SIXTEEN SEASON 2
Chapter 6
Author: Byunna Park
Genre: Family/Romance/little bit Hurt/Comfort (maybe)
Rate: T
Cast: LuHan, WuFan/Kris, Zhang Yixing, Kim Suho
Other Cast: Oh (Byun) Sehun, Huang Zitao, Kim Jongin, Do Kyungsoo
Pair: SuLay, KrisTao/Taoris, HunHan
Slight: KaiSoo, ChanBaek, ChenMin. dll
Disclaimer: ff ini milik saya, member EXO milik kita semua
Warning: OOC, GS, typo(s), gaje, sinetron mode on, ngebosenin, don't like, don't read.
Warning 2: Maap puanjaaaaaang bangeeeeet!
Let's Start
Happy Reading
Author Pov.
"Jongin, aku mohon jangan!" cegah Kyungsoo sambil menahan Jongin yang sepertinya tengah emosi.
"tidak bisa Kyung, aku harus menemui Sehun untuk meminta penjelasan"
Kyungsoo menggeleng, terlihat rautnya yang sangat ketakutan sekaligus khawatir jika Sehun berbuat macam-macam pada Jongin nantinya,"kalau begitu aku ikut"
"Kyungsoo, aku mohon! Ini masalahku biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri, aku tidak mau melibatkanmu juga. Tolong mengertilah!" yakin Jongin sambil memegang bahu Kyungsoo.
"tap-tapi…"
"aku akan baik-baik saja. Sehun tidak akan macam-macam padaku. Percayalah!"
Dan akhirnya dengan terpaksa Kyungsoo hanya bisa mengangguk membuat Jongin tersenyum lalu segera pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri di depan kelas menatap punggung Jongin yang semakin menjauh.
"mau apa kau?" tanya seorang namja yang sedang merokok di depan sebuah gudang belakang asrama namja saat melihat sosok Jongin menuju ke arahnya.
"aku ingin bertemu Sehun" jawab Jongin dengan raut yang tengah diliputi emosi.
Namja itu membuang putung rokok yang sedari tadi ia hisap lalu menginjaknya,"ada perlu apa kau mencari Sehun?"
"bukan urusanmu, minggir!" Jongin dengan kasar mendorong namja yang mengahalangi pintu gudang tersebut hingga tersungkur ke tanah.
"brengsek!" geram namja tersebut lalu bangkit dan sebelum Jongin benar-benar membuka pintu, kerah kemejanya sudah ditarik oleh namja tersebut.
Bugh
Dan pukulan pun dilayangkan hingga mengenai pipi Jongin,"tempat ini sudah tertutup untukmu brengsek, penghianat!"
Sekali lagi namja itu akan melayangkan tinjunya tapi berhasil ditahan oleh Jongin,"aku tidak ingin berkelahi denganmu Jo Kanghyun. Sekarang panggil boss mu itu kemari!"
"cih! berani sekali kau memerintahku. Lawan aku dulu brengsek"
Bugh
Satu lagi tinju mengenai perut Jongin membuat pemuda tan itu meringis kesakitan.
"ayo lawan aku! Kenapa? Takut? Cih pengecut" ucapnya sambil menoyor kasar kepala Jongin.
Jongin hanya menatapnya tajam, memang tidak ada niatan untuk melawan temannya yang satu ini –ahh lebih tepatnya mantan teman. Bukannya Jongin takut, ia hanya tidak mau masalahnya bertambah panjang.
"ada apa ini?" tanya sebuah suara menginterupsi ketegangan antara Kanghyun dan Jongin. Kanghyun pun menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Sehun yang ternyata keluar dari markas mereka. Langsung saja Kanghyun melepas cengkeramannya pada kerah kemeja Jongin.
"penghianat itu ingin bertemu denganmu" ucap Kanghyun sambil menyalakan rokoknya kembali.
Wajah datar Sehun beralih menatap Jongin. Melihat sejenak keadaan mantan sahabatnya yang sekarang diwajahnya terdapat luka memar karena tonjokan Kanghyun. Ia juga penasaran ada perlu apa Jongin menemuinya.
"masuk!" titah Sehun lalu berbalik memasuki markasnya. Jongin pun mengikutinya dari belakang. Sesampainya di dalam Sehun menggerakkan kepalanya sebagai instruksi untuk anak buahnya agar meninggalkan ruangan itu. Satu-persatu anak buah Sehun mulai meninggalkan markas tersebut dengan melayangkan tatapan tajam mereka kepada Jongin. Tapi Jongin tidak peduli, ia sibuk menatap tajam Sehun sedari tadi.
"ada perlu apa kau mencariku?" tanya Sehun dengan muka datar andalannya. Tangannya sibuk menyusun kaleng bekas minuman tanpa mau menatap Jongin.
"kau bawa pergi kemana Luhan kemarin?" tanya balik Jongin langsung pada tujuannya kemari.
Sehun sontak menghentikan aktivitasnya lalu menyeringai,'langsung tanggap ternyata'
"hanya bersenang-senang" jawabnya santai lalu melanjutkan menyusun kaleng-kaleng bekas tersebut hingga mencapai tiga tingkat.
Jongin terlihat geram mendengarnya, emosinya memuncak. Dengan cepat ia mencengkeram kerah kemeja Sehun. Sedangkan Sehun hanya mengangkat dagunya menatap Jongin tanpa rasa takut. Tangannya terkepal kuat, mencoba menahan diri agar tidak menambah luka memar di wajah Jongin.
"jangan libatkan Luhan dalam masalah kita. Kau boleh menghajarku sampai kau puas asal jangan sekali-kali kau menyentuh sepupuku, karena aku tidak akan tinggal diam" peringat Jongin.
Sehun tersenyum miring lalu mendecih kemudian,"sayangnya bermain dengan sepupu SD mu itu jauh lebih menyenangkan"
Jongin menggertakkan giginya,"brengsek!"
Baru Jongin akan melayangkan tinjunya, namun bayangan Sehun –sahabatnya yang dulu terlintas di pikiran Jongin, sehingga mengurungkan niatnya memberi bogem mentahnya pada namja berkulit pucat itu. Sehun yang baik di dalam namun akan sangat mengerikan saat marah, Sehun si pembuat onar namun mempunyai solidaritas pertemanan yang sangat tinggi, Sehun yang tidak akan tinggal diam jika orang lain menyakiti temannya, Sehun yang selalu ada untuknya dan Jongin memang sadar, ia yang salah disini. Menjadi seorang yang egois tanpa memikirkan perasaan sahabatnya.
Cengkeraman di kerah kemeja Sehun pun terlepas. Jongin menghirup nafas panjang mencoba meredakan emosinya. Tidak, ia tidak akan pernah memukul Sehun. Lagi pula percumah melawan Sehun dengan kekerasan, karena tidak akan membuatnya berhenti tapi justru akan semakin membuat Sehun berbuat yang lebih parah lagi.
"kau tahu, Luhan demam setelah kau mengantarnya pulang"
Deg
Ucapan Jongin sontak membuat Sehun terkejut, jantungnya berpacu 2x lebih cepat,'demam?' tapi Sehun masih berusaha mempertahankan wajah datarnya seolah tidak peduli apa yang Jongin katakan.
"aku tidak tahu apa maksudmu mendekati Luhan. Aku harap kau benar-benar tulus berteman dengannya, tapi sepertinya ada yang harus kau ketahui. Luhan tidak seperti anak pada umumnya. Fisiknya lemah sejak kecil, maka dari itu orang tuanya sangat menjaganya. Aku mohon padamu jangan libatkan Luhan dalam masalah kita. Ia tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu hanya Byun Sehun yang mau menjadi temannya"
"sekali lagi aku mohon padamu jangan sakiti dia karena kata Luhan, Sehun oppa adalah namja yang baik dan aku tahu itu" tutup Jongin lalu beranjak meninggalkan Sehun yang masih mematung menatap datar kepergian Jongin.
Perasaan khawatir mendatanginya. Luhan sakit setelah pergi bersamanya, ia tidak tahu jika fisik Luhan selemah itu. Namun entah kenapa rasa bersalah dan menyesal itu datang. Terlambat, ia sudah menyakiti 'Angel' nya dan pikiran Sehun berubah kacau. Ingin rasanya ia menemui Luhan dan meminta maaf atas kebodohannya tapi itu tidak mungkin karena Yixing tidak akan mengizinkan pemuda macam Sehun menemui putrinya.
"shit!" umpat Sehun.
Prang!
Dengan kasar ia melempar kaleng yang sedari tadi ia genggam hingga merobohkan tumpukan kaleng yang ia susun.
~SS2~
Luhan berbaring di tempat tidurnya dengan pandangan lurus menatap langit-langit kamarnya. Sesekali ia terbatuk, tenggorokannya terasa sangat gatal. Flu tengah menyerangnya dan Luhan benci kalau harus batuk dan pilek seperti ini, baginya itu menyiksa. Harusnya ia sudah memulai sekolahnya hari ini tapi salahkan saja dirinya yang keras kepala meminum bubble tea itu terlalu banyak sehingga ia kembali terbaring lemah di tempat tidurnya.
Sebenarnya sampai sekarang ia masih tidak percaya dengan hadiah yang diberikan orang tuanya kemarin. Benarkah Yixing sudah membebaskannya sekarang?
Sulit dipercaya memang. Ia takut itu hanya usaha Yixing untuk menghiburnya. Tapi tidak, ia tidak boleh berburuk sangka pada orang tuanya. Ia harusnya bersyukur karena keinginan terbesarnya telah terkabul. Luhan semakin merasa bersalah saja pada ibunya.
Gadis itu menghela nafas lalu mengambil seragam yang masih tergeletak di tempat tidurnya.
"apa kau benar-benar milikku?" tanyanya pada kemeja putih ber-name tag Kim Luhan dengan suara seraknya. Luhan tersenyum lalu memeluk kemeja putih itu,"gomawo eomma, appa"
Saat ia sibuk memeluk dan menciumi seragamnya, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Luhan langsung memutar bola matanya mengetahui siapa yang mengirim pesan,'pasti menanyakan itu lagi'
From: Zizi
Bagaimana? Kau sudah sembuh?
'benar kan' sahabatnya itu dari kemarin memang terus bertanya keadaannya sampai Luhan bosan membalasnya. Apa lagi setelah Luhan menceritakan kalau ia sudah di beri izin untuk sekolah, Zitao seketika heboh sendiri.
To: Zizi
Belum, kepalaku masih pusing dan sekarang batuk pilek menyerangku. Kau tahu sendiri kan kalau aku sudah terkena flu maka akan lama sembuhnya.
From: Zizi
Yaah… padahal aku ingin cepat-cepat kita berangkat sekolah bersama. Semoga saja nanti kau sekelas denganku, pasti menyenangkan. Kau tidak usah khawatir teman-temanku semuanya baik.
Luhan pun tersenyum.
To: Zizi
Aku tidak yakin Zi, karena mungkin eomma akan meminta agar aku sekelas dengan Wufan
From: Zizi
Aaiish aku doa kan kau tidak jadi ditempatkan di kelas jerapah tengik itu. Asal kau tau, teman-teman yeoja dikelasnya sombong-sombong kau pasti tidak betah di kelas itu.
Luhan terkekeh membacanya.
To: Zizi
Ya ya semoga saja aku sekelas denganmu. Tapi…hey bukankah ini masih jam pelajaran? Kenapa kau malah sibuk berkirim pesan denganku?
From: Zizi
Gurunya membosankan, aku malas mendengar ceramahnya.
To: Zizi
Ya! Mana bisa begitu. Sekarang masukan ponselmu dan perhatikan pelajaran atau aku akan mengadu pada mama Huang
From: Zizi
KAU MENYEBALKAN NONA KIM!
Luhan tertawa, ia tahu sahabatnya itu pasti sedang kesal karena ancamannya. Lagi pula tidak dibenarkan mengabaikan pelajaran di kelas –bukankah begitu?
Belum berhenti ia tertawa membayangkan wajah Zitao yang bersungut-sungut sampai terbatuk, Luhan sudah dikagetkan dengan bunyi ponselnya lagi. Kali ini ada panggilan yang masuk.
Gadis itu berdehem sejenak untuk menghilangkan rasa gatal di tenggororkannya.
"yeoboseo!"
"Luhan!"
"oh, Sehun oppa!"
"ada apa dengan suaramu? Kau baik-baik saja?" tanya Sehun yang terdengar sangat khawatir di seberang telepon.
"gwenchanna, hanya batuk oppa"
"kenapa kau tidak memberitahu keadaanmu yang sebenarnya padaku?"
Luhan membulatkan matanya, suara Sehun tidak lembut seperti biasanya. Sepertinya namja itu sedang marah,"a-ani oppa, aku tidak apa-apa, sungguh"
"jangan bohong, aku sudah mengetahui semuanya"
Wajah Luhan berubah sendu, sekarang Sehun sudah mengetahuinya. Namja itu pasti menganggapnya yeoja lemah yang hanya bisa merepotkan orang lain,"pasti Jongin oppa yang memberitahumu"
"itu tidak penting. Lain kali kau harus jujur Lu, aku tidak mau hal yang sama terulang kembali dan aku juga minta maaf padamu karena membiarkanmu meminum bubble tea terlalu banyak hingga kau sakit"
"tidak oppa, kau tidak perlu minta maaf justru aku yang harusnya minta maaf padamu karena sudah merepotkanmu. Maafkan aku! Apa kau marah?" tanya Luhan takut-takut.
"tidak, aku hanya khawatir padamu"
Luhan tersenyum mendengarnya,"oppa tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Dokter sudah memeriksaku, sebentar lagi pasti sembuh"
"benarkah?"
"ne"
"baiklah kalau begitu, istirahat yang cukup dan semoga cepat sembuh"
"siap boss"
"eh, siapa yang mengajarimu memanggilku seperti itu?"
"kenapa? Teman-temanmu waktu itu juga memanggilmu begitu"
"jangan ikut-ikut mereka, panggil aku dengan sewajarnya"
Dan Luhan pun mengalah,"baik oppa"
Sehun tertawa di seberang telepon, namja itu memang berubah 180 derajat jika berhadapan dengan Luhan. Bukan Sehun yang brutal dan tidak berperikemanusiaan.
~SS2~
Zitao mempercepat langkahnya dengan muka yang ditekuk. Ia jengah dengan pemuda yang sedari tadi mengekornya dan terus mengganggunya saat di kelas. Namja yang sejak kelas 3 SMP terus mengejarnya. Awal mulanya memang Zitao sedikit tertarik dengan namja itu karena… yah tampangnya cukup tampan, tapi rasa tertarik itu hilang saat Zitao mengetahui kalau namja itu playboy kelas cicak dan Zitao tidak mau menjadi salah satu korbannya.
Baru saja beberapa bulan yang lalu hidup Zitao tentram saat namja tampan itu berhenti mengganggunya, dikarenakan namja itu mempunyai yeojachingu. Tapi sebulan yang lalu ketentraman Zitao sirna setelah namja itu putus dari pacaranya. Ugh! Menjengkelkan.
Dengan tiba-tiba Zitao berbalik kebelakang membuat namja itu mendadak menghentikan langkahnya.
"berhenti mengikutiku Jose Kim!" hardik Zitao dengan melipat tangannya di dada dan menatap jengkel pada namja yang dipanggil Jose itu.
"tidak, sebelum kau mau aku antar pulang"
Zitao menggeram prustasi,"harus beberapa kali aku katakan, rumahku berlawanan arah dengan rumahmu dan itu sangat jauh"
"tidak masalah, karena cinta itu memang butuh pengorbanan, bukan begitu baby?" ucap Jose dengan tampang sok keren miliknya.
Zitao serasa ingin muntah mendengarnya.
"pokoknya aku tidak mau dan kau jangan memaksaku" bentak Zitao lalu pergi meninggalkan Jose yang masih bengong.
"hey! Ayolah baby, sekali saja. Dari pada harus berdesak-desakkan naik bus" paksa Jose lagi tanpa pantang menyerah.
Zitao berusaha mengabaikan bujukan dari Jose tapi setelah pandangannya menangkap sosok menarik yang ada di parkiran sekolah, gadis itu menghentikan langkahnya kembali lalu menyeringai. Ia tiba-tiba mendapat ide agar Jose berhenti memaksanya.
"siapa bilang aku naik bus"
"lalu?"
"aku pulang dengannya" ucap Zitao sambil menunjuk namja yang terlihat sedang mengeluarkan motornya dari parkiran.
Mata Jose pun melotot dibuatnya,"MWO?"
"YA! KIM WUFAN TUNGGU!" teriak Zitao lalui berlari mendekat ke arah Wufan yang tengah menatapnya bingung luar biasa. Kesurupan apa bocah panda itu sampai sudi memanggil namanya –batin Wufan.
"tap-tapi… HEY! Mana bisa begitu? YAK! BABY HUANG!" teriak Jose lalu mengejar Zitao.
"kita pulang bersama kan hari ini?" tanya Zitao semanis mungkin dengan mengapit lengan Wufan. Sedangkan Wufan hanya melongo menatapnya.
"hn? APA –AAKKH! YAK!" teriak Wufan kesakitan karena Zitao menginjak kakinya dengan kekuatan penuh. Gadis itu menatapnya seolah berkata 'sudah, bilang saja iya'.
"kau tahu kan rumahku dengan Wufan berdekatan, jadi aku pulang dengannya saja. Aku juga tidak ingin merepotkanmu Jose"
"aku sama sekali tidak merasa direpotkan"
Zitao kembali menggeram prustasi menghadapi namja keras kepala seperti Jose,"tapi mamaku menyuruhku pulang dengan Wufan, iya kan Kim?" lagi Zitao menginjak kaki Wufan membuat namja itu meringis kesakitan untuk kesekian kalinya.
"ah i-iya … dia akan pulang bersamaku" –lalu akan ku buang ke kolong jembatan' lanjut Wufan dalam hati menatap kesal ke arah yeoja yang masih setia menginjak kakinya. Yang ditatap pun sekarang tersenyum manis pada Jose.
"kau dengar sendiri kan?"
Tampang Jose lesu seketika. Usahanya mengajak Zitao pulang bersama gagal sudah.
"baiklah kalau begitu, tapi lain kali kau harus mau pulang bersamaku"
Zitao hanya menjawabnya dengan senyuman, tak berniat menjanjikan apapun.
"aku pulang dulu, annyeong!" pamit Jose lalu dengan gontai berjalan menuju motornya.
"hati-hati di jalan!" seru Zitao sambil melambaikan tangan. Gadis itu lalu menghela nafas lega, dengan cepat ia melepaskan lingkaran tangannya di lengan Wufan.
"ternyata kau berguna juga Kim, thanks" ucap Zitao dengan memasang wajah semanis mungkin sambil menepuk-nepuk pipi Wufan. Sedangkan namja itu tengah menatapnya tajam, emosinya sedang di ujung tanduk.
Tanpa merasa berdosa, Zitao pun melangkahkan kakinya meninggalkan Wufan. Tapi belum sampai 3 langkah, lengannya sudah ditarik oleh Wufan kembali. Zitao pun menelan ludahnya susah payah saat melihat tatapan tajam Wufan.
"apa maksudmu melibatkanku dalam hubunganmu?"
"hub-hubungan apa?"
"jangan pura-pura tidak tahu"
"yak! Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Aku sudah prustasi menghadapinya yang terus saja memaksaku untuk pulang bersama. Tapi beruntung sekali aku melihatmu, jadi yah…"
"memanfaatkanku agar dia berhenti mengajakmu pulang bersama? Huuh! Kau memang pintar nona Huang"
"bisa dibilang begitu" gumam Zitao lirih sambil melengos tidak berani menatap Wufan.
Rahang Wufan mengeras, kalau saja bocah panda ini bukan yeoja pasti sudah habis di tangannya sekarang.
Zitao menggeram jengkel karena Wufan belum juga melepaskannya dan malah terus melotot kearahnya,"haiish! baiklah aku minta maaf" ucapnya dengan nada tidak ikhlas.
"kau pikir maaf saja cukup setelah kau menginjak kakiku seenaknya?"
"lalu kau mau apa? Kau mau balas dendam padaku?"
Wufan pun tersenyum miring,"tidak, untuk apa buang-buang waktu balas dendam padamu"
"lalu kenapa kau tidak melepaskanku, aku kan sudah minta maaf"
"kau lupa tadi kau bilang ingin pulang bersamaku, jadi sepertinya memang sebaiknya kita pulang bersama saja"
Zitao menelan ludahnya, senjata makan tuan. Hell! Dia masih truma naik motor setelah Wufan membuatnya hampir jantungan dulu karena namja itu mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata dan sekarang Wufan ingin membalasnya dengan mengajaknya naik motor lagi? Zitao menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak, ia tidak mau masuk rumah sakit.
"a-aku kan hanya berbohong agar Jose tidak mengajakku pulang bersamanya lagi"
"oh begitu" tanggap Wufan lalu menyeringai tipis sambil melirik namja yang sepertinya sedang bersiap-siap menaiki motornya,"baiklah, YA! JOSE KIM KATA HUANG ZI–" Wufan tidak melanjutkan kata-katanya karena mulutnya sudah dibungkam oleh Zitao menggunakan telapak tangannya.
"Ya! Apa yang kau lakukan bodoh" geram Zitao,"haiish baiklah aku akan naik motor bersamamu tapi awas saja kalau kau ngebut lagi, aku akan mengadukannya pada Yixing eomma"
Wufan mengangkat bahunya,"terserah kau saja" ucapnya membuat Zitao menghentak-hentakkan kakinya kesal sambil berjalan ke arah motor Wufan.
"kau siap nona Huang?"
Tangan Zitao memegang erat jaket Wufan dengan sedikit bergetar terlihat sekali kalau gadis itu sangat ketakutan, wajahnya mendadak pucat seperti anak kecil yang takut di ajak naik roller coaster. Wufan pun tertawa penuh kemenangan dalam hati
"aku peringatkan sekali lagi jangan –KYAAAA~!" lagi-lagi Wufan melesatkan motornya tanpa aba-aba. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya erat, tangannya melingkar kuat di pinggang Wufan. Sungguh ia masih ingin hidup, ia masih ingin punya pacar dan Zitao sama sekali tidak mempunyai rencana mati muda. Kalau sampai nyawanya melayang setelah ini, orang pertama yang akan ia hantui adalah KIM WUFAN.
"jerapah sialan! Pelan-pelan YAK!" umpat Zitao saat dengan lihai Wufan menyalip kendaraan di depannya.
"kau tennag saja, Jorge Lorenzo,Valentino Rossi dan Dani Pedrosa jauh lebih cepat dari ini"
"bodoh mereka pembalap, jadi wajar saja. Lagi pula mereka ngebut di lintasan balap bukan di jalanan umum –YAK! Pelan pelan disini banyak tikungan, astaga jerapah sialan!" omel Zitao sambil memukul-mukul punggung Wufan saat mereka melintasi jalan pintas yang lumayan sempit.
"haiiish sudah kubilang kau tenang sa–"
"KIM WUFAN AWAS!"
TIIIIINN~
Mata Wufan terbelalak saat di tikungan tiba-tiba ada mobil yang muncul di depannya. Jalan sangat sempit dan ia tidak mempunyai banyak waktu untuk menepikan motornya. Dengan reflek ia membanting setirnya ke kanan dan…
BRAAAKK!
Motor itu pun terjatuh di pinggir jalan dimana terdapat banyak semak-semak dan tanah berumput. Kalau saja Wufan terlambat sedikit saja membanting setirnya pasti mobil itu sudah menabrak mereka.
"aarrgh! Sial!" umpat Wufan sambil berusaha menyingkirkan motor yang menindih tubuhnya. Untung saja jatuhnya tidak terlalu parah karena buktinya ia masih bisa berdiri tegak, mungkin hanya kakinya yang terasa perih karena lecet.
Benar saja, celananya sudah robek dan terdapat beberapa goresan di kakinya. Wufan mengelus dadanya masih bisa bersyukur karena tidak mengalami luka parah, tapi tunggu! Bagaimana dengan…
"TAO!" teriak Wufan panik karena tidak melihat Zitao di sekitarnya.
"ugh! Jerapah sialan, brengsek! Hiks kakiku, mama~"
Wufan menghembuskan nafas lega setelah mendengar umpatan tersebut dan setelah mendapati bocah panda itu ada di belakangnya terperosok kedalam semak-semak. Ia pun berjalan menghampiri Zitao dan berniat memeriksa keadaan gadis itu.
"kau tidak apa-apa?"
Zitao pun sontak menatap tajam Wufan dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
PLAK! PLAK! PLAK!
"aduh! YA! Hentikan, aku minta maaf" teriak Wufan saat Zitao memukul kepalanya berkali-kali.
"bodoh! Sialan! Brengsek! Tidak apa-apa kepalamu. Sudah ku bilang pelan-pelan, sekarang kau tau sendiri akibatnya kan! Makanya jangan sok jadi pembalap, babo! Hiks kakiku" umpat Zitao lalu merintih kesakitan sambil meniup-niup betisnya yang terluka.
"mana saja yang luka?" tanya Wufan khawatir.
"molla, sepertinya hanya betis dan siku tanganku" jawab Zitao.
Dengan cepat Wufan segera mengambil alih kaki kanan Zitao untuk memeriksa luka di betis gadis itu. Sepertinya sedikit robek, mungkin terkena ranting-ranting tajam. Darah pun mengalir di kaki jenjang itu.
"Aww! Jangan ditekan, sakit bodoh!" rintih Zitao saat Wufan sedikit menekan lukanya. Namja itu kemudian melepas dasinya lalu segera ia buat untuk membalut luka di betis Zitao.
"kau tunggu disini sebentar, jangan kemana-mana!"
Zitao membulatkan matanya,"YA! kau mau kabur?"
"aaiish siapa yang kabur, aku hanya ingin membeli obat lalu aku akan kembali lagi ke sini"
"Shireo! Bagaimana kalau ada yang menculikku?"
Wufan memutar bola matanya,"tidak ada yang berminat menculikmu"
'sialan!' sungut Zitao dalam hati lalu melemparkan sepatu sebelah kirinya ke arah Wufan yang sedang menaiki motornya.
Sekarang tinggallah Zitao seorang diri. Gadis itu sedikit merinding karena suasana sekitarnya sangat sepi tapi ia bersyukur karena kalau mereka tadi terjatuh di jalanan yang ramai mungkin sekarang ia sudah menjadi tontonan orang. Oh tidak! Itu sangat memalukan.
Disisi lain ia juga takut jika Wufan kabur dan meninggalkannya sendiri di sini. Tapi tidak, Wufan tidak mungkin setega itu –pikirnya. Walaupun mereka sering bertengkar tapi Zitao diam-diam juga tahu kalau pemuda itu masih peduli pada musuh bebuyutannya dengan seringnya Wufan menolongnya terutama jika ia sudah diganggu anak buah Sehun. Tapi sayang sekali kebaikan Wufan itu selalu tertutup oleh sifatnya yang menyebalkan dimata Zitao. Ia sebenarnya juga tidak tahu apa yang menyebabkan mereka menjadi seperti Tom & Jerry. Mungkin dulu Wufan cemburu karena Luhan sering mengajak Zitao bermain bersama dan Zitao sendiri yang selalu menganggap semua anak laki-laki itu nakal. Yah, kebiasaan waktu kecil memang masih terbawa hingga mereka beranjak dewasa.
Tidak lama kemudian terdengar suara motor berhenti dan Zitao menghela nafas lega mendapati sosok Wufan yang ternyata tidak kabur. Namja itu terlihat membawa sebuah kantong plastik, mungkin berisi peralatan untuk mengobati lukanya.
"aku tidak kabur kan?" ucap Wufan sambil mengangkat kaki kanan Zitao dan meletakkan di pahanya agar leluasa untuk mengobati lukanya.
"kau benar-benar namja brengsek jika berani kabur"
Wufan pun tidak menanggapinya hanya sibuk membersihkan luka Zitao dengan air. Sedangkan Zitao hanya diam memperhatikan baik-baik bagaimana Wufan mengobati lukanya. Wajahnya memerah melihat keseriusan namja itu entah kenapa rasa sakit di kakinya menghilang begitu saja.
Tapi tidak tahukah Zitao kalau saat ini Wufan berusaha untuk fokus mengobati lukanya. Sungguh konsentrasinya terpecah saat mendapati pandangan yang tidak seharusnya ia lihat.
Paha mulus seorang yeoja.
'sial! Kenapa rok nya pendek sekali' tubuhnya sedikit gemetar saat tidak sengaja melihat paha yang terekspose di depannya. Ia juga punya adik perempuan dan sebenarnya pemandangan seperti itu sudah tidak asing lagi karena Luhan juga sering menggunakan celana pendek saat dirumah, tapi paha adiknya tidak berefek apapun padanya.
"kau kenapa?" tanya Zitao yang baru menyadari gelagat aneh Wufan.
"kau tidak merasa kalau rok mu ini terlalu pendek?"
Zitao melotot dibuatnya. Wajahnya memerah sempurna. Rok? Pendek? Dan itu berarti…
Bugh! Bugh! Bugh!
"KAU MENGINTIP EOH? DASAR MESUM, KURANG AJAR!" teriak Zitao sambil memukul Wufan menggunakan tasnya dengan brutal. Sedangkan Wufan sendiri pun sibuk menangkis pukulan-pukulan Zitao.
"Yak! aku tidak mesum nona Huang, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat dan aku tidak mengintip karena kau sendiri tidak menutupnya. Pantas saja anak buah Sehun selalu mengganggumu karena kau sendiri yang mengundang mereka" ujar Wufan frontal.
Zitao pun menghentikan pukulannya dan beralih menutupi pahanya dengan tas. Wajahnya masih memerah, malu sekali rasanya. Gadis itu diam-diam juga membenarkan ucapan Wufan. Memang benar roknya bisa dibilang pendek, 10cm diatas lutut. Sebenarnya Zitao hanya ikut teman-temannya saja karena kebanyakan rok mereka sangat pendek dan mungkin ada yang lebih pendek darinya.
Wufan lalu melanjutkan kembali mengobati kaki Zitao setelah gadis itu diam.
"kau seharusnya lebih berhati-hati. Kalau bukan kau sendiri yang menjaganya, siapa lagi?" lanjut Wufan.
Zitao masih diam saja, ia sendiri juga bingung mau menyangkal bagaimana karena sadar kalau ia juga yang salah.
~SS2~
"kaki mu bagaimana?" tanya Zitao pada Wufan yang saat ini menuntunnya berjalan saat mereka sudah sampai di halam rumah keluarga Huang.
"kaki ku tidak apa-apa, hanya tergores sedikit. Tenang saja, tidak usah khawatir"
Zitao terlihat mencibir kemudian,"cih! Siapa yang khawatir" sangkal gadis itu yang memang tidak mau mengakui kalau ia sebenarnya juga khawatir dengan keadaan Wufan.
Wufan hanya menahan tawanya melihat Zitao yang sepertinya gengsi untuk mengakui kekhawatirannya.
"sudah kau pulang saja, aku bisa jalan sendiri lukaku tidak terlalu parah" ujar Zitao saat mereka sudah sampai di depan pintu rumahnya.
"tidak, aku akan menjelaskan dulu pada ahjumma apa yang terjadi"
"Haaiish tidak usah, aku yang akan menjelaskan sendiri nanti" tolak Zitao.
"sayang kau sudah pulang? –ASTAGA! Apa yang terjadi? Kenapa kakimu?" pekik nyonya Huang terkejut, melihat keadaan anaknya yang berantakan dengan kaki yang dibalut perban.
"e… maaf ahjumma ini salahku karena tidak berhati-hati sehingga kami terjatuh dari motor" ucap Wufan sambil membungkuk.
Nyonya Huang pun semakin terkejut,"OMO! Lalu kau sendiri bagaimana?" tanya nyonya Huang dengan raut khawatirnya. Wufan hanya tersenyum dan menggeleng.
"aku tidak apa-apa, kaki Zitao yang terluka tapi aku sudah mengobatinya. Syukurlah hanya luka kecil" jelas Wufan. nyonya Huang pun menghela nafas lega.
"lain kali hati-hati ya?"
"ne ahjumma, mianhae lain kali aku akan lebih berhati-hati. Sekali lagi aku minta maaf" ujar Wufan.
"ya sudah, yang penting kalian tidak apa-apa"
Wufan mengangguk,"ne, kalau begitu aku permisi ahjumma kalau ada apa-apa hubungi aku saja, annyeong!" pamit Wufan lalu membungkuk.
"ne, annyeong! Hati-hati Wu" seru nyonya Huang,"ayo, masuk dan segera siap-siap, kita ke dokter!" ajak Nyonya Huang pada putrinya yang sedari tadi hanya diam.
"mama duluan saja, aku masih ada urusan dengannya" ucap Zitao. Nyonya Huang menghela nafas dan memilih masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Hey!" seru Zitao saat Wufan akan menaiki motornya,"aku akan segera mengembalikannya" ucapnya sambil mengangkat dasi Wufan yang terkena noda darah dari kakinya.
"tidak perlu, anggap saja itu kenang-kenangan"
"cih! Kenang-kenangan macam apa ini? Ya! Kalau hanya dasi aku juga punya"
Wufan hanya tertawa sambil memakai helmnya. Tidak lama kemudian motor itu sudah melesat keluar dari halaman rumah keluarga Huang. Zitao masih tetap berdiri di depan rumahnya menatap kepergian Wufan sampai tidak terlihat lagi oleh indera penglihatannya.
Sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas saat menemukan coret-coretan dan insial 'KWF' dibalik dasi itu. Ia juga seperti merasa rasa kesalnya pada kembaran Luhan itu pun sedikit demi sedikit mulai menghilang, lagi pula sampai kapan mereka akan bertengkar terus menerus? Entahlah tapi biarlah semua berjalan seperti biasanya karena Zitao sepertinya lebih nyaman jika seperti itu. Pandangannya lalu turun kebawah lebih tepatnya ke arah rok nya. Rautnya terlihat berpikir, tapi tidak lama kemudian…
"mama, aku ingin rok baru!"
~SS2~
"nah, putri eomma sekarang sudah cantik" ucap Yixing setelah selesai menyisir rambut sebahu putrinya.
Luhan pun tersenyum memandang Yixing lewat cermin lalu berdiri disamping ibunya.
"eomma pasti juga cantik sekali saat seusiaku"
Yixing terkekeh mendengarnya dan mencubit hidung Luhan,"tentu saja, tapi lebih cantik putriku yang manja ini"
Luhan beralih bergelayut manja di pelukan ibunya,"tidak, bagiku eomma tetap wanita tercantik di dunia, dan aku sangat sangat menyayangimu, saranghae" ucapnya lalu mencium pipi Yixing.
"Oh Tuhan! lihatlah siapa yang beberapa hari yang lalu mendiamkanku dan sekarang ia bilang sangat menyayangiku" sindir Yixing.
Luhan mengerucutkan bibirnya,"eomma~"
Yixing pun tertawa lalu mencium gemas pipi putinya,"eomma juga sangat sangat menyayangimu, kau tahu itu kan?"
Dan Luhan mengangguk mengerti,"mianhae"
"sudah sudah, eomma akan menyiapkan sarapan untuk kalian dulu, kalau sudah siap cepat turun!"
"ne" jawab Luhan dengan menampakkan eye smile nya. Yixing balas tersenyum lalu pergi meninggalkan kamar Luhan.
Tidak lama setelah kepergian Yixing, giliran Wufan yang memasuki kamar Luhan. Namja itu melipat tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Luhan, ia tersenyum menatap adiknya yang sedang mengamati penampilannya di cermin. Luhan terlihat sangat bahagia memakai seragam barunya karena seumur-umur baru kali ini ia memakai seragam sekolah. Yah, ini memang hari pertamanya masuk sekolah.
Wufan terkekeh saat mengingat 5 hari yang lalu saat Yixing dan Suho memberinya kejutan itu, tidak ada sorakan gembira dari Luhan. Adiknya itu justru terlihat bengong dengan terus memandangi seragam sekolahnya tanpa berkedip dan mulut menganga tak percaya. Berhari-hari juga telinga Wufan panas karena Luhan terus bertanya seperti "Wu apa seragam ini benar-benar milikku?" "Wu apa aku sekarang benar-benar sudah menjadi seorang siswa?" "Wu apa aku mimpi?" "eomma dan appa tidak bercanda kan?" dan itu berulang-ulang ditanyakan oleh Luhan sampai Wufan malas untuk menjawabnya lalu berakhirlah Luhan yang hanya bertanya dan sama sekali tidak mendapat jawaban dari kakaknya.
Sebenarnya 3 hari yang lalu, Luhan sudah bisa masuk sekolah tapi harus tertunda karena keadaannya yang masih belum sembuh total dan Yixing tidak menzinkan putrinya keluar dari kamar.
Luhan menampilkan cengirannya saat melihat pantulan kakaknya di cermin. Gadis itu akhirnya berbalik menghadap Wufan.
"Wu, otte?" tanya Luhan meminta pendapat Wufan tentang penampilannya. Wufan terlihat mengelus dagunya sambil melihat penampilan adiknya dari atas sampai bawah.
"tidak ada yang berubah. Tetap jelek seperti biasa" goda Wufan. Luhan mengerucutkan bibirnya dan mencibir kemudian.
"kalau aku jelek, berarti kau juga jelek"
"kalau aku pengecualian"
Luhan lagi-lagi mencibir. Wufan terkekeh melihat raut cemberut Luhan, tangannya pun terangkat untuk mengusak rambut adiknya.
"bagaimana? kau sudah siap?" tanya Wufan yang berhasil mengembangkan senyum di bibir Luhan. Gadis itu mengangguk semangat.
"kau tahu kan ini yang ku tunggu-tunggu dari dulu"
"ingat, manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan kecewakan kepercayaan appa dan eomma, mengerti?" nasihat Wufan.
Luhan lagi-lagi mengangguk mantap,"kau tenang saja, serahkan semua padaku" ujarnya sambil menepuk dadanya. Luhan lalu menarik Wufan menghadap cermin.
"sekarang kita sama Wu" ujar Luhan dengan memandangi pantulan dirinya danWufan di cermin.
Wufan tersenyum kemudian melingkarkan tangannya di bahu Luhan,"kita memang sama dari dulu" Luhan pun balas tersenyum kemudian melirik saku seragam Wufan. Tangannya dengan cepat mengambil benda persegi panjang yang ada di saku kakaknya. Wufan mengerutkan keningnya bingung saat Luhan mengotak-atik ponselnya.
"selca!" ucap Luhan lalu mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka berdua,"cheese!" Wufan yang masih bingung pun mengikuti saja instruksi Luhan.
Ckrek
Segera saja Luhan melihat hasilnya tapi bibirnya mengerucut setelah itu,"Wu, kau terlihat menyeramkan, senyumlah sedikit!" protes Luhan karena ekspresi datar yang menyeramkan milik Wufan belum bisa disembuhkan, sangat kontras dengannya yang memasang pose se-imut mungkin.
"shireo! Aku tidak bisa" tolak Wufan mentah-mentah. Demi tubuhnya yang semakin menjulang, sampai kapanpun ia tidak akan berpose menggelikan seperti itu –menurut Wufan.
"cobalah Wu, kau pasti bisa. Sekali saja!" paksa Luhan sedikit merengek.
"aku tidak bisa dan aku tidak mau. Aku justru semakin mengerikan dengan pose seperti itu"
Luhan mendengus kesal karena kakaknya sama sekali tidak bisa dibujuk. Wufan memang hampir tidak pernah berselca. Sebagian besar foto di galeri ponsel Wufan adalah foto Luhan dan Joonma, sisanya adalah fotonya bersama keluarga dan teman-temannya.
"Joonnieeeeee!" teriak Luhan memanggil adik bungsunya.
"aaiish ada apa Lu-na, aku belum selesai memakai seragamku?" tanya Joonma sedikit protes dengan masih sibuk mengancingkan kemejanya dan dasi yang masih bertengger dibahu.
Luhan pun melambaikan tangannya, menyuruh Joonma masuk ke kamarnya"kemari!"
Setelah itu Luhan membantu Joonma merapikan seragamnya dan memasangkan dasinya.
"sudah selesai, ayo kita selca bertiga!"
Joonma tersenyum girang lalu mengangguk. Berbeda dengan Wufan yang masih memasang wajah datar.
"kalian saja, aku tidak ikut" ujar Wufan lalu hendak beranjak dari kamar Luhan namun dengan cepat Luhan menarik kerah kemejanya.
"tidak bisa, kau harus ikut. Aku ingin mengabadikan moment bahagiaku bersama saudara-saudaraku, tapi kenapa kau tidak mau? Kau sudah tidak peduli padaku?" protes Luhan dengan raut sedihnya.
"Wufan hyung jahat" tambah Joonma.
Wufan semakin terpojok dan ia juga merasa bodoh karena selalu tidak mengerti perasaan adiknya. Ia lalu mengacak rambutnya prustasi melihat raut sedih Luhan.
"baiklah aku minta maaf. Sudah, jangan pasang wajah seperti itu" ujar Wufan dengan menarik pipi Luhan agar tidak memasang wajah cemberut lagi.
Lama-lama Luhan tersenyum dan melirik adik bungsunya, mereka berduapun ber-high five ria karena taktik Luhan berhasil. Wufan hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"ingat Wu, kali ini kau harus tersenyum!" peringat Luhan.
Wufan mendengus,"iya iya, sudah cepat, sebentar lagi eomma pasti memanggil kita untuk sarapan"
"baiklah, 1…2…3"
Ckrek
Luhan dan Joonma langsung saja melihat hasilnya. Mereka tersenyum, tampak puas melihat hasilnya dimana Wufan akhirnya tersenyum walaupun tipis –sangat tipis– sambil merangkul Luhan dan Joonma yang tersenyum lebar.
~SS2~
Jantung Luhan semakin berdegup kencang saat mobil ibunya mulai memasuki halaman SMA Sangwon. Telapak tangannya memerah karena ia terus meremasnya. Ini hari pertamanya, wajar saja kalau ia gugup luar biasa. Apalagi dari kecil ia tidak pernah belajar di tempat yang namanya sekolah. Bagaimana suasana belajar mengajarnya pun Luhan belum tahu. Lalu bagaimana teman-temannya nanti? Apakah juga ada pembully-an terhadap anak baru seperti di film-film? Luhan menggelengkan kepalanya.
'iiissh jangan berpikir yang macam-macam Lu, positive thinking. Ini yang kau inginkan jadi apapun itu kau harus hadapi. Fighting!'
"kau siap?" pertanyaan Zitao membuat ia menoleh pada bocah panda itu yang memang sedari tadi duduk di jok belakang bersamanya.
Luhan mengangguk kaku. Zitao terkekeh melihatnya. Ia tahu sahabatnya itu sedang gugup.
"tidak usah gugup, rileks saja" ucapnya santai.
Setelah memarkirkan mobilnya, Yixing pun menyuruh Luhan dan Zitao untuk turun.
"kenapa wajahmu tegang begitu chagi? Santai saja, tidak usah takut" ucap Yixing sambil merapikan rambut putrinya.
"Wufan mana?" Luhan malah bertanya keberadaan kakaknya karena memang mereka tidak berangkat bersama. Wufan menaiki motornya dan Yixing tidak mengizinkan Luhan naik motor, ia yang akan mengantar jemput Luhan setiap hari.
"Wufan sepertinya masih di jalan. Kajja! Kita masuk. Zizi langsung ke kelas saja ne, eomma dan Lulu menemui kepala sekolah dulu"
"okay eomma" jawab Zitao sambil memberikan jempolnya pada Yixing. "aku tunggu di kelasku. Ingat! 10C" bisik Zitao sambil menepuk bahu Luhan lalu berjalan menuju kelasnya.
Luhan menggigit bibir bawahnya, kepalanya menunduk sehingga rambutnya menjuntai kebawah menutupi sebagian wajahnya. Genggamannya di tangan Yixing semakin erat, pasalnya banyak pasang mata di lorong sekolah itu tengah menatapnya. Beberapa siswa namja bahkan bersiul-siul saat Luhan dan Yixing melewati mereka. Dan Luhan berhasil menjadi pusat perhatian para siswa di lorong sekolah pagi ini.
Gadis itu menghembuskan nafas lega saat Yixing mengajaknya memasuki sebuah ruangan yang bertuliskan 'Kepala Sekolah'. Tepat setelah memasuki ruangan tersebut, ia mendengar bunyi bell. Mungkin kegiatan belajar mengajar dimulai –pikirnya.
~SS2~
"maaf nyonya sepertinya kelas 10B sudah penuh" kata seorang namja botak yang menjabat sebagai kepala sekolah itu sambil memeriksa daftar siswa yang ada di kelas 10B –kelas Wufan.
"apa sudah tidak bisa menambah 1 bangku lagi?" tanya Yixing.
"sekali lagi maaf nyonya kami juga sudah tidak bisa menambah 1 bangku lagi di kelas itu, kelasnya sudah terlalu penuh"
Yixing pun terlihat berpikir. Ia bingung harus menempatkan Luhan di kelas mana karena kepala sekolah sendiri yang mempersilahkan Yixing memilih kelas untuk putrinya. Tapi sayang kelas Wufan sudah sangat penuh. Yixing semakin khawatir saja, memikirkan bagaimana kalau tidak ada Wufan di dekat Luhan.
"eomma, di kelas Zizi saja 10C" usul Luhan dengan berbisik. Yixing memandang Luhan sejenak sambil berpikir.
"bagaimana dengan 10C?" tanya Yixing.
Kepala sekolah lalu beralih melihat kembali daftar siswa, kali ini 10C,"baiklah 10C" ucap final kepala sekolah dengan tersenyum menatap Luhan.
Luhan pun juga tersenyum lega mendengarnya dan kembali menggenggam tangan ibunya. Paling tidak ada Zitao di dekatnya, ia bisa sedikit tenang.
~SS2~
Zitao bersorak tanpa suara saat melihat wali kelasnya membawa seorang gadis berjalan dibelakangnya. Tangannya melambai-lambai ke arah Luhan yang sedikit menundukkan kepalanya. Kepala Zitao lalu menoleh kebelakang dimana kedua temannya duduk.
"benarkan apa kataku, Luhan pasti masuk 10C" ucap Zitao. Kedua temannya itu masih sibuk menatap Luhan yang berdiri di depan kelas dengan wali kelas mereka yang entah apa yang wali kelas itu bicarakan.
"Sooji-ah, sepertinya aku harus berteman dengan Luhan siapa tahu saja aku dapat saudaranya" ucap salah satu teman Zitao dengan pandangan yang masih terfokus ke arah Luhan.
"ya, aku juga" sahut siswi bernama Sooji.
Zitao langsung memutar bola matanya sambil menahan tawa mendengar percakapan temannya.
"baiklah nona Kim, sekarang perkenalkan dirimu!" instruksi sang wali kelas.
Luhan menelan ludahnya susah payah melihat teman-teman barunya. Sekarang semua mata tertuju padanya. Apalagi para namja yang sepertinya terlihat sangat antusias saat ia memasuki kelas.
"an-annyeonghaseyo Kim Luhan imnida manaseo bangapsseumnida!" ucap Luhan gugup lalu membungkuk.
"saya harap kalian semua membantu Luhan dalam kegiatan belajar, karena ini pertama kalinya Luhan masuk sekolah formal"
"ne!" jawab semua siswa serempak,"dengan senang hati" tambah para siswa namja kemudian. Bagaimana tidak antusias kalau mendapat pemandangan segar seorang gadis yang menyerupai manekin yang biasa di pajang di toko-toko baju dengan bibir pink alami, rambut cokelat tua sebahu dan bulu mata tebalnya yang terlihat menonjol membuat matanya terkesan lebih hidup serta kulitnya yang putih dan terlihat lembut seperti bayi. Wajah ngantuk para namja seketika itu segar kembali saat melihat Luhan.
"baiklah nona Kim, sekarang kau bisa duduk di sebelah nona Huang" wali kelas menunjuk bangku kosong di debelah Zitao. Luhan pun mengangguk dan membungkuk pada wali kelasnya lalu berjalan ke arah tempat duduknya.
Zitao memang sudah mempersiapkan bangku untuk Luhan saat Yixing mengirim pesan padanya kalau Luhan akan sekelas dengannya. Sebenarnya bangku itu sudah milik Sooji tapi tidak masalah karena Zitao sudah membicarakannya dengan Sooji sebelumnya. Entah kenapa ia memang yakin kalau Luhan akan sekelas dengannya.
Luhan dan Zitao ber-high five ria saat Luhan sudah duduk di kursinya.
"mereka teman-temanku sejak SMP" tunjuk Zitao ke arah kedua temannya yang duduk tepat dibelakangnya, "kalian juga sudah berkenalan kan saat acara kelulusan, kau ingat?" tanya Zitao lalu di jawab anggukan oleh Luhan.
"hai Luhan, kau masih ingat aku?"
Luhan lagi-lagi mengangguk sambil tersenyum,"Kang Sooji?" tebak Luhan pada seorang gadis berbehel yang mempunyai rambut hitam dan bermata paling sipit di antara mereka berempat.
"yeah kau benar-benar ingat" sorak Sooji sambil bertepuk tangan.
"kalau aku?" tanya seorang gadis berkaca mata berambut cokelat sedikit bergelombang yang duduk disamping Sooji dengan menunjuk dirinya sendiri.
Luhan terlihat berpikir sejenak,"eumm Song…Song Jaemi?"
"100 untukmu nona Kim" jawab Jaemi senang karena Luhan juga ingat padanya.
"e…tapi kalau aku tidak salah ingat, sepertinya masih ada satu lagi?"
"maksudmu Hyeri? Dia tidak melanjutkan SMA disini, katanya ingin mencari suasana baru, cih" sewot Sooji. Luhan hanya menganggukan kepalanya mengerti.
Zitao menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Sooji yang kelihatannya masih kesal karena Hyeri tidak melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Gadis itu pun beralih menghadap ke depan memperhatikan apa yang gurunya tulis di papan tulis, namun seketika matanya melotot melihat pemandangan di depannya.
"sepertinya hari pertamamu akan sangat berat Lu" bisiknya pada Luhan.
Luhan terlihat mengerutkan keningnya tidak mengerti,"maksudmu?"
Zitao menggerakkan kepalanya ke arah depan dan Luhan mengikuti arah pandang sahabatnya, seketika itu juga matanya membulat melihat para namja di sekelilingnya tengah melambaikan tangan mereka ke arahnya dengan tersenyum lebar.
"Hai Luhan~" sapa siswa namja serempak. Luhan semakin kikuk saja dan Zitao beralih memijit pelipisnya, 'ini dia bahayanya'.
Gadis itu lalu membungkuk ke arah namja-namja yang melihat ke arahnya,"annyeonghaseyo" sapa Luhan dan membuat para namja meleleh seperti ingin mimisan.
BRAK! BRAK! BRAK!
"perhatikan pelajaran di depan, kalau ingin berkenalan nanti saja saat istirahat" tegur Park songsaengnim yang merasa di abaikan.
Seluruh siswa pun berjengit kaget lalu segera kembali ke posisi awal mereka.
Tidak lama setelah itu Zitao merasakan ponsel di sakunya bergetar. Matanya kemudian mengawasi Park songsaengnim yang masih menuliskan soal di papan tulis. Dengan gerakan perlahan tangannya mulai mengambil ponsel di sakunya dan kepalanya menunduk untuk membaca pesan di bawah meja.
Keningnya berkerut saat melihat nomor tak dikenal mengiriminya pesan.
From: xxx
Jaga adikku baik-baik saat dikelas. Jangan ajak dia ke kantin, eomma ku sudah membawakan bekal untuknya. Jangan biarkan ia keluar seorang diri dan jangan keluar dari kelas sebelum aku datang. Aku percayakan semuanya padamu.
'apa-apaan orang ini, mengirim pesan seenak pantat tanpa memberi keterangan yang jelas' Zitao menggertakkan giginya emosi dengan orang yang tidak jelas seperti ini.
To: xxx
Memangnya kau siapa seenaknya saja memerintahku?
From: xxx
Kembali ke TK saja, jika kau tidak tahu siapa aku
Wajah Zitao sudah merah padam membacanya. Hanya satu orang yang bisa membuat tanduknya keluar.
To: xxx
JERAPAH TENGIK SIALAN!
Dugh!
Umpat gadis itu sambil menendang kaki meja karena emosi.
"nona Huang, ada masalah?" tanya Park songsaengnim.
Zitao menelan ludahnya karena aksinya menendang meja ketahuan. Gadis itu menggeleng kaku,"an-aniyo saem, jeosonghamnida" ucapnya lalu membungkuk.
"kau kenapa?" bisik Luhan.
"satpammu mengirim pesan padaku"
Luhan terlihat menahan tawanya, sudah pasti Wufan yang membuat Zitao kesal seperti itu.
~SS2~
Terlihat dua namja yang satu berambut plontos dan satunya berambut ikal tengah mengeryitkan dahi mereka melihat kelas yang saat ini ramai oleh namja yang bergerombol di depan kelas itu. Kelihatannya sedang mengintip. Ada apa memangnya?
Rasa ingin tahu pun membuat kedua namja itu saling tatap. Namja rambut plontos menggerakkan kepalanya menunjuk kelas tersebut dan diangguki oleh si ikal.
Mereka berdua pun berjalan beriringan mendekat ke arah kelas tersebut, dimana banyak sekali siswa namja tengah mengintip ke dalam. Si plontos tiba-tiba menarik kerah kemeja salah satu siswa membuat siswa itu dengan kasar menelan ludah nya menatap takut wajah bengis yang mencengkeram kerah kemejanya sekarang.
"ada apa di dalam?" tanya si plontos dengan menatap tajam hoobaenya. Yang ditatap pun terlihat gemetar, beruntung ia tidak ngompol di celana. Sedangkan si ikal tengah menyingkirkan namja-namja yang mengintip di depannya agar bisa maju ke depan dan melihat apa yang sedang mereka intip.
"JAWAB!" bentak si plontos. Sang hoobae memejamkan matanya agar hujan lokal dari monster di depannya ini tidak masuk ke mata.
"i-itu… ad-ada..ada anak baru" jawab siswa itu takut-takut.
Si plontos mengeryitkan dahinya,"lalu apa yang membuat kalian semua mengintip?"
"a-anu…anak baru itu sangat cantik sunbae seperti boneka Barbie, sungguh aku tidak bohong"
Si plontos masih menatap tajam hobaenya namun terlihat sekali rautnya yang penasaran. Dengan kasar ia melepaskan cengkeramnnya, membuat sang hoobae jatuh terjengkang kebelakang hingga pantatnya sukses berciuman dengan lantai.
"bagaimana?" tanya si plontos saat si ikal telah selesai mengintip ke dalam. Si ikal pun terlihat membisikkan sesuatu membuat si plontos menyeringai dan di ikuti si ikal.
"sepertinya menarik" gumam si plontos.
"kajja!" ajak si ikal lalu di angguki oleh si plontos. Mereka pun berlari meninggalkan kelas 10C.
~SS2~
"namaku Han Youngjin, senang berkenalan denganmu Luhan" ucap seorang namja jangkung dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih dan dihiasi behel mengkilat membuat Luhan silau melihatnya.
Luhan pun tersenyum dan balas menjabat tangan Youngjin,"ne Youngjin-ssi, senang berkenalan denganmu juga" ucap Luhan membuat Youngjin memekik tertahan merasakan kelembutan tangan Luhan. Namja itu segera berbalik kebelakang mengahadap namja-namja yang sepertinya sedang mengantri untuk berkenalan dengan Luhan.
"astaga kulitnya lembut sekali seperti bayi" pekik Youngjin lirih membuat teman-temannya semakin penasaran.
Zitao hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya yang kampungan. Ia memang sedari tadi mengawasi teman-temannya, khususnya namja yang ingin berkenalan dengan Luhan. Di tangannya sudah ada penggaris yang siap menghantam siapa saja yang berbuat macam-macam pada sahabatnya. Luhan masih baru disini dan Zitao sudah hafal watak teman-teman namjanya yang kebanyakan mata keranjang.
"minggir! sekarang giliranku" interupsi namja tampan bermata besar dengan rambut hitam emo style yang mengingatkan Luhan pada tokoh anime Uchiha Sasuke. Namja itu dengan paksa menggeser Youngjin yang masih senyum-senyum sendiri. Yup, kali ini pangeran 10C –begitu para siswi menjulukinya.
Namja itu pun tersenyum manis pada Luhan, "annyeong Luhan, namaku Jose Kim"
"senang berkenalan denganmu Jose-ssi"
Jose yang terhipnotis dengan senyuman Luhan dan tangan Luhan yang terasa lembut saat ia menjabatnya, reflek mengangkat tangan Luhan berniat menciumnya. Luhan terlihat kebingungan apa yang namja itu lakukan. Namun belum sempat penggung tangan Luhan menyentuh bibir Jose…
PLAK
…penggaris Zitao sudah menampar pipi namja itu terlebih dahulu. Jose meringis, mengusap pipinya yang merah. Baru saja ia berniat melayangkan sumpah serapahnya pada orang yang berani menamparnya dengan penggaris namun harus kandas saat melihat sosok Zitao yang melipat tangannya di dada dan menatapnya dengan dagu terangkat seolah menantangnya.
"aaiih baby Huang kenapa menamparku? Kau cemburu? Astaga! Tenang saja hatiku masih padamu" ucap Jose lalu mencolek dagu Zitao.
PLAK
"aww!" lagi Zitao memukul tangan Jose yang baru saja mencolek dagunya.
"dalam mimpimu Jose Kim" ucap Zitao, menekankan setiap kata-katanya dan menatap malas ke arah namja itu.
Tidak lama seorang namja tiba-tiba menerobos kerumunan yang berhasil membuat Luhan tersenyum senang.
"Wu!"
Oh! ternyata pangeran kelas sebelah –Kim Wufan.
Tanpa basa-basi Wufan dengan cepat membuka tas Luhan dan mengambil kotak bekal yang telah ibunya persiapkan untuk Luhan. Luhan hanya memandangi apa yang dilakukan kakaknya begitu juga para namja yang masih bergerombol menatap Wufan bingung.
Setelah itu Wufan pun menarik Luhan untuk pergi. Namun baru satu langkah ia berhenti kembali, melirik Zitao yang masih melipat tangannya di dada.
"kau tidak ikut?" tanya Wufan.
"kalian duluan saja, aku masih ingin ke kantin" Wufan mengangguk kecil lalu melanjutkan langkahnya. Sedangkan Luhan membungkuk pada gerombolan para namja yang sekarang mendesah kecewa karena belum sempat berkenalan dengan Luhan.
"Hey! Apa-apaan kau Kim, kami belum berkenalan dengannya, YAK!" protes seorang namja, tapi tidak dihiraukan oleh Wufan.
"aaish memang apa hubungan Wufan dengan Luhan?" tanya namja itu pada Zitao.
"yang pasti bukan urusanmu" jawab Zitao dengan tersenyum mengejek lalu pergi meninggalkan kelasnya.
~SS2~
BRAK!
Bunyi pintu yang di dobrak paksa itu berhasil mengagetkan seluruh namja yang berada di dalam ruangan itu sehingga menghentikan berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Kecuali namja berwajah flat yang merupakan boss mereka –Byun Sehun. Namja itu masih fokus memainkan game di sebuah tablet pc tanpa bereaksi apa-apa, dibelakangnya berdiri salah satu anak buahnya yang tengah memijit pundaknya.
"sekali lagi kau mendobrak pintu itu, aku akan membenturkan kepalamu juga dipintu itu Yoon Jaesoo" peringat Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari game yang dimainkannya.
Sang tersangka –namja berambut ikal bernama Yoon Jaesoo itu pun hanya bisa menelan ludahnya. Sedangkan disampingnya namja plontos tengah menundukkan kepalanya tak berani menatap boss nya.
"e… maaf boss, tap-tapi ada berita menarik yang ingin kami sampaikan" ucap Jaesoo.
"kau beralih jadi tukang gossip?"
"BWAHAHAHA!" ucapan Sehun membuat tawa anak buahnya meledak kecuali Jaesoo. Namja itu menggelengkan kepala menyangkalnya.
"DIAM!" dan bentakan Sehun membuat suasana hening kembali. Ia lalu memilih menghentikan game nya sejenak lalu beralih menatap Jaesoo.
"semenarik apa sampai kau antusias seperti itu?" tanya Sehun.
"i-itu boss, ada anak baru"
Sehun memutar bola matanya,"lalu dimana menariknya?" tanyanya lagi mulai geram.
"menariknya, anak baru itu berhasil mencuri perhatian para siswa dan demi kepala sekolah yang kepalanya semakin botak anak baru itu sangat cantik boss seperti boneka, sungguh" jelas Jaesoo dengan wajah berbinar.
Sehun hanya memandang jijik wajah Jaesoo yang sepertinya tengah membayangkan wajah cantik anak baru yang dimaksud. Ia pun memilih melanjutkan game nya kembali, tak peduli dengan berita menarik itu.
Tiba-tiba salah satu anak buahnya beringsut mendekati Jaesoo dan disusul anak buahnya yang lain. Sepertinya mereka tertarik dengan informasi yang di berikan Jaesoo.
"kelas apa dia?" tanya salah satu namja.
"dia di kelas 10C"
"namanya?"
Jaesoo diam sejenak mencoba mengingat-ingat nama anak baru itu,"kalau aku tidak salah dengar namanya Kim…" namja itu memejamkan matanya, masih berusaha mengingatnya.
"eum… Kim…Kim Lu, AH! YA KIM LUHAN!"
PRAK
Sehun reflek menjatuhkan tablet yang ada ditangannya setelah mendengar nama anak baru yang Jaesoo maksud. Dibelakangnya, namja yang sedari tadi sibuk memijitnya sekarang tengah memandang nanar tablet pc yang tergeletak tak berdaya di lantai –karena memang tablet itu miliknya.
Sehun lalu bangkit dari duduknya dan mencengkeram lengan Jaesoo membuat semua orang kaget termasuk Kanghyun yang sedari tadi merokok di dekat Sehun.
"katakan sekali lagi siapa nama anak baru itu!" paksa Sehun dengan menatapnya tajam, membuat tubuh Jaesoo gemetar.
"Kim…Kim Luhan boss"
Tatapan Sehun semakin tajam, cengkeramannya semakin erat walaupun tangannya sedikit bergetar. Namun tiba-tiba ia melepas kasar cekeramannya lalu berlari meninggalkan markasnya.
Anak buahnya saling pandang tak mengerti akan reaksi bossnya. Begitu juga dengan Kanghyun yang menatap kepergian Sehun dengan kening berkerut. Ia pun segera membuang rokoknya dan pergi menyusul Sehun dengan diikuti pasukannya.
Sehun berjalan cepat dengan pikiran berkecamuk. Ia seperti terkena serangan jantung saat Jaesoo menyebutkan nama anak baru itu. Apakah benar Luhan? ia tidak salah dengar kan? Rasanya sulit dipercaya.
Kenapa Luhan tidak memberitahunya? Padahal komunikasi mereka lancar akhir-akhir ini. Hampir setiap hari Sehun mengirim pesan pada Luhan atau sesekali meneleponnya jika Luhan mengizinkan, namun Luhan sama sekali tidak menyinggung tentang sekolah.
Jantungnya berdetak tidak santai. Siswa-siswa yang ada di lorong reflek meminggirkan tubuhnya memberi jalan untuk ketua berandalan Sangwon itu jika tidak ingin babak belur nantinya.
Sehun mengabaikan Kanghyun yang berteriak memanggilnya dari belakang. Pikirannya terus tertuju pada kelas 10C. rasanya ia ingin cepat sampai di kelas itu lalu membuktikan apakah anak baru yang dimaksud Jaesoo benar-benar Luhan-nya.
Deg
Sehun mendadak menghentikan langkahnya membuat Kanghyun dan anak buahnya yang lain juga ikut berhenti. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat matanya menangkap sosok yang membuatnya seperti mempunyai kepribadian ganda. Ya, Kim Luhan.
~SS2~
Mata elang Wufan menatap tajam ke arah namja-namja yang menatap adiknya dengan tatapan lapar. Ia terus menarik tangan Luhan tanpa peduli Luhan yang sedikit berlari untuk menyamakan langkah sang kakak yang kelewat lebar. Sebenarnya Wufan tidak menyangka para siswa namja akan seheboh itu melihat adiknya. Satahunya banyak siswi cantik di sekolah ini, apa mungkin karena Luhan masih baru? Ini bahaya –pikir Wufan.
"Wu lain kali jangan begitu, itu tidak sopan"
"jangan bergaul dengan namja-namja itu, mereka berbahaya"
"tapi mereka hanya ingin berteman dengan ku"
"tidak, mereka punya maksud lain. Aku sudah tahu watak-watak mereka"
"huufh kau ini, selalu saja berburuk sangka"
Wufan tidak memperdulikan gerutuan Luhan dan terus menarik adiknya itu untuk menuju suatu tempat. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat melihat jalan di depannya penuh dengan segerombolan namja sampai tidak ada celah untuk Wufan lewat.
Di barisan paling depan berdiri sang ketua yang menatap ke arahnya, bukan dengan wajah datar andalannya tapi kali ini wajah namja itu terlihat tegang. Tapi tunggu, Sehun ternyata tidak menatap ke arahnya, lebih tepatnya menatap ke arah Luhan.
Sial! Kenapa ia harus bertemu dengan hama-hama Sangwon ini –rutuk Wufan dalam hati dengan menatap tajam ke arah gerombolan namja tersebut.
"uwoooow~" koor anak buah Sehun melihat bidadari ada di depan mereka.
"oh, Sehun oppa! Annyeong!" pekik Luhan sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Sehun dengan senyuman yang membuat anak buah Sehun mimisan.
Sontak Wufan menoleh ke arah Luhan. Astaga! Ia lupa memberitahu Luhan apa saja yang harus adiknya itu hindari di Sangwon.
Didepannya Sehun semakin menegang di sapa Luhan dengan senyuman seperti itu. Luhan semakin cantik memakai seragam sekolahnya. Perlahan sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis lalu mengangkat tangannya dengan kikuk untuk membalas sapaan Luhan. Dan demi dewa Poseidon yang ternyata mempunyai anak bernama Percy Jackson, baru kali ini anak buah Sehun melihat boss nya tersenyum lembut pada seseorang. Mereka sampai melongo melihatnya.
Baru saja Luhan ingin menghampiri Sehun tapi Wufan buru-buru menahannya.
"kau mau kemana? Mereka sumber bahaya disini, jangan berurusan dengan mereka, mengerti?" peringat Wufan setengah berbisik.
Luhan mengerucutkan bibirnya,"Wu–" belum sempat Luhan melayangkan protesnya, Wufan sudah menariknya kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda. Ia tidak peduli dengan banyaknya anak buah Sehun di depan. Yang penting ia tidak mengganggu mereka, niatnya hanya ingin lewat. Dan tidak ada alasan untuk Wufan merasa takut.
"permisi,,,,"
"…sunbae" ucap Wufan dengan nada datar lalu melirik ke arah Sehun yang saat ini masih menatap adiknya.
Sedangkan Luhan menatap Sehun dengan raut menyesal. Niatnya ingin memberi Sehun kejutan tapi apa daya Wufan tidak mengizinkan ia pergi kemana-mana tanpa pengawasannya.
"tolong beri jalan! kami ingin lewat" lanjut Wufan mulai jengah karena gerombolan namja di depannya ini tidak bergeming sedikitpun.
Namun beruntung Sehun segera tersadar dari acara bengongnya. Namja itu berdehem sejenak sebelum memberi instruksi pada anak buahnya.
"beri jalan!"
Dan seketika itu juga anak buahnya mulai merapatkan tubuh mereka ke pinggir untuk memberi Wufan dan Luhan jalan.
"annyeong oppa!" pamit Luhan sedikit membungkuk saat Wufan menyeretnya pergi meninggalkan Sehun dan anak buahnya.
Sehun pun hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu memandangi kepergian Luhan sampai ia mendengar siulan yang berasal dari anak buahnya.
"cantiknyaaaa~" koor anak buahnya lagi. Wajah Sehun merah padam mendengarnya.
PLAK! PLAK! PLAK!
Tangan kekarnya dengan mantap menghantam kepala-kepala anak buahnya yang sebagian memandang Luhan dengan muka menjijikkan. Seketika semua pun menunduk melihat wajah marah boss nya kecuali Kanghyun yang memandang Sehun penuh tanya.
"dengar! Aku peringatkan pada kalian semua. Dia milikku. Jangan sekali-kali kalian menganggunya apalagi sampai menyentuhnya atau aku habisi kalian dengan tanganku sendiri. MENGERTI?"
"me-mengerti boss" jawab serempak anak buahnya dengan masih menunduk. Tidak berani menatap muka bengis Sehun.
"bagus, sekarang kembali ke markas!" titah Sehun dan diangguki oleh anak buahnya.
namun saat Sehun ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba Kanghyun menahannya.
"siapa dia?" tanya Kanghyun berniat mengintrogasi Sehun.
"Luhan…"
"…sepupu Jongin" lanjut Sehun.
Terlihat Kanghyun kaget mendengarnya,"kau merencanakan sesuatu?" tanyanya curiga.
Sehun menjawabnya dengan tersenyum penuh arti,"tidak" jawabnya singkat lalu pergi meninggalkan Kanghyun yang masih menatapnya tidak mengerti.
~SS2~
Luhan melipat tangannya di dada dengan bibir mengerucut, menatap kesal kakaknya yang saat ini sedang mempersiapkan bekal makan siangnya. Saat ini mereka sudah berada di ruang kesehatan karena menurut Wufan ruang kesehatan adalah satu-satunya tempat yang tenang untuk menghabiskan waktu istirahat. Luhan merasa Wufan sudah benar-benar keterlaluan. Kalau begini caranya kapan ia bisa mendapat teman. Ingin berkenalan saja tidak boleh. Huuh menyebalkan –pikir Luhan.
"jangan pasang wajah seperti itu, ini makan siangmu, sekarang cepat makan!" titah Wufan sambil menyodorkan kotak bekal Luhan. Tapi Luhan malah menggelengkan kepalanya.
"shireo! Kau menyebalkan" ucap Luhan kesal sambil memalingkan wajahnya.
Wufan menghela nafasnya,"terserah apa katamu, tapi sekarang kau harus makan, kau lupa masih harus meminum obat?"
Luhan berdecak kesal,"kau saja yang meminum obatnya"
"kalau itu bisa membuatmu sembuh dan tidak sakit-sakitan lagi aku sudah meminum obat-obatmu dari dulu Lu, tapi kau tahu kan itu percumah. Ayolah jangan seperti ini!" ucap Wufan masih mencoba sabar mengahadapi adiknya. Ia tahu Luhan kesal padanya.
Luhan pun hanya diam mendengar suara kakaknya yang sepertinya sudah prustasi menghadapinya dan mungkin saja sebentar lagi emosi kakaknya bisa meledak kalau sampai Luhan tidak menuruti perintahnya. Gadis itu pun beralih menundukkan kepalanya.
"aku hanya ingin mempunyai teman Wu, tapi semua orang kau sebut berbahaya. Lalu yang tidak berbahaya itu seperti apa?"
"keluargamu. Orang yang benar-benar tulus menyayangimu itu hanya keluargamu. Sebagai kakak aku hanya ingin menjagamu. Aku hanya tidak ingin mereka memanfaatkan kepolosanmu dan berbuat macam-macam padamu. Semua orang mempunyai topeng masing-masing dan saat ini kau hanya bisa melihat luar mereka saja tanpa tahu dalamnya bagaimana. Kau masih harus banyak belajar untuk mengetahui mana yang tulus ingin berteman denganmu dan mana yang tidak"
"tapi mana bisa aku tahu mereka tulus atau tidak kalau aku tidak mengenal mereka?"
"kau akan tahu sendiri bagaimana mereka sebenarnya seiring berjalannya waktu. Aku tidak akan melarangmu bergaul dengan siapa pun kalau kau sudah benar-benar bisa beradaptasi dengan kehidupan luar dan sudah bisa menjaga dirimu sendiri. Aku bersikap seperti ini karena aku tidak ingin ada seorang pun yang menyakitimu. Menyakitimu sama saja menyakitiku"
Greb
Luhanpun langsung berhambur ke pelukan kakaknya setelah mengerti maksud Wufan yang sebenarnya. Ia tahu Wufan memang terlalu menyayangi adik-adiknya. Seharusnya ia bersyukur mempunyai kakak yang bertanggung jawab dan perhatian pada adik-adiknya.
Wufan memang mewarisi sikap ibunya yang sangat overprotektif khususnya pada Luhan dan itu juga berlaku untuk Joonma dengan seringnya Wufan melarang Joonma bermain dengan anak-anak yang menurut Wufan membawa pengaruh buruk bagi adiknya. Bukan apa-apa tapi Wufan hanya tidak mau Joonma terpengaruh dengan kebiasaan buruk anak-anak itu yang suka mencuri buah-buahan tetangga dan berkelahi karena jika sejak kecil biasa melakukan itu maka kebiasaan buruk itu juga akan terbawa sampai dewasa nanti.
Naluri seorang kakak yang membuat Wufan ingin selalu melindungi adik-adiknya apa lagi setelah ia mengetahui masa lalu orang tuanya.
"maafkan aku" ucap Luhan dan Wufan pun membalas pelukan adiknya.
"tidak perlu minta maaf. Wajar kalau kau kesal padaku. Tapi percayalah aku melakukan ini demi kebaikanmu Lu"
"arraseo kakakku yang tampan, yang baik hati dan penyayang tapi terlihat sangat tua jika sudah menasihatiku seperti ini. Terima kasih sudah menjadi kakak yang baik untuk kami. Lulu dan Joonie menyayangimu, saranghae" ucap Luhan manja membuat Wufan tertawa geli mendengarnya.
"sekarang makan!"
Lagi-lagi bibir Luhan mengerucut melihat bekalnya,"nasi lembek lagi" protesnya.
"sudah jangan protes, siapa suruh sakit"
Luhan hanya menurut dan memakan bekal makan siangnya tanpa selera.
Drap drap drap
BRAK!
Sontak Wufan dan Luhan menoleh ke arah pintu ruang kesehatan yang di buka paksa. Dan terlihatlah dua makhluk berbeda gender tengah mengatur nafas mereka sambil berjalan mendekat ke arah Wufan dan Luhan.
"haah sial! Kenapa kau libatkan aku juga?" umpat si namja yang bernama Lee Taeyong pada gadis panda yang datang bersamanya.
"aku terpaksa bodoh" balas si yeoja yang ternyata si anak tunggal Huang.
"lalu bagaiamana kalau mereka mengroyokku sepulang sekolah?"
"ya kau tinggal kabur saja" jawab Zitao enteng sambil mengendikkan bahunya membuat Taeyong geram setengah mati.
"YAK!"
"kalian kenapa?" interupsi Wufan.
"si panda impor ini memanfaatkan aku agar tidak di kejar lagi oleh anak buah Sehun" adu Taeyong.
Wufan mengerutkan keningnya memandang Zitao,"kau masih di kejar anak buah Sehun?"
Zitao lagi-lagi mengendikkan bahunya,"entahlah, mereka selalu menggangguku kalau aku sendiri, makanya aku seret dia saat di kantin"
"kalau begitu lain kali jangan pergi sendirian kalau tidak ingin di kejar mereka lagi" ucap Wufan membuat Zitao memincingkan mata menatap ke arahnya.
"kau mengkhawatirkanku?" tanya Zitao dengan tampang takjub.
Mata Wufan melotot mendengarnya, pemuda itu pun terlihat salah tingkah sendiri,"si-siapa yang mengkhawatirkanmu, aku hanya memperingatkanmu saja" sangkal Wufan.
"Oh" tanggap Zitao dengan membulatkan mulutnya. Dalam hati entah kenapa ia merasa kecewa dengan jawaban Wufan. Ia pikir Wufan memang mengkhawatirkannya, tapi tidak lama ia merutuki dirinya sendiri setelah sadar apa yang ia pikirkan. 'Huang Zitao bodoh! Kesurupan apa kau sampai berpikiran seperti itu'
Sedangkan Luhan sedari tadi hanya menyimak mereka dengan raut bingung.
"memangnya Sehun oppa kenapa?" tanya Luhan
"sudah ku bilangkan dia itu berbahaya" jawab Wufan.
"berbahaya bagaimana?"
"Sehun dan anak buahnya itu suka menindas makhluk lemah disini" kali ini Zitao yang menjawab.
"mwo?"pekik Luhan yang terlihat kaget dengan jawaban Zitao,"ta-tapi Sehun oppa orang yang baik"
"baik? Baik dari mana Lu?" tanya Zitao tak percaya,"mereka itu seperti kuman-kuman yang meresahkan sekolah ini, untung saja Jongin oppa sudah tidak berteman lagi dengan si kejam bermuka pucat itu"
Luhan pun semakin menatap Zitao tidak percaya,"tapi–"
"sudah, cepat habiskan makanmu!" sela Wufan.
Luhan hanya memainkan makanannya dengan masih memikirkan percakapan tadi. Benarkah Sehun seperti itu? Setahunya Sehun adalah namja yang baik. Ia sudah cukup lama mengenal Sehun dan selama ini tidak ada tanda-tanda sedikitpun kalau Sehun adalah namja yang kasar. Mustahil jika Sehun suka menindas orang –begitulah kira-kira yang dipikirkan Luhan.
"ssstt~ kau tidak ingin mengenalkan aku pada adikmu?" bisik Taeyong yang sedari tadi sibuk menatap Luhan.
"namanya Kim Luhan, dia saudara kembarku, sudahkan?" jawab Wufan.
"Ya! Aku ingin ingin berkenalan sendiri kenapa jadi kau yang mengenalkannya?"
"adikku sedang makan, jangan di ganggu!"
Ingin rasanya Taeyong menguliti sahabatnya itu karena selalu pelit kalau berkaitan dengan saudara kembarnya.
"hey, cepat dimakan!" tegur Wufan karena melihat adiknya masih melamun.
"aku sudah kenyang"
"kau baru makan 2 sendok, mana bisa kenyang?"
Luhan menggelengkan kepalanya,"rasanya tidak enak Wu, aku tidak suka nasi lembek" protes Luhan.
"tidak, kau harus makan" titah Wufan berniat menyuapi Luhan tapi kepala Luhan terus menggeleng dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
"kau masih harus minum obat, buka mulutmu!" tapi Luhan masih tetap menggeleng.
"Ya! Kalau tidak mau jangan dipaksa" bela Zitao yang memang sekutu dengan Luhan yang 'tidak suka nasi lembek' atau bubur.
Wufan menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap Zitao,"kau jangan ikut campur!" peringat Wufan membuat Zitao mendengus kesal dan memakan brutal kue bolu yang menjadi makan siangnya hari ini.
"Zi, kau makan apa?" tanya Luhan yang sepertinya tertarik dengan yang di makan sahabatnya.
Sontak Zitao menelan kasar kue yang sudah ada di mulutnya,"kue bolu, kau mau?"
Dengan raut senang Luhan pun menganggukkan kepalanya,"sedikit saja"
Zitao tersenyum dan mengagguk. Ia pun memberikan kue nya pada Luhan tapi gagal karena tangan Wufan sudah lebih dulu mengambilnya.
"YAK!"
"kau tidak boleh makan sembarangan!" larang Wufan yang membuat bibir Luhan mengerucut kesal tapi sangat imut di mata Taeyong. Sehingga pemuda itu hanya bisa bengong, terpesona menatap saudara kembar sahabatnya itu.
"aku hanya ingin mencobanya sedikit saja Wu"
"berikan padaku!" pekik Zitao yang berusaha merebut kuenya dari tangan Wufan.
"tidak bisa, aku saja yang mencobanya" ucap Wufan lalu dengan cepat pemuda itu memakan kue bolu Zitao tak bersisa membuat mata gadis panda itu melotot melihat makan siangnya tertelan oleh orang lain. Begitu juga dengan Luhan yang menatap tidak terima ke arah Wufan.
Pletak
Dengan senang hati Zitao memukul kepala Wufan lalu mencekik lehernya,"itu makan siangku, kenapa kau habiskan BODOH, muntahkan!"
"uhuk, yak! Lepaskan aku bisa mati" protes Wufan dengan muka yang sudah memerah.
"aku tidak peduli, muntahkan!"
Dengan kekuatan penuh, Wufan melepaskan tangan Zitao dari lehernya,"memangnya kau mau memakan muntahanku?" tanya Wufan membuat Zitao menarik sudut bibirnya kebawah dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena perutnya masih lapar. Entah kenapa Wufan menjadi iba melihat tampang Zitao yang seperti anak panda kelaparan karena di telantarkan induknya.
"kau keterlaluan Wu" tegur Luhan yang menatap marah pada kakaknya. Ia tahu Zitao masih lapar maka dari itu ia hanya ingin mencobanya sedikit saja tapi kakaknya itu malah memakan semuanya. Kalau saja Zitao tidak anti nasi lembek seperti dirinya, ia pasti sudah memberikan bekalnya untuk mengganti kue bolu yang di makan Wufan. Sedangkan Wufan hanya diam saja. Diam-diam ia juga merasa bersalah karena sudah membuat anak panda itu hampir menangis. Gadis itu memang sensitive kalau perutnya lapar.
"ayo Zi aku antar ke kantin!" ajak Luhan sambil menarik tangan Zitao.
"tunggu!" tahan Wufan,"biar aku yang mengantarnya, kau tetap disini saja. Jangan kemana-mana! Lee, aku titip adikku, tapi awas kalau kau macam-macam padanya" peringat Wufan sebelum pergi meninggalkan ruang kesehatan dengan menarik Zitao.
"Ya! Aku bisa jalan sendiri" protes Zitao sambil berusaha melepas gandengan Wufan.
"baiklah, aku akan melepaskannya tapi jangan minta tolong padaku kalau kau diganggu anak buah Sehun"
Mendengar itu berhasil membuat Zitao terdiam. Gadis itu akhirnya hanya bisa pasrah saat Wufan menggandeng tangannya. Jujur saja ia selalu merasa aman jika ada Wufan di dekatnya, ia tidak perlu khawatir jika bertemu anak buah Sehun nantinya. Entah kenapa Zitao merasa anak buah Sehun itu seperti enggan berurusan dengan Wufan.
Mereka hanya berjalan dalam diam. Tidak ada yang mereka bicarakan karena mereka sama-sama tidak tahu harus berbicara apa. Sesekali Wufan melirik Zitao yang berjalan dengan sedikit menunduk. Tapi tunggu! Sepertinya ada yang beda dengan gadis itu hari ini.
Mata Wufan diam-diam melihat si tunggal Huang itu dari atas sampai bawah. Matanya sedikit melotot dan serasa ingin meledakkan tawanya –tapi berhasil ia tahan– saat melihat ke arah rok yang dipakai Zitao.
Zitao pun menoleh menatap Wufan karena merasakan gelagat aneh namja itu. Gadis itu sejenak menghentikan langkahnya.
"kau kenapa?" tanya Zitao dengan kening berkerut.
Wufan sekuat tenaga menahan tawanya,"ternyata kau mendengarkan kata-kataku dengan baik"
"maksudmu?"
Jari telunjuk Wufan langsung mengarah pada rok Zitao yang panjangnya tepat di atas lutut –lebih panjang dari rok sebelumnya yang 10cm diatas lutut.
Muka Zitao merah padam karena Wufan menyadari perubahan penampilannya. Ia pun salah tingkah sendiri, otaknya sibuk mencari-cari alasan yang tepat untuk menjelaskannya pada Wufan.
"i-itu karena…karena…karena rok ku robek kemarin saat terperosok di semak-semak" dalam hati Zitao lega bukan main karena mendapatkan alasan yang kemungkinan besar dapat dipercayai oleh anak sulung Kim Suho itu.
Wufan menaikkan satu alisnya. Tentu saja ia tidak percaya karena ia tahu rok gadis itu masih utuh pasca jatuhnya mereka dari motor, justru celananya lah yang robek.
"benarkah?"
Zitao pun mengangguk kaku,"ten-tentu saja"
Dan Wufan pun memilih mengangguk pura-pura percaya, dari pada harus lama-lama berdebat dengan gadis panda itu dan semakin lama sampai di kantin. Ia tidak mau gadis itu menangis kelaparan di sepanjang perjalanan karena tidak sempat makan siang.
"lukamu bagaimana?" tanya Wufan.
"sudah mulai mengering, kau sendiri?"
"hanya goresan, sudah sembuh sejak kemarin"
Zitao tersenyum tipis tanpa Wufan ketahui,"Oh syukurlah kalau begitu"
~SS2~
Sementara itu di ruang kesehatan Luhan merasa canggung hanya berdua dengan Taeyong, apalagi sedari tadi pemuda itu terus saja senyum-senyum sendiri sambil menatapnya. Luhan pun akhirnya juga membalas senyum Taeyong. Ia sebelumnya memang tidak mengenal Taeyong atau teman Wufan yang lain karena kakaknya itu tidak pernah membawa temannya ke rumah.
"e…perkenalkan, Lee Taeyong" dan akhirnya Taeyong membuka suaranya membuat Luhan lega karena suasana tidak canggung lagi kalau mereka saling bicara satu sama lain.
Luhan pun akhirnya menjabat tangan Taeyong dan juga memperkenalkan dirinya pada sahabat kakaknya itu,"Kim Luhan, senang berkenalan denganmu Taeyong-ssi"
Sungguh tubuh Taeyong seperti tersengat listrik saat Luhan menjabat tangannya. Halus dan lembut –pikirnya dan seperti enggan untuk melepas tautan tangannya dengan Luhan. Tapi sayang tidak lama kemudian Luhan menarik tangannya lepas.
Taeyong berdehem sejenak untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ayolah, siapa yang tidak gugup berada di satu ruangan dengan gadis cantik seperti Luhan. Taeyong merutuki Wufan karena merasa dibodohi oleh sahabatnya itu. Bertahun-tahun mereka bersahabat tapi baru saat SMA Wufan menunjukkan adik cantiknya ini. Tahu begini dari dulu Taeyong mau untuk rajin-rajin ke rumah Wufan. Sabahatnya itu memang pelit informasi kalau menyangkut tentang keluarganya.
"kau sekelas dengan Wufan, Taeyong-ssi?" tanya Luhan.
"y-ya. Kami dari SMP selalu sekelas"
Luhan pun mengangguk mengerti,"tapi kenapa Wufan tidak penah bercerita tentangmu?" goda Luhan sambil terkekeh.
Taeyong merengut mendengarnya. 'sahabat durhaka kau Kim Wufan, tiang bendera sialan!' umpat Taeyong.
"ahaha itu memang tidak penting" jawab Taeyong dengan tawa garingnya,"tapi jujur kalau aku juga baru tahu Wufan kembar saat acara kelulusan SMP, kau ingat kan kami mencarimu sampai ke toilet belakang asrama malam itu?"
"ah ya, aku ingat!" seru Luhan dan setelahnya ia tersenyum,"banyak yang tidak percaya kalau kami kembar Taeyong-ssi, apa wajah kami sungguh tidak mirip?"
Taeyong mengamati Luhan lagi lalu menggeleng,"memang tidak, mungkin karena kalian berbeda gender"
Dalam hati Taeyong tertawa membayangkan bagaimana kalau Wufan benar-benar mirip dengan Luhan, pasti sahabatnya itu akan menjadi namja tercantik yang pernah ada dan bisa saja membuat namja-namja di sekolah ini memilih untuk menjadi gay, ppfftt~ ingin sekali Taeyong tertawa sambil berguling-guling membayangkannya. Tapi untung saja si kembar ini tidak identik, Wufan pun terselamatkan.
"kau kenapa Taeyong-ssi?" tanya Luhan yang melihat Taeyong tertawa aneh seorang diri.
"eh, aniyo. Eum Luhan jangan panggil aku Taeyong-ssi itu terlalu formal. Aku sudah menjadi temanmu. Panggil Yong saja!"
Luhan mengangguk dengan tersenyum senang,"ne, mianhae Yong-ah"
"nah begitu lebih baik" ucap Taeyong lalu mereka pun tertawa bersama menghancurkan kecanggungan antara mereka.
Hmm tidak buruk, mungkin Luhan bisa berteman dekat dengan Taeyong juga, sepertinya namja itu menyenangkan –pikir Luhan.
Tidak lama kemudian Luhan merasakan ponselnya cepat ia pun membuka pesan masuk yang ternyata dari seseorang yang baru ia kirimi pesan tepat setelah Wufan pergi mengantar Zitao ke kantin.
"e… Yong-ah! Kau tunggu disini dulu ne, aku ingin ke toilet" izin Luhan.
"mwo? aku antar saja ya? nanti bisa-bisa kakakmu membunuhku jika aku membiarkanmu pergi seorang diri"
Luhan menghela nafasnya,"Ya! Kau jangan ikut-ikut seperti Wufan. Aku tidak mau berteman denganmu kalau kau juga sama seperti Wufan" Luhan melipat tangannya dengan raut cemberut, taktik agar Taeyong membiarkan ia pergi sendirian.
Taeyong pun terlihat bingung sendiri. Bagaimanapun juga Wufan sudah mempercayakan Luhan padanya, tapi kalau ia idak mengizinkannya, Luhan tidak mau berteman dengannya. 'Bagaimana ini?'
"ayolah Yongie! Aku hanya sebentar, aku janji" Luhan mengangkat V sign nya untuk meyakinkan Taeyong.
Namja itu malah melongo tak percaya mendengar panggilan imut dari Luhan untuknya,"Yo-Yongie?"
"itu panggilan untuk sahabat baruku, apa kau keberatan?"
Taeyong dengan cepat menggelengkan kepalanya,"tidak, tidak sama sekali" jawabnya membuat Luhan tersenyum senang lalu beranjak dari duduknya.
"ya sudah aku pergi dulu ne, kau tidak usah khawatir, aku tahu letak toiletnya"
Tapi dengan cepat Taeyong menahannya kembali,"Luhan tunggu! Sebaiknya aku antar saja"
"hey aku bukan anak kecil lagi Yongie, aku janji tidak akan lama dan kembali sebelum Wufan kemari"
"ta-tapi–"
"Yongie, please!" mohon Luhan dengan puppy eyes nya dan tentu saja berhasil membuat namja manis dengan rambut hitam itu tak bisa berkutik.
"ba-baiklah, 5 menit tidak lebih"
Luhan pun tersenyum senang lalu mengangguk,"ne, gomawo Yongie" setelah itu pun Luhan secepat kilat meninggalkan ruang kesehatan. Langkahnya tergesa-gesa menuntunnya ke sebuah lorong yang tadi ia lewati dengan Wufan.
Gadis itu tersenyum dan semakin mempercepat langkahnya saat melihat siluet seseorang yang menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Sehun oppa!" panggil Luhan.
Namja yang ternyata Sehun itu pun sontak menoleh ke arah Luhan. Senyum tipis pun tercipta di wajah dinginnya.
Tepat setelah Wufan pergi untuk mengantar Zitao ke kantin, entah kenapa Luhan berpikir untuk mengirim pesan pada Sehun. Ini kesempatannya untuk menjelaskan pada Sehun selagi tidak ada Wufan karena ia tahu Sehun pasti terkejut saat mengetahui ia sudah menjadi siswi Sangwon mulai hari ini. Dan sebenarnya ini adalah kejutan juga.
"Luhan!"
"kau sudah lama?" tanya Luhan merasa tidak enak kalau Sehun menunggunya terlalu lama.
Sehun menggeleng,"tidak" jawab Sehun membuat Luhan menghembuskan nafas lega.
"jadi, bisa kau jelaskan tentang ini?" pinta Sehun sambil melipat tangannya di dada.
"yah, seperti yang kau lihat, aku sudah diberi izin untuk sekolah. Kau tahu, aku senang sekali" seru Luhan dengan riang, gadis itu memang sangat bahagia hari ini.
"tapi kenapa kau tidak memberitahuku?"
"eumm…sebenarnya aku ingin memberi kejutan padamu, tapi ternyata Wufan tidak mengizinkanku kemana-mana" ujar Luhan dengan mengerucutkan bibirnya.
Sehun sedikit melebarkan matanya mendengar jawaban Luhan. Memberi kejutan untuknya? Entah kenapa Sehun merasa senang mendengarnya. Apa itu berarti ia sudah memiliki posisi penting di hidup gadis itu?
"lalu, kenapa kau bisa pergi seorang diri?" tanya Sehun.
"Wufan sedang mengantar Zizi ke kantin jadi kesempatanku untuk menjelaskannya padamu, sebelum kau marah padaku"
Sehun menatap lekat Luhan lalu tidak lama ia pun terkekeh 'Marah pada Luhan? apakah aku bisa?' namja itu menertawakan dirinya sendiri dalam hati.
"ya, aku memang marah padamu karena kau selalu menyembunyikan sesuatu dariku seperti sakit kemarin dan sekarang ternyata kau sudah menjadi siswi Sangwon, apa selama ini kau tidak menganggapku sebagai temanmu?"
Luhan pun menggeleng panik,"oppa, ak-aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya–"
Ucapan Luhan terputus saat ia merasakan punggung tangan Sehun menyentuh keningnya lalu turun menyentuh pipinya. Entah kenapa jantung Luhan berpacu sangat cepat saat disentuh oleh seseorang yang bukan keluarganya. Kenapa juga wajahnya memanas dan bersemu merah saat menatap Sehun dari jarak sedekat ini?
"badanmu masih hangat, kau belum sembuh?"
Yang ditanya hanya diam masih menatap namja tampan didepannya ini tanpa berkedip.
"Luhan!" panggil Sehun karena Luhan hanya diam saja.
Panggilan Sehun pun sontak membuat Luhan sadar kembali,"eh, eum ak-aku…aku sudah sembuh oppa"
"benarkah? Hidungmu masih merah"
"itu karena aku masih flu, biasanya memang akan sedikit lama sembuhnya, huufh menyebalkan"
Sehun terkekeh melihat Luhan mengerucutkan bibirnya. Imut –pikir Sehun.
"oppa!"
"ne?"
"aku ingin bertanya sesuatu" ucap Luhan lalu menggigit bibir bawahnya, merasa ragu akan pertanyaan yang akan ia ajukan pada Sehun.
"apa?"
"eumm…kenapa semua orang–"
"Luhan!"
Pertanyaan Luhan terpotong saat ia mendengar ada yang memanggilnya, sontak ia pun menoleh ke arah sumber suara yang berasal di belakang Sehun.
"Jongin oppa!" seru Luhan riang sambil melambai-lambaikan tangannya pada kakak sepupunya yang berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa bersama Kyungsoo. Raut lembut Sehun pun berubah kembali sedingin es saat Luhan memanggil Jongin.
Set
Langsung saja Jongin menarik Luhan menjauh dari Sehun,"apa yang kau lakukan disini?" tanya Jongin dengan raut yang tidak bisa dikatakan santai. Luhan melihat sepertinya Jongin sedang marah.
"aku…aku hanya ingin bertemu dengan Sehun oppa" jawab Luhan takut-takut.
Sehun melihatnya tak kalah emosi tapi ia harus menahannya karena ia tidak mau image 'pemuda baik-baik' yang ia bangun saat bersama Luhan hancur. Sedangkan Kyungsoo hanya melihat khawatir Jongin-Luhan-Sehun.
"mana Wufan?"
"Wu-Wufan sedang ke kantin"
"ayo kembali ke kelasmu, disini berbahanya" ucap Jongin dengan melirik ke arah Sehun, membuat namja pucat itu mengepalkan tangannya erat-erat mungkin jika di depannya tidak ada Luhan dan Kyungsoo, kepalan tangan itu sudah mendarat di wajah Jongin.
"tap-tapi aku masih–"
"kau masih sakit, jangan keluar sembarangan lagi!" potong Jongin dengan suara yang agak meninggi. Luhan mengkerut melihat kakak sepupunya yang memang sedang emosi saat ini, ia pun merapatkan tubuhnya ke arah Kyungsoo meminta perlindungan.
"eonnie!"
Kyungsoo yang mengertipun mengusap lengan Luhan untuk menenangkan gadis itu,"Jongin, tahan emosimu, kau membuatnya ketakutan" tegur Kyungsoo.
Jongin menghembuskan nafanya kasar lalu dengan cepat ia menarik Luhan kembali.
"kau harus kembali ke kelas"
Luhan pun akhirnya hanya menurut saat Jongin membawanya pergi namun sebelum itu ia sempatkan membungkuk pada Sehun,"annyeong Sehun oppa" Sehun hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Grep
Baru saja Kyungsoo ingin mengikuti Jongin dan Luhan tapi tangannya sudah di tahan oleh Sehun membuat tubuhnya bergetar takut.
"lepaskan Sehun!" Kyungsoo meronta, berusaha melepaskan cengkeraman erat tangan Sehun.
"lihat betapa sombongnya pacarmu itu" ucap Sehun sinis.
"apa maksudmu mendekati Luhan?"
Sehun tersenyum miring mendengarnya,"kau cemburu?"
"tidak, aku hanya khawatir. Luhan gadis baik-baik, jangan berbuat macam-macam padanya, atau kau akan menyesal!" peringat Kyungsoo berusaha memberanikan dirinya berkata seperti itu pada Sehun.
"kalau begitu tinggalkan Kim Jongin dan jadilah milikku"
Kyungsoo sontak menatap tak percaya ke arah Sehun. Bagaimana bisa Sehun berkata seperti itu, dia pikir Kyungsoo gadis macam apa. Sehun sendiri tidak mengerti apa yang ia katakan. Emosinya selalu naik jika melihat Kyungsoo bersama Jongin. Memang benar perhatiannya sekarang sudah beralih ke Luhan dan perlahan ia pun mulai jatuh cinta lagi pada cucu perempuan satu-satunya keluarga Kim tersebut, tapi entah kenapa sampai sekarang ia masih belum rela menerima kenyataan kalau Kyungsoo sudah milik Jongin.
"aku hanya ingin bersama dengan orang yang mencintaiku Sehun-ah. Aku tahu kau tidak benar-benar mencintaiku, kau hanya terobsesi untuk selalu menang dari Kim Jongin"
Mendengar jawaban Kyungsoo membuat Sehun tertegun. Benarkah seperti itu?
"memaksa seseorang untuk bersamamu hanya akan menyakiti perasaanmu sendiri. Cinta itu tidak memaksa Sehun-ah. Jika kau mencintai seseorang dengan tulus kau akan bahagia jika melihat orang yang kau cintai bahagia walaupun itu bukan denganmu"
Kyungsoo pikir sepertinya ini memang waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Sehun.
"Jongin tidak pernah merebutku darimu. Aku mulai jatuh cinta padanya saat ia menceritakan semua hal-hal yang baik tentangmu lalu ia berkata jika kau menyukaiku tapi entah kenapa aku merasa Jonginlah yang menyukaiku"
Dan Sehun menyesal sekarang, menyesal kenapa dulu ia meminta Jongin untuk membantunya mendekati Kyungsoo.
"hingga saat yang aku tunggu-tunggu tiba, saat dimana Jongin mengungkapkan perasaannya padaku, tapi kau tahu ia tidak pernah memintaku untuk menjadi kekasihnya karena ia masih memikirkan persahabatan kalian. Akulah yang memintanya untuk menjadi kekasihku dan kau tahu? Aku ditolak"
Sontak Sehun membelalakkan matanya menatap Kyungsoo, merasa tidak percaya dengan apa yang gadis itu ceritakan.
"ia masih memikirkanmu dan ia menyuruhku untuk lebih memperhatikanmu sampai 3 hari kemudian ke egoisannya mulai muncul dan ia yang berbalik memintaku menjadi kekasihnya walau ia tahu apa risikonya nanti"
"maafkan aku Sehun-ah. Aku sudah berusaha untuk mencintaimu tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, mianhae" ucap Kyungsoo dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Cengkeraman Sehun perlahan melemah di tangan Kyungsoo. Namja itu masih mencerna baik-baik apa yang Kyungsoo ceritakan padanya. Apakah benar seperti itu?
"aku mohon maafkan kami!" pinta Kyungsoo tapi Sehun hanya diam saja, masih mempertahankan sikap dinginnya.
"pergilah!" titah Sehun kemudian lalu memalingkan mukanya.
Kyungsoo pun mendongakkan kepalanya menatap Sehun. Namja itu bahkan belum menjawab permintaan maafnya.
"Se-Sehun–"
"aku sudah melepaskanmu, sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran!"
Mendengar nada sehun yang sudah meninggi, dengan ragu Kyungsoo pun membalikkan badannya dan dengan langkah pelan berjalan menjauh walau masih ada yang mengganjal jika Sehun belum menjawab permintaan maafnya. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, Kyungsoo membalikkan badannya kembali ke arah Sehun.
"Sehun-ah!" panggil Kyungsoo dan berhasil membuat Sehun menoleh ke arahnya.
"mulai sekarang belajarlah mencintai seseorang dengan tulus. Aku yakin kau akan mendapatakan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Dan satu lagi yang harus kau tahu, Jongin dan aku masih sahabatmu, annyeong!" pamit Kyungsoo dengan sedikit membungkuk.
Sehun masih saja diam memandang kepergian Kyungsoo tanpa merubah raut datarnya meskipun ia merasa sesuatu yang mengganjal dihatinya selama ini perlahan menghilang setelah mendengar penjelasan dari gadis itu.
Benarkah apa yang Kyungsoo ceritakan tadi? Atau jangan-jangan Kyungsoo hanya berbohong agar ia tidak membenci Jongin lagi? Namja itu mengusap wajahnya prustasi, entahlah ia tidak tahu harus percaya atau tidak.
~SS2~
"oppa, kita harus ke ruang kesehatan dulu karena Wufan pasti mencariku disana" pinta Luhan pada Jongin.
"kita langsung ke kelasmu saja, sebentar lagi waktu istirahat berakhir, nanti biar aku yang memberitahu Wufan"
Luhan pun mengangguk menyetujuinya. "oppa, jangan beritahu Wufan kalau tadi aku menemui Sehun oppa ne?"
Mendengar itu Jongin pun dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia kemudian beralih memegang bahu Luhan dan menatap lekat adik sepupunya.
"oppa peringatkan padamu jangan berurusan dengan Sehun lagi, mengerti?"
"kenapa oppa bicara seperti itu? Bukankah kalian berteman?"
"itu dulu, sekarang sudah tidak lagi"
"kenapa?" tanya Luhan lagi yang semakin bingung.
"kau tidak perlu tahu, yang pasti oppa tidak ingin Sehun berbuat macam-macam padamu. Oppa merasa ia tidak tulus berteman dengamu"
"oppa tenang saja, Sehun oppa namja yang baik, kau tidak usah khawatir"
"SEKALI AKU BILANG TIDAK YA TIDAK!" bentak Jongin membuat tubuh Luhan bergetar takut dan matanya mulai berkaca-kaca.
Jongin pun mengutuk mulutnya yang lepas kendali. Tidak seharusnya ia membentak Luhan dan membuat sepupu kesayangannya itu takut.
Dengan cepat ia memeluk Luhan saat mendapati adik sepupunya itu mulai menangis,"oppa minta maaf, oppa tidak bermaksud membentakmu, sudah jangan menangis ne?" ucap Jongin berusaha menenangkan Luhan dengan membelai lembut kepala gadis itu.
"kenapa kalian semua melarangku untuk berteman dengan siapapun, apa aku tidak pantas memiliki teman?"
Jongin menggelengkan kepalanya tidak setuju,"bukan begitu Lu, kami hanya khawatir padamu karena kami tidak ingin mereka berbuat yang tidak-tidak padamu"
"khawatir kalian sudah berlebihan, aku bukan putri raja yang harus dikawal terus menerus dan aku bukan anak kecil lagi sekarang, biarkan aku belajar menjaga diriku sendiri dan mengenali lingkungan disekitarku oppa"
"tidak, kau masih tetap rusa kecilku yang masih butuh pengawasan dari kami"
Luhan melepaskan paksa pelukan Jongin padanya,"oppa!" protesnya jengkel. Kenapa kedua kakaknya itu menjadi sangat menyebalkan seperti ini.
"jangan protes ini juga untuk kebaikanmu" ucap Jongin dengan nada tegas sambil menghapus air mata Luhan sampai kering. Sedangkan gadis itu masih memasang wajah cemberutnya.
"Jongin, ada apa dengan Luhan?" tanya Kyungsoo yang baru datang.
Astaga! Jongin baru sadar kalau sedari tadi Kyungsoo tidak bersama mereka.
"eonnie~" dan Luhan beralih memeluk Kyungsoo.
"ada apa?" tanya Kyungsoo.
"namjachingumu itu sangat menyebalkan" adu Luhan. Jongin hanya memutar bola matanya.
"tidak, Jongin oppa begitu juga untuk kebaikanmu"
Jongin menjentikkan jarinya membenarkan jawaban Kyungsoo. Luhan pun semakin mengerucutkan bibirnya. Kenapa semua orang sama saja –pikirnya.
"kau dari mana?" tanya Jongin pada Kyungsoo.
Kyungsoo terlihat kebingungan menjawabnya. Tidak mungkin ia mengatakan pada Jongin kalau tadi ia ditahan dulu oleh Sehun, bisa-bisa Jongin semakin emosi.
"ak-aku…aku ke toilet dulu tadi" Kyungsoo menghela nafas lega saat Jongin mengangguk percaya dengan alasannya.
"sebaikanya kita antar Luhan ke kelas sekarang, bell sudah berbunyi" usul Kyungsoo karena ternyata bell masuk sudah berbunyi tanpa mereka sadari. Jongin mengangguk dan bersiap menggandeng Luhan tapi segera ditepis oleh gadis itu. Sepertinya sepupu kesayangannya itu masih kesal padanya.
"aku dengan Kyungsoo eonnie saja, Jongin oppa sudah tidak asyik lagi. Kajja eonnie!" ajak Luhan dengan muka cemberut saat melirik ke arah Jongin. Kyungsoo terkekeh melihat raut cemberut Luhan yang justru sangat imut, sementara Jongin hanya menghela nafasnya lalu mengikuti kedua gadis itu dari belakang.
~SS2~
"aku pulang!"
Mendengar suara itu membuat Yixing mengalihkan padangannya yang semula melihat acara televisi ke sumber suara tersebut yang ternyata berasal dari suaminya. Malam ini seperti biasa Suho pulang malam lagi karena memang pekerjaannya sangat menumpuk.
Yixing pun tersenyum menyambut kepulangan suaminya dan segera mengambil alih tas kerja Suho.
"anak-anak sudah tidur?" tanya Suho.
"Lulu dan Joonie sudah tidur tapi sepertinya Wufan belum, lihat saja lampu kamarnya masih menyala"
"pasti bermain game lagi, lama-lama aku akan mencabut playstationnya jika ia terus-terusan bermain game sampai larut malam"
Yixing terkekeh melihat suaminya yang sepertinya jengkel dengan kebiasaan putranya itu,"kalau nilainya nanti tidak bagus kau boleh mencabutnya, lagi pula dulu Wufan tidak meminta untuk dibelikan playstation tapi kau sendiri yang membelikannya jadi terima saja akibatnya"
Suho yang merasa terpojok hanya bisa menghela nafasnya. Ya, ini memang kesalahannya juga, berawal dari 3 tahun yang lalu. Niatnya hanya ingin menyenangkan anaknya dengan memberikan hadiah playstation di ulang tahun Wufan ke 13 tapi justru itu menjadi kebiasaan buruk untuk Wufan karena sering bermain game sampai lupa waktu. Maka dari itu ia tidak akan mengulanginya pada Joonma –anak bungsunya. Tapi sejauh ini untungnya Wufan masih bisa konsisten dengan nilai-nilainya yang cukup membuat orang tuanya bangga.
"oh iya bagaimana hari pertama Lulu di sekolah?" tanya Suho saat mereka sudah berada di dalam kamar mereka.
"berjalan dengan lancar dan kau tahu, putrimu itu seharian ini tidak berhenti bercerita tentang sekolah barunya" jawab Yixing yang saat itu menyiapkan air hangat untuk suaminya di kamar mandi. Suho pun tertawa mendengarnya. Luhan memang sangat bersemangat di hari pertamannya.
"tapi masih ada saja protesan darinya" lanjut Yixing setelah keluar dari kamar mandi lalu menghampiri suaminya untuk melepaskan dasi yang masih melilit di kerah kemeja Suho.
"protes bagaimana?"
"katanya Wufan dan Jongin sudah keterlaluan karena tidak membebaskannya berteman dengan siapapun di sekolah"
Suho lagi-lagi menghela nafasnya,"sepertinya memang Wufan dan Jongin sudah tertular sifatmu yang overprotektif"
"biarkan saja seperti itu, aku jadi sedikit lebih tenang jika Wufan dan Jongin bisa menjaga adiknya dengan baik"
"asal jangan terlalu berlebihan saja, Lulu juga butuh teman baru sayang" ujar Suho sambil membelai lembut pipi istrinya saat Yixing memasang tampang khawatir jika memikirkan Luhan yang sekarang sudah sedikit bebas.
"tenang, semua akan baik-baik saja, tidak usah terlalu khawatir" lanjutnya menenangkan Yixing lalu mencium pipi istrinya sebelum memasuki kamar mandi.
Yixing pun menghembuskan nafas panjang,"yah, aku harap juga begitu" gumam Yixing,"Tuhan, aku mohon lindungilah anak-anakku"
~SS2~
"BRENGSEK!" umpat Sehun dengan membanting tas nya kasar ditempat tidur. Mukanya sudah merah padam pertanda kalau namja itu dalam mood tidak baik sejak tadi saat masih di sekolah dan membuat semua anak buahnya tidak ada yang berani mendekat. Kalau saja di sekitarnya ada anak-anak punk yang sok jagoan seperti yang sering ia temui pasti sudah akan menjadi santapan tangan mautnya yang sekarang sedang bernafsu untuk memukul seseorang.
Ini sudah genap seminggu Luhan masuk sekolah tapi sampai sekarang Sehun belum bisa mendekati gadis itu karena selalu ada Wufan yang tidak pernah lepas dari Luhan.
Wufan sudah tahu sifat berandalnya, jadi mana mungkin kembaran Luhan itu akan dengan begitu saja membiarkan adiknya begaul dengan ketua geng brutal disekolahnya. Kalau saja Wufan bukan kakak Luhan, sudah dari kemarin-kemarin Sehun menyuruh anak buahnya untuk menyingkirkan Wufan agar tidak terus menempel pada Luhan. Tapi Sehun masih punya otak untuk tidak melakukan itu, mencari gara-gara dengan Wufan hanya akan membuat image 'pemuda baik-baik' yang sudah ia bangun untuk Luhan hancur. Tidak, Sehun tidak mau Luhan menjauhinya jika mengetahui sisi lain dari dirinya.
Ia hanya harus berpikir bagaimana cara agar Wufan tidak terus-terusan menempel dengan Luhan dan tentunya tanpa kekerasan.
'ayo Byun berpikirlah!'
Cukup lama Sehun berpikir sambil mondar-mandir di dalam kamarnya tapi…
"sial!" umpatnya lagi karena belum juga menemukan caranya. Tapi bukan Byun Sehun namanya jika tidak mendapat solusi untuk masalahanya sendiri walaupun agak lama berpikir.
Tok tok tok
"Sehun!" panggil Chanyeol yang baru saja mengetuk pintu kamar itu.
"ne?"
"cepat ganti bajumu dan makan malam, kami tunggu di bawah"
"aku belum lapar hyung, kalian makan duluan saja" jawab Sehun setengah malas.
"Sehun jangan membuat noonamu berteriak lagi, sekarang cepat turun dan makan malam bersama kami" paksa Chanyeol. Istrinya itu memang menjadi lebih sering marah-marah sejak Sehun dikeluarkan dari asrama dan sekarang tinggal dirumahnya. Sebenarnya Chanyeol sudah sering menasihati Baekhyun agar tidak terus mengomel pada Sehun, ia takut Sehun menjadi tidak betah dirumah dan mencari pelampiasan di luar tapi entahlah istrinya itu selalu saja emosi jika melihat adik semata wayangnya yang selalu berlulah itu.
Sehun pun mengacak rambutnya prustasi,"ya ya sebentar lagi aku turun"
"baiklah, jangan lama-lama" ucap Chanyeol sebelum meninggalkan kamar Sehun.
Dengan tampang kusut Sehun berjalan menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Mata sipit nan tajam miliknya menatap pantulan wajahnya yang basah di cermin. Keningnya berkerut tanda ia masih berpikir. Ia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan cara untuk menjauhkan Wufan dari Luhan.
Kembali ia basahi wajahnya dengan air yang terlihat jernih itu sehingga sesekali Sehun meminumnya dan siapa tahu saja air segar ini juga dapat menyegarkan otaknya. Tapi tidak lama kemudian kegiatannya berhenti, kepalanya mendongak menatap cerimin kembali dengan wajah dan rambut yang basah.
'tunggu! Selain Wufan masih ada lagi yang selalu menempel dengan Luhan'
Tidak membutuhkan waktu lama, seringai Sehun pun akhirnya keluar, pertanda ia sudah menemukan cara untuk melancarkan aksinya.
"BYUN SEHUN, CEPAT TURUN ATAU AKU TIDAK AKAN MEMBERIMU MAKAN SELAMA SATU MINGGU!" dan suara menggelegar milik kakak perempuannya pun terdengar.
"haiish! YA, SEBENTAR" jawabnya dengan berteriak juga,"cerewet" lanjutnya lirih, tentu saja karena kalau sampai Baekhyun mendengarnya mungkin Sehun akan ditendang sampai ke Thailand.
Dengan cepat ia pun mengusap wajahnya dengan handuk sampai kering. Kepalamya sudah terasa ringan sekarang.
"baiklah, tidak ada salahnya untuk dicoba" gumamnya setelah selesai mengeringkan wajahnya. Seringai tipis pun tercipta kembali.
'bersiaplah menjadi anak buah Byun Sehun selanjutnya, nona'
~SS2~
"kau yakin tidak ikut pulang bersamaku?" tanya gadis bermata sipit bernama Kang Sooji pada Zitao yang berjalan beiringan dengannya. Saat ini mereka telah selesai mengikuti ekskul tenis dan bersiap untuk pulang.
Kepala Zitao mengangguk,"rumahku berbeda arah dengan rumahmu, aku tidak mau merepotkan Kang ahjussi" tolak Zitao.
"asataga Huang Zitao, tidak ada yang direpotkan, appaku sama sekali tidak keberatan kalau harus mengantarmu terlebih dahulu, lagi pula kau tidak takut naik bus sore-sore begini?" bujuk Sooji.
"Ya! Aku sudah biasa naik bus sore-sore seperti ini, bahkan ada supir yang sudah aku kenal jadi kau tidak usah khawatir, aku pasti selamat sampai rumah" ujar Zitao meyakinkan Sooji. Hari ini ia memang harus pulang sendiri karena kegiatan ekskul yang mengharuskan ia pulang sore. Sedangkan Luhan sama sekali tidak mengukuti ekskul karena kondisi fisiknya yang lemah jadi mana mungkin orang tuanya mengizinkan Luhan mengikuti kegiatan yang sangat melelahkan itu.
Sooji menghela nafasnya,"ya sudah kalau begitu, hati-hati ya, aku pulang dulu, annyeong!" pamit Sooji sambil melambaikan tangan lalu berlari ke arah mobil ayahnya yang sudah sedari tadi menunggunya di depan gerbang.
Zitao pun balas melambai lalu berjalan kembali menuju lokernya untuk mengambil tas. Entah kenapa bulu kuduknya tiba-tiba meremang saat ia membuka lokernya. Tangannya perlahan mengusap tengkuknya. Kenapa perasaannya berubah menjadi tidak enak.
Ini masih sore, apakah hantu juga akan muncul di sore hari? Tapi bahkan mataharipun belum tenggelam sepenuhnya. Zitao jadi merinding sendiri dengan pikiran parnonya. Apa lagi ia merasa sedari tadi ada yang mengawasinya.
Sial! Kenapa sekolah sudah sepi sekali, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Kalau memang ada hantu yang mengganggunya ia hanya butuh berlari kencang dan saat keluar dari halaman sekolah maka hantu pun mungkin akan berhenti mengejarnya, tapi masalahanya yang ia takutkan adalah sesuatu yang baginya lebih mengerikan dari hantu.
Dengan cepat ia pun menutup lokenya kembali setelah mengambil tasnya. Ia harus segera keluar dari sekolah ini sebelum–
"hai cantik!"
–sesuatu yang tidak diinginkan mengganggunya.
Benar saja, muncul satu kuman didepannya dan setelah itu kuman-kuman yang lain mulai bermunculan. Mata Zitao terbelalak, tubuhnya bergetar takut dan perlahan berjalan mundur, tapi–
Duk!
Sial! Punggungnya menabrak sesuatu –ah tidak, lebih tepatnya seseorang.
"mau kemana sayang?"
Tubuhnya semakin bergetar saat medengar suara menakutkan itu tepat di dekat telinganya. Ia jadi menyesal tidak menerima tawaran Sooji tadi. 'oh Tuhan, selamatkan aku'
"ma-mau apa kalian?" tanyanya dengan menatap tajam ke arah namja-namja yang sekarang telah mengepungnya.
Salah satu namja berambut jabrik tersenyum miring sambil mendekat ke arahnya. Dengan cepat Zitao menangkis tangan pemuda itu saat akan menyentuh wajahnya.
"kau tidak perlu takut sayang, kami hanya ada sedikit urusan denganmu" ucap namja jabrik itu.
"maaf, aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, sekarang minggir aku ingin pulang!" ucap Zitao lalu berniat menerobos gerombolan namja yang ada di depannya. Tapi sayang sekali namja yang mengepungnya itu justru semakin merapat ke arahnya.
Mata Zitao mulai memerah, ia sangat takut sekarang. Walaupun anak buah Sehun sering mengganggunya tapi biasanya hanya 1 atau 2 orang saja, tidak pernah sebanyak ini. Dan sekarang apa yang bisa Zitao lakukan. Sekolah sudah sepi, satpam juga tidak terlihat di pos, lalu mau minta tolong kepada siapa?
Gadis itu sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menangis walau matanya sudah memerah dan air matanya terus mendesak ingin keluar. Baginya pantang menangis di depan namja-namja brengsek seperti mereka. Menangis hanya akan membuatnya terlihat lemah dan nona Huang ini tidak suka jika ada orang yang menganggapnya lemah.
"berhenti mendekat!" teriaknya saat namja-namja itu semkain mendekat ke arahnya,"jangan macam-macam atau aku akan berteriak"
Salah satu namja pun menertawainya dengan remeh,"teriak saja sekeras yang kau bisa, percumah tidak ada yang akan berani menolongmu" ingin rasanya Zitao menyumpal mulut namja itu dengan sepatunya.
Gadis itu meringis sambil menelan ludahnya kasar saat mengetahui tidak ada celah sedikitpun untuknya bisa kabur.
'Tuhan, tolong aku!' jeritnya dalam hati. Ayolah siapa yang tidak takut di kepung namja sebanyak ini ditempat sepi dan ia satu-satunya yeoja disini.
Grep
"YAK! APA YANG KALIAN LAKUKAN LEPASKAN!" ronta Zitao saat dua namja memegang erat tangan kanan dan kirinya,"TO–" belum sempat Zitao berteriak minta tolong, tangan namja yang ada di belakangnya sudah membungkam mulutnya. Tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak, cengkeraman namja-namja itu sangat kuat. Air matanya akhirnya turun, gadis itu menangis tanpa suara sambil tetap menatap tajam namja-namja yang ada di sekitarnya.
"jangan banyak bicara sayang, kau hanya perlu ikut dengan kami" bisik namja yang ada di belakangnya. Zitao pun tak henti-hentinya meronta tapi namja-namja itu tetap menyeretnya ke suatu tempat.
Matanya semakin terbelalak saat mereka berhenti di lorong buntu di mana sudah ada pasukan lain yang sepertinya memang sedang menunggu kedatangannya. Zitao semakin meronta saat mengetahui sang ketua juga ada di sana.
Sungguh selama bertahun-tahun di Sangwon, Zitao belum pernah sekalipun berhadapan langsung dengan Boss besar mereka, Byun Sehun. Baginya Sehun lebih menyeramkan dari pada boneka Chucky.
'astaga! Apa salahku Tuhan, aku mohon maafkan aku'
Melihat kehadiran anak buahnya yang sudah berhasil membawa targetnya, Sehun pun perlahan berjalan mendekat. Tubuh gadis itu semakin bergetar. Tangan yang sedari tadi membungkam mulutnya perlahan terlepas saat Sehun sudah berada tepat di depannya, berdiri dengan angkuh sambil melipat tangannya di dada. Cih! Ingin rasanya Zitao menghantam wajah sok jagoan itu dengan raket tenisnya.
"ka-kalian mau apa? Aku tidak punya urusan dengan kalian dan aku juga tidak mengganggu ketenangan kalian, jadi tolong lepaskan aku!" mohon Zitao yang tak henti-hentinya meronta.
Sehun hanya tersenyum miring mendengarnya,"tentu saja kau punya urusan denganku nona Huang dan aku akan melepaskanmu setelah kau bersedia melaksanakan tugas yang aku berikan padamu"
Mata Zitao terbelelak mendengarnya. Tugas? Hell, dia pikir dia siapa seenaknya saja memberi tugas. Apa Sehun pikir ia adalah salah satu anak buahnya? Cih! Sampai kucing bertelur pun Zitao tidak sudi menjadi anak buah berandalan itu.
"ap-apa maksudmu? Tugas apa aku tidak mengerti"
"tugas yang wajib kau laksanakan"
"cih! Memangnya kau siapa memberi tugas padaku seenaknya, aku bukan anak buahmu Byun" ucap Zitao mencoba memberanikan diri.
Sehun hanya terlihat menaikkan sebelah alisnya,"oh begitu. Baiklah sepertinya kau lebih memilih untuk menjadi santapan mereka" tunjuk Sehun ke arah anak buahnya yang sebagian memasang tampang penuh nafsu ke arahnya membuat Zitao semakin menegang dengan jantung yang sedari tadi berdetak tidak beraturan, keringat dingin pun tak henti-hentinya membasahi kulitnya.
"buka bajunya!" titah Sehun pada salah satu anak buahnya.
Mata Zitao melotot melihat namja berambut pirang mendekat kearahnya. Ia pun semakin meronta. Tidak, ia tidak mau nasibnya berakhir di tangan namja-namja brengsek ini.
"apa yang akan kau lakukan? Berhenti mendekat! Brengsek kau Byun. TOLONG!" teriaknya, tapi percumah kalau pun ada orang lain, orang itu pasti memilih pergi menjauh karena tidak mau berurusan dengan para berandal itu. Namja yang sedari tadi mencengkeram tangan Zitao sedikit kewalahan juga karena gadis itu terus saja meronta.
"hiks jangan aku mohon!" ucapnya meminta belas kasihan pada namja pirang yang sekarang berniat membuka resleting jaketnya. Namun sayang sekali namja itu tidak menghiraukannya.
Duk!
"AARRGHH!" namja itu mengerang kesakitan karena tiba-tiba Zitao menendang selangkangannya,"BRENGSEK!" umpat namja itu.
Zitao sontak memejamkan mata dan memalingkan wajahnya saat pemuda itu akan menamparnya.
"tunggu!" interupsi Sehun sehingga namja pirang itu mengurungkan niatnya untuk menampar Zitao.
"aku beri kau satu kesempatan lagi nona Huang, bersedia atau tidak?" tawar Sehun masih berusaha sabar menghadapi bocah panda itu. Sedangkan Zitao hanya terdiam manatap penuh kebencian pada Sehun dan anak buahnya.
"masih tidak menjawab juga? Baiklah kalau–"
"CEPAT KATAKAN APA MAUMU?"
Sehun menyeringai penuh kemenangan karena gertakannnya berhasil. Rahang Zitao semakin mengeras saat Sehun mendekat ke arahnya.
"jauhkan Wufan dari Luhan!"
Tbc
Maaf banyak typo
Thanks for reading: zoldyk, xiaolu odult, younlaycious88, irna.lee.96, Riyoung17, Shallow Lin, xelo, Lost Little Deer, Dandeliona96, ayuluhannie, fallforhaehyuk, candrasicoklatkeju0204, selvian.summer, bellasung21, Tikha Semuel RyeoLhyun, exindira, flawlessaliens, PeachyPanda, sydmooo, enchris.727, KissKris, hyejeong137, jesslynsjx, Ying Mei Kim, luhan8045, unicorn ajol, Guest, lisnana1, h3s0102, Ririnkristao, KimchiSeungyub, ImaCnn, whitevyy, Xyln, kanara, lee.joon1, Echa, Princess Zhang, RyeoYixing, aquaryoung21, zhitha.angel, chenma, Guest, Nava Angela, Cho Rai Sa, EXOTIC, hatakehanahungry, Aihara Kotoko, ShehoonluluLiu, Sheron.Kim98, hopely yanzha, mocca, rossadilla17, Guest, YeoSyeo, FSRifiqa, Josh8812, Haruka Michi & siders
See you next time!
