RED
Disclaimer : Kurobas punya mas Fujimaki, Akashi punya saya /digampar
Pairing : Akashi x Kuroko
Genre : Romance, Hurt/Comfort, mungkin agak Humor.-.
.
.
.
.
.
Happy reading~
.
"Perlahan namun pasti semua rahasia akan terungkap nantinya."
.
Sementara itu di tempat lainnya pula seorang wanita bersurai abu-abu nampak sedang kerepotan layaknya seseorang yang sedang mengatur barang untuk pindahan.
"Kau! Bukankah sudah kubilang di sudut itu juga ada 1 lagi, carilah lebih teliti." Perintah seorang wanita yang diketahui adalah Chihiro sedang memerintah salah satu butlernya.
"Baik!"
Setelahnya ia menatap beberapa kamera cctv berukuran super mini di lantai. Ia tidak menyangka memasang puluhan –bahkan sepertinya hampir ratusan kamera cctv di kediaman anak mereka yang tergolong cukup mewah itu.
"Aku merasa rumah ini lebih mirip dengan istana Negara ketimbang rumah pada umumnya."
Pasalnya ia sendiri tidak menyangka dirinya dan Natsuko memasanga cctv sebanyak itu di rumah anak mereka sendiri. Yang lebih mengherankan mengapa Akashi yang terkenal pintar dan absolut itu tidak menyadari jika ada banyak cctv yang terpasang di rumahnya.
Mungkin saking kecilnya ukuran cctv ini ia sampai tidak menyadarinya ya, lagipula ia sendiri sampai harus memboyong keluar semua maid butle, bahkan supir yang sedang menganggur di kediaman besan seperjuangannya(?) itu untuk membantunya.
"Nyonya, sepertinya sudah tidak ada lagi cctv yang kami temukan."
Chihiro menatap dua orang maid yang menghampiri dirinya dengan membawa 2 cctv super mini di genggamannya. Lalu tatapanya beralih pada seorang butler yang sedang menghitung berapa jumlah cctv yang berhasil mereka kumpulkan.
"Total semuanya ada 114 buah nyonya." Ucap butler tersebut.
Para maid, butler, serta supir yang sedang menganggur itu pun tercengang. Jumlah yang cukup fantastis untuk ukuran rumah Akashi dan Kuroko yang dikategorikan tidak sebesar kediaman utama Akashi. Untuk kediaman Akashi yang megahnya naujubilah itu saja hanya diperlukan sekitar 30 an cctv.
'Mereka gila.' Batin mereka semua yang hadir disitu kecuali Chihiro.
"Baiklah setelah ini aku harap kalian segera menjual semua cctv itu, sisakan 4 untuk kupasang di beberapa sudut penting rumah mereka.
'Masih ingin dipasang ya…' batin mereka lagi.
"Karena beberapa kalian ada yang maid dan butler yang sedang bertugas, aku harap kalian lebih baik kembali ke kediaman Natsuko. Dan untuk kalian yang tidak bertugas kalian bisa menjual ini semua."
Setelahnya beberapa maid dan butler yang masih bekerja segera diantar pulang dengan beberapa supir yang masih menganggur itu. Sementara bagi mereka yang tidak bekerja segera pergi ke pertokoan terdekat untuk menjual 110 cctv tersebut.
.
.
.
.
Setelah kepergian seluruh maid, butler, serta supir yang menganggur itu, Chihiro nampaknya sedang memikirkan hendak di taruh dimana ke empat cctv tersebut.
"Mungkin pertama harus di kamarnya dulu." Ucapnya sambil memasang cengiran seperti tante-tante mesum(?)
"Paling tidak kau harus meminta izin dari yang punya rumah bukan?"
"!"
Chihiro menengok ke asal suara baritone yang terasa familiar di pendengarannya, begitu ia melihat siapa gerangan yang mengagetkannya ia langsung terpaku dan membeku.
"A-Ak..."
"Selamat siang, ibu." Ucapnya disertai seringai yang tercipta jelas di wajahnya.
-o.O.o-
Kembali lagi ke keadaan Aomine, Natsuko, dan Kuroko di kediaman Akashi. Setelah mendengar pertanyaan yang di keluarkan oleh Kuroko, baik Natsuko maupun Aomine kebingungan sendiri untuk mengatakan dimana lokasi ibunya saat ini..
"Ehm.. ibumu itu.." Ucap Natsuko bingung.
"Okaa-san kumohon jangan sembunyikan apapun dariku lagi. Aku rela mendengar semuanya, meskipun jika itu lebih gila dari rencanamu itu." Ucap kuroko yang lebih mirip permohonan.
Aomine lama-lama jengah dengan semua ini. Jika dibiarkan lebih lama lagi bisa-bisa adegan mereka menjadi opera sabun dengan permasalahan yang rumit di dalamnya.
"Tetsu, ibumu itu sedang membongkar seluruh kamera cctv yang berada di rumahmu bersama dengan seluruh pembantu dan supir di rumah ini. Karena itu jangan heran bila hanya ada kita bertiga disini.
"Cctv? Aku rasa aku dan Akashi-kun tidak pernah memasang kamera cctv di rumah kami."
"Bukan kau yang memasang, Tapi dia." Ucap Aomine sambil menunjuk Natsuko yang kaget karena jari telunjuk Aomine mengarah padanya.
"H-Hei! Bukan hanya aku tapi Chihiro juga memasangnya!" Ucap Natsuko berusaha menyangkal.
"Intinya kalian berdua." Lanjut Aomine.
Kuroko pun nampak berpikir untuk yang kesekian kalinya, entah mengapa permasalahan ini sangat rumit dan membuatnya harus berpikir keras(?)
"Jika hanya membongkar kamera cctv mengapa seluruh pembantu di rumah ini bahkan supir ikut? Bukankah jumlahnya tidak sampai 20 an?"
Natsuko menegak ludah untuk menyembunyikan kepanikannya.
'Bagaimana bila aku menjawab jika cctv yang berada di kamarnya lebih dari—'
"100."
Baru saja Natsuko berpikir untuk menjawab pertanyaan Kuroko sayangnya Aomine sudah menjawabnya.
"Haah?"
"Jumlah cctv yang berada di rumahmu itu kurang lebih ada 100 an." Lanjut Aomine.
Mendengar pernyataan Aomine membuatnya bingung ingin berekspresi bagaimana.
Kaget
Marah
Semua jadi satu.
Mereka benar-benar sudah kelewatan, apa segitu parahnya mereka menjadi fujoshi hingga harus mencampuri urusan rumah tangga mereka dari awal?
Kuroko menatap kecewa ke arah Natsuko. Ingin menangis tapi semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Setiap pergerakan yang ia lakukan –baik bersama Akashi maupun Kagami, ibu dan okaa-sannya telah mengetahuinya lebih dulu.
Bukankah itu pelanggaran privasi?
Ia jadi ingat perkataan Kagami yang mengatakan "Mereka sudah tahu jika kalian sedang bertengkar pasti kau akan ke rumahku."
Naif.
Ia pikir itu hanyalah insting dua orang ibu yang sedang memikirkan anaknya yang dilanda masalah hubungan rumah tangga, ternyata ia yang terlalu berharap lebih.
"Tecchan.. Maaf—maafkan okaa-san dan ibu ya."
Setelah mengatakan hal tersebut Natsuko menghampiri Kuroko yang terdiam kemudian air mata keluar dari pelupuk matanya.
"M-Maaf ya.. jika selama ini aku dan ibumu telah merencanakan sesuatu yang jahat padamu." Lanjutnya.
Kuroko masih enggan untuk membalas pelukan dari ibu mertuanya, bahkan untuk menolaknya pun ia tak mau.
Biarlah seperti ini.
-o.O.o-
Sesosok pemuda berambut merah cerah muncul dari pilar yang terletak tidak jauh dari tempat Chihiro berpijak. Pasti kalian semua bisa menebak siapa gerangan pemuda itu.
Ya.
Akashi Seijuurou.
Yang tak lain pemilik dari rumah itu sendiri.
"A-ah selamat siang Sei-chan! Mengapa kau ada disini?" Ucap Chihiro berusaha untuk membalas sapaan Akashi yang lebih mirip sindiran.
"Mengapa katamu?" Seringai makin tercetak jelas di wajahnya, dan selanjutnya ia tertawa.
"Hahahaha… ha.. lucu sekali." Ucapnya sambil menatap rendah wanita di depannya.
Jujur Chihiro kesal dengan menantunya ini, tapi mana mungkin ia melawan, bisa-bisa ia tidak bisa melihat indahnya mentari pagi esok hari.
"Apa maumu haaah? Jangan kurang ajar pada orang yang lebih tua Sei-chan!" Gertak Chihiro.
Akashi kembali menyunggingkan senyum merendahkan.
"Harusnya kau yang tidak bersifat kurang ajar, Ibu. Apa kau tidak sadar dimana tempat kau berpijak sekarang?" Ucapnya datar.
Ada sesuatu yang dilupakan Chihiro. Saat ini ia sedang berhadapan dengan menantunya.
Ya. Menantunya. Yang tak lain ialah pemilik rumah tersebut.
'Sialan.' Umpatnya dalam hati.
"Sudah mengerti dimana letak kesalahanmu bu? Jadi ada urusan apa kau dengan rumah kami." Ucap Akashi dengan penekanan kata kami.
Chihiro pun mengalihkan pandangannya ke arah lain pertanda mencari alasan yang masuk akal.
"Aku ingin mencari Tecchan, apa tidak boleh jika aku masuk ke dalam rumah anakku sendiri?"
Akashi menatap heran mertuanya yang menurutnya sangat lucu itu. Bukan lucu karena wajah, tapi lucu karena perlakuan.
Sejak awal ia memang tidak terlalu akrab dengan mertuanya, dikarenakan perjodohan yang mengharuskan Kuroko Tetsuya menjadi istrinya –mau tidak mau ia harus hormat padanya juga bukan?
"Ibu, bukankah kau sendiri yang menyuruhku beberapa hari yang lalu untuk mencari Tetsuya? Apa kau lupa? Dengan kata lain Tetsuya tidak mungkin berada di rumah." Ucapnya dengan memberi penekanan pada kalimat tidak mungkin.
Mungkin hari ini bukan hari keberuntungan Chihiro, sekali-kali ia harus meminta saran pada salah satu sahabat anaknya yang gemar menonton oha-asa untuk memberinya lucky item.
"Haaaahh baiklah baiklah aku menyerah. Aku memang tidak pandai untuk berbohong apalagi untuk menyembunyikan sesuatu." Ucapnya seraya mengangkat kedua tangannya seolah Akashi itu kamera di acara masih dunia lain(?)
Acara yang punya bekson "Permisi…dem dem.. dem dem dem.. dem..ASTAGHFIRULLAH..dem dem.." (coba aja bayangin yang dem dem itu kayak suara detak jantung(?) tapi di pendengaran saya sih gitu wkwk.) Dan bila tidak kuat anda harus melambaikan tangan ke arah kamera yang berada di depan anda.
Jadi intinya Chihiro sudah tidak kuat beruji nyali di kediaman anak mereka.
"Lalu apa yang ibu lakukan disini? Mengapa saat di jalan tadi aku bertemu mobil supirku dari arah sini –yang berisi beberapa maid dan butler rumahku juga."
"Jadi sebenarnya.. bagaimana mengatakannya ya.. ehmm—aku sedang membongkar seluruh kamera cctv yang berada di rumah kalian." Ucap Chihiro sambil memasang cengiran di wajahnya.
"Jika hanya membongkar mengapa tidak memanggil beberapa butler saja? Seingatku aku tidak pernah memasang cctv di rumah, aku hanya memasangnya di garasi."
"Yah.. masalahnya itu cctv yang berada di dalam rumahmu jumlahnya ada 100 an. Memang bukan kau yang memasangnya –aku dan ibumu."
Akashi membelalakkan matanya kaget dan menatap tidak percaya ke arah ibu mertuanya.
"Haaah!?
"Ya aku tahu itu jumlah yang sangat fantastis." Ucap Chihiro datar.
"Tunggu dulu. JIka jumlahnya ada sebanyak itu mengapa aku tidak menyadarinya!?" Ucap Akashi masih heran dengan semua ini.
Chihiro pun segera mengeluarkan kamera cctv yang berukuran sangat mini dari kantong roknya. Saking mininya ukuran kamera tersebut sampai bisa masuk ke kantong.
"Karena ukurannya seperti ini wajar jika kau tidak menyadarinya, karena aku lupa menaruhnya dimana saja, makanya aku membawa seluruh maid, butler, dan supir yang menganggur di rumahmu untuk membantuku." Ujarnya sambil menunjukkan kamera cctv super mini itu di genggamannya.
Akashi mengambil salah satu kamera tersebut dari genggaman tangan Chihiro.
"Lalu untuk apa ibu menyimpan empat kamera ini?" Tanya Akashi penuh selidik.
Lagi-lagi Chihiro mengalihkan pandangannya dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Hmm.. karena aku berpikir rumah kalian harus dipasang beberapa cctv. Lagipula kau sendiri bilang kalau kau hanya memasang cctv di garasi kan?"
Akashi memandang penuh curiga ke arah Chihiro. Ia sangat tahu ibunya itu tidak pandai berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Bukankah orangnya sendiri sudah mengatakannya beberapa menit yang lalu?
"Bu, aku tahu jika ibu dan okaa-san itu fujoshi. Jadi kurasa jawabanmu tadi hanya akal-akalanmu saja. Dengan kata lain—"
Chihiro menatap kesal kea rah Akashi, sepertinya setelah ini ia benar-benar sudah tidak bisa melihat kondisi anak –serta hubungan mereka dari jauh.
"—ibu hanya ingin mengintip kegiatan sehari-hari ku dengan Tetsuya bukan? Karena itu di hari aku bertengkar dengan Tetsuya kau dengan cepat menemuiku agar rencanamu terlaksana."
Skakmat.
Wanita bersurai abu-abu itu tidak dapat mengeluarkan sepatah kata lagi dari bibirnya. Sudah buntu akal pikirannya untuk menanggapi segala pertanyaan menantunya yang menyebalkan itu. Ia memang sudah kalah telak dari permainan yang ia dan Natsuko buat sendiri.
-o.O.o-
Kembali lagi ke kediaman megah Akashi.
Masih di waktu dan tempat yang sama seorang wanita bersurai kuning keemasan nampak masih memeluk menantunya yang sangat manis itu.
"Tecchan… Aku.."
Dengan sekali sentakan, pria berwajah manis itu pun melepaskan pelukan ibu mertuanya.
"Okaa-san jangan menangis." Ucap Kuroko sambil membelai wajah Natsuko yang berlinang air mata. Selanjutnya ia tersenyum lembut untuk menenangkan Natsuko.
Bukannya reda tangisan Natsuko malah makin jadi, sekali lagi ia menghambur ke pelukan pemuda berwajah manis di depannya.
"Huaaaa.. Tecchan!"
'Tecchan.. sungguh hatimu bagaikan malaikat nak.. andai saja Sei-chan lebih awal menyadari segala kebaikan dan kasih sayangmu ya..pasti hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.' batinnya sedih.
Sementara itu Aomine yang melihat kegiatan tersebut hanya mengedikkan bahu seolah tidak peduli, selang beberapa detik kemudian sebuah panggilan masuk diterima pemuda berkulit tan tersebut.
"Kagami?"
Mendengar nama tersebut terucap dari pemuda berkulit eksotis itu pun Natsuko langsung melepas pelukannya dari Kuroko dan menghapus air matanya. Kuroko pun juga ikut penasaran.
"Halo."
"Aomine! Kau dimana sekarang?"
"Memangnya kenapa?"
"Sudah jawab saja!"
"Ck, tidak usah bersuara keras seperti itu kali. Aku sedang berada di rumah Akashi-san. Ada apa?"
"Apa ada Kuroko di situ?"
'Loh dia tidak kaget?' batin Aomine heran. Ia melihat kea rah Kuroko sejenak lalu melanjutkan pembicaraannya.
"Ada, kau ingin berbicara dengannya?"
"Tidak, tolong sampaikan padanya jika Akashi baru saja menemuiku tadi. Dan aku memberitahu semua rahasia yang ibu mereka rencanakan –aku tahu alasan mengapa kau ada disana sekarang Aomine."
"Hanya itu?"
"Aku lupa bertanya Akashi hendak pergi kemana setelah ia bertemuku, jadi aku tidak tahu pasti ia akan kemana. tapi aku merasa jika ia pasti pergi menemui ibunya Kuroko. Untung saja Kuroko sedang berada di rumah mertuanya jadi mereka tidak akan bertemu."
"Lalu?"
"Sudahlah pokoknya sampaikan saja seperti itu padanya. Sudah ya Aomine."
"Tunggu!"
"Hmm?"
"Aku mencintaimu."
Kagami, bahkan Natsuko dan Kuroko yang mendengarnya pun kaget.
"B-Baka! Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu!" Bahkan lelaki surai merah gelap itu sampai salah tingkah.
"Hee.. jadi kau tidak suka jika aku mengatakan hal itu?" ucap Aomine sambil memasang seringai yang tidak akan mungkin bisa dilihat kekasih tercintanya itu.
"B-bukan.. aku.. ehm—juga mencintaimu…Ao—ah.. Daiki."
"….."
Natsuko dan Kuroko bingung karena tiba-tiba Aomine mematung mendadak.
"S-Sudah ya!"
Setelah itu Kagami mengakhiri pembicaraan mereka. Dan wajah Aomine segera memanas dan mengeluarkan rona pink yang tidak terlalu kelihatan di kedua pipinya. Tapi ibu dan menantu itu bisa dengan jelas mengetahui kalau Kagami mengatakan sesuatu yang membuatnya blushing seperti itu.
"Apa yang dikatakan Kagami-kun padamu!" Ucap Natsuko semangat.
"…Ini pertama kalinya ia memanggil namaku."
Natsuko langsung heboh tidak jelas, sementara itu Kuroko hanya tersenyum canggung. Karena bagaimanapun ia pernah mencintai Kagami. Tapi ia cukup senang jika memang hubungan sahabat baiknya itu berjalan lancar.
"Tetsu, tadi Kagami menelponku karena ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Mengapa tidak langsung berbicara denganku?"
"Entahlah. Jadi setelah kepergianmu dari rumah Kagami tadi Akashi datang menemuinya."
Mata kuroko pun terbelalak.
"Bagaimana bisa.."
"Kurasa dia diam-diam mengawasimu dari jauh, karena itu setelah kau pergi ia langsung menemui Kagami."
Natsuko melihat kea rah Kuroko sejenak. Jika dilihat dari sikap Kuroko saat ini sepertinya ia tidak sanggup untuk bertanya lagi. Mungkin ia takut membayangkan bila Akashi menghajar Kagami atau apapun itu.
"Lalu apa yang dilakukan Kagami-kun? Apa Akashi-kun mengamuk dan menghajarnya karena cemburu?" Ucap Natsuko mewakili Kuroko.
"Tidak. Kagami menjelaskan rencana kalian kepadanya dan setelah itu ia pamit keluar. Ia tidak tahu pasti dimana Akashi sekarang –tapi ia bisa memperkirakan jika Akashi saat ini hendak menemui ibumu, Tetsu." Ujar Aomine sambil menatap Kuroko yang mematung.
Setelah mendengar itu mereka berdua kaget.
"Apa katamu!?"
"Aku yakin Akashi pasti pergi ke rumah mertuanya bukan ke rumahnya sendiri."
"Insting Akashi-kun itu kuat, Aomine-kun." Akhirnya Kuroko bersuara kembali.
"Gawat! Hubungan anak itu dengan ibu mertuanya tidak terlalu baik, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi!"
Setelah itu Natsuko pun berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlari menuju pintu rumahnya.
"Okaa-san!" Teriak Kuroko.
Sudah pasti okaa-sannya itu hendak menuju ke rumahnya untuk melihat apakah ibunya dan Akashi akan bertemu atau tidak.
Ingin ia langkahkan kakinya untuk mengejar Natsuko, tapi apa daya bila otaknya menolak. Sampai saat ini masih takut untuk bertemu dengan suaminya itu. Sudah hampir seminggu mereka belum bertemu, dan itu membuat Kuroko bingung harus menampilkan wajah seperti apa di hadapannya.
Aomine menatap Kuroko yang nampaknya sedang berkecamuk dengan batinnya sendiri.
"Jika kau ingin pergi, pergilah."
Kuroko menengok kea rah Aomine. Setelahnya Aomine tersenyum.
"Laki-laki memang cenderung mengikuti logika mereka ketimbang perasaan tapi kau tidak bisa selamanya mengikuti logikamu."
Meskipun mendengar penuturan Aomine yang terkesan seperti nasihat cinta, tetap saja membuat Kuroko enggan untuk berlari mengejar Natsuko.
"Aku yakin jauh di dalam hatimu kau rindu melihat wajahnya –terlebih mendengar suaranya. Ikutilah kata hatimu untuk saat ini Tetsu, bukankah cinta itu kadang-kadang tak ada logika?" Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Beberapa detik kemudian air mata menggenang di pelupuk mata Kuroko ketika mendengar ucapan Aomine.
Ya. Ia tidak bisa selamanya mengikuti logika. Sebenci apapun dirimu pada sosok yang kau cintai, tetap saja kau akan rindu untuk bertemu lagi dengannya. Hatinya haus akan kasih sayang, meskipun ia tidak pernah mendapatkan itu darinya.
Tapi hanya dengan melihat dan mendengar suaranya ia sudah sangat bahagia. Ia tidak berharap lebih untuk hubungan mereka ke depannya, ia hanya ingin bertemu dengan Akashi saat ini juga.
"Aomine-kun terima kasih." Segera Kuroko hapus air mata yang belum mengalir di pipinya tersebut. Entah mengapa semenjak permasalahan ini terjadi ia jadi sering menangis.
Setelahnya Kuroko segera berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Aomine terlebih dahulu, selanjutnya ia mengepalkan tangan kea rah wajah Aomine.
Bukan. Ia sama sekali tidak berniat untuk memuku Aomine. Ia hanya ingin mengajak Aomine melakukan ritual yang sudah lama tidak mereka lakukan semenjak SMP dulu. Fist-bump.
"Berjanjilah kau akan selalu membahagiakan Kagami-kun. Undanglah aku dan Akashi-kun ke pesta pernikahan kalian ya."
Aomine kaget melihat Kuroko yang mendadak mengepalkan tangan di wajahnya, tapi setelah mendengarkan itu ia hanya bisa memejamkan matanya dan tersenyum.
"Ya aku berjanji. Tapi, bereskan dulu urusanmu dengannya." Ucapnya sambil mengepalkan tangannya dan mengerahkannya kea rah kepalan tangan Kuroko.
Setelah mereka melakukan fist-bump. Kuroko segera berlari menuju pintu rumah itu dan menghilang dari penglihatan Aomine.
"Tidak kusangka aku bisa berbicara seperti Mario Teguh." Gumamnya entah pada siapa.
-o.O.o-
…
Dinginnya angin musim gugur tidak menurunkan niatan pemuda bersurai senada langit biru itu untuk menurunkan tempo berlarinya. Angin yang membelai pipi serta lapisan epidermis kulitnya tersebut membuatnya terhanyut, namun hal tersebut tidak cukup untuk membuatnya tenang.
Pasalnya ia harus segera meredakan semua permasalahan yang terjadi. Ialah yang telah menabur benih sejak awal. Andai hari itu ia tidak memutuskan untuk keluar dari rumah dan berusaha bersabar sedikit lagi pasti hal ini tidak akan tejadi.
Tapi percuma saja jika terus menyalahkan diri. Hal yang sudah terjadi tidak akan bisa berulang –bak peribahasa nasi sudah menjadi bubur.
Setelah berlari cukup lama, terlihatlah sebuah rumah yang berukuran cukup besar namun bergaya minimalis dari kejauhan. Senyum seketika mengembang di wajahnya, tanpa mempedulikan rasa capek yang dirasakannya ia terus berlari dan berlari.
Hingga sosok yang selalu ia rindukan terlihat di kedua iris aquamarinenya.
"Akashi-kun."
Kontak sosok yang merasa terpanggil itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Ia tidak ingin terlalu berharap jika suara familiar itu adalah suara istrinya, Kuroko Tetsuya. Namun jika itu kenyataannya maka dengan senang hati ia akan menerimanya.
"Tetsu—"
BRUK!
"TETSUYA!"
.
.
"Apa hanya diriku yang merasakan indah dan sakitnya dari mencinta, Akashi-kun?"
.
.
-TBC-
A/N : Halooo semuanya, maaf banget saya akhirnya bisa nongol lagi setelah sebulan. Saya disibukin berbagai macem hal selama 2 minggu kemaren yang bikin pusing pala ningie(?) /kok jijiq. Nahhh karena part dari pembukaan rakuzan arc itu ambigu tapi itu berhasil bikin jadi moodbooster saya ngerjain ini.
"Malam ini aku akan mengutarakan seluruh perasaanku padamu.. Akashi-kun."
LANGSUNG MBLEDUG(?) PAS DENGER KUROKO NGOMONG BEGITU DAN DENGAN SUB INDO YANG AMBIGU ITU TERASA LEBIH YAHUT(?).
Padahal pas baca di manga dulu cuma senyam-senyum gaje doang lah ini ampe tereak dan guling-guling(?)
ada yang nanya reviewer kemarin yang nanya "berarti ini ff udah mau tamat ya?" dan jawabannya.
Ya. kemungkinan 2-3 chap lagi ff ini tamat tapi tergantung sih, sedikit bocoran ada chara baru yang nongol di chap depan tapi hal itu ga bikin ngehambat ff ini tamat di chap 11 atau 12 kok :))
Udah ah daripada banyak bacot(?) bales review dulu~ yang login biasa lewat PM
Kana izumii : Haloo makasih udah mau dateng review lagi ) yaampun saya ganyangka sampe ada yang nungguin ff ini sampai seperti itu /nangis terhura(?) sekali lagi makasih ya, ini udah update lagi, silahkan mampir lagi jika berkenan :D
Sekian dari saya~
Mind to RnR?^^
