Disclaimer
Naruto belong
Masashi Kishimoto
Sasuke U. X Sakura H.
Slight : GaaSaku, SaInoShika, NaruHina.
Warning : Ooc, typo, Eyd ngalor-ngidul dan teman-temannya.
Story : JJ Cassi.
.
.
.
.
.
Tidak suka? Tidak usah baca!
.
.
.
Paginya, Sakura datang ke kampus dengan tidak bersemangat. Sasuke tidak menjemputnya entah apa alasan pemuda itu jika nanti bertemu dengannya, ditambah matanya yang sembab bekas menangisnya semalam. Sakura berjalan sendiri memasuki koridor kampus.
Sret'
Brak!
Sakura terkejut menyadari ada yang menariknya dan memojokkannya ke tembok dekat ruang UKS yang lumayan sepi.
"Ittai, " rintihnya merasakan sikunya membentur tembok. Sakura mendongak dan terbelalak ketika Iris hijaunya bertemu pandang dengan Iris yang sama dengannya namun agak muda.
"Ga-Gaara, " bibirnya bergetar saat menyebut nama pemuda yang sudah memojokkannya. Pemuda di depannya menatapnya tajam.
"Kenapa kau menghindariku! " ucap Gaara dengan dinginnya.
"Apa kau membenciku? " lanjut Gaara. Sakura menunduk.
" ... "
"Jawab aku Sakura! " sentak Gaara membuat Sakura kaget.
"Kau membenciku kan? Iya kan? " pemuda bersurai merah itu mendekatkan wajahnya.
"Tidak! Aku tidak membencimu, " Sakura menatap 2 bola mata Gaara. Saat ini perasaannya tidak karuan, campur aduk.
"Heh! Tidak membenciku ya, hahaha, " Gaara menjauhkan wajahnya dan meletakkan tangannya di pinggangnya, tertawa sinis membuat Sakura mengerutkan keningnya.
"Lalu kenapa kau menghindariku kalau bukan benci namanya! " Gaara kembali menatap tajam Sakura dan mencengkram pergelangan tangan Sakura, membuat gadis cantik itu meringis.
"Menghindarimu bukan berarti aku membencimu, " Sakura mencoba melepaskan tangannya namun tidak bisa.
"Lalu apa?! "
Sakura menunduk, "Kecewa, " Gaara terdiam dan mengendurkan cengkramannya.
"Aku kecewa. Aku kecewa denganmu Gaara! " Sakura mendongak dan balas menatap tajam Gaara. Matanya mulai memanas. Gaara melepaskan cengkramannya.
"Kalau aku boleh jujur, aku benar-benar kecewa denganmu. Kau ... tega meninggalkanku disaat aku sangat mencintaimu dan membutuhkanmu! " Ucap Sakura.
"Tidakkah kau tau betapa sulitnya aku melupakanmu!? Setiap malam aku menangisimu memohon kapada Kami-sama agar kau cepat kembali, tapi apa? Kau benar-benar meninggalkanku! " Gaara hanya terdiam menatap permata hijau di depannya berkaca-kaca.
"Tidak pernah sedikitpun aku membencimu Gaara, tapi aku kecewa. Kenapa dengan gampangnya kau menyuruhku melupakanmu disaat aku sangat mencintaimu. Aku tau alasanmu pergi ke Landon, tapi kita bisa menjalaninya dengan baik asal kita selalu berkomunikasi. Kau tak pernah memberiku kabar lalu tiba-tiba muncul dihadapanku ... Aku, aku- " Sakura kesulitan untuk melanjutkan perkataannya.
Srett,
Air mata Sakura keluar, mengalir melewati pipi putihnya saat Gaara memeluknya erat. Jantungnya berdentum dengan cepat, mungkin Gaara bisa mendengarnya.
"Gomen. Aku tau ini salahku, aku menyuruhmu melupakanku. Ayahku bilang aku akan menetap di London, tapi ternyata ayahku memilih mengurus kembali bisnis kami yang sempat gulung tikar dan menyerahkannya padaku, itu sebabnya aku kembali dan melanjutkan kuliahku di sini. " ucap Gaara dengan nada menyesal.
Sakura terisak di dada Gaara dan membalas pelukannya.
"Aku merindukamu, kau tau? " gumam Sakura lirih. Gaara semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Sakura.
"Maafkan aku, "
.
.
.
.
.
Sakura duduk di bangkunya sendirian di kantin kampus. Bibirnya mengerucut sebal, Ia menyanggah tangannya di dagu dan hanya mengaduk-aduk minumannya. Tidak Ia hiraukan hiruk-pikuk para mahasiswa yang berebut makanan menu baru kantin.
Sakura mendesah malas, sesekali tangannya bermain di ponselnya, kemudian mengaduk-aduk lagi minumannya.
"Hei, "
Sakura menoleh ke samping kirinya dan-
"Ah! " pipi putihnya sukses tertusuk jari telunjuk Sasuke. Pemuda itupun tersenyum geli kemudian duduk di sebelah Sakura.
"Kenapa wajahmu? " Sasuke meraih minuman Sakura dan menyeruputnya. Sakura mendengus.
"Kenapa tidak mengirimiku pesan kemarin? " ujar Sakura menatap kekasihnya.
"Ponselku mati. "
"Lalu, kenapa tidak menjemputku? "
Sasuke terdiam, mengusap lehernya dan tersenyum ke arah Sakura, "Hehehehe, aku kesiangan, " Sakura mengerucutkan bibirnya.
"Kau tau Sasuke-kun, hari ini sangat membosankan. Tidak ada yang menarik, Ino tidak masuk hari ini, sementara Hinata dia asik dengan Naruto tadi, " curhat Sakura.
"Cukup melihatku, maka kau tidak akan bosan, seperti aku yang tak pernah bosan menatap wajahmu, " ujar Sasuke memakan kentang goreng di depannya dan menyanggahkan tangannya ke dagu, tersenyum mengikuti Sakura. Gadis di depannya segera menegakkan badannya, ada sedikit rona merah di pipinya. "Kyaa, jangan seperti itu, " ucap Sakura malu-malu, memukul bahu Sasuke main-main.
"Ah! Mengenai Ino ... " Sasuke menurunkan sanggahan di dagunya dan menautkan ke dua tangannya di meja menatap Sakura.
"Ngg? " Sakura menatapnya bingung.
.
.
.
.
Sasuke dan Sakura tiba disebuah rumah sakit di kawasan Konoha. Mereka bergegas masuk dan mencari ruangan dimana Ino dirawat.
"Kemarin malam Ino kecelakaan, orang yang menabraknya langsung lari. Aku langsung membawanya ke rumah sakit. " bagitulah pernyataan Sasuke saat mereka masih di kantin. Setelah mendengarnya dari Sasuke mereka memutuskan menjenguknya karena Sakura sangat mengkhawatirkan Ino, sahabatnya.
"Ini ruangannya? " gumam Sakura saat mereka sampai di ruang rawat 099.
"Aa. " Sasuke mengangguk kemudian meraih gagang pintu dan membukanya.
Kosong.
Tidak ada siapapun di ruangan ini, hanya ada kasur pasien yang sudah tertata rapi.
"Dimana Ino? " tanya Sakura, Sasuke mengangkat bahu.
"Benar ruangannya di sini? " tanya Sakura lagi,
"Aa. Aku ingat dia di rawat di sini, aku bahkan sempat menemaninya sebentar. " ucap Sasuke, berjalan menuju kamar mandi siapa tau Ino sedang di kamar mandi, namun nihil kamar mandi kosong.
"Ada? " tanya Sakura memandang Sasuke, Sasuke menggeleng.
Mereka berdua keluar dari ruang pasien dan kebetulan bertemu dengan suster yang lewat, langsung saja Sasuke bertanya,
"Sumimasen, dimana pasien yang berada di ruang ini? " si suster melirik kamar pasien dan menatap Sasuke.
"Pasien di kamar ini sudah dipindahkan ke rumah sakit lain. " ujar sang suster dengan senyum manisnya.
"Apa?! " kaget keduanya,
"Dimana? Di rumah sakit mana? " tuntut Sakura.
Suster menggeleng, "Saya tidak tau, mungkin kalian bisa bertanya pada bagian informasi. " suster itupun tersenyum, menunduk sekilas kemudian berjalan meninggalkan SasuSaku.
Sasuke dan Sakura berjalan menuju bagian informasi seperti kata suster tadi dan bertanya, "Sumimasen, pasien Yamanaka Ino ruang 099 apa benar sudah pindah ke rumah sakit lain? " perempuan cantik bernametage Kumori itu membuka daftar buku dan mencari nama Ino.
"Pasien Yamanaka Ino masuk kemarin malam karena kecelakaan, memang sudah pindah ke rumah sakit lain pagi tadi. " jelas Kumori.
"Tapi, kenapa? " tanya Sakura.
"Saya tidak tau nona, keluarga pasien memutuskan memindahkannya ke rumah sakit lain. "
"Dipindahkan ke rumah sakit mana? " tanya Sasuke.
"Maaf, keluarga pasien tidak memberitahukan di rumah sakit mana, "
Sasuke menatap Sakura, kemudian menghela napas. "Baiklah terima kasih, "
Sasuke dan Sakura akhirnya keluar dari rumah sakit tanpa bertemu Ino, ternyata Ino sudah dipindahkan ke rumah sakit lain dan mereka tidak tau di rumah sakit mana. Alhasil mereka hanya berjalan menunduk lesu terutama Sakura.
"Sasuke-kun ... "
"Aku juga tidak tau dimana Ino, " gumam Sasuke, Sakura manyun.
"Kenapa mereka memindahkannya tanpa memberitahuku, padahal aku yang membawanya ke rumah sakit. Haah ... " kesal Sasuke,
.
.
.
.
.
5 hari berikutnya masih sama dengan beberapa hari yang lalu masih tidak ada kabar dari Ino. Yamanaka Ino, perempuan cantik bak barbie ini bagaikan hilang ditelan bumi. Tidak ada kabar apapun tentangnya. Sasuke, Sakura, Naruto dan Hinata, mereka sudah berusaha mencari informasi semua di rumah sakit yang ada di Konoha, namun tidak ada satupun titik terangnya.
Kini mereka hanya menunduk lesu di kantin. Mereka tidak tau lagi harus bagaimana, mereka hanya bisa menunggu. Bagaimanapun Ino adalah teman mereka jadi mereka harus tau keadaannya.
"Harus kemana lagi kita mencari Ino? " keluh Naruto,
"Apa kau sudah mengecek di rumah sakit sebelah selatan Konoha, Naruto? " tanya Sasuke.
"Sudah, di sana tidak ada. Benar kan hime? " lirik Naruto pada Hinata yang duduk di sebelahnya, gadis cantik itu mengangguk.
"Rumah Inopun sepi, tidak ada orang. " Sakura menyandarkan kepalanya di meja kantin.
"Hahh ... " mereka mendesah.
"Oi Sasuke! " Sasuke mendongak, menatap Shikamaru yang berdiri di depannya.
"Hn? " Sasuke duduk menyender di kursi kantin, menatapnya dengan kedua tangan yang bersembunyi di saku celananya.
"Kau tau dimana Ino kan? "
"Aku tidak tau. " jawab cepat Sasuke.
"Kiba bilang kau yang menolongnya waktu Ino kecelakaan, jadi dimana dia?! " Shikamaru menatapnya tajam.
"Aku memang yang menolongnya sewaktu dia kecelakaan, aku juga yang membawanya ke rumah sakit. Namun pihak rumah sakit mengatakan bahwa dia sudah dipindahkan ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuanku. Dan sampai detik ini aku tidak tau dimana dia! " seru Sasuke dengan lantang, membuat semuanya terdiam.
Sasuke melihat Sai berjalan mendekatinya dengan terburu-buru. Sasuke sudah menebak apa yang akan terjadi, pemuda bersurai hitam mencuat itu segera berdiri dan berjalan sambil berkata,
"Kau juga jangan bertanya padaku, karena akupun juga tidak tau dia dimana! " matanya menatap Sai tajam dan langsung pergi dari kantin. Sai terdiam di tempatnya.
"Sasuke-kun tunggu! " Sakura bergegas menyusulnya. Naruto dan Hinata hanya diam menatapnya prihatin dengan kondisi pertemanan mereka. Shikamaru dan Saipun belum berdamai sekarang Ino yang menghilang.
"Sasuke-kun, sebenarnya kau tau tidak sih dimana Ino? " tanya Sakura yang berhasil menyusul Sasuke dan berjalan di sebelahnya. Sasuke berhenti dan menatap Sakura. "Berapa kali aku harus bilang? Aku tidak tau! Kau pikir aku bohong?! " Sasuke menatapnya tajam.
"Bukan begitu, tapi- "
"Tapi apa!? Aku kesal padanya karena selalu bertanya padaku seolah aku yang menyembunyikan Ino! " bentak Sasuke.
"Jangan membentakku! " balas Sakura yang menyadari nada bicara Sasuke yang keras.
"Kau juga sepertinya tidak percaya padaku kan? Heh! Harusnya kau percaya padaku karena aku ini kekasihmu, kau bahkan ikut saat kita ke rumah sakit dan pihak rumah sakit mengatakan Ino sudah dipindahkan kan? Geez! " setelah mengatakan itu Sasuke pergi meninggalkan Sakura.
"Sasuke-kun menyebalkan! " teriak Sakura yang kesal Sasuke meninggalkannya.
"Menyebalkan juga kau suka, " gumam Sasuke tanpa menoleh ke belakang.
"Haish, baka! " Sakura menghentakkan kakinya kemudian berbalik dan berjalan berlawanan arah dengan Sasuke.
.
.
.
.
.
Setelah kelasnya berakhir dan tidak menemukan Sakura yang biasanya menunggunya di depan kelasnya, Sasuke memutuskan untuk menunggu Sakura selesai dari kelasnya, berdiri di dekat loker yang berada di samping kelas Sakura, memainkan ponselnya.
Melihat sudah ada beberapa mahasiswa/mahasiswi di kelas Sakura yang keluar, Sasuke mematikan ponselnya, matanya mencari sosok Sakura yang belum kunjung keluar.
Pink.
Begitu menemukan sosok surai pink keluar, Sasuke segera memperhatikan gadisnya yang sepertinya tidak menyadari Sasuke karena sibuk membenarkan buku yang dibawanya dan ketika perempuan itu mengangkat wajahnya dan matanya bertubrukan denga mata hitam Sasuke, Sakura membuang muka. Enggan menatap Sasuke, berpura-pura tidak melihatnya dengan sibuk membenari surai merah mudanya. Sasuke mendengus. Sepertinya Sakura masih marah padanya, harusnya kan dia yang marah bukan Sakura.
Sasuke menajamkan penglihatannya ketika Gaara mendekati Sakura, sepertinya mereka sedang berbincang.
Sakura yang menyadari kehadiran Sasuke di dekat loker segera membuang mukanya dan berpura-pura tidak melihatnya, ya Sakura masih marah dengan Sasuke. Sasuke berbicara dengan suara keras padanya dan meninggalkannya. Sakura mendecih dan membenahi surai merah mudanya.
"Sakura, " Sakura terlonjak kaget dan hampir menabrak Gaara yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Y-ya? " Sahutnya dengan sedikit gugup.
"Mau pulang bersama? " tawarnya. Sakura diam sebentar. Mata sewarna emerald itu melirik Sasuke yang masih berdiri menunggunya dan memutar-mutar ponselnya, kemudian beralih menatap Gaara.
"Maaf Gaara, sepertinya tidak bisa. Sasuke sudah menungguku, " gumam Sakura menatap Gaara. Gaara menegok ke belakang dan menemukan Sasuke yang menyandarkan tubuhnya di dekat loker. Gaara terdiam sebentar kemudian menatap Sakura.
"Baiklah, pulanglah dengan kekasihmu. " Gaara pergi meninggalkan Sakura, membuat gadis cantik itu terdiam. Gaara sudah mengetahui hubungannya dengan Sasuke. Tentu saja, siapa yang tidak tau hubungan SasuSaku. Karena Gaara sering melihatnya bersama dengan Sasuke. Pastilah lambat laun Gaara akan tau. Karena Hinata pernah mengatakan padanya bahwa Gaara pernah menanyakan perihal hubungan Sakura dengan Sasuke kepada Hinata, dan Hinata menceritakan yang sebenarnya tentang hubungan Sasuke dan Sakura. Awalnya Hinata bingung ingin menjelaskan bagaimana karena Gaara bertanya dengan tiba-tiba, tapi setelahnya Hinata menceritakan hubungan Sasuke dan Sakura.
"Mereka sepasang kekasih yang unik. Sakura sangat nyaman dengan Sasuke. Mereka selalu melakukan hal bersama, mengerjakan tugas, berangkat, bermain, saling mendukung, dan saling pengertian. Mereka jarang bertengkar, kalaupun bertengkar pasti paginya akur lagi, " cerita Hinata dengan kikikannya.
"Kau tau Gaara-kun, Sakura-chan pernah mengatakan padaku bahwa Sasuke-kun menyatakan perasaannya di bawah guyuran hujan. Kyaa ... itukan romantis sekali, " kagumnya. Gaara terdiam kemudian langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa kepada Hinata, membuat gadis bersurai hitam panjang itu mengeryit bingung.
"Oi! Sedang apa kau di sana? Ayo pulang! " teriak Sasuke membuat gadis bersurai merah muda itu menatapnya. Sasuke terus menatapnya, dan dengan perlahan Sakura berjalan menghampiri Sasuke.
Mereka berjalan dengan saling diam menuju parkiran. Sasuke sibuk dengan ponselnya, Sakura hanya diam. Sasuke tau Sakura masih ngambek padanya, jadi untuk sementara Sasuke diam saja dulu.
"Sasuke! Ayo bergabung! "
Sasuke berhenti dan menatap Shino yang berteriak padanya dari lapangan basket. Shino berlari mendekat. "Kami kekurangan orang main basket, ayo! " ajak Shino.
Sasuke melirik Sakura di sebelahnya sesaat kemudian menatap Shino, "Maaf aku tidak bisa, aku harus mengantar kekasihku pulang, "
Shino melirik Sakura. "Biar saja dia pulang sendiri, bukankah kau selalu bersemangat jika bermain basket? Ayolah, kami kekurangan orang, " Sakura yang menyadari lirikan Shino, Ia pun menatap Sasuke. "Sasuke-kun aku- "
"Aku tidak bisa membiarkan kekasihku pulang sendiri kecuali aku sibuk. Jadi, lain kali saja. " ucap Sasuke.
Pemuda bersurai hitam itu menatap kekasihnya, "Ayo pulang, " Sakura bengong sesaat kemudian mengangguk.
Selama perjalanan pulang mengantar Sakura ke rumah, mereka masih saling diam. Sakura menatap punggung Sasuke di depannya, Ia termenung. Sasuke lebih memilih mengantarnya ketimbang bermain basket, itu sudah membuat Sakura terkejut pasalnya kekasihnya ini sangat menggilai basket dan sepak bola, tapi dengan gampangnya kekasihnya memilih untuk mengantarnya. Apa Sakura egois? Benarkah? Jujur Ia masih sedikit marah dengan Sasuke, tapi melihat Sasuke masih memperhatikannya membuatnya tersentuh dan ingin segera menyudahi rasa marahnya namun Ia gengsi.
Ckit'
Motor Sasuke berhenti tepat di depan rumah Sakura. Sakura turun dari motor dan menyerahkan helm pada Sasuke. Sasuke menerimanya, tanpa mengucap kata apapun Sakura berbalik dan hendak memasuki rumahnya namun tertahan oleh tangan Sasuke.
"Kau masih marah padaku? " gumam lirih Sasuke, Sakura membalikkan badannya menatap Sasuke.
"Kalau begitu aku minta maaf. " ucap Sasuke yang masih memegang tangan Sakura. Sakura menundukkan wajahnya sesaat kemudian menatap Sasuke lagi.
Dan detik berikutnya Sakura langsung menghambur memeluk Sasuke.
"Bakayaro, seharusnya aku yang minta maaf! Aku begitu egois, seharusnya aku mempercayaimu, bahkan setelah aku menyakitimu kau rela tidak bermain basket demi mengantarku pulang. Aku kekasih yang buruk, " Sakura terisak di bahu Sasuke.
"Kau kekasihku yang terbaik, jangan menangis. " Sasuke tersenyum kecil dan mengusap punggung Sakura.
Sakura melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke dengan air matanya yang mengalir. "Gomene Sasuke-kun, " Sakura tidak sanggup menatap Sasuke karena air matanya yang terus keluar, Ia menundukkan kepalanya.
Sasuke mengangkat dagu Sakura dan melihat wajah cantik gadisnya dengan lelehan air matanya, hatinya sedikit tersayat. Ia tidak suka melihat Sakura menangis. Pemuda berparas tampan itu kemudian mengusap lelehan air mata gadisnya, matanya merah, mungkin paginya matanya akan bengkak. Tangan besar pemuda itu masih bertengger manis di pipi Sakura, Iris hitamnya yang selalu mempesona menatapnya intens, sejurus kemudian Sasuke mendekat dan bibir tipis nan hangatnya mengecup kelopak mata Sakura bergantian.
Cup
Cup
Diperlakukan seperti itu membuat gadis bersurai pink itu terkejut, jantungnya seketika berdetak tidak semestinya.
Meskipun hanya beberapa detik Sasuke melakukannya namun efeknya membuat Sakura hanya bisa menunduk dengan rona merah yang menghiasi pipi putihnya. Melihat Sakura yang menundukkan wajahnya lagi, Sasuke kembali mengulurkan tangannya menyentuh pipi Sakura yang masih merona dan mengelusnya yang dengan terpaksa Sakura mendongak untuk menatap Sasuke. Tangan Sasuke yang berada di pipi merambat ke atas surai pinknya dan mengacaknya pelan kemudian tersenyum.
"Jangan menangis, hatiku sakit melihatmu menangis. " ujarnya, membuat Sakura terdiam.
"Masuklah! " perintahnya, melihat Sasuke tersenyum kepadanya, membuat hati Sakura lega, Ia pun ikut tersenyum kemudian mengangguk. "Sasuke-kun hati-hati ya, pulangnya. "
"Aa. " Sakura mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada Sasuke kemudian masuk ke dalam rumahnya. Melihat Sakura yang sudah masuk, Sasuke mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan beberapa kata dan mengirimnya, memasukkan kembali ponselnya dan menyalakan motornya, pergi dari kediaman Sakura.
Sakura menutup pintu kamarnya dan merogoh saku jaketnya, meraih ponselnya yang bergetar dan membukanya.
From : Sasuke-kun.
Aku mencintaimu.
Sakura menutup mulutnya dan perlahan air matanya keluar lagi, Ia menangis haru. Buru-buru Ia mengusapnya dan membalas pesannya.
To : Sasuke-kun.
Aku juga mencintaimu.
Sakura mendekap erat ponselnya kemudian tersenyum kecil.
.
.
.
.
.
Tbc
