A/N : RnR Please?
Chapter 13
"AIIRRRRRR! MOMOCCHI! MIDORIMACCHI! Aku butuh airrr! HUAAAAHH!"
"Berisik, Kise!"
"Ini salahmu, Aominecchi! Semuanya salahmu!" ujar si blonde sambil merengek-rengek tidak jelas. Telunjuk kanannya sekarang berada tepat di depan wajah remaja berkulit tan itu, sementara kedua iris citrine-nya mulai berkaca-kaca.
"GAHHHHH!"
Berharap usahanya berhasil, ia lalu mengibaskan kedua telapak tangannya ke arah bibir seksinya yang sekarang mulai doer dan berwarna kemerahan— sampai-sampai terlihat seperti dipakaikan lipstick merah. Namun tetap saja tidak mempan.
Dan di saat itu pula, sepasang tangan muncul di hadapannya, di mana pada sepasang tangan itu, terdapat sebuah cangkir kaca berisi air putih.
"Ano.. I-Ini untuk Ryou-niichan," ujar pemilik tangan mungil tersebut sambil tersipu malu.
Mendengar suara khas dari adik Seijuurou, Kise langsung menoleh ke sumber suara. Dan dengan kedua iris citrine-nya yang masih berkaca-kaca, ia menatap gadis kecil bersurai merah itu dengan tatapan yang berkata seperti 'Akhirnya impianku untuk melihat malaikat menjadi kenyataan!'. Ya, kurang lebih seperti itu.
Tanpa diaba-aba lagi, makhluk serba kuning itu mengambil cangkir tersebut dan langsung meminumnya, tanpa sadar bahwa isi dari gelas bergagang tersebut ialah air panas. Sehingga, mau atau tidak, air tersebut tidak mengalir di dalam tenggorokannya, melainkan disemprot keluar dari mulutnya yang sekarang terasa seperti terbakar oleh sesuatu. Dan sialnya lagi, Kise sedang menghadap ke arah Aomine saat ia menyemburkan air tersebut. Alhasil, ace berkulit tan itu menjadi korban utama dan korban kedua ialah si pecinta oha-asa yang duduk tepat di sebelah Aomine. Entah bagaimana sampai makhluk hijau itu juga bernasib sama seperti Aomine. Yang jelas, Kise sudah membuatnya naik pitam.
"KISEEEEEE!" teriak keduanya dengan kompak.
"Hueeee! Mi-Midorima..cchi! Maafkan aku!"
"APA?! KAU HANYA MEMINTA MAAF PADA MIDORIMA?! LALU BAGAIMANA DENGANKU, HAH?!
"AOMINECCHI MEMANG SUDAH SEPANTASNYA DISEMBUR SEPERTI INI! LAGIPULA AOMINECCHI YANG MULAI, 'KAN?!"
"HAAAHHHH?!"
"Kise.. Jangan harap kau bisa lolos dari 'ku!" ujar Midorima geram. Entah ini hanya khayalan dari Kise seorang, atau memang saat ini Midorima dikelilingi dengan aura membunuh?
"HIIIYY! MI-MIDORIMACCHIIII~!"
"AWAS KAU, KISE!"
Dan adegan kejar-kejaran pun dimulai.
Semua yang berada di ruang makan tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, termasuk Eru sendiri, "Dasar anak-anak," gumamnya tidak percaya.
Gadis bersurai pink itu langsung sweat-drop mendengar gumaman yang dilontarkan oleh adik sang kapten itu, "Aku tidak percaya kamu bisa mengatakan hal seperti itu, Eru-chan! Padahal kamu sendiri masih anak-anak, tapi aku kagum dengan sifatmu yang jauh lebih dewasa dari mereka!"
"Elu anggap itu adalah sebuah pujian, Satsuki-neechan."
"Bahkan gaya bicaramu juga sama seperti Akashi-kun, Eru-chan!" ujar Momoi dengan gemasnya.
"Aku tidak heran kalau dia adiknya Aka-chin," tambah si bayi raksasa itu.
"Ya, sifat keduanya juga mirip," timpal Tetsuya, masih dengan wajah datarnya.
"Telima kasih, O-neechan dan O-niichan tachi."
Kali ini, remaja beriris heterochrome itu yang mulai angkat suara, "Yah, aku setuju dengan pendapat Eru. Mereka benar-benar kekanak-kanakan," ujarnya dengan tenang.
Ia lalu menyilangkan kedua sendok dan garpunya— sesuai dengan table manner yang ada— menandakan bahwa ia telah selesai menyantap hidangan makanan yang ada. Kemudian mengelap mulutnya menggunakan serbet putih yang terpajang di atas meja yang berada tepat di hadapannya.
Begitu pula dengan Tetsuya. Bedanya hanyalah piring Seijuurou benar-benar terlihat bersih— sampai-sampai yang lainnya berpikir bahwa piring sang kapten tidak perlu dicuci—, sedangkan Tetsuya sendiri, ia masih menyisakan —kurang lebih— sepertiga banyaknya dari porsi yang diberikan ( baca : dipaksa untuk habiskan ) oleh Seijuurou.
"Terima kasih makanannya." ujarnya kalem.
Seijuurou mengerutkan keningnya, "Tetsuya? Makananmu belum habis. Dan aku memintamu untuk menghabiskannya. Bukan menyisakannya seperti ini."
"Tapi aku sudah kenyang, Akashi-kun," protesnya.
"Tidak helan kalau Tetsuya-niichan begitu kulus dan tellihat pucat," sambung Eru.
"Aku setuju dengan Eru-chan! Tetsu-kun, kau harus banyak makan makanan seperti ini, agar tubuhmu lebih berisi lagi!"
"Contohnya O-niichan belambut ungu ini."
Orang yang dimaksud pun langsung menoleh ke arah gadis kecil itu dengan tatapan datar. Mulutnya masih sementara mengunyah makanan, sedangkan kedua pipinya masih menggembung dan bergoyang. Benar-benar mirip dengan anak kecil, pikir Eru.
"Abha abwa, abhiya Abha-bhin? (Ada apa, adiknya Aka-chin?)" tanyanya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Muk-kun! Telan dulu makananmu! Setelah itu baru kau bicara! Ya ampun!"
Si bayi raksasa bersurai ungu itu hanya menoleh sebentar ke arah Satsuki dan menatapnya datar, kemudian kembali berbalik ke arah Eru. Membuat Satsuki menjadi semakin 'gemas' melihatnya.
Sementara itu, mata aquamarine Eru kembali melihat sosok Tetsuya dengan tatapan memerintah, "Pokoknya Tetsuya-niichan halus makan makanan ini sampai habis! Tidak boleh ada yang telsisa!" tukasnya.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi-an! 'Kan kasian makanannya. Makanannya pasti sedih kalena Tetsuya-niichan tidak mau makan meleka."
Wajah Eru yang tadinya masih dengan tampang memerintah, kini mulai berubah menjadi wajah cemberut dan tatapan penuh rasa kasihan pada makanan tersebut. Membuat sang bayangan tim basket Teiko itu menjadi tidak tega melihatnya.
Tetsuya menelan ludah. Hatinya masih ragu, apakah ia harus menghabiskan makanannya atau tidak, karena menurut Tetsuya, perutnya sudah tidak sanggup untuk menampung lagi. Tapi mendengar ucapan Eru, ia menjadi tidak tega untuk menyisakan makanan tersebut. Jadi ia pikir, setidaknya, ia perlu mencoba.
"Baiklah. Akan 'ku coba."
'Lho? Ini yang anak-anak siapa? Eru-chan atau Tetsu-kun?' batin Momoi bertanya-tanya.
"Ah ya, Akashi-kun. Ibunya Akashi-kun ada di mana? Kenapa tidak makan bersama dengan kita?" tanya Tetsuya tiba-tiba, diikuti oleh anggukan setuju dari gadis bersurai pink itu.
"Kaa-san sudah berangkat kerja sejak tadi. Ada urusan penting yang harus Kaa-san selesaikan, jadi Kaa-san tidak bisa makan bersama kita," jelasnya.
Tetsuya lalu mengangguk, mengerti akan penjelasan Seijuurou. Meskipun raut wajahnya terlihat datar di depan mereka semua, namun Seijuurou tahu betul kalau sinar matanya terlihat memancarkan kekecewaan, walaupun hanya samar-samar saja.
"Memangnya ada apa, Tetsuya?"
"Tidak apa-apa, Akashi-kun."
"Hm? Benarkah?"
Karena mulutnya dipenuhi dengan makanan, ia hanya bisa mengangguk dengan tatapan polos penuh arti pada Seijuurou. Mau atau tidak, hal itu mengingatkannya pada Tetsuya kecil. Adik kecilnya itu juga memiliki kebiasaan yang sama saat tidak ingin ditanyai lebih lanjut atau mungkin merasa terganggu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu dari mereka sewaktu masih berhadapan di meja makan. Yaitu dengan sengaja memasukkan makanan ke dalam mulutnya agar ia terlihat tidak bisa berbicara apapun, sampai lawan bicaranya mengganti topik pembicaraan tersebut.
Cara yang unik, namun aneh dan terlihat lucu. Begitulah yang dipikirkan Seijuurou.
Melihat hal ini malah membuat remaja dengan iris heterochrome itu semakin yakin dengan kata hatinya.
Kata hatinya yang mengatakan bahwa lawan bicaranya ini benar-benar adiknya yang telah lama menghilang, yang membuatnya sangat ingin mencari tahu tentang keberadaannya, adik yang ia sayangi.
Sebuah senyuman tipis terpoles di bibirnya. Cukup jelas untuk dilihat oleh Tetsuya seorang. Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mulai beranjak ke luar ruangan.
"Habiskan makanan kalian. Terutama kau, Tetsuya. Aku akan tunggu kalian di bawah," ujarnya sebelum membuka pintu ruang makan itu dan menutupnya.
Dalam hati ia bertanya, kapan waktu itu akan tiba? Kapan ia bisa berjalan berdampingan dengan adik laki-lakinya sebagai saudara? Sama seperti waktu dulu? Kapan ia bisa memeluk adiknya yang sangat ia sayangi? Melepas rasa rindunya pada Tetsuya kecil?
Kapan ia bisa menemukan bukti yang pasti bahwa Kuroko Tetsuya adalah adiknya yang hilang itu? Tes DNA? Itu bukanlah bukti yang paling utama. Menurutnya, hasil tes tersebut hanyalah bukti tambahan semata, yang mungkin saja tertukar sample-nya atau mungkin bisa terjadi kesalahan saat dilakukan pemeriksaan, sehingga tes tersebut tidak dapat dipercaya. Biar bagaimana pun, dokter hanyalah manusia semata. Begitu pula dengan para petugas medis yang ditugaskan di laboratorium. Oleh karenanya, ia lebih memilih untuk mempercayai dan menuruti kata hatinya itu.
Sebab, ia percaya. Bahwa bukti yang terutama ialah ikatan batin yang terjalin di antara mereka berdua. Tidak hanya dengan Seijuurou, melainkan juga dengan keluarganya. Terutama ayah dan ibunya sendiri.
Menunggu dan bersabar adalah hal yang harus ia jalani. Walaupun pada dasarnya, ia sendiri sudah tidak tahan lagi. Namun, terburu-buru malah hanya akan mempersulit keadaan. Mau atau tidak, ia harus melakukannya.
.
.
**Setting Skip**
.
.
"Akashicchi~~" Suara Kise yang begitu cempreng kini sampai di telinga sang kapten beriris heterochrome itu. Alis Seijuurou langsung berkedut karena kesal mendengarnya. "Ayo ikut aku ke kantin-ssu~!"
Tidak ada balasan ataupun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Seijuurou mendengar ucapan sang model bersuara cempreng itu. Lebih tepatnya, Seijuurou memang mengabaikannya. Ia lebih memilih untuk menyelesaikan tugas sekolahnya agar tidak bertumpuk daripada harus mendengarkan ocehan yang dilontarkan oleh si blonde.
Merasa terabaikan, Kise beraksi kembali, "Akashicchi!" teriaknya.
Namun Seijuurou masih saja mengacuhkannya.
"Akashi-kun." Tetsuya berjalan mendekat ke pintu masuk ruang kelas Seijuurou, tepatnya, di samping Kise.
Dengan segera, Seijuurou berbalik menghadap Tetsuya dan berkata, "Oh, ternyata kau, Tetsuya. Ada apa?"
DEG.
'A-Akashicchi.. Kau mengabaikanku tadi..,' batin Kise tidak percaya.
"HWEEE~~ AKASHICCHI! KAU TEGA SEKALI-SSU~~!" rengeknya.
"Ah, Akashi-kun. Apa kau mendengar sesuatu?"
"Sepertinya begitu."
"Apa di sini ada hantunya?"
"Mungkin."
Mendengar obrolan dari kedua sahabatnya— itu menurut Kise seorang. Tapi bagi Seijuurou, model yang satu ini lebih dari pada hanya sekedar 'seorang sahabat'. Yaitu sebagai salah satu 'budak' yang gampang tunduk pada perintah yang telah ia titahkan bagi seluruh budak-budaknya (baca : anggota Kiseki no Sedai, kecuali Tetsuya. Alasannya? Karena di mata Seijuurou, Tetsuya memiliki aura tersendiri yang membuat sang kapten berpikir kalau anak ini tidak akan mempan diperintah, walaupun diancam dengan berbagai jenis hukuman)— model bersurai kuning itu langsung pergi menghampiri keduanya, sambil merengek seperti anak kecil yang tidak dikasih permen , "KUROKOCCHI~! KENAPA KAU LEBIH MEMILIH UNTUK BERADA DI PIHAK AKASHICCHII?!" teriak Kise dengan suaranya yang begitu cempreng.
"Akashi-kun, suaranya semakin terdengar. Bagaimana ini?" tanya Tetsuya dengan wajah tanpa ekspresi.
Seijuurou mengangguk, "Kau benar. Sepertinya aku harus memanggil para pembasmi hantu—"
RRRRRTTTT.. RRRRTTTT..
"Ah, itu ponselku," ujarnya sambil mengoreh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang bernuansa biru muda itu.
Nomor yang tidak dikenal terpampang di layar ponselnya.
"Siapa yang menelpon?" tanya Seijuurou penasaran karena wajah Tetsuya terlihat agak kebingungan.
"Tidak tahu. Nomor yang tidak dikenal," jawabnya.
"Kalau begitu, coba kau angkat saja," ujarnya, sambil bertopang dagu. "Entah kenapa, aku punya firasat kalau itu telepon penting," sambungnya lagi seraya menatap lekat kedua iris aquamarine Tetsuya.
Tetsuya kembali menatap layar ponselnya dan dengan segera menjawab panggilan tersebut.
-PIP-
"Halo? Kuroko Tetsuya di sini."
"Ah, Tetsuya-kun? Ini aku, Hibari Kouta, kau ingat?"
"..., ah, Hibari-san. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabar anda?"
"Ahaha.. Lama tidak berjumpa juga, Tetsuya-kun. Kau tetap sopan seperti biasa, hm? Haha.. Aku baik-baik saja, 'nak."
"Oh, syukurlah," balasnya sambil tersenyum kecil. "Tidak biasanya anda meneleponku. Ada apa, Hibari-san?" tanyanya to the point.
"Kau benar, 'nak. Dengarkan aku baik-baik."
Mendengar nada suara yang berubah menjadi lebih serius dari orang yang bernama Hibari Kouta itu, Tetsuya kembali menatap Seijuurou.
"Tetsuya-kun? Kau masih di sana?"
"Hai'.."
"Ini tentang ayahmu, 'nak."
"Otou-san? Apa yang terjadi dengan Otou-san, Hibari-san?"
Jujur saja, bila itu menyangkut soal ayahnya, ia pasti menjadi panik. Seperti saat ini.
Ini tentang ayah. Ayah pasti dalam masalah. Batinnya sedikit gelisah.
"Hei hei.. Tenanglah, 'nak! Tadi, ayahmu pingsan di tempat kerja. Mungkin terlalu lelah? Mengingat apa yang sudah terjadi 3 tahun lalu, tanpa sadar otakku berinisiatif secara spontan bahwa ia harus segera mendapatkan perawatan medis. Jadi, aku dan yang lain segera membawanya langsung ke rumah sakit yang berada di dekat kantor. Tapi tenanglah! Sekarang ia sudah tidak apa-apa."
Ternyata benar. Ayah sudah mencapai batas yang ia bisa.
"..."
"Tetsuya-kun?"
"... Lalu.. Bagaimana keadaannya, Hibari-san? Apa otou-san sudah sadar?"
"Ya. Ayahmu sudah sadar beberapa menit yang lalu. Kondisinya juga tidak seburuk sebelumnya. Ia bahkan sudah bercanda-tawa denganku." jelasnya, "Jadi kau tidak perlu khawatir, 'nak. Saat ini ayahmu sedang tidur. Aku hanya ingin kau menemaninya di sini," timpalnya lagi.
Ayah Tetsuya sudah sadar. Hal ini membuat remaja bersurai baby blue itu menjadi sedikit lega. Setidaknya, kondisi ayahnya tidak separah yang ia kira.
"Ah ya! Benar juga! Aku dengar, ibumu ditunjuk sebagai salah satu panitia perlombaan membuat kue dan masakan lainnya pada acara tahunan sebuah restaurant terkenal di Kyoto. Iya 'kan?"
"Hai'... itu benar, Hibari-san."
"Kapan ibumu akan pulang?"
"Sepertinya besok pagi, karena ibu berkata padaku kalau penutupan acaranya akan dilaksanakan sebentar malam," balasnya.
"Hm.. Kalau begitu, jangan beritahukan ibumu soal ini. Bisa-bisa perasaannya tidak tenang di sana. Besok pagi saja kalau kau ingin mengabarinya. Itu satu-satunya jalan yang terbaik. Katashi bahkan tidak ingin kau dan ibumu tahu akan hal ini. Ia bilang kalau hal ini tidak terlalu penting. Haaaahh.."
Tetsuya tertawa kecil, "Bukan ayah kalau beliau tidak seperti itu," jawabnya berterus-terang.
Memang benar. Bukan Kuroko Katashi namanya kalau ia membiarkan seseorang khawatir akan dirinya. Hal itu sudah tidak asing lagi bagi mereka yang dekat dengan pria bersurai coklat itu.
"Aha! Kau benar. Hahah! Baiklah! Aku akan menemani ayahmu selagi kau masih di sekolah. Dan aku rasa, kau harus mulai memikirkan soal ayahmu ini. Hal ini sudah tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, kau tahu?" tegasnya.
Tetsuya mengangguk kecil— walaupun pada dasarnya, ia tahu benar kalau lawan bicaranya yang satu ini tidak dapat melihat anggukannya— dan berkata, "… Ya… aku mengerti."
"Dan, oh iya! Kau tidak perlu memikirkan soal biaya rumah sakitnya. Aku sudah mengurus segala biaya administrasinya, jadi kau tidak perlu khawatir, oke?"
"E-Eh? Ta-tapi.."
"Stop! Jangan membahas soal ini lagi. Nanti aku marah, loh! Ahaha.. Nah, kalau begitu sampai ketemu sebentar, Tetsuya-kun!"
"... H-Hai'.. sampai ketemu juga, Hibari-san."
-PIP-
Tetsuya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Ia lalu mendesah pelan.
"Siapa yang menelponmu?" tanya sang kapten yang sejak tadi hanya diam dan bersabar, memperhatikan anggota timnya yang sedang menerima telepon.
"Teman dekat ayah. Hibari-san," ujarnya.
"Apa yang ia katakan? Kelihatannya ada masalah. Raut wajahmu menunjukkan hal itu . Dari tadi kau dan lawan bicaramu terus-menerus membicarakan soal ayahmu. Apa terjadi sesuatu pada ayahmu?"
Tetsuya mendesah, "Otou-san pingsan di tempat kerja dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Hibari-san memintaku untuk menjaga otou-san karena ibu sedang berada di Kyoto. Lagipula, tidak mungkin aku membiarkan otou-san sendirian di rumah sakit. Jadi— "
"...Kau akan menginap di rumah sakit untuk menjaga ayahmu dan kau ingin meminta izin dariku untuk tidak ikut latihan pada hari ini dan juga besok, iya 'kan?" sambung Seijuurou dengan cepat— memotong ucapan remaja beriris aquamarine itu.
Tetsuya mengangguk. Ia masih merasa sedikit kagum dengan sang kapten yang terlihat bisa membaca pikirannya. Apa Seijuurou punya mata yang bisa melihat tembus pandang? Sehingga dia bisa melihat apa yang ada dalam pikirannya? Ataukah Seijuurou memiliki pendengaran yang sangat tajam? Saking tajamnya, sampai-sampai ia bisa mendengar suara hatinya?
"Itu benar, Akashi-kun. Seperti biasa, kau terlihat tahu akan segalanya," ujar Tetsuya— yang hanya mendapatkan seringai dari remaja bersurai merah itu sebagai balasannya.
"Kalau begitu, kau salah kalau telah meremehkanku seperti itu, Tetsuya."
"Mungkin."
"Hmm"
"Jadi, apa aku boleh menemani Otou-san?"
"Tentu saja, tidak masalah. Sebagai seorang anak, kau memang harus bersikap seperti itu, Tetsuya," jawabnya santai.
"Terima kasih, Akashi-kun."
"Tidak perlu berterima kasih. Tapi, kenapa ayahmu bisa pingsan seperti itu?" tanyanya lagi.
"Otou-san... Beliau.. sepertinya terlalu lelah bekerja," balas Tetsuya pelan. Kepalanya sedikit menunduk. Kedua iris aquamarine-nya kini tertutup surai baby blue-nya yang lembut.
"Terlalu lelah? Lalu, mengapa ayahmu tidak beristirahat sejenak? Tidak masalah, bukan?"
"Sudah berulang kali kukatakan pada beliau, tapi tetap saja, beliau bersikeras untuk pergi bekerja."
"Otou-san memang ayah yang hebat," lanjutnya sambil tersenyum tulus.
"Hmm.."
"Kurokocchi! Akashicchi! Tega-teganya kalian mengabaikankuu~!"
Dan akhirnya, mereka berdua kembali mengobrol seperti biasa, mengabaikan Kise yang sedari tadi merengek tidak jelas demi meminta perhatian dari keduanya.
.
.
**Setting Skip**
.
.
"Terima kasih banyak, Hibari-san. Terima kasih sudah menemani Otou-san sampai aku pulang. Terima kasih juga sudah mau menanggung biaya rumah sakit Otou-san. Maaf sudah banyak merepotkan anda," ujar Tetsuya dengan sopan, sambil sedikit membungkuk.
Orang yang bernama Hibari itu langsung mengulurkan tangan kanannya, mengusap surai baby blue Tetsuya, sambil tertawa kecil, "Hei heiii.. Kau tidak perlu bersikap seperti itu, 'nak. Lagipula, anggap saja ini sebagai balas jasaku pada ayahmu. Dia juga sudah berulang-kali membantuku. Jadi, kini giliran aku yang membantu!"
"Tidak. Sudah sepantasnya aku bersikap seperti ini, Hibari-san. Juga, kalau saja anda tidak menemukan Otou-san, mungkin Otou-san sudah dalam bahaya."
"Ahaha. Sudahlah. Yang penting, Katashi baik-baik saja saat ini," ujarnya sambil melirik ke arah pria bersurai coklat, yang sedang tidur dengan damai di atas ranjang rumah sakit itu.
"Nahh, kalau begitu, saatnya aku balik ke kantor!"
"Ah, tunggu, Hibari-san," sahut Tetsuya. Ia lalu menyodorkan sekantong plastik berisi buah-buahan segar, "Teman-teman memberikanku buah-buah ini. Ambillah beberapa, Hibari-san."
Dan untuk kedua kalinya di hari itu, Hibari mengelus helaian rambut berwarna teal yang dimiliki oleh Tetsuya.
"Terima kasih tawarannya, 'nak. Tapi aku harus kembali ke kantor. Dan kalau aku ke kantor, itu artinya bukan aku lagi yang makan buah-buah ini. Tapi teman kerjaku! Hhhh.. Apa lagi kebanyakan dari mereka itu sangat suka makan buah."
Tetsuya menunduk. Ia merasa sedikit kecewa karena tawarannya ditolak. Padahal, ia hanya ingin berterima kasih dengan cara seperti itu padanya.
Sadar akan perubahan tingkah laku dari anak teman dekatnya itu, ia lalu tersenyum.
Hibari menarik tangannya dari surai teal Tetsuya, "Yahhh, mungkin aku bisa mengambil 1 buah apelmu. Lagipula aku sudah jarang makan buah akhir-akhir ini. Tapiii, itupun kalau kau tidak keberatan."
Seketika itu juga, sinar wajah Tetsuya berubah kembali seperti biasa. Bahkan sebuah senyum tipis-pun, kini terpoles di antara kedua pipinya yang sedikit pucat.
Ia lalu mengambil sebuah apel dari kantongan itu dan memberikannya pada Hibari, di mana pria itu langsung mengambil pemberian Tetsuya dengan senyumannya yang khas.
"Terima kasih, 'nak."
"Sama-sama, Hibari-san. Meskipun tadi Hibari-san membohongiku, tapi aku senang," ujarnya.
"E-Eh?"
"Tentang jarang memakan buah-buahan, Hibari-san."
"Ke-Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Pertama, karena Hibari-san sangat suka makan buah. Kedua, teman-teman Hibari-san juga suka makan buah. Ketiga.. Insting?"
Astaga.
Ketahuan.
'Ah, kenapa aku bisa lupa soal ini? Padahal, sejak ia masih kecil, aku sudah tahu kalau aku tidak pernah bisa membohonginya. Tapi, sekarang aku lupa. Haahhhhh..' batinnya.
"A.. aha.. ahaaha.. Hahhh.. I-Ingatkan aku untuk tidak membohongimu, Tetsuya-kun," ujarnya grogi.
"Hai', akan aku lakukan, Hibari-san."
"J-Jaa', kalau begitu, aku pergi dulu ya, 'nak!"
Hibari melambaikan tangan kanannya ke arah Tetsuya, sedangkan Tetsuya sendiri, hapnya membalas lambaian tangannya dengan cara menunduk sopan.
Setelah sosok Hibari menghilang dari balik pintu, remaja beriris aquamarine itu menaruh sekantong buah-buahan tersebut di atas meja.
Ia lalu menarik sebuah kursi, kemudian duduk di samping ayahnya yang masih terlelap.
Tetsuya mendesah. Melihat ayahnya seperti ini hanya membuat ia merasa lebih tidak berguna. Bagaimana tidak? Ayahnya setengah mati mencari nafkah untuk ia dan ibunya, sedangkan Tetsuya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu orang tuanya.
Tetsuya menyandarkan kepalanya pada kedua tangannya yang ia lipat di atas ranjang tempat tidur, sambil terus-menerus memperhatikan sosok sang ayah.
"Aku harap, Otou-san cepat sembuh..," ucapnya sambil memegang tangan Katashi.
Ia mendesah lagi, "Nee, Tou-san.. Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya setengah berbisik.
Sampai semuanya menjadi gelap.
.
.
**Setting Skip**
.
.
Pukul 22:11.
Tubuh Katashi sudah merasa pegal karena sedari tadi yang ia lakukan hanyalah tidur, tidur, dan tidur saja. Meskipun ia akui, baru kali ini dia tidur selama dan seenak ini. Biasanya, Katashi hanya menghabiskan waktu paling lama 5 jam untuk tidur setiap harinya.
'Tapi kalau seperti ini, bisa-bisa otot-ototku kaku semua,' ujarnya dalam hati.
"Ugh.."
Ia mendesah. Katashi ingin meregangkan semua otot-otot tubuhnya. Namun, ia tidak bisa menggerakkan tangan kanannya. Seperti mati rasa!
Tapi seingatnya, tadi sewaktu ia sadar dan— oh! Saat bercerita dengan Hibari. Waktu itu tangannya masih bisa ia gerakkan.
Karena sedikit penasaran, kenapa tangannya serasa tidak bisa digerakkan, Katashi lalu mengambil posisi duduk di atas ranjang serba putih itu. Dan..
"Tetsuya?"
Sedikit terkejut melihat sosok anaknya yang sedang terlelap di sampingnya dengan posisi duduk, di mana kepalanya beralaskan kedua tangannya dan juga.. Ya.. Tangan Katashi, yang masih berada dalam genggaman Tetsuya. Saking terlelapnya Tetsuya, sampai-sampai ia tidak sadar kalau tangan ayahnya juga ikut menjadi bantal kepalanya.
Katashi terkekeh pelan. Ia tidak menyangka kalau anaknya ini rela mengabaikan waktu latihannya— mengingat ia pernah memberitahu padanya bahwa ia harus menginap di rumah temannya demi berlatih setiap hari untuk mencapai hasil yang maksimal pada pertandingannya nanti.
Ia lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus surai teal anaknya itu. Namun, belum sampai ia mengelus surai lembut Tetsuya, kedua iris matanya langsung tertuju pada sudut kelopak mata anaknya.
'Dia... menangis?' batinnya tidak percaya.
Baru kali ini, ia mendapati anaknya sedang menangis— walaupun hanya menangis dalam tidurnya. Ia langsung merubah tindakannya untuk mengusap jejak linangan air mata Tetsuya.
Sontak, Tetsuya langsung tersentak saat jempol ayahnya mulai menyentuh sekitar pipinya.
"Ah.. Otou-san sudah bangun rupanya..," gumamnya seraya mengucek kedua matanya.
Ia memperhatikan pria bersurai coklat itu dengan tampang kebingungan, "Otou-san ingin minum? Akan aku ambilkan."
"Tidak."
"Kalau begitu, bagaimana dengan makan? Perawat sudah membawakan bubur untuk makan malam Otou-san," ujarnya seraya beranjak dari tempat duduknya.
Bukannya menjawab, Katashi malah balik bertanya pada anaknya, "Tetsuya.. Apa kau.."
"Aku? Ada apa denganku, Otou-san?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Nah, bagaimana denganmu? Kau pasti belum makan, 'kan?"
"Aku sudah makan, Otou-san."
"Kapan?"
"Tadi siang, saat jam istirahat sekolah," jawabnya dengan wajah datar.
Mendengar jawaban dari remaja beriris aquamarine itu, Katashi langsung memijat dahinya yang mulai berkerut.
Oke, ia senang memiliki anak yang jujur. Tapi terkadang, ia juga merasa kesal dengan kejujuran anaknya ini. Tidak, bukan karena dia jujur, tapi karena apa yang ia katakan.
Seharusnya remaja bersurai teal itu pergi mencari makanan untuk dia makan saat menjaga Katashi. Oh ayolah! Merawat sang 'ayah' yang sakit, tapi sendirinya tidak bisa merawat diri, mana ada orang tua yang bisa tenang?
Sekali lagi, pria yang berusia kepala 4 itu mendesah.
"Itu 'tadi siang', 'nak. Ya ampun.."
"Jadi Otou-san mau makan? Ah ya, teman-temanku juga memberikan banyak buah. Otou-san mau apel, jeruk atau pear?" tanyanya panjang lebar, mengabaikan ocehan ayahnya tentang waktu makannya.
"Ayah tidak mau makan kalau kau juga tidak makan dengan ayah."
Kali ini, Tetsuya lagi yang mendesah. Dia sedang tidak mood untuk ber-argumen dengan ayahnya. Lebih tepatnya, Tetsuya memang tidak pernah mau ber-argumen dengan beliau. Tetsuya ingin jadi anak yang baik, dengar-dengaran dan berbakti pada orang tuanya. Setidaknya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas jasa orang tuanya.
"Baiklah. Aku akan membeli makanan di kantin rumah sakit," ujarnya sambil mengambil dompetnya lalu bergegas keluar dari kamar itu.
Setelah sosok Tetsuya menghilang dari balik pintu, Ia mengatur posisi bantalnya agar dapat ia gunakan sebagai sandaran. Kemudian mulai menyandarkan tubuhnya pada bantal tersebut.
Sebuah senyuman kembali terpoles di wajah Katashi. Ahh, anaknya ini memang penurut. Saat sang istri juga sedang berjuang untuk mendapatkan penghasilan demi keluarga kecilnya ini, ia masih memiliki Tetsuya yang sangat memperhatikan dia. Saat tidak ada seorangpun yang menemaninya, terutama saat istrinya sedang bertugas seperti ini, anak satu-satunya itu tetap berada di sisinya— menjaganya. Dia benar-benar bersyukur memiliki Tetsuya seperti ini.
Ya. Bersyukur memiliki Tetsuya sebagai anaknya.
Anaknya...
"Hm. Namaku Akashi Seijuurou."
Seketika itu juga kedua matanya terbelalak kaget. Tiba-tiba saja ia mengingat tentang pertemuannya dengan remaja bersurai crimson itu. Tentang kalung yang tidak asing lagi baginya. Dan juga, tentang kesimpulan yang bisa ia dapatkan dari percakapannya dengan remaja beriris heterochrome itudan kalungnya.
Jika memang hipotesanya itu benar..
Maka..
Tetsuya...
'Tidak,' batinnya sambil menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk mengusir pemikiran-pemikiran anehnya.
Tapi, kalau memang seperti itu..
Apa yang harus ia lakukan?
"Akashi.. Tetsu—"
Ucapannya terhenti saat terdengar kenop pintu kamar tersebut dibuka. Menampilkan sosok remaja bersurai teal yang sedang memegang satu cup mie ramen dengan sebotol air mineral.
"Maaf membuat Otou-san menunggu."
"O-Oh, tidak masalah."
"Tunggu.. Kau hanya membeli ramen?" sambungnya cepat.
"Aku tidak begitu lapar, Otou-san. Lagipula yang saat ini sangat membutuhkan makanan itu Otou-san, dan bukan aku," tukasnya.
"Hhh.. Lihatlah tubuhmu itu, 'nak. Kau kurus dan agak pucat. Jadi kau juga butuh makan yang bergizi!"
"Otou-san ingin aku suap?," tanyanya tidak nyambung.
Alis Katashi langsung berkedut kesal. Ia lalu menarik pipi kanan Tetsuya yang masih memasang wajah datarnya.
"Kau melecehkanku, ya 'nak?" ucapnya sambil menyunggingkan senyuman.
"Sa-sakit. Tolong hentikan, Otou-san.."
Katashi lalu melepaskan cubitannya, lalu memperhatikan bekas cubitan yang sudah mulai memerah. Ia langsung terkekeh pelan melihat wajah anaknya itu.
"Tapi Otou-san sering menyuapiku seperti ini saat aku masih kecil, 'kan? Itu artinya Otou-san juga melecehkanku?" tanyanya dengan wajah polos.
Sontak, Katashi langsung terkejut mendengar pernyataan dari anak beriris aquamarine itu, "Astaga, Tetsuya! Hentikan pemikiran anehmu itu! Ayah melakukannya karena kau masih kecil dan masih perlu disuapi. Bukan melecehkanmu! Lalu, ayah 'kan bisa makan sendiri!," sahutnya.
"Tapi waktu itu aku sudah bisa makan sendiri, Otou-san," balasnya tidak ingin kalah.
"Tapi tetap saja itu berbeda, Tetsuya!"
"Otou-san, waktu itu aku sudah bisa makan sendiri. Sama seperti Otou-san saat ini. Tapi Otou-san tetap menyuapiku. Jadi, apa bedanya?"
Dan akhirnya, satu tangan Katashi terangkat, "Oke okee! Ayah menyerah. Tapi kali ini saja, mengerti?"
Satu senyuman langsung terpoles di wajah datarnya— lebih tepatnya, senyuman penuh kemenangan. Membuat Katashi langsung bergidik ngeri. Entah ia baru sadar atau memang baru kali ini Tetsuya tersenyum seperti itu.
"Hentikan, Tetsuya. Wajahmu menakutkan, 'nak."
"Jadi aku menakutkan saat tersenyum? Jadi lebih baik kalau aku murung saja, ya?" gumamnya sedih seraya memasang puppy eyes-nya.
"Bu-bukan begitu! Ah, sudahlah! Kau mau menyuapi ayah atau tidak? Kalau kau begitu terus, lebih baik ayah makan sendi—"
"Tidak. Aku yang akan menyuapi Otou-san," balasnya datar.
Tetsuya mengambil bubur yang sudah disediakan di meja. Bubur yang terasa hambar karena hanya dipadukan dengan garam saja. Ya, ciri khas masakan rumah sakit. Tetsuya merasa bersyukur. Setidaknya, walau ia bukan orang berada, ia tidak gampang sakit. Ia bahkan tidak pernah di-opname. Sedangkan kebanyakan orang kaya, malah keluar masuk rumah sakit.
Ah, hidup memang adil..
"Oh ya, 'nak. Bagaimana dengan latihanmu? Apa kapten tim-mu tidak marah kalau kau tidak latihan seperti ini?"
Tetsuya menggelengkan kepalanya pelan, "Dia tidak marah. Ia malah mengizinkanku untuk menjaga Otou-san," ujarnya, lalu kembali melahap mie ramen yang sudah ia beli.
"Hoo? Kapten yang baik, ya?"
"Begitulah," balasnya lagi, sambil menyodorkan sesendok bubur pada ayahnya.
Kalau mau dibilang, sebenarnya Katashi belum pernah diberi kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman se-tim Tetsuya. Jangankan teman se-tim, teman sekelas saja tidak pernah.
Tapi, kalau dibilang belum pernah, ya salah juga. Karena, beberapa bulan yang lalu, ia sudah bertemu dengan remaja berkulit tan, yang kata Tetsuya, namanya adalah Aomine Daiki— ace dari tim basketnya. Namun hanya dia saja! Sedangkan sisanya, sama sekali belum pernah bertemu. Bahkan nama-namanya saja tidak tahu.
Katashi mendesah.
"Ada apa, Otou-san?" tanya remaja bersurai baby blue itu heran, sambil memberikan suapan terakhir pada ayahnya.
"Tidak ada apa-apa, 'nak."
"Tapi wajah Otou-san terlipat-lipat."
"H-Haahh?"
"Wajah Otou-san memerah. Otou-san berpikiran yang aneh-aneh, ya?"
"Astaga! Tentu saja tidak, Tetsuya!"
"Terserah, Otou-san," ujarnya seraya beranjak ke meja untuk menaruh mangkuk bubur yang sudah kosong itu.
Katashi terus memperhatikan Tetsuya. Ia kembali menyunggingkan senyumnya pada anaknya yang sedang sibuk merapikan barang-barang yang ada di atas meja tersebut.
Entah berapa kali ia sudah tersenyum seperti ini. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Lagipula, semakin banyak ia tersenyum, maka semakin awet muda-lah dia. Dan semuanya itu berkat Tetsuya.
"Tetsuya.."
Mendengar namanya dipanggil, Tetsuya langsung menoleh ke arah sang ayah dengan tatapan datarnya, "Ada apa, Otou-san. Apa Otou-san ingin mi— "
"Terima kasih, 'nak," ucapnya sambil tersenyum lembut.
Sedangkan lawan bicaranya, hanya menatapnya dengan wajah tidak mengerti.
.
.
.
"Ah, aku mengerti. Tidak masalah, Otou-san. Lain kali, aku pasti akan menyuapi Otou-san seperti ini."
"Bukan karena itu, Tetsuya! Lain kali, jangan menyuapiku lagi!" balasnya tidak terima.
"Yah, kalau begitu, sayang sekali."
Katashi kembali mendesah, "Yang ayah maksudkan itu, terima kasih atas segalanya, 'nak. Terima kasih juga karena sudah mau jadi anak ayah," balasnya sambil tersenyum lembut (lagi).
"Ano, maaf Otou-san. Tapi tadi 'terima kasih' karena apa? Aku tidak mendengarnya dengan jelas."
"Sudahlah! Ayah tidak akan mengatakannya lagi."
"Tapi.."
"Ayah ingin tidur."
Tetsuya mengalah, "Baiklah."
Namun, bukannya menutup kedua matanya, pria bersurai coklat itu malah menepuk-nepuk kasurnya. Menandakan agar Tetsuya ikut tidur di sampingnya— bersamanya.
"Ayah tidak akan tidur sebelum kau naik dan tidur di sini."
"Aku bisa tidur di sofa, Otou-san."
"Kalau begitu, ayah tidak akan tidur."
Tetsuya mendesah kembali. Kalau sedang sakit seperti ini, ayahnya terlihat seperti anak kecil yang keras kepala.
"Baiklah."
Ia lalu bergegas naik ke atas kasur yang serba putih itu. Dan menatap Katashi yang sudah tersenyum puas.
"Otou-san, Otou-san menakutiku," ucapnya polos.
"Haahh?"
"Tidak apa. Otou-san, tidurlah. Otou-san perlu banyak istirahat."
"Iya, iya. Sebenarnya yang 'ayah' itu siapa dan yang 'anak' itu siapa?" hardiknya pelan, sedikit tidak terima karena sejak tadi, anak beriris aquamarine itu yang memerintahnya.
"Selamat malam, Otou-san," balasnya seraya menutup kedua matanya.
"Hmm.. Selamat malam, Tetsuya. Ayah menyayangimu, 'nak."
Tidak lama setelah itu, keduanya lalu terlelap dengan posisi saling berpelukan. Menampakkan wajah yang begitu tenang dan damai, layaknya tidak ada masalah yang mereka hadapi.
Berharap agar waktu berhenti berputar pada saat itu.
.
.
**Setting Skip**
.
.
Hari yang cerah, di mana burung-burung berkicau dengan riangnya dan bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, mengawali pagi yang damai itu.
Sayangnya, kedamaian yang mengisi hari itu hanya sementara saja. Hanya sementara.
"KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHU AKU?!" tanyanya geram.
Tidak, bukan karena keduanya memiliki kesalahan yang fatal. Tapi karena ia merasa sangat khawatir— dan juga kesal.
"Oh ayolah, Istriku sayang. Aku tidak ingin kau khawatir di sana."
Belum puas dengan jawaban dari suami tercintanya, ia lalu melirik ke arah anak tunggalnya, yang hanya balik menatapnya datar— seolah berkata "Aku tidak berurusan dengan ini".
Jika kemarin Tetsuya dan Katashi yang kebanyakan mendesah, kini giliran Mana. Entah sudah berapa kali ia mendesah karena kesal. Padahal, hari masih siang. Bagaimana nantinya?
"Tetap saja! Kalau terjadi hal-hal yang buruk? Bagaimana?" ujarnya tidak terima.
"Tapi kenyataan 'kan aku tidak apa-apa, sayang. Hanya perlu istirahat saja. Lagipula, ada Tetsuya yang merawatku di sini," balasnya membela diri.
"Itu benar, Okaa-san. Aku bahkan sudah menyuapi Otou-san."
"Hentikan, Tetsuya!"
"Oh ya?" tanyanya dengan penuh antusias.
Tetsuya mengangguk, "Seharusnya Otou-san bangga padaku."
"Jangan membahas hal itu lagi, Tetsuya!"
Tok.. Tok.. Tok..
Dengan kompak, ketiganya langsung menoleh ke arah pintu kamar tersebut. Tidak lama setelahnya, dengan perlahan, pintu tersebut mulai terbuka— menampakkan sosok serba kuning dengan setelan seragam Teiko.
"Kami datang, Kurokocchii~~!"
Tetsuya mengerjap, "Se-Semuanya.."
Bisa dibilang, Tetsuya sangat terkejut akan kedatangan teman-temannya ini. Tidak ada pesan, telepon, ataupun e-mail yang ia dapatkan dari salah seorang di antara mereka— paling tidak, sekedar memberi kabar saja.
"Berisik, Kise! Ini rumah sakit!"
"Kau juga berisik, nanodayo!"
Tidak peduli akan ocehan keduanya, Kise— makhluk serba kuning itu malah menerjang Tetsuya dengan pelukannya. Namun sial baginya, karena dengan cekatan, remaja bersurai baby blue itu menggunakan misdirection-nya. Sehingga, mau atau tidak, model beriris citrine tersebut harus dengan rela mengikhlaskan bibirnya— yang dengan mesrah menempel pada permukaan lantai.
"S-SAKIIIITTTTTTT-SSU! KUROKOCCHIII~! KAU TEGA SEKALI PADAKU~!" rengek remaja bersurai kuning itu, layaknya seorang anak kecil yang tidak kebagian permen.
Tetsuya mengabaikan suara nyaring Kise yang bisa memekakkan telinga. Ia lebih memilih untuk menyapa kelima temannya yang lain daripada harus berurusan dengan suara cempreng si model itu.
"Halo," sapanya singkat dan sopan.
"Yo, Tetsu!"
"Tetsu-kun~ Aku sangat merindukanmuu~," Satu-satunya gadis bersurai pink yang senada dengan warna kedua iris matanya itu, ikut merengek— tidak ingin kalah dengan Kise.
"Ah! Selamat siang, ibu dan ayahnya Kurokocchi! Senang berjumpa dengan anda! Aku Kise Ryouta-ssu! Aku temannya Kurokocchi-ssu! Aku bekerja se— HMPPH!"
Seperti biasa, tangan Aomine akan selalu menutup mulut remaja bersurai kuning itu agar berhenti berkicau, "Untung gerakanku cepat!" sahutnya bangga.
"Daiki, kau berlaku tidak sopan," kini sang kepala suku— Akashi Seijuurou— yang buka suara.
Eh?
"Maaf atas ketidaksopanannya," ujarnya kalem, seraya membungkuk sopan. "Perkenalkan, aku Akashi Seijuurou. Aku kapten tim basket Teiko dan juga teman anak anda— Tetsuya."
Ini.. bohong, 'kan?
Karena yang Katashi harapkan hanya satu. Agar anak semata wayangnya belum bertemu dengan remaja beriris heterochrome yang baru ia temui beberapa waktu yang lalu.
Kalau bisa, 'tidak' untuk saat ini.
Bonus Story
Kizuna NG
RRRRRTTTT.. RRRRTTTT..
"Ah, itu ponselku," ujarnya sambil mengoreh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang bernuansa biru muda itu.
Nomor yang tidak dikenal terpampang di layar ponselnya.
"Siapa yang menelpon?" tanya Seijuurou penasaran karena wajah Tetsuya terlihat agak kebingungan.
"Tidak tahu. Nomor yang tidak dikenal," jawabnya.
"Kalau begitu, coba kau angkat saja," ujarnya, sambil bertopang dagu. "Entah kenapa, aku punya firasat kalau itu telepon penting," sambungnya lagi seraya menatap lekat kedua iris aquamarine Tetsuya.
Tetsuya kembali menatap layar ponselnya dan dengan polosnya, ia mengangkat ponsel bernuansa biru muda itu.
"Seperti ini?"
Seijuurou menggelengkan kepalanya, "Bukan."
Mendengar jawaban sang kapten, Tetsuya lalu mengangkat tangannya lebih tinggi lagi dari sebelumnya, "Begini?"
Seijuurou memijat keningnya, "Bukan."
Kesal dengan jawaban Seijuurou yang terlihat seperti belum puas dengan usahanya, ia lalu menaiki sebuah kursi, kemudian naik ke atas salah satu meja yang ada di dekatnya.
"Ini?"
Hening.
"Ah, teleponnya berhenti," ucapnya dengan wajah polos
Seijuurou menepuk dahinya, seraya menggelengkan kepalanya.
Hahhh..
Ingatkan Seijuurou untuk memberikan pelajaran tambahan bagi Tetsuya.
(Hola, minna-san..
Ya! Aku tahu! Updatenya kelamaan..
Karenanya, aku minta maaf, dan terima kasih masih dengan setia menunggu sampai fiction ini terupdate *bow*
Juga terima kasih bagi readers, yang sudah meng-follow, favorite-kan, ataupun kedua"nya, bahkan yang menjadi silent readers!
Terima kasih untuk dukungan kalian semua :D
Dan juga, untuk fictionku yang baru, pairingnya sudah ditetapkan..
Mungkin akan ku post setelah fiction ini selesai..
Sekali lagi,
Arigatou Gozaimasu! :D )
