RED
Disclaimer : Kurobas punya mas Fujimaki, Akashi punya saya /digampar
Pairing : Akashi x Kuroko
Genre : Romance, Hurt/Comfort
A/N : Ahhh aku ga nyangka fic ini dapet respon yang cukup baik dari para readers TwT maaf update lama karna saya sendiri rada bingung mau ngelanjutinnya bagaimana-_- dan emang lagi banyak tugas juga jadi nelantarin nih ff.. biasalah newbie author problem :v oh dan aku mau berterima kasih sama ze-chan Seijuurou-san yang udah ngasih saran cukup bagus~^^ di chap ini aku usahain coba make banyak sudut pandang orang ke 3 jujur it's difficult-_- oh iya yang jadi ibunya Kuroko itu Mayuzumi (anggep aja Mayuzumi punya alter ego macem Akashi haha) dan ibunya Akashi itu oc tapi dari klan Kise wkwk
Okay daripada banyak bacot, enjoy~
.
.
.
.
.
Kagami Mansion.
Terlihatlah dua pemuda dengan surai biru muda dan merah tua tengah menyibukkan diri mereka di dapur mansion milih si pemuda berambut merah tua tersebut. Sepertinya mereka akan memasak.
"Ne Kuroko, kau ingin kita memasak apa hari ini?"
"Bukankah sudah kubilang terserah Kagami-kun saja."
"Hmm kalau begitu... omelette saja, dan untuk dessertnya chocolate truffle! Itu cukup mudah."
"Ha'i."
Setelah itu Kuroko mencoba memasak omelette tanpa bantuan Kagami, karna Kagami sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat chocolate truffle. Walaupum Kagami mengatakan omelette termasuk jenis masakan yang gampang dibuat tapi hal tersebut tak berlaku untuk Kuroko sepertinya.
Prang.
"Kuroko!"
"Ah, maaf Kagami-kun."
Kuroko baru saja memecahkan piring dikarnakan ia tak bisa mengontrol teflon saat hendak membalik omelette alhasil omelette itu jatuh ke bawah bersamaan dengan jatuhnya piring yang berada dekat kompor.
"Haah makanya kau ini hati-hati tak usah terburu-terburu seperti itu," ucapnya sambil membereskan pecahan piring.
"Aku tidak terburu-buru, omelette itu saja yang sulit untuk dibalik."
"Dasar kau ini. Masa' membalik omelette saja tak bisa, apa kau tak pernah memasak telur dadar haah?"
"Tidak."
"…KAU SERIUS!?"
"Kau pikir aku sedang bercanda Kagami-kun?"
Okay, sepertinya Kuroko tampak sedikit kesal karna secara tak langsung Kagami seolah mengejeknya tak bisa memasak telur dadar. Tapi, memang kenyataanya seperti itu, kan? Hei, walaupun tak bisa memasak telur dadar ia bisa memasak telur rebus dan itu merupakan keahliannya… yah, itulah yang selalu ia katakan saat ada yang bertanya 'kau bisa memasak apa?' padanya.
"Haaaaah, baiklah setelah kubereskan ini akan kuajari kau cara memasak omelette."
"Ha'i."
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Kagami turun tangan untuk membantu Kuroko memasak omelette, bukan berarti ia tak berniat membantunya sejak awal tapi ia mengira Kuroko bisa memasaknya sendiri karna omelette itu merupakan masakan yang mudah dimasak.
"Nah, dengar Kuroko saat kau sedang memasak omelette perhatikan apinya. Jangan terlalu besar ataupun terlalu kecil. Sedang saja," ucapnya sambil mempraktekan hal tersebut.
"Ha'I," Kuroko pun ikut mempraktekan hal tersebut.
"Lalu beri margarine atau minyak secukupnya, jangan terlalu banyak karna akan menyebabkan omelette tidak baik untuk kesehatan."
"Ha'i."
"Setelah itu tuang adonannya pada teflon. Tunggu hingga adonan omelettenya agak kering di bagian bawah lalu—"
Slap.
"—baliklah. Pelan-pelan saja dan jangan ragu saat melakukannya. Dan lakukan beberapa kali hingga matang merata setelah itu hidangkan."
Seaat sedang asik membalik omelette hingga akhirnya omelette itu berpindah tempat dari teflon ke piring Kagami baru sadar karna daritadi tak mendapat respon dari bayangannya, ia pun menolehkan pandangannya dan—
"Kuroko?"
—Si pemuda berambut biru muda ini terlihat gemetar saat sedang memegang teflon, sepertinya ia sedikit takut untuk membalik omelettenya. Hingga tak lama kemudian bau gosong sedikit tercium dari teflon milik Kuroko.
"O-oi Kuroko matikan kompornya!"
"Eh, ha-ha'i." Setelah tersadar ia pun langsung mematikan kompor namun na'as omelettenya gagal terselamatkan alias gosong.
"Maaf Kagami-kun…kalau seperti ini terus bisa-bisa aku akan menghabiskan persediaan telurmu, kita sudahi saja ya," ucapnya lirih sambil menatap nanar teflon yang berisi omelette gosong.
"Tch sejak kapan kau jadi pesimis seperti ini? Di mana sifat pantang menyerahmu haaah!?" ucap Kagami dengan nada tinggi.
Kuroko pun hanya menduduk.
"Lagipula kalau persediaan telurku ataupun persediaan bahan makananku habis karna hal ini aku tak keberatan Kuroko, aku bisa membelinya lagi. Lagipula aku senang dapat membantumu kok."
Setelah itu Kuroko pun mengangkat kepalanya sambil tersenyum simpul pada Kagami.
"Kau benar, aku takkan menyerah sampai akhir."
Setelah itu mereka melakukan fist bump dan melanjutkan kegiatan mereka yang tadi tertunda, membuat omelette.
.
.
.
Kuroko pun membuat omelette lagi dari awal untuk yang ketiga kalinya, sementara itu Kagami memberi instruksi tanpa mempraktekkannya seperti tadi takut kalau kejadian gosongnya omelette akan terulang lagi. Dan lagi-lagi saat tahap akan membalik omelette Kuroko terlihat gemetar memegang teflon.
"Jangan gemetar Kuroko, pelan-pelan saja dan jangan ragu," ucap Kagami memberi instruksi.
"A-aku sedang mengusahakannya."
Dengan hati-hati Kuroko mencoba melempar omelettenya ke udara dan berhasil! Namun saat ia sedang senang karna berhasil membalik omelette tersebut ia lupa kalau harus menangkapnya kembali.
"Awas Kuroko!"
Grep
Kagami pun secara mendadak memeluk Kuroko dari belakang dan memegang tangan Kuroko yang sedang memegang teflon dan mengarahkannya pada omelette yang hampir saja jatuh itu.
"Huft, hampir saja… Yosh akhirnya kau berhasil membaliknya ya Kuroko!" ucap Kagami disertai cengiran khasnya.
"Ha-ha'I," ucapnya sedikit gugup.
"Ahh aku lupa kalau kita akan membuat chocolate truffle juga hari ini. Biar aku yang selesaikan omelette ini, kau duluanlah ke ruang makan setelah ini aku akan membuat chocolate truffle."
Setelah itu Kuroko langsung meninggalkan Kagami sendiri di dapur tanpa memberinya jawaban. Dan tanpa disadari oleh Kagami wajah Kuroko sedikit memerah.
-o.O.o-
Ting Nong.
Ting Nong.
"Tecchan~ buka pintunya Ibu dan Okaa-san datang berkunjung."
Karna tak mendapat jawaban dari si pemilik rumah kedua ibu-ibu yang sepertinya sudah memencet bel daritadi pun mulai bertindak tak wajar….
"TECCHANN, APA KAU DI DALAM NAK!?" ucap sesosok wanita berambut abu-abu sambil memukul pintu berkali-kali seolah kalau di dalam pintu tersebut anaknya tengah disekap oleh penculik.
"TECCHAN JAWAB OKAA-SAN MU NAK, APA KAU DI DALAM!?" dan wanita disampingnya melakukan hal yang tak jauh berbeda pula.
Beberapa detik kemudian pintu itu pun terbuka dan menampilkan sesosok pria yang uhuk-kurang-tinggi-uhuk dengan rambut berwarna merah cerah tengah menatap kedua wanita itu tajam.
"Sedang apa kalian? Tetsuya tak ada di rumah," ucapnya singkat.
"SEI-CHAN!? sejak kapan kau pulang cepat? dan kenapa kau dingin sekali pada kami-ssu, setidaknya biarkan kami masuk," ucap wanita berambut kuning di depannya.
Tanpa berucap ia mempersilahkan kedua orang itu masuk.
Skip time
"Jadi dimana Tecchan? Dan mengapa kau sudah ada di rumah jam segini-ssu? Ini masih siang sei-chan" pertanyaan berentet itu pun dilontarkan wanita berambut kuning yang diketahui sebagai ibu dari Akashi. Akashi Natsuko
"aku melihatnya bersama Taiga tadi—"
"EHHHH TECCHAN BERSAMA KAGAMI-KUN!? " ucap mereka kaget atau… pura-pura kaget mungkin. Karna mereka sudah tahu tujuan Kuroko adalah menuju rumah Kagami untuk belajar memasak oh dan hal itu tentu saja tak diketahui oleh Akashi.
"Jangan memotongku."
"Ahhh gomen gomen, lanjutkan~" ucap seseorang disamping Natsuko yang tak lain adalah mertuanya. Kuroko Chihiro.
"Aku melihatnya bersama Taiga tadi saat pulang dari kantor, jangan tanyakan padaku apa yang mereka lakukan karna aku tak tahu dan alasan aku ada di rumah sekarang tentu saja karna pekerjaan ku sudah selesai," ujarnya panjang lebar.
"O-oh begitu ya, sayang sekali ya Tecchan tak ada di rumah padahal kami ingin menemaninya selagi kami ada kesempatan, karna Tecchan terkadang suka kesepian," ucap Chihiro.
"Karna kau biasa pulang larut dan lagi tak ada maid di rumahmu Okaa-san terkadang kasian pada Tecchan.." ucap Natsuko lirih.
"Jadi, kalian menyalahkanku karna pekerjaanku heh?" ucap Akashi sarkastik.
"Bukan maksud kami seperti itu, tapi… cobalah sedikit memberi perhatian padanya walaupun sesibuk apapun dirimu, bagaimanapun dia saat ini adalah istrimu. Kami yang paling tahu kalau Tecchan selalu berusaha yang terbaik. Jangan kau kira kami tak tahu kalau selama ini kau suka mengabaikannya—"
"Aku tak pernah menganggap dia istriku, aku tak tertarik pada sesama jenis."
"SEI-CHAN!?"
"Jika kalian berniat untuk membicarakan Tetsuya lebih baik kalian keluar, aku ingin beristirahat."
"Kau! Berani sekali kau berucap seperti itu pada mertuamu!"
"Aku juga tak pernah menganggap dia mertuaku."
PLAK
"Kau kelewatan-ssu! Ayo Chihiro-chan, kita tinggalkan saja anak kurang ajar ini."
BLAM
Setelah itu Akashi hanya bisa menatap pintu yang dibanting oleh ibunya dengan tatapan datar sambil memegang pipinya yang memerah.
.
.
.
"Siaaaaalll, anak kurang ajar! Beraninya ia merendahkan Tecchan dan Chihiro-chan!"
"Sudah, sudah, Natsuko-chan. Aku yakin sampai saat ini ia belum bisa menerima pernikahan ini."
"Tapi, tetap saja aku kesal. Dan lagi selama 3 bulan ini ia tak pernah mencicipi masakan yang sudah Tecchan buat dengan susah payah, dasar anak tak tahu diri-ssu!"
Mengapa mereka mengetahui hal tersebut? Tentu saja sehari sebelum anak mereka melangsungkan pernikahan, mereka diam-diam memasang cctv super mini di semua sudut ruangan rumah yang nantinya akan ditempati anak mereka setelah menikah. Karna tujuan mereka adalah untuk merekam malam pertama Akashi dan Kuroko-_-
Dan tentunya hal ini tak diketahui si pemilik rumah. Mereka mengawasi setiap detail perkembangan hubungan Akashi dan Kuroko dari ruang monitor yang yang menampilkan rekaman cctv tersebut, namun sayangnya hingga saat ini tak ada perkembangan dalam hubungan mereka.
"Padahal kita sudah berakting seolah Tecchan adalah istrikesepian, tapi memang kenyataanya seperti itu sih. Untungnya ia setiap senin-jum'at selalu belajar memasak bersama Kagami-kun setidaknya anak itu ada kegiatan lain selain mengajar, tapi kalau hubungan mereka seperti ini terus kita takkan pernah mendapatkan video malam pertama mereka. Sial," ujar Chihiro panjang lebar. Rupanya mereka masih ambisius untuk mencapai tujuan yang menurut mereka mulia(?) itu-_-
"Jangan patah semangat dulu, bukankah kita punya rencana lain Chichiro-chan!"
Chihiro menautkan alisnya dan menatap bingung Natsuko.
"Rencana yang mana? Bukankah semua rencana sudah kita jalankan?"
"Masa' kau tak ingat-ssu? Itu loh rencana yang tiga bulan lalu ituuuuu," ucap Natsuko gregetan sendiri.
Hening.
.
.
"…..OH IYA IYA AKU INGAT HAHAHA, tapi.. kurasa yang bersangkutan belum melancarkan aksinya sampai saat ini."
"Begitukah? Fufu kau salah-ssu, dia hanya akan melancarkan aksinya saat aku memberinya perintah dan tadi pagi aku baru saja memberinya perintah. Tapi tak kusangka aku memberi perintah pada waktu yang tepat haha."
"Kenapa kau tak bilang dari dulu, baka! Kukira dia sudah melupakan negosiasi kita dari 3 bulan yang lalu, haha."
"Ahaha gomen gomen, kita lihat saja nanti apakah ia berhasil menjalankan misi dari kita? Let's enjoy the show~"
"Yes. I hope with this plan they gonna make their first night as soon as possible haha"
Beberapa detik kemudian mereka langsung menyeringai sadis seolah sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Sungguh para ibu yang bejat-_-
-o.O.o-
Back to Kagami mansion
Kuroko POV
Deg Deg Deg
Kenapa? Kenapa sejak tadi detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, apa karna Kagami-kun tadi memeluk.. tidak. tidak mungkin Kagami-kun berniat memelukku ia hanya menolongku saat hendak menangkap omelette tadi, tapi… kalaupun ia hendak menolongku mengapa ia sempat memegang tanganku..
Blush
Sial, kenapa aku terus menerus memikirkan hal tersebut? Seperti bukan aku saja. mungkin aku berdebar-debar karna senang bisa membalik omelette dan shock karna perlakuan Kagami-kun yang mendadak tadi.
"Kuroko, maaf lama menunggu chocolate truffle nya sudah jadi~ eh mengapa wajahmu memerah?"
Kagami-kun muncul dengan nampan berisi omelette dan chocolate truffle.
Deg Deg
Gawat dia melihat wajahku yang sedikit merona, dan lagi.. kenapa detak jantungku berdetak lebih cepat saat Kagami-kun datang? Mungkin karna kaget.
"Tidak, tidak ada apa-apa" ucapku sambil mengalihkan pandanganku darinya.
"Heeeeeh, ah yasudahlah ayo makan. Omelettenya sudah dingin nih."
"Ha'i."
Ntah kenapa selera makanku hilang saat melihat Kagami-kun. Seolah kegiatannya saat sedang memotong omelette itu lebih menarik untuk dilihat ketimbang melihat omelette ku yang sudah dingin ini.
"Kuroko."
Kagami-kun berjalan ke arahku, Apa aku kepergok sedang melihatnya ya tadi tapi Kagami-kun kan orangnya tidak peka, semoga saja dia tidak—
Duk
"Hemmmm..sudah kuduga kau demam."
Kagami-kun menempelkan dahinya pada dahiku.
Deg deg deg deg deg
Ga-gawat detak jantungku tak bisa terkontrol dengan baik bahkan aku merasa nafasku sedikit tercekat karna perbuatannya. Apa memang aku sedang demam ya? Atau….
"Lebih baik kau pulang Kuroko, sudah petang, nanti Akashi mencarimu," ucap Kagami-kun membuyarkan lamunanku.
"Ha'i."
Sayangnya kau salah Kagami-kun… Akashi-kun tak pernah mencariku, memperhatikanku ataupun sekedar menyapaku terlebih dahulu. Dia juga membuat peraturan yaitu untuk tak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jadi jika aku pulang larut pun ia takkan memarahiku ataupun mencariku kan? Lagipula Akashi-kun selalu pulang saat tengah malam dan tak mengetahui tentang kegiatan memasakku dengan Kagami-kun.
"Kalau begitu aku pulang dulu Kagami-kun, terima kasih atas pembelajaran hari ini."
"Tak usah seformal itu, kalau bisa kau praktekan menu itu pada si teme itu yaaaa."
"Umm."
Setelah berpamitan dengan Kagami-kun aku pun melangkahkan kaki menuju terminal untuk menaiki bis malam menuju rumah bila itu bisa dikatakan 'rumah'.
-o.O.o-
Author POV
Tap
Tap
Tap
"Dari mana saja kau Tetsuya?"
"!"
Kuroko kaget karna terdengar suara yang menginterupsinya, siapa lagi kalau bukan suaminya. Akashi Seijuurou.
"Akashi-kun.."
"Kau tahu sekarang sudah jam berapa?"
Kuroko hanya menunduk takut karna saat ini jam menunjukkan pukul 21.00 atau jam 9 malam, dikarnakan menunggu bis terakhir yang datang terlambat ditambah lagi jalanan yang sedikit macet membuatnya pulang larut.
"Maaf, bis terakhirnya datang terlambat dan jalanan sedikit macet."
"Aku bukan bertanya soal itu, dari mana saja kau?"
Ucapan Akashi yang seakan mengintrogasi ditambah dengan tatapan tajamnya membuat Kuroko sedikit takut, pasalnya baru kali ini Akashi berada dirumah mendahului Kuroko. Biasanya Akashi pulang kerja sekitar jam 10 keatas dan kali ini tepat pukul 9 ia sudah berada di rumah. Ingin Kuroko menanyakan hal tersebut tapi ia urungkan niatnya dikarnakan saat ini Akashi sedang tidak mood sepertinya.
"Itu…bukan urusan Akashi-kun" ucapnya sedikit takut meskipun saat ini ia memasang tampang datar.
"Apa katamu?"
Sepertinya Kuroko telah salah ucap.
"Itu bukan urusan Akashi-kun, bukankah kita sudah berjanji walau sudah menikah tapi kita tak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing."
Skakmat.
Akashi terdiam, ucapan Kuroko ada benarnya juga karna janji tersebut terucap dari bibirnya sendiri mana mungkin ia mengingkarinya. Tapi pemandangan Kuroko saat bersama Kagami tadi siang membuatnya penasaran dan ia merasa sedikit kesal.
"Tentu saja itu menjadi urusanku, aku suamimu."
Kuroko kaget dengan perkataan Akashi barusan dan pipinya sedikit merona, bukannya berharap lebih bukankah perkataan Akashi tadi sekilas tersirat ada nada khawatir atau... posesif? Ingin ia memberitahu soal kegiatan memasaknya bersama Kagami tapi sayangnya ia sudah terlanjur janji takkan memberitahu suaminya hingga waktu yang tepat.
"Tidak, aku takkan memberitahumu ini urusan pribadiku Akashi-kun. Kumohon mengertilah."
Kuroko bersikeras tak mau memberitahu soal kegiatan memasaknya dengan Kagami dan hal tersebut Sepertinya berhasil membuat Akashi naik pitam, perlahan ia mendekati Kuroko dan membisikkan sesuatu.
"Kurasa selama aku tak ada di rumah kau cukup besenang-senang dengan Taiga heh, dasar jalang."
PLAK
Kuroko baru saja membelalakan matanya karna perkataan Akashi yang menyayat hati, sedetik kemudian ia dihadiahi tamparan kemurkaan dari sang emperor di pipi mulusnya.
"Mulai saat ini kau tidur di kamar lain Tetsuya."
BLAM
Setelah itu Akashi meninggalkan Kuroko di ruang tamu sendirian.
Kuroko tak menyangka hal ini akan terjadi, baru kali ini Akashi menyapanya terlebih dahulu dan baru pertama kalinya pula Akashi berlaku kasar padanya. Apakah Akashi sudah mengetahui tentang kegiatan memasaknya bersama Kagami?
"Hiks…..A-Aka…shi..kun.. hiks."
Isakan kecil pun mulai keluar dari mulut Kuroko yang sedang memegang pipi bekas tamparan suaminya. Sungguh hatinya sangat hancur saat suaminya sendiri mengatai dirinya 'jalang' dan menamparnya.
Ia pun mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan terlihat mengetik sesuatu sambil menahan tangisnya.
To : Kagami-kun
Subjek : Aku ingin berhenti
Kagami-kun… maaf aku ingin berhenti memasak. Terima kasih untuk semuanya.
Setelah mengetik pesan tersebut ia pun beranjak menuju kamar lain yang berada tepat di sebelah kamar suaminya. Sekilas ia menatap lirih kamar itu, ah ia jadi ingat sejak awal memang Akashi tak pernah berniat untuk berbagi kamar tapi karna keterpaksaan dari ibu mereka membuatnya harus rela tidur dengan berbagi ranjang dengannya.
Kalau dipikir-pikir semua ini, pernikahan dan tinggal bersama adalah bukan kemauan Akashi. Semua ini palsu, meskipun jujur Kuroko senang karna Akashi menjadi suaminya karna sejak smp ia telah memendam perasaan pada mantan kapten basketnya itu, tapi sayangnya itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Setelah merebahkan diri di ranjang perlahan air mata kesedihan pun tak bisa terbendung lagi, Kuroko menangis sepanjang malam hingga tertidur, ia memikirkan bagaimana nasibnya bersama Akashi ke depannya. Semoga bukan jalan cerai yang mereka ambil nantinya.
To Be continued
Mind to RnR? ^^
