus meninggalkannya.
Sementara itu, pria tersebut masih berada dalam dunianya sendiri. Ia masih memikirkan soal kalung tadi. Kalung yang sudah tidak asing lagi baginya. Jika apa yang dikatakan dengan remaja bersurai merah itu memang sama seperti yang ia pikirkan, maka…
.
.
"Akashi.. Tetsuya.."
(Hola minna~,, hisashiburii~
Tidak terasa, 2 bulan telah berlalu sejak saat itu *ya elah*.. =='
Gomenasai, akunya banyak tugas, bahkan ulangan setiap hari *heran, kenapa guru zaman sekarang sama sekali gak ada yang bisa ngerti sih? ==
Dan sekarang ini, Seicchin sudah memasuki masa"mid semester..
Terima kasih buat para readers, yg udah ngereview, favo, follow, ataupun yang menjadi silent reader.. :D
Terima kasih sudah rela menunggu fictku yang gak jelas ini.. XD
*Bahkan ada yang sampai ngirim PM #terharu.. T_T
HONTOU NI, ARIGATOU~!
Dan ada yang bertanya apa Kagami bakal muncul atau gak..
Jawabannya :: mungkin ya, mungkin tidak.. ._.
Tergantung bagaimana kedepannya..
tapi aku rasa sih, gak bakalan ada.
Dan untuk pairing,, maaf sekali, tapi fict ini tidak mengandung (?) pairing..
#Maaf yaa.. /\ )
Seicchin rencana mau buat fict pairing sih,, hanya blum ada waktu untuk buat plotnya secara lengkap..
Oh ya, sekalian aja, kalian mau pairing inti si Tetsucchin dengan siapa ?
1* Kuroko x Akashi
2* Kuroko x Kagami
3* Kuroko x Aomine
4* Kuroko x Kise
Silahkan memilih..
Arigatou gozaimasu~~)
RnR please?
