SIXTEEN SEASON 2
Chapter 7
Author: ByunnaPark
Genre: Family/Romance/little bit Hurt/Comfort (maybe)
Rate: T
Cast: LuHan, WuFan/Kris, Zhang Yixing, Kim Suho
Other Cast: Oh (Byun) Sehun, Huang Zitao
Pair: SuLay, KrisTao/Taoris, HunHan
Slight: KaiSoo, ChanBaek, ChenMin. dll
Disclaimer: ff ini milik saya, member EXO milik kita semua
Warning: OOC, GS, typo(s), gaje, sinetron mode on, ngebosenin, don't like, don't read.
Let's Start
Happy Reading
Author Pov.
"jauhkan Wufan dari Luhan!"
'GILA!'
Zitao semakin melebarkan matanya, menatap tak percaya pada putra bungsu keluarga Byun itu. Ternyata selain preman, brengsek, brutal, pemuda itu juga GILA –itu yang ada dipikiran Zitao. Bagaiaman bisa seenak pantat Sehun menyuruhnya menjauhkan Wufan dari Luhan yang notabene adalah saudara kembar. Bedebah macam apa ini?
"bagiamana? Tugasku mudah bukan?" ucap Sehun dengan senyum paling menjengkelkan dimata Zitao. Ingin rasanya Zitao mencakar-cakar wajah preman didepannya ini.
"sepertinya kau butuh rumah sakit jiwa untuk memperbaiki otakmu yang tidak waras itu, atau jangan-jangan kau amnesia sehingga lupa kalau mereka–"
"sssshh" Sehun meletakkan jari telunjuknya dibibir Zitao untuk menghentikan ocehan gadis itu.
"kau ternyata banyak bicara juga nona Huang dan mengenai status mereka….." Sehun memasang wajah seolah berpikir sambil mengelus dagunya lalu tidak lama kemudian menjentikkan jarinya,"…ah yaa bukan kah mereka saudara? Tapi…. Memangnya aku peduli?" lanjut Sehun dan disambut gelak tawa yang menggema di lorong buntu itu oleh anak buah Sehun.
Zitao semakin mengeraskan rahangnya, sungguh ternyata Sehun lebih busuk dari apa yang dilihatnya selama ini,"kau benar-benar gila Byun" teriak Zitao.
"mood ku sedang baik sekarang, jadi aku mempersilahkan kau memakiku sepuasmu, asal…" tangan Sehun beralih mencengkeram dagu Zitao,"….kau harus melaksanakan apa yang aku perintahkan, mengerti?" peringatnya dengan menatap tajam gadis itu.
"apa maksudmu sebenarnya?" tanya Zitao tak habis pikir dengan permintaan Sehun.
Sehun menyeringai lalu tertawa kecil,"itu sama sekali tidak penting untukmu"
"tentu saja penting brengsek, aku tidak sudi jika sahabatku berurusan dengan berandalan tengik sepertimu" gadis itu semakin mengeraskan rahangnya. Persetan dengan Sehun yang akan mengamuk tiba-tiba, emosinya sudah di ubun-ubun.
"hey…kau jangan khawatir, Luhan lebih aman jika bersamaku. Lagi pula aku juga ingin meringankan beban Wufan yang harus menjaga adiknya terus menerus, bukankah itu sangat merpotkan?"
Kepala Zitao menggeleng kuat dengan air mata yang sedari tadi mengaliri wajahnya,"tidak, jangan! Aku mohon Sehun jangan ganggu Luhan. Dia…dia tidak tahu apa-apa, dia bukan gadis murahan yang bisa kau mainkan seenaknya" dan seketika itu juga Zitao menyesal mendukung Luhan untuk memasuki sekolah formal. Karena ternyata setelah keluar dari sangkar emas, sahabatnya itu justru masuk ke kandang singa.'Oh Tuhan, bagaimana ini?'
"ckckck, hey nona! Apa aku sebegitu buruknya dimatamu?" tanya Sehun dengan wajah polos,"lagipula siapa yang menganggap Luhan gadis murahan? Ck kau terlalu berlebihan"
"ap-apa…kau menyukai Luhan?"
"sekali lagi kukatakan, itu juga tidak penting untuk kau ketahui, tugasmu hanyalah menjauhkan Wufan dari Luhan" kali ini tatapan Sehun sangat tajam dan berkata penuh penekanan.
Zitao menelan pahit ludahnya, bagaimanapun ia tidak rela jika Luhan jatuh ke tangan para berandal ini.
"tidak, sampai kapanpun aku tidak sudi melakukan apa yang kau perintahkan. Aku tidak mau Luhan hancur ditanganmu" geram Zitao.
Sungguh melihat Sehun saat ini mungkin bisa membunuhnya. Namja itu semakin mengeluarkan aura yang sangat mengerikan setelah mendengar ucapannya.
"kalau begitu kau yang akan hancur"
Mata Zitao kembali membulat.
"lakukan apa yang ingin kalian lakukan!" titah Sehun entah pada siapa.
Ini pertanda tidak baik, Zitao tau itu. Kepala nya menoleh ke kanan dan ke kiri, sebagian anak buah Sehun menatapnya seperti ingin menelannya hidup-hidup. Seorang namja berambut pirang kembali mendekatinya. Namja itu mencengkeram bagian depan jaket Zitao.
"bersiaplah nona kau akan menjadi milik kami hari ini" bisiknya membuat tubuh Zitao menegang hebat.
"tidak lepaskan aku, aku mohon lepaskan aku! TOLONG!" teriaknya dengan terus meronta. Namja itu tidak main-main, ia berhasil membuka resleting jaket yang Zitao kenakan lalu melepaskannya dengan kasar. Dari belakang ia merasakan ada yang menggelitik tengkuknya dengan nafas seseorang yang kemudian berbisik,"nikmati saja nona" tangis Zitao mulai menjadi.
Sehun hanya menatap datar ulah anak buahnya yang saat ini tengah memberi pelajaran gadis itu karena tidak mau melakukan apa yang bos nya perintahkan. Ia beralih menyalakan rokoknya tanpa peduli dengan tangisan pilu seorang gadis yang sebenarnya tidak bersalah dan hanya menjadi korban keegoisannya. Sehun tahu perbuatannya ini sangat tidak manusiawi tapi entahlah keinginannya untuk mendekatkan diri dengan Luhan membuatnya buta. Membuat marah Sehun sama saja bunuh diri.
Keningnya mengernyit saat melihat salah satu anak buahnya datang dengan raut yang tidak bisa dikatakan santai,"ada apa?" mendengar pertanyaan Sehun, namja itu kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Sehun, sesaat kemudian membuat Sehun membuang rokok yang belum setengahnya ia hisap ke lantai lalu menginjaknya.
"STOP!" interupsinya saat salah satu anak buahnya berusaha mencium Zitao. Ia lalu berjalan mendekat kearah gadis yang sudah terlihat lelah dan putus asa karena terus memberontak dari cengkeraman anak buah Sehun. Sekali lagi Sehun mencengkeram dagu Zitao agar mendongak menatapnya,"aku tidak mau tahu, kau harus melakukan apa yang aku perintahkan padamu, kalau tidak… kau tahu sendiri akibatnya"
"cuuiih!"
Sehun memejamkan matanya saat Zitao meludahinya. Namja itu berusaha menahan amarahnya karena tidak ada waktu lagi untuk menanggapi pemberontakan gadis itu,"aku anggap ini adalah jawaban 'ya' darimu" ucapnya datar lalu memberi instruksi pada anak buahnya agar melepaskan Zitao dan segera pergi dari tempat ini.
Tubuh Zitao melemas setelah kepergian Sehun dan anak buahnya. Tubuhnya merosot ke lantai, tangannya merapatkan kemejanya yang dua kancingnya berhasil dibuka. Gadis itu menangis sambil menekuk lututnya dan menenggelamakan wajahnya disana. Ia tidak tahu, kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga terjebak dengan situasi mengerikan seperti ini. Hatinya bimbang apakah ia harus melakukan apa yang Sehun perintahkan padanya atau tidak. Jujur di lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak mau, tentu saja karena ia sangat menyayangi Luhan. Mereka tumbuh bersama dan Luhan adalah sahabat terbaik yang Zitao miliki. Tapi kalau sampai ia tidak melakukan itu, dirinya sendiri yang menjadi korban. Kepala Zitao menggeleng. Tidak, ia tidak mau hancur di tangan para berandal itu. Ia adalah anak satu-satunya keluarga Huang dan tentu harapan bagi kedua orang tuanya. Tentu saja ia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Jadi apa yang harus Zitao lakukan untuk lari dari situasi ini? –ia menjerit-jerit dalam hati mengutuk perbuatan anak buah Sehun yang telah melecehkannya. Rambutnya semakin kusut saat ia tidak juga berhenti menjambaknya.
"hiks maafkan aku Lulu, mafkan aku"
~SS2~
Gelak tawa menggema di sepanjang koridor lantai 1 SMA Sangwon yang berasal dari 4 orang siswa laki-laki. Sepertinya mereka baru saja mengikuti ekskul basket karena 2 diantara mereka masih memakai seragam basket sedangkan 2 yang lainnya sudah memakai seragam mereka kembali. Mereka berseru dengan saling mengoper bola basket secara bergantian sambil terus berjalan.
"hey Kim! Sebenarnya apa yang kau makan, kenapa tubuhmu bisa tinggi sekali? Apa sampai sekarang kau masih meminum susu setiap pagi?" tanya seorang namja berbadan sedikit berisi pada namja paling tinggi di antara mereka, lalu disambut gelak tawa dari temannya yang lain.
"asal kau tahu, Kim sulung ini makan bambu setiap hari" sahut Taeyong dan mereka pun tertawa kembali.
"sialan kau" umpat Wufan lalu melempar Taeyong dengan bola basketnya,"tapi kau benar Shin, kalian memang harus meminum susu setiap pagi agar bisa tumbuh tinggi sepertiku" ujar Wufan sambil menepuk-nepuk kepala temannya satu-persatu.
"Ya! Asal kau tahu, tinggiku normal untuk anak usia 16 tahun, tinggimu saja yang tidak normal" sungut Taeyong tidak terima dan diangguki 2 yang lainnya. Ia sudah merasa tubuhnya tinggi, Wufan saja yang kelewat tinggi.
Wufan terkekeh lalu mengendikkan bahunya,"terserah"
"ngomong-ngomong kapan kau akan mengenalkan kami pada adikmu Kim?" tanya namja berambut sedikit ikal bernama Choi Inho.
"adikku tidak akan aku kenalkan dengan orang sembarangan" ujar Wufan cuek.
Tuk
"aww!" ringis Wufan setelah Inho memukul kepalanya dengan kunci motor.
"kami bukan namja sembarangan asal kau tahu" Inho pun mendengus kesal sedangkan Taeyong hanya tersenyum menang merasa selangkah lebih maju dari teman-temannya yang lain karena ia sudah berkenalan dengan Luhan secara langsung dan mereka pun berteman sekarang.
"sungguh adikmu itu menggemaskan sekali seperti boneka, rasanya aku ingin membawanya pulang lalu aku masukkan ke etalase agar aku bisa memandanginya setiap hari –aakkh!" pekik namja bermarga Shin saat Wufan mengapit kepalanya dengan lengannya.
"adikku bukan boneka sialan" sungut Wufan lalu menjitak berkali-kali kepala Shin Johyun.
"YA! YA! Lepaskan aku" ronta Johyun karena Wufan masih asik menjitakki kepalanya, sedangkan Inho pun tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"hiks…hiks…" langkah Taeyong terhenti saat samar-samar ia mendengar suara isakan seseorang.
"berhenti!" interupsinya menyuruh ketiga temannya yang lain untuk juga ikut berhenti. Wufan pun seketika melepaskan Johyun dari kungkungannya,"kau kenapa?" tanyanya pada Taeyong.
Namja manis itu meletakkan jari telunjuknya di bibir,"sssttt diam sebentar" titahnya sambil berkonsentrasi mendengar kembali suara isakan tersebut.
"kalian dengar?" tanya Taeyong setelah itu. Terlihat raut Inho yang bergidik ketakutan dan merapatkan tubuhnya dengan Johyun.
"apa itu suara hantu?" tanya Inho.
Pletak
Dan dengan senang hati Taeyong menjitak kepalanya,"di jaman modern seperti ini kau masih percaya hantu?" tanya Taeyong tak percaya.
Tanpa mereka sadari Wufan melangkahkan kakinya mencari darimana asal sumber suara tersebut. Semakin ia melangkah maju suara itu semakin jelas. Taeyong yang memang sejak awal penasaran melangkah dengan cepat mendahului Wufan. Kepalanya menengok kekanan dan kekiri. Matanya memicing saat melihat siluet seorang gadis yang tengah terduduk di lantai depan ruang laboratorium.
"kemarilah Kim, cepat!" panggil Taeyong sambil melambaikan tangannya. Wufan pun mempercepat jalannya menghampiri Taeyong.
"dia manusia kan?" tanya Taeyong dan itu semakin membuat Inho mengkerut.
Tanpa menjawab terlebih dahulu Wufan langsung saja mendekati gadis yang sedang meringkuk di lantai sambil menangis. Dan dahi Wufan mengernyit sepertinya ia tahu siapa gadis itu. Ia lalu berjongkok didepan gadis tersebut.
"hey kau kenapa?" tanyanya sambil menyentuh lengan gadis itu. Tapi tiba-tiba gadis itu menyentakkan tangan Wufan dengan kasar lalu berteriak.
"PERGI! JANGAN GANGGU AKU, PERGI!" teriaknya, terlihat sekali kalau gadis itu tengah ketakutan.
Wufan membulatkan matanya, dugaannya benar, gadis itu adalah Huang Zitao. Apa yang terjadi dengan gadis itu? Kenapa ia terlihat ketakutan sekali? –begitu kira-kira pertanyaan yang ada dipikiran Wufan.
"tenanglah, jangan takut ini aku Kim Wufan" ucap Wufan sambil berusaha meraih bahu Zitao, berusaha menenangkan gadis itu. Sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi melihat keadaan Zitao yang sangat kacau.
Zitao terdiam dan berhenti meronta saat bertatapan dengan Wufan. Tiba-tiba tubuhnya berhenti menegang saat mengetahui siapa namja yang ada di hadapannya. Seketika itu ia merasa aman dan terlindungi. Gadis itu kembali menangis lalu menundukkan kepalanya.
Wufan yang kebingungan pun menoleh menatap teman-temannya yang berdiri di belakang. Taeyong hanya menggeleng dan mengendikkan bahunya melihat tatapan Wufan.
"hey katakan padaku apa yang terjadi?" tanyanya sekali lagi tapi Zitao masih tidak menjawabnya dan hanya menangis,"apa anak buah Sehun mengganggumu lagi?" tapi tetap saja Zitao bungkam.
Mata Wufan memeriksa keadaan gadis itu memang terlihat berantakan dan matanya melebar saat baru menyadari bahwa dua kancing teratas seragam Zitao terbuka. Tanpa banyak bertanya lagi Wufan mengeluarkan jaket dari tas dan memakaikannya pada tubuh gadis itu. 'sebenarnya apa yang terjadi padamu?' tanya Wufan dalam hati dengan tatapan khawatir.
Tidak tega melihat Zitao yang terus menangis, perlahan Wufan menarik tubuh gemetar gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya berusaha membuat Zitao agar sedikit tenang. Wufan dapat merasakan Zitao yang mencengkeram kuat kemeja depannya yang mulai basah.
Tayong perlahan berjalan mendekati Wufan dan menyentuh bahunya membuat Wufan sedikit menengok ke belakang,"dia kenapa?" tanya Taeyong dan dijawab gelengan oleh Wufan.
"kalian pulang duluan saja, aku akan menjaganya disini setidaknya sampai ia sedikit tenang" ujar Wufan.
"kau yakin?" dan Wufan pun mengangguk.
"baiklah hati-hati, kalau ada apa-apa hubungi aku"
Setelah itu Taeyong dan dua temannya yang lain meninggalkan Wufan dan Zitao sedirian di lorong buntu laboratorium. Sebenarnya ia ingin menemani Wufan tapi mengingat hari sudah semakin gelap dan pasti ibunya akan mengomel sepanjang malam jika Taeyong pulang terlambat.
Susana hening setelah kepergian Taeyong, hanya terdengar suara isakan Zitao yang masih belum berhenti. Wufan memilih untuk diam, ia membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Mungkin gadis itu masih shock dengan apa yang terjadi padanya dan Wufan akan menanyakan semuanya nanti saat Zitao sudah tenang. Tangannya terus mengusap punggung Zitao sambil terus menduga-duga apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah 15 menit berlalu dan Wufan yang hanya diam memeluk Zitao, mendengar tangisan gadis itu perlahan mereda. Ia lega dibuatnya karena itu artinya Zitao sudah sedikit tenang. Wufan merasakan pelukannya melonggar dan ia melihat Zitao menghapus air matanya sendiri.
Dengan tubuh gemetar, Zitao berusaha berdiri tanpa menatap Wufan lagi. Melihat Wufan hanya akan mengingatkannya pada mimpi buruk yang menimpanya hari ini.
"hey! Kau mau kemana?" tanya Wufan dengan menahan lengan Zitao.
Tapi lagi-lagi Zitao memilih diam lalu menyentakkan tangan Wufan dan kembali berjalan sempoyongan.
"kau ingin pulang? Ayo pulang bersamaku, aku janji tidak akan ngebut lagi" bujuk Wufan.
"pergilah! Jangan pedulikan aku" desis Zitao.
"bagaiamana aku bisa pergi dengan tenang melihat sahabat adikku yang terlihat kacau seperti ini, apalagi ini sudah malam" Zitao terdiam sejenak, ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya. Tapi mendengar kata sahabat membuat dadanya berdenyut sakit. "aku bukan tetangga yang kejam dengan membiarkanmu pulang sendirian dalam keadaan seperti ini. Lagipula orang tuamu pasti akan bertanya ini itu padamu kenapa pulang terlambat, setidaknya jika kau pulang bersamaku ada aku yang akan menjawab semua pertanyaan orang tuamu dan mereka pasti lebih mempercaiku" yakin Wufan sekali lagi dengan percaya diri. Sungguh ini kali pertama ia bicara panjang lebar dengan anak tunggal Huang itu.
Zitao menatap Wufan dengan matanya yang masih berkaca-kaca. Ia melihat kekhawatiran dari setiap ucapan dan tatapan namja itu padanya. Ya, Wufan benar hari sudah semakin larut dan pasti ibunya akan menyambutnya dengan serentetan pertanyaan kenapa hari ini pulang terlambat.
"ayo!" ajak Wufan sekali lagi. Tapi Zitao masih diam tidak memberi reaksi apapun dan itu membuat Wufan berdecak jengkel. Ditariknya tangan gadis itu agar berjalan mengikutinya.
Zitao yang awalnya kaget pun akhirnya hanya pasrah saja saat Wufan menariknya menuju parkiran dimana motor Wufan berada.
"jangan takut, kali ini aku akan menjalankan motorku seperti siput" canda Wufan diikuti dengan senyum tipisnya, bermaksud mencairkan suasana.
Tanpa sadar Zitao mengangguk pelan dan segera menaiki boncengan motor tersebut. Tangannya dengan kuat mencengkeran seragam Wufan. Entah kenapa ia merasa sedikit tenang saat bersama Wufan, merasa aman dan terlindungi. Ya ia percaya sekarang, Wufan akan selalu melindungi musuh bebuyutannya.
~SS2~
Zitao sedikit bingung saat motor Wufan berhenti. Bukan dirumahnya tapi di sebuah cafe kecil yang tidak jauh dari sekolahnya.
Wufan yang mengetahui raut kebingungan Zitao hanya tersenyum sambil melepas helmnya,"aku rasa kau butuh sesuatu untuk menenangkan pikiranmu, tenang saja aku yang akan menjelaskan pada ibumu nanti" ujar Wufan menenangkan.
Tidak ada pilihan, Zitao pun mengikuti Wufan memasuki cafe tersebut.
"kau tidak ingin pergi ke toilet sebentar untuk cuci muka mungkin atau eumm... untuk merapikan seragammu" tawar Wufan dengan canggung sambil menujuk seragam Zitao yang terlihat berantakan sebelum mengajak gadis itu duduk.
Seketika itu Zitao baru tersadar akan penampilannya yang tidak bisa dikatakan rapi. Rambut berantakan dengan kemeja yang dua kancingnya terbuka serta wajah sembab. Tangan Zitao dengan cepat merapatkan jaket Wufan yang melekat ditubuhnya dengan wajah memerah lalu berbalik berjalan menuju toilet.
~SS2~
"sudah merasa lebih baik?" tanya Wufan setelah Zitao meminum teh hangat yang ia pesankan. Keadaan gadis itu sudah jauh lebih baik sekarang. Wufan lega dibuatnya.
Kepala Zitao mengagguk sebagai jawaban. Lidahnya masih terlalu kelu untuk hanya mengucapkan terima kasih. Tangannya menggenggam erat cangkir tehnya, menyalurkan kehangatan dari cangkir tersebut ke telapak tangannya. Jujur saja ia gugup dan merasa canggung jika berdua dengan Wufan seperti ini. Ditambah lagi ia bukan bersama Wufan yang biasanya, Wufan yang selalu menatapnya dingin, bicara seperlunya dan selalu mengajaknya bertengkar, tapi sekarang yang ada dihadapannya ini adalah Wufan yang lumayan cerewet, ramah, lembut dan sering menampakkan senyumnya. Oh astaga! Benarkah Zitao sedang bersama Kim Wufan sekarang atau pemuda lain yang mirip dengan Wufan?
"hey! Kenapa melamun?" tanya Wufan sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Zitao membuat gadis itu tersentak.
"ti-tidak"
"kalau boleh tahu, apa yang terjadi padamu sampai ketakutan seperti tadi?"
Mendengar pertanyaan Wufan, tubuh Zitao menegang dan ketakutan akan ancaman Sehun kembali mendatanginya. Bisakah ia menceritakan kepada Wufan tentang semuanya? tentang apa yang dilakuakn Sehun dan anak buahnya padanya? Atau tentang niat Sehun mendekati Luhan?
Zitao membuang padangannya ke segala arah dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Rasanya ingin sekali ia menghidari namja di depannya ini.
"ceritalah, jangan takut" ucap Wufan lembut. Dan Zitao tersentak sekali lagi saat merasakan tangannya di sentuh lembut oleh Wufan. Dengan cepat Zitao menarik tangannya kembali dan sekali lagi mebuang pandangannya ke arah lain, kemana saja asalkan tidak menatap Wufan. Jantungnya berdegup sangat kencang serta kedua pipi yang memanas. 'astaga! Ada apa denganmu Zi?'
"oh, maaf" ucap Wufan yang sadar telah berbuat lancang.
Suasana pun hening sejenak, Wufan masih menunggu gadis itu membuka suaranya. Ia yakin ada hal serius yang menimpa Zitao karena melihat raut gadis itu yang sangat ketakutan.
"me-mereka menggangguku lagi" suara Zitao akhirnya memecah keheningan. Wufan menatap lekat gadis yang ada di depannya yang saat ini kembali menangis. Sungguh, sebenarnya Wufan tidak tega melihatnya. Kalau saja Luhan yang menangis ia pasti akan langsung memeluknya, tapi ia sadar ia bukan siapa-siapa Zitao sehingga tidak berhak memeluknya sembarangan kecuali saat genting seperti tadi.
"bukan satu atau dua orang, ta-tapi ...sangat banyak, sampai aku tidak bisa menghitungnya. Me-mereka sangat mengerikan, mereka berusaha untuk..." Zitao menggantukan kata-katanya, tangannya mengusap air matanya,"untuk...hiks" Zitao menyerah tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi padanya. Ia kembali menangis sesenggukan jika mengingat kejadian tadi sore.
Wufan yang sudah tidak tega melihat Zitao menangis, menggeser duduknya dan segera mengusap punggung gadis itu yang bergetar, untuk sekali lagi menenangkan sahabat yang disayangi adiknya.
"sudah, tidak usah diteruskan jika kau tidak sanggup mengatakannya"
"hiks...aku takut Wufan, aku takut"
"tenang, jangan takut. Aku akan melapor ke kepala sekolah besok"
Sontak Zitao menoleh ke arah Wufan. Kepalanya menggeleng dengan mata basahnya,"jangan... jangan libatkan dirimu dalam masalah ini, mereka sangat mengerikan Wufan"
"tapi mereka harus dihentikan"
"tidak, mereka tidak bisa dihentikan dengan cara seperti itu, aku mohon padamu jangan katakan masalah ini pada siapapun termasuk Lulu, cukup hanya kita saja yang tahu, sekali ini aku mohon padamu"
Wufan mengepalkan tangannya, dalam hati mengutuk perbuatan anak buah Sehun yang menyebabkan Zitao seperti ini. Hatinya melunak seketika melihat raut memohon Zitao. Sungguh baru kali ini ia melihat anak tunggal Huang yang biasanya seperti macan betina berubah menjadi puppy menggemaskan yang butuh perlindungan.
"baiklah, aku tidak akan mengatakanya pada siapapun, tapi mulai sekarang berhati-hatilah. Jangan pergi tanpa ada yang menemanimu" pesan Wufan.
Zitao menarik nafasnya lega dan tersenyum tipis,"terima kasih"
~SS2~
"appa~ tidak bisakah appa membujuk eomma untuk memperbolehkan aku berangkat dan pulang sekolah naik kendaraan umum saja" pinta Luhan dengan bergelayut manja dilengan ayahnya. Mereka saat ini duduk di ruang tengah sambil menonton televisi, sedangkan dibawah ada Joonma yang terduduk di karpet sambil mengerjakan PR nya.
" jangan meminta yang aneh-aneh lagi, kalau eomma mendengarnya bisa-bisa eomma marah, Lulu mau eomma marah lalu tidak mengizinkan Lulu sekolah lagi?"
Kepala Luhan pun menggeleng dengan bibir mengerucut,"tapi, aku juga ingin mandiri seperti anak yang lainnya appa" rengek Luhan sekali lagi.
Suho menatap lembut putrinya,"appa dan eomma hanya tidak mau terjadi sesuatu padamu"
"ck! Appa terlalu berlebihan" Luhan berdecak kesal lalu beralih melipat tangannya didada dengan raut cemberut.
"apanya yang berlebihan?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba datang bergabung.
Luhan yang menyadari kehadiran ibunya mendadak gelagapan, takut kalau ibunya mendengar pembicaraannya dengan Suho.
"ti-tidak" jawab Luhan gugup lalu beranjak dari duduknya, memilih menemani Joonma mengerjakan PR. Sedangkan Suho hanya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya, selanjutnya ia menoleh kesamping saat sang istri duduk disampingnya dengan raut sedikit cemas.
"Wufan belum pulang?" tanya Suho yang mengetahui Yixing sedari tadi mencoba menghubungi putra sulungnya tapi sama sekali tidak tersambung. Mengingat ini sudah malam, orang tua mana yang tidak khawatir jika anaknya belum pulang.
Yixing menggeleng sambil menatap ponselnya,"nomornya tidak bisa dihubungi, bagaimana ini oppa? Bagaimana kalau ada apa-apa dijalan, bagaimana kalau–"
"ssstt! Tenanglah, Wufan pasti sebentar lagi pulang" potongSuho sambil mengusap lengan Yixing, berusaha untuk menenangkan istrinya.
"tenang, tenang, sudah malam seperti ini anakku belum pulang, bagaimana aku bisa tenang" sahut Yixing dengan meninggikan suaranya dan menatap sebal ke arah suaminya. Suho pun hanya bisa menelan ludahnya jika istrinya sudah seperti itu.
"aku pulang!" seru suara yang membuat Yixing bernafas lega.
"dari mana saja kau Kim Wufan, kau tidak tahu ini jam berapa?" tanya Yixing dengan muka merah sedikit emosi.
"ma-maaf eomma, motorku kehabisan bensin di jalan dan aku harus menuntunnya sampai aku menemukan penjual bensin" bohong Wufan. Tidak mungkin juga ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bisa-bisa ibunya itu akan mengintrogasinya habis-habisan.
"jika seperti itu, kau kan bisa menghubungi eomma atau appa sehingga tidak membuat kami khawatir Wu" ujar Suho ikut menceramahi putra sulungnya.
"ponselku mati, maaf membuat kalain khawatir"
Suho menghela nafasnya,"ya sudah, sekarang cepat mandi lalu makan malam" titahnya.
"ne" Wufan membungkukkan badannya. Tapi baru saja akan meninggalkan ruang tengah, suara Yixing menginterupsinya kembali.
"tunggu!"
Wufan mengerutkan keningnya lalu berbalik kembali menghadap orang tuanya.
"mendekat kemari!" pinta Yixing dan menyuruh Wufan untuk membungkukkan badannya sedikit. Wufan pun menurut.
Yixing menajamkan indera penciumannya, mengendus bau seragam sampai nafas putranya untuk memastikan saja apakah ada bau alkohol atau rokok.
Wufan memutar bola matanya,"eomma tenang saja, aku tidak merokok atau minum-minuman keras"
"bagus, ya sudah sana mandi" dan Wufan pun bergegas meninggalkan ruang tengah.
Luhan yang sudah bosan menonton acara televisi pun memilih mengikuti kakaknya naik ke lantai atas.
Cklek
Luhan membuka perlahan pintu kamar Wufan dan melihat kakaknya sedang berbaring di tempat tidur dengan memainkan bola basket. Ia pun berjalan mendekat dan ikut berbaring disamping Wufan. Wufan menoleh sekilas kearah Luhan lalu kembali memainkan bola basketnya.
"kau dari mana saja?" tanya Luhan.
"jangan ikut mengintrogasiku seperti eomma"
Luhan berdecak kesal dibuatnya,"aku kan hanya ingin tahu"
"sudah kubilang, motorku kehabisan bensin"
"tadi mama Huang menanyakan Zizi padaku, katanya Zizi juga belum pulang. Aku mencoba menghubunginya tapi tidak di angkat" Luhan mengerucutkan bibirnya.
Seketika Wufan berhenti memainkan bola basketnya, tubuhnya tiba-tiba membeku.
"apa kau tahu Zizi kemana?" tanya Luhan sambil memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan tangan.
"ti-tidak" suara Wufan pun terdengar gugup.
"OH!" pekik Luhan dengan menjentikkan jarinya,"apa jangan-jangan kalian pergi bersama?"
Mata Wufan melotot,"ka-kau ini bicara apa, mana mungkin aku pergi bersama anak panda itu, ck yg benar saja"
Luhan mengendikkan bahunya,"ya siapa tahu saja"
"itu tidak mungkin"
"jangan bicara seperti itu, kau bisa termakan kata-katamu sendiri"
Wufan memutar bola matanya malas lalu melemparkan bola basketnya ke keranjang.
"apa kau sudah menemukan yeoja yang kau suka?" tanya Luhan dengan raut ingin tahu.
"Lu, jangan bertanya yang aneh-aneh!"
"apa jangan-jangan tidak ada yeoja yang menyukaimu? Ck jelas saja, mana ada yang mau dengan namja tiang yang galak dan irit bicara" sindir Luhan.
"tapi aku tampan dan asal kau tahu fans ku banyak di sekolah"
Luhan memajukan bibir bawahnya,"benarkah? Lalu kenapa aku tidak pernah melihatmu mendekati salah satu fans mu? Kau malah terus mengawalku di sekolah"
"itu karena aku ingin menjagamu, aku tidak akan membiarkan para serigala itu mendekatimu"
"menjagaku atau ingin dekat-dekat dengan Zizi"
"YA!"
Luhan terkikik geli melihat kakaknya yang sedikit salah tingkah dengan wajah yang mulai memerah,"kenapa wajahmu merah begitu?"
Wufan langsung memalingkan wajahnya. Pemuda itu bangkit dari rebahannya,"aku mau mandi dan sebaiknya kau kembali ke kamarmu" ucapnya sambil melepas kancing seragamnya.
"kau mengusirku?"
"bagus kalau kau tahu"
"shireo!" tolak Luhan dan malah menyelimuti tubuhnya, meringkuk dengan hangat di tempat tidur kakaknya.
"Ya! Kalau ingin tidur, cepat pindah ke kamarmu sendiri" usir Wufan dengan menarik selimut yang dipakai Luhan, tapi Luhan menariknya kembali.
"aku ingin tidur disini sebentar Wu, kau ini pelit sekali"
"aku terlalu lelah untuk menggendongmu ke kamar"
"biar appa yang memindahkanku" jawab Luhan kali ini matanya sudah terpejam. Wufan jadi tidak tega mengusir adiknya. Ia pun akhirnya hanya mendengus dan menutupi wajah adiknya dengan baju seragamnya yang sudah penuh keringat.
"YAK!" teriak Luhan yang langsung mendudukkan tubuhnya karena mencium bau asam dari baju seragam Wufan dan segera melemparkan kemeja putih itu ke arah Wufan.
Sedangkan Wufan hanya melenggang santai keluar kamar tanpa menghiraukan adiknya yang bersungut kesal.
~SS2~
Baekhyun mengerutkan keningnya saat melihat Sehun bermain dengan kedua anak laki-lakinya di ruang tengah. Kapan anak itu pulang? Tidak biasanya sore begini adiknya itu tampak dirumah. Biasanya Sehun akan pulang larut malam dengan cara mengendap-endap seperti pencuri.
"ahjussi beri tahu, jadi anak laki-laki itu harus kuat kalau ada yang menjahili kalian, tonjok saja dia supaya tidak ada yang berani mengganggu kalian lagi, mengerti?" ujar Sehun pada Jaehoon dan Jihoon saat sebelumnya Jihoon mengadu pada Sehun tentang temannya yang nakal di sekolah.
"kemarin aku menendang kaki temanku karena sudah mencoret buku gambarku sampai ia menangis" ujar Jaehoon bangga.
"bagus, itu baru jagoan" Sehun pun mengacak-acak rambut keponakannya itu.
"kalau aku, baru melotot saja mereka yang menggangguku sudah menangis" kali ini Jihoon yang berkata.
Sehun tertawa mendengarnya,"kalian semua jagoan, dan ingat, jadi anak laki-laki tidak boleh men– aaarrrgghhhh! Noona lepaskan!" teriak Sehun kesakitan karena ternyata Baekhyun menjewer telinganya.
"apa yang kau ajarkan pada anak-anakku haah?" sungut Baekhyun dan semakin menarik kencang telinga Sehun sampai memerah.
"aku tidak mengajari apa-apa"
"kau pikir aku tuli"
"aku hanya memberitahu bagaimana menjadi jagoan"
"jagoan kepalamu" Baekhyun melepaskan tangannya dari telinga Sehun dengan kasar sehingga tubuh Sehun sedikit oleng ke samping.
"Jaehoon dan Jihoon jangan dengarkan apa yang dikatakan ahjussi ne? Kalian harus menjadi anak yang baik, jangan berkelahi dan tidak boleh nakal di sekolah, mengerti?" ujar Baekhyun menasihati kedua anak laki-lakinya sambil mengelus kepala keduanya. Sedangkan Sehun masih sibuk mengusap telinganya yang memerah.
"tapi kata Sehun ahjussi–"
"tidak!" sahut Baekhyun cepat memotong perkataan Jaehoon,"Sehun ahjussi bohong. Jaehoon dan Jihoon sayang eomma dan appa kan?" tanya Baekhyun dan di jawab anggukan oleh kedua putranya.
"kalau begitu Jaehoon dan Jihoon harus janji tidak nakal, tidak berkelahi dan tidak menggangu temannya ne? Janji?" pinta Baekhyun sambil menyodorkan jari kelingnya.
Kedua bocah laki-laki itu melirik Sehun sekilas yang masih mengusap telinganya, kemudian menautkan jari kelingking mungil mereka pada Baekhyun,"janji eomma"
Baekhyun tersenyum lalu mengusak surai kedua putranya,"sekarang belajar, sebentar lagi appa pulang, nanti appa marah kalau masih melihat kalian bermain, arraseo?"
"siap eomma!" seru Jaehoon dan Jihoon bersamaan sambil memberi hormat lalu mencium pipi Baekhyun, setelah itu mereka pun berlari ke kamar mereka.
Baekhyun beralih menatap garang adiknya dengan berkacak pinggang,"sekali lagi kau mengajari anakku yang aneh-aneh aku akan menendangmu dari sini" peringat Baekhyun dengan wajah sangar.
Sehun hanya memutar bola matanya,"lakukan saja, aku tidak takut karena Chanyeol hyung tidak akan membiarkanmu" ujar Sehun santai dan membuat Baekhyun semakin geram.
"YA!–"
"hey hey ada apa ini?" Tanya sebuah suara bass yang baru saja muncul dan itu adalah suara suami Baekhyun yang baru pulang kerja.
"katanya istrimu ini akan mengusirku" jawab Sehun lalu beranjak dari duduknya.
"Ya! Mau kemana kau, aku belum selesai bicara Byun Sehun!" teriakan Baekhyun pun hanya menjadi angin lalu bagi Sehun.
"sudahlah, kendalikan emosimu!" tenang Chanyeol sambil mengusap lengan Baekhyun.
"bagaimana aku tidak emosi jika dia mengajari Jaehoon dan Jihoon memukul temannya" dan Chanyeol pun tidak luput dari amukan Baekhyun.
Tanpa berkata apa-apa lagi Baekhyun beranjak pergi meninggalkan ruang tengah. Chanyeol hanya bisa menghela nafas lelah sambil melonggarkan dasinya. Sambutan penuh kasih sayang dari istrinya sekarang jarang ia dapatkan, yang ada hanya raut muram istrinya dan kemarahan-kemarahan yang ditujukan pada adiknya. Emosi Baekhyun menjadi tidak terkontrol sejak Sehun tinggal dengan mereka lagi.
Perlahan Chanyeol mebuka pintu kamarnya dan mendapati Baekhyun tengah menyiapkan handuk bersih untuknya, masih dengan wajah kusut.
"lama-lama aku bisa gila kalau begini terus" gumam Baekhyun sambil sibuk mencari-cari baju ganti untuk dipakai suaminya.
Greb
Aktivitasnya pun terhenti setelah merasakan pelukan hangat dari belakang dan sapuan nafas yang lembut dilehernya.
"jangan bicara seperti itu, kalau kau gila bagaimana denganku dan anak-anak?" ujar Chanyeol lirih.
Baekhyun menghela nafas berkali-kali demi meluruhkan emosinya. Seketika ia merasa bersalah karena melampiaskan kemarahannya juga pada sang suami. Tangan kanannya menggenggam tangan Chanyeol yang melingkar diperutnya dan tangan kirinya terangkat untuk mengusap pipi namja itu.
"maafkan aku, lagi-lagi aku menyambutmu pulang dengan marah-marah"
"jangan terlalu dipikirkan, percayalah Jaehoon dan Jihoon anak yang baik, mereka tidak akan mengecewakan kita"
"tapi tetap saja aku khawatir kalau Sehun akan membawa pengaruh buruk untuk anak-anak kita"
"Sehun pamannya sayang, ia tidak mungkin menjerumuskan keponakannya ke hal-hal yang tidak baik. Jangan terlalu keras pada Sehun, semakin kau keras terhadapnya, dia akan semakin mengabaikanmu. Kau tahu, dia hanya butuh kasih sayang" nasihat Chanyeol dan membuat Baekhyun terdiam dengan kepala yang menunduk, memikirkan setiap perkataan suaminya.
"aku harap mulai sekarang kau bisa bersikap lebih baik terhadapnya dan kurangi marah-marahmu itu. Aku tidak mau kau menjadi stress dan…. Hey! Aku dengar sering marah-marah akan membuatmu cepat tua" goda Chanyeol sambil menyetil hidung Baekhyun.
Baekhyun berdecak pelan lalu mencubit perut Chanyeol,"aww!"
"memangnya kenapa kalau aku terlihat tua? Kau mau mencari istri lagi?" sungut Baekhyun.
"naah kan marah lagi, apa aku harus menciummu agar kau tidak marah-marah lagi?" Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun agar berhadapan dengannya.
Bibir Baekhyun masih mengerucut namun tangannya terangkat melingkar di leher Chanyeol. Dengan ekspresi seperti itu justru membuat Baekhyun terlihat seperti gadis ABG yang tengah merajuk pada pacarnya. Masih imut dan terlihat menggemaskan, astaga! Tolong ingatkan Chanyeol bahwa istrinya ini sudah berkepala 3.
"baiklah aku tidak akan marah-marah lagi, aku tidak mau terlihat tua agar kau tidak melirik gadis-gadis muda diluar sana"
Chanyeol tertawa mendengarnya,"walaupun kulit wajahmu keriput pun aku tidak akan pernah melirik wanita lain, kau sudah mengikatku selama hampir 17 tahun sayang dan selama itu juga mataku selalu tertuju padamu. Astaga! Sebenarnya sihir apa yang kau gunakan?" canda Chanyeol dan Baekhyun ikut tertawa. Tangannya mencubit gemas pipi sang suami.
"aku menyihirmu dengan cintaku"
"ah! So sweet, I love you"
"I love you too"
Kecupan-kecupan kecil pun dilayangkan Baekhyun ke bibir Chanyeol, tidak melumatnya seperti biasa, ia hanya ingin sedikit menggoda suaminya. Chanyeol yang gemas pun segera menangkup wajah Baekhyun dan meraup bibir cherry itu dengan lumatan lembut.
Baekhyun tertawa geli saat Chanyeol juga menciumi setiap inci wajahnya,"Ya! Hentikan Park Chanyeol"
"tidak mau" dan Chanyeol semakin gencar menghujani wajah Baekhyun dengan ciuman-ciumannya.
Tok tok tok
Mendengar pintu yang diketuk mereka pun saling pandang sejenak,"anak-anak datang"
"siapa?" seru Baekhyun.
"ini Hyunnie eomma" jawab si pengetuk pintu yang ternyata adalah anak sulungnya.
"masuk sayang!"
Pintu pun terbuka menampakkan gadis mungil nan catik perpaduan antara Chanyeol dan Baekhyun. Berbeda dengan Jaehoon dan Yeolla, anak kedua dan bungsu Baekhyun itu sangat mirip dengan Chanyeol sepenuhnya. Sedangkan Jihoon baru mewarisi wajah imut Baekhyun namun tetap saja hidung Jihoon adalah hidung Chanyeol.
Gadis 9 tahun itu berlari kecil kearah tempat tidur lalu mendudukkan tubuhnya di antara Chanyeol dan Baekhyun. Tangan mungilnya tiba-tiba memeluk erat ibunya. Baekhyun mendekap anak sulungnya itu gemas sambil membelai dan mencium kepalanya. Tidak biasanya Hyunbi manja seperti ini.
Chanyeol terkekeh melihat putri sulungnya yang lain dari biasanya,"ada apa putri mahkota?" tanya Chanyeol setelah mencium pipi Hyunbi.
"Sehun ahjussi menyalakan musiknya keras sekali, aku tidak bisa tidur eomma" adu Hyunbi dengan mata sayu terlihat sekali gadis itu sudah mengantuk. Baekhyun pun menggeram jengkel.
"baiklah eomma akan menegur ahjussimu itu"
"jangan, biar aku saja" cegah Chanyeol sambil ingin beranjak dari duduknya namun dengan cepat Hyunbi menahannya.
"tidak usah appa, eomma! aku ingin tidur disini saja malam ini bersama appa dan eomma, bolehkah?" Tanya Hyunbi mendongak menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian. Suami istri itu juga ikut saling pandang sambil tersenyum, sepertinya ada yang merindukan pelukan dari orang tuanya.
"tentu saja sayang"
Hyunbi tersenyum senang mendengarnya,"gomawo eomma, gomawo appa, saranghae" ucap Hyunbi sambil mencium kedua pipi orang tuanya.
"nado saranghae chagiya" balas Chanyeol dan Baekhyun bersamaan. Dan lagi-lagi Hyunbi tersenyum bahagia saat kedua orangtuanya mencium pipinya secara bersamaan. Setiap hari Chanyeol dan Baekhyun sudah disibukkan dengan ketiga adiknya yang memang masih kecil, Hyunbi yang menjadi anak tertua pun tentu tidak ingin menambah sakit kepala orang tuanya, maka dari itu ia berusaha menjadi kakak dan putri yang baik dengan tidak berbuat ulah yang membuat orang tuanya marah. Jadi biarlah malam ini Hyunbi menghabiskan malam dengan bermanja-manja bersama orang tuanya.
~SS2~
Sehun membuka jendela kamarnya lebar-lebar dan angin malam yang terasa sejuk itu pun mulai memasuki kamarnya yang tidak bisa dibilang rapi itu. Dengan ditemani musik beraliran cadas, namja itu menyalakan rokoknya kemudian mendudukkan dirinya di kusen jendela, memandangi langit malam sambil sesekali menghisap rokoknya.
Jujur saja perasaannya tidak tenang setelah apa yang ia lakukan pada seorang gadis yang tidak bersalah tadi sore. Gadis itu pasti sangat ketakutan –pikir Sehun. Sungguh sebenarnya ia tidak bermaksud seperti itu, awalnya ia hanya ingin menakut-nakuti gadis itu agar mau melakukan apa yang ia perintahkan namun ternyata gadis itu sungguh berhasil membuatnya marah dan ia tidak bisa mengendalikan dirinya jika sudah marah seperti itu. Seorang Byun Sehun harus bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tanganya terulur untuk mengambil ponselnya di meja nakas, terlihat ia sedang mencari sesuatu di gallery nya dan tidak membutuhkan waktu lama untuk ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah foto seorang gadis yang tengah tersenyum bersama gadis-gadis yang lain namun dimata Sehun gadis bersurai coklat itulah yang paling menyilaukan matanya.
Sial! Luhan sudah membuat pikiran seorang Byun Sehun semakin tidak waras. Dari semua gadis yang pernah menarik perhatiannya, hanya Luhan yang tidak bisa hilang dari pikirannya barang sejenak. Gadis itu sudah berhasil menjeratnya, sangat kuat sampai Sehun sulit untuk melepaskannya. Wajahnya, kepribadiannya dan tingkah lakunya mampu membuat Sehun menyesal kenapa menjadi namja berandalan seperti ini.
Jika saja ia namja yang terkenal akan kebaikan dan kepintarannya mungkin jalannya untuk mendekati Luhan akan mulus tapi faktanya berbanding terbalik dengan itu.
Namja itu menghisap kuat rokoknya dan setelah itu membuangnya. Dengan cepat ia mencari kontak Luhan, ia ingin mendengar suara Luhan. Sehari tidak mendengar suara lembut saudara kembar Wufan itu mungkin membuat Sehun tidak bisa tidur.
"yeoboseo! Luhan?" sapanya saat telepon itu sudah tersambung.
"siapa?"
'SIAL!'
~SS2~
Wufan menjauhkan ponsel Luhan dari telinganya setelah orang yang menelepon menutupnya secara tiba-tiba. Keningnya sekali lagi berkerut melihat nama kontak si penelepon.
'SH?' –batin Wufan sambil mencari-cari tahu teman Luhan yang bernama SH.
Mata tajamnya kemudian melirik Luhan yang tengah menggeliat dibalik selimut tebal miliknya dan tidak lama mata rusa itu terbuka lalu menguap seperti sudah lama tertidur, padahal Luhan baru tidur 20 menit.
"apa yang kau lakukan dengan ponselku?" tanya Luhan dengan bibir yang mengerucut lalu merebut ponselnya dari tangan Wufan.
"siapa SH?" tanya Wufan tiba-tiba.
"ne?"
"siapa SH?"
Luhan menelan ludahnya gugup, bagaimana Wufan mengetahui inisial itu –pikir Luhan.
"ten-tentu saja temanku" tangan Luhan sudah berkeringat dingin sekarang melihat tatapan tajam kakaknya.
"siapa panjangnya dan kenapa namanya harus disingkat?"
Mata Luhan melirik kesana-kemari sambil mencari-cari jawaban yang tepat,"eum…. Namanya e…namanya Sunhee, aku tergesa-gesa saat menyipan nomornya jadi aku singkat saja dan aku lupa untuk menggantinya"
Wufan semakin memicingkan matanya,"Sunhee? Seperti nama perempuan"
"y-ya… Sunhee memang perempuan"
"tapi kenapa tadi suara laki-laki?"
Deg
Jantung Luhan semakin ingin lompat, ludahnya pun semakin terasa pahit. Apa yang harus ia jawab sekarang?
"mung-mungkin i-tu oppa nya. Sunhee tadi tidak masuk jadi pasti ia meminta oppanya untuk menanyakan tugas sekolah padaku"
"jangan bohong!"
"aku tidak bohong Wu. Ck, ya sudah, terserah kau percaya atau tidak, aku mau tidur sekarang" setelah itu Luhan beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar Wufan.
Luhan dengan tergesa-gesa segera menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya dari dalam. Ia tidak mau Wufan menyusulnya dan mengintrogasi lagi. Bisa gawat kalau Wufan tahu 'SH' itu Sehun. Untung saja Luhan sudah mengganti nama kontak Sehun di ponselnya setelah mengetahui kakaknya itu tidak terlalu suka dengan Sehun. Entah apa penyebabnya, Luhan pun tidak tahu. Setahunya Sehun namja yang baik tidak seperti yang dikatakan Wufan dan teman-temannya.
"Sehun oppa?" gumamnya sambil memandang ponselnya dengan raut berpikir. Ia bingung harus menghubungi Sehun atau tidak. Jantungnya sungguh berdetak tidak nyaman. Kenapa ia harus gugup seperti ini?
Setelah puas menggigiti kukunya, Luhan pun berlari kecil ke kamar mandi yang ada dikamarnya, memberanikan diri untuk menelepon Sehun. Bagaimanapun juga ia penasaran kenapa Sehun meneleponnya. Siapa tahu saja ada hal penting –pikir Luhan.
"yeoboseo! Oppa?" panggilnya setelah teleponnya tersambung.
"Luhan?"
"ya ini aku, maaf aku tidak tahu kalau oppa meneleponku"
"gwenchanna, apa aku mengganggu?"
"ti-tidak, tidak sama sekali. Eum… kalau boleh tahu, kenapa oppa meneleponku?" tanya Luhan lalu menggigit bibir bawahnya.
"tidak apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu"
Oh tidak! Tolong, pipi Luhan memerah,"mem-memangnya ada apa dengan suaraku oppa?"
"suaramu lembut sekali, aku suka"
Luhan menghirup nafasnya dalam-dalam sambil menetralkan degub jantungnya,"apa oppa sedang memberi gombalan pada seorang gadis?"
"tidak juga, aku bicara fakta"
"oppa!" potong Luhan.
"ya?"
"musikmu terdengar keras sekali, apa telingamu tidak sakit?" tanya Luhan yang memang sedari tadi mendengar musik yang iramanya sangat keras membuatnya sedikit tidak nyaman saat berkomunikasi dengan Sehun.
"oh maaf, akan kumatikan" dan setelah itu musik pun benar-benar mati.
"kau suka musik beraliran seperti itu?" tanya Luhan.
"eum..yah begitulah"
"berarti oppa bohong"
"bohong? Bohong bagaimana?"
"katanya oppa suka dengan suara lembut tapi ternyata kau suka mendengarkan suara orang-orang yang berteriak seperti itu"
Hening
Luhan tidak mendengar suara Sehun setelah itu. Iapun beralih menggigiti kukunya, takut kalau ia salah bicara.
"oppa?"
"apa aku harus mengganti aliran musikku?"
Gadis itu terkekeh kecil,"tidak perlu, aku hanya bercanda oppa"
"tapi aku sungguh tidak berbohong, suaramu sangat lembut dan aku menyukainya mungkin kau bisa bernyanyi dan merekamnya untuk mengganti musik metal yang setiap hari aku dengarkan"
"jangan bercanda oppa, suaraku benar-benar buruk saat bernyanyi"
"kau balum mencobanya Luhan"
"sudah, aku sudah mencoba bernyanyi bersama Kyungsoo eonnie tapi kata Jongin oppa telinganya sakit saat mendengar suaraku" Luhan terkikik geli saat mengingatnya,"dan kau harus tahu oppa, suara Kyungsoo eonnie sangat merdu, aku sampai terpesona saat mendengarnya bernyanyi" ujar Luhan dengan raut gembira. Tapi lagi-lagi keheningan yang ia dapat. Cukup lama ia menunggu Sehun untuk mengeluarkan suaranya. Aneh sekali, ada apa dengan Sehun oppa?
"oppa?"
Panggil Luhan tapi masih belum ada sahutan dari Sehun. Ia pun mendengus pean,"Ya! Sehun oppa!"
"eh? Eum…aku rasa sudah malam, cepatlah tidur dan sampai jumpa besok di !" pamit Sehun dan setelah itu sambungan pun terputus. Luhan dengan raut bingungnya perlahan menurunkan ponsel dari telinganya.
Kenapa Sehun hari ini aneh sekali?
Apa ia salah bicara lagi?
Apa Sehun bosan bicara dengannya? Begitulah kira-kira pertanyaan yang di pikiran Luhan.
~SS2~
Tangan lentik milik si tunggal Huang itu dengan kuat mencengkeram rok seragamnya saat mobil Yixing berhenti di depan halaman Sangwon. Kakinya terus bergetar dan wajahnya memucat. Kalau bisa, ingin rasanya ia bolos sehari saja untuk menghindari Sehun dan anak buahnya. Tapi tidak bisa, karena ada ujian harian matematika hari ini.
Zitao tidak bisa tidur semalaman membuat kantung matanya semakin terlihat. Ia memikirkan nasibnya esok hari, bagaimana jika Sehun dan anak buahnya mendatanginya lagi dan terus mendesaknya untuk melakukan sesuatu yang sungguh tidak sudi ia lakukan. Sial! Nasibnya ada ditangan Sehun sekarang. Zitao merutuki nasibnya, kenapa ia harus berurusan dengan si muka mayat itu, apa salah hambamu ini ya Tuhan? –jerit Zitao dalam hati.
"Zi! Kau tidak apa-apa?" tanya Luhan khawatir melihat wajah Zitao yang memucat sambil menggenggam tangan gadis itu.
"wajahmu pucat sekali, apa kau sakit?" kali ini Yixing yang bertanya.
Zitao hanya menggeleng kaku lalu mencoba tersenyum agar Luhan dan Yixing tidak khawatir lagi.
"ani, gwenchanna eomma! Ahh sebaikanya kita segera masuk kelas, eomma kami masuk dulu ne, annyeong!" pamit Zitao lalu segera menyeret Luhan keluar dari mobil.
"ya, belajar yang rajin!"
Luhan terus memperhatikan Zitao saat berjalan menuju kelas mereka. Ada yang aneh hari ini dengan sahabatnya itu. Tidak biasanya Zitao banyak diam seperti ini.
"benar kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali, sungguh"
"tidak Lu, kau tidak usah khawatir aku baik-baik saja" jawab Zitao dengan memasang raut cerianya, tapi tatapan Luhan masih saja khawatir. Ia tahu sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Kepala Luhan menoleh tiba-tiba saat ia merasakan ada tangan yang merangkul pundaknya. Siapa lagi yang berani menyentuh Luhan sedekat ini selain kakaknya.
"Wu!" panggil Luhan lirih.
"hn?" gumam Wufan dengan wajah datar tanpa menatap balik adiknya.
"aku rasa Zizi sedang sakit, lihatlah wajahnya pucat sekali" bisik Luhan dan Wufan reflek menoleh ke samping kanan adiknya, dimana ada Zitao yang masih dengan kediamannya.
"coba ajak saja ke UKS" saran Wufan. Luhan pun menurut lalu menatap Zitao kembali.
"Zi, kita ke UKS saja ya?"
"tidak bisa, kau lupa jam pertama kita ada ujian matematika?"
Luhan menepuk keningnya karena sempat melupakan ujian itu. Ia meringis sambil menatap Wufan dengan tatapan menyesal.
Wufan menghela nafasnya,"ya sudah kalian masuk ke kelas saja, kalau keaadaan anak panda itu semakin memburuk, panggil aku, akan kuseret dia ke UKS" bisiknya tepat ditelinga Luhan saat mereka berada di kelas 10C.
Luhan tersenyum dan mengangguk tak menyangka Wufan peduli juga dengan Zitao. Dengan sayang Wufan mengusak rambut adiknya dan menatap Zitao sejenak yang tengah melamun, lalu pergi menuju kelasnya.
"ayo!" ajak Luhan untuk memasuki kelas dan sukses menghentikan lamunan Zitao.
"ahh…ne"
Tapi belum sampai ia memasuki kelasnya, langkah Zitao terhenti kembali saat merasakan ponselnya bergetar di dalam saku seragamnya. Keningnya berkerut saat melihat nomor tidak dikenal mengirim sebuah pesan.
From: xxx
Hari pertamamu bertugas nona Huang, aku mengawasimu!
Tubuhnya menegang saat membaca pesan itu. Kepalanya menoleh kesana-kemari mencari sosok monster yang mengusik hidupnya. Tapi sama sekali tidak ia dapati sosok itu. Rautnya terlihat panik, berkali-kali ia menelan ludahnya yang terasa pahit. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Kabur? –jangan bercanda, anak buah Sehun ada dimana-mana. Ia bersembunyi di rumah tikus pun Sehun pasti akan menemukannya.
Tatapan sendu itu mengarah pada gadis cantik yang sekarang tengah membaca bukunya. Sahabatnya sejak bayi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Luhan jatuh ke tangan Sehun? Hell, sampai kapanpun Zitao tidak akan pernah rela.
'ya Tuhan, bagaimana ini?'
~SS2~
Bunyi bell tanda istirahat bagaikan bunyi lonceng surga bagi para siswa karena mereka bisa mengistirahatkan sejenak otak mereka setelah bekerja keras memahami materi yang disampaikan oleh guru, tak terkecuali untuk Luhan. Gadis itu dengan semangat membuka tasnya dan mengeluarkan kotak bekalnya, kali ini bukan nasi lembek lagi, pantas saja ia terlihat bersemangat.
Tapi tidak sama halnya dengan gadis manis bermarga Huang yang duduk di samping Luhan. Mendengar bell istirahat sama seperti mendengar lonceng neraka. Dalam hati ia berharap bunyi bell istirahat itu tidak berbunyi dan menggantinya dengan bell pertanda berakhirnya kegiatan belajar-mengajar, agar ia tidak harus bertemu dengan si muka mayat itu.
"tunggu!" Zitao menahan tangan Luhan yang akan beranjak dari tempat duduknya.
"ada apa Zi? Ayo kita ke ruang kesehatan, nanti biar Wufan saja yang membelikan makanan untukmu"
"ta-tapi–"
Drrtttt drrrttt
Getaran ponsel itu mebuat Zitao tidak melanjutkan ucapannya. Tubuhnya kaku seketika, ia bisa menebak kalau itu adalah pesan dari Sehun. Dengan tangan bergetar Zitao membuka pesan itu. Luhan hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingung.
From: xxx
Keluar, sekarang!
Tepat sekali. Zitao lagi-lagi menelan ludah susah payah.
"astaga! Zizi kau kenapa? Wajahmu berkeringat dan tambah pucat" seru Luhan khawatir melihat wajah Zitao yang memucat. Punggung tangannya menyentuh kening Zitao yang ternyata tidak terlalu panas namun berkeringat.
"ak-aku tidak apa-apa" ucap Zitao sambil menepis lembut tangan Luhan yang masih menempel di keningnya.
"ada apa?" tanya suara bass yang tiba-tiba muncul.
"lihat Wu! Zizi pucat sekali" adu Luhan pada kakaknya.
Wufan sejenak memperhatikan Zitao. Benar apa yang dikatakan Luhan, wajahnya sangat pucat walau gadis itu sekarang menundukkan kepalanya namun Wufan masih bisa melihat wajahnya. Gadis itu pasti masih merasa ketakutan mengingat kejadian kemarin yang menimpanya –pikir Wufan.
"hey, kau sudah makan belum?" tanya Wufan mencoba bersikap seperti biasa.
Zitao mendongak, menatap Wufan sekilas dan setelah itu menunduk kembali sambil menggelengkan kepalanya.
Wufan menghela nafasnya,"baiklah kalian tunggu saja di ruang kesehatan aku akan membelikan bocah panda ini makanan" ucap Wufan dengan menatap Luhan. Kepala Luhan mengangguk patuh dengan perintah kakaknya.
"tung-tunggu!" tahan Zitao sebelum Wufan benar-benar pergi. Dahi Wufan mengernyit melihat tangan Zitao yang menarik pergelangan tangannya.
"hn?"
"aku ikut" pinta Zitao pada Wufan.
"tapi bagaimana dengan–"
"aku bisa ke ruang kesehatan sendiri Wu" sela Luhan yang mengerti apa yang Wufan khawatirkan.
"tidak, aku akan mengantarmu lebih dulu kesana"
"Wu lihatlah Zizi sudah sangat pucat, kau mau ia pingsan dijalan? Sudahlah aku bisa sendiri ke ruang kesehatan kau tidak perlu khawatir, aku jamin aku tidak akan tersesat" ucap Luhan meyakinkan.
Wufan pun terlihat bingung mengantar Luhan atau mengantar Zitao ke kantin. Jujur ia juga tidak tega melihat wajah pucat bocah panda itu. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Luhan sendirian. Sial sekali Taeyong harus menjalani hukumannya karena lupa mengerjakan PR nya. Jika saja ada Taeyong mungkin Wufan bisa percayakan Luhan pada namja bermarga Lee itu. Sedangkan Jongin? Pasti menghabiskan waktu makan siangnya dengan Kyungsoo dan Wufan tidak punya banyak waktu untuk mengirim pesan dan menunggu Jongin menjemput Luhan.
"aw...!" ringis Zitao sambil memegangi perutnya, setengah berakting.
"cepat Wu!" paksa Luhan yang semakin iba melihat Zitao.
"ba-baiklah, setelah ini aku akan menemuimu"
Luhan mengangguk lalu mendorong Wufan agar segera pergi.
"Lu, hati-hati" peringat Zitao sebelum benar-benar pergi dengan tatapan menyesal. Lagi-lagi Luhan mengangguk sambil tersenyum.
~SS2~
Luhan berjalan pelan menuju ruang kesehatan, tempat ia biasanya menghabiskan waktu istirahatnya. Tangannya semakin erat memeluk kotak bekalnya di depan dada, tidak memperdulikan tatapan-tatapan atau siulan menggoda dari siswa laki-laki yang berdiri di koridor. Ia masih memikirkan keadaan sahabatnya yang mendadak sakit, sedikit merasa aneh juga karena hari ini Zitao lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya, ada apa?
Pandangan Luhan masih menerawang di depan tidak menyadari susana koridor yang tadinya ramai medadak sunyi senyap. Tidak, para siswa yang tengah bercengkrama di pinggir koridor tidak pergi, mereka masih terlihat berdiri di pinggir tapi memelankan suara mereka saat bicara kala mendapati sesosok yang bisa membuat mereka bungkam dengan sendirinya.
"tidak baik berjalan sambil melamun" bisik suara berat didekat telinga Luhan.
Gadis itu berjengit kaget dan langsung membalikkan tubuhnya kebelakang. Muncul tatapan terkejut saat mendapati wajah datar tapi tampan dengan kulit putih namun sedikit pucat itu. Tidak mungkin Sehun tersenyum lembut sementara masih banyak orang di sekitarnya. Senyum penuh perasaannya hanya untuk Luhan seorang. Dimata Sehun, Luhan adalah gadis special yang dikirim Tuhan untuknya, jadi ia harus memperlakukan malaikat Tuhan itu dengan special juga –begitu pikir Sehun. Manis sekali bukan?
"Sehun oppa?"
Suhun tersenyum tipis, sangat tipis sampai Luhan tidak menyadari kalau Sehun tengah memberi senyum untuknya.
"ingin makan siang?" tanya Sehun dengan masih memasang wajah datar namun suaranya terdengar lembut di telinga Luhan.
Luhan hanya tersenyum dan mengangguk dengan rona merah yang menghiasi pipinya, membuat wajahnya terlihat menggemaskan.
"mau aku temani?"
Tubuh Luhan membeku sejenak. Ia bingung harus bagaimana, mengizinkan Sehun menemaninya makan atau menolaknya? Kalau ia mengizinkan Sehun menemaninya makan bagaimana kalau Wufan melihatnya? Kakaknya pasti akan marah. Namun Luhan juga merasa tidak enak jika menolaknya.
Tapi sekarang kan Wufan sedang mengantar Zitao kekantin.
'bagaiamana ya?' pikir Luhan bingung sambil menggigit bibir bawahnya.
Kening Sehun mengernyit saat Luhan tidak kunjung menjawabnya.
"Luhan?" panggilnya membuyarkan pikiran Luhan.
"ah...ba-baiklah"
Sehun tersenyum tipis lalu mempersilahkan Luhan untuk jalan terlebih dahulu sementara ia mengikutinya dari belakang. Luhan berjalan dengan menundukkan kepalanya sambil berdoa agar Wufan atau Jongin tidak menemukannya sedang bersama Sehun. Ia pun tersenyum lalu mengangkat wajahnya menatap lurus kedepan, mengesampingkan sejenak pikiran tentang kakak-kakaknya. Entah kenapa ada perasaan senang saat Sehun menawarkan diri untuk menemaninya makan siang.
Namun tanpa Luhan ketahui Sehun melayangkan tatapan mematikannya ke seluruh siswa yang berdiri di koridor. Dan semua siswa disitu pun bungkam. Sebagian besar dari mereka menatap Luhan iba, mereka menyayangkan nasib gadis cantik nan polos itu harus terperangkap bersama monster serigala bernama Byun Sehun.
~SS2~
Kepulan asap rokok itu keluar dari mulut laki-laki berwajah tegas yang tengah menyandarkan tubuhnya di tembok. Tatapan tajamnya ternyata sedari tadi mengawasi Sehun yang sedang mengajak seorang gadis. Jo Kanghyun sebenarnya tidak terlalu peduli dengan motif Sehun mendekati gadis yang ia ketahui sebagai sepupu Jongin itu. Tapi jika itu ada hubungannya dengan perseturuan antara Sehun dan Jongin, ia rasa akan terjadi hal yang sangat merepotkan nantinya.
"bos Sehun ternyata benar-benar tertarik dengan gadis itu ya" celetuk sebuah suara yang datang tiba-tiba disebelah Kanghyun. Kepala Kanghyun menoleh kekiri dan mendapati seorang siswa laki-laki dengan bekas luka jahitan di pelipisnya. Kanghyun berdecak kesal lalu membuang dan menginjak putung rokoknya.
"kemana saja kau?" tanyanya kesal dengan alis mengkerut.
"ma-maaf bos, aku sedikit kesulitan menemui bandar itu di luar sekolah" ucap siswa laki-laki itu setengah menunduk.
"sekarang mana barangnya?"
Siswa laki-laki itu segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan bungkusan plastik kecil yang berisi serbuk-serbuk berwarna putih. Dengan cepat Kanghyun mengambil bungkusan itu lalu memasukkannya ke saku.
"ta-tapi bos bagaiamana kalau bos Sehun mengetahui kau masih menyimpan barang itu? Dia pasti akan marah besar" ucap siswa laki-laki itu dengan tatapan khawatir.
"itu urusanku, jika kau tidak ingin terlibat cukup tutup mulutmu"
Siswa laki-laki itu dengan cepat mengangguk, "ba-baik"
Kanghyun mengurungkan sejenak niatnya untuk meninggalkan koridor tersebut. Kepalanya menengok kebelakang menatap kearah siswa laki-laki yang juga anak buahnya itu.
"kau" tunjuknya,"awasi Jongin, jangan sampai ia tahu Sehun bersama gadis itu"
Lagi-lagi kepala siswa itu mengangguk patuh terhadap perintah yang Kanghyun berikan,"baik!"
~SS2~
"ke-kenapa?" tanya Luhan dengan canggung saat mengetahui Sehun terus memperhatikannya saat makan. Menelan seluruh makanan yang masih bersarang dimulutnya.
Sehun tertawa kecil lalu mengambil selembar tissue dan menyerahkannya pada Luhan. Luhan yang langsung tanggap pun langsung menyeka mulutnya yang sedikit belepotan.
"lahap sekali, kau pasti sangat kelaparan"
Luhan ikut tertawa dengan menyipitkan matanya,"ulangan matematika tadi sangat membuatku kelaparan, untung saja hari ini eomma tidak memberiku nasi lembek lagi"
"nasi lembek?"
"bubur, aku benci makanan itu"
"jadi kau selalu membawa bekal setiap hari?"
"ya, ada yang salah?" tanya Luhan heran.
Sehun tertawa kecil sambil mendengus,"hn, seperti anak kecil saja" ucapnya lalu mengacak rambut Luhan.
Luhan mengerucutkan bibirnya dengan raut kesal. Sehun adalah orang kesekian yang mengatainya anak kecil dan ia sungguh tidak menyukainya,"oppa menyebalkan, aku bukan anak kecil lagi, aku hanya tidak boleh memakan makanan sembarangan"
Melihat raut kesal Luhan membuat Sehun tertawa,"baiklah maaf aku hanya bercanda dan ada yang harus kau tahu. Kau sama sekali tidak cocok dengan wajah marah seperti itu" Sehun menarik kedua sudut bibir Luhan kesamping agar tidak mengerucut lagi,"naah begini lebih baik"
Wajah Luhan pun memerah malu. Dengan cepat ia mengambil sumpitnya kembali dan melanjutkan acara makanya,"jangan menggangguku lagi, aku ingin cepat menghabiskan makanan ini" ucapnya untuk menghilangkan rasa malunya.
"lain kali oppa harus membawa bekal sendiri agar tidak hanya melihatku makan, kita bisa makan siang bersama"
"jadi maksudmu kau ingin aku menemanimu makan siang lagi?"
Seketika Luhan menghentikan lagi acara makannya dengan mata membulat 'apa aku salah bicara?'
"bu-bukan seperti itu...hanya saja..." lidahnya terasa kelu, ia tidak tahu harus menyangkal bagaimana.
"baiklah jika kau memaksa, mulai besok aku akan membawa bekal sendiri"
"eh?" Luhan menatap heran ke arah Sehun. Mana mungkin tipe orang cool seperti Sehun mau membawa bekal makanan dari rumah seperti anak TK, membayangkannya saja membuat Luhan tertawa.
"kenapa?" tanya Sehun yang melihat Luhan tertawa.
"tidak, hanya saja membayangkan Sehun oppa membawa bekal itu lucu" Luhan masih saja tertawa sambil memegangi perutnya.
"hey jangan salah, aku akan membuktikan padamu aku masih terlihat keren walau membawa kotak bekal seperti ini" tunjuknya pada kotak bekal Luhan.
Luhan menghentikan tawanya dan beralih menatap Sehun dengan intens. Sejenak mereka saling tatap seperti menantang satu sama lain,"baiklah kita buktikan besok"
~SS2~
Wufan meremas-remas sumpitnya yang seperempatnya tenggelam dikuah ramen. Sedari tadi itu yang ia lakukan tanpa berniat menyantap ramen panas yang terlihat sangat menggiurkan itu. Niatnya hanya mengantar Zitao membeli makan sebentar lalu kembali menemui Luhan yang sedang memakan bekalnya di ruang kesehatan. Sialnya yang dipesan gadis itu adalah ramen yang mengharuskan mereka untuk makan ditempat. Rencana awal hanya tinggal rencana, kenyataannya ia malah terjebak di kantin yang cukup ramai itu bersama gadis panda yang tengah menyantap ramennya seolah tanpa dosa. Tak tahukah gadis itu bahwa Wufan sedang gelisah memikirkan adiknya?
"hey! Bisa kau percepat makanmu?"
Zitao mendongakkan kepalanya menatap Wufan dengan mie yang masih bersarang dimulutnya,"kau tidak tahu ramennya panas sekali, aku tidak bisa makan cepat jika panas seperti ini"
"ck!" Wufan berdecak kesal lalu mengambil nampan yang masih tergeletak di meja mereka.
Zitao hanya melongo saat melihat Wufan mengipasi ramennya dengan nampan,'orang ini benar-benar..'
"hey hey! Aku tidak menyuruhmu untuk mengipasi ramenku" cegah Zitao.
"sudah jangan banyak bicara sebaikanya cepat kau lanjutkan makanmu"
"mana bisa aku melanjutkan makanku, nampanmu itu sangat menggangguku, kau tahu!"
"harusnya kau berterima kasih aku sudah berbaik hati mengurangi panas di makanan ini"
"seingatku aku tidak pernah memintamu untuk melakukannya" sanggah Zitao sedikit jengkel juga.
"terserah" ucap Wufan tapi masih tetap mengipasi ramen Zitao.
"dari pada kau repot-repot mengipasi ramenku lebih baik kau makan ramenmu sendiri"
"aku tidak lapar" jawab Wufan cuek.
"benarkah?" mata Zitao berbinar mendengarnya,"kalau begitu, bagaimana kalau ramenmu buatku saja karena aku rasa satu mangkuk ramen ini belum cukup memenuhi perutku" pintanya menatap penuh harap ke arah Wufan.
"haah?" Wufan hanya bisa menganga tak percaya dengan gadis yang berperawakan kurus ini ternyata nafsu makannya brutal juga.
"hehe"
~SS2~
Yixing menatap sendu foto yang baru saja ia bersihkan dari debu. Foto saat ia masih muda, disebelahnya masih ada sosok ayah dan ibu yang memeluknya dengan sayang seolah mereka tidak ingin Yixing lepas dari dekapan mereka. Matanya berkaca-kaca, hatinya terasa sakit saat mengingat orang tuanya. Ia rindu, sangat Rindu. 16 tahun sudah ia tidak melihat sosok orang tuanya.
Bagaimana kabar mereka? Apakah mereka akan kembali? Apakah mereka masih mengingatnya sebagai anak mereka? Apakah pintu maaf orang tuanya masih terbuka untuknya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu muncul di benaknya.
Selama ini bukannya Yixing tidak berusaha mencari orang tuaya tapi saat 3 tahun yang lalu, saat ia dan keluarganya kecilnya memutuskan untuk pergi berlibur di Cina sekaligus mencari informasi dimana keberadaan orang tuanya sekarang. Awalnya Yixing merasa senang bukan main saat berhasil menemui kerabat jauh ayahnya. Tapi ia harus menelan rasa kecewa saat mengetahu bahwa orang tuanya sudah tidak tinggal di Beijing lagi. Informasi yang berhasil ia dapat adalah orang tuanya telah pergi ke benua Eropa 5 tahun yang lalu, tapi sepertinya kerabat jauh ayahnya itu tidak tahu lagi dimana orang tuanya sekarang.
Yixing menghela nafas lalu mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Ia harus yakin suatu saat ia akan bertemu kembali dengan orang tuanya, meminta maaf atas segala yang telah ia lakukan, menebus kesalahannya, mengenalkan keluarga kecilnya dan mengenalkan dengan ketiga anaknya yang sekarang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaannya selama ini masih belum lengkap tanpa kehadiran dan restu orang tuanya.
"haaaah, akhirnya selesai juga" desah lega suara seorang wanita yang tiba-tiba duduk di sebelah Yixing. Yixing mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang terlihat lebih tua darinya.
"baru 2 minggu yang lalu kita sudah membersihkannya jadi beberapa ruangan masih terlihat bersih. Tidak biasanya nona datang secepat ini, biasanya nona kemari 1 bulan sekali, ada apa?" tanya wanita yang memakai celemek berwarna putih itu.
"entahlah eonni akhir-akhir ini aku semakin merindukan mereka" ucap Yixing sambil memandang foto keluarganya kembali. Memang saat ini Yixing tengah berkunjung ke rumah lamanya. Beberapa tahun yang lalu Yixing baru mengetahui jika keluarga Hana (mantan maid keluarganya dulu) dipercaya tuan Zhang untuk menyimpan kunci rumah keluarga Zhang.
Hana mengangguk paham akan perasaan mantan majikannya itu. Wajar saja seorang anak merindukan orang tuanya yang tidak ia temui selama kurang lebih 16 tahun.
"aku yakin suatu saat mereka akan kembali dan nona juga harus yakin. Mereka pasti juga sangat merindukanmu, semarah apapun orang tua pasti tidak akan pernah melupakan anaknya begitu saja, apalagi mereka tahu kalau mereka mempunyai cucu yang tampan dan juga cantik, oh iya aku baru sadar mungkin mereka tidak akan menyangka kalau cucu pertama mereka kembar dan sekarang sudah bertambah 1 lagi" hibur Hana sambil menyentuh bahu Yixing.
Yixing tersenyum lalu mengangguk. Sedikit lebih tenang. Ya, ia yakin sebentar lagi hari itu akan tiba.
"jadi kapan nona akan mengajak Wufan, Luhan dan Joonie berkunjung kemari?" taya Hana. Ya, selama ini Yixing belum pernah sekalipun mengajak ketiga anaknya ikut berkunjung ke rumahnya yang dulu.
"aku belum siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka nanti saat melihat rumah ini eonnie"
"yaah, baiklah aku mengerti. Tapi asal nona tahu, aku ingin sekali bertemu mereka. Terakhir aku melihat Wufan dan Luhan saat masih sekolah dasar dan Joonie masih kecil sekali, sekarang mereka pasti sudah besar"
Yixing terkekeh,"ne, Wufan dan Luhan sekarang sudah di tingkat senior high school"
Hana menghela nafasnya,"tak terasa waktu cepat sekali berlalu" kepala Yixing hanya mengangguk menanggapinya.
Drrrrrttt...drrrtt...
Mendengar ponselnya yang bergetar di atas meja, langsung saja Yixing mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponya.
"ya, sayang!"
"kau masih dirumah lama?" dan terdengar suara Suho diseberang telepon.
"ne, ada apa?"
"maaf sepertinya aku tidak bisa menjemput Joonie, ada meeting mendadak jadi..."
"baiklah baiklah aku yang akan menjeput Joonie, masih ada waktu 1 jam lagi kan?"
Suho pun menghela napas lega,"haaah syukurlah, gomawo chagi, hati-hati! aku mencintaimu"
"nado" sambungan telepon pun terputus dan Yixing segera mengembalikan pigura yang sedari tadi ia pegang ke tempat asalnya.
"maaf eonnie sepertinya aku harus segera pulang, Suho oppa tidak bisa menjemput Joonie jadi aku yang akan menjemputnya sekarang" pamit Yixing.
Hana pun tersenyum lalu mengangguk,"baiklah, hati-hati nona"
Wanita berumur akhir tiga puluhan itu melambaikan tangannya saat mobil Yixing beranjak keluar dari halaman rumah keluarga Zhang. Menghela nafas sejenak sebelum mengunci kembali rumah tak berpenghuni itu. Keningnya berkerut saat melihat taksi yang berhenti tepat di depan rumah tersebut. Hana mengurungkan sejenak niatnya untuk pulang, menunggu sang penumpang taksi itu menampakkan sosoknya.
Matanya sedikit melebar saat mengetahui sosok laki-laki paruh baya yang sangat ia kenal.
"appa?" lirihnya sedikit bingung, bertanya-tanya darimana memangnya ayahnya itu sampai harus menaiki taksi. Jika hanya untuk kerumah keluarga Zhang tinggal jalan kaki 5 menit pun juga sampai.
"appa!" serunya. Tapi sang ayah sepertinya tidak memperdulikan panggilan putrinya.
Pria paruh baya itu terlihat tergesa-gesa membuka bagasi taksi lalu mengeluarkan beberapa koper dengan dibantu supir taksi.
Hana membuka mulutnya berniat bertanya pada ayahnya tapi sedetik kemudian tenggorokannya seperti tercekat saat melihat penumpang selain ayahnya yang baru saja keluar dari taksi. Kakinya terasa kaku untuk bergerak. Tubuhnya bergetar melihat sosok itu. Sosok yang sudah ia kenal sejak dulu. Matanya mengerjab beberapa kali meyakinkan penglihatannya apakah benar atau hanya halusinasi. Hana menutup mulutnya karena sepertinya sosok yang ia lihat bukan halusinasinya.
"tu-tuan?"
Tbc
Yosh! saya balik nih cuma mampir, mau kerja bakti bersihin akun saya yang udah jamuran hahahaha...
Hahaha...
Haha...
Ha... -_-
Sebenernya saya bingung mau ngomong apa, kalo ada yang bertanya kenapa saya menghilang lama sekali huuuufh akan sangat merepotkan sekali jika dijelaskan. Harap maklum aja waktu luang saya udah gak sebanyak dulu dan lepi yang gak bisa di ajak kompromi. Untuk ff saya yang lain saya blm bisa mastiin kapan update lagi. Doa in aja saya dapet banyak kesempatan buat ngetik ppffftt~ saya gak tau tulisan saya sekarang udah ada peningkatan ato justru makin ancur karena efek kelamaan gak nulis ff dan setiap hari berurusan sama angka-angka gaib -_- jadi mohon maap jika banyak typo sana sini dan makin aneh alurnya #bow. Okeeey deh sampai jumpa lagi di lain kesempatan #ehem... see ya!
Ppssstt~ jangan marahin saya ya, saya udah kenyang dimarahin #ohok
Ttd
Bininya Chanyeol, tantenya Sarada
Byunna Park
Dan kalian yang sudah berjasa di chapter 6, ugh! Sini saya cubitin pipinya satu-satu #plak, makasih ya :-*
fallforhaehyuk, zoldyk, KissKris, xiaolu odult, selvian. summer, Tikha Semuel RyeoLhyun, isyarahfeni, ayp, hanalu93, irna. lee. 96, Huang Mir, devilojoshi, bellasung21, nava. angela. 39, ShehoonluluLiu, Master-OZ, mhrs826, younlaycious88, KrisTaoTao, chenma, Oh SeRa Land, Dandeliona96, luhan8045, exindira, icholra, EunSook-ie, h3s0102, Guest, xslbc'cdtks, Nava Angela, dazzle, indi1004, Oh Lana, KimChanBaek, Shallow Lin, Septy, Fuji jump910, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, babyln9090, lisnana1, auliachoiri, yizi. wufantaobaby, hatakehanahungry, rossadilla17, TaoziFanfan, hunhanrakaisoo, xounicornxing, Anditha Zhang, Riho Kagura, IndahOliedLee, candra, Baby Tao Lovers, oh chaca, Maydia dzulvida, xing mae30, Tyy, suhojaro22591, DeerHun, byunyeolliexo, sukha1312, BeibiEXOl, EXOTIC, poe chaerin, N. E. Skyu, Guest, kristin. exofashion, Pisang, Meilisa bae, Fangirl Lu han, oliviaumboh, SA SA meilisa, OhTheHun, NoonaLu, Meilisa oh, Fangirl lu han, noVi, sarah, .7, Lara (maap kalo ada yang ketinggalan *_*)
