HAYY MINNA-SAN

Author sudah mencoba untuk update secepat mungkin

OKe! Tanpa basa-basi lagi, pertama tama author mau balas dulu review dari

_LuphNARUSAKU-san : Makasih udah meninggalkan review di fic perdana ini. Author udah usahaa banget buat update kilat. makanya tetap ikuti fic ini ya :D

Nah, untuk yang lainnya udah author balas di PM

Ngomong-ngomng, banyak banget yang mikir kalo Sai lah si 'sepupu'. Sebenarnya sang sepupu adalah... temukan di chapter ini. Silahkan lanjutkan membaca


Siang itu, setelah bel pulang sekolah berbunyi, para siswa kelas 1-D masih sibuk bercengkrama dengan teman baru mereka. Beberapa berencana pulang bersama, atau nongkrong bersama.

Sakura dengan ramah menolak ajakan Tenten –teman barunya- yang mengajaknya untuk nongkrong di salah satu mall di Konoha.

"Aku masih ada urusan dengan ketua kelas" jawab Sakura ketika Tenten bertanya alasan gadis itu menolak ajakannya.

Tenten menepuk dahinya sendiri. "Oh iya. Aku lupa. Kamu kan sekretaris kelas" Sakura tersenyum maklum. "Ngomong-ngomong selamat ya"

Gadis berambut pink itu cemberut seketika. "Oh ayolah. Siapa yang ingin menghabiskan tahun pertamanya di SMA dengan memikirkan urusan kelas?" keluhnya.

"Hahahaha. Benar juga ya. Makanya tidak ada yang mau mencalonkan diri" Gadis berdarah china itu tertawa ringan. "Tapi setidaknya ketua kelas kita tampan, dan berkarisma. Lihat-lihat banyak murid perempuan yang naksir"

Sakura menghela nafas berat. Ia kadang tidak mengerti selera gadis-gadis seumurannya. Mengapa mereka semua bisa terpikat oleh lelaki yang tidak banyak bicara dan kurang ekspresif? Tidak si Uchiha Sasuke sang ketua Osis, sekarang si ketua kelas.

"Hey, Sakura-chan! Aku pulang duluan ya" disela-sela pikirannya, Sakura mendengar suara Naruto yang memanggilnya. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kakak kembarnya yang sedang berdiri di depan tempat duduknya.

Sakura mengangguk singkat. "Mau nongkrong dengan teman baru atau teman lama?"

Naruto membalasnya dengan cengiran lebar dan tepukan pelan pada puncak kepala adiknya. "Yang mana saja boleh"

"Haah, aku iri denganmu" Balas Sakura kemudian menyingkirkan tangan Naruto dari kepanya.

"Hey, mau jalan dengan siapa?" Tanya Tenten.

"Dengan Neji dan Kiba" jawab Naruto kemudian menunjuk kedua lelaki yang sedang asyik ngobrol di depan pintu kelas. Keduanya menjinjing tas masing-masing, menunggu Naruto. "Kamu pulang sendiri bisa kan?"

Sakura menekuk mukanya. "Memangnya aku ini anak SD yang tidak tahu jalan pulang? Aku juga sering pulang sendiri waktu SMP"

"Iya deh. Yang sudah SMA" ejek Naruto dengan cengiran lebarnya. "Sehabis berdiskusi dengan ketua kelas, kamu harus langsung pulang ya. Jangan main kemana-mana"

Tenten tertawa mengejek. "Tapi kamu malah mampir kemana-mana"

"Hey, hey, hey. Aku hanya tidak ingin ada apa-apa dengan adikku" ujar Naruto membela dirinya.

Tenten meninju bahu Naruto main-main. "Aku cuma bercanda tahu"

"Aku tahu kok" jawab Naruto. "Nah, Sakura-chan, aku duluan ya"

Sakura tersenyum lembut kemudian menjawab. "Iya. Hati-hati dijalan"

Naruto balas tersenyum. Ia, kemudian menghampiri Kiba dan Neji. Ketiganya kemudian meninggalkan kelas bersama. Namun sepersekian menit kemudian, Naruto menghentikkan langkahnya dan kemudian berlari kembali menuju kelas. Ia menghampiri sang ketua kelas yang tengah sibuk membereskan alat tulisnya.

"Hey Sabaku" panggilnya. Pemuda bernama Sabaku Gaara itu menghentikkan kegiatannya, kemudian mengalihkan padangannya pada Naruto yang berdiri beberapa centi di depan mejanya. "Jangan kau apa-apakan adikku ya!"

Lasting
Chapter 3

Disclaimer : Masahi Kishimoto

KHS memang bukan sekolah dengan fasilitas luar biasa. Pas-pasan saja. Tapi ada satu spot yang menjadi tempat nongkrong favorit murid-murid KHS ketika istirahat.

Taman sekolah.

Tidak besar memang. Namun asri dan sejuk. Bunga-bunga yang dirawat dengan indah itu tumbuh mengelilingi taman. Diberbagai sudut, tumbuh pohon-pohon rindang yang dapat menjadi tempat berteduh. Beeberapa buah bangku taman diletakkan dibawah naungan pohon-pohon itu.

Ditempat itulah, Gaara dan Sakura menyelesaikan pekerjaan mereka.

"Yosh!" Sakura berseru dengan semangat. Ia dan Gaara baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. "Tinggal ditempel di kelas saja kan?"

Gaara menangguk sembari meluruskan kakinya dan merenggangkan tangannya. Duduk dibawah rindangnya pohon ditambah suasana yang sejuk memang sangat cocok untuk berileks.

Sakura segera memasukkan alat-alat tulis yang berjejeran di bangku ke dalam tasnya. "Kalau begitu, aku duluan ya" Gadis itu kemudian bersiap pergi.

"Rumahmu dimana?" pertanyaan Gaara menghentikkan langkah Sakura.

"Di Distrik Amomori" jawab Sakura

"Kebetulan rumahku hanya beberapa blok dari sana"

Sakura menatap si ketua kelas dengan tatapan bingung dan sebelah alis yang terangkat. "Lalu?"

"Mau pulang bersama?" Pemuda berambu merah itu menawarkan.

"Hah?" Sakura cengo dibuatnya.

Kini giliran Gaara yang memandang Sakura bingung. "Apa yang salah Haruno?"

"Ooh" Menyadari ketololannya, Sakura kelabakan. "Maaf. Habisnya aku pikir kamu lebih senang sendiri"

Gaara memandang Sakura dengan tatapan ingin tahu. "Dan hal apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"

Sakura berpikir sejenak, kemudian menjawab. "Well, pertama aku lihat kamu tidak banyak bicara saat diajak mengobrol oleh teman-teman kelas. Kedua kamu menolak semua ajakan mereka untuk jalan."

Gaara mendesah pelan. "Pertama, aku memang bukan orang yang ekspresif. Tapi bukan berarti aku lebih suka sendiri. Dan kedua, aku harus menyelesaikkan jadwal piket kelas bersamamu bukan? Makanya semua ajakan mereka aku tolak"

"Wow" Sakura terkesima.

"Apa lagi sekarang?"

Sakura tersenyum. "Itu kalimat paling panjang yang kau ucapkan hari ini"

"Hah?" Kali ini gilaran Gaara yang cengo dibuatnya. "Kau menghitung berapa banyak kalimat yang aku ucapkan?"

Sakura mengangguk semangat. "Iya. Awalnya, aku pikir kamu sama seperti sepupumu. Seperti es batu"

Gaara menaikkan alisnya. "Maksudmu Sasuke? Darimana kamu tahu dia sepupuku?"

"Dari Naruto"

"Oh"

Keduanya terdiam sesaat. Sebelum akhirnya Sakura berkata. "Tapi ternyata aku salah. Kau adalah orang yang baik." Gadis itu menatap Gaara dengan pandanagan yang sulit diartikan.

Gaara tertawa pelan. "Dan kau tahu itu dari jumlah kalimat yang aku ucapkan?"

Sakura menggeleng. "Lalu?" Gaara kembali bertanya.

"Aku hanya tahu saja." Gadis itu menjawab enteng, kemudian berjalan meninggalkan taman sekolah. Meninggalkan Gaara yang masih membeku ditempatnya. Sebelum akhirnya gadis itu meneriakkan namanya.

"Hey, Gaara! Katanya mau pulang bersama!"

Gaara tersenyum tipis. Nyaris tak terlihat. Mungkin SMA tidak akan seburuk yang ia pikirkan.


Di pusat perbelanjaan Konohgakure, ada sebuah restoran cepat saji yang lumayan terkenal. Chou Burger namanya. Disanalah tempat Naruto bekerja

Setelah menghabiskan sejam setelah pulang sekolah dengan ngobrol santi dengan Neji dan iba di salah satu kafe, ia segera berpamitan.

"Hah? Kita kan baru sejam disini?" Kiba bertanya heran.

Naruto tersentum maklum. Berhubung ia selalu meninggalkan teman-temannya sesaat setelah mereka jalan. Alasannya? Ia harus kerja tentu saja. Tapi tentu ia tidak memberi tahu teman-temannya.

"Aku ada urusan. Jaa" dan dengan itu, pemuda itu bergegeas meninggalkan kafe dan berlari menuju tempat kerajnya.

Ketia ia sampai, ia segera menuju ruang ganti, kemudian mengganti seragam sekolahnya

"Yo, Naruto." Sapa sang anak pemilik restoran itu, ketika ia melihat Naruto yang baru saja selesi mengganti seragam sekolahnya dengan seragam restorannya. "Baru datang?"

"Ya begitulah. Bagaimana hari pertamamu di SMA, Chouji?" Naruto merangkul pundah teman SMP, sekaligus anak bosnya itu. Chouji memang sering datang ke restorannya setiap hari. Bantu-bantu mencuci piring. Kata ayahnya sih, itu pelatihan khusus untuk Chouji. Karena kelak ia yang akan mewarisi restoran ini. Tapi sampai sekarang Chouji tidak mengerti, apa manfaat dari mencuci piring setiap hari pada masa depannya.

"Lumayanlah." Jawab Chouji seadanya. "Lepaskan tangamu. Aku mau ganti baju"

Naruto melepaskan rangkulannya. "Iya, iya" Ia kemudian menyandarkan dirinya disalah satu loker di dalam ruangan itu, sambil melipat kedua tangannya didepan dada. "Aku dengar sekolahmu, Hiroki High School itu super bagus"

"TIdak buruk-buruk amat sih" Setelah memakai seragam kerjanya, Chouji mengecek penampilannya di cermin besar yang tergantung di dinding. Ia bukan orang narsis. Ia hanya memastikan penampialnnya sudah rapih. "Kau tahu anak SMP yang kau tutori? Yang anak orang kaya itu?"

Naruto mengangguk. "Ada apa memangnya?"

"Aku baru tahu kalau dia bersekolah di Hiroki Junior High. Kabarnya dia primadona HJH"

"Oohh"

Stelah memastikan penampilannya rapi, Chouji akhirnya mengalihkan pandangannya pada Naruto yang masih menyender di loker. Ia menghampiri teman SMP-nya itu kemudian meninju bahunya main-main. "Kau beruntung loh. Bisa menjadi tutor primadona HJH"

Naruto hanya tersenyum ringan. "Yah. Habisnya gajinya besar sih"

"Kau itu. Hanya memikirkan gaji saja." Chouji menggerutu. "Masa kau tidak tertarik dengan dia. Ahh! Aku baru ingat kau belum pernah pacaran. Padahal waktu SMP aku ingat banyak cewek yang menembakmu"

Naruto mengusap-usap dagunya sambil berpikir. "Hmmmm. Aku lupa"

Chouji mencengkram bahu Naruto kemudian meremasnya penih tenaga.

"Hey!" keluh Naruto

"Naruto! Kau tidak bisa hidup seperti ini! Kau akan mati sendirian tanpa pendamping hidup!" Chouji mengguncangkan bahu Naruto dengan kencang.

"Hey, hey, hentikan Chouji. Aku pusing"

"Ehh, maaf" Tersadar dari kelakuannya, Chouji pun melepaskan tangannya. "Tapi aku serius Naruto. kau harus segera cari pacar"

"Aku tidak punya waktu untuk pacaran" Naruto merapikan seragamnya yang agak kusut akibat Chouji. "Sudah ya, sekarang sudah shiftku" pemuda itu kemudian meninggalkan ruang ganti.

"Hah, anak itu." Keluh Chouji pada dirinya sendiri.


Uchiha Sasuke menatap jengkel pada layar i-phone-nya. Sebuah sms dari kakaknya yang tidak tahu diri –menurut Sasuke- baru saja masuk.

Gomen Sasuke, aku baru ingat aku ada janji dengan Akatsuki. Jadi aku tidak bisa menjemput. Pulang sendiri oke?

Sasuke mengumpat dalam hati. Kakak macam apa yang tega meninggalkan adiknya hanya demi nongkrong bersama band-nya? Kalau saja pagi ini mobilnya tidak mogok. Ia tidak harus bergantung pada Itachi untuk mengantar jemputnya hari itu.

"Haah. Bagaimana caranya aku pulang?" Sasuke bertanya pada dirinya sendiri. Bukannya ia tidak tahu jalan. Ia bahkan mengemudikan mobilnya sendiri setiap hari untuk ke sekolah. Yang ia pikirkan adalah, dengan apa ia harus pulang. Ia tidak tahu dimana halte bis –dan kalaupun ia tahu, ia tidak akan tahu bis mana yang harus dinaiki-, dan sepertinya ia jarang melihat taksi di daerah sini. Dan, well, harga diri Uchiha-nya membuat ia gengsi untuk bertanya.

Akhirnya, sang ketua Osis itu pun memutuskan untuk berjalan kaki. Menuju rumahnya yang berjarak 72 km dari sekolahnya. Kalau ia beruntung ia bahkan mungkin bisa menemukan taksi di tengah jalan. Maka dengan modal 'berani', Sasuke pun memutuskan untuk berjalan kaki.


Gaara dan Sakura berpisah di halte bis, ketika bis Sakura tiba duluan. Setelah sepuluh menit mengendarai bus, Sakura masih harus berjalan kaki untuk tiba dirumahnya.

Gadis berambut pink itu menyusuri distrik perumahanya, yang agak kumuh. Maklum lah, ini bukan kompleks perumahan elit.

"Sakura-chan!" Sakura mendapati seorang nenek tujuh puluh tahunan, meneriaki namanya dari balik kios-nya.

Sakura –yang sudah berjalan melewati kios sang nenek- pun berbalik arah. Ia menghampiri nenek itu, kemudian menyapanya ramah.

"Selamat sore, Chyo-baasama" Ia sudah mengenal sang nenek sejak kepindahannya ke kediaman Momochi. Nenek itu hanya tinggal berdua bersama suaminya. Anak dan cucunya tinggal di Sunagakure. Menurut cerita Chiyo, ia dan suaminya lebih memiliih tinggal di Konohagakur, walaupun anak dan cucu mereka telah menawarkan untuk tinggal bersama mereka di Sunagakure. "Bagaimana keadaan nenek hari ini?"

Chiyo tersenyum lembut. "Baik. Bagaimana dengan Sakura-chan?"

Sakura tersenyum lebar. "Hari ini hari pertamaku di SMA" Gadis itu mulai bercerita. "Aku dipaksa menjadi sekretaris kelas, nek"

"Begitukah? Ayo, Sakura-chan, duduk dulu" Chiyo menarik keluar sebuah kursi dari balik konter kios-nya. Kemudian mempersilahkan Sakura duduk. "Jadi? Enak tidak menjadi sekretaris kelas?"

Sakura berpikir sejenak. "Awalnya aku pikir, tidak. Habisnya kesan pertamaku pada ketua kelas jeleeek sekali. Aku pikir dia orang yang dingin, jarang berbicara, dan tidak peduli pada lingkungan sekitarnya" Sakura mengingat lagi kesan pertamanya ketika ia melihat Gaara yang hanya menyahut seadanya ketika diajak ngobrol teman-teman kelasnya. "Tapi siag tadi, kami menghabiskan waktu bersama untuk mengatur jadwal piket kelas. Kami sedikit mengobrol. Dan aku.. aku rasa dia bukan seperti yang aku pikirkan"

"Tentu saja" Chiyo menyahut. Sosok yang sudah Sakura anggap sebagai nenek sendiri itu memberi sebuah senyum lembutnya yang biasa. "Jika Sakura-chan sudah mengenal seseorang, Sakura-chan pasti tahu,orang seperti apa dia. Karena itu, Sakura-chan, jangan menilai buku hanya dari sampulnya"

"Iya, nek. Maaf deh" Gadis itu tertawa ringan.

"Ngomong-ngomong soal mengenal seseorang.." Nenek itu mengalihkan pandangannya pada jendela tokonya. Disana, seorang pemuda dengan seragam yang sama dengan Sakura sedang menatap bingung sekelilingnya. Sesekali ia menggaruk-garuk kepalanya. Seolah sedang benar-benar kebingungan. Ia mengabaikan perempuan-perempuan sekitarnya yang tengah menatapnya penuh minat. "..apa kamu kenal dengan pemuda tampan itu? Aku sudah enam kali melihatnya bulak balik didepan tokoku"

Sakura membulatkan matanya ketika mendapati sosok yang baru saja ia lihat pagi tadi, memberikan pidato pada seisi aula sekolah. "Uchiha-senpai?"

TBC

HUUUAAAAHHHH
ini adalah chapter paling panjang yang pernah author tuli

Kedepannya, author akan lebih berusaha untuk memanjangkan setiap chapter

Makanya jangan lupa untuk pencet tombol review dibawah yaa :D