SIXTEEN SEASON 2
Chapter 5
Author: Byunna Park
Genre: Family/Romance/little bit Hurt/Comfort (maybe)
Rate: T
Cast: LuHan, WuFan/Kris, Zhang Yixing, Kim Suho
Other Cast: Oh (Byun) Sehun, Huang Zitao, Kim Jongin, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Minseok
Pair: SuLay, KrisTao/Taoris, HunHan
Slight: KaiSoo, ChanBaek, ChenMin. dll
Disclaimer: ff ini milik saya, member EXO milik kita semua
Warning: OOC, GS, typo(s), gaje, sinetron mode on, ngebosenin, don't like, don't read.
N/B: Chap ini bikin klenger bacanya karena panjangnya minta digampar. Dan saya yakin banyak yang lupa sama cerita ini haha, kalau berkenan mungkin bisa membaca ulang ending chapter sebelumnya karena saya bingung mau membuat preview bagaimana -_- *abalsong~ *kkaebsong~
Let's Start
Happy Reading
Author Pov.
Sepulang sekolah Wufan tidak langsung menuju kamarnya. Langkah kakinya langsung menuntun Wufan untuk memasuki kamar adik perempuannya. Perasaannya selalu tidak tenang jika ia bertengkar dengan Luhan atau saat Luhan marah padanya.
Perlahan ia membuaka pintu kamar Luhan dan dugaannya benar Luhan masih tidur karena memang biasanya jam-jam seperti ini waktunya Luhan tidur siang. Tapi Wufan tidak mendapati Luhan tidur seorang diri karena adik bungsunya juga ikut tidur di sebelah Luhan tanpa melepas seragam sekolahnya terlebih dahulu. Bahkan sepatu pun masih melekat di kaki mungil tersebut. Wufan geleng-geleng dibuatnya.
Namja itu akhirnya berjalan menuju meja belajar Luhan lalu melepas sepatunya dan beralih melepas sepatu Joonma. Melihat Joonma yang terusik, segera saja Wufan membaringkan tubuhnya di sebelah adik bungsunya itu dan pura-pura tertidur.
Joonma bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Perlahan mata bocah itu pun terbuka dan saat ingin bergerak membenarkan posisinya, bocah itu sedikit kesulitan karena tempat tidur Queen size itu menjadi sempit. Ia menoleh ke arah kanan dan ternyata sang kakak sulung berbaring di sebelahnya. Pantas saja sempit.
"Ya! Hyung minggir, sempit" rengek Joonma dengan suara serak khas bangun tidur.
Sontak Wufan mendudukkan tubuhnya dan menempelkan jari telunjuknya di bibir,"sssssttt jangan keras-keras nanti Lu-na bangun"
Joonma ikut terduduk sambil melipat tangannya di dada,"kalau Lu-na bangun itu semua salahmu, kenapa mengganggu tidur siangku, kau kan punya kamar sendiri kenapa tidur disini?" sewot Joonma membuat Wufan terkekeh.
"hey bung, apa kau lupa, kau juga punya kamar sendiri, kenapa kau tidur disini?"
"aku kan ingin menemani Lu-na tidur siang"
"aku juga ingin menemani Lu-na tidur siang" ucap Wufan sambil menjulurkan liadahnya. Joonma pun menatap kesal kakak sulungnya.
"kenapa ribut-ribut?" tanya suara lembut menginterupsi perdebatan Wufan dan Joonma.
Melihat Luhan terbangun, Joonma langsung menundukkan kepalanya merasa bersalah,"maaf Lu-na, aku tidak bermaksud mengganggu tidur siangmu, salahkan Wufan hyung yang mengganggu tidurku" adu Joonma pada Luhan. Wufan memutar bola matanya lalu membaringkan tubuhnya lagi memunggungi kedua adiknya.
Luhan tersenyum dan membelai kepala adiknya,"gwenchanna, memang sudah waktunya Lu-na bangun"
Joonma pun mendongak menatap Luhan,"jinjja?"
"ne, sekarang Joonie ganti baju dan makan siang"
Joonma pun mengangguk lalu secepat kilat meninggalkan kamar Luhan. Luhan geleng-geleng kepala dibuatnya. Pandangannya lalu tertuju pada namja yang saat ini berbaring ditempat tidurnya. Gadis itu menghela nafas lalu ikut berbaring memunggungi Wufan.
"Wu, apa kau tidur?" tanya Luhan tapi tidak ada jawaban dari Wufan. Raut Luhan pun semakin terlihat lesu. Ia tau Wufan tidak tidur.
"soal tadi pagi... aku minta maaf" ucap Luhan lagi karena ia juga merasa bersalah telah menuduh Wufan sembarangan tadi pagi.
"sebutkan permintaanmu, aku akan mengabulkannya" ucap Wufan akhirnya.
Luhan tersenyum getir,"kau tidak akan bisa"
"aku akan berusaha"
Gadis itu lagi-lagi menghela nafas,"sudah lupakan". Luhan kemudian bangkit dari tidurnya dan beralih duduk bersandar di tempat tidur.
"hey bagaimana hari pertamamu? Kau harus cerita padaku Wu" pinta Luhan sambil mengguncang-guncangkan lengan Wufan.
Wufan akhirnya bangun dan ikut duduk di samping Luhan dengan menekuk lututnya.
"apa yang harus aku ceritakan? Tidak ada yang special" ucap Wufan membuat bibir Luhan mengerucut.
"jadi kau sudah tidak mau bercerita denganku lagi?"
Wufan pun tertawa lalu melingkarkan tangan kirinya di leher Luhan sementara tangan kanannya mengacak-acak gemas rambut cokelat tua itu.
"memangnya kau ingin aku bercerita apa?" tanya Wufan.
"banyak, bagaimana kelasmu, bagaimana guru barumu, bagaimana teman-teman barumu, semuanya"
"baiklah-baiklah aku akan cerita" ucap Wufan membuat Luhan tersenyum senang.
"sekolah baruku– ahh ani sebenarnya ini adalah sekolah lama ku karena gedung SMA ku masih satu lingkungan dengan sekolah SMP ku dulu, teman-teman lama juga masih mendominasi dan sialnya aku bertemu lagi dengan si Kkamjong"
"hyung, Wu. Dia lebih tua darimu, sopanlah sedikit" interupsi Luhan.
Wufan memutar bola matanya,"lalu apa bedanya denganmu? Aku lahir lebih dulu, harusnya kau memanggilku oppa"
"kau dan aku beda cerita, sudah cepat lanjutkan!"
Lagi-lagi Wufan memutar bola matanya,"aku menempati kelas 10 B, kelas yang tentram dan damai tanpa adanya panda impor itu"
Luhan mengerutkan keningnya,"eh, kau dan Zizi tidak sekelas lagi?" tanya Luhan dan dijawab gelengan kepala oleh Wufan.
"kenapa bisa begitu?" tanya Luhan dengan raut seolah tidak terima.
"kenapa memangnya? Bukankah bagus, aku jadi tidak cepat darah tinggi karena panda impor menyebalkan itu"
Luhan semakin mengerucutkan bibirnya. Digigitnya tangan Wufan yang masih melingkar di lehernya.
"aaarrrgghh sakit Lu" rintih Wufan lalu mengusap tangannya.
"Zizi itu sahabatku Wu, kau tidak boleh bicara seperti itu. Asal kau tau saja, Zizi itu tidak menyebalkan, kau saja yang tidak mengenalnya" bela Luhan yang selalu tidak terima kalau Wufan sudah menjelek-jelekkan sahabatnya. Gadis itu melipat tangannya di dada dan memalingkan wajahnya.
"ya ya,terserahmu saja. Sudah jangan marah!" ucap Wufan sambil mengguncang-guncangkan lengan Luhan.
"kau menyebalkan Wu"
Wufan menghela nafasnya,"baiklah aku yang paling menyebalkan dan panda impor itu yang terbaik sedunia, puas?"
"puas sekali hehe" cengir Luhan membuat Wufan mendengus kesal.
"sekarang ayo makan siang!" ajak Wufan lalu beranjak dari tempat tidur Luhan.
Luhan menggelengkan kepalanya,"kau saja yang makan, aku tidak lapar"
Sontak Wufan melayangkan tatapan tajamnya pada Luhan. Ia tau Luhan pasti belum makan setelah belajar karena itu memang kebisaannya.
Melihat tatapan tajam kakaknya, Luhan hanya bisa menelan ludah. Ia tidak bisa menolak kalau Wufan sudah memberi tatapan menakutkan seperti itu,"baiklah, baiklah, tapi aku malas berjalan"
Wufan berdecak pelan mendengarnya, ia lalu berjongkok dan tangannya memberi instruksi agar Luhan naik ke punggungnya,"cepat naik!"
"yeeeeyy!" sorak Luhan lalu bangkit dan menaiki punggung kakaknya.
"ayo jalan pak Supir" ucap Luhan.
"Yak! Aku bukan supir" protes Wufan dan disambut cengiran tanpa dosa dari Luhan.
~SS2~
"aku kenyang" ucap Luhan lalu segera meninggalkan meja makan saat melihat ibunya yang baru datang dan duduk di sampingnya.
Wufan melihat Luhan dengan tatapan bingung lalu beralih menatap piring dimana masih banyak makanan yang tersisa. Bahkan Luhan belum memakan setengahnya. Sedangkan Yixing hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"eomma, ada apa lagi?" tanya Wufan.
"kau seperti tidak tau Lulu saja, adikmu itu semakin hari semakin susah di atur" ucap Yixing sambil memijit pelipisnya.
"kalau eomma tidak mau Luhan seperti itu terus-menerus, apa salahnya untuk mengabulkan permintaannya sekali saja"
"Wufan! Jangan membuat eomma semakin pusing, sebaiknya cepat habiskan makananmu!"
Seketika itu Wufan membanting sumpitnya membuat Yixing tersentak kaget,"sampai kapan eomma akan memperlakukan Luhan seperti itu? Sampai Luhan depresi? Atau sampai Luhan gila?"
Rahang Yixing mengeras dibuatnya,"jaga bicaramu Kim Wufan" bentaknya dengan muka memerah.
"kenapa? Memang itu kan yang eomma inginkan?"
Plak
Dan tanpa sadar satu tamparan dilayangkan Yixing pada pipi putra sulungnya. Emosi yang memuncak membuatnya lepas kendali hingga memukul putranya. Sungguh Yixing tidak percaya apa yang baru saja ia lakukan. Selama ini ia tidak pernah sekalipun memukul anak-anaknya.
Begitu juga dengan Wufan, pemuda itu menatap ibunya dengan tatapan tidak pecaya,"eomma keras kepala, egois" ucap Wufan lalu pergi dari ruang makan meninggalkan Yixing yang masih mematung di tempat, merutuki apa yang baru saja ia lalukan pada putra sulungnya.
Sesampainya di kamar, Wufan dengan kasar melonggarkan dasi yang masih melilit kerah seragamnya. Namja itu lalu duduk di pinggiran tempat tidur dengan mencengkeram kepalanya. Bagaimana bisa ia mempunyai ibu yang keras kepala seperti itu.
Luhan anak kandungnya, tapi kenapa ibunya itu tidak bisa mengerti perasaan anaknya. Wufan yang hanya melihat saja sudah tidak tahan, apa lagi Luhan yang menjalaninya. Ia bingung, apa sebenarnya yang membuat ibunya melakukan semua itu, kenapa hanya kepada Luhan saja?
Cklek
Wufan menolehkan kepalanya kearah pintu dan mendapati sang nenek masuk ke kamarnya. Nyonya Kim duduk di sebelah Wufan lalu mengelus punggung cucunya.
"kau memang tidak seharusnya bicara seperti itu pada eomma mu Wu" tegur nyonya Kim lembut.
"tapi eomma sudah keterlaluan nek, aku tidak terima jika adikku di perlakukan seperti itu terus menerus"
Nyonya Kim menghela nafasnya,"nenek mengerti, ibumu memang terlalu menyayangi adikmu"
"menyayangi Luhan dengan mengurungnya dan membatasi ruang geraknya? Itu tidak adil nek, Luhan juga butuh kebebasan"
Nyonya Kim mengangguk,"ya nenek tahu itu, tapi sepertinya kau juga harus tahu, ibumu melakukan itu semua bukan tanpa alasan, trauma masa lalu yang membuatnya seperti itu"
Wufan mengerutkan keningnya,"trauma masa lalu? Maksud nenek?" tanya Wufan tidak mengerti.
Nyonya Kim menghirup nafas panjang,"orang tua mu melakukan kesalah Wu"
"kesalahan?" tanya Wufan masih tidak mengerti.
"ne, eomma mu mengandungmu dan Luhan saat usianya genap 16 tahun sedangkan ayahmu masih berada di tingkat 2 bangku SMA, itu kesalahan orang tuamu. Kesalahan yang membuat ibumu kehilangan orang tua, masa mudanya dan masa depannya"
Wufan membulatkan matanya kaget. Astaga! Ia benar-benar tidak menyangka ibunya sudah mengandung di usia sedini itu. Ia juga baru sadar kalau ayah dan ibunya juga terlihat masih sangat muda bahkan masih pantas untuk menjadi anak kuliahan.
"sejak mengetahui eomma mu hamil, orang tuanya sangat murka bahkan mereka sudah tidak mau mengakui eomma mu sebagai anak mereka lagi dan dengan tega nya meninggalkan eomma mu disini seorang diri. Coba kau bayangkan seberapa hancurnya perasaan eomma mu saat itu!"
Wufan terdiam masih mencerna cerita neneknya. Ia sungguh tidak menyangka orang tuanya mempunyai masa lalu sepahit itu.
"eomma mu hanya tidak ingin Luhan mengalami hal yang sama Wu, maka dari itu apapun ia lakukan untuk melindungi anak-anaknya. Nenek bercerita seperti ini agar kau tidak salah paham dengan eomma mu. Sampai sekarang saja ia masih dihantui oleh masa lalunya…"
"…tapi nenek juga tahu kalau perlakuan eomma mu pada Luhan memang sudah keterlaluan karena membatasi ruang geraknya sampai Luhan tidak mempunyai teman dan itu tidak baik untuk perkembangannya"
Wufan masih saja terdiam. Pemuda itu sudah terlalu shock dengan cerita neneknya. Nyonya Kim pun menepuk bahu Wufan.
"nenek berharap kau sebagai kakak bisa menjaga adik-adikmu dengan baik. Buat orang tua kalian bangga Wu, karena kalian lah satu-satunya harta mereka yang paling berharga"
Perlahan Wufan menoleh menatap neneknya lalu mengangguk,"aku mengerti nek, aku janji tidak akan mengecewakan kalian semua dan aku janji akan menjaga adik-adikku dengan baik"
Nyonya Kim tersenyum dibuatnya. Tangannya dengan lembut membelai kepala cucunya,"ne, nenek yakin kau bisa melakukannya".
"tapi nek, apa kakek dan nenek dari eomma masih hidup sekarang?" tanya Wufan dan lagi-lagi nyonya Kim menghela nafas berat.
"setelah pergi meninggalkan eomma mu mereka sudah tidak ada kabarnya lagi. Mereka seperti menghilang begitu saja. Tapi nenek yakin mereka masih hidup dan suatu saat mereka akan pulang untuk menjenguk eomma mu dan bertemu kalian bertiga"
Wufan pun mengangguk kecil. Jujur saja selama ini ia bertanya-tanya dalam hati tentang kakek dan nenek dari ibunya karena selama ini ia hanya tahu kakek dan nenek dari ayahnya saja. Dan hari ini Wufan mengetahui masa lalu orang tuanya. Ia mengerti sekarang. Rasa bersalahpun muncul, memang tidak seharusnya ia berkata seperti itu apalagi terhadap ibunya.
~SS2~
"appaaaaaa….!" teriak gadis kecil berumur sekitar 3 tahunan sambil berlari menyambut ayahnya yang saat itu baru pulang kerja.
"hup!" sang ayah pun dengan sigap menangkap sang putri lalu menggendongnya.
"Yeolla kenapa belum tidur? Menunggu appa eoh?" tanya Chanyeol –sang ayah.
Yeolla pun mengangguk dengan imut,"ne, Yeolla kangen appa"
Chanyeol hanya terkekeh dan menciumi pipi chubby putrinya. Tidak lama datanglah sang istri dengan seyumnya yang bisa membuat lelah namja itu hilang, tapi entah kenapa Chanyeol merasa aneh dengan senyum Baekhyun malam ini.
Segera saja Baekhyun membawa tas kerja suaminya dan memberi ciuman selamat datang.
"sebaiknya kau mandi dulu, aku akan siapkan air hangat" ucap Baekhyun.
Chanyeol mengangguk,"terima kasih" ucapnya lalu mencium kening Baekhyun sekilas sebelum Baekhyun pergi.
"appa! appa! Lihat aku dapat nilai seratus" teriak Jaehoon sambil menunjukkan kertas ujian hariannya saat Chanyeol dan Yeolla memasuki ruang tengah dimana kedua putranya sedang belajar bersama.
Chanyeol tersenyum lebar melihatnya,"waaaah jagoan appa hebat! Baiklah tunggu hadiahmu ne"
"yes!" sorak Jaehoon kemudian melirik sinis adiknya Jihoon dan memeletkan lidahnya untuk mengejek sang adik yang terlihat cemberut.
Raut cembeut Jihoon ternyata tak luput dari pandangan Chanyeol,"hey Superman, kenapa cemberut begitu?" tanya Chanyeol pada Jihoon karena saat itu Jihoon memakai baju dengan logo Superman.
"Jihoon tidak mendapat nilai seratus appa" kata Jihoon sambil menundukkan kepalanya.
"lalu Jihoon mendapat nilai berapa?" Tanya Chanyeol lembut.
Jihoon tidak menjawab hanya memberikan buku tugasnya pada Chanyeol dimana tertulis angka 85 di pojok kanan atas. Chanyeol tersenyum melihatnya.
"kau juga hebat Superman" ucap Chanyeol sambil mengelus kepala putra ketiganya itu. Jihoon pun tersenyum senang dibuatnya. "dan kau juga akan mendapat hadiah, tapi tentu hadiahnya tidak sama dengan Jae hyung"
"jinjja?" tanya Jihoon dengan mata berbinar.
Dan Chanyeol mengangguk,"asal Jihoon janji untuk lebih rajin belajar agar bisa mendapat nilai seratus seperti Jae hyung"
"ne, Jihoon janji akan lebih rajin belajar appa, gomawo" ucap Jihoon lalu memeluk ayahnya dan memelet kan lidahnya pada Jaehoon.
Jaehoon hanya memutar bola matanya.
"ne, anak pintar" ucap Chanyeol sambil mengacak-acak rambut Jihoon.
"appa! Appa! Yeolla juga dapat hadiah?" tanya si bungsu.
Chanyeol terkekeh mendengarnya,"ne, kau juga dapat cantik"
"yeeeyy! Appa gomawo~" sorak Yeolla lalu memeluk leher ayahnya dan mencium pipinya.
"ayo anak-anak, waktunya cuci tangan, cuci kaki dan gosok gigi lalu tidur, palli palli!" instruksi Baekhyun sambil menepuk-nepuk pantat kedua putranya.
"yes mom!" seru Jaehoon dan Jihoon bersamaan sambil memberi hormat kepada Baekhyun lalu segera berlari menuju kamar mandi.
Baekhyun dan Chanyeol terkekeh melihatnya.
"Yeolla juga, waktunya tidur, sini ikut eomma" kata Baekhyun sambil tangannya bersiap untuk menggendong Yeolla tapi gadis itu malah menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya di leher sang ayah.
"thileo, Yeolla ingin menggambal belthama appa" jawab Yeolla.
"Yeolla menggambar sama eomma saja ne? biar appa istirahat, appa kan baru pulang kerja"
Tapi Yeolla tetap menggeleng bahkan sekarang matanya sudah berkaca-kaca,"thileo, thileo, thileo hiks appa" dan tangis bocah itu pun pecah.
"tidak apa-apa biar aku saja yang menemani Yeolla menggambar" kata Chanyeol. Baekhyun hanya menghela nafasnya. Putri bungsunya itu memang sangat lengket dengan ayahnya.
Dan akhirnya mereka berdua lah yang menemani Yeolla menggambar sampai bocah itu mengantuk. Terlihat Chanyeol yang dengan sabar mengajari Yeolla menggambar berbagai macam bentuk hewan dan Yeolla terlihat semangat dengan pelajaran yang diberikan ayahnya. Sedangkan Baekhyun lebih banyak melamun. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirkan yeoja itu.
Sesekali Chanyeol melirik istrinya yang masih saja melamun dan lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
"oh iya Hyunbi mana?" tanya Chanyeol menghentikan lamunan Baekhyun.
"sedang belajar di kamar, katanya besok ada ujian harian. Jangan di ganggu nanti dia marah besar" jawab Baekhyun.
Chanyeol hanya mengangguk, mengerti sifat putri sulungnya itu yang akan marah besar jika ada yang mengganggu belajarnya.
"appa, bebeknya thudah jadi" seruan Yeolla pun akhirnya mengalihkan pandangan Chanyeol dari istrinya.
"woow princess appa pintar" puji Chanyeol melihat gambar bebek abstrak hasil karya putri bungsunya,"sekarang menggambar ikan, otte? Yeolla bisa kan?"
Yeolla mengangguk semangat,"bithaa!"
Kening Chanyeol berkerut saat ia baru keluar dari kamar mandi dan langsung mendapati istrinya duduk termenung di tempat tidur mereka sambil memandangi kertas yang ada ditangannya. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang tengah di pikirkan Baekhyun. Tadi pagi Baekhyun masih ceria seperti biasa tapi kenapa saat ia pulang Baekhyun berubah murung?
Didekatinya sang istri lalu Chanyeol pun memeluk Baekhyun dari samping dan mencium pipinya.
"ada apa?" tanya Chanyeol. Baekhyun hanya terdiam, dengan ragu yeoja itu memberikan kertas yang ia pandangi pada Chanyeol.
Chanyeol pun akhirnya membaca dengan seksama apa isi kertas tersebut,"2 pintu kamar mandi, 1 kursi, 1 kaca jendela dan biaya rumah sakit" Chanyeol menghela nafas sejenak,"baiklah besok aku akan mengurusnya" ucapnya sambil mengusap lengan istrinya yang saat itu tengah menundukkan kepalanya, merasa bersalah atas kelakuan adiknya yang selalu saja membuat Chanyeol susah.
Surat itu memang berisi daftar barang-barang milik sekolah yang rusak akibat ulah Sehun dan teman-temannya serta biaya rumah sakit karena sepertinya Sehun dan anak buahnya baru saja melukai seseorang. Chanyeol sebagai wali Sehun wajib mengganti kerugian tersebut bahkan namja itu juga mendatangi keluarga korban dari ulah Sehun dan anak buahnya untuk meminta maaf atas kelakuan adik iparnya. Dan biasanya jika sudah melakukan kesalah seperti itu Sehun akan kabur dari asrama selama beberapa hari. Menurut informasi yang di dapat Chanyeol, adik iparnya itu sering mengunjungi kantor polisi tempat temannya bertugas, entah apa yang Sehun lakukan disana Chanyeol pun tidak tau. Tapi ia tidak perlu khawatir karena ada temannya yang akan menjaga Sehun selama bocah itu berada di kantor polisi.
Setelah membaca kertas pertama Chanyeol beralih membaca kertas yang kedua dan itu berhasil membuat matanya terbelalak kaget,"MWO? Dikeluarkan?"
"ne, pihak asrama sudah tidak sanggup lagi menghadapi Sehun, bagaiamana ini oppa?" ucap Baekhyun dan ternyata yeoja itu sudah menangis. Chanyeol pun segera memeluk Baekhyun kembali untuk menenangkannya.
"ssstt tenang ne…ya sudah mulai sekarang biar Sehun tinggal bersama kita lagi saja, mungkin itu lebih baik chagi"
"hiks maaf"
Chanyeol tersentak mendengar Baekhyun meminta maaf,"maaf untuk apa chagi?"
"maaf karena selalu membuatmu susah"
Chanyeol menggeleng cepat dan mencium kepala istrinya,"tidak chagi ini memang sudah menjadi tanggung jawabku"
"aku sudah tidak tau lagi bagaiamana menasihati Sehun agar menjadi anak baik-baik, aku sudah tidak tahan oppa, eomma dan appa harus tau apa yang dilakukan anak bungsunya itu disini hiks jebal oppa aku sudah tidak sanggup" mohon Baekhyun pada suaminya agar memberi tahu kepada orang tua Baekhyun atas kelakuan Sehun di Korea. Selama ini Chanyeol memang tidak pernah mengizinkan Baekhyun mengadu pada orang tuanya atas perilaku Sehun. Chanyeol merasa dirinya lah yang bertanggung jawab atas Sehun karena orang tua Baekhyun sudah menitipkan Sehun padanya. Ia tidak mau di anggap tidak becus mengurus adik iparnya jika Baekhyun sampai mengadu pada orang tuanya.
"tidak chagi, jangan membuat mereka khawatir, kita harus banyak bersabar. Aku yakin kita bisa merubah Sehun untuk menjadi anak yang lebih baik. Anak seperti Sehun tidak bisa dikerasi, kalau dikerasi dia akan semakin menjadi maka dari itu kita harus menasihatinya baik-baik dan dengan tinggalnya Sehun kembali di rumah kita akan semakin memudahkan kita untuk mengarahkan Sehun ke hal-hal yang baik, aku yakin kita bisa. Jangan mudah menyerah seperti itu, mana Baekhyunku yang selalu bersemangat?"
Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami,"sudah berkali-kali kita mencobanya, tapi tetap saja anak itu selalu membuat masalah"
"kita memang harus berusaha lebih keras lagi dan yakin kalau Sehun akan berubah. Anak seusia Sehun memang memiliki jiwa yang masih labil dan berusaha mencari jati dirinya, tapi aku yakin semakin dewasa usianya akan semakin tahu mana yang salah dan mana yang benar"
Baekhyun hanya diam dan masih terisak di dada sang suami.
"sabar ne, jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak mau pikiranmu terbenani dengan masalah ini dan … lagi pula aku juga tidak mau istriku menyambutku saat pulang kerja dengan wajah murung"
Baekhyun merasa bersalah dibuatnya, memang tak seharusnya ia memperlihatkan raut murungnya saat Chanyeol baru pulang kerja. Ia tahu Chanyeol lelah sudah seharian bekerja dan Chanyeol hanya butuh senyum Baekhyun untuk menghilangkan lelahnya,"maaf untuk sambutanku hari ini" ucap Baekhyun lalu mendongakkan wajahnya menatap Chanyeol,"gomawo chagiya"
Chanyeol tersenyum, tangannya dengan lembut mengusap air mata yang membasahi pipi Baekhyun dan setelah itu mencium bibir istrinya,"sudah, sebaikanya kita tidur, otte?"
Baekhyun pun mengangguk dan segera berbaring di samping suaminya. Sedangkan Chanyeol menarik selimut agar mereka tidak kedinginan saat malam. Sebenarnya Baekhyun tidak butuh selimut karena Chanyeol selalu memberi dekapan yang jauh lebih hangat dari pada selimut.
~SS2~
"kali ini apa lagi Sehun?" tanya seorang namja berseragam polisi ber-nametag Shin Yongmin saat Sehun memasuki kantornya.
Sehun hanya mengacak rambutnya lalu menarik kursi tepat di depan meja Yongmin untuk ia duduki.
"temanku mematahkan tulang seseorang hyung" jawab Sehun dan Yongmin hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.
"hukumanmu yang kemarin saja belum tuntas sekarang kau mau menambahnya lagi?" tanya nya tak percaya.
"tidak masalah, asal kau tidak memasukkan nama ku ke daftar napi saja"
Yongmin pun terkekeh,"harusnya kau seret juga temanmu kemari"
"tidak hyung, ibunya janda sering sakit-sakitan, sudahlah biar aku saja yang menggantikannya"
Lagi-lagi Yongmin menggelengkan kepalanya,"ckckck Sehun, Sehun, sampai kapan kau begini terus? kau tidak kasihan pada orang tuamu, kakakmu apa lagi kakak iparmu jika kau terus-terusan menjadi berandalan seperti ini?"
Sehun mendengus kesal lalu mengusap-usap telinganya,"sudahlah hyung aku sedang tidak ingin mendengar ceramahmu, sekarang cepat beritahu aku apa saja yang harus aku kerjakan!"
Yongmin hanya bisa menghela nafasnya,"kebetulan sekali kantor sepertinya juga sedang kotor-kotornya, kau rapikan semua meja bersihkan debu-debunya, sapu semua lantai setelah itu buatkan kopi untuk semua petugas yang berjaga malam, dan … oh ya bersihkan bekas darah disana karena tadi ada tersangka perampokan yang tertembak kakinya" instruksi Jongmin sambil menunjuk lantai yang terkena noda darah. "malam ini aku sendiri yang akan mengawasimu" lanjut Yongmin.
Sehun pun mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Pekerjaan seperti itu memang sudah biasa ia lakukan. Tapi anehnya ia sangat menikmati waktunya di kantor polisi bersama polisi-polisi yang lain. Dan Sehun jauh lebih nyaman berada di sini daripada asrama. Selama ini ia memang yang menebus kesalahan anak buahnya. Memang ia sering mengancam orang dengan ancaman yang membuat bulu kuduk merinding, tapi nyatanya Sehun masih berpikir dua kali untuk benar-benar melakukannya. Sebenarnya yang paling ganas selama ini bukan Sehun, melainkan anak buahnya. Sehun adalah semacam bos yang hanya terima beres tanpa harus mengotori tangannya sendiri dan ia juga selalu membiarkan anak buahnya berbuat yang mereka suka.
Awal mula ia sering terdampar di kantor polisi ini saat ia dan anak buahnya tertangkap karena tawuran antar geng. Sialnya, dari sekian banyak pasukan tawuran dari kubu lawan kenapa hanya ia dan anak buahnya saja yang tertangkap. Awalnya Sehun takut bukan main membayangkan wajah mengerikan Baekhyun dan Chanyeol jika tahu ia tertangkap karena tawuran, tapi bayangan mengerikan itu hilang saat mengetahui sosok Yongmin yang tidak lain adalah teman kakak iparnya yang menjabat sebagai kepala polisi disana. Otaknya terus berpikir bagaimana cara agar ia dan anak buahnya bisa keluar dari kantor polisi ini tanpa harus panggilan orang tua dan akhirnya ia memberanikan diri untuk bernegosiasi dengan Yongmin. Beruntung sekali Chanyeol dulu sering mengajaknya berkunjung ke rumah Yongmin sehingga Sehun juga dekat dengan kepala polisi itu, Hasilnya… negosiasi pun berjalan lancar dan berlanjut sampai sekarang. Entah kenapa Sehun seperti ketagihan berada di antara para polisi ini. Oke bisa dibilang mungkin Sehun aneh tapi mereka sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.
Tanpa membuang banyak waktu, segera saja Sehun mengambil kemoceng untuk membersihkan meja dan merapikannya terlebih dahulu sebelum menyapu lantai. Dengan bersiul-siul ia mulai membersihkan meja. Tentu saja yang tahu gaya Sehun menyapu, membersihkan meja, membuat kopi dan lain-lain hanya polisi yang ada disana, bahkan anak buahnya pun tidak tahu. Ia memang menyembunyikannya dari siapapun, mau ditaruh mana mukanya jika Byun Sehun yang terkenal sebagai berandalan dan garang di Sangwon melakukan pekerjaan rumah seperti itu.
"oh, Sehun kau sudah datang rupanya" sapa seorang polisi yang baru datang.
Sehun pun tersenyum tipis,"ne hyung"
"cepat selesaikan, setelah ini temani aku main catur, oke?" ucap polisi itu sambil menepuk-nepuk kepala Sehun.
"shiiip!" jawab Sehun dengan memberikan jempolnya.
Tidak lama Sehun menatap puas meja-meja yang semula sangat berantakan sekarang sudah rapi kembali dan lantai yang sudah bersih tanpa debu. Namja itu mengusap keringat di keningnya dan menduduki salah satu kursi, beristirahat sejenak sebelum kemudian melaksanakan tugas selanjutnya yaitu membuat kopi untuk para petugas jaga.
Entah karena apa sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas lalu dengan cepat tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.
Luhan. Yup, ternyata nama kontak Luhan yang ia cari. Seperti biasa ia mulai misi pendekatannya.
To: Kim Xiao Lu
Annyeong Luhan!
Pesan pun terkirim dan ternyata Sehun tidak perlu menunggu lama untuk mendapat balasan dari Luhan.
From: Kim Xiao Lu
Annyeong Sehun oppa!
To: Kim Xiao Lu
Kau sedang apa?
From: Kim XiaoLu
Sedang menunggu appa pulang, oppa sedang apa?
Sehun terkekeh membacanya,menyadari kalau targetnya memang masih anak-anak.
To: Kim Xiao Lu
Biasa, sedang belajar
Belajar? Cih, bahkan membuka buku pelajarannya saja tidak pernah.
From: Kim XiaoLu
Oh, maaf mengganggu oppa. Kalau begitu selamat belajar ne. Annyeong~
Sehun hanya melongo membacanya. Sial! Dia salah jawab rupanya. Lagi-lagi obrolannya terputus dengan cepat.
'harusnya jangan menjawab sedang belajar, Byun Sehun bodoh' rutuknya dalam hati dengan menggeram prustasi.
Dan sepertinya berandal tengik Sangwon satu ini memang harus belajar lebih giat lagi untuk misi pendekatannya dengan gadis polos keluarga Kim.
~SS2~
Suho perlahan mengangkat tubuh putrinya dari sofa ruang televisi. Ia tidak menyangka Luhan akan benar-benar menunggunya sampai pulang. Ia jadi merasa bersalah karena tidak bisa pulang cepat karena memang hari ini pekerjaannya menumpuk dan mengharuskan ia lembur.
Memang sejak tadi Luhan menunggu ayahnya pulang sampai tertidur di ruang televisi. Sebenarnya nyonya Kim sudah menyuruh Luhan untuk segera tidur di kamarnya tapi gadis itu bersikeras untuk menunggu ayahnya pulang. Sudah menjadi kebiasaan jika Luhan sedang bermasalah dengan Yixing maka Suho lah yang ia cari, karena hanya di peluk Suho saja bisa membuat hatinya tenang walau dari dulu percumah jika Luhan mengadu pada ayahnya toh Suho sama sekali tidak bisa melawan keputusan Yixing.
Dengan hati-hati Suho membaringkan Luhan di tempat tidurnya. Tangannya segera mengusap-usap lembut kepala Luhan saat gadis itu terlihat terusik. Setelah Luhan tertidur pulas kembali, Suho pun mencium kening Luhan dan menyelimutinya sebelum akhirnya meninggalkan kamar putinya itu.
Langkah selanjutnya menuntun Suho untuk memasuki kamar putra bungsunya. Dilihatnya Joonma sudah tertidur sangat pulas sehingga dengkuran halus pun terdengar. Suho tersenyum dibuatnya. Ia lalu membenarkan selimut Joonma dan mencium kening bocah itu sebelum pergi.
Yang terakhir kamar anak sulungnya, Wufan. Tidak seperti kedua anaknya yang lain, Wufan saat ini masih sibuk bermain dengan game nya padahal sudah malam dan besok ia harus sekolah. Suho geleng-geleng kepala dibuatnya. Ia lalu mendudukkan dirinya di samping Wufan.
"sudah malam bung, cepatlah tidur!" tegur Suho sambil menepuk pundak Wufan.
Wufan menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke arah Suho,"oh, appa sudah pulang, ne sebentar lagi" ucapnya lalu melanjutkan kembali aktivitasnya bermain game.
Suho melonggarkan dasinya dan meregangkan otot lehernya yang kaku.
"tadi Lulu menunggu appa pulang, appa sudah bertemu dengannya?" tanya Wufan.
Suho pun mengangguk,"tapi sayang sekali adik mu sudah tertidur sebelum appa pulang"
Wufan lalu menatap ayahnya,"appa–" tapi Wufan tidak melanjutkan ucapannya saat bahunya di tepuk oleh Suho.
"ne, appa tahu Wu, appa akan bicara dengan eomma mu, semoga saja kali ini ia bisa mengerti" ucap Suho yang tahu apa yang ingin Wufan sampaikan.
Wufan pun mengagguk mengerti.
"sudah, sebaikanya cepat tidur, appa tidak mau besok kau bangun terlambat" ucap Suho sambil menepuk-nepuk bahu Wufan lalu bangkit dari duduknya.
Wufan hanya mengagguk dan menatap Suho yang meninggalkan kamarnya
Suho tersentak kaget saat baru memasuki kamarnya, Yixing langsung berhambur ke pelukannya sambil menangis.
"sudah chagi jangan menangis, ceritakan padaku ada apa sebenarnya!" ucap Suho sambil mengusap punggung Yixing.
"aku membuat kesalahan oppa"
"kesalahan apa?" tanya Suho tidak mengerti.
"tadi… tadi aku menampar Wufan"
Mata Suho membulat dibuatnya, ia pun merenggangkan pelukan Yixing padanya,"mwo? Bagaimana bisa?" tanyanya tak percaya.
Yixing menunduk semakin bersalah. Ia tahu Suho pasti marah kalau ia sampai memukul anaknya.
"entahlah, aku hanya…hanya terlalu emosi dan lepas kendali, hiks maafkan aku"
Benar saja, wajah Suho sudah memerah dengan rahang mengeras dan itu tandanya ia benar-benar marah, tapi melihat raut bersalah Yixing membuat ia tidak bisa meluapkan kemarahannya. Ia pun menghirup nafas panjang berkali-kali untuk menghilangkan emosinya.
"memangnya Wufan kenapa?" tanya Suho kemudian.
"hari ini pikiranku kacau setelah pagi tadi sedikit berdebat dengan Luhan dan akhirnya ia mendiamkanku seharian ini dan kau tahu sendiri Wufan selalu membela adiknya lalu kami pun juga bertengkar, aku juga tidak sadar apa yang aku lakukan, sungguh aku tidak sengaja menampar Wufan hiks maafkan aku"
Suho akhirnya memeluk tubuh Yixing yang bergetar. Ia memang tidak bisa marah dengan istrinya itu. Setelah mendengar penjelasan Yixing, Suho pun mengerti.
"lain kali jangan main tangan kalau masih bisa diselesaikan baik-baik, jangan ulangi lagi ne?"
Yixing menganggukkan kepala untuk menjawabnya.
"aku rasa sudah waktunya kita membicarakan masalah Luhan, chagi"
Yixing sontak melepaskan pelukannya,"maksudmu?"
"mungkin memang sudah waktunya kita memberi sedikit kebebasan untuk Luhan"
Yixing menggelengkan kepalanya,"tidak oppa, aku belum siap"
"sampai kapan Yixing?" tanya Suho dengan nada prustasi dan Yixing hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Pertanyaan yang selalu tidak bisa ia jawab. Sampai kapan ia akan terus mengurung Luhan?
"apa kau tidak kasihan padanya? sejak umur 5 tahun dan sekarang usianya sudah menginjak 16 tahun"
"justru semakin dewasa usianya, aku semakin takut untuk melepasnya"sahut Yixing cepat.
Suho menghembuskan nafas kasar lalu memegang bahu istrinya,"percayalah chagi, semua akan baik-baik saja, ada Wufan, Jongin, Zitao yang menjaganya dan aku yakin putriku bisa menjaga dirinya sendiri"
Lagi-lagi Yixing hanya terdiam tidak berani menatap mata suaminya.
"aku mohon sekali ini saja" ucap Suho dengan suara lembut,"aku tidak mau Luhan semakin tertekan, biarlah dia menjalani kehidupan normalnya chagi, aku juga tidak mau kau terus-menerus bertengkar dengannya. Apa kau tidak mau Luhan tertawa lepas seperti anak-anak yang lain, mempunyai banyak teman seperti yang ia inginkan selama ini?"
"aku tau kau sangat menyayanginya tapi apa kau tega melihatnya tersiksa?" lanjut Suho. Yixing masih bungkam dengan sedikit terisak namun sedetik kemudian kepalanya menggeleng dan langsung memeluk suaminya
"aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padanya oppa karena aku terlalu menyayanginya, dia anak perempuanku satu-satunya" ucap Yixing kemudian.
Suho membelai lembut kepala Yixing,"aku tahu chagi dan kau juga harus tahu, Luhan juga sangat menyayangimu, dia tidak akan mengecewakan orang yang ia sayangi, percayalah" lagi-lagi Yixing terdiam, mencoba memikirkan kembali permintaan suaminya. Sejujurnya ia juga sudah lelah terus-menerus berdebat dengan keluarganya mengenai Luhan.
'ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Apa caraku melindunginya selama ini salah? Apa selama ini putriku tidak bahagia? Jika memberi kebebasan adalah yang terbaik untuknya, tolong yakinkan aku Tuhan, aku mohon!'
~SS2~
Luhan berdiri seorang diri di balkon kamarnya dengan sudut bibir yang ditarik kebawah, hanya miss. Lula yang setia menemaninya. Kucing itu terlihat nyaman saat meringkuk di bawah kaki Luhan. Hari ini Luhan memang tidak banyak keluar kamar kecuali saat belajar, setelah itu ia terus mengunci dirinya di kamar. Panggilan dari Yixing untuk menyuruhnya makan pun tidak dihiraukan. Gadis itu memang masih mendiamkan ibunya sejak 2 hari yang lalu.
Sebenarnya ia bosan berada di dalam kamar terus menerus tapi ia enggan untuk keluar dari kamar. Tidak ada yang menemaninya hari ini karena Wufan bilang akan langsung ke bengkel setelah pulang sekolah sedangkan Joonma setelah pulang sekolah langsung bermain sepak bola dengan teman-temannya. Lalu Zitao, gadis itu belum pulang karena masih mengerjakan tugas di rumah temannya. Ia kemudian mencoba menghubungi Jongin, siapa tahu saja kakak sepupunya itu ada waktu untuk mengunjunginya. Tapi ternyata ponsel Jongin sama sekali tidak bisa dihubungi. Jongin memang semakin sibuk semenjak mempunyai yeojachingu.
Gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya, meratapi nasibnya yang kesepian seperti ini. Pandangannya mengarah ke jalan depan rumahnya yang lumayan sepi. Rasanya ia ingin sekali jalan-jalan untuk mengusir penat di rumah, tapi mana mungkin ia bisa keluar rumah kalau Yixing terus megawasinya. Luhan semakin mengerucutkan bibirnya dan menghentak-hentakkan kakinya di lantai, jengkel dengan sikap ibunya.
Tapi tidak lama senyum pun terkembang di wajah cantik Luhan saat ia melihat mobil ibunya keluar dari halaman rumahnya dan itu artinya Yixing tidak ada di rumah.
Kesempatan.
'yes!' sorak Luhan dalam hati. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini kan?
Luhan lalu berjongkok dan mengelus bulu miss. Lula. "aku pergi dulu ya, jaga kamarku dan jangan bilang siapa-siapa ne?"
Setelah itu dengan langkah pelan, Luhan keluar dari kamarnya. Pandangannya mengawasi sekitar untuk memastikan kalau tidak ada yang tahu ia keluar dari rumah. Dan beruntung rumahnya sepi saat ini.
Terlebih dahulu ia masuk ke kamar orang tuanya untuk mengambil kunci cadangan karena Yixing pasti akan mengunci pintu depan karena sang nenek kelihatannya sedang tidur siang. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan kunci tersebut karena diam-diam Luhan sudah tau tempat dimana Yixing menyimpan kunci.
Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan Luhan karena langkahnya mulus-mulus saja menuju pintu depan. 'Jalan-jalan sebentar tidak masalah ' pikirnya.
Tapi saat pintu sudah berhasil dibuka, Luhan dikagetkan dengan sesosok namja yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
~SS2~
Sehun menjalankan motornya pelan saat akan melintasi rumah keluarga Kim dan tidak lama kemudian ia menghentikan laju motornya. Rautnya terlihat berpikir. Ya, ia memang sedang berpikir apa alasan yang tepat untuk berkunjung ke rumah tersebut. Hanya untuk bertemu Luhan, itu tujuannya. Biasanya ia selalu bersama Baekhyun jika berkunjung ke rumah keluarga Kim. Jadi sekarang apa alasan yang tepat kalau ia berkunjung seorang diri?
Tiba-tiba kepala Sehun menoleh ke arah pintu gerbang rumah keluarga Kim saat ia mendengar suara mobil. Dan senyumnya terkembang saat tahu Yixing yang mengendarai mobil tersebut.
Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungannya. Rumah keluarga Kim terlihat sangat sepi. Motor Wufan juga tidak terlihat dan itu tandanya Wufan tidak ada dirumah karena gawat juga kalau Wufan yang membukakan pintu. Bisa-bisa ia ketahuan sedang mendekati Luhan.
Langkahnya tepat berhenti di depan pintu rumah keluarga Kim. Tangannya maju mundur untuk memencet bell rumah tersebut. Sial! Kenapa ia menjadi segugup ini.
Cklek
Mata Sehun terbelalak saat mendapati wajah cantik targetnya yang membuka pintu. Keberutungan selanjutnya batin Sehun.
"Sehun oppa?" panggil Luhan dengan kening berkerut bingung karena mendapati Sehun ada di depan rumahnya.
Sehun tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya,"eh, Lu-Luhan"
"oppa sedang apa disini?"
Sehun berdehem sejenak sebelum menjawab,"e… bertemu denganmu" jawab Sehun.
Luhan semakin terlihat bingung saja,"bertemu denganku?"
"ne, eum apa kau mau pergi?" tanya Sehun karena Luhan terlihat ingin pergi dari rumah jika tidak mendapati Sehun sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"oh ani, aku hanya ingin jalan-jalan hehe" jawab Luhan dengan cengirannya.
'kesempatan besar Byun Sehun'
"jalan-jalan? Mau aku temani?" tawar Sehun. Sedangkan Luhan masih terlihat berpikir.
"oppa tidak sedang sibuk?"
Sehun tertawa mendengarnya,"ani, sebenarnya aku juga ingin jalan-jalan dan…. Lagi pula apa kau lupa aku masih punya hutang padamu"
Luhan memiringkan kepalanya bingung,"hutang? Hutang apa?"
"bubble tea, kau masih ingat kan?"
"woaaah tentu saja aku ingat" sorak Luhan girang,"jadi oppa benar-benar mau membelikanku bubble tea?"
"tentu saja, kau mau?"
Dengan semangat Luhan menganggukkan kepalanya.
"kalau begitu ayo ikut aku" ajak Sehun sambil mengulurkan tangannya berniat menggandeng tangan Luhan.
Bukannya menyambut uluran tangan Sehun, Luhan hanya mengangguk semangat lalu berjalan mendahului Sehun. Sehun pun melongo menatap tangannya yang mengambang di udara.
"hey Lu, kau mau kemana?" panggil Sehun saat Luhan berjalan meninggalkan halaman rumahnya.
Luhan pun berhenti dan menengok ke arah Sehun,"membeli bubble tea" jawabnya dengan wajah polos yang membuat Sehun ingin tertawa.
"memang kau tau tempatnya? Lagi pula tempatnya lumayan jauh tidak mungkin kita jalan kaki"
Mendengar itu pun Luhan menampilkan cengirannya,"hehe mian"
"ayo naik!" instruksi Sehun agar Luhan naik di jok belakang motornya.
Luhan terlihat takut saat menaiki motor tersebut karena seumur-umur ia belum pernah naik motor,"oppa pelan-pelan ne"
"kau takut?" tanya Sehun.
Luhan pun mengangguk,"aku tidak pernah naik motor"
"kalau begitu pegangan yang kuat, seperti ini" tanpa aba-aba Sehun langsung melingkarkan tangan Luhan di perutnya.
Karena merasa tidak nyaman Luhan langsung melepaskan lingkaran tangannya di perut Sehun,"shireo, aku pegangan ini saja" tolak Luhan dengan muka merahnya dan langsung memegang tas Sehun.
Sehun yang merasa modusnya gagal hanya bisa mengangguk,'sabar Sehun, pelan-pelan saja' ucap Sehun dalam hati dan mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
~SS2~
Wufan terlihat buru-buru saat memasuki rumahnya. Ia memang pulang cepat dari bengkel karena tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Rumahnya sangat sepi, Yixing sepertinya juga sedang pergi karena Wufan tidak mendapati mobil ibunya di garasi. Nenek dan kakeknya tidur pulas di kamar. Sedangkan Joonma, bocah itu terlihat sedang bermain sepak bola di lapangan dekat rumahnya.
Semua baik-baik saja, tapi kenapa perasaannya tidak enak. Setelah dari kamar nenek dan kakeknya, Wufan langsung melesat ke kamar Luhan. Dan benar saja, nafasnya tercekat saat tidak mendapati Luhan dikamarnya.
"Lu!" panggil Wufan sambil memeriksa kamar mandi kemudian lemari pakaian –karena Luhan sering bersembunyi disana– tapi Wufan sama sekali tidak menemukan adiknya. Namja itu pun terlihat semakin panik. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju kamarnya, siapa tahu saja Luhan tidur di kamarnya, tapi ternyata sama saja tidak ada Luhan di sana. Wufan mengusap wajahnya yang semakin panik.
Dengan gusar ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Luhan dan sial, ternyata ponsel Luhan tertinggal dikamarnya. Wufan semakin prustasi.
Perlahan ia menghirup nafas panjang berusaha menenagkan dirinya, mencoba positive thinking. Siapa tahu saja Luhan pergi bersama ibunya. Ya, mungkin saja. Tapi tidak ada salahnya kalau ia pastikan Luhan bersama ibunya atau tidak dan ia putuskan untuk menghubungi Yixing walau sebenarnya ia agak canggung karena sejak kejadian Yixing menamparnya, Wufan sama sekali belum bicara dengan ibunya.
"yeoboseo!"
"Wufan?" terdengar nada Yixing yang setengah tidak percaya Wufan meneleponnya,"ada apa nak?"
"ani, eomma di mana?"
"eomma sedang ada urusan sebentar, kau jaga adik-adikmu dirumah ya, dan suruh Lulu untuk makan dari pagi ia belum makan, tadi eomma mengetuk pintunya tapi tidak dibuka mungkin masih tidur"
DEG
Jantung Wufan semakin berdetak tidak normal. Gawat, berarti Luhan tidak bersama ibunya. Lalu kemana anak itu?
Wufan terlihat membeku di tempat sampai tidak sadar kalau Yixing berkali-kali memanggilnya.
"Wu! Wufan! Kau masih disana? Yeoboseo Wufan?"
Dan Wufan pun akhirnya tersadar,"ah ne eomma"
"Wu!" panggil Yixing lagi.
"ne?"
"soal kemarin, eomma minta maaf. Eomma sungguh tidak sengaja menamparmu, maafkan eomma ne?"
Wufan tersentak mendengarnya, kepalanya lalu menggeleng dengan cepat,"ani eomma, tidak seharusnya eomma meminta maaf padaku, aku yang harusnya meminta maaf karena bicara yang aku" ucapnya tulus.
"gwenchanna, eomma mengerti Wu, satu yang harus kalian tahu, eomma menyayangi kalian semua dan eomma hanya ingin melindungi kalian"
"ne eomma aku tahu" ucap wufan sambil menundukkan kepalanya,"mianhae!"
"eomma sudah memaafkanmu chagi, ya sudah kalau begitu cepat suruh adikmu makan, dan jangan lupa kalau sudah agak sore panggil Joonie pulang, jangan mandi terlalu sore mengerti?"
"ne eomma arraseo"
"baiklah eomma serahkan semua padamu, annyeong!"
"annyeong"
Sambungan telepon pun terputus dan Wufan semakin tidak tenang. Kalau tidak bersama ibunya lalu kemana perginya Luhan?
Wufan berjalan mondar-mandir sambil memijit pelipisnya. Bisa gawat kalau Luhan belum pulang ke rumah saat Yixing pulang nanti. Tapi tiba-tiba pikirannya terpaku pada seseorang.
Jongin. Ya, mungkin saja Luhan pergi ke rumah Jongin. Wufan menjentikkan jarinya dan langsung melesat keluar dari rumah menuju ke rumah pamannya Kim Jongdae.
~SS2~
"oppa ini enak sekali" seru Luhan saat meminum bubble tea yang baru saja dibelikan Sehun.
"apa ku bilang kau pasti suka"
Luhan mengangguk sambil mengunyah bubble kenyalnya membetulkan ucapan Sehun.
"kalau kau mau aku bisa mengantarmu sering-sering ke sini"
"benarkah?" tanya Luhan memastikan.
Sehun tersenyum dan mengangguk. Tapi entah kenapa raut Luhan berubah lesu.
"kenapa?" tanya Sehun khawatir.
"oppa mianhae, tapi sayangnya aku tidak bisa sering-sering keluar rumah"
Sehun pun mengangguk mengerti dengan keadaan Luhan. ia heran kenapa Luhan bisa-bisanya tahan diperlakukan seperti itu. Kalau itu terjadi padanya mungkin ia sudah menghuni rumah sakit jiwa sekarang.
"kalau begitu aku antar ke rumahmu saja, bagaiamana?"
Luhan dengan cepat menggelengkan kepalanya,"jangan, eomma tidak memperbolehkan aku minum-minuman seperti ini"
"wae?"
Luhan lagi-lagi menggeleng,"ani, tidak apa-apa" ucapnya, ia tidak mungkin kan menceritakan keadaan fisiknya yang lemah dan sering sakit-sakitan pada Sehun bisa-bisa Sehun tidak mau berteman dengannya lagi –pikir Luhan.
"tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa" desak Sehun agar Luhan mau bercerita padanya.
"yaaah sudah habis, oppa boleh aku pesan lagi? Aku belum kenyang" rengeknya untuk mengalihkan pembicaraan.
"mwo? Perutmu tidak kembung Lu?" tanya Sehun tidak percaya karena Luhan sudah menghabiskan satu gelas besar bubble tea dan sekarang mau menambah lagi?
"ani oppa, aku masih ingin minum lagi, boleh ya ya?" mohon Luhan dengan puppy eyes nya.
Sehun terkekeh lalu mengacak-acak rambut Luhan,"baiklah, kau tunggu disini ne"
Luhan mengangguk semangat.
Tidak lama kemudian Sehun datang dengan satu gelas jumbo bubble tea rasa taro. Luhan bersorak gembira menerimanya.
"pelan-pelan minumnya"
Luhan hanya memberikan cengirannya pada Sehun sambil terus menyedot minumannya.
Sejenak Sehun menatap lekat Luhan yang tengah asik meminum bubble tea nya. Pantas saja orang tua Luhan sangat menjaga anaknya bahkan orang lain pun susah untuk menyentuhnya. Lihatlah wajah bagai bidadari yang mempesona dengan kulit selembut kapas dan tatapan polos yang bisa membuat orang ingin terus melindunginya.
Sehun merutuki pikiran busuk yang sempat singgah diotaknya. Apakah ia tega menyakiti bidadari tidak berdosa di depannya ini? Sebut saja berandalan tengik ini lemah pada perempuan. Tapi entah kenapa ia belum rela melihat Jongin hidup tenang setelah merebut Kyungsoo darinya.
"oppa gomawo ne" ucap Luhan membuyarkan lamunan Sehun.
"untuk?"
"untuk bubble tea dan karena oppa sudah mau menjadi temanku"
Sehun tertawa mendengarnya,"ck kau ini ada-ada saja, oh iya apa tadi kau sudah minta izin pada eomma mu kalau ingin jalan-jalan?"
Mendengar itu Luhan menundukkan kepalanya takut,"oppa minahae, sebenarnya aku kabur dari rumah" ucap Luhan membuat mata Sehun membulat.
"MWO? Astaga Lu, bagaimana kalau orang tuamu atau Wufan mencarimu?" tanya Sehun panik karena bisa gawat kalau ia dituduh membawa kabur anak orang.
"ani, eomma sedang tidak ada dirumah, appa masih di kantor dan Wufan sedang di bengkel jadi mereka tidak akan tahu kalau aku tidak ada dirumah"
Sehun menggeleng,"kalau begitu sekarang ayo aku antar kau pulang" dengan cepat Sehun menarik Luhan untuk bangkit dari duduknya.
"tapi oppa aku masih ingin minum bubble tea" rengek Luhan karena ia memang belum ingin pulang.
"lain kali saja oppa akan mengantarmu kesini lagi"
"janji?"
Sehun tersenyum lalu mengangkat kedua jarinya,"janji"
"sekarang ayo naik!"
"tapi oppa, aku tidak mau pulang ke rumah, antar aku ke rumah Jongin oppa saja ne?" pinta Luhan.
"wae?"
"tidak apa-apa, hanya saja sudah lama sekali aku tidak ke sana, jebal"
Sehun pun menghela nafasnya,"baiklah tapi setelah itu hubungi orang rumah agar mereka tidak kebingungan mencarimu"
"oke" ucap Luhan dengan menunjukkan jempolnya. Sehun lagi-lagi tertawa melihat wajah imut Luhan yang sangat menggemaskan dan itu membuat otot-otot kaku di wajahnya sedikit melemas karena hari ini ia lebih banyak tertawa.
~SS2~
"ahjumma!" panggil Wufan saat mendapati Minseok sedang menonton televisi.
"eh, Wu! Ada apa? tumben kemari?" tanya Minseok.
Wufan mengatur nafasnya yang tersenggal karena sehabis berlari.
"aaiish kau ini kenapa sampai keringatan begitu, ini minum dulu" Minseok pun memberi segelas air pada Wufan. Dengan sekali teguk air segelas itu pun habis.
"ahjumma, apa Luhan kemari?" tanya Wufan kemudian. Minseok terlihat mengerutkan keningnya.
"ani, memangnya kemana adikmu?"
"aku juga tidak tahu, saat aku pulang Luhan sudah tidak ada"
"MWO? Memangnya ibumu kemana?" tanya Minseok yang terkejut.
"eomma sedang tidak ada di rumah dan Luhan tidak pergi bersama eomma"
"aigoo, pasti Luhan jalan-jalan seorang diri, kau tahu kan adikmu pasti tidak menyia-nyiakan kesempatan ini"
Wufan mengangguk,"mungkin saja ahjumma, tapi jalan-jalan kemana? Aku takut dia tersesat, ponselnya tertinggal dirumah"
"astaga bagaimana kalau ibumu tahu?" Minseok pun juga tidak kalah bingungnya dengan Wufan,"oh atau jangan-jangan Luhan pergi ke rumah keluarga Huang?"
Wufan menepuk keningnya, bagaimana ia bisa melupakan rumah keluarga Huang. Ya, Minseok benar, mungkin Luhan pergi menemui Zitao.
"mungkin saja, ya sudah aku kesana dulu ne, annyeong ahjumma!"
"annyeong, hati-hatiWu!" Wufan pun mengangguk tapi belum sampai keluar rumah Wufan menoleh kembali ke arah Minseok.
"ahjumma! jangan beri tahu eomma dulu ne, aku akan mencari Luhan sampai ketemu" pesan Wufan.
"aku mengerti Wu, kau tenang saja" jawab Minseok dan Wufan tersenyum lalu pergi meninggalkan kediaman bibinya.
Sebelum benar-benar pergi ke rumah keluarga Huang, Wufan terlebih dahulu mengitari komplek perumahannya, siapa tahu saja Luhan jalan-jalan di taman. Tapi sama saja, Luhan juga tidak ada ditaman. Karena sudah merasa lelah Wufan pun akhirnya berjalan ke rumah keluarga Huang dengan baju seragamnya yang basah karena keringat apalagi cuaca panas sekali.
Cklek
Pintu rumah keluarga Huang pun terbuka setelah Wufan memencet bell rumah tersebut.
"eh, mau apa kau?" tanya ketus sang tuan rumah yang tidak lain putri keluarga Huang. Zitao sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat keadaan Wufan yang berantakan.
"kau kenapa?" tanya Zitao sedikit prihatin melihat keadaan Wufan.
"apa Luhan kemari?" tanya Wufan tanpa basa-basi.
"ani, Lulu tidak kemari"
"jangan bohong! Kau pasti menyembunyiakannya kan?"
"Ya! Sebenarnya apa maumu? Kau bertanya atau menuduhku? Asal kau tahu saja, aku baru pulang dan mama tidak memberitahuku kalau Lulu kemari"
Wufan menghembuskan nafas kasar, kepalanya menunduk lalu duduk di lantai teras rumah keluarga Huang karena lelah dan putus asa mencari adiknya.
Zitao yang terlihat kasihan pun ikut duduk di samping Wufan,"Lulu tidak bilang mau pergi kemana?" tanya Zitao hati-hati.
Wufan menggeleng,"tidak, saat aku pulang ia sudah tidak ada"
"astaga, kemana perginya Lulu" gumam Zitao yang juga tak kalah khawatir mendengar Luhan tiba-tiba menghilang, pasalnya Luhan tidak pernah pergi sendiri seperti ini. Matanya kemudian melirik Wufan yang terlihat mematung memandangi jalan.
"kau terlihat menyedihkan Kim" ujar Zitao lalu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.
Wufan hanya memandang kepergian Zitao sekilas lalu menoleh kembali ke arah jalan.
"ini minumlah!" Zitao menyodorkan segelas air dingin pada Wufan. Karena merasa haus Wufan pun meneguknya sampai habis. Tapi tiba-tiba ia merasakan hawa sejuk menerpanya padahal cuaca sangat panas dan tidak ada angin berhembus.
Saat menoleh, Wufan pun tertawa karena mendapati musuh bebuyutannya sedang sibuk mengipasinya.
"kau kesurupan nona Huang?" tanya nya mengejek.
Zitao memutar bola matanya,"jangan banyak komentar, aku sedang baik sekarang"
Wufan memajukan bibir bawahnya,"arraseo, sering-seringlah bersikap baik seperti ini, kau terlihat manis jika tidak bertingkah menyebalkan"
Blush
Entah kenapa pipi Zitao merona dibuatnya, ia jadi salah tingkah sendiri. Wufan yang melihat wajah merah Zitao pun meledakkan tawanya,"kenapa wajahmu merah begitu?"
Zitao pun mendengus kesal dibuatnya,"haiiish kau yang menyebalkan Kim" dan setelah itu memukul kepala Wufan dengan kipasnya.
"kau sudah mencoba menelepon Lulu?" tanya Zitao mengalihkan pembicaraan.
Wufan menghela nafasnya,"ponselnya tertinggal di rumah"
"aigoo, lalu kau sudah mencari kemana saja?"
"aku sudah mengitari seluruh komplek, taman dan rumah Jongdae ahjussi tapi aku tidak menemukannya"
Zitao pun terlihat berpikir sejenak,"eumm bagaimana kalau kau coba cari di kedai es krim di ujung jalan sana" saran Zitao yang menunjukkan arah tempat kedai es krim yang di maksud.
Wufan mengerutkan keningnya,"kedai es krim? memangnya Luhan sering kesana?"
'oops' Zitao menutup mulutnya karena keceplosan. Selama ini Luhan memang dilarang makan es krim atau makan dan minum sembarangan dikarenakan tubuhnya yang ringkih dan gampang sakit.
"jangan bilang kalau kau sering mengajaknya kesana"
Zitao menelan ludahnya melihat tatapan tajam Wufan. "a-ani, Lulu yang memaksaku untuk mengajaknya ke sana" bela Zitao karena memang itu kenyatannya.
"kau kan bisa menolaknya, pantas saja Luhan sering terserang flu"
Gadis itu pun menundukkan kepalanya merasa bersalah juga karena sering menuruti keinginan Luhan.
"mianhae" ucapnya membuat Wufan tersentak kaget karena baru kali ini Zitao meminta maaf.
"sudahlah, lain kali jangan turuti lagi kalau ia mengajakmu membeli es krim"
"arraseo, bagaimana kalau kita mencarinya ke sana?" usul Zitao.
Wufan pun mengangguk,"ide bagus, kajja!" lalu dengan tiba-tiba ia menarik tangan Zitao membuat gadis itu kaget.
"eh? Eumm ba-bagaimana kalau kita naik sepedaku saja?" usul Zitao lagi karena merasa gugup juga kalau Wufan menggandenganya seperti ini.
"baiklah, kalau begitu mana sepedamu?"
"itu, disana" tunjuk Zitao ke arah garasi tempat sepedanya terparkir. Dengan cepat Wufan pun mengambil sepeda tersebut dan menyuruh Zitao untuk ikut naik bersamanya.
'aaiish kenapa jerapah tengik itu jadi terlihat tampan kalau sedang baik seperti ini… MWO? YA! Huang Zitao apa yang kau pikirkan' rutuknya dalam hati sambil memukul-mukul kepalanya karena berpikiran macam-macam.
~SS2~
"oppa sekali lagi terima kasih sudah menemaniku dan maaf karena sudah merepotkanmu" ucap Luhan lalu membungkuk saat Sehun sudah mengantarnya pulang ke rumah Jongin. Beruntung sekali rumah Jongin terlihat sepi dari luar jadi Sehun tidak harus bersembunyi saat mengantar Luhan.
Sehun terkekeh,"tidak ada yang direpotkan Lu. Aku senang bisa menemanimu. Kalau kau butuh teman hubungi aku saja"
Luhan tersenyum dan mengangguk.
"ya sudah, aku pulang dulu ne, sampai ketemu lagi" pamit Sehun.
"ne, hati-hati dijalan oppa" Luhan melambaikan tangannya saat Sehun mulai menjalankan motornya. Setelah Sehun sudah tidak tampak lagi oleh penglihatannya, gadis itu berjalan memasuki rumah Jongin.
"annyeong ahjumma!" seru Luhan ceria lalu berhambur ke pelukan Minseok.
Minseok kaget bukan main dibuatnya,"Luhan! kau dari mana saja?" tanya Minseok sambil membelai lembut kepala keponakannya.
Luhan sontak melepaskan peluakannya,"eh? Memangnya kenapa?"
"tadi Wufan kebingungan mencarimu"
DEG
Seketika itu juga tubuh Luhan menegang karena ternyata Wufan sudah pulang dan mengetahui kalau ia kabur dari rumah. Langsung saja gadis itu memeluk Minseok lagi karena takut.
"ahjumma aku takut, bagaimana kalau Wufan marah padaku?" tanya Luhan ketakutan dan hampir menangis.
"harusnya tadi kau minta izin dulu pada Wufan atau orang rumah yang lain agar mereka tidak kebingungan mencarimu Lu"
"hiks mianhae, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar" dan tangis Luhan pun pecah. Ia memang selalu ketakutan kalau Wufan marah padanya.
"ssstt sudah sudah jangan menangis, nanti biar ahjumma yang bicara pada Wufan, sekarang Lulu istirahat dulu sana di kamar Jongin oppa"
Luhan melepas pelukannya lalu menghapus air matanya,"Jongin oppa mana?"
"Jongin oppa belum pulang, mungkin sebentar lagi"
Luhan mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan memasuki kamar Jongin. Jujur saja ia merasa badannya mulai memanas dan tenggorokannya mulai gatal.
~SS2~
"ahjussi, apa tadi Lulu kesini?" tanya Zitao pada ahjussi penjual es krim.
Ahjussi pun menggelengkan kepalanya,"tidak, nona Kim tidak kemari tadi"
"ahjussi yakin?" tanya Zitao lagi untuk memastikan.
"ne nona, hari ini pembeli tidak terlalu ramai jadi saya tahu siapa saja yang kemari dan saya tidak mendapati nona Kim disini"
Zitao menundukkan kepalanya dengan lemas,"ya sudah kalau begitu, kamsahamnida ahjussi" ucap Zitao sambil membungkuk.
"bagaimana?" tanya Wufan saat Zitao keluar dari kedai es krim tersebut. Gadis itu menggeleng lesu.
"Lulu tidak kemari"
Wufan memukul setir sepeda Zitao, merasa prustasi harus mencari adiknya kemana lagi.
"kau tenang saja, Lulu pasti pulang, dia tidak mungkin jalan-jalan jauh kalau tidak ada yang menemaninya" ucap Zitao menenangkan Wufan dan dengan canggungnya mengusap lengan kembaran sahabatnya itu.
Sedangkan Wufan hanya diam. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran serta emosi karena merasa tidak becus menjaga adiknya. Tapi tiba-tiba saja ia menegakkan tubuhnya saat melihat seorang familiar yang lewat.
"Kkamjong berhenti!" teriak Wufan.
Jongin yang mendengar ada yang meneriakinya pun seketika itu menghentikan laju motornya.
"Wufan? Sedang apa kau disini?" tanya Jongin saat Wufan menghampirinya.
"apa Luhan tidak menghubungimu?" tanya Wufan.
"aku tidak tahu, ponselku mati Wu, memangnya ada apa?"
Wufan mengacak rambutnya prustasi.
"Wu, katakan ada apa, jangan membuatku khawatir" desak Jongin.
"Luhan pergi dari rumah dan aku tidak tahu dimana dia sekarang"
Seketika itu mata Jongin membulat,"MWO? Bagaimana bisa?"
"aku juga tidak tahu, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi belum ketemu" ujar Wufan prustasi.
"Tao-ya kau juga tidak tahu Lulu kemana?" tanya Jongin pada Zitao yang hanya diam.
Zitao pun menggeleng karena ia juga benar-benar tidak tahu,"sungguh aku juga tidak tahu oppa"
Mereka sejenak terdiam. Jongin terlihat sedang berpikir kemana perginya Luhan. ia juga tidak menyangka kalau Luhan berani keluar rumah seorang diri karena biasanya gadis itu akan meminta Zitao untuk mengantarnya jalan-jalan kecuali kalau hanya berkunjung ke rumahnya.
Wufan tersentak saat ia merasakan ponselnya bergetar.
"yeoboseo ahjumma"
"Wu, kau dimana sekarang?" tanya Minseok.
"aku masih mencari Luhan, disini juga ada Jongin hyung, waeyo?"
"cepat pulang! Lulu baru saja pulang kemari"
"MWO? Baiklah kalau begitu aku kesana sekarang, annyeong" dengan cepat Wufan menutup sambungan teleponnya.
"ada apa?" tanya Zitao dan Jongin bersamaan.
"Min ahjumma bilang kalau Luhan sudah pulang ke rumahmu" ujar Wufan pada Jongin.
Jongin dan Zitao menghembuskan nafas lega.
"ya sudah kalau begitu ayo ikut ke rumahku!" ajak Jongin. Wufan menganggukkan kepalanya.
"kau duluan saja, aku mengantar dia pulang dulu" ucap Wufan.
"eh, tidak usah kau langsung ke rumah Jongin oppa saja, aku bisa pulang sendiri" tolak Zitao. Dalam hati ia jadi bingung sendiri kenapa ia harus tidak enak hati begini pada Wufan.
"jangan keras kepala, aku tidak mau orang tuamu menyalahkanku karena kau juga ikut hilang saat diperjalanan pulang"
"Ya! Aku bukan anak kecil yang gampang hilang" protes Zitao tidak terima dengan ucapan Wufan.
Jongin tertawa melihatnya, kedua bocah dihadapannya ini memang selalu bertengkar,"ya sudah kalau begitu aku pulang dulu, setelah mengantar Tao pulang segera ke rumahku"
"arraseo" jawab Wufan. Jongin pun segera menyalakan motornya kembali untuk pulang.
"kajja!" ajak Wufan sambil menarik tangan Zitao menuju sepedanya.
"kau tidak harus menggandeng tanganku Kim, aku bisa jalan sendiri" dengan cepat Zitao melepaskan genggaman tangan Wufan padanya. Sebenarnya gadis itu gugup saat Wufan menggandeng tangannya.
Wufan mengangkat tangannya tanda menyerah,"arraseo, miahae"
Zitao memutar bola matanya lalu naik ke boncengan belakang sepedanya.
~SS2~
Sesampainya di rumah, Jongin dengan tergesa-gesa menghampiri ibunya yang saat itu berada di dapur.
"eomma, Lulu mana?" tanya Jongin.
"dia sedang istirahat di kamarmu, badannya sedikit panas eomma takut kalau ia sakit lagi, oh iya Wufan mana?"
"Wufan sebentar lagi menyusul"
"ya sudah bawa susu hangat ini ke kamarmu suruh Lulu meminumnya" titah Minseok sambil menyerahkan segelas susu hangat pada Jongin.
Jongin pun mengangguk lalu membawa susu hangat itu ke kamarnya. Namun keningnya berkerut saat tidak mendapati Luhan dikamarnya. Segera saja ia letakkan susu tersebut di meja nakas.
"Lu!" panggilnya.
"oppa? Jongin oppa? Kau kah itu?"
Jongin menghembuskan nafas lega mendengar suara Luhan. Ia pun berjalan ke arah lemari pakaiannya karena suara Luhan terdengar dari sana.
"ne ini aku, cepat buka pintunya!"
Perlahan pintu lemari pun terbuka. Benar saja sosok Luhan muncul dari dalam lemari dan langsung berhambur memeluk Jongin sambil menangis.
"hey kenapa menangis? Ada apa hm?" tanya Jongin sambil membelai lembut kepala Luhan dipelukannya.
"hiks aku takut, Wufan marah padaku"
"tidak, Wufan tidak marah padamu, Wufan hanya khawatir Lu, jangan pergi tanpa izin begitu, dari mana saja kau tadi?" tanya Jongin. Tangannya dengan lembut menghapus air mata Luhan.
Luhan terlihat kebingungan menjawabnya. Tidak mungkin ia bilang kalau baru saja pergi bersama Sehun karena bisa-bisa Jongin marah pada Sehun.
"ak-aku…aku hanya jalan-jalan di sekitar sini" jawab Luhan.
Jongin menaikkan sebelah alisnya,"benarkah? Lalu kenapa Wufan tidak menemukanmu? Padahal ia juga sudah berkeliling di sekitar sini"
Luhan terdiam, bingung harus menjawab bagaimana. Tangannya terus meremas ujung bajunya.
"Lu katakana padaku yang sebenarnya, kemana saja kau tadi?"
Tangis Luhan pecah kembali dan itu membuat Jongin semakin kebingungan,"tapi oppa janji jangan marah pada Sehun oppa ne?"
DEG
'Sehun?'
"Sehun? Kenapa aku harus marah pada Sehun? Apa yang Sehun lakukan padamu? Cepat katakan Lu!" tanya Jongin yang terlihat khawatir sambil mencengkeram lengan Luhan.
Luhan dengan cepat menggeleng,"Sehun oppa tidak melakukan apa-apa padaku, sungguh. Aku hanya pergi membeli bubble tea dengannya saja, Sehun oppa baik padaku, oppa jangan marah ne, aku mohon!" mohon Luhan karena muka Jongin sudah merah padam menahan emosi.
"hiks oppa jangan marah, Sehun oppa orang baik, dia juga mengantarku pulang dengan selamat, hiks oppa~" rengek Luhan sambil mengguncang-guncangkan lengan Jongin karena Jongin masih diam dari tadi.
Jongin yang tidak tega pun akhirnya memeluk Luhan kembali,"ne oppa tidak marah, sudah jangan menangis lagi".
"tapi oppa juga jangan bilang pada Wufan kalau aku pergi dengan Sehun oppa ne?"
Lagi-lagi Jongin terdiam. Sebenarnya ia masih bingung kenapa Sehun tiba-tiba berani mengajak Luhan keluar rumah. Ada maksud tertentu atau karena Sehun ingin mengenal Luhan saja? Sungguh ia takut jika Sehun melakukan hal yang tidak-tidak pada sepupunya ini.
"oppa~" panggil Luhan karena tidak ada tanggapan dari Jongin.
"ah ne, arraseo oppa akan tutup mulut, asal kau janji jangan pergi tanpa izin lagi!"
Luhan segera menganggukkan kepalanya,'ne, aku janji"
Tidak lama kemudian pintu kamar Jongin terbuka dan tampaklah Wufan dengan muka merahnya. Luhan yang mengetahui kedatangan Wufan langsung bersembunyi di belakang punggung Jongin.
"dari mana saja kau?" tanya Wufan yang sepertinya benar-benar marah.
Luhan tidak menjawab dan hanya menangis sesenggukan di balik punggung Jongin.
"Lulu hanya jalan-jalan Wu, kau tidak perlu marah-marah begitu pada adikmu"
"aku tidak bertanya padamu Kkamjong" bentak Wufan.
"Wu, sudahlah yang penting Lulu sudah pulang dengan selamat" tegur Jongin karena melihat Wufan yang seperti ingin menelan Luhan hidup-hidup.
Wufan menghela nafasnya berkali-kali ia jadi tidak tega melihat Luhan yang terlihat sangat ketakutan.
"ayo pulang!" ajak Wufan kali ini nadanya sudah mulai melembut.
Jongin membalikkan badannya karena Luhan sama sekali tidak begeming,"Lulu mau pulang atau masih ingin disini?" tanya Jongin.
Luhan melirik Wufan sekilas lalu menundukkan kepalanya,"pu-pulang"
"mau oppa antar?"
Luhan menggelengkan kepalanya.
"ya sudah kalau begitu, kalau Wufan macam-macam beritahu oppa ne" dan dijawab anggukan oleh Luhan. Gadis itu kemudian berjalan mendekat ke arah Wufan dan Wufan langsung saja menarik tangannya.
"Wu pelan-pelan, badannya panas" tegur Jongin karena Wufan manarik tangan Luhan dengan kasar.
Wufan semakin menatap tajam ke arah Luhan yang masih menunduk dan ia juga merasakan kalau tangan adiknya panas. Ia lalu berjongkok didepan Luhan dan menyuruh Luhan untuk naik ke punggungnya.
"cepat naik!"
Dengan takut-takut Luhan pun menaiki punggung kakaknya. Ia hanya menurut saja atau Wufan semakin marah padanya.
"ahjumma kami pulang dulu" pamit Wufan pada Minseok.
"hati-hati dijalan. Setelah sampai rumah langsung istirahat" pesan Minseok sambil membelai punggung Luhan yang meringkuk lemah di gendongan Wufan.
"ne, kamsahamnida, annyeong"
Minseok pun tersenyum dan melambaikan tangannya.
~SS2~
"astaga Wufan! Lulu kenapa?" pekik nyonya Kim saat Wufan dan Luhan baru saja datang.
Wufan tidak menghentikan langkahnya dan langsung membawa Luhan ke kamarnya di ikuti nyonya Kim,"badannya panas nek" ucap Wufan lalu membaringkan Luhan dengan hati-hati di tempat tidur.
Luhan hanya diam. Pandangannya terlihat sayu dengan wajah yang memerah karerna suhu tubuhnya yang tinggi.
"aigoo kenapa bisa sepanas ini, memangnya kalian kemana saja tadi?" tanya nyonya Kim yang baru saja memeriksa suhu tubuh Luhan.
"kami jalan-jalan sebentar, nenek jangan beritahu eomma ne" bohong Wufan.
"arraseo, kalau begitu nenek ambilkan air dingin untuk mengompres adikmu dulu"
Wufan hanya mengangguk lalu menyelimuti Luhan yang sekarang tengah menggigil.
"Wu maafkan aku" ucap Luhan dengan suara bergetar.
Sejenak Wufan terdiam lalu ikut berbaring di samping Luhan dan memeluk adiknya itu agar tidak semakin menggigil.
"sebenarnya kau tadi kemana?" tanya Wufan dan lagi-lagi Luhan menangis entah karena pusing serta panas ditubuhnya atau karena takut Wufan marah.
"aku tidak kemana-mana, aku hanya jalan-jalan Wu, sungguh"
"kenapa kau tidak bilang padaku, aku kan bisa menemanimu"
"ani, aku tidak mau menggangu pekerjaanmu di bengkel"
"tapi dengan kau pergi diam-diam seperti tadi justru membuat semua orang khawatir Lu"
"hiks mianhae" Luhan tidak berani menatap kakaknya karena merasa bersalah.
"sudah sudah, lain kali jangan ulangi lagi"
Luhan dengan cepat mengangguk dan memeluk kakaknya.
"Lu-na kenapa?" teriak Joonma yang baru pulang dan langsung masuk kekamar Luhan.
"Lu-na sedang sakit. Joonie cepat mandi, eomma sebentar lagi pulang" titah Wufan pada adik bungsunya.
Joonma hanya mengangguk dengan raut khawatir melihat kakak perempuannya sakit lagi.
Tidak lama nyonya Kim datang dengan membawa baskom berisi air dingin dan handuk basah.
"mandilah Wu, biar nenek yang menjaga adikmu" perintah nyonya Kim yang mulai mengompres Luhan.
Wufan hanya mengangguk dan meninggalkan kamar Luhan.
"nenek, eomma mana?" tanya Luhan.
"eomma mu belum pulang, mungkin sebentar lagi"
"aku ingin eomma nek, suruh eomma cepat pulang hiks eomma" rengek Luhan. Memang kalau sudah sakit seperti ini ia menginginkan Yixing terus disampingnya. Ia jadi merasa bersalah sekaligus menyesal karena mendiamkan ibunya dan ia harus cepat-cepat minta maaf.
"baiklah baiklah nenek telepon ibumu dulu ne"
Luhan mengangguk dengan sesenggukan,"hiks eomma, mianhae"
~SS2~
Suho sejenak menghentikan aktivitasnya saat tak sengaja melihat istrinya tengah gelisah di tempatnya duduk. Suho lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Yixing. Setelah menyelesaikan urusannya Yixing memang mampir terlebih dahulu ke kantor Suho agar bisa pulang bersama.
"kau kenapa chagi?" tanya Suho sambil mengusap lengan Yixing.
"entah kenapa perasaanku tidak enak oppa, aku ingin cepat-cepat pulang" terlihat raut Yixing yang sangat mengkhawatirkan sesuatu.
"ya sudah tunggu sebentar lagi, aku selesaikan pekerjaanku dulu"
Yixing pun mengangguk tapi setelah itu ia dikagetkan dengan suara ponselnya yang berbunyi. Ia semakin panik karena nyonya Kim yang meneleponnya.
"yeoboseo eomma, ada apa?"
"Yixing cepatlah pulang, Luhan demam dia terus memanggil-manggil mu"
Tubuh Yixing semakin bergetar mendengarnya, pantas saja perasaannya tidak enak sejak tadi.
"arraseo eomma, aku akan pulang sekarang" Yixing pun segera menutup sambungan teleponnya.
"ada apa chagi?" tanya Suho yang tak kalah khawatir.
"Luhan…Luhan demam lagi, aku harus pulang sekarang" ujar Yixing lalu dengan cepat bangkit dari duduknya.
"tunggu! Kita pulang bersama"
"lalu mobilmu bagaimana?" tanya Yixing karena tadi ia membawa mobil sendiri ke kantor Suho.
"biar Lee ahjussi yang membawanya pulang, kajja!" Suho langsung menarik Yixing keluar dari kantornya. Namja itu juga tidak kalah khawatirnya mendengar putrinya sakit kalau sudah seperti itu percumah jika melanjutkan pekerjaannya karena konsentrasinya akan buyar.
~SS2~
Sesampainya di rumah Yixing langsung saja berlari memasuki kamar putrinya dimana sudah ada nyonya Kim dan Wufan yang menjaga Luhan.
"eomma~" seru Luhan dengan lemah dan Yixing langsung memeluk putrinya.
"hiks eomma"
Yixing mendekap tubuh panas putrinya erat dan sesekali mencium kepalanya,"ne chagi, eomma disini" Luhan semakin menangis sesenggukan dan menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu.
Sedangkan Suho terlihat kaget setelah menempelkan punggung tangannya di leher Luhan.
"Wu! Kenapa badan adikmu panas sekali seperti ini?" tanya Suho.
Wufan kebingungan sendiri menjawabnya,"mo-molla appa, tiba-tiba saja badan Luhan panas aku juga tidak tahu kenapa" bohong Wufan.
"apa Luhan sudah makan?" tanya Yixing.
"mi-mian eomma, sepertinya belum" jawab Wufan takut-takut karena memang sepertinya Luhan belum makan.
Yixing terlihat emosi mendengarnya,"Wu, eomma kan sudah bilang Luhan belum makan dari pagi, kenapa kau tidak menyuruhnya makan?"
"mianhae"
"eomma jangan marah-marah pada Wufan, aku yang tidak mau makan, Wufan tidak bersalah eomma" bela Luhan.
Yixing kemudian menghela nafasnya,"ya sudah kalau begitu, eomma buatkan bubur ne"
"biar aku saja yang membuatkan bubur kau temani Lulu saja disini" sahut nyonya Kim dan langsung beranjak meninggalakan kamar Luhan.
"aku akan memanggil dokter Choi" ujar Suho. Yixing pun mengangguk dengan masih memeluk Luhan.
"Joonie sudah mandi?" tanya Yixing pada Wufan.
"ne, lalu aku menyuruhnya mengerjakan PR di kamar"
"temani Joonie belajar, katanya besok ada ujian harian, biar eomma yang menemani Lulu disini" titah Yixing pada Wufan.
"ne" jawab Wufan lalu beranjak meninggalkan kamar Luhan.
"Lulu sabar ya, sebentar lagi dokter Choi datang"
"eomma maafkan aku" ucap Luhan yang masih menyembunyikan wajahnya di dada Yixing.
"maaf untuk apa sayang?"
"maaf karena sering membuat eomma jengkel, aku sakit seperti ini karena Tuhan menghukumku karena berani melawan eomma, eomma mau kan memaafkan aku?"
Yixing tersenyum lembut dan mencium kening Luhan,"tidak sayang, jangan berpikiran seperti itu. Eomma mengerti dan eomma juga minta maaf karena eomma selalu memaksakan kehendak eomma padamu, tapi kau harus tahu Lu, eomma melakukan itu semua karena eomma menyayangimu"
"arraseo, aku juga sangat menyayangi eomma dan appa, aku janji tidak akan mengecewakan kalian"
"janji?"
Luhan mengangguk dan menunjukkan kedua jarinya," janji"
"sekarang senyum dulu, anak eomma jelek kalau menangis" dengan lembut Yixing mengeringkan mata Luhan yang masih basah. Gadis itu pun akhirnya tersenyum begitu juga dengan Yixing.
"sebenarnya tadi eomma dan appa ingin memberimu kejutan, tapi kenapa kau malah sakit"
Luhan mengerutkan keningnya,"kejutan? Kejutan apa eomma?"
"rahasia"
"eomma~"
Yixing terkekeh,"nanti saja kalau appa sudah datang dan dokter Choi sudah memeriksamu"
Luhan pun mengangguk dan memeluk erat kembali ibunya.
~SS2~
"istirahat total selama 3 hari, makan makanan yang bertekstur lembut dan minum obat dengan teratur, mengerti cantik?" kata dokter Choi setelah memeriksa Luhan. Luhan pun menjawabnya dengan anggukan.
"baiklah kalau begitu saya permisi tuan Kim, semoga Luhan cepat sembuh" pamit dokter Choi pada Suho.
"ne, kamsahamnida dokter" ucap Suho sambil membungkuk.
Dokter Choi pun juga ikut membungkuk lalu meninggalkan kamar Luhan.
"kau dengar kan kata dokter Choi, istirahat total. Jangan berbuat seenaknya sendiri" sindir Wufan.
Luhan mengerucutkan bibirnya lalu mencubit pinggang Wufan yang duduk disampingnya.
"aaarrgghhh… YA!" protes Wufan dengan meringis kesakitan.
Gadis itu lalu beralih memeluk ayahnya,"appa~"
"Wufan benar, Lulu harus istirahat total paling tidak selama 3 hari ini" ucap Suho sambil membelai kepala putrinya. Wufan memeletkan lidahnya, mengejek Luhan.
Tidak lama Yixing memasuki kamar Luhan dengan Joonma yang mengekornya.
"Lu-na, lihat eomma membawa hadiah untukmu" seru si bungsu sambil ikut menaiki tempat tidur Luhan dan duduk di pangkuan Wufan.
Luhan seketika itu melepas pelukannya pada Suho,"hadiah?"
"ne hadiah kejutan untukmu" jawab Yixing dan Suho tersenyum melihatnya.
"hadiah kejutan apa?" tanya Luhan bingung.
"buka saja sendiri!" titah Yixing sambil memberikan kotak kado berukuran besar kepada Luhan.
Dengan ragu Luhan mulai membuka tutup kotak kado tersebut. Di dalam nya ternyata berisi satu kemeja berwarna putih, blazer dan rok berwarna merah tua. Di balzer tersebut tertempel logo bertuliskan Sangwon Senior High School serta nametag bertuliskan Kim Luhan. Kening Luhan berkerut, sepertinya ia kenal logo ini. Tunggu…seperti baju seragam Wufan. Mata dan mulut Luhan membulat dibuatnya.
"eomma, apa ini…"
"seragam untukmu sayang" sahut Yixing. Luhan semakin terbengong. Joonma dan Wufan tertawa melihatnya.
"ap-apa itu berarti…"
"ne, Sangwon menunggumu Lu"
Dan bisikan Suho seperti mimpi untuk Luhan.
Tbc
Akhirnya saya bisa juga update ini cerita, setelah cari wangsit sampai teler lalu sakau dan akhirnya overdose #oke fix game over #lebey
Maaf sebelumnya gara-gara lepi saya rusak ff ini terbengkalai dan saya harus menyusun ulang chapter 5 nya #so menyedihkan T_T
Baiklah tanpa banyak kicauan, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih sudah me-review, follow, fav cerita ini dan buat temen-temen semua yang rajin menagih saya untuk meng-update ini cerita haha ini beb sudah saya update yuhuuu. Maaf kalau mengecewakan dan maaf juga belum bisa balas reviewnya #bow with Suho.
Big thanks to: zoldyk, KimbujaSuho, xiaolu odult, dyakuro34-7, Huang Mir, yehetmania, fallforhaehyuk, younlaycious88, Deer Panda, hyejeong342, Ruiki Kaera, Ise Kamichima, XoUnicornXing, edogawa ruffy, dr22oktaviani1, Kinarisekar, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, enchris.727, aniaani47, hunhankailu, Echa, lisnana1, bellasung21, fuawaliyaah, FSRifiqa, roroputri7692, PeachyPanda, flawlessaliens, Xyln, Nava Angel, JustHanaFiction, sydmooo, luhan8045, hajin95, tika.karisma.18, Lost Little Deer, Guest, hopely yanzha, Athena Chesloock, triaa, xelo, chenma, Mira, Park Kyungmi, irnaaa90, whitevyy, WhieKyu88, candra
See u next time… yohot!
