RED
Disclaimer :Kurobas punya mas fujimaki, Akashi punya saya /digampar
Pairing :Akashi x Kuroko
Genre : Romance, Hurt/Comfort, mungkin agak humor.-.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading~
Dan di pagi hari itu kedua sosok yang sama-sama memiliki surai berwarna merah itu pun mendapat kejutan dari kehadiran sosok misterius di depan rumahnya.
.
.
.
Kagami's Mansion
"..Tungggu dulu..KENAPA KAU BERKUNJUNG KE MANSIONKU SEPAGI INI, HAAAAH!?"
Sementara itu, sosok misterius di depannya menyeringai dan sedetik kemudian ia langsung memukul kepala Kagami
"ITTAIIIII! O-OI LEPASKAN!"
Selanjutnya ia langsung menyeret paksa Kagami untuk masuk ke dalam, setelah itu ia langsung mendorong Kagami ke satu-satunya sofa yang berada di mansion itu.
BRUG!
"Jangan berteriak BaKagami! Kau bisa membangunkan tetanggamu tahu!"
Kagami meringis sejenak, kemudian perempatan kekesalan terlihat di dahinya.
"SIAPA SURUH KAU BERKUNJUNG SEPAGI INI, HAAAH!? APA KAU TAK MELIHAT SAAT INI PUKUL BERAPA!?" teriak Kagami sambil menunjuk jam dinding yang bertengger tepat di seberang tempat ia duduk saat ini. Dan jam tersebut menunjukkan pukul 05.00 A.M atau jam 5 pagi.
Sementara itum sosok misterius tersebut nampak menghela napas dan selanjutnya menatap Kagami dengan tatapan serius.
"Maaf mengganggu waktumu Kagami-kun. Tapi, ada hal yang harus kubicarakan…"
Kagami memandang terdapat gurat kesedihan yang terpancar dari ekspresi orang di depannya, sepertinya ia sedang mengalami masalah
"Apa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka—"
Kagami menggantungkan perkataannya ketika melihat sosok di depannya seketika meneteskan air matanya.
"—Akashi-san?"
Ternyata sosok misterius yang saat ini berdiri tepat di depan Kagami adalah Akashi Natsuko. Tak lain dan tak bukan ibunda dari Akashi.
GREP!
"HUAAAAAA! AKU SEDIH SEKALI-SSU! KAU TAHU TECCHAN MENDERITA KARNA KESALAHANKU HUAAAA!"
"O-OI!"
Kagami seketika langsung salah tingkah akan perlakuan mendadak dari Natsuko. Bagaimana ia tidak salah tingkah? Baru saja dibuat kaget karna ia melihat natsuko menangis dan sedetik kemudian ia langsung menerjang dan memeluknya sambil menangis histeris.
'Sungguh berbanding terbalik dengan Akashi,' batinya.
"N-Nee… Akashi-san, lebih baik kau tenangkan dirimu dulu disini sebentar. Akan kuambilkan minum dulu untukmu," ucap Kagami sambil melepas pelukan Natsuko padanya.
Setelah itu,Kagami meninggalkan Natsuko di ruang tamu sendirian.
'Kalau perlakuannya seperti ini pantas saja Tecchan sampai jatuh hati padanya..'
-o.O.o-
Tuk.
"Maaf lama menunggu tadi aku membereskan dapur dulu, apakah kau sudah lebih baikan sekarang?" ucap Kagami sambil menaruh 2 cangkir cappuccino panas diatas meja.
"Un."
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Kuroko? Apa Akashi menyakitinya lagi?"
"….ya, bahkan lebih parah."
"Apa yang dilakukannya?"
Natsuko tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut melainkan ia lebih memilh mengambil secangkir cappuccino hangat di hadapannya kemudian meneguknya.
Setelah uap hangat keluar dari lenguhan napasnya,ia kemudian menunduk.
"Dia memperkosa Tecchan."
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Tak ada respon dari Kagami.
4 detik.
5 detik.
"Se-SERIOUSLYYY!?" teriak Kagami dalam bahasa inggris. Dibutuhkan waktu 5 detik bagi Kagami untuk mencerna setiap perkataan yang dilontarkan oleh Natsuko.
"Un."
"Bagaimana bisa?"
"Itu karna kau Kagami-kun. Sei-chan cemburu karna ia seringkali melihat Kuroko menghabiskan waktu bersamamu."
Kagami terdiam sejenak nampak berpikir.
"Tapi, bagaimana ia tahu kalau aku dan Kuroko sering bertemu? Bukankah ia sering pulang larut?"
"Apa kau lupa tentang negoisasi kita 3 bulan yang lalu? Aku meminta kau untuk membuat Sei-chan cemburu dan tentu saja dengan dibantu para maid dan supir pribadi Sei-chan. Setiap kalian melakukan aktivitas diluar mansionmu, supir pribadi Sei-chan selalu sengaja melewati kalian agar membuat Sei-chan cemburu-ssu. Awalnya Sei-chan biasa saja. Tapi, lama-lamaia curiga kalau Tecchan selingkuh denganmu….. Dan hal itu terjadi beberapa minggu terakhir ini, hingga akhirnya Sei-chan murka dan sering melampiaskan kekesalannya dengan berbuat kasar terhadap Tecchan," ujar natsuko panjang lebar.
"Tunggu, dari mana supir pribadinya itu selalu mengetahui saat kami sedang tak berada di mansion?"
"Para maid. Mereka selalu mengawasi pergerakanmu dari benda itu-ssu," ucap Natsuko sambil menunjuk sudut langit-langit ruang tamu Kagami.
Hening.
"Benda? Aku tak melihat apapun."
"CCTV super mini. Aku diam-diam memasangnya diseluruh sudut rumah ini~~ aku juga memasangnya di rumah Sei-chan~~"
GUBRAK.
Seketika Kagami menjatuhkan dirinya pada meja di depannya. Yah, kejadian itu mungkin akan terjadi dalam bila ini komik._. oke abaikan.
"MENGAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU TERLEBIH DAHULU!?"
"Kalau aku memberitahumu nanti tidak seru. Lagipula kau tidak menyadarinya 'kan? Ah, tenang saja. Aku tidak memasangnya di kamar mandimu kok~ Tapi,aku memasangnya di kamar mandi Sei-chan hahaha~" ucap Natsuko sambil tertawa bahagia.
'O-orang ini benar-benar iblis dan semaunya sendiri. Ternyata Akashi mendapatkan sifat itu darinya..' batinnya.
"Misi kita seharusnya sudah berhasil. Tapi, sayangnya kita mendapat hambatan yang harus diselesaikan."
"Hambatan?"
Natsuko mengambil jeda sejenak untuk mennghela napas.
"Kuroko jatuh cinta padamu. Dan saat ini ia kabur dari rumah dan berencana tinggal disini sementara untuk menenangkan perasaannya yang terluka."
.
.
.
"Haaaaaahhh!? Kok dia bisa mencintaiku!? Bukankah ia mencintai Akashi? Dan lagi kenapa ia bisa kabur dari rumah dan berniat tinggal disini!?" Pertanyaan beruntun itu membuat perempatan kekesalan tercetak di dahi Natsuko.
BRAG.
"MENGAPA KAU TIDAK PEKA SIH!? SIAPAPUN TENTUNYA AKAN MEMILIH MOVE ON APABILA ADA SESEORANG YANG DAPAT MEMBUATNYA BAHAGIA SETIAP HARINYA DARIPADA MEMPERTAHANKAN SESEORANG YANG SELALU MENYAKITI HATINYA! DAN ORANG YANG MEMBUAT TECCHAN BAHAGIA SETIAP HARINYA ITU KAU BAKAGAMI!"
Kagami pun sweatdrop seketika saat melihat Natsuko marah sambil membanting meja di hadapannya. Untungnya 2 cangkir yang berisi cappuccino itu tidak sampai menumpahi taplak mejanya.
"A-Akashi-san..kalau perkataanmu itu benar.. lebih baik kita segera sudahi pembicaraan ini sebelum Kuroko datang," ucap Kagami sambil berusaha menyuruh Natsuko untuk duduk kembali.
Setelah Natsuko kembali duduk, tak ada satupun dari mereka yang berniat membuka suara dan lebih memilih menghabiskan secangkir cappuccino mereka masing-masing yang sudah mulai mendingin.
"Kagami-kun, maaf..tapi bisakah kau menjalankan misi ini lebih lama lagi? Aku ingin kau makin membuat Tecchan semakin jatuh hati padamu selama ia tinggal disini," ucap Natsuko membuka percakapan.
"Tapi,Akashi-san… kau tahu kan kalau aku… sudah memiliki kekasih? Jujur saja kedatangan Kuroko nanti sedikit memberatkanku… aku takut ia nanti salah paham."
Natsuko menatap Kagami kaget, sedetik kemudian ia tersenyum simpul.
"Ah tenang saja, biar nanti aku dan Chihiro-chan yang menjelaskan pada kekasihmu itu. Tugasmu hanya untuk membuat Tecchan semakin mencintaimu hingga pada titik ia sangat bergantung padamu, dan kau harus berakting seolah kau membalas perasaanya."
"Akashi-san—"
"Jangan memotongku, aku belum selesai bicara."
Kagami bungkam dan menunggu Natsuko untuk menyelasaikan kalimatnya.
"Tak lama lagi, aku yakin anak itu pasti akan mengajukan cerai pada Sei-chan. Pada saat itu tiba, lamarlah Tecchan dan menikahlah dengannya. Setelah ia semakin mencintaimu, buatlah ia terjatuh pada titik dimana ia sulit untuk bangkit dengan mengungkap kalau sebenarnya pernikahan kalian hanyalah 'skenario' yang sudah terencana. Sebelum kau menjelaskan hal itu kau harus terlihat seperti berselingkuh dengan kekasihmu yang bernama… ah aku lupa siapa namanya…"
Hening.
"Aomine Daiki…." Kagami pun kembali sweatdrop.
"Ah iya, Aomine-kun! Pokoknya kau harus sering bermesraan dengannya di depan Tecchan, ya! Saat Tecchan kembali tersakiti nanti Sei-chan pasti akan datang untuk menyembuhkan hati Tecchan yang terluka~ Aku yakin Tecchan pasti akan memafkan Sei-chan dan akhirnya mereka rujuk kembali~"
Setelah mendengar penjelasan Natsuko yang sangat panjang itu,Kagami sampai bingung untuk menyanggahnya. Tapi, satu hal yang ia tangkap dari penjelasan tadi.
'Bagaimana ia bisa mengira masa depan seperti ini… apakah semua orang yang menyandang marga Akashi dapat 'melihat' masa depan?' batinnya.
"Akashi-san kurasa rencana ini terlalu kejam… dan pastinya akan menyakiti Kuroko, apa kau berniat untuk menyakitinya lagi?"
Natsuko terdiam dan mengalihkan pandangannya dari Kagami ke lantai tempat kakinya berpijak.
"Memang benar tindakan ini nantinya akan menyakiti Tecchan..asumsiku tadi belum bisa dibuktikan kebenarannya. Aku hanya menganalisanya bedasarkan tindakan yang akan aku ambil ini. Tapi percayalah padaku, meskipun Tecchan akan tersakiti, aku yakin nantinya ia akan bahagia bersama Sei-chan dan kau akan bahagia bersama Aomine-kun."
Kagami menatap Natsuko dengan tatapan sendu, seolah bisa memahami perasaan yang sedang dialami Natsuko.
"AH! Gawat, aku harus cepat pergi dari sini-ssu! Aku yakin tak lama lagi pasti Tecchan sampai."
Baru saja Kagami hendak menenangkan Natsuko, namun ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan bergegas lari menuju pintu yang berjarak tak jauh dari tempat ia duduk.
Drap. Drap.
Kriet.
"Kagami-kun pokoknya ingat ya, kau cukup laksanakan tugasmu dengan baik tenang saja para maid dan supir pribadi Sei-chan juga akan membantu~ Soal Aomine-kun serahkan saja pada kami. Kalau begitu aku permisi dulu. Jaaaa neeee~~"
BLAM.
Setelah pintu tertutup Kagami pun menatap pintu tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dasar… Mengapa aku harus selalu berurusan dengan orang-orang yang bermarga Akashi sih? Merepotkan."
-o.O.o-
Di sudut halte bis yang berlokasi tak jauh dari TK Higashi, sesosok pemuda berambut biru muda atau yang biasa kita kenal sebagai Kuroko Tetsuya sedang termenung sendirian.
Memandang jalanan yang hampir sepenuhnya tertutup putihnya salju 1 setengah jam lamanya terntunya akan terasa membosankan apalagi bila handphone mu dalam keadaan mati. Ditambah lagi semenjak tadi hanya sedikit orang yang berlalu lalang di sekitar halte bis tersebut, membuatnya merasa kesepian. Kuroko melirik arloji yang terlingkar di pergelangan tangannya.
'Kalau tidak salah bis pertama mulai beroperasi pada pukul 06.00 pagi. Padahal sudah jam 06.30 mengapa belum ada bis yang datang juga?' batinnya.
Setelah melirik arlojinya ia menghela napas untuk yang kesekian kalinya, pertanda kalau ia benar-benar sudah bosan menunggu.
Entah kenapa seketika perlahan rekaman memori tentang Akashi di masa lalu kembali terekam di otaknya.
Kuroko masih mengingat pertemuan pertama mereka saat di teikou dulu, saat dimana dirinya yang hampir terjatuh di jurang yang bernama 'keputus asaan'. Dia, AkashiSeijuurou, berbaik hati mengulurkan tangannya dan menemukan bakat terpendamnya hingga akhirnya ia bisa bermain di lapangan yang sama bersama teman-temannya yang dijuluki "Generation OF Miracles". Berkat Akashi pula yang telah menggali potensinya ia berhasil mendapat julukan "Pemain bayangan".
Akashi yang dulu menemukan bakatnya dan Akashi yang sekarang adalah orang yang berbeda, seolah ada Akashi lain di dalam Akashi. Dan ia menyadari perubahan itu saat hari dimana ia kehilangan '2 orang' yang menjadi penyemangatnya dalam hal basket. '2 orang' yang berharga dalam hidupnya. Yang pertama adalah 'cahanya' yang kedua adalah 'mataharinya'.
Meskipun ia berhasil mendapatkan 'cahayanya' yang baru, tetapi 'mataharinya' tak kembali hingga saat ini.
"Loh…. Tetsu?"
Suara seseorang yang memanggil namanya sontak membuyarkan dirinya yang sedang bernostalgia. Dan ia merasa familiar dengan panggilan tersebut.
"Aomine-kun."
"Wah sudah lama tak berjumpa ya, bagaimana kabarmu?"
Aomine pun segera mengambil posisi untuk duduk disamping Kuroko.
"Baik. Aomine-kun sendiri?"
"Aku sih selalu baik haha. Ah, ngomong-ngomong sedang apa kau sepagi ini berada di halte?"
"Menunggu bis tentunya Aomine-kun."
"Hahaha kau tidak berubah sedikit pun Tetsu!" ucapnya sambil mengacak-acak rambut Kuroko.
"Uh, hentikan Aomine-kun."
Setelah puas tertawa terjadilah obrolan singkat antar 'bayangan' dan 'mantan cahayanya' bertanya tentang kehidupan sehari-hari dan pekerjaan masing-masing. Yah, setidaknya Kuroko tidak lagi merasa bosan dengan kegiatan menunggunya itu.
"Lalu, Aomine-kun sendiri hendak melakukan apa sepagi ini?"
"Oh, aku? Aku sih tadinya ingin pergi ke rumah seseorang tapi aku bertaruh orang itu pasti belum bangun jam segini. Karna tak ingin mengganggunya kuurungkan niatku."
Setelah mendengar penuturan Aomine perlahan sudut bibir Kuroko melengkung keatas hingga membentuk senyum tipis.
"Mengapa kau senyum-senyum sendiri Tetsu?"
"Ah, tidak. Aku hanya merasa Aomine-kun sudah semakin dewasa ya."
"Jadi selama ini kau pikir aku tidak cukup dewasa? Haha, bisa saja kau."
Sedetik kemudian suara tawa ringan terdengar, mereka tertawa akan perkataan mereka sendiri.
"Yah, tapi kita sama-sama sudah menginjak usia dewasa sih, ng?"
Dari kejauhan terlihat bis yang sedaritadi ditunggu Kuroko.
"Yo, Tetsu sepertinya bis yang kau tunggu sudah datang. Kalau begitu sampai jumpa lagi. Senang bertemu denganmu," ucap Aomine sambil berdiri dari tempat sandarannya, dan Kuroko pun melakukan hal yang sama.
"Ha'i, Aomine-kun."
Setelah itu, Aomine pun meninggalkan Kuroko sendirian, setelah Aomine terlihat sudah sedikit menjauh dari pandangannya ia langsung menaiki bis yang terlambat 1 jam tersebut.
-o.O.o-
Akakuro's House
Jarang bagi Akashi untuk menampilkan ekspresi terkejut di hadapan orang lain. Tapi, sepertinya ia hanya akan menampilkannya di hadapan orang tertentu, contohnya kepada sosok yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.
"Kita harus bicara Akashi-kun."
Perlahan Akashi dapat merasakan keringat dingin mulai mengalir di sekitar permukaan telapak tangannya, pertanda ia sedang gugup.
Oh sungguh keadaan yang langka dapat melihat Akashi Aeijuurou dalam keadaan 'gugup' dan hal itu kontan membuat sosok di depannya semakin merasa senang meski ia tak mengekspresikan dari mimik wajahnya.
"Sebaiknya kita bicarakan di dalam, udara semakin dingin."
Setelah mengatakan hal tersebut sosok tersebut dengan lancang melalui Akashi dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu jawaban dari si pemilik rumah.
Dan entah sihir apa yang digunakan oleh orang tersebut hingga menyebabkan seorang AkashiSeijuurou yang menganggap dirinya absolut itu tunduk pada perintahnya. Mungkin bisa jadi orang ini memiliki kepribadian yang lebih menakutkan dari Akashi.
"Bukankah kau sudah diajarkan tata karma untuk menjamu tamu, Akashi-kun?" ucapnya setelah mendudukkan dirinya pada sofa yang berada di ruang tamu tersebut.
Perkataan tersebut bagaikan sengatan listrik untuk Akashi. Dengan cepat,iamemohon maaf dan membungkukkan badannya 90 derajat lalu selanjutnya ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan hidangan untuk disajikan pada orang tersebut.
Melihat kejadian barusan sontak membuat orang tersebut tak dapat menahan dirinya untuk tersenyum akan sikap Akashi yang 'gugup' tersebut, kapan lagi ia akan bisa melihat ekspresi AkashiSeijuurou yang seperti itu karna itu ia memutuskan untuk mengerjai Akashi lagi nanti.
Memikirkan hal itu saja hampir membuatnya tertawa lepas apabila orang yang menjadi target 'bully' nya itu tidak segera menampakkan diri dengan nampan berisi 2 cangkir vanilla latte di depannya. Dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi 'datar' kembali.
"Maaf menunggu."
Tuk.
Setelah menaruh nampan tersebut Akashi memilih untuk mengambil posisi duduk berseberangan dari orang tersebut.
"Kenapa kau duduk disitu? Duduklah disampingku. Ini perintah"
Akashi pun tak berkomentar dan menuruti perintah orang tersebut.
"Kau tahu... aku berkunjung sepagi ini ke rumahmu untuk membicarakan sesuatu yang penting, aku yakin kau bisa menebaknya."
"…"
"Hmmm, ada yang janggal disini. Dimana Tecchan?"
Sontak mata Akashi terbelalak sedetik kemudian ia menunduk menatap lantai.
"Dia kabur bukan? Tak apa aku sudah mengetahui semuanya dari Tecchan."
"Maaf…. Ibu."
Teryata sesosok misterius tersebut tak lain dan tak bukan adalah ibunda dari Kuroko—ah Akashi tetsuya, Kuroko Chihiro.
PLAK.
"Jangan kau kira setelah menyakiti Tecchan selama ini aku akan memaafkanmu dengan mudah, dasar brengsek kau!"
Akashi meringis setelah mendapat tamparan keras di pipi kirinya.
"MEMANGNYA APA SALAH TECCHAN HINGGA KAU TEGA SEKALI MEMANGGILNYA 'JALANG' HAAAAH!? APA KELUARGAMU YANG MENGAJARKAN PERKATAAN ITU TUAN MUDA AKASHI?"
Mendengar keluarganya dibawa dalam masalah ini tentu saja membuat Akashi naik pitam.
"Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah kau menghina keluargaku!"
"Hoo… baik maafkan aku,'tuan muda Akashi'," ucap chihiro memberi penekanan pada tuan muda Akashi.
"Aku mengatakan hal tersebut karna ia telah berselingkuh dengan Taiga, dan kau harus tau hal itu 'ibu'." Akashi pun memberi penekanan pada kata ibu saat mengucapkan hal tersebut.
"Fuhh jangan melawak, Anakku itu sangat mencintaimu bahkan sejak saat kalian masih SMP. Apa kau tidak bisa mempercayainya? Ah iya, aku lupa kau ini kan tidak mencintai Tecchan ya haha."
Sindiran halus yang diucapkan Chihiro tersebut membuat Akashi tertohok dan kembali merasa bersalah.
"Dengar, sebenarnya aku disuruh merahasiakan ini darimu tapi kalau keadaanya sudah seperti ini terpaksa aku harus memberitahukannya. Sebenarnya selama 3 bulan Tecchan itu meminta Kagami untuk mengajarinya memasak karna dia sungkan bila terus menerus membiarkan maid ataupun kami yang memasak."
"Mengapa ia tak pernah mengatakannya padaku?"
"Karna ia berusaha untuk menjadi istri yang baik makanya ia merahasiakan hal itu padamu… ia ingin kau mencicipi masakannya dan menilainya sendiri, tapi apa yang ia dapat dari kerja kerasnya tersebut? Bahkan aku bertaruh kau belum pernah menyentuh masakannya sama sekali."
"….."
"Tapi kau malah mencurigainya berselingkuh dengan Kagami-kun… dan menyudutkannya seperti itu. Jika aku yang berada di pihak Tecchan jujur saja pasti 1 bulan pun aku takkan kuat tinggal bersamamu—"
"Sudah…"
"—dan lebih memilih pria lain yang dapat membuat diriku bahagia tentunya. Ah aku sampai lupa kau ini membenci keberadaan Tecchan bukan? Tecchan bercerita padaku sambil menangis mengatakan kalau ia merasa tak enak padamu karna keberadaannya telah membuat dirimu 'risih'. Ia juga mengatakan padaku kalau 'Akashi-kun takkan pernah membalas perasanku karna sejak awal dia itu 'straight'."
Saat mengatakan hal tersebut tampak terlihat air mata sudah tak terbendung di pelupuk matanya.
"….Hentikan."
"KENAPA KAU TEGA SEKALI HAAAAH!? AKU TAHU KAU TAKKAN PERNAH MENCINTAI TECCHAN TAPI—"
"HENTIKANN!"
Seketika teriakan Akashi mengagetkan Chihiro dan membuatnya bungkam.
"YA, AKU MEMANG TIDAK MENCINTAINYA DAN SELALU MENYAKITINYA SELAMA INI….. TAPI AKU—"
"—AKU…"
Tes.
Tes.
"…..Akhirnya aku sadar kalau aku telah jatuh hati padanya."
Akashi menangis dan hal itu membuat Chihiro tak kuasa untuk membendung lagi air matanya.
Grep.
Setelah itu Chihiro pun mengulurkan tangannya dan mendekap Akashi.
"Maaf… Maafkan aku…Tetsuya..hiks."
"Sei-chan… lebih baik kau tenangkan dirimu dulu."
Setelah melepas pelukannya Chihiro pun mengambil secangkir vanilla latte yang mulai mendingin dan memberikannya pada Akashi. Kemudian mereka pun berusaha menenangkan diri mereka masing-masing dengan menyesap vanilla latte tersebut.
Hingga vanilla latte tersebut habis tak ada dari mereka yang berniat membuka percakapan. Namun sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di benak Akashi dan harus ia tanyakan pada ibunya.
"Ibu…. Ada yang ingin kutanyakan. Apa tetsuya memiliki perasaan kepada Taiga?"
Chihiro tak langsung menjawabnya melainkan ia terdiam sejenak, sedetik kemudian ia menghela napas dan menjawab pertanyaan Akashi.
"Kemungkinan… iya."
Mendengar jawaban tersebut seketika Akashi merasakan dadanya terasa sesak.
"Berjanjilah padaku… kau akan membuat Tecchan kembali," ucap Chihiro sambil menepuk pundak Akashi.
"Ya, akan kudapatkan permintaan maafnya dan membuat ia mencintaiku kembali."
Chihiro pun tersenyum simpul kemudian bangkit dari duduknya.
"Semoga kau berhasil Sei-chan."
BLAM.
.
.
.
Setelah ia menutup pintu tersebut, Chihiro langsung membuka handphonenya dan terdapat tulisan "1 New Messages".
.
From : Natsuko-chan (Fujo)
Subject : -
Aku sudah memberitahukan rencana kita pada si BaKagami sebelum Tecchan datang. Kuharap kau berhasil menceramahi Sei-chan. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memberitahukan rencana kita pada kekasihnya BaKagami itu. Semoga saja setelah ini Sei-chan langsung berusaha meminta maaf pada Tecchan dan memohon-mohon padanya untuk kembali ke sisinya. Fufu, aku sudah tak sabar untuk menantikan momen tersebut.
.
Begitu melihat isi pesan tersebut, seringai pun tercetak jelas di wajahnya. Dengan segera,ia mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut dan menekan tombol send.
Sepertinya misi yang sebenarnya baru saja dimulai.
.
-To Be Continued-
A/N : Holaaaa~ Akhirnya kesampean juga ngapdet chap baru dalam waktu seminggu /lebih dikit sih/~~ *nangis* yah soalnya lagi liburan juga sih jadinya ya ga ada kegiatan.-. 266Q-277Q selalu terbayang-bayang di otak ini aaaaaaa apalagi pas bagian Akashi naked xD /eh dan senyuman oreshi yang berhasil kuroko gagal nge-steal aaaaaaaaaaa*w*
Aku pribadi sih lebih suka bokushi jadi ga terlalu seneng oreshi balik.-./digampar oreshi fans. Tapi sepertinya kuroko lebih cinta sama oreshi jadi demi dia aku pun rela bokushi tukeran dulu sama oreshi~ /plak
Yap saatnya bales guest reviewer dulu~ yang login seperti biasa lewat PM~
kawaiiBibi-san : Haloooo~ nahhh saya juga setuju sama kamu kalo 3 chap pertama masih banyak kesalahan dalam penulisan terutama di penggunanaan EYD yang benar… karna saya juga author yang tergolong masih newbie dan harus masih banyak belajar jadi harap dimaklumi ya.-. untung aja saat ini sudah ada Beta Reader yang meminimalisir kesalahan dalam FF ini, lunee aku padamu lahhhh /plak
hmmm kalau masalah penggunaan diksi jujur ya saya ini sebenarnya kalau nulis sesuatu itu sesuai intuisi hati aja(?) jadi menggunakan diksinya juga yang terasa lebih nyaman aja di saya(?) atau mungkin kamu ini penikmat diksi yang berat ya.. saya sih suka dengan cerita dengan penggunaan diksi yang berat tapi kurang bisa mengaplikasikannya ke tulisan-_- terkadang diksi berat sendiri bisa membuat beberapa pembaca jadi ekhem malas membacanya dan kalau banyak mengandung diksi seperti itu pun saya rasa akan terasa monoton. Dan kalau alurnya yang kecepetan itu….. menurut saya itu benar..-_- tapi apa boleh buat cerita udh dibuat(?) yahhh untuk next ff saya akan coba untuk menyampaikan alurnya secara baik._.
Ohhh tenang aja selama liburan ini saya rajin marathon membaca karya orang lain kok bahkan sampai ngespam review di semua karyanya para author tersebut.-.
Yapp aku nangkep kok maksud dari semua isi review mu ini~ makasih loh ya reviewnya. Aku malah seneng kalau ada review yang sejenis ini(?) kan jadinya membuatku lebih terpacu lg untuk membuat karya yang lebih baik ke depannya~ dan aku seneng karna kamu peduli padaku arigatou gozaimasu TwT
Yuuka-san : ohhh oke /ngangguk2. Jawabannya bisa kamu dapetin di chap ini~ makasih yaaaa~~ aduhh kan jd ngefly(?) lagi baca reviewmu TwT
Okay, Mind to RnR?
