#2 minimarket


Kise menguap lebar-lebar di balik kasir, menggeser diri ke samping hingga konter itu cukup lebar untuk tempatnya menjatuhkan separuh badan. Ia rentangankan tangan lebar-lebar. "Huaah, aku mengantuk. Kenapa kita tidak menutup toko lebih awal saja, Kurokocchi?"

Kuroko masih berkonsentrasi di depan sebuah rak rendah, memindai daftar di tangan dan isi rak bergantian. Pulpen di genggaman sesekali mencentang kertas. Kardus besar di dekat kaki memuat kemasan-kemasan yang harus ia display. "Ini toko 24 jam." Ia menjawab pendek, berdiri untuk pindah memeriksa rak lain. "Di belakang ada minum, kalau Kise-kun haus. Aku membuat dua mocca."

"Wah, terima kasih. Omong-omong," Kise menegakkan badan, menyeret langkah ke luar dari konter. Bosan diam saja, ia mendekati Kuroko yang sudah membungkuk di rak seberang. Kardus itu digeser dengan sisi dalam sepatu seiring langkah, Kise menilainya sebagai hal yang menarik entah karena alasan apa. "Sebenarnya apa yang kita tunggu?"

Kuroko melirik jam di pergelangan tangan kanan. "Seharusnya Riko-san tiba sepuluh menit lalu untuk ganti jaga. Mungkin sedikit terlambat."

"Tapi aku sudah mengantuk," Kise menguap lagi, tidak selebar tadi tapi langkahnya sudah terhuyung sedikit. "Ini jam dua pagi, lho, Kurokocchi. Kau belum menguap satu kali pun sejak sore. Jangan bilang kauminum kopi sebelum kemari."

Kuroko tersenyum samar. "Aku lebih kuat menahan darimu."

"Aku akan ambruk sebentar lagi," Kise masih merajuk. Ujung apronnya terlipat, juga hanya memakai sebelah sandal dan dia tampak tidak keberatan. "Sekali ini saja, ayo tutup."

"Kise-kun boleh pulang duluan," Kuroko kembali berjalan ke rak lain. "Aku bisa menunggu di sini."

Kise masih mengikuti Kuroko, kali ini ikut mengamati bagaimana Kuroko memeriksa suplai di tiap bagian. Ini pekerjaannya minggu lalu, dan tentu saja Kuroko jauh lebih rapi dalam bekerja. Naluri sebagai laki-laki membuat ia membungkuk, meraup banyak barang sekaligus lalu mulai menata tempat-tempat yang kosong seraya tetap memperhatikan kategori. Kuroko tersenyum kecil, berterima kasih. Kise rasa tidak perlu. "Bagaimana kau pulang nanti?"

"Aku bisa meminta dijemput. Kakakku masih bekerja kelompok di rumah temannya, kalau aku tidak salah."

"Kalau begitu jangan!" Kise menukas. "Maksudmu, Kagami? Dia terkenal tukang tidur di kampus. Kau harus melihat bagaimana dia tidur di lapangan saat pertandingan baseball."

Kuroko tertawa lewat matanya. "Di rumah, dia juga seperti itu. Tapi membangunkannya dengan dering telepon tidak sesulit itu, kok."

"Pokoknya jangan," Kise bersikeras. "Aku antar Kurokocchi saja. Lebih aman."

"Tidak perlu, kalau itu merepotkan."

"Heeii, jelas tidak! Aku anak baik hati yang selalu menolong orang-orang!"

"Tidak jadi pulang?"

"Aku memang tidak bilang akan pulang," Kise melebarkan senyum, menepuk puncak kepala Kuroko, menggantikan si perempuan menggeser kardur. "Rak mana lagi?"

.

"Riko-san baru saja mengirim email," Kuroko muncul dari pintu belakang, mengamati layar ponsel seolah menimbang-nimbang. Kise mengangkat muka dari tumpukan struk yang dijadikan satu pada sebuah papan berpaku kecil. Empat puluh lima menit sudah berlalu sejak pekerjaan memenuhi suplai rak selesai. Kuroko menghilang ke balik pintu ruang istirahat staf untuk beberapa keperluan—Kise pikir diam-diam perempuan yang lebih muda dua tahun darinya itu juga menahan kantuk.

"Dan apa katanya?"

"Riko-san tidak bisa jaga hari ini. Dia harus menemani kakaknya di rumah sakit."

"Oh," Kise mengerutkan kening. Tidak tahu harus menanggapi apa. "Jadi, kesimpulannya?"

"Aku akan menjaga sampai pagi nanti. Mungkin jam tujuh. Kise-kun lebih baik pulang, katanya besok ada jadwal kuliah."

"Kurokocchi bagaimana?"

"Aku sedang libur," Kuroko tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, sungguh. Kise-kun juga kelihatan capek, kemarin sibuk mengurusi event kampus."

Kise menggaruk tengkuk. Kalau boleh memilih, dia ingin sekali mengambil langkah pulang, ambruk di kasur lalu bersiap bangun beberapa jam kemudian demi kelas pagi. Tapi memikirkan perempuan seperti Kuroko, sendirian menjaga toko di pertengahan dini hari yang rawan bahaya … ia tidak ingin membayangkan. "Tidak, deh. Aku di sini saja. Jangan sok kuat begitu, oke, jam-jam ini rawan bahaya. Lagipula aku juga tahu kemarin Kurokocchi hampir seharian kerja sambilan di tempat lain. Jadi, anggap saja impas!"

"Baiklah," Kuroko akhirnya menguap juga. Kise tersenyum puas lalu merapikan struk ke tempat semula.

"Bagaimana kalau kita bergantian tidur? Kurasa itu cukup adil," si pemuda mengabaikan sandal, memilih bertelanjang kaki sehingga dingin keramik putih meresap ke kulit telapak kaki. Kuroko juga melakukan hal yang sama. "Aku akan mengambil selimut. Riko-san meninggalkan satu di belakang."

Kuroko hanya mengangguk. Setelah melakukan suit—yang dimenangkan Kuroko, Kise baru ingat bahwa ia belum pernah menang jankenpon dari perempuan ini—Kuroko duduk menekuk lutut di balik konter, mulai memejamkan mata. Ia dapat merasakan Kise menyelimutinya lalu duduk di sampingnya, mendengar beberapa patah kata rambutmu mulai panjang, ya sambil pemuda itu memainkan ujung-ujung rambutnya, atau sesuatu seperti tidur di toko sepertinya tidak terlalu buruk dari mulut Kise—apa Kise sempat menyenandungkan nada nina bobo? Kuroko tidak mengingat dengan jelas karena sudah setengah tidur.

Ia sempat melihat samar-samar bayangan Kise menumpukan kepala di atas kepalanya, menggumamkan suatu kalimat. Apa itu juga bagian dari mimpi? Kuroko tidak yakin.


a/n: haloo. perasaan saya aja atau kuroko jadi lebih banyak bicara? :") diketik habis marathon fik lain jadi kayaknya masih kebawa-bawa orz. tiba-tiba pengen bikin sesuatu seperti penjagatoko!kikuro jadi ... maaf kalau kebanting dari kapter sebelumnya huhu. di sini kagami dan kise seumuran. au ah. pokoknya saya cinta kifemkuro dan itu cukup /APANYA
sampai jumpa di kapter depan!