RED
Disclaimer : Kurobas punya mas Fujimaki, Akashi punya saya /digampar
Pairing : Akashi x Kuroko
Genre : Romance, Hurt/Comfort, mungkin agak humor.-.
.
.
.
Cahaya mentari pagi yang menyilaukan dengan paksa menerobos jendela sebuah kamar sehingga membuat seseorang yang sedang tertidur di kamar tersebut memaksa membuka kelopak matanya hingga memaksanya menampilkan iris birunya. Penampilan pemuda itu atau yang kita kenal sebagai Kuroko sangatlah kacau.
Kulit pucat ditambah dengan kantong mata yang terlihat menghitam dan bengkak akibat efek menangis semalam tampak terlihat. Jangan lupakan bed hair nya yang tampak berantakan. Membuat imagenya seperti orang yang benar-benar habis merasakan sakit hati.
"Mmh sudah pagi ya? Ini bukan kamar… ku.."
Kuroko pun teringat akan kejadian semalam dan langsung membungkam mulutnya dan menahan tangisnya. Kejadian semalam sangatlah menyakiti hatinya, sebab niat baiknya untuk menjadi istri yang baik malah berbalas perlakuan kasar suaminya. Bahkan karna hal itu juga tanpa ia sadari ia malah mengatakan sesuatu yang mungkin nantinya akan membuat Kagami marah.
Kuroko melirik jam weker diatas meja kecil tepat di samping tempat tidurnya.
"Ahh, sudah pukul 06.00," gumamnya.
Dengan langkah gontai ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan tentu saja melakukan rutinitas hariannya. Setelah mandi ia juga akan menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, meskipun suaminya takkan memakannya tapi sudah menjadi kewajibannya untuk melakukan hal itu.
'Semoga saja sikap Akashi-kun tetap seperti biasa…' batinnya.
-o.O.o-
Setelah selesai mandi Kuroko pun bergegas menuju dapur, dan ia kaget melihat Akashi sedang memakan sepiring nasi goreng.
"A-Akashi kun" ucapnya sedikit canggung dan kaget.
Akashi tak memperdulikan panggilan Kuroko bahkan melirik pun tidak.
"Akashi-kun yang memasak? Ahh maaf aku kesiangan bangun."
Hal ini seperti Akashi tak menganggap keberadaan Kuroko dan hal itu membuat Kuroko sedikit kesal
"Akashi-kun!" Kuroko menaikkan nada suaranya.
BRAG
Akashi menggebrak meja dengan keras dan sekilas menatap Kuroko kesal hingga membuat Kuroko takut, setelah itu ia melanjutkan aktivitas makannya dengan Kuroko yang hanya bisa menatap Akashi seolah seperti pembantu yang menunggu majikannya selesai menyantap hidangannya.
Setelah selesai makan Akashi pun segera mengambil jas kerjanya dan hendak membuka pintu, namun tangan Kuroko menahan pergerakan Akashi dan untuk kali ini ia menatap Kuroko.
"Akashi-kun… kau.. kau salah paham aku tak ada hubungan apapun dengan Kagami-kun sungguh, kemarin aku hanya mampir ke rumahnya dan menemaninya memasak, dan—"
Kuroko menggantungkan kalimatnya untuk menahan isakan yang siap keluar kapan saja.
"—masakan yang tadi itu.. buatan siapa? Apa Akashi-kun yang membuatnya? Dan…..kenapa Akashi-kun tak pernah memakan masakanku selama ini?"
Akashi terdiam untuk beberapa detik dan selanjutnya ia menghentakkan tangan Kuroko dan bergegas meraih knop pintu tapi sepertinya Kuroko belum menyerah untuk mendapat jawaban dari pertanyaan yang selama ini ingin ia tanyakan.
GREP
"Akashi-kun! Jangan pergi kumohon jawab pertanyaanku!"
Kuroko memeluk Akashi dari belakang hal itu membuat Akashi kaget dan ia terdiam sejenak setelah itu Akashi berbalik dan mendorong Kuroko hingga ia tesungkur di lantai.
BRUG
"Uhhhh."
"Kau pikir sesuatu yang lebih mirip dengan 'sampah' itu makanan? Masakan buatan koki di rumahku jauh lebih baik. Kalau kau ada waktu untuk sok mengurusiku lebih baik kau urusi saja Taiga itu, jalang."
BLAM
Begitu pintu tertutup Kuroko tak kuasa menahan tangisnya, perkataan Akashi barusan sangatlah kejam dan membuat hatinya sakit. Bagaimana mungkin makanan yang ia buat sepenuh hati tiap harinya disamakan dengan 'sampah'? sungguh keji dirimu Akashi Seijuurou
"...A-Akashi hiks kun.. hiks ke-kenapa? Apa salahku?"
Setelah puas meluapkan perasaan sakit hatinya segera ia menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menghilangkan jejak air mata di wajahnya.
Karna kondisinya yang lagi kurang enak badan akhirnya Kuroko memutuskan untuk tidak mengajar hari ini, ia ingin bertemu Kagami dan menjelaskan semuanya. Dengan dada yang masih terasa nyeri ia berusaha untuk kembali ke kamar tempat ia tidur semalam untuk mengabari pihak sekolah bahwa hari ini ia tak dapat mengajar.
"Eh?"
Begitu ia membuka flip handphone berwarna biru mudanya ia kaget karna terdapat 10 missed call dan 5 new message dan itu semua berasal dari Kagami. Dan isi pesan itu sama semua yaitu "Kuroko apa yang terjadi? Si teme itu melakukan sesuatu padamu?"
"Haaaaaaahh, sepertinya kali ini aku harus menceritakan semuanya pada Kagami-kun."
To : Kagami-kun
Subjek : Aku Berangkat
"Aku akan ke apartemen Kagami-kun untuk menjelaskan semuanya, kuharap kau tak ada acara hari ini."
Setelah itu Kuroko bergegas menuju ke apartemen Kagami.
-o.O.o-
Sementara itu di tempat lain.
Berlembar-lembar tisu tergeletak di sebuah ruangan yang sepertinya ruang monitor pemantau cctv dan.. yang paling penting terdapat 2 wanita yang sudah berumur tapi tetep nyentrik(?) sedang berpelukan ria.
"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Sei-chan hidoi-ssu dasar anak tak tahu diriiii! Tapi tidak apa-apa deh Tecchan tersiksa Okaa-san senang tapi juga sedih huaaa," teriak sesosok wanita berambut kuning atau lebih kita kenal sebagai Natsuko dengan lebaynya.
"Kampreeeeeeeeettttt aku tidak terima anakku dijahatin anakmu Natsuko-chan, tapi biarpun begitu ntah kenapa aku menyukainya karna ini mirip salah satu adegan doujin yang angst huaaaaaaa," dan wanita berambut abu-abu ini atau lebih kita kenal sebagai Chihiro masih sempatnya memikirkan satu adegan doujin yang mirip dengan kisah anaknya-_-
Kelakuan para duo emak-emak fujo ini emang selalu gila, setiap kegiatan apapun yang anak mereka lakukan mereka selalu membandingkannya dengan doujin 'itu', fanfic 'anu', maupun manga dan anime 'begitu' lainnya-_-
"Tapi Chihiro-chan Tecchan hiks.."
"Ingusmu meler Natsuko-chan," ucap Chihiro sambil memberi tisu kepada Natsuko.
"Terima kasih, tapi tak kusangka rencana ini sesuai dengan perkiraanku meskipun Tecchan sedikit terluka perasaaannya, kuharap setelah ini si setan merah pendek itu segera tobat dan kembali ke jalan yang benar-ssu," ucap Natsuko sambil melap ingusnya yang meler efek kebanyakan menangis.
Dan… seharusnya perkataan tadi lebih cocok ditujukan kepada dirinya dan Chihiro ya-_-
"Tenang saja Natsuko-chan, aku yakin akan ada perubahaan dalam hubungan mereka setelah ini. kan kita bisa mengontrolnya setiap saat,"
Selama ini Natsuko dan Chihiro mengawasi kegiatan anak mereka dari ruang monitor ini, kalau anak mereka bertemu atau berpapasan akan ada tanda bunyi yang membuat mereka langsung melupakan aktivitas mereka sejenak dan langsung menuju ruang monitor jadi tak selamanya mereka berada di ruang monitor, oh dan ruang monitor ini berlokasi tak jauh dari rumah Akashi Kuroko.
"Yap, kuharap 'dia dan mereka' bisa memerankan perannya dengan baik"
Setelah itu mereka meninggalkan ruang monitor sambil menyeringai kejam, seolah mereka sedang merencanakan sesuatu yang 'jahat' fufu.
-o.O.o-
Ting nong
Ting nong
Ckrek
"Aneh.. ada yang memencet bel tapi tak ada orang."
"Doumo."
Dan sepertinya efek misdirection milik Kuroko masih tak dapat dikenal Kagami meskipun mereka sering bersama sejak SMA dulu.
"HUAA KU-KUROKO!?"
"Jangan berteriak Kagami-kun, setidaknya biarkan aku masuk terlebih dahulu."
Kagami pun salah tingkah karna tiba-tiba meneriaki Kuroko dan setelah itu ia mempersilahkan Kuroko masuk.
"Kau ingin minum apa?"
"vanilla milkshake."
"Aku bukan maji burger."
"Terserah Kagami-kun saja, yang penting ada rasa vanillanya."
Setelah Kagami membawa secangkir vanilla latte dan secangkir teh hangat Kagami pun mulai membuka percakapan.
"Jadi Kuroko sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan Akashi? Kenapa tiba-tiba ingin berhenti memasak?"
Kuroko terdiam seraya menatap lantai dan berusaha menahan air matanya jatuh karna teringat kembali akan pertengkarannya dengan Akashi.
"Jika kau belum siap menceritakannya tak apa aku tak memaksa."
"Kagami-kun…"
"Hmm?"
"A-aku… a-aku.."
Kagami mendekat dan duduk di sebelah Kuroko dan sedetik kemudian ia mengelus puncak kepala Kuroko untuk menenangkannya.
"Sudah kubilang jika kau belum siap tak usah dipaksakan? Bagaimana kalau kita hari ini jalan-jalan? Aku yakin hal tersebut dapat menenangkan pikiranmu."
Kuroko hanya terdiam menanggapi perkataan Kagami kemudian ia pun mengangguk dan tersenyum dipaksakan.
"Aku bersyukur telah bertemu dengan Kagami-kun."
"Ba-baka! Jangan mengatakan hal yang memalukan seperti itu kau lebih cocok tersenyum ketimbang berwajah datar ataupun menangis, jujur saja aku….benci melihatmu sedih ataupun menangis karna sesuatu ataupun seseorang."
Setelah itu Kagami beranjak dari sofa empuknya meninggalkan Kuroko sendiri dan bergegas mengambil jaket karna cuaca di luar sedikit dingin dikarnakan sudah memasuki awal desember.
Dan tanpa disadari Kagami muka Kuroko sedikit memerah menahan malu.
-o.O.o-
"Kuroko….. aku memang mengajakmu jalan-jalan tapi….KENAPA KITA DARITADI HANYA DUDUK DI MAJI BURGER!?"
"Kagami-kun pelankan suaramu, kau mengganggu pengunjung lain."
"Cih.. bisakah kau lepas dari vanilla milkshake mu itu haaaaah?" ucap Kagami sambil melahap burger ke… ntah yang keberapa, karna Kagami memiliki nafsu makan yang tinggi seperti Murasakibara.
"Tidak," ucap Kuroko dengan wajah datar seperti biasa.
Perempatan kekesalan muncul di dahi Kagami.
"KUROKOOOO TEMEEEE."
Dan beberapa detik kemudian Kagami menyeret Kuroko keluar dari maji burger namun sebelum itu tentu saja ia menghabiskan seluruh burger yang ia pesan tadi.
"Ka-Kagami-kun! Tunggu sebentar hosh hosh."
"Kenapa?"
"Pelan-pelan saja, kau hampir membuat milkshake ku tumpah dan lagi memangnya kita mau kemana?"
Kagami tampak sedang memikirkan namun tiba-tiba handphonenya berdering setelah ia melihat layar handphonenya ia pun menekan tombol reject dan memasukkannya kembali di saku celananya.
"Mengapa dimatikan?"
"Tidak, hanya salah sambung."
"Hmm."
"Ahhhh pokoknya hari ini kita jalan-jalan saja asal jangan ke maji burger yaaaa."
"Ha'i."
-o.O.o-
Tak jauh dari tempat Kagami dan Kuroko terdapat sesosok misterius yang sedaritadi memperhatikan mereka.
"Cih, dia mengabaikan telponku dasar baka—"
"Sedang apa kau disini?"
Dan sosok misterius itu pun terkejut begitu keberadaannya diketahui orang lain, bila didengar dari suaranya sepertinya itu tuannya.
"Se-Seijuurou-sama.."
"Mengapa kau seperti penguntit, bukankah kau harusnya menunggu di dalam mobil?"
"Ahh.. itu.. tadi saya melihat Tetsuya-sama bersama dengan Kagami makanya sa-saya memperhatikannya," ucapnya gugup sambil mengarahkan jari telunjuknya pada sepasang pria berambut biru muda dan merah tua yang sedang bercengkrama ria.
Raut tatapan benci terpancar jelas dari wajah tuan muda Akashi Seijuurou.
"Dasar jalang.. " ucapnya berbisik.
"Eh?"
"Ayo pergi."
"Eh, ba-baik."
Setelah Akashi jalan terlebih dahulu, supir pribadinya itu terdiam sejenak untuk mengirim pesan ke seseorang.
click
Sent
Beberapa detik kemudian ia menerima balasan dari orang tersebut.
"Good job."
Dan selanjutnya ia menyeringai puas.
"Oi, mengapa kau masih terdiam disitu?"
"Ah maafkan saya Seijuurou-sama, tadi istri saya mengirimi saya pesan."
"Sudahlah, cepat."
"Baik."
-o.O.o-
Kuroko POV
Setelah seharian berpergian dengan Kagami-kun mengunjungi beberapa tempat seperti maji burger, taman kota, dan lapangan basket dekat seirin untuk bermain basket 1 on 1 masalahku pun sedikit terlupakan. Setelah bermain 1 on 1 aku memutuskan untuk menceritakan masalahku padanya. Selama bercerita aku berusaha menutupi kesedihanku dan berpura-pura tegar di depannya dan untung saja ia bukan tipe orang yang peka. Hari semakin sore dan Kagami-kun menyuruhku pulang takut Akashi-kun mencariku lagi.
FLASHBACK
"Kuroko, sebaiknya kau pulang sudah sore nanti Akashi mencarimu lagi."
"…..."
"Kuroko"
"Untuk apa ia mencariku Kagami-kun bahkan saat ini aku… takut untuk bertemu dengannya."
"Apa karna ia menghinamu kemarin dan menyebut makananmu itu sampah? Oh ayolah dia hanya salah paham kau tinggal meluruskan masalah ini saja."
Aku terdiam.
"Tak segampang itu, Kagami-kun."
"…yasudah terserah kau saja, pokoknya apapun alasanmu aku tak ingin kau berhenti memasak."
"Untuk apa aku memasak bila aku sudah tak memiliki tujuan?"
"Kau tinggal mencari tujuan yang lain, aku tebak tujuanmu memasak itu Akashi kan?"
Aku menunduk menyembunyikan raut kesedihan di wajahku.
"…...Aku hanya ingin Akashi-kun membalas perasaanku meskipun hal itu mustahil."
"Tch yang perlu kau lakukan hanyalah berusaha, jangan menyerah Kuroko! Jaaa nee~"
Setelah itu Kagami-kun meninggalkanku sendiri namun sebelumnya ia sempat mengacak-acak rambutku.
FLASHBACK END
Perlahan debaran aneh merasuki tubuhku, debaran apa ini? Mengapa setiap aku mengingat sikap Kagami-kun padaku mukaku memanas dan perlahan aku merasa gugup sekali.
Apakah ini yang disebut cinta? Tapi.. mengapa? Bukankah aku mencintai Akashi-kun? Aku sungguh tak mengerti dengan semua ini.
Saat sedang asik dengan pikiranku sendiri tanpa sadar saat ini aku sudah berdiri tepat di depan 'rumah' ku. Aku tak tahu apakah Akashi-kun sudah pulang atau belum karna saat bekerja Akashi-kun lebih memilih menggunakan jasa supir ketimbang menggunakan mobil pribadinya.
Cklek
Gelap
Syukurlah Akashi-kun belum—
"Tetsuya."
—pulang.
Oke dugaanku salah ia sengaja mematikan lampu untuk mengagetkanku. Kenapa Akashi-kun sudah sampai di rumah? Bukankah ia selalu pulang larut?
"A..Akashi-kun"
Aku takut, takut untuk melihat wajahnya saat ini.. Apalagi kejadian kemarin dan tadi pagi masih berbekas di hatiku. Hal tersebut membuatku semakin takut padanya.
"Tatap aku."
Aku takut.
"Tetsuya, tatap aku."
Aku..
"TETSUYA!"
Bentakan Akashi-kun membuatku sedikit terkejut selanjutnya aku memberanikan diri untuk menatapnya. Dan secara tiba-tiba aku sudah terjatuh di lantai dan kurasakan pipiku nyeri.
PLAK
Akashi-kun baru saja menamparku.
"Sudah puas bermain dengannya heh?" ucapnya dingin.
"Eh?"
"Jangan berwajah sok polos menjijikan seperti itu, dasar jalang."
Lagi-lagi Akashi-kun menyebutkan kata itu, mengapa ia jadi suka menyebutku seperti itu.. apa yang telah kuperbuat Akashi-kun?
"A-Akashi-kun—"
"Mengapa kau tidak tinggal disana saja sekalian dan tak kembali? Bukankah kau lebih senang bersamanya?"
Aku tak mengerti arah pembicaraan Akashi-kun.
"Aka—"
"Dan aku sangat yakin selama aku tak ada kau melakukan 'itu' dengannya, biar kutebak berapa ronde yang kau mainkan dengannya? Tiga? Ah tidak pasti lebih."
Tidak. Ini sungguh…. Kelewatan!
PLAK.
"KAU KIRA AKU SERENDAH ITU AKASHI-KUN!? DAN LAGI DARITADI AKU TAK MENGERTI ARAH BICARAMU. DAN SIAPA YANG KAU BICARAKAN!"
Aku tak bisa menahan emosiku lebih dari ini, tapi… sepertinya tindakanku terhadap Akashi-kun nampaknya telah membuat singa yang tertidur dalam dirinya terbangun.
"…Tet..su..ya.."
Tidak.
Tidak.
Tatapan mata itu..
Grep
"A-akh."
"Sepertinya aku harus membuatmu menjadi 'anak patuh' hmm?"
"A-aka—akhhhhh sa-sakitt… Akashi-kun lepas! Lepaskan aku!"
Akashi-kun mencengkram tanganku kasar dan menarik paksa diriku menuju kamarnya.
Tuhan kumohon semoga saja tak terjadi hal apapun padaku.
-o.O.o-
AUTHOR POV
"Akhhhhh sakittt sakitttt khhhh Akashi-kun!"
Brug.
Setelah menyeret paksa Kuroko ke kamarnya, kemudian Akashi mendorong Kuroko ke ranjang dan mengunci pergerakannya.
Sepertinya cengkraman tangan Akashi sangat kuat hingga menyebabkan pergelangan tangan Kuroko sedikit memerah.
"A-Akashi..kun?"
"aku memang pernah berkata takkan pernah tertarik terhadap sesama jenis, tapi.."
Zip.
"A-aka—"
"Sepertinya hal itu pengecualian terhadapmu Tetsuya"
Akashi membuka zipper celana jeansnya dan membuangnya asal hingga menyisakan boxer hitam yang masih melekat di badannya dan hal itu membuat Kuroko panik dan ketakutan, pasalnya siapapun yang sedang berada di posisi Kuroko pastinya akan memikirkan sesuatu yang negatif bukan?
"Sekarang aku ingin bertanya padamu… seberapa sering kau melakukan hal ini dengan Taiga?"
"!"
Untuk yang kesekian kalinya hati Kuroko bagai ditancap oleh sebilah pisau tajam yang langsung menusuk jantungnya karna ucapan Akashi, mungkin istilah 'word is like sword' itu benar adanya. Demi tuhan ia masih menjaga keperjakaannya sampai saat ini tapi mengapa suaminya bisa menyimpulkan bahwa ia telah berselingkuh dengan Kagami dan sering melakukan hal 'itu' dengannya.
"Akashi-kun.."
Dirinya tak kuasa lagi membendung air matanya, pasalnya siapa yang tak sakit hati bila ia terus menerus dituduh dengan tuduhan yang tak berdasarkan fakta seperti ini.
"…..Jangan menampilkan ekspresi seperti itu dasar keparat!"
PLAK
"Aku tanya padamu sekali lagi sudah berapa kali kau melakukan hal ini dengan Taiga haaaaahh!?"
Kuroko tetap mempertahankan diamnya dan ia terus menangis karna baru saja mendapat tamparan di pipi kanannya.
"….Demi tuhan Akashi-kun… hiks aku belum pernah melakukan hal tersebut hiks dengan Kagami-kun maupun dengan pria manapun.." ucapnya terisak.
"….Begitu.. kau kira aku akan percaya dengan segala omong kosongmu?"
Setelah itu Akashi mulai meraba sesuatu di balik kaos yang dikenakan Kuroko.
"Akashi-kun! Dameee! Ukhh," ucapnya sambil berusaha menyingkirkan tangan Akashi dari tubuhnya.
Karna tingkat kesabaran Akashi sudah diambang batas ia pun tak segan untuk melakukan tindakan kasar pada Kuroko dan selanjutnya ia mengikat kedua tangan Kuroko dan berbisik.
"Diam, jadilah anak baik."
"Arghhhhhhh."
.
.
.
.
.
"Uhmm.. Tet..su..ya?"
To Be Continued
A/N : alohaaa aku balik lagi dengan fic absurd ini.-. gomen baru bisa update sekarang TwT selama bulan mei ini saya lagi banyak-banyaknya tugas dan kegiatan lainnya contohnya ya saya jadi panitia bunkasai sekolah dan bakal ada praktek senam irama yang mengaharuskan latihan mulu sama grup jadinya ya…. Fic ini ga keurus._.
Waktu di chap 2 kemaren ada reviewer anon yang ngasih kritikan membangun ke saya, kenapa saya bilang membangun? Karna kritikan itu ada untuk ngebuat diri kita lebih baik lagi kan? saya jawab disini yaa buat para guest reviewer~ untuk yg login seperti biasa lewat pm~
LoReGiChN-san : yakali ada anak sd bikin ff kayak gini kamu lucu deh.-. kalo soal typo… bukannya saya gabisa tp yaaa namanya jg manusia kan bisa typo juga :v tadinya ini fic pengen aku masukin ke genre humor dan hurt/comfort tapi karna pertimbangan peran ibu mereka yang gak terlalu dominan nantinya di chap-chap selanjutnya jadinya aku ganti jadi romance karna emang sejak awal ini cerita terpusat pada romance. WB itu apa? :| di chap ke depan akan saya rapikan tata tulisan saya karna saya juga masih belajar, makasih masukannya~^^
Meong-san : duhhhhhhh saya terharu ngeliat review dari kamu :") itu semua jawabanmu udah ngewakilin jawabanku buat LoReGiChN-san, tapi tujuan dia baik kok jadi kamu jangan marahin dia nanti dia sedih(?) oke ini udah update lagi ya semoga suka~^^
Salmaasuka-san : MAAFKAN DIRIKU YANG TAK BISA UPDATE KILAT (TWT) btw ini udah update ya^^
Ryuka-san : makasih^^ ini udah update ya~
Okay, mind to RnR?^^
