Konnichiwa Minna-san
Gomen kali ini author tidak bisa balas komen satu2
Tapi terimakasih untuk reader yang sudah meninggalkan review di chapter sebelumnya
Sekali lagi Sasuke menghela nafas berat. Ia tidak tahu tempat apa ini. Distrik ini terlihat kumuh. Tak seperti daerah perumahannya yang mewah. Ia sendiri juga tidak tahu bagaimana ia bisa berakhir disini. Padahal, menurutnya, ia sudah mengikuti arah yang benar. Dan sialnya lagi, i-phone-nya mendedak mati, lantaran kehabisan baterai.
Ketua Osis KHS itu sudah putus asa. Ia sudah pasrah ketika ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Uchiha-senpai?" Sasuke mendapati seorang gadis berambut merah muda yang dikuncir, berwajah manis, dan menggunakan seragam KHS memanggilnya. Ia tidak kenal gadis itu.
"Hn?" jawab sekaligus tanya Sasuke. Gadis itu menatap bingung Sasuke. Ia tidak mengerti arti 'Hn' dengan nada tanya Sasuke. Seakan mengerti hal itu, Sasuke menambahkan. "Ya, kamu siapa?"
"Ahh" Gadis itu menepuk jidatnya sendiri. "Senpai mungkin tidak kenal. Tapi aku murid tahun pertama di KHS."
"Ooh" Respon Sasuke tak berminat. Sasuke pikir, gadis ini mungkin saja salah satu dari fans-fans gilanya yang senang mengerubungi dan membuntutuinya setiap hari.
"Senpai tidak sedang tersesat kan?" Pertanyaan gadis itu membuat Sasuke tertohok. Sebagai seorang Uchiha, mana sudi ia mengaku kalau gadis itu benar.
"Si..siapa yang bilang?" Sasuke sedikit terbata. "Aku tidak tersesat. Aku hanya sedang jalan-jalan"
Gadis berambut merah muda itu menangguk. "Ooohh, nenek Chiyo bilang, senpai mungkin sedang tersesat. Soalnya senpai sudah enam kali bolak-balik disini" Sasuke membuang muka. "Tapi ya, kalau senpai tidak sedang tersesat, ya sudahlah" gadis itu membalikkan badannya, dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu!" cegat Sasuke. Gadis yang baru saja mau melangkah pergi itu tersentak kaget, mengingat suara Sasuke yang begitu keras. Bahkan orang-orang yang sedang berjalan disekitar mereka pun sempat kaget dengan teriakan Sasuke.
Sekali lagi Sasuke membuang muka, sambil menahan malu. Dengan segenap kemampuannya ia menelan gengsi dan harga diri Uchiha-nya, ia kemudian membuka mulutnya dengan sangat amat teramat pelan. "Bi..bisa..bisa beritahu dimana…dimana Falls Street?"
"Hah?" Gadis itu terbengong sesaat. Bukankah tadi senpai-nya itu bilang ia tidak sedang tersesat? Mengapa sekarang… OOHH! Gadis itu akhirnya connect. Rupanya sedari tadi senpai-nya itu menahan gengsi. Makanya walaupun ia tersesat dan sudah berputar-putar ditempat yang sama, ia tidak mau bertanya. Menyadari hal itu, gadis itu menahan tawanya.
"Hey! Aku sedang bertanya" Sasuke berkata jengkel. "Dan jangan tertawa" tambahnya, ketika melihat ekspresi gadis itu.
Gadis itu membekap mulutnya sendiri. Ia berusaha menelan tawanya. Sepersekian detik kemudian, ia menurunkan tangannya dan berkata "Habis senpai sih. Kalau tersesat kenapa tidak bertanya saja"
"Diamlah" Sasuke sekali lagi berusaha menelan rasa malunya. Gadis diahadapannya benar-benar sedang mengerjainya.
"Maaf, senpai. Aku tidak bermaksud mentertawakan senpai"
'Huh, akhirnya gadis ini minta maaf juga' ujar Sasuke dalam hati.
"Tapi, Falls Street itu agak jauh dari sini. Dan setahuku juga tidak ada bis dengan rute kesana" si gadis menjelaskan.
"Bagaimana dengan taksi? Dimana aku bisa menemukan taksi?" Tanya Sasuke berapi-api. Ia sudah ingin cepat pulang mengingat sudah hampir tiga jam ia berjalan tanpa arah yang jelas.
Gadis itu tersenyum menyesal. "Yah, sayangnya aku jarang melihat taksi di daerah ini" Semangat Sasuke pun runtuh seketika. "Tapi senpai kan bisa menelpon taksi"
Sasuke tersentak seketika. Ia baru saja menyadari ketololannya. Ia bisa saja menelpon taksi sedari disekolah. Tapi bodohnya, ia tidak kepikiran. Dan ia baru menyadari hal ini ketika gadis dengan rambut merah muda itu mengusulkannya. Semangatnya kembali membara. Ia meraih i-phone-nya dari dalam tas dan ketika ia baru saja akan menyalakannya, ia kembali teringat jika i-phone itu sudah mati sejak sejam yang lalu.
'Ini adalah hari sialku' tangisnya dalam hati.
Lasting
Chapter 4
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Sepasang muda-mudi itu duduk berhadapan, disalah satu kedai. Sepiring dango dan dua gelas teh yang masih mengepul hangat, sudah tersaji dihadapan mereka.
"Ia, Distrik Amomori" jawab Sasuke pada operator taksi di seberang sana. "Saya tunggu" kemudian ia mematikkan ponsel yang ia pinjam dari gadis yang duduk dihadapannya itu. Sasuke tidak tahu keluaran tahun berapa ponsel kuno itu. Dan ia tak habis pikir, mengapa gadis itu masih menggunakan ponsel itu di zaman ini. Tapi mengingat gadis itu sudah berbaik hati menawarkkan ponselnya, dan bahkan mengajaknya makan ketika perutnya berbunyi, maka Sasuke memutuskan untuk tidak bertanya. "Terimakasih" ia mengembalikkan ponsel itu.
Gadis itu menerima ponselnya. Ia tertawa geli ketika sedetik kemudian Sasuke dengan cepat menyambar setusuk dango dari piring, dan melahapnya penuh napsu. "Pelan-pelan saja, senpai. Dango-nya tidak lari kok" ujarnya.
Sasuke tak menjawab. Tapi ia semakin napsu mengunyah dango-nya. Bodo amat dengan title cool yang selalu disandangnya. Hanya butuh sekita dua menit bagi Sasuke untuk menghabiskan dango dan teh-nya.
"Haaah" Sasuke menghembuskan nafas panjang. Perutnya terasa kenyang walau hanya diisi beberapa tusuk dango.
"Sudah kenyang?" Tanya gadis yang duduk dihadapannya itu.
Sasuke mengangguk. "Sekali lagi, terimakasih. Kau sudah banyak menolongku hari ini" Sasuke berterimakasih. Ia sungguh berterimakasih. Hal yang sangat jarang ia lakukan. Mengapa? Karena selama ini, ia merasa tidak pernah membutuhkan bantuan orang lain. Tentu saja karena ia adalah seorang Uchiha Sasuke. Ia tampan, kaya dan pintar.
"Nee, senpai" Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangannya yang ia tumpukkan diatas meja. "Kalau senpai tersesat, kenapa tidak bertanya saja?"
Sasuke mati gaya seketika. Harus dijawab apa pertanyaan gadis itu? "I.. aku..aku.." Masa ia harus mengaku kalau ia gengsi? Sasuke bertanya dalam hati.
"Aku tidak begitu mengenal senpai. Jadi aku tidak tahu senpai orangnya seperti apa" Perkataan sang gadis menyadarkan Sasuke dari lamunannya. "Tapi kata teman-teman, senpai itu kaya dan pintar"
'Hn' Dalam hati Sasuke merasa bangga.
"Mungkin karena itu senpai merasa gengsi kalau harus bertanya"
JLEB
Tepat sasaran
Kalimat gadis itu menusuk dada Sasuke. Sial. Padahal gadis itu baru saja mengenalnya. Tapi mengapa gadis itu bisa menebak dengan tepat apa yang dirasakan Sasuke.
Gadis berambut merah muda itu menambahkan. "Tapi senpai, tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Mungkin kalau aku tidak menyapa senpai tadi, sekarang senpai masih tersesat. Dan kelaparan. Dan mungkin beberapa jam kemudian senpai akan pingsan"
"Hey. Kau tidak perlu menjabarkannya seperti itu" Sasuke menyela. Sang Uchiha yang biasanya cool dan tenang itu, kini berkali-kali menahan malu dihadapan gadis yang baru dikenalnya itu. Seolah-olah gadis itu mengetahui semua sisi buruknya, yang selama ini hanya mampu dilihat keluarganya.
"Makanya jadikan hal ini pelajaran" Gadis itu menunjuk Sasuke. "Senpai tidak sendiri. Dan senpai tidak akna pernah sendiri. Karena itu, tidak ada salahnya menunjukkan sisi lemah senpai pada orang lain"
Sasuke terdiam. Menyadari ada benarnya juga apa yang dikatakkan gadis itu. Ia kaya, pintar dan tampan. Selama ini ia tidak pernah membutuhkan bantuan orang lain. Tapi hari ini menjadi pelajaran buat sang ketua Osis. Agar bisa sedikit menyadari sekelilingnya.
"Kalau senpai buta arah, yah bilang saja"
"Hey. Aku tidak buta arah tau" Sasuke berkilah. "Aku mengendarai mobilku sendiri setiap hari"
Gadis itu sekali lagi tertawa geli. Entah mengapa, tawa gadis itu membuat Sasuke sedikit tersenyum. Hal yang jarang ia lakukan. Ia merasa nyaman berada didekat gadis yang namanya saja ia tidak tahu. HEY! Ia tidak tahu nama gadis itu.
"Ano-" baru saja ia akan bertanya, ponsel gadis itu ordering.
"Ahh, taksinya sudah disini" gadis itu memperhatikkan layar ponselnya. "Ya ampun, sudah jam segini lagi. Bisa-bisa aku dimarahi nenek sihir itu" Si gadis mengoceh sendiri.
"Hey, aku-" Sekali Sasuke hendak bertanya. Tapi gadis itu sudah terlebih dahulu berkata.
"Senpai, taksinya sudah didepan" Ia menunjuk sebuah taksi yang terparkir tak jauh dari kedai. "Kalau begitu aku pulang dulu ya"
"Hah? Eh, tunggu" seolah tak mendengar panggilan Sasuke, gadis itu sudah melesat pergi.
"Aku belum tahu namanya" Sasuke bergumam sendiri
Gadis berambut indigo sepinggang itu mendesah pelan. Sudah lima kali telpon-nya tak dijawab. Dengan lemas, ia meletakkan kembali android yang sedari tadi ia pakai untuk menelpon. Sedang apa pemuda itu sekarang? Mengapa ia tak menjawab satupun panggilannya? Padahal ini sudah pukul delapan malam.
"Hinata-sama, guru privat anda sudah datang" Seorang pelayannya berkata dibalik pintu kamarnya yang terbuka.
Gadis yang dipanggil Hinata itu mengangguk. "Aku segera kesana" jawabnya. Sang pelayan membungkuk sopan kemudian berlalu pergi.
Setelah mengambil buku-buku yang telah ia siapkan, Hinata bersiap pergi. Namun sekali lagi, ia memandang layar Samsung Galaxy Grand-nya. Ia tidak pernah membawa alat itu ketika belajar. Takut menganggu konsentrasinya. Tapi bagaimana kalau pemuda itu menelponnya saat ia tidak ada?
"Aku bisa menelponnya nanti" putusnya kemudian meninggalkan kamarnya.
Sudah dua jam keduanya habiskan di ruang tamu kediaman Hyuuga. Ngobrol? Tentu saja bukan.
Belajar.
Naruto menutup bukunya. "Hari ini sampai disini dulu" kata pemuda berambut pirang itu ketika ia dan Hinata menyelesaikkan materi biologi hari itu.
"Hey, Naruto-kun" panggil Hinata. Meskipun Naruto lebih tua setahun darinya, gadis itu sudah terbiasa memanggilnya dengan nama kecilnya saja. Karena sudah tiga tahun ia ditutori oleh Naruto, tidak heran jika keduanya begitu akrab.
"Ya?"
Hinata menimban-nimbang. Haruskah ia bertanya pada Naruto ataukah tidak. Tapi akhirnya gadis itu memutuskan untuk bertanya. "Sekolahmu, KHS bukan?" Naruto mengangguk sebagai jawaban. "Kau kenal dengan Uchiha Sasuke?"
"Uchiha-senpai?" Naruto mengusap-usap dagunya, seakan ia tengah berpikir keras. "Tidak bisa dibilang kenal sih. Kalau tahu, iya. Dia kan ketua Osis KHS"
Hinata tersenyum merona begitu mendengar perkataan Naruto barusan. "Ooh. Begitu?" Namun tiba-tiba ia melemas. "Pasti banyak perempuan yang naksir dengan Sasuke"
Naruto tersenyum jahil. Sepertinya ia mengerti mengapa gadis itu mendadak lemas "Tentu saja" jawabannya membuat Hinata makin lemas. Menyadari hal itu membuat Naruto tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi.
"Jangan tertawa dong!" Hinata berseru malu. Ia melempari Naruto dengan salah satu buku pelajarannya yang tergeletak diatas meja. Untung bagi Naruto yang bisa menangkap buku itu sebelum mendarat di wajahnya.
"Hey, jangan kasar begitu dong, Hinata." Kata Naruto, masih tertawa. "Kalau wajahku rusak, adikku bisa malu jalan denganku"
Hinata mendengus tak peduli. "Pulanglah. Adikmu pasti sudah menunggu" Hinata tahu Naruto punya seorang adik kembar. Dan Hinata tahu dari Naruto, karena pemuda itu membuatnya berjanji tidak akan memberitahu adiknya –yang belum pernah Hinata temui, hanya melihatnya melalui foto- bahwa Naruto bekerja sampai larut malam.
"Iya, ini juga mau pulang" Naruto mengambil tasnya, bersiap untuk pergi. "Walaupun banyak gadis yang mengejar si ketua Osis.." Hinata menajamkan telinga. "… sepertinya dia belum punya pacar. Jadi berjuanglah, Hinata" dan perkataan Naruto barusan berhasil membuat Hinata tersenyum lebar.
"Hah? Osis?" Sakura bertanya bingung. Siang itu tiba-tiba wali kelas mereka memintanya dan Gaara menghadap ke ruang guru.
"Ya, begitulah" Guru yang entah kenapa selalu memakai masker itu menjawab.
"Tapi mengapa harus kami?" Kali ini Gaara bertanya. Nampaknya ia tidak begitu senang dengan keputusan Kakashi yang mengharapkan -memaksa- ia dan Sakura untuk bergabung di Osis.
"Semua kelas mendaftarkan pengurus kelasnya. Jadi ya mau bagimana lagi" jawab Kakashi malas. Ditangannya, sebuah buku –yang Sakura dan Gaara yakini, bukan bacaan untuk anak dibawah umur- masih setia ia baca. Entah mengapa guru itu selalu membaca buku itu. Dan kalau sudah begitu, sang guru seperti berada di dunia lain.
Dan sepertinya, sebanyak apapun complain Sakura dan Gaara, Kakashi tidak akan mengubah keputusannya. Karena itu keduanya hanya bisa meratapi dengan pasrah hari-hari SMA mereka yang sepertinya akan begitu sibuk.
"Hey, Sasuke. Konsentrasi dong" keluh Lee sang bendahara Osis. Bagaimana tidak? Ini sudah ketiga kalinya Lee mengulang laporannya mengenai keungan Osis bulan ini. Dan bagaimana tanggapan Sasuke ketika Lee mengakhiri laporannya?
"Hah?"
Jelas hal itu membuat Lee, dan anggota-anggota Osis lainnya jengkel dan heran. Jengkel karena sang ketua Osis tidak memperhatikkan sama sekali jalannya rapat hari itu. Dan heran karena ini pertama kalinya sang ketua Osis berbuat demikian.
"Maaf" Sasuke berkata sembari memijit pelipisnya pelan. Nampaknya usahanya untuk mengembalikkan konsentrasinya tak kunjung berhasil. "Lee, tinggalkan saja laporan itu di mejaku. Akan kubaca nanti. Dan jika ada yang salah, aku akan menghubungimu"
Anggota Osis lainnya hanya mengangguk mengiyakan. Bagaimanapun mereka juga sudah lelah mendengar Lee yang sudah tiga kali mengulangi laporannya.
"Baiklah, rapat hari ini selesai" Sasuke mengakhiri rapat hari itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka pun bubar. Meninggalkan Sasuke yang masih merenung sendiri di ruang Osis.
"Yo, kau tidak apa-apa?" tanya Shino, sang sekretaris Osis yang rupanya juga masih berdiam diri disana, lantaran khawatir akan perilaku temannya yang tidak biasa.
"Aku tidak apa-apa" jawab Sasuke malas. Ia kemudian menatap i-phone-nya yang sudah dipenuhi oleh miss call dan sms dari Hinata. Sasuke menghela nafas berat kemudian memasukkan kembali benda itu kedalam sakunya.
Shino menatap Sasuke tak percaya. "Kalau tidak ada apa-apa kenapa kau tidak konsen begitu?" Pemuda berkacamata itu masih terus bertanya. "Kau tahu kau tidak bisa bohong padaku"
Menyerah pada temannya sejak SMP itu, Sasuke kemudian menjawab. "Apa kau kenal dengan junior kita? Yang punya rambut berwarna merah muda"
Shino mengernyit bingung. "Perempuan?" Anggukkan Sasuke membuat Shino semakin bingung. "Kau bertanya tentang permepuan?"
"Hey ayolah, jawab pertanyaanku. Jangan bertanya terus" Sasuke berkata jengkel.
"Iya, maaf" Sang sekretaris Osis membenarkan letak kacamatanya yang melorot. "Aku ingat pernah melihat gadis seperti itu. Habis warna rambutnya mencolok sekali. Tapi aku tidak tahu namanya"
"Bisakah kau mengeceknya dibuku siswa?" Desak Sasuke.
"Tentu saja bisa. Tapi ada apa denganmu Sasuke? Kalau kau jatuh cinta pada gadis itu, nanti Hinata mau dikemanakan?"
"Aku tidak jatuh cinta pada gadis itu tahu. Aku hanya pernah ditolongnya dan ingin membalas budi. Itu saja" Sasuke meninju bahu Shino main-main. "Lagipula kau tahu aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Hinata."
"Sudah, Sakura-chan. Masuk Osis bukan berarti akhir dunia" hibur Naruto. Tangannya mengusap helaian merah muda sang adik yang kini tengah menenggelamkan wajahnya di mejanya.
"Iya, Sakura-chan" tambah Tenten, yang duduk disebelah Sakura. "Lagian kenapa kau sedih? Banyak loh gadis-gadis yang rebutan ingin masuk Osis"
"Pasti karena Uchiha-senpai. Benar kan?" Sakura tiba-tiba mengangkat wajahnya.
"Hehehe, itu kau tahu" Tenten tertawa kikuk. "Kau itu harusnya senang. Karena bisa dikelilingi cowok-cowok tampan seperti Gaara dan Uchiha-senpai. Benar tidak Gaara?"
Gaara yang duduk tak jauh dari mereka hanya mengendikkan bahu. Pemuda berambut merah itu kemudian berlalu meninggalkan kelas.
"Wah, sifat dinginnya masih saja tidak hilang" Tenten bergumam. "Tapi tampannya juga tidak hilang"
"Hey, hey, Tenten" Tegur Naruto. Tangannya yang tadi bertengger dikepala sang adik, kini ia gunakan untuk menopang sebelah sisi wajahnya diatas meja Sakura. "Kau itu kenapa selalu berisik tentang cowok-cowok tampan sih?"
"Wajarlah" Tenten membela diri. "Namanya juga cewek. Jangan bilang padaku kalau kau tidak pernah berisik kalau melihat cewek cantik"
"Hmm, sepertinya belum pernah" Sakura menjawab. Ia menghadapkan wajahnya ke wajah Naruto yang hanya beberapa centi didepannya.
"Ne, Naruto. Ngomong-ngomong kau belum pernah cerita padaku soal cewek"
"Ooh. Soal itu-"
"Hey, kalau kalian sedekat itu, nanti dikira pacaran loh" Baru saja Naruto ingin menjawab, Neji -yang baru saja datang bersama Kiba- memotong
"Oooh iya ya" Naruto menarik wajanya. Sakura juga melakukkan hal yang sama.
"Ngomong-ngomong ada apa kalian kemari?" Tenten bertanya.
"Ooh, kau tidak tahu ya?" Kiba balas bertanya yang dijawab Tenten dengan tatapan 'jelas aku tidak tahu. Makanya aku bertanya'
"Hari ini ada festival band di Konoha Square. Kebetulan senpai-ku di dojo adalah salah satu anggota dari bang yang akan manggung. Jadi dia memberiku banyak tiket kosong" Neji mengeluarkan enam lembar tiket dari dalam sakunya.
"Wah banyak sekali" Tenten memelototi tiket yang dipengang Neji. "Memangnya senpai-mu itu tidak punya siapa-siapa untuk diberi tiket?"
Neji menerawang. "Well, dia memang sepertinya tidak punya pacar"
"Pantas saja" Naruto mengagguk-angguk.
"Dan adiknya katanya tidak mau datang di acara berisik seperti itu" tambahnya
Sakura memiringkan kepalanya. "Hah? Memangnya ada adik yang tidak mau menonton band kakaknya sendiri?"
Sekali lagi Naruto mengangguk. "Kau tidak boleh jadi adik seperti itu, Sakura-chan" Sakura membalas dengan tatapan 'tentu saja tidak'
"Habis, sepertinya Uchiha-senpai sibuk sekali bukan? Dia juga sepertinya tidak begitu suka keramaian" Perkataan Kiba membuat Teten menatapnya bingung.
"Loh apa hubungannya dengan Uchiha-senpai?"
Neji menepuk dahinya sendiri. "Ooh iya. Aku lupa bilang. Senpai-ku itu namanya Uchiha Itachi. Dia kakak Uchiha Sasuke"
"HAH?" Dan ketiga manusia dihadapannya hannya bisa menatapnya tak percaya.
TBC
