SIXTEEN SEASON 2

Chapter 4

Author: ByunnaPark

Genre: Family/Romance/little bit Hurt/Comfort (maybe)

Rate: T

Cast: LuHan ,WuFan/Kris, Zhang Yixing, Kim Suho

Other Cast: Huang Zitao, Oh Sehun/Byun Sehun, Kim Jongin, Do Kyungsoo

Pair: SuLay, KrisTao/TaoRis, HunHan

Slight: KaiSoo, ChanBaek, ChenMin, dll

Disclaimer: ff ini milik saya, member EXO milik kita semua #plaaaak

Warning: OOC, GS, typo(s), gaje, sinetron mode on, ngebosenin, don't like, don't read.

Summary: Ketakutan akan masa lalu, membuat Yixing menjadi seorang ibu yang overprotective. Akankah masa lalunya terulang kembali pada anaknya? (Bad Summary)

Let's Start

Happy Reading

Author Pov.

Luhan memandang datar Wufan yang sedang merapikan seragamnya di depan cermin. Pelukannya pada boneka teddy bear semakin mengerat. Entah kenapa ia merasa iri melihat Wufan yang tampaknya bahagia memasuki hari pertamanya sebagai murid SMA. Sedangkan ia, hanya bisa meratapi nasibnya yang bisa saja mati bosan karena terus dikurung di dalam rumah. Menjalani sekolah hanya dengan berkutat didepan laptop tanpa ada teman untuk di ajaknya berdiskusi.

Tapi sampai kapan ia harus menjalani itu semua? Luhan sendiri pun tidak tau. Jujur ia sudah tidak tahan hidup seperti ini. Ingin rasanya ia lari dari semuanya, menuju alam bebas yang bisa membuatnya tertawa lepas tanpa ada tembok pembatas. Kalau saja ia terlahir menjadi seorang laki-laki, mungkin kehidupannya tidak akan seperti ini.

Wufan sejenak menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap pantulan wajah adiknya di cermin. Ia baru sadar kalau Luhan menatapnya dari tadi. Dan rasa bersalah itu pun datang. Wufan merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak menunjukkan raut cerianya di depan adiknya itu. Ini hari pertamanya masuk SMA dan menjadi impian Luhan juga untuk memasuki sekolah yang sama dengan Wufan saat mereka SMA, tapi apa daya sang ibu masih tidak mengizinkan Luhan sekolah disekolah formal. Dan ia tau Luhan pasti sangat sedih sekarang ini.

"Lu, kau kenapa?" Luhan tetap tidak berkedip saat Wufan berjongkok, duduk di depannya.

"sepertinya kau bahagia sekali" ujar Luhan dingin. Wufan mendengar suara Luhan bergetar dan yang membuat hatinya miris saat melihat mata adiknya mulai berkaca-kaca.

"ti-tidak–"

"jangan bohong" potong Luhan dan satu tetes air matanya mulai turun. Sungguh Wufan memaki dirinya sendiri saat ini karena membuat separuh jiwanya menangis,"kau jahat Wu, kau selalu membohongi ku, kau selalu bercerita kalau kehidupan diluar sana tidak menyenangkan, tapi buktinya kau sangat menikmatinya kan? Kenapa kau hanya menikmatinya sendiri, kenapa kau tidak mengajakku juga? Bukankah aku saudaramu? Bahkan kita lahir dari rahim yang sama" isakan Luhan pun keluar dan gadis itu beralih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Wufan tersentak mendengar pernyataan Luhan, ia merasa hatinya seperti teriris benda tajam saat melihat adiknya menangis seperti itu. Ia pun bangkit dan mendudukkan dirinya di samping Luhan lalu memeluk tubuh adiknya yang bergetar.

"mianhae Lu, bukan ma–"

"cukup Wu! Jangan bohongi aku lagi, aku bukan anak kecil lagi sekarang..."

"...kau tau, aku lelah Wu, aku menyesal terlahir menjadi perempuan" dan Luhan pun dengan kasar melepas pelukan Wufan padanya membuat kakaknya itu membualatkan matanya kaget.

"dan kenapa aku harus terlahir menjadi perempuan Wu? Kita kembar kan? Seharusnya aku juga laki-laki sama sepertimu, Tuhan memang tidak adil padaku hiks" seru Luhan dengan wajahnya yang memerah penuh emosi, lalu secepat kilat ia berlari keluar dari kamar Wufan dan mengunci dirinya di kamar.

Wufan panik dibuatnya, ia pun berlari mengejar Luhan tapi sayang kamar adiknya itu sudah dikunci dari dalam.

"Lu, buka pintunya! Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu" seru Wufan sambil mengetuk pintu kamar Luhan. Tapi tidak ada sahutan dari dalam, yang Wufan dengar adalah suara isakan.

"Lu, aku mohon buka pintunya!"

"pergilah Wu, kau tidak mau terlambat di hari pertama mu kan?"

Wufan menundukkan wajahnya, ketukannya pun melemah. Ia semakin merasa bersalah pada adiknya itu. Bukan maksudanya untuk membohongi Luhan. ia hanya ingin menjaga perasaannya saja. Wufan tidak mau Luhan semakin tersiksa membayangkan keindahan hidup diluar sana jika Wufan menceritakan hal-hal yang menyenangkan.

"Lu!" panggilnya sekali lagi.

"aku mohon pergilah Wu, tinggalkan aku sendiri hiks"

"mianhae" ucapnya lirih dan semakin menundukkan wajahnya. Apakah Luhan benar-benar marah padanya saat ini? Seumur-umur Luhan tidak pernah seperti ini. Wufan sebenarnya mengerti, Luhan memang sudah tidak tahan dengan hidup yang ia jalani. Jujur Wufan juga tidak tega akan hal itu. Tapi apa daya, Wufan hanya seorang anak, usianya masih belum cukup untuk menentang kemauan orang tuanya. Jika bisa Wufan ingin membawa saudaranya itu kemanapun yang ia mau. Melihat senyum Luhan sudah cukup membuat Wufan bahagia, karena bagaimanapun Luhan adalah separuh jiwanya. Luhan sakit, senang, sedih semua yang Luhan rasakan Wufan juga mampu merasakannya.

Dengan langkah gontai Wufan menyeret tas nya menuruni tangga. Pikirannya benar-benar kacau. Selama ini yang selalu Wufan hindari adalah membuat Luhan sedih. Sebisa mungkin Wufan akan membuat adiknya itu senang walaupun hanya dengan menceritakan hari-hari nya di sekolah yang memang biasa saja tapi itu sudah cukup membuat Luhan semangat mendengarnya. Tapi yang membuat Wufan semakin merasa bersalah adalah ia yang selalu memberi janji palsu pada adiknya. Mengajak Luhan jalan-jalan. Janji sepele memang, tapi sampai sekarang Wufan masih belum bisa menepatinya. Baginya membawa kabur Luhan dari penjara jauh lebih mudah dari pada rumah ini, dengan Yixing –ibunya– yang hampir setiap menit memeriksa keadaan putri kaca-nya. Putri kaca, yah begitu Wufan menyebut Luhan, seakan ibunya itu takut kalau kaca itu pecah jika orang lain menyentuhnya.

Dan ia merasa ibunya sudah benar-benar berlebihan. Tidak cukupkah Luhan menjalani homeschooling dari TK sampai SMP? Tidak bisakah membebaskan Luhan selama 3 tahun saja, menjalani masa SMA nya dengan normal?

Wufan menghela nafas berat sambil berjalan melewati ruang makan, dimana ada nenek, kakek, adik bungsunya dan kedua orang tuanya tengah menikmati sarapan pagi mereka.

"Wufan! Sarapan dulu!" seru Yixing pada putranya yang tidak biasanya melewatkan sarapannya.

"aku tidak lapar" jawab Wufan tanpa menengok dan tanpa menghentikan langkah kakinya.

Yixing mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap putranya pagi ini.

"Wufan kenapa?" tanya nyonya Kim yang juga bingung melihat cucu nya yang sedikit berbeda.

"aku juga tidak tau eomma" jawab Yixing dengan raut wajahnya terlihat sedang berpikir. Suho pun mengusap lengan istrinya yang tampak gelisah memikirkan putra sulungnya.

"sudah, mungkin Wufan gugup menghadapi hari pertamanya di sekolah yang baru" ujar Suho untuk menenangkan sang istri. Dan akhirnya Yixing menganggukkan kepalanya. Ya, mungkin suaminya benar, Wufan pasti gugup menghadapi hari pertamanya.

~SS2~

Dengan langkah ceria gadis bermarga Huang itu memasuki halaman sekolahnya yang baru, Sangwon SHS. Mood nya sedang baik pagi ini mengingat hari ini adalah hari pertamanya menjadi siswi SMA dengan kelas baru dan teman baru pula walaupun pasti teman lama masih mendominasi karena memang sekolah SMA nya ini satu yayasan dengan SMP nya bahkan gedungnya pun berdekatan, jadi mayoritas alumni SMP Sangwon akan meneruskan SMA nya di Sangwon juga.

Langkah Zitao terhenti sejenak, ia pandangi gedung sekolahnya yang baru itu dengan senyum yang sedari tadi tidak lepas dari bibir nya. Sepertinya mood gadis itu memang benar-benar baik hari ini.

"welcome back Huang Zitao" gumamnya lalu melanjutkan langkahnya lagi melewati lorong yang menghubungkan dengan kelas nya yang baru. Tapi tiba-tiba senyum cerianya berubah menjadi seringaian jail saat melihat sosok namja tinggi yang berjalan tidak terlalu jauh di depannya.

Zitao pun semakin mempercepat langkahnya sampai mendekat ke arah namja yang tidak lain adalah Wufan tersebut. Dengan cukup keras ia menyenggol bahu Wufan sampai tubuh tinggi tersebut terhuyung ke samping. Merasa misi nya sudah berhasil terlaksana, gadis itu mempercepat kembali langkahnya mencoba untuk kabur dari amukan namja yang biasa ia panggil jerapah tengik itu. Tapi merasa tidak mendapat respon, langkahnya terhenti kembali. Keningnya berkerut.

'aneh' batinnya. Karena memang tidak biasanya Wufan hanya diam saat gadis itu mengganggunya.

Zitao pun akhirnya membalikkan badannya kembali menghadap Wufan yang melanjutkan langkahnya kembali tanpa semangat. Gadis itu mulai menyamakan langkahnya dengan Wufan dan matanya terus mengamati raut datar di sampingnya.

Tangannya kanannya terangkat untuk menoyor kepala Wufan dan lagi-lagi tidak mendapat respon. Tidak mau menyerah Zitao mulai memukul dan mencubiti lengan Wufan dan kali ini berhasil membuat langkah namja itu terhenti.

"aku sedang tidak ingin bertengkar" ucapnya dingin dengan tatapan lurus kedepan.

Zitao kembali mengerutkan keningnya bingung dengan saudara kembar sahabatnya ini. Karena tidak biasanya Wufan tidak membalas kejailannya. Mereka pun kembali berjalan dengan Zitao yang masih nampak berpikir dan tidak lama kemudian ia seperti menemukan apa yang membuat Wufan kehilangan semangat pagi ini.

"Lulu kenapa?"

Bingo! Pertanyaan Zitao memang tepat sasaran. Gadis itu tau betul satu-satunya yang bisa membuat Wufan murung, dan itu pasti menyangkut Luhan.

"apa dia sakit lagi?" tanya Zitao lagi walaupun pertanyaan pertamanya belum di jawab.

"ani" jawab Wufan singkat.

"lalu?"

"bukan urusanmu" ujar Wufan dingin.

"tentu saja urusanku, Lulu sahabatku"

Wufan kembali menghentikan langkahnya dan beralih menatap gadis bermata panda di sampingnya.

"kau hanya sahabatnya, tidak semua tentang Lulu kau juga harus mengetahuinya" ucap Wufan dengan meninggikan suaranya sambil menunjuk Zitao dengan jari telunjuknya.

Mata Zitao membulat, ia seakan tidak terima dengan pernyataan Wufan padanya. Rahangnya mulai mengeras dan wajahnya memerah penuh emosi. Sepertinya mood nya juga berubah jelek saat ini.

"justru karena aku sahabatnya, aku berhak tau apa yang terjadi padanya, satu-satunya sahabat yang dia punya hanya aku, aku yang paling mengerti segala seuatu tentangnya, bahkan kau..." Zitao balik menunjuk Wufan dengan jari telunjuknya,"...saudaranya sekalipun tak pernah mengerti perasaannya, kau tidak tau kan bagaimana tersiksanya Lulu selama ini, sekalipun kau mengerti tapi apa kau pernah berusaha membuatnya bahagia walau sebentar saja? Jawabannya tidak pernah, kau hanya bisa memberi janji kosong padanya dan kau tau, itu hanya akan membuat Lulu kecewa padamu, jadi jangan kaget kalau suatu hari nanti ia tidak mempercayaimu lagi" ucap Zitao panjang lebar dan setelah itu pergi meninggalkan Wufan sendiri yang masih mematung di lorong.

Tidak dipungkiri lagi Wufan kaget mendengar pernyataan Zitao. Apakah selama ini ia memang tidak mengerti Luhan? tidak, Wufan mengerti betul bagaimana adiknya tapi tuduhan Zitao tentang janji kosong itu memang benar dan Wufan memang menyadarinya. Tapi ia tidak sampai berpikir kalau nanti Luhan bisa saja tidak mempercayainya lagi dan ia baru menyadarinya sekarang. Tidak, Wufan tidak mau itu terjadi, ia tidak mau saudara kembarnya itu mengecapnya sebagai pembohong. Wufan harus menjelaskannya saat pulang sekolah nanti, ya.. sebelum Luhan benar-benar marah padanya.

~SS2~

Tok tok tok

"Lulu!"

Tok tok tok

Yixing mengerutkan keningnya sambil mengetuk pintu kamar Luhan, karena tidak biasanya kamar putri kesayangannya itu terkunci dari dalam. Tapi tak lama kemudian pintu itu pun terbuka. Langsung saja Yixing memasuki kamar tersebut dan mendapati si pembuka pintu berjalan kembali ke tempat tidurnya dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, Yixing pun geleng-geleng dibuatnya.

Yeoja itu kemudian menyibakkan tirai jendela agar sinar matahari pagi masuk ke dalam kamar tersebut. Ia lalu berjalan mendekat ke tempat tidur dan duduk di pinggirannya.

"Lulu, ayo bangun sayang, jangan tidur lagi ini sudah siang!" tangan Yixing perlahan menarik-narik selimut yang menutupi tubuh putrinya. Tapi selimut itu ternyata juga ditarik oleh Luhan sehingga Yixing tidak bisa melepaskannya.

"sayang, ini sudah siang, cepat mandi sebentar lagi guru Shin datang"

Guru Shin, guru yang membimbing Luhan belajar selama ini.

"shireo, aku tidak mau belajar lagi" jawab Luhan dibalik selimut.

Yixing menhela nafas berat, mencoba bersabar menghadapi putrinya yang terkadang susah untuk menuruti perintahnya itu.

"Luhan, eomma sedang tidak ingin berdebat denganmu, jadi sekarang cepat bangun" ujar Yixing sekuat mungkin menahan emosinya. Tapi lagi-lagi tidak ada respon dari Luhan.

Cukup lama Yixing menunggu pergerakan putrinya untuk bangun, tapi akhirnya kesabarannya sudah habis.

"LUHAN!BANGUN!" bentak Yixing dengan wajah yang memerah sambil menarik selimut Luhan dengan kasar sehingga selimut itu pun terlepas dari tubuh putrinya.

Luhan pun beralih menangkup wajahnya dengan bantal.

"hiks shireo...aku tidak mau homeschooling lagi aku ingin seperti Wufan eomma hiks hiks"

"Lu, jangan buat eomma marah" Yixing menarik lengan Luhan agar putrinya itu bangkit dari tidurnya. Terlihatlah sekarang wajah putrinya yang basah dan sembab.

"aku hanya ingin sekolah ditempat yang semestinya eomma, itu saja hiks, sekali ini saja eomma, aku moh–"

"LUHAN CUKUP! eomma tidak mau mendengarnya lagi, berkali-kali kau meminta hal yang sama dan jawaban yang sama pula yang akan eomma berikan... sekarang cepat mandi!" bentak Yixing sekali lagi, lalu menyeret putrinya untuk memasuki kamar mandi.

Tangis Luhan pun semakin menjadi, gadis itu meronta untuk melepaskan cengkeraman tangan Yixing di lengannya.

"shireo eomma.. aku tidak mau belajar hiks hiks"

Yixing tidak menghiraukan Luhan yang meronta dan terus menarik putrinya itu memasuki kamar mandi.

"Yixing ada apa rib– ASTAGA! Yixing apa yang kau lakukan pada putrimu?" pekik nyonya Kim saat melihat Yixing menyeret Luhan ke kamar mandi.

"hiks nenek hiks hiks"

Melihat mertuanya, cengkeraman Yixing melemah dan membuat Luhan dengan mudah melepaskan diri lalu berhambur kepelukan sang nenek.

"jangan kasar begitu, sebenarnya ada apa?" tanya nyonya Kim pada Yixing yang mukanya sudah merah padam. Tangan yeoja tua itu mengusap punggung cucunya yang bergetar dipelukannya.

Yixing memijit pelipisnya lalu menghembuskan nafasnya kasar,"30 menit lagi Luhan sudah harus siap, sebentar lagi guru Shin datang" ujar Yixing dingin lalu pergi meniggalkan kamar Luhan.

Nyonya Kim memeluk prihatin cucu perempuan satu-satunya itu. Ia tau betul apa yang menyebabkan cucunya seperti ini dan ia merasa menantunya itu sudah keterlaluan.

"ssssttt Lulu jangan menangis lagi ne, ada nenek disini" ucap nyonya Kim mencoba menenangkan Luhan.

"hiks eomma jahat, eomma tidak menyayangiku lagi hiks eomma jahat" racau Luhan di pelukan neneknya.

"ssstt Lulu tidak boleh bicara begitu, justru eomma sangat menyayangimu, eomma hanya tidak mau terjadi sesuatu padamu, Lulu yang sabar ne, sekarang Lulu mandi, biar nenek yang bicara pada eomma mu"

Luhan melepaskan pelukannya pada nyonya Kim lalu mengangguk. Tangan yeoja tua itu terangkat untuk menghapus air mata cucunya dan mencium keningnya sekilas. Setelah itu Luhan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Nyonya Kim menatap iba pintu kamar mandi yang tertutup itu. Ia tau cucunya itu sudah tidak tahan dengan perlakuan ibunya. Tapi mau bagaiman lagi, sudah berkali-kali nyonya Kim menasihati Yixing agar memberi sedikit kebebasan tapi percumah saja, Yixing masih tetap pada pendiriannya.

~SS2~

Nyonya Kim mendekati menantunya yang saat ini menenggelamkan wajahnya di meja makan. Ia bisa melihat bahu menantunya itu bergetar yang menandakan bahwa sang menantu sedang menangis. Nyonya Kim mendudukkan dirinya di sebelah Yixing dan perlahan mengusap bahu menantunya membuat Yixing mendongakkan wajahnya menatap nyonya Kim.

"hiks eomma" panggil Yixing lalu berhambur kepelukan mertuanya. Nyonya Kim pun tak henti-hentinya mengusap punggung Yixing agar yeoja itu sedikit tenang.

"aku hanya ingin melindunginya eomma, apa aku salah hiks"

Nyonya Kim mengehela nafasnya sejenak,"Yixing dengarkan eomma..."

"...eomma tau kau hanya ingin melindungi putrimu, tapi caranya bukan begitu Yixing, mengurung Luhan terus-menerus di dalam rumah tidak baik untuk perkembangannya kelak, putrimu juga butuh bersosialisasi, Luhan sudah beranjak dewasa dan dia pasti tau mana yang benar dan mana yang salah, eomma justru takut kalau suatu hari nanti Luhan malah melampiaskan semuanya ke hal-hal yang negatif... jadi alangkah baiknya kau memberi sedikit kebebasan padanya, Luhan sudah terlalu lama homeschooling, kali ini izinkanlah ia memasuki sekolah formal, lagi pula ada Wufan dan Jongin yang akan menjaganya nanti" nasihat nyonya Kim panjang lebar.

"tapi aku takut eomma"

Nyonya Kim merenggangkan pelukannya dan beralih menangkup wajah Yixing yang basah,"cobalah untuk percaya pada putrimu sendiri, aku yakin Luhan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang kau berikan"

Tangis Yixing masih belum berhenti. Pikirannya semakin kacau. Jujur ia masih belum sanggup membebaskan Luhan. Rasa takut itu masih ada. Walalupun ada Wufan dan Jongin yang pasti akan menjaga saudaranya tapi tetap saja Yixing masih merasa takut karena Wufan dan Jongin tidak mungkin terus menerus bersama Luhan saat disekolah.

Yah...mungkin Yixing masih butuh waktu untuk memikirkannya.

~SS2~

"ahahahaha" tawa sekelompok namja yang sedang mengelingi salah satu bilik toilet di mana terdapat seorang namja yang sedang berjongkok di depan closet.

"anak baru ingin menjadi jagoan haaaaah?" bentak namja berambut plontos yang tangan kanannya sibuk menjambak rambut ikal namja yang sedang berjongkok di depan closet.

"ti-tidak sunbae" jawab namja itu takut-takut dengan tubuh yang bergetar.

"masih berani mengelak?" bentak namja plontos lagi.

"sudah beri pelajaran saja dia, supaya tau akibatnya karena sudah menantang bos besar" teriak salah satu namja berpipi tirus.

Dan tiba-tiba namja plontos menenggelamkan wajah hoobae-nya –namja ikal yang berjongkok di depan closet– ke dalam air yang ada di closet tersebut dan semua pasti tau seberapa menjijikannya air dalam closet itu.

Sedangkan di belakang gerombolan namja itu tampaklah sang bos ber-nametag Byun Sehun yang sedari tadi hanya diam dengan menyenderkan tubuhnya di tembok sambil melipat tangannya di dada, menatap tajam pertunjukan yang diciptakan oleh anak buahnya.

Cukup lama namja plontos itu menenggelamkan wajah hoobaenya di dalam closet sampai tubuh hoobaenya tersebut melemas dan akhirnya ia menarik rambut hoobaenya kembali agar bisa mengambil nafas sejenak tapi tidak lama ia menenggelamkan wajah hoobaenya kembali dan itu berulang-ulang kali dilakukannya.

Disekelingnya terdengar tawa dari teman-temannya yang lain seolah mendapat hiburan yang seru dan itu semakin membuat namja berambut plontos tidak ingin berhenti menyiksa hoobaenya yang saat ini mungkin sudah hampir pingsan karena kehilangan nafas.

Namun tidak lama terdengar pintu toilet yang di buka seseorang. Sehun dengan raut dinginrnya menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang mengganggu tontonannya dan siapapun orang itu, Sehun pastikan akan bernasib sama dengan hoobae di depannya yang saat ini tengah mengumpulkan oxigen sebanyak-banyaknya agar ia tidak mati sia-sia. Namun rencananya buyar saat melihat sosok Wufan yang muncul.

Wufan pun hanya bisa berdiri terpaku melihat aktivitas anak buah Sehun. Tapi sedikitpun Wufan tidak merasa takut, ia sudah biasa melihat hal seperti ini saat SMP dan Wufan yakin Sehun tidak akan berbuat macam-macam padanya karena mengingat ia adalah sepupu sahabatnya, Kim Jongin. Tapi itu dulu saat ia masih SMP dan hubungan Sehun-Jongin masih baik-baik saja. Tapi sekarang? Wufan tau kalau hubungan keduanya sedang tidak baik. Jadi apa dia masih aman sekarang?

Sehun beralih memasukkan tangannya di saku celana,"cukup!" interupsinya untuk menghentikan aktivitas anak buahnya menyiksa anak baru. Kemudian berjalan dengan santai melewati Wufan dan Taeyong yang sedang bersembunyi dibelakang punggung Wufan. Tubuh Wufan sempat oleng saat salah satu anak buah Sehun dengan sengaja menyenggol bahunya.

Sedangkan sang korban penyiksaan saat ini sedang meraup oxigen sebanyak-banyaknya, beruntung ia tidak sempat pingsan.

Langsung saja Wufan dan Taeyong mengahampiri sang korban.

"gwenchanna?" tanya Wufan setengah panik karena sang korban benar-benar terlihat lemas.

"uhuk... uhuk" sang korban malah terbatuk lalu bangkit dengan langkah terseok-seok menuju wastafel dan mencuci mukanya. Setelah itu ia mendudukkan dirinya di lantai dan bersandar di tembok. Wufan dan Taeyong hanya memperhatikan gerak-geriknya saja menunggu sampai keadaan sang korban stabil.

"gila... mereka semua gilaa" racau sang korban.

Wufan dan Taeyong lalu beranjak mendekati sang korban.

"kau anak baru? Eumm maksudku kau baru memasuki Sangwon di tahun pertamamu menjadi siswa SMA?" tanya Wufan.

Sang korban membuka matanya dan beralih menatap Wufan, nafasnya nya sudah agak stabil sekarang.

"ne, perkenalkan namaku Choi Inho" ucap sang korban bernama Inho sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Wufan dan Taeyong.

Wufan dan Taeyong pun menyambut jabatan tangan Inho dan memperkenalkan diri mereka.

"aku Lee Taeyong"

"aku Kim Wufan, kalau boleh tau, kenapa mereka bisa menyiksamu seperti itu?" tanya Wufan lagi.

"haaaah... entahlah aku hanya ingin keluar dari toilet dan tanpa sengaja aku menabrak namja pucat yang mereka panggil bos tadi dan setelah itu kalian bisa lihat sendiri apa yang mereka lakukan padaku" jelas Inho.

Wufan pun hanya mengangguk mengerti sambil menepuk bahu Inho.

"karena kau masih baru di Sangwon akan ku beri tau sesuatu" ucap Taeyong. Inho pun terlihat mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"apa?"

"jangan sekali-sekali kau berurusan dengan mereka, mereka itu berandalan tengik di Sangwon dan namja yang kau tabrak tadi adalah bos mereka Byun Sehun siswa kelas 11, asal kau tau saja anak buah Sehun sangat banyak bahkan sunbae kelas 12 pun banyak yang menjadi anak buah Sehun, entah apa yang dilakukan Sehun sampai mereka mau-maunya menjadi anak buah si muka mayat itu" jelas Taeyong panjang lebar.

"jaga bicara mu, kalau anak buah Sehun mendengar bisa rontok gigi-gigimu" Wufan terkekeh melihat temannya yang terlihat mengebu-gebu menjelaskan tentang Sehun pada Inho.

"kenapa tidak melapor ke guru saja?" tanya Inho dengan polosnya membuat Taeyong tertawa remeh kearahnya.

"berani kau melaporkannya pada guru, maka ucapkan selamat datang pada rumah sakit karena kau akan berakhir disana nantinya, entah itu gigimu ompong, patah tulang, atau bahkan koma, tapi tenang kau tidak akan sampai tewas"

"lalu kenapa tidak lapor polisi?"

"lapor polisi? Ahahaha" kembali Taeyong tertawa remeh,"asal kau tau saja polisi-polisi disini adalah teman baik Sehun bahkan dia sering sekali mengahabiskan waktunya di kantor polisi, menakjubkan bukan?"

Inho terlihat bergidik ngeri dan menelan ludahnya dengan susah payah mendengar penjelasan Taeyong. Semenakutkan itukah Byun Sehun?

"berhenti menakut-nakutinya Lee" interupsi Wufan.

"siapa yang menakut-nakuti, itu memang faktanya Kim"

Wufan memutar bola matanya malas lalu manatap Inho kembali,"oh iya kau kelas apa?"

"10 C, kalian?" tanya Inho balik.

"kami 10 B, kajja kami antar ke kelasmu" ajak Wufan sambil membantu Inho untuk berdiri.

"terima kasih, kalau saja kalian tidak datang pasti aku sudah menyusul nenek ku di surga"

Wufan dan Taeyong terkekeh mendengarnya,"sama-sama, sekarang kita teman?"

Inho tersenyum mendengarnya,"ne, teman"

~SS2~

Jadwal Luhan setelah kegiatan belajarnya adalah tidur siang tapi tidak untuk hari ini. Gadis itu terlihat melamun sambil membelai lembut bulu miss. Lula di pangkuannya, memandang kosong ke arah balkon kamarnya. Entah apa yang dipikirkannya, Luhan sendiri pun tidak tau karena begitu banyaknya hal yang berkecamuk dipikirannya.

Namun tidak lama ia hentikan lamunannya dan beralih meraih smartphone nya yang tergeletak di atas bantal lalu mencari nama kontak seseorang.

"yeoboseo" sapanya ketika telepon tersambung.

"yeoboseo, ada apa Princess?" tanya orang di seberang telepon.

"appa pulang jam berapa?" tanya Luhan pada orang diseberang telepon yang ternyata adalah ayahnya.

"seperti biasa, wae? Kau merindukan appa eoh?"

Luhan tersenyum mendengarnya,"ne"

Suho pun terkekeh,"Lulu kenapa? Apa Lulu bertengkar dengan eomma lagi?" dan sepertinya Suho tau kalau putrinya tidak sedang baik-baik saja, karena nada bicara Luhan tidak seceria biasanya.

"ani, aku hanya ingin menelepon appa saja"bohong Luhan lalu menghela nafasnya,"ya sudah kalau begitu, Lulu tunggu appa pulang"

"arraseo, sekarang Lulu istirahat ne, saranghae"

"nado saranghae appa"

Setelah sambungan telepon dengan ayahnya putus, smartphone nya berbunyi menandakan ada email masuk. Luhan pun segera membuka email tersebut.

Sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas setelah mengetahui siapa si pengirim email.

From: Byun Sehun

Hai Luhan!

Sedang apa kau sekarang?

Biar kutebak, pasti kau sedang bosan

Luhan terkekeh membacanya.

Baiklah, agar kau tidak bosan aku akan menunjukkan sesuatu padamu

Luhan mengerutkan keningnya sambil membuka gambar pertama yang dikirimkan Sehun. Terlihat foto sebuah gedung yang berdiri kokoh dengan halaman yang sangat luas.

Foto pertama adalah gedung sekolah ku, dan sekolah Wufan juga pastinya. Bagaimana? Baguskan?

Gadis itu tersenyum melihatnya. Ia yakin akan menjadi salah satu siswi disana nantinya. Yah... ia yakin itu. Lalu ia membuka gambar kedua. Terlihat ruang kelas dengan banyaknya meja dan kursi yang berjejer rapi serta pernak-pernik kelas yang tertempel di tembok membuat suasana kelas tersebut menjadi lebih berwarna.

Kalau foto kedua ini kelasku. Bayangkan saja betapa menyenangkan belajar dengan banyak teman yang mengelilingimu.

Luhan tertunduk lesu. yah, dia memang hanya bisa membayangkannya tanpa bisa merasakannya. Setelah itu gambar ketiga memperlihatkan sebuah cafetaria dimana banyak sekali siswa yang bercengkrama disana sambil memakan makan siang mereka.

Foto ketiga kantin sekolah. Tempat dimana kami mengisi perut.

Lagi-lagi Luhan terkekeh dan langsung membuka gambar ke empat. Foto itu memperlihatkan segerombolan siswa yang terlihat sedang bersendau gurau. Dan Luhan menyipitkan matanya saat menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi.

Foto keempat. Lihatlah Wufan, dia terlihat bahagia sekali bersama teman-temannya. Apa kau tidak mau seperti itu?

Jangan ditanya, Luhan sangat menginginkan semua itu. Bisa tertawa lepas seperti Wufan dalam foto tersebut.

Dan foto terakhir adalah foto kedai bubble tea. Aku sering membeli bubble tea disana. Kau pasti belum pernah merasakan bubble tea kan? Itu minuman kesukaanku. Kau harus mencobanya Luhan, aku jamin kau tidak akan menyesal.

Baiklah untuk hari ini cukup itu yang bisa aku tunjukkan padamu dan aku harap suatu hari nanti kau bisa menjadi bagian dari Sangwon. Annyeong!

Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum melihat gambar-gambar tersebut. Memang belakangan ini Sehun sering mengirim email padanya seperti hanya menyapa, menanyakan kabar, atau menanyakan kegiatan yang Luhan lakukan. Luhan sendiri heran karena semenjak pertemuan mereka seminggu yang lalu Sehun terlihat ingin menjadi temannya tapi jangan ditanya Luhan juga senang karena temannya bertambah satu lagi.

"sepertinya memang sangat menyenangkan Wu" gumamnya sambil menatap foto Wufan yang sedang tertawa bersama teman-temannya.

"kapan aku bisa sepertimu?"

~SS2~

Zitao berjalan cepat di lorong sekolahnya saat merasa ada dua orang namja yang terlihat sedang mengikutinya. Yang ia takutkan, mereka adalah anak buah Sehun. Bisa habis dia kalau sampai itu benar anak buah Sehun.

"hey manis kenapa cepat sekali jalanmu?" tegur salah seorang namja sambil menarik bahunya.

Tubuh Zitao terlihat bergetar melihat tampang seram dua orang di depannya ini,"ma-maaf sunbae, aku ingin cepat pulang" jawab Zitao takut-takut dengan menundukkan kepalanya.

"kenapa buru-buru, eum bisa temani kami sebentar?" tanya namja beralis tebal.

Zitao sedikit melangkah mundur saat namja itu ingin meraih dagunya,"maaf sunbae aku tidak bisa"

"ayolah sebentar saja" kini namja bertubuh cungkring menarik tangannya.

"tidak sunbae, aku ingin pulang" ronta Zitao berusaha melepaskan cengkeraman tangan si namja cungkring.

"sebentar saja manis, nanti kami antar kau pulang" paksa namja alis tebal.

"tidak lepaskan!" tak henti-hentinya Zitao meronta tapi cengkeraman namja itu sangat kuat. Kedua namja itu pun terus menarik Zitao entah kemana tanpa memperdulikan protes dari gadis itu.

Tapi kemudian Zitao merasakan tangan kirinya ditarik oleh seseorang.

"maaf sunbae, aku punya urusan dengannya" interupsi namja yang menarik tangan kiri Zitao.

Zitao dan kedua namja itu pun menoleh ke arah sumber suara. Mata Zitao membulat saat mengetahui sosok Wufan yang menarik tangan kirinya.

"urusan apa?" tanya namja cungkring sambil menaikkan sebelah alisnya.

"maaf urusan pribadi" jawab Wufan.

Terlihat namja beralis tebal tengah membisikkan sesuatu pada namja cungkring. Entah apa yang mereka bicarakan, Zitao dan Wufan tidak bisa menangkap suaranya.

"baiklah, kau selamat manis, annyeong!" namja cungkring mencolek dagu Zitao sebelum pergi meninggalkan Zitao dan Wufan di lorong.

Gadis itu menghembuskan nafas lega sambil mengusap dadanya. Lalu ia menoleh ke arah Wufan.

"kenapa kau masih disini?" tanya Zitao.

"setidaknya ucapkan terima kasih terlebih dahulu"

"cih, memang sudah menjadi tugas namja menolong yeoja yang dalam bahaya" Zitao memutar bola matanya malas kemudian melangkahkan kakinya. Gengsinya masih terlalu besar untuk mengucapkan terima kasih pada Wufan.

Wufan pun mengikutinya dan menyamakan langkahnya dengan Zitao.

"kau bilang ada urusan dengan ku, urusan apa?" tanya Zitao sambil menatap lurus ke depan.

"aku ingin bicara denganmu"

"bicara saja" ucap Zitao malas.

"tadi pagi Lulu marah padaku" ucap Wufan yang dapat menghentikan langkah Zitao.

"marah? Marah kenapa?"

"entahlah aku rasa ia sudah tidak tahan lagi lalu ia melampiaskan kekesalannya padaku dan kau benar, aku memang menjanjikan sesuatu yang sampai sekarang belum aku tepati"

"apa yang kau janjikan?"

"mengajaknya jalan-jalan"

Zitao memutar bola matanya dan beralih memijit pelipisnya,"astaga! kau bodoh Kim, benar-benar bodoh"

Wufan tidak menjawab dan hanya memandang Zitao bingung.

"janji seperti itu saja kau tidak bisa tepati?" tanya gadis itu tak percaya.

"kau pikir mudah membawa Lulu keluar dari rumah" ujar Wufan kesal.

"buktinya aku bisa membawa Lulu keluar dari rumah tanpa sepengetahuan eomma, kau hanya perlu ini" Zitao mengetuk-ngetuk kepala Wufan dengan jari telunjuknya,"percumah kau menjadi lulusan terbaik jika tidak bisa menggunakan otakmu" dan Zitao melangkahkan kakinya kembali meninggalkan Wufan yang masih terlihat berpikir.

Dan sekarang Wufan merasa bodoh di depan musuh bebuyutannya. Selama ini otaknya tidak bisa berpikir atau malas untuk berpikir? Entahlah. Tapi yang pasti ia akan mencobanya kali ini.

"Ya! Huang, tunggu!" Wufan mengejar Zitao yang sudah melangkah jauh.

Zitao pun memutar badannya,"apa lagi?" tanya nya malas.

"kau tidak ingin menghemat uang jajanmu?" tanya Wufan sambil menunjukkan kunci motornya pada Zitao.

Gadis itu mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak,'boleh juga, bisa mengirit ongkos pulang'

"baiklah" ucapnya setuju dan mengikuti Wufan berjalan ke arah parkiran.

"cepat naik!" titah Wufan menyuruh Zitao naik ke jok belakang. Zitao pun dengan ragu menaikinya.

"kau tidak membawa helm satu lagi?"

"ani"

Terdengar Zitao menggeram kesal,"babo, bagaimana kalau ada polisi?"

"tidak akan, jam-jam seperti ini tidak ada polisi yang berpatroli, sekarang pegangan yang kuat!"

"mwo? shireo"

Wufan mengangkat bahunya,"ya sudah kalau tidak mau" dan akhirnya Wufan menyalakan motornya. Terdengar suaranya yang memekakan telinga sampai-sampai Zitao menutup telinganya dengan kedua tangannya.

"Ya! bisa pelankan– kyaaaaaaaa!" teriak Zitao dan reflek melingkarkan tangannya di pinggang Wufan karena Wufan melesatkan motornya tanpa aba-aba dengan kecepatan tinggi. Motor itu melaju dengan kecepatan hampir mencapai kurang lebih 100km/h beruntung jalan yang mereka lewati tidak terlalu ramai. Di perjalanan, Zitao hanya bisa berdoa dalam hati agar ia bisa sampai dengan selamat di rumah dan bukan sampai di rumah sakit.

Perjalanan dari sekolah ke rumah Zitao menempuh jarak 11 km dan hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai. Wufan menghentikan motornya tepat di depan rumah Zitao.

Dengan lemas gadis itu turun dari jok belakang. Perutnya mendadak mual karena terlalu banyak menghirup angin mengingat kecepatan laju motor Wufan tidak bisa dibilang pelan, beruntung ia tidak kena serangan jantung.

Saat Wufan menoleh ke arah Zitao, ia terlihat menahan tawanya karena melihat rambut gadis itu yang hampir menyerupai rambut singa karena efek angin di perjalanan. Zitao pun menggeram kesal dibuatnya lalu memukul kepala Wufan yang masih tertutup helm.

"aduh..Ya! hentikan babo" protes Wufan sambil menghindari pukulan Zitao

"NAMJA GILAA... BRENGSEK!" umpat Zitao lalu berjalan memasuki rumahnya dengan langkah tidak santai.

Wufan tertawa puas melihatnya karena rencananya mengerjai sahabat adiknya itu berhasil dan mungkin akibatnya, Zitao bisa saja trauma naik motor,"terima kasih kembali" seru Wufan dengan nada mengejek. Setelah itu ia melajukan motornya kembali untuk pulang

~SS2~

From: Kim Xiao Lu

Gomawo oppa dan sepertinya aku tertarik dengan bubble tea mu

Aku harap kau mau membelikannya untukku hehe. Annyeong!

Sehun berjalan di lorong sekolahnya sambil tersenyum menatap smartphone nya dan seperti biasa Luhan hanya menjawab kiriman emailnya dengan singkat tanpa ingin memperpanjang obrolan. Tapi Sehun tau mungkin Luhan masih terlalu polos untuk mengetahui maksudnya.

Pendekatan

Itulah misi Byun Sehun saat ini.

Bruukk

Karena tidak melihat jalan di depannya, seorang siswa tanpa sengaja menabrak Sehun sehingga tubuh namja itu oleng ke samping. Beruntung tidak sampai jatuh.

"ah jeosonghamnida sunbae, aku tidak sengaja... jeosonghamnida" ucap sang pelaku penabrakan sambil berkali-kali membungkukkan badannya di depan Sehun dan jangan lupakan tubuhnya yang bergetar, takut jika Sehun menghajarnya saat ini juga.

Sehun pun mendengus kesal. Melihat hoobae itu terus membungkukkan badan di depannya. Membuatnya muak.

"cepat pergi dari sini kalau tidak mau rahangmu geser dari tempatnya" desis Sehun yang terlihat begitu mengerikan.

"ahh ne jeosonghamnida" dan secepat kilat hoobae itu berlari, menjauh dari Sehun sebelum namja itu memberinya pelajaran.

Sehun memutar bola matanya malas dan melanjutkan langkah kakinya tapi tidak lama ia menghentikan langkahnya kembali saat melihat yeoja bersurai gelap dan bermata bulat sedang duduk seorang diri di depan ruang kelas.

Perlahan ia mendekati sang yeoja dan duduk di sebelahnya membuat sang yeoja kaget dibuatnya.

"annyeong Kyung!" sapa Sehun pada yeoja itu.

"eh..an-annyeong Sehun" jawab Kyungsoo takut-takut sambil sedikit menggeser duduknya menjauh dari Sehun.

"sedang menunggu?"

"n-ne"

"baiklah aku temani" ucap Sehun seenaknya tanpa bertanya membuat Kyungsoo semakin membulatkan matanya. Jujur Kyungsoo takut jika hanya berdua bersama Sehun seperti ini, apalagi sekolah sudah semakin sepi karena bell pulang sekolah sudah berbunyi 30 menit yang lalu.

Tapi karena Jongin –orang yang ia tunggu– sedang ada urusan dengan guru matematikanya, jadi ia pun harus sabar menunggu di depan kelasnya sendirian karena Jongin tidak akan membiarkan Kyungsoo pulang seorang diri.

Suasana hening, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Kyungsoo sendiri juga bingung harus memulai pembicaraan bagaimana.

"eum Sehun, maaf–"

"jangan membahas hal itu Kyung, aku tidak mau mood ku berubah jelek" potong Sehun karena ia tidak ingin mendengar permintaan maaf jika memang kyungsoo akan menyinggung hubungannya dengan Jongin.

Kyungsoo beralih menundukkan wajahnya,"maaf, tapi aku mohon kau jangan mendiamkan Jongin seperti ini, Sehun aku–"

"ahh sepertinya yang kau tunggu sudah datang, baiklah aku pergi dulu ne, annyeong" sahut Sehun cepat dan beranjak dari duduknya.

Jongin menghentikan langkahnya saat melihat Kyungsoo duduk berdua dengan Sehun. Dan sekarang ia melihat Sehun berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam. Nafasnya tercekat dan jantungnya berdetak 2x lebih cepat melihat tatapan Sehun yang menusuk.

Jujur saat melihat Jongin, ingin rasanya Sehun meremukan tulang sahabatnya itu. Tapi tentu saja Sehun tidak mungkin melakukannya karena mengingat Jongin yang memang sangat baik padanya dulu saat persahabatan mereka masih baik-baik saja. Dan setidaknya Sehun masih punya hati untuk tidak melakukannya.

"sekali saja kau membuat Kyungsoo menangis, aku patahkan tulang-tulangmu" bisik Sehun tepat di telinga Jongin setelah itu ia menepuk-nepuk bahu Jongin dan pergi meninggalkan namja kulit tan itu. Sedangkan Jongin masih diam tidak bergeming, tapi tidak lama ia membalikkan badannya menatap punggung Sehun.

"Sehun tung–"

Belum sempat Jongin menyelesaikan ucapannya, Sehun sudah membalikkan badannya kembali menghadap Jongin.

"oh iya... ternyata anak SD jauh lebih menyenangkan Jongin" ucap Sehun dengan senyum penuh artinya lalu melangkahkan kakinya kembali.

Jongin mengerutkan keningnya bingung apa yang di katakan Sehun. Anak SD? Apa maksudnya? Otaknya berjalan lamban mencerna apa yang diucapkan Sehun. Tepukan Kyungsoo di bahu Jongin pun akhirnya membuyarkan lamunannya.

"Jongin-ah gwenchanna?" tanya Kyungsoo khawatir.

Jongin pun menolehkan kepalanya ke arah Kyungsoo dan tersenyum,"seharusnya aku yang tanya, kau tidak apa-apa?"

Dan dijawab gelengan oleh Kyungsoo,"ani, Sehun hanya menemaniku menunggumu tadi"

"syukurlah kalau begitu, kajja kita pulang!" ajak Jongin sambil menarik tangan Kyungsoo. Sebenarnya pikirannya masih terpaku pada ucapan Sehun tadi.

'anak SD?'

Tbc

Aduuh maap ya update lama, abis UTS tiba-tiba mood berantakan and otak mampet buat nerusin ff yang belum kelar -_-#halah alasan. Jadi maap kalau chap ini mengecewakan and tambah gaje kkkkk #plak

Yup langsung balas review aja:

Berlindia: iya chingu sehun ahjussi nya kkkk, hehe makasih reviewnya #bow bareng sehun

Zoldyk: hehe sukur deh kalo chingu suka, makasih reviewnya #bow bareng sehun

Hunhankailu: haha proses nya buat hunhan masih butuh waktu ching #plak, iya maklum naluri seorang ibu #halah, hehe makasih reviewnya #bow bareng sehun

Guest: haha diusahain ya kkkk, oke makasih reviewnya #bow bareng sehun

lisnana1: hehe iya ching ini udah di lanjut kkkk, makasih reviewnya #bow bareng sehun

Echa: haha iya beb gak papa, saya juga ngaret update nya #bow, oke makasih reviewnya #bow bareng sehun

Taesholee: waaah makasih udah mau suka cerita gaje saya #bow, oke beb ini udah dilanjut maap lama hehe, makasih reviewnya #bow bareng sehun

Guest: haha positif thinking aja sama sehun kkkk, oke ini udah dilanjut maap lama hehe, makasih reviewnya #bow bareng sehun

Guest: hehe maap ching update lama ya hiks, tapi ini udah aku lanjut kok, makasih reviewnya #bow bareng sehun

HunHan's Real: hahaha bener-bener muka macam luhan gitu pantenye jadi anak TK #plak, oke ini udah dilanjut, makasih reviewnya #bow bareng sehun

OrangKece: hehe ini udah saya lanjut beb, makasih reviewnya #bow bareng sehun

Lulu: hehe ini udah saya lanjut ching, maap lama ya #bow, oke makasih reviewnya #bow bareng sehun

Thanks for your review: MidnightPandaDragon1728, jungsssi, kyeoptafadila, xiaolu odult, fallforhaehyuk, MilkHunHan-Yuri, hyona21, Fishyhae Xiaolu, edogawa ruffy, riani . chenchen, selvian . summer, Baekby Monic, Huang Mir, Han Young Seul Kaisoohardship, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, Deer Panda, wlywyf, younlaycious88, berlindia, Zoldyk, hunhankailu, Guest, roroputri7692, lisnana1, fuawaliyaah, Echa, ViAnni07, enchris . 727, KimJajang, Taesholee, Guest, rikaacoo, Guest, HunHan's Real, OrangKece, lulu

Sampai jumpa lagi... XOXO #gossip girl