Aloha Minna-san! *teriak pake toa
Iaia maaf kalo berisik. Abisnya author seneeeeeng banget bisa update fic ini. Sebenarnya chapter ini sudah selesai berminggu minggu lalu. Tapi karena koneksi inet author diputus –setelah author selidiki, ternyata author lupa membayar tagihan-, makanya author baru bisa update sekarang.
Anyway, author bener-bener berterimakasih buat setiap reader yang meninggalkan review di cerita ini. Benar-benar menjadi semangat buat author buat tetap melanjutkan fic ini. Author juga minta maaf karena ada typo di chapter sebelumnya. Akan author perbaiki jika author ada waktu. By the way, untuk yg login sudah author balas review nya. Dan buat yang gak login author balas disini aja ya :
Mahadewa-san : sudah saya lanjutkan. Ya walaupun agak telat sih. Ehehehe*nyengir canggung. Terimakasih sudah meninggalkan review di fic pertama author. Ikuti terus fic ini ya
Rey-san : Author harap chapter-chapter kedepannya bakalan berkenan dihati Rey-san. Terimakasih sudah mereview dengan such a kind words. Saya benar-benar terharu *alah lebay. Dan maaf kalau author agak telat updatenya.
Anyway tanpa banyak bachot lagi. Langusng saja, Read and Enjoy.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Lasting
Chapter 2
Sakura Side
Bagiku masa SMA adalah salah satu momen terpenting dalam hidup. Momen yang patut dikenang dan diingat saaat masa tua nanti. Karena itulah aku sangat bersemangat untuk memulai hariku. Berbicara tentang momen-momen penting dalam hidup, ada beberapa momen penting yang tentu aku dan Naruto tidak pernah alami. Misalnya merayakan ulang tahun kami bersama orang tua kami, atau piknik keluarga, atau hal-hal lainnya yang biasa dilakukan keluarga pada umumnya. Mengapa? Karena kami tidak tahu siapa orang tua kami.
Namaku Haruno Sakura. Saudari kembar tak identik Uzumaki Naruto. Kami berdua ditemukan ketika masih bayi di depan sebuah lembaga pelayanan sosial, dan pada akhirnya berakhir dalam Foster System. Berpindah-pindah rumah menjadi hal yang biasa bagi kami. Kami pernah ditempatkan di berbagai macam tempat. Otogakure, Kirigakure, bahkan Amegakure. Walaupun kami ditempatkan di tempat yang berbeda, tapi kami tahu betul, pola pikir setiap orang tua asuh kami. Selama mereka tetap menadapatkan uang kompensasi dari pemerintah, mereka akan tetap membiarkan kami menumpang tinggal.
Dan akhirnya tiga tahun yang lalu, kami akhirnya pindah ke Konohagakure, dalam asuhan keluarga Momochi. Pasangan Momochi Zabuza dan Momochi Tayuya. Walaupun sudah lama menikah mereka belum juga memiliki seorang anak. Hal itu sempat membuatku berpikir, mungkin saja kedua orang itu akan menyayanginya dan Naruto layaknya anaknya sendiri. Namun ternyata apa yang aku pikirkan salah besar. Zabuza, pada siang hingga sore hari akan bekerja sebagai buruh pabrik. Dan pada malamnya, ia akan mabuk-mabukkan bersama kawan-kawannya. Ia selalu pulang saat subuh. Aku dan Naruto hampir tidak pernah melihat Zabuza selain pada hari minggu.
Sementara Tayuya, sang ibu, entah kenapa sangat tak menyukai keberadaanku dan Naruto. "Selama pemerintah masih memberikan uang padaku, kalian boleh tinggal disini. Tapi ingat, ini bukan rumah kalian." Itulah yang Tayuya katakan padaku dan Naruto di hari pertama kami tiba. Entah kenapa Zabuza dan Tayuya mengijinkan kami tinggal dirumah mereka hingga kami lulus SMA nanti. Apakah karena uang dispensasi, atau sumbangan lainnya yang diberikan kepada mereka? Entahlah.
Karena rasa penasaranku yang sangat tinggi, beberapa bulan yang lalu, tanpa sepengetahuan siapapun, aku diam-diam mengunjungi kembali tempat dimana aku dan Naruto ditemukan. Lemabaga pelayanan sosial yang terletak agak jauh dari pusa kota. Disanalah aku bertemu Sarutobi Kurenai, wanita yang mengaku menemukanku dan Naruto.
"Malam itu begitu sunyi" jelasnya kala itu. "Karena jam pulang memang sudah lewat. Namun karena begitu banyak dokumen yang harus saya kerjakan, saya terpaksa lembur. Dan saat itulah,saya mendengar suara gerbang yang dibuka. Awalnya saya mengira salah satu staff kembali untuk membantu saya menyelesaikan pekerjaan saya, karena itu saya mengintip lewat jendela. Dan saya melihat seorang wanita berambut merah panjang hingga pinggannya. Dia sangat cantik. Mirip denganmu, hanya dengan warna mata yang berbeda, violet. Dan rambutnya bukanlah merah muda sepertimu. Saya melihatnya meletakkan sebuah keranjang besar di depan pintu. Saya mencoba menegurnya, namun wanita itu malah panik dan lari. Dan didalam keranjang itulah saya menemukanmu dan kakakmu. Beserta sebuah kertas yang bertuliskan nama kalian, dan sebuah pesan yang menyatakkan bahwa kalian adalah kembar."
Hanya itu yang akhirnya berhasil aku ketahui. Tak ada yang lain. Identitas ibu kandungku yang kuketahui, adalah ia seorang wanita berambut merah panjang dan beriris violet. Namun tentu saja itu tidak cukup untuk mencari tahu siapa dia. Dan dimana dia sekarang. Menagapa ia membuangku dan Naruto? Mengapa nama keluargaku dan Naruto berbeda? Entahlah.
Naruto Side
Namaku Uzumaki Naruto. Kakak kembar dari Haruno Sakura. Mengapa nama keluarga kami berbeda? Entahlah. Tujuh belas tahun lamanya hidup tanpa menetahui siapa sebenarnya orang tua kandungku membuatku tak begitu peduli dengan berbagai macam pertanyaan yang sering dilontarkan teman-temanku semasa SD dan SMP dulu. Yang aku tahu, di dunia ini aku hanya punya Sakura. Dia satu-satunya keluargaku yang harus aku jaga dengan seluruh kemampuanku.
Ketika kami lulus nanti, kami harus sudah bisa menemukan jalan hidup kami. Karena pemerintah hanya menyekolahkan kami hingga SMA. Sakura ingin menjadi seorang dokter. Dan tentu saja semua orang tahu biaya yang diperlukan tidaklah sedikit. Untuk itu, sejak SMP, aku sudah diam-diam bekerja paruh waktu. Menabung setiap penghasilanku demi membantu Sakura.
Bagaimana dengaku? Aku tak peduli akan jadi apa aku nantinya. Jadi apapun tidak masalah. Asalkan adikku bisa menjadi dokter. Hahaha. Aku mungkin akan jadi ayah yang hebat nantinya.
Tentu saja Sakura tidak tahu kalau aku diam-diam bekerja paruh waktu. Ia tahu bahwa aku memiliki banyak teman di luar sana, dan setiap hari aku habiskan hanya untuk bersantai dan bersenang-senang bersama mereka. Well, dia tidak sepenuhnya salah. Aku memang mempunyai banyak teman. Tapi sellau kutolak ajakan mereka untuk hang out. Lantarann aku mengambil tiga pekerjaan sekaligus.
Pekerjaan pertamaku, adalah sebagia tukang cuci piring di salah satu restoran cepat saji terkenal di Konohagakure. Pemilik restoran itu adalah ayah temanku sewaktu SMP, Akamichi Chouji. Kami sering menghabiskan waktu istirahat bersama. Karena Chouji lah aku bisa bekerja paruh waktu disana.
Pekerjaanku yang lainnya adalah sebagai tutor. Oh iya, aku belum menceritakan betapa pintarnya otakku ini. Aku bersyukur pada kapasitas otakku yang diatas normal, sehingga aku selalu berhasil meraih tempat pertama di setiap ujian. Sakura tentunya, tidak kalah pintar dariku. Hanya saja ia lebih menonjol di biologi.
Dan pekerjaanku yang terakhir adalah sebagai tukang bersih-bersih di rumah sakit kecil di ujung Konohagakure.
Memang berat melakukan tiga pekerjaan sekaligus secara diam-diam. Namun asalkan bisa membiayaii sekolah Sakura, apapun akan aku lakukan. Karena aku adalah satu-satunya yang ia punya di dunia ini. Dan dia adalah satu-satunya yang aku punya.
Konoha High School biasa disingkat KHS bukanlah sekolah bertaraf internasional yang terkenal di berbagai kota di Jepang. KHS adalah sekolah milik pemerintah, dengan kualitas baik. Disinilah kedua kakak beradik itu akan memulai kehidupan SMA mereka.
"Wow, sekolah ini lebih besar dari SMP kita" Sakura berujar kagum sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Naruto hanya tersenyum maklum.
"Hey, kalian murid baru kan?" suara seorang pemuda dengan rambut bob dan alis tebalnya merebut perhatian keduanya.
"Ia, Senpai" jawab Sakura sopan. Pemuda itu terpesona menatap Sakura. Mulutnya sedikit terbuka sementara matanya menatap kagum figure gadis didepannya. Naruto mendengus jengkel. Ia sangat tidak suka kalau adiknya diincar banyak laki-laki.. Ya ia akui ia mungkin menderita brother complex. Tapi itu semua demi kebaikan Sakura, kilahnya.
"Ano, Senpai." Naruto berkata dengan suara lantang. Menghentikkan aktifitas pemuda berambut bob itu. "Kalau boleh tahu, dimana letak aula sekolah?"
"EHEM" Pemuda itu berdehem. "Namaku Rock Lee. Kalian boleh memanggilku Lee" Sakura dan Naruto mengerutkan dahi mereka. Memang siapa yang mengajak kenalan? Walaupun demikian, pemuda bernama Lee itu tetap berbicara. "Sebenarnya usiaku baru tujuh belas tahun, tapi sekarang aku sudah di tahun kedua. Kenapa? Karena semasa SMP dulu aku adalah seorang siswa akselerasi. Otakku ini sangatlah cemer-"
"Maaf Senpai" potong Sakura. "Sepertinya kami harus buru-buru ke aula sekolah." Naruto mengangguk setuju. 'Dasar orang aneh' keluhnya dalam hati.
"Ohh begitu." Lee membetulkan letak kerah kemejannya sendiri. "Ya, beberapa menit lagi acara peyambutan murid baru akan dimulai. Aula sekolah terletak diujung koridor ini. Tapi kalian-" Ia menatap Naruto dan Sakura secara bergantian dengan pandangan meneliti. "Apakah kalian pacaran?"
Naruto tersenyum maklum, mengingat Lee bukanlah orang pertama yang salah paham akan hubungan keduanya. Sakura memasang wajah jengkel.
"Ya ampun, entah sudah berapa banyak orang yang salah paham." Keluh Sakura. "Dia bukan pacarku Senpai. Dia kakakku" jelas Sakura dengan penuh penekanan.
"Hey, apa-apan itu. Nada bicaramu seolah-olah menekankan bahwa aku ini tidak layak dipacari" protes Naruto.
"Oh, ayolah, kau tahu bukan itu maksudku" Sakura membela dirinya.
"Hahahahah" Argumen keduanya terpotong oleh suara tawa Lee yang kencang. "Jadi kalian kakak beradik. Ya ampun. Ternyata aku salah paham." Lee berkata. Sakura membenarkan dan Naruto masih menggerutu. "Kalau begitu apakah kamu sudah punya pacar?" Tanya Lee pada Sakura.
Seakan bisa melihat arah percakapan itu, Naruto segera menarik lengan Sakura dan berlari menuju aula sekolah. "Maaf Senpai. Kami sudah terlambat" teriaknya sambil berlari, dan masih sambil menyeret Sakura bersamanya.
"Sekali lagi saya ucapkan selamat dating bagi para siswa baru Konoha High School" akhir pidato sang kepala sekolah,- yang memperkenalkan dirinya sebagai Senju Tsunade- diiring dengan tepuk tangan para siswa baru. "Dan sekarang ketua Osis kita juga akan memberikan sedikit sambutan" lanjut sang kepala sekolah.
Sakura menggerutu pelan. Ia berbicara dengan nada pelan, hingga hanya Naruto yang duduk disamping kanannya yang bisa mendengar gerutuannya. "Duh, bukankah kepala sekolah sudah menjelaskan semua tentang sekolah ini. Untuk apa lagi sih ketua Osis memberi sambutan juga"
Naruto mengangguk setuju. "Bokongku sudah mati rasa. Sudah berapa lama kita duduk disini" tambahnya.
Namun ketika sosok seorang pemuda dengan tinggi 170 cm dan gaya rambut emo itu menaiki podium, banyak siswa terpesona dibuatnya. Baik laki-laki maupun perempuan. Banyak terdengar keluhan dari siswa lelaki. "Cih, kami-sama sangat tidak adil. Kenapa si ketua Osis itu begitu sempurna?" Sementara paea siswi sibuk memuji paras sang ketua Osis.
"Nama saya Uchiha Sasuke." Adalah kalimat pertama yang diucapkan pemuda itu. Sekaligus menjadi satu-satunya kalimat yang didengar Naruto dan Sakura.
"Ceh, apa-apaan itu? Mengapa nada bicaranya terkesan dingin sekali sih? Dan lihat ekspresi wajahnya. Datar sekali. Apa dia tidak bisa senyum?" cibir Sakura. 'Nama saya Uchiha Sasuke' gadis itu menirukan gaya bicara Sasuke, ditambah dengan wajah yang dibuat selusuh mungkin.
Naruto menahan tawanya. Meningat hanya suara Uchiha Sasuke-lah yang tengah memecah keheningan aula. "Ayolah Sakura-chan. Aku saja yang seorang laki-laki, mengakui kalau ketua Osis itu lumayan oke" bisik Naruto.
Sakura mengerutkan dahinya. "Oke? Kau lihat wajahnya yang sepucat kertas hvs itu?" Blas gadis itu tak terima.
Dan setelah itu, kedua anak kembar itu melanjutkan argument mereka. Dengan Sakura yang menjelekkan segala hal tetnang Sasuke, dan Naruto yang mempertahankan ke-oke-an sang ketua Osis. Dan akibatnya mereka berdua tak mendengar apapun yang diucapkan Sasuke. Toh, mereka berdua yakin hal yang dibahas Sasuke tidaklah penting-penting amat. Karena garis besar peraturan dan tata tertib sekolah telah dijelaskan dengan sangat rinci oleh kepala sekolah.
"Nama saya Hatake Kakashi dan saya akan menjadi wali kelas kalian untuk tahun ini. Jadi mohon kerjasamanya." Pria diawal tiga puluh tahun itu memperkenalkan dirinya dengan gaya casual. "Nah, karena tadi kalian sudah memperkenalkan diri masing-masing, sekarang saatnya kita memilih pengurus kelas. Jadi ada yang berminta mencalonkan diri?"
Kelas ribut seketika. Para siswa memulai sesi diskusi swasta dengan teman baru mereka. Termaksud Naruto dan Sakura –keduanya sangat bersyukur mereka berada di kelas yang sama-
"Kamu tidak mau mencalonkan diri?" Tanya sekaligus sindir Sakura. Ia ingat terakhir kali Naruto menjadi ketua kelas ketika mereka masih SD. Saat itu kelas mereka merupakan kelas dengan rata-rata siswa paling nakal. Alhasil kelas mereka selalu mendapat masalah, dan sebagai ketua kelas, ia yang harus bertanggung jawab. Sejak saat itu Naruto bersumpah ia tidak akan pernah lagi menjadi pengurus kelas.
"No thanks." Jawab Naruto lesu.
Kakashi bertepuk tangan guna menenangkan riuhnya suasana kelas saat itu. Ketika para siswa menghentikan diskusi swasta mereka, guru itu pun melanjutkan kalimatnya. "Baiklah, sepertinya tidak ada yang mau mengajukan diri. Kalau begitu, kita akan buat ini menjadi mudah."
Seorang siswi –yang memperkenalkan dirinya sebagain Tenten- bertanya. "Mudah bagaimana Sensei?"
"Kita akan masukan nama seluruh isi kelas dan mengundinya. Nama yang pertama keluar adalah nama ketua kelas dan nama berikutnya adalah sekretaris. Bagaimana?" Kakashi menjelaskan idenya.
"Kalau begitu tidak ada demokrasinya dong, Sensei" tambah seorang siswa yang duduk diujung kelas. Inuzuka Kiba namanya.
"Nah, untuk masalah itu. Sekarang siapa yang setuju untuk mengundi nama pengurus kelas acungkan tangannya. Dan masalah demokrasi selesai. Yah, tetapi kalau Inuzuka-san punya solusi lainnya, kita akan sangat senang untuk mendengarkan" jawab Kakashi.
Kiba menggeleng pelan. "Yah, sepertinya aku setuju untuk mengundi".
Kakashi tersenyum dibalik maskernya. "Baiklah, yang setuju untuk mengundi. Silahkan acungkan tangan kalian"
"Haaah. Sebal sebal sebal!" teriak Sakura. Tentu saja karena saat ini atap sekolah –tampat ia dan Naruto menghabiskan waktu istirahat mereka- tengah sepi. Tak ada orang lain disana selain mereka bedua.
"Sudahlah Sakura-chan. Menjadi pengurus kelas itu tidak buruk kok" Naruto menasehati adiknya. Ia melahap sandwich yang dibuat Sakura.
"Aku tidak ingin mendengar itu darimu" jawab Sakura. Karena ide wali kelasnya, namanya terpilih menjadi sekretaris kelas mereka. "Lagipula mengapa harus Kakashi-sensei yang mengambil undiannya?"
"Memangnya siapa lagi? Sudahlah. Sebentar lagi bel masuk. Lebih baik kau habiskan makan siangmu aku tidak mau kau pingsan di kelas" Naruto menyodorkan kotak bekal yang tinggal tersisa sepotong sandwich.
Sakura meraihnya. Kemudian mendudukan dirinya dismaping Naruto. "Hey, mengapa kau begitu santai sih?" Tanya Sakura kemudian mulai melahap makan siangnya.
Naruto membersihkan tangannya dengan selembar tissue basah kemudian menjawab. "Apa yang salah?"
"Kau tahu kan siang ini aku harus tinggal bersama ketua kelas untuk mengatur jadwal piket kelas?" Naruto mengangguk. "Biasanya kau selalu melarangku untul dekat-dekat dengan laki-laki"
"Ia, tapi aku dengar-dengar ketua kelas kita adalah sepupu Uchiha Sasuke." Mata Sakura membulat. "Dan aku yakin karena Sasuke-senpai bukan termaksud dalam tipe cowokmu, maka ketua kelas kita juga bukan tipe cowokmu" Naruto menyimpulkan.
"Ya, ada benarnya juga sih katamu." Gadis itu membalas setelah menelan sandwichnya. "Cowok dingin seperti itu bukan tipeku"
"Tapi aku perhatikan dia tidak kalah oke dari Sasuke-senpai. Dan banyak cewek yang suka dengannya"
"Ooh, here we go again" Sakura mendesah. "Ayolah, bagian mana yang oke dari cowok es itu?"
Dan siang itu dihabiskan si kembar dengan kembali berargumen tentang ketua kelas mereka.
This is The End of Chapter 2
And also this is the begining dari kisah asamara kakak beradik Narusaku
Who do you think Sasuke cousin is?
Let me know what do u think
so click the review button below
