RED
Disclaimer : Kurobas punya mas Fujimaki, Akashi punya saya /digampar
Pairing : Akashi x Kuroko
Genre : Romance, Hurt/Comfort, mungkin agak Humor.-.
.
.
.
.
.
Happy reading~
…
Beberapa kata yang dilontarkan sosok pemuda yang memiliki tubuh pen—kurang tinggi di depannya itu sukses membuat sang pemilik rumah seketika langsung ketar-ketir dan memanjatkan do'a pada yang maha kuasa.
Tidak pernah ia sangka bahwa kedatangannya di siang bolong seperti ini bagaikan melihat aurora di langit jepang.
Mustahil.
"Bisa kita bicara sebentar?" Ulangnya sekali lagi dengan perkataan dan nada yang sama.
Seketika otaknya langsung merespon cepat perkataan tersebut dan langsung mempersilahkan si tamu misterius tersebut masuk terlebih dahulu.
Kau harus memperlakukan tamu sebagai raja bukan?
Setelahnya suara pintu rumah tertutup terdengar dan pembicaraan intim mereka dimulai.
.
.
.
.
Tidak biasanya ia merasa setakut ini, padahal sosok yang berada di depannya bukanlah seekor anjing.
Mungkin kita harus menambah satu poin kelemahan Kagami.
Yaitu—
"Apa yang menyebabkan Tetsuya pergi dari sini, Taiga?"
Akashi Seijuurou.
Pertanyaan yang lebih seperti interogasi itu membuat keringat dingin seketika mengalir dari pelipis Kagami. Entah mengapa ia merasa seperti pacar dari orang yang telah bersuami.
Lebih tepatnya selingkuhan.
Bukan. Bukan ia takut kepada sosok cebol berambut merah yang memiliki tatapan tajam bak gunting itu.
Masalahnya Kuroko—sahabat sekaligus partnernya selama bermain basket itu adalah istri dari Akashi Seijuurou yang dengan seenak jidat datang dan pergi dari rumahnya.
Dalam hati ia mengumpat.
'Brengsek. Kenapa juga aku harus takut dengannya? Pasti kau bisa menjelaskan semuanya Taiga.'
Baru saja Kagami hendak menjawab pertanyaan Akashi, sayang si pemilik emperor eyes ini lebih dulu untuk membuka suara.
"Aku tanya sekali lagi padamu, mengapa Tetsuya pergi dari sini, Taiga?"
Akashi telah menaikkan nada bicaranya 1 oktaf, pertanda bahwa ia tidak suka bila diabaikan.
Tidak ada alasan untuk lari lagi.
Hadapi semua masalah yang ada di depanmu meskipun hal itu adalah anjing atau kecoak terbang sekalipun.
Itulah lelaki sejati.
Kagami menghembuskan napas perlahan lalu menatap mata Akashi intens.
"Aku akan jelaskan semuanya Akashi, termasuk sesuatu yang aku rahasiakan dari Kuroko sekalipun. Apa kau tidak keberatan bila aku menceritakannya sampai akhir, mungkin lebih seperti err—mendongeng?"
Akashi menatap iris merah gelap didepannya dengan tatapan datar sekaligus mengintimidasi. Tidak ada kebohongan disana. Ia percaya apapun yang keluar dari mulut Kagami nantinya bukanlah suatu kebohongan.
"Baiklah."
-o.O.o-
Di lain pihak kali ini pemuda berambut biru muda atau yang kita kenal sebagai Kuroko Tetsuya kini sudah berada di depan rumah mewah mertuanya.
Tujuannya jelas. Menanyakan semuanya tentu saja.
Bukannya selama ini ia bertindak sok polos atau seolah tidak tahu, tapi ia menunggu saat yang tepat untuk menanyakan segudang pertanyaan yang bersarang di benaknya.
Dua ketukan ia lancarkan pada pintu kayu di depannya.
"Okaa-san ini aku Tetsuya."
—Lagi ia mengetuk pintu bergaya eropa itu beberapa kali namun tidak menerima sahutan dari si pemilik rumah.
Mungkin saja si pemilik dengan besannya itu sedang asik mendengarkan BL-CD.
Mungkin.
Selang beberapa detik akhirnya pintu itu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita yang diperkirakan belum memasuki usia emas namun memiliki surai kuning keemasan berdiri di depannya.
"Tecchan! Kukira siapa, ayo silahkan masuk."
Aneh di rumah yang semewah ini mana mungkin tidak ada satupun maid, butler, dan supir yang mendengar suaranya. Terakhir kali ia menginjakkan kaki disini terdapat beberapa maid dan butler yang menyambutnya. Kemana mereka semua?
Biarlah pertanyaan itu ia simpan untuk nanti.
Setelah mendudukkan diri di kursi, langsung ia disuguhi minuman hangat dan beberapa cemilan.
Kejanggalan tersebut makin terasa aneh dikarenakan maid yang biasa melayani tamu absen.
—Seolah semuanya dibuat menghilang?
Entahlah.
"Tecchan ada apa mampir kesini?" Ucap Natsuko mengawali pembicaraan.
"Eng.. apa ibu ada disini okaa-san?"
Hoo.. Nampaknya Kuroko bingung hendak menjawab pertanyaan mertuanya, Mana mungkin ia berkata jika ia beberapa hari lalu bertengkar dengan anaknya dan memilih menginap di rumah lelaki lain.
Sayangnya Natsuko dan ibumu itu telah mengetahui semua itu lebih dulu Kuroko Tetsuya.
"Chihiro-chan baru saja pulang beberapa jam yang lalu."
"Begitu.."
Suasana yang tercipta terasa sunyi sekali, tak ayal hanya mereka berdua yang berada di rumah yang besarnya sulit untuk di deskripsikan itu. Dan mereka berdua memilih diam seribu bahasa untuk menyusun pertanyaan maupun jawaban yang akan ditujukan pada lawan bicara.
Entah mengapa kursi yang mereka duduki makin terasa panas.
"Okaa-san, aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Ada beberapa yang ingin kutanyakan padamu dan ibu."
Cepat atau lambat baik Natsuko maupun Chihiro telah dapat memprediksikan hal ini akan terjadi.
…
Setelah pergi dari restoran yang mereka bilang fancy tersebut, segera mereka berlari menuju markas kebanggaan dua emak fujo itu.
"Eh.. tempat apa ini?"
"Ini markas kami Aomine-kun, mungkin dari luar tidak terlalu besar, siapkan dirimu ketika masuk ya."
Aomine merinding setengah hidup, dari luar tempat itu nampak sedikit menyeramkan. Bagaimana kalau di dalamnya terdapat hantu? Membayangkannya sudah membuat pemilik tan skin itu merasa mual.
"Tidak usah bermuka seperti itu Aomine-kun, Memang dari bangunan depannya sudah menyeramkan ya? Seharusnya waktu itu aku memperbaiki tempat ini dulu ya haha."
Perkataan Natsuko ia anggap angin lalu, yang ia inginkan adalah semoga tempat itu tidak terdapat 'hantu' atau makhluk astral lainnya.
Kriet
"!"
Begitu pintu terbuka Aomine benar-benar dibuat tidak bersuara.
Ia dibuat takjub dengan satu LCD yang berukuran sangat besar layaknya layar bioskop tersaji di depannya.
"A-Apa-apaan ini!?"
Natsuko dan Chihiro pun mengambil dua langkah di depan Aomine. Selanjutnya mereka menyeringai dan berkata
"Selamat datang di ruang rahasia kami Aomine-kun."
"Di tempat ini kau akan mengetahui semua kebenarannya." Ucap Chihiro
"Dan kau akan dapat membantu kami untuk memecahkan masalah mereka." Timpal Natsuko.
Aomine hanya dapat diam dan menunggu kelanjutannya.
Setelah berkata demikian, Natsuko mengambil posisi duduk dan Chihiro berdiri di sampingnya. Selanjutnya Aomine akan mendapat kejutan yang lebih dari ini
"Ap—"
DI layar LCD super besar itu menampilkan 9 sudut yang berbeda dari sebuah rumah yang tergolong besar. Lalu di bagian ruang tamu terlihatlah dua orang pemuda yang sangat familiar tengah bercengkrama dengan asyiknya.
"Mungkin kau bisa menebak siapa yang berada di layar itu dan dimanakah mereka, Aomine-kun"
Aomine menggertakan giginya tanda jengah akan sikap kedua orang tua sahabatnya yang sudah kelewat ikut campur, namun ia tidak memiliki kuasa untuk marah akan hal tersebut.
Sudah jelas dua orang yang berada di layar itu adalah Kuroko Tetsuya dan kekasihnya, Kagami Taiga. Sudut-sudut rumah itu tentunya rumah milik Akashi dan Kuroko.
"Jadi selama ini kalian…"
"Tenang saja kekasihmu itu telah mengetahui hal ini."
Setelah menjelaskan segala detail ke Aomine, akhirnya pemuda berkulit tan itu semakin bingung dengan semua ini.
"Hmm.. lalu tujuan kalian memberitahuku tentang ruangan ini untuk apa?"
"Tidak ada alasan khusus sih sebenarnya, habisnya jika kita berdiskusi di rumahku ataupun di rumah Chihiro pasti Sei-chan ataupun Tecchan akan kaget melihat kehadiranmu."
'Bukankah mereka sedang tidak bersama…lagipula mereka berdua tidak tahu kalau aku kekasihnya bakagami itu.' Batin Aomine
Setelahnya tiba-tiba muncul pertanyaan yang selanjutnya menjadi kunci dari akhir permasalahan mereka.
"Jika kalian tidak ingin mencampuri urusan mereka lagi, mengapa semua kamera cctv itu tidak dicabut saja?"
Pernyataan yang keluar dari mulut Aomine sontak membuat kedua emak fujo ini berpikir keras(?) kemudian beberapa detik kemudian senyuman sumringah tercetak jelas di wajah mereka.
"TERKADANG KAU ITU PINTAR YA AOMINE-KUN!" Seru Chihiro sambil menepuk pundak tegap Aomine.
Setelahnya Natsuko segera menelpon para maid, butler, serta supir yang siap sedia stand by di kediaman megah Akashi untuk mencabut semua cctv yang berada di rumah anak mereka.
Terlintas di pikiran sempit Aomine.
'memangnya berapa jumlah cctv yang mereka pasang di rumah tetsu..'
...
"Okaa-san?"
Suara lembut yang mengalun dari bibir merah Kuroko sontak membuat Natsuko kembali ke alam sadarnya.
"A-ah maaf Tecchan, apa yang ingin kau tanyakan?"
Kuroko melirik sekilas ke arah lain.
"Sebelum ke inti pertanyaanku ada sesuatu yang janggal di rumah ini, kemana semua pelayan rumah ini?"
'Shit.'
Dalam hati Natsuko mengutuk jiwa observasi yang ditularkan Chihiro kepada Kuroko. Tapi memang sih siapa coba yang tidak akan curiga bila kau tinggal di hunian yang sangat megah tanpa terlihat seorang pelayan pun. Terlebih lagi menantunya ini bukan orang asing yang belum pernah masuk ke rumahnya.
Diantara semua pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh menantunya, mengapa pertanyaan yang memegang kunci dari permasalahan ini diutarakan lebih dulu?
"Okaa-san? Mengapa kau melamun lagi?"
"A-aku tidak melamun." Sangkal Natsuko
'Aku memikirkan jawaban atas pertanyaanmu Tecchan!'
"Okaa-san aku ingin kau jujur, kemana semua pelayan di rumah ini? Jika kau menjawab 'pulang kampung' aku tidak akan mempercayainya."
Natsuko benar-benar dibuat bingung setengah mati. Ia semakin mengutuk Chihiro karena membiarkan dirinya sendiri untuk menjawab rentetan pertanyaan yang masih misteri.
Haruskah ia jujur?
Haruskah?
"Tecchan.. Aku—"
"Biar aku yang jelaskan."
"!"
-o.O.o-
Suasana mencekam terasa jelas di antara kedua pemuda yang sama-sama memiliki surai merah tersebut.
Di satu sisi pemuda bersurai merah cerah tengah menatap sosok yang berada di depannya tidak percaya.
Dan di sisi lainnya pemuda bersurai merah gelap tengah menatap sisi lainnya karena tidak kuat untuk adu tatap dengan pemuda yang berada tepat di depannya.
Akashi sama sekali tidak percaya dengan segala penuturan yang terucap dari mulut Kagami.
"Kau bohong Kagami Taiga."
"Aku tidak bohong, jika kau cermati baik-baik apa kau tidak merasa ada yang janggal bila melihat ibu kalian seringkali bersama?"
Akashi berpikir sejenak
"Jangan-jangan—"
"Ya, mereka bukan fangirlingan. Mereka berencana untuk mendapat video malam pertama kalian. Setelah mendapat apa yang diinginkan tentunya ada imbas yang harus mereka terima, anak mereka saat ini tengah bertengkar dan mereka pun membuat rencana gila untuk mempersatukan kalian yang melibatkan diriku." Ujar Kagami panjang lebar.
Pernyataan Kagami membuat seorang Akashi yang dikenal 'absolut' itu tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
Menurutnya kelakuan mereka sudah diluar batas. Memangnya siapa yang mau bila rumah tangganya diganggu?
Ia paham jika tujuan ibu dan mertuanya itu baik, tapi ia sungguh tidak bisa memaafkan perlakuan mereka yang dengan seenak jidat memasang cctv tersembunyi di sudut rumahnya.
Diam dan bersikap seakan tidak tahu bukanlah jawaban untuk mengakhiri sebuah permasalahan.
Ya.
Ia harus menemui ibu dan mertua mereka –mungkin.
"Kagami aku berutang budi padamu. Maaf aku telah salah menilaimu."
Akashi Seijuurou meminta maaf? Terlebih dengan orang yang mengalahkannya di waktu dulu?
Sulit dipercaya.
Tapi bukankah Akashi juga manusia?
"Hee.. Tidak apa Akashi, lagipula aku juga salah tidak segera memberitahu kalian." Ucap Kagami sambil tersenyum.
Akashi tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Kagami.
'Pantas saja Kuroko menganggapnya sahabat, dia orang yang baik meski agak bodoh.'
Setelahnya Akashi beranjak dari duduknya dan menuju pintu keluar.
"Akashi!"
Seruan Kagami sontak membuat si pemilik surai merah cerah itu memalingkan wajahnya.
"Apa?"
"Tolong sampaikan maafku pada Kuroko."
Akashi menatap intens iris merah cherry Kagami. Ia paham betul selama ini hati Kuroko lambat laun telah bercabang dua.
Ia tidak bisa menyalahkan Kagami maupun Kuroko. Ia lah yang salah sejak awal.
Andai saja ia menerima perjodohan itu sepenuh hati, andai saja ia tidak membenci Kuroko Tetsuya,andai saja waktu dapat diputar kembali.
Ia yakin istri tercintanya akan berada di pelukannya saat ini.
"Akashi?"
"Baiklah. Untuk kali ini aku tidak akan marah saat kau panggil diriku BAKA, Taiga."
Setelahnya suara pintu tertutup menandai pertemuan singkat mereka.
"Aku berbakat juga menjadi matchmaker." Ucap Kagami bermonolog
-o.O.o-
Suara baritone dari seorang pria berperawakan jangkung tersebut sukses membuat mereka terkejut.
"A-Aomine-kun?"
"Yo Tetsu."
Natsuko segera menarik Aomine dan membisikinya sesuatu.
'Bukankah kau ikut Chihiro-chan untuk melepas cctv?'
'Memang, tapi aku kembali kesini karena pasti akan membosankan bila berada disana.'
'Haaahh syukurlah kau kembali Aomine-kun, kalau begitu bantu aku untuk menjelaskan semua ini Aomine-kun.'
'Tidak masalah.'
Setelah berbisikan mereka pun mengambil posisi duduk berdekatan, sementara itu Natsuko memberi tanda agar Kuroko duduk di depan mereka.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Kuroko penuh curiga
"Ehmm Tetsu.. pasti kau kaget dengan kehadiranku kan?" ucap Aomine dengan sedikit canggung.
Natsuko hanya bisa berharap agar Aomine tidak salah bicara.
"Jadi begini, aku sendiri bingung harus memulainya dari mana sih.." Gumamnya.
"Bagaimana kau bisa kenal –bahkan akrab dengan mertuaku? Lalu mengapa kalian seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku."
Tatapan mata Kuroko yang mengintimidasi membuat Aomine semakin sulit untuk menjelaskan detail permasalahan yang sebenarnya.
'Tidak bisakah kau tidak menatapku seperti itu Tetsu!' batin Aomine.
"Baiklah langsung saja, sebenarnya aku dan Chihiro-chan membuat suatu rencana untuk menyatukan kau dan Sei-chan. Mengapa kami bisa mengetahuinya? Karena saat sebelum pernikahan kalian berlangsung aku dan dia sudah memasang banyak cctv di sudut rumah kalian." Ujar Natsuko membuka pembicaraan tentang permasalahan mereka.
"A-Apa!?"
Natsuko melirik Aomine seolah memberi kode jika dirinya harus melanjutkan ucapannya tadi.
"—Tanpa sepengetahuanku ibu dan mertuamu menjadikan Kagami sebagai 'tumbal'. Lagipula saat itu kau dan dia sedang akrab karena rumah tanggamu dengan Akashi sedang diambang batas." Timpal Aomine.
Kuroko nampak menautkan alisnya. Ia sempat kaget dengan perkataan Natsuko –tapi lain halnya dengan perkataan Aomine.
"Kagami-kun dijadikan tumbal? Untuk apa? Lalu apa hubungannya denganmu?" Ucapnya sambil menautkan kedua alisnya.
"Karena Kagami-kun itu kekasih –lebih tepatnya tunanganku."
Tidak ada ekspresi kaget berlebihan yang dikeluarkan Kuroko setelah mendengar itu. Aomine dan Natsuko sontak bingung. Apa memang ekspresi kaget Kuroko itu juga berwajah datar?
"Kau tidak kaget Tecchan?"
"Tidak. Aku sudah mengetahui itu dari Kagami-kun sebelum kemari. Yang membuatku kaget adalah Kagami-kun dijadikan tumbal itu untuk apa?"
Aomine pun bernapas lega. Ia kira Kuroko akan kaget lalu menangis mengetahui fakta tersebut. Pasalnya ia menyangka jika Kuroko pasti memiliki perasaan pada tunangannya itu.
Memang benar bila Kuroko memiliki perasaan khusus terhadap Kagami. Tapi sayangnya itu sudah berakhir.
"Maaf sebelumnya Tecchan.."
Kuroko menanti perkataan ibu mertuanya yang sedang nampak berpikir sejenak, kemudian ia membuang napas dan menatap tajam Kuroko.
"Kami ingin menceraikan kau dan Sei-chan dan menjodohkannya dengan Kagami-kun –yang tak lain ialah tunangannya Aomine-kun. Setelah kau dan Kagami-kun menikah nantinya, aku ingin Aomine-kun merusak kebahagiaan semu yang tercipta dari penikahan palsu kalian."
DEG!
Ini sudah kelewatan. Mengapa mereka tega melakukan hal itu? Apa ia dan Akashi pernah melakukan hal yang menyakiti mereka? Lalu kenapa harus melibatkan Kagami dan Aomine?
Perlahan air mata terlihat muncul di sudut mata Kuroko.
"Mengapa… kalian.." Bahkan untuk berucap beberapa patah kata pun Kuroko tak sanggup. Ia tidak menyangka jika ibu dan ibu mertuanya memiliki niatan yang begitu jahat.
"Maafkan okaa-san ya.. itu demi kebaikanmu dan Sei-chan, jadi.." Seiring Natsuko mengeluarkan kata demi kata, air mata telah mengalir di pipinya.
Aomine yang menatap adegan yang tersaji di depannya sedikit tidak tega dan ingin segera mengakhirinya.
"Kau tidak perlu khawatir Kuroko, mereka sudah mengurungkan niatan tersebut. Itu semua berkat penolakanku."
Kuroko pun menghapus air matanya dan menunggu kelanjutan ucapan Aomine.
"Aku menolak rencana yang mereka ajukan padaku. Di dalam rencana mereka aku lah yang memegang peranan paling penting agar kau bisa bercerai dengan Kagami –lalu setelahnya depresi dan kembali ke pelukan Akashi—"
Aomine nampak menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan dan melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti.
"—aku menolak itu karena jika hal itu terlaksana tidak akan ada yang bahagia nantinya. Baik kau dan Akashi, kedua ibu kalian, maupun diriku dan Kagami." Ucap Aomine sedikit lirih.
Kuroko dan Natsuko tersentak dengan perkataan Aomine. Mereka kaget karena Aomine bisa memikirkan sejauh itu, padahal ia dikenal yang paling bodoh diantara yang lain.
"J-Jadi tidak rela melihat Kagami-kun menikah dengan orang lain itu hanya alasan yang kau buat untuk menolak tawaran kami ya." Ucap Natsuko terharu.
"Itu juga menjadi salah satu alasannya, tapi bukan alasan utama."
Setelahnya Natsuko menggoyang-goyangkan pundak Aomine tanda bahagia(?) karena berkat dirinya semua rencana mereka batal. Tidak ia sangka orang sebodoh Aomine lah yang menyadarkan dirinya dan Chihiro dari gelap mata menjadi fujoshi.
Sementara itu Kuroko mengabaikan mereka dan nampak sedang berpikir.
"Tunggu dulu. Jika memang rencana kalian batal, Dimana ibu? Bukankah kalian selalu bersama dimanapun? Rasanya aneh jika ia menunggu kepulangan ayah di rumah sendirian."
Sontak pernyataan itu membuat kedua makhluk yang sedang melakukan selebrasi berlebihan –lebih tepatnya hanya Natsuko, langsung menatap ke arah Kuroko.
.
.
.
"Perlahan namun pasti semua rahasia akan terungkap nantinya."
.
.
-TBC-
A/N : Halooo jumpa lagi dengan saya /siapa lu. Hmm jadi selama liburan ini saya nyoba mau kelarin RED sampe abis haha, mungkin untuk mc saya selanjutnya menyusul(?) /mending ada yg nungguin.-.
Oiya yg review chap 6 kemaren maap saya engga bales soalnya udh lama hiatus buat UN kan makanya takut udh pd lupa juga(?)
Yapp bales review dulu~ yang login seperti biasa lewat PM~
Kanna Inazumii : waduhh maap ya udah nungguin.-. dan ga nyangka ada yg suka ff ini karena konfliknya(?) yaa ini chap selanjutnya udah update~ jika berkenan mungkin aja mau RnR lagi(?) /dor
Sekian dari saya~
Mind to RnR?^^
