RED

Disclaimer : Kurobas punya mas Fujimaki, Akashi punya saya /digampar

Pairing : Akashi x Kuroko

Genre : Romance, Hurt/Comfort, mungkin agak Humor.-.

.

.

.

.

"Kami ingin menceraikan anak kami dan menjodohkannya dengan kekasihmu itu, Aomine Daiki. Dan tugasmu cukup untuk menghancurkan semua kebahagiaan Kagami-kun dan Tecchan."

.

.

Happy reading~


..

Hembusan angin menerbangkan helaian rambut mereka bertiga di sisi taman yang agak tersembunyi –layaknya di film saat seseorang tengah memberikan pernyataan yang mengagetkan.

"Kau..ingin aku merelakan Kagami untuk menikah dengan Tetsu?"

Natsuko nampak was-was karena nampaknya Aomine bukan tipe orang yang mudah untuk diajak bekerjasama.

"Ya."

Tatapan intens dikeluarkan baik dari sisi Aomine maupun Chihiro.

Dari kedua kubu sepertinya tidak ada yang ingin 'mengalah' terhadap ego nya masing-masing.

"Aku menolak."

"Aku sudah tahu jika kau akan menjawab hal itu Aomine-kun."

Natsuko takut bila akan terjadi keributan disini, masalahnya genderang perang sudah mulai tercipta diantara mereka. Jika mereka ribut ya kalian bisa bayangkan seorang fujoshi bila otp kesayangannya tidak canon gimana? Pastinya akan terjadi fanwar.

Pada awalnya Chihiro ingin menyatukan AkaKuro namun sepertinya KagaKuro lebih mendominasi dan greget jadinya ya dia pindah otp untuk sementara.

Karena ia dapat melihat sendiri kalau KagaKuro itu momentnya lebih banyak ketimbang AkaKuro.

Di lain pihak sang seme dari orang yang bersangkutan tidak terima bila uke tersayangnya akan dipasangkan dengan sahabatnya sendiri yang memiliki tampang imut, Aomine jujur pernah memiliki perasaan padanya saat SMP dulu.

Oh tapi jangan lupakan imut saja tidak akan membuat seorang Aomine berkutik setengah mati.

Bukankah kalian sudah mengetahui tipe cewek / uke idaman Aomine?

Sexy.

Ya, sexy.

Dan Kuroko tidak memiliki itu makanya ia move on ke Kagami.

Entah mengapa alur cerita ini lebih ruwet ketimbang tukang porridge naik haji.

Ingat tidak boleh menyebut merk.

Maaf sepertinya ini sudah out of topic. Baiklah mari kita lihat keadaan Aomine dan Chihiro kembali.

Di satu sisi Natsuko masih sangat takut bila mereka bertengkar, segera ia ambil telpon genggam dari dalam tasnya untuk menghubungi Kuroko.

"Kuroko-san."

Setelah mendengar suara Aomine, Natsuko mengurungkan niatnya untuk menelpon Kuroko.

'Lebih baik aku lihat situasi dulu.'

Chihiro menatap Aomine intens dan beberapa detik kemudian barulah ia bersuara.

"Apa?"

"Aku memang menolak tawaranmu tapi bukan berarti aku tidak ingin Tetsu bahagia. Aku hanya tidak bisa merelakan bila Kagami.. er—menikah dengan orang lain? Maaf bila nada bicaraku tadi sedikit tidak enak didengar."

Seketika Natsuko jawdrop.

Seorang Aomine meminta maaf sesopan ini?

Tolong bangunkan Greenday saat bulan September berakhir baru ia akan percaya bahwa pemandangan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri adalah benar.

Chihiro pun tidak kalah kaget mendengar penuturan Aomine. Sedetik kemudian senyum mengembang di wajahnya.

"Aomine-kun maafkan diriku juga yang sejak awal telah melibatkan kekasihmu.. aku yakin meskipun akhir-akhir ini ia bersama Tecchan namun di dalam hatinya tetaplah namamu yang ia sebutkan, bukan nama anakku maupun pria lainnya."

'Entah kenapa atmosfer disini terasa seperti pertemuan anak dan ibu yang sudah lama tidak bertemu..' Batin Natsuko.

Aomine tersenyum kecil dan setelahnya mereka berjabat tangan tanda berbaikan(?)

Natsuko pun ikut senang.

Semuanya bahagia dan-

Maaf sepertinya masalah sang tokoh utama belum terselesaikan.

.

.

.

.

"Kuroko-san, Akashi-san, jika kalian tidak jadi menjodohkan Kagami dan Tetsu apa rencana kalian untuk menyatukan anak kalian kembali?"

Saat ini mereka bertiga telah berpindah lokasi untuk membahas masalah cinta anak mereka yang melibatkan Kagami ke tempat yang lebih fancy.

Sebenarnya cuma restoran biasa sih.

Setelah mendengar perkataan Aomine keduanya pun saling berpandangan lalu tersenyum setan.

"Tenang saja Aomine-kun kami memiliki Plan-B." Ucap Natsuko dengan senyuman menakutkan tercetak jelas di wajahnya, ternyata senyuman Akashi sesudah potong poni saat pembukaan winter cup diwarisi darinya.

"Ya, kau tenang saja. Kali ini kami tidak ingin melibatkan Kagami lebih dari ini. Biarlah anak kami sendiri yang menyelesaikan masalah mereka. Kami pun ke depannya tidak akan mencampuri urusan pribadi mereka. Kami sadar kami sudah bertindak terlalu jauh." Ujar Chihiro.

'Kenapa tidak sejak awal dua fujo ini berpikir demikian..' Batin Aomine.

"Kau yakin Chihiro kita tidak akan mencampuri urusan mereka lagi?"

"Ya, bukankah itu Plan-B kita?"

Natsuko diam dan memutuskan untuk tidak bertanya apapun lagi.

"Jika memang seperti itu.. aku berani bertaruh bahwa Tetsu saat ini sudah memiliki perasaan cinta terhadap Kagami."

"!"

Baik Natsuko maupun Chihiro kaget dengan pernyataan Aomine,

Mereka memang memperhitungkan hal itu, karena orang yang sakit hatinya pasti akan mencari peraduan yang lebih baik bukan? Atau istilah kerennya move on. Tapi tetap saja mereka masih sulit untuk mempercayainya.

"Itu hanya asumsiku."

"Ao—"

"Kita harus segera memisahkan Kagami-kun dan Tecchan jika memang Plan-B ingin terlaksana dengan baik!" Seru Natsuko.

Chihiro dan Aomine menatap Natsuko yang langsung beranjak dari kursinya.

"Kau benar."

Setelahnya mereka bertiga pun segera meninggalkan restoran tersebut dan menyusun rencana untuk memisahkan Kagami dan Kuroko.

Nampaknya kali ini Aomine ikut andil dalam rencana mereka.

-o.O.o-

Saat ini suasana siang hari tidak terlalu panas maupun dingin, seorang pria bersurai biru muda tengah menjemur pakaiannya di taman rumah yang berukuran minimalis.

"Kuroko kau tidak perlu melakukannya, biar aku saja."

Begitu mendengar suara tersebut sosok itu berbalik dan memberikan senyum simpul kepada pemilik suara tersebut.

"Tidak apa Kagami-kun, anggap saja ini rasa terima kasihku karena diperbolehkan menginap disini untuk sementara waktu."

"Tapi—"

"Bukankah kau sedang memasak?"

Ekspresi Kagami seketika langsung panik.

"Ah! Kau benar."

Dan ia langsung berlari menuju dapur.

Melihat tingkah laku Kagami-kun tanpa sadar menimbulkan rona merah di wajahnya.

Bodoh namun memikat.

Itulah Kagami.

Tak ayal pelatihnya dulu memberinya julukan 'Bakagami' atau 'Si bodoh Kagami'.

Bila mengenang masa SMA yang ia lewatkan bersama Kagami dulu entah kenapa membuatnya tidak bisa berhenti untuk tidak mengulum senyum.

Seirin, Interhigh, lalu Winter Cup, tidak lupa juga saat Kiseki No Sedai dan juga Kagami berhadapan dengan Jabberwocky, tim basket dari Amerika.

Semua kenangan itu menari-nari di dalam memori Kuroko.

Seolah kejadian seperti itu baru saja terjadi kemarin.

Entah mengapa diantara semua kepingan kenangan itu terbesit saru nama yang membuat dadanya seketika bergemuruh.

Akashi Seijuurou.

Seketika kenangan indah masa SMA itu berubah menjadi bayang-bayang wajah Akashi.

Ia tidak ingin mengingat baik nama maupun wajah itu lagi.

Kisah mereka telah berakhir, dan Kuroko sama sekali tidak ingin melanjutkannya.

Karena bila ia melanjutkannya sama saja ia menyakiti dirinya dan Akashi sendiri.

Kenangan singkat mereka telah ia kubur di lubuk hati yang paling dalam, dan ia bersumpah tidak ingin menggalinya kembali.

Ah sepertinya kau salah Kuroko, Malah sang Emperor sendiri sangat ingin kisah kalian berlanjut.

Tanpa sadar air mata mengalir dari pelupuk mata Kuroko.

Ia ingin mennghilangkan semua kenangan itu, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia ingin bahwa suatu hari nanti Akashi sendirilah yang akan menggali dan mengambil serpihan kenangan itu.

Bolehkah ia berharap?

.

.

.

.

Dari kejauhan sesosok pria bersurai merah cerah tengah berdiri di bawah pohon mengamati lelaki yang tengah mengusap air matanya dan kembali melanjutkan aktivitas menjemur pakaiannya itu.

Tidak ada keinginan mendekat.

Cukup dari jarak ini ia sudah senang bila orang yang sangat ia cintai baik-baik saja.

Tapi ada sedikit pertanyaan yang berkecamuk di dalam dirinya.

'Apa yang menyebabkan Tetsuya menangis? Apa Kagami sialan itu membuatnya menangis? Atau malah ia ingat akan semua kejahatanku?'

Ingin ia mengusap air mata itu dan menarik orang itu ke dalam dekapannya, dan sekali lagi mencium aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya.

Kemudian ia ingin mencecap bibir itu lagi, meskipun dalam pikiran yang samar-samar ia masih dapat merasakannya rasa yang ditimbulkan dari berciuman dengan istrinya tersebut.

Vanilla.

Kuroko Tetsuya identik dengan aroma dan rasa itu.

Dan Akashi menyukainya.

Namun apakah kesempatan tersebut akan datang lagi padanya yang telah meyakitinya?

Biarlah seperti ini dulu.

Akashi masih belum siap untuk bertemu Kuroko, paling tidak untuk hari ini.

-o.O.o-

Begitu terdengar suara pintu tertutup, Kagami segera menolehkan pandangannya.

"Oh Kuroko kau sudah selesai?"

"Sudah" jawabnya datar.

"Maaf ya sebentar lagi aku selesai, kau tunggulah di meja makan."

Setelah mendengar perintah Kagami, ia pun mengambil posisi duduk tepat berhadapan dengan Kagami yang sedang memasak.

Namun dari sudut pandang ini ia hanya bisa melihat punggung gagah Kagami.

Ia sedikit iri melihat kelihaian Kagami dalam memegang peralatan dapur, ah andai ia mempunyai keterampilan memasak seperti itu.

Paling tidak ia sudah bisa membuat menu makanan yang tergolong mudah, ini semua berkat Kagami yang mengajarinya sejak 4 bulan lalu.

Tuk.

"Nah Kuroko makanan sudah siap, maaf menunggu ya."

Kuroko pun kembali dari lamunannya.

"Ah tidak apa Kagami-kun."

Setelahnya tidak ada sama sekali yang membuka pembicaraan saat makan, mungkin mereka larut akan perasaan masing-masing.

Selang beberapa menit mereka telah menghabiskan makanan mereka masing-masing.

"Biar aku yang bereskan." Ucap Kuroko sambil beranjak dari tempat duduknya.

Kagami melirik Kuroko sejenak kemudian ia tersenyum simpul.

"Tolong ya."

Kuroko pun dibuat berdebar olehnya dan langsung memalingkan wajahnya?

Dan sepertinya Kagami menyadarinya.

Namun ia memilih seolah tidak tahu dan berjalan menuju ruang TV untuk menonton acara favoritnya.

Setelah selesai mencuci piring, Kuroko pun menghampiri Kagami yang sedang duduk di sofa sambil memakan cemilan.

Sepertinya orang ini mulai tertular kebiasaan makan banyaknya Murasakibara. Yah walaupun Kagami termasuk orang yang suka makan namun ia kurang begitu suka memakan cemilan.

"Kagami-kun."

"Hmm?"

"Boleh aku berbicara sesuatu padamu."

Kagami memiliki feeling tidak enak namun ia berusaha menepisnya.

"Tentu saja boleh Kuroko."

Kuroko pun mengambil posisi lebih dekat dengan Kagami, orang yang bersangkutan sepertinya tidak masalah bila sahabatnya itu mendekat.

"Maaf bila pertanyaan ini agak mengganggumu kau bisa tidak menjawabnya.. Jadi—"

Kagami menegak ludah untuk menghilangkan rasa gugupnya. Entah mengapa mata bulat Kuroko seakan sedang menelanjanginya saat ini.

"—Ada hubungan apa kau dengan Aomine-kun."

'Crap.'

Sudah ia duga cepat atau lambat pasti Kuroko akan mengetahui hal itu.

"T-Tidak ada apa-apa."

"Kalau tidak ada apapun mengapa kau terlihat gugup? Dan mengapa kau memalingkan wajah?"

Karena takut akan ketahuan, akhirnya Kagami berusaha bersikap tenang dan menatap Kuroko kembali.

"Aku tidak gugup."

"Kau bohong Kagami-kun, sudahlah aku sudah tahu semuanya. Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dariku."

Kagami bungkam.

"Waktu itu.. saat aku kemari karena jengah dengan tindakan Akashi-kun, Aku melihat kalian—"

Kagami pun menunggu kelanjutan perkataan Kuroko dengan was-was.

"—bermesraan di ruang tamu."

Ya. Sepertinya dihadapan sahabatnya ini Kagami sudah tidak bisa menutupi apapun lagi.

"Haaaah, Baiklah akan kujelaskan hubunganku dengan si Ahomine itu."

Kuroko nampak menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Kagami dengan sedikit antusias.

"Kami adalah sepasang kekasih, dan juga dia adalah tunanganku."

DEG

Kuroko langsung lemas seketika, jantungnya seolah tiba-tiba terjatuh seperti hal nya naik jetcoaster. Ah bahkan rasanya lebih dari itu.

Ia sudah bisa memperhitungkan jika Aomine dan Kagami adalah sepasang kekasih, lalu kalau tunangan?

Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.

"Kuroko.. maaf bila tindakanku akhir-akhir ini membuatmu sedikit salah paham, tapi tolong jangan jatuh cinta padaku."

"…."

"Maaf bila aku berkata seperti itu."

"Kagami-kun."

"Hmm—"

PLAK

Satu tamparan telak di pipi Kagami tercipta.

"...Kalau memang kalian telah bertunangan seperti itu.. mengapa kau menerimaku untuk tinggal disini baka."

Kagami meringis dan berusaha menjawab pertanyaan Kuroko.

Sepertinya ia sudah tidak bisa berbohong lagi soal rencana penyatuan AkaKuro yang dilakukan oleh ibu dan ibu mertuanya.

"Ini semua karena ibu dan ibu mertuamu Kuroko. Mereka yang menyarankan agar kau tinggal di rumahku, karena mereka dapat menebak apabila kau disakiti Akashi pasti kau akan kesini."

Ah namun ia tidak bisa menjelaskan seluruh kebenarannya pada Kuroko.

Mungkinkah ini yang mereka sebut sebagai berbohong untuk kebaikan?

"Begitu."

Setelahnya Kuroko langsung beranjak dari posisi duduknya dan pergi menuju kamar tempat ia tidur untuk sementara waktu.

"O-Oi Kuroko?"

Perkataan Kagami tidak mendapat sahutan apapun.

"Kuroko."

1 detik

2 detik

3 detik

..

10 detik

Akhirnya Kagami berdiri dan menyusul Kuroko ke dalam kamarnya.

"Apa yang kau lakukan?"

Ia melihat Kuroko sedang melipat baju dan memasukkannya ke dalam koper yang berada di depannya.

"KUROKO!"

Lagi perkataan Kagami tidak mendapat sahutan apapun.

Karena jengah akan sikap Kuroko yang mengabaikannya akhirnya Kagami mengambil tindakan sedikit kasar.

Dengan cepat ia menggenggam lengan Kuroko yang membelakanginya dan menariknya agar mereka saling berhadapan.

Betapa kagetnya Kagami begitu melihat Kuroko yang sedang menangis.

Bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun ia tak mampu.

"Lepaskan aku Kagami-kun."

Akhirnya Kagami memilih melepaskan genggamannya dari lengan Kuroko dan membiarkan ia melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.

"Kau tahu Kagami-kun aku kecewa pada diriku sendiri."

"…"

"Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Akashi-kun, tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu, dan tidak bisa menjadi kebanggaan orangtuaku."

Kagami lebih memilih diam dan mendengarkan penuturan Kuroko.

"Aku sangat mencintai Akashi-kun tapi aku sadar aku belum cukup baik untuknya, wajar bila ia membenciku. Tapi.. sudahlah aku sudah membuang perasaan itu padanya."

"…"

"Masalahnya setelahnya ada perasaan lain yang menjalar di setiap sentuhan, perkataan, dan juga melihatmu sendiri sudah membuat jantungku berdetak tidak normal."

"!"

"Mereka bilang itu yang namanya cinta bukan? Aku tidak ingin mempercayai itu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri—"

Setelah itu terdengar suara resleting yang tertutup, kemudian Kuroko bangkit dan menggeret Koper itu menuju pintu keluar kamarnya.

Namun ada Kagami yang berdiri di depannya, otomatis ia saat ini berdiri tepat di hadapannya.

"—Ada satu sisi di ruang hatiku yang dipenuhi oleh namamu. Kagami Taiga-kun."

Untuk sekedar membalas ucapan Kuroko saja ia tak mampu, apalagi bila membalas perasaan?

"Maaf bisa kau memelukku? Paling tidak dengan ini aku berharap kedepannya perasaanku untukmu perlahan akan menguap."

Kagami perlahan memperpendek jarak mereka, lalu selanjutnya ia melingkarkan tangannya di pundak Kuroko.

Beberapa detik kemudian sesuatu yang diluar dugaan terjadi.

Sebuah kecupan di kening yang berselang tidak terlalu lama berlangsung.

Kuroko jelas melebarkan bola matanya tanda terkejut, sungguh ini diluar dugaan. Kontan hal itu membuat muka Kuroko memerah dan ia langsung mendorong Kagami.

"A-apa-apaan kau Kagami-kun!" Ucapnya sedikit berteriak dan memalingkan wajahnya.

"Kau gugup Kuroko?"

Entah mengapa ini lebih seperti balas dendam eh?

"Haha maaf ya mengagetkanmu seperti tadi."

Kuroko menatap Kagami kesal.

"Jujur, aku senang mengetahui fakta jika kau memiliki perasaan terhadapku. Tapi maaf aku tidak bisa membalasnya."

Kuroko pun mengulum senyum tipis.

"Tidak apa Kagami-kun. Sepertinya Akibat ciuman di kening itu membuat perasaanku terhadapmu menguap seketika. Lagipula sudah ada Aomine-kun yang membahagiakanmu, Meskipun sedikit bodoh tapi ia orang yang baik."

Kagami pun tertawa renyah untuk mengurangi rasa canggung yang sempat tercipta diantara mereka.

"Hahaha kau ini ada-ada saja Kuroko."

Setelah itu mereka berdua pun segera menuju ke pintu keluar.

-o.O.o-

"Kau benar-benar ingin pergi Kuroko?" Ucap Kagami sedikit tidak rela, kenyataannya ia hanya sendirian di rumah. Dengan kata lain dengan adanya Kuroko paling tidak ia senang memiliki teman mengobrol.

"Iya."

"Kau mau kemana setelah ini?"

Pertanyaan Kagami membuat Kuroko tersadar bahwa ia tidak memiliki rumah untuk pulang lagi.

"Aku tidak mungkin kembali ke tempat Akashi-kun, mungkin aku akan ke rumah ibu."

"Hmm, Kalau begitu titip salam untuk Kuroko-san ya."

"Umm."

Setelah itu mereka pun berpamitan.

Namun baru saja beberapa langkah Kuroko keluar dari rumah Kagami terdengar suara orang yang berteriak kencang.

"KUROKO BERJANJILAH PADAKU CEPAT ATAU LAMBAT KAU AKAN BERBAIKAN DENGAN BAKA-AKASHI ITU YA!"

Kuroko merutuk perbuatan Kagami yang berteriak seperti itu saat siang bolong. Bagaimana bila ia dihajar tetangganya karena telah membangunkan orang yang sedang tidur siang?

'Baka-akashi? Bagaimana bila Akashi-kun mendengar itu bodoh. Bisa-bisa kau tidak bisa melihat mentari terbit lagi besok.' Batin Kuroko.

Kuroko hanya tersenyum simpul tanda ia mendengar teriakan Kagami.

Memangnya siapa yang tidak mendengar suara teriakan yang masih berjarak kurang dari 100 meter itu?

Setelahnya mereka benar-benar berpisah.

Tanpa kagami sadari setelah berbalik Kuroko langsung menumpahkan air matanya kembali.

'Biarlah perasaanku padamu aku simpan selalu di sudut hatiku. Terima kasih untuk semuanya Kagami-kun.'

Segera ia menghapus air matanya dan menatap jalan dengan senyum mengembang di wajahnya.

Setelah ini ada hal penting yang harus ia tanyakan pada ibu dan ibu mertua mereka.

.

.

.

.

.

Tok Tok

Baru saja Kagami-kun duduk di sofa empuknya setelah melepas kepergian sahabatnya mengapa ia sudah kembali lagi kesini?

'Mungkin ada barang yang tertinggal'

Tok Tok

Kagami segera beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu. Betapa kagetnya bahwa orang yang berada di depannya saat ini bukanlah sahabatnya, Kuroko Tetsuya.

Bukan juga kekasihnya, Aomine Daiki.

"Bisa kita bicara sebentar?"

.

.

-TBC-

A/N : Halo Minna-san! Ya ampun ga kerasa udah berapa lama ya ff ini ga dilanjut ;;_;; saya pribadi sebenernya pengen banget ngelanjutin ff ini dari kapan tau, eh sayangnya terlalu banyak godaan dan hambatan.. yaudadeh jadinya ff ini terlantar /dor.

Saya seneng bgt selama ini masih tetep ada yang ngefav dan follow ff abal ini ;;_;; rasanya gimana ya.. berarti masih ada beberapa pembaca baru yang suka sama ff saya ;;_;; pernah memutuskan pengen di discontinued ff ini, tapi melihat beberapa author yg msh aktif nulis di sela kegiatan mereka saya jadi termotivasi. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak?

Dan lagi saya kasian sama (mungkin aja ada) yang nungguin ff ini, soalnya sebagai readers saya tau rasanya nunggu ff yang lama ga update2 itu gimana, bahkan saya waktu itu sampe sering ngecek ke profil authornya eh gataunya selang berapa lama ada tulisan DISCONTINUED di summarynya-_-

Maaf saya terlalu hebring karena bisa nulis author's note lagi setelah sekian lama wkwk.

Mind to RnR?^^