Minna! Aku sayang kalian! Trims buat reviewnya yaa.. muach muach.. seribu cium buat kalian! ^3^ *eh jangan tabok aku dong, jangan di tangkis juga cium-nya *aku bilangin Akashi-san ntarr.. wkwk/ditabok readers
Jadii.. lanjut ya.. hehe (saya sedang girang sendiri :3
OIYA! Maaf kalo banyak typo :3
Kuroko no basuke bukan milik saya
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Saya mah minjem tokohnya aja
"apa?"
otakku berjalan lambat. Aku sama sekali nggak ngerti apa yang dia bicarakan.
"mau ku ajari?" ia kembali tersenyum simpul.
Hoy! Apa-apaan senyum manis itu!
"ajari apa?" wajahku nampak bingung.
Dia senyum makin lebar.
"kalau kau penasaran, temui aku besok di atap sekolah saat istirahat pertama." Untuk apa ke atap sekolah? Setahuku itukan dilarang!
"tidak ah, aku tidak mau cari masalah." Jujur saja, aku orangnya parnoan. Kalau ada orang mencurigakan sepertinya mengajakku ke atap tanpa alasan jelas tentu aku patut waspada, bukankah begitu?
"aku tidak akan melukaimu, [name]."
Alisku meragukannya. Mana mungkin dia bisa menjamin itu Sedangkan dia baru saja menekan kata-kata 'tidak akan'nya. Tiba-tiba Akashi menyodorkan secarik kertas. Aku hanya membacanya sekilas. Tak lama, ia mendekatkan bibirnya, lalu berbisik dengan suara rendah. Entah otakku sedang rusak, atau memang dia berucap dengan suara seksi ya?
E? seksi?
"kau tahu [name]? kau bisa 'mencoba'nya denganku jika kau mau."
Aku reflex berdiri. "kamu bilang apa!?" Aku tidak tau bagaimana rupaku saat ini. Antara syok, terkejut, ngeri dan.. entahlah. Aku hanya bisa membelalak saking kagetnya.
"doushita, [name]-san?"
Guru beserta teman sekelas kini menoleh padaku. Tatapan mereka seakan mengisyaratkanku untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Aku harus bilang apa?
Perkataan—lebih tepatnya pernyataan Akashi benar-benar membuatku tercengang. Aku bahkan nggak bisa merasakan leherku menoleh dengan benar.
"emm.. saya mau ijin ke toilet. Akashi-san. Bisa tolong temani aku?"
Aku tersenyum kecut saat menyadari alasan tidak masuk akal itu.
Mana ada wanita mengajak laki-laki ke kamar mandi?
Bodoh!
Ini semua gara-gara Akashi! Seharusnya dia tidak usah berbicara seperti itu!
"o-oh, silakan." Pak guru, meskipun terlihat kaget, akhirnya mempersilakanku.
Aku menarik tangan Akashi agak kasar.
Oke oke, kenapa teman-temanku melihatku seperti itu? Aku disini adalah korban, oke? Jangan menatapku seolah aku orang paling jahat di dunia dong.. "hooh.. jadi kau bisa agresif ya, [name]." ia berbisik seduktif saat berada selangkah di belakangku. Ugh! Hentikan bisikan itu!
Dasar Akashi sialan!
Setibanya di luar kelas, aku segera menariknya menuju pepohonan rindang yang agak terpencil di sudut sana. Masa bodohlah dengan kamar mandi.
"bagaimana?" ujarnya.
Aku mendelik galak sebelum menjawab. Ia malah tersenyum. "ternyata kau cukup ekspresif. Kupikir kau tidak bisa berekspresi." Ia terlihat meremehkan, tapi tatapannya saat memandangku tidak demikian.
"aku heran, kenapa bisa terjadi ketidak sinkronan antara perkataan dan perbuatanmu ya? Dan lagi, memang kamu bisa melakukannya?" Aku mendengus cuek.
Mana bisa aku percaya begitu saja padanya.
"perlu kubuktikan kalau aku sudah ahli dalam hal 'itu'? atau kau perlu sesuatu yang lebih meyakinkan dari perkataanku barusan?" ia menyilangkan tangan di depan dada. Kepalanya terangkat tinggi. Sedang ia masih memandangku dengan alis terangkat.
Mungkinkah aku bisa percaya padanya?
"kuberi kau waktu seminggu! Kalau kau tidak bisa mengajariku dengan baik, tidak usah bicara padaku lagi."
"itu mudah. Tapi apa imbalanku?"
"em.. entahlah, aku sih percaya kamu tidak akan berhasil."
Ia mendengus.
"kalau begitu datanglah besok ke atap sekolah saat istirahat." Ia berbalik, berniat kembali ke kelas mungkin.
Ternyata ia benar kembali ke kelas. Meninggalkanku sendiri.
Nggak. Nggak!
Sedikit pun aku nggak percaya dia bisa mengajariku sesuatu seperti itu.
Jam istirahat tiba, tapi aku sama sekali tidak ingin membuka bekalku. Rasanya akan sia-sia meskipun bekalnya habis. Kenapa? Karena aku malu dengan bekalku sendiri.
Aku mau beli roti saja lah..
"[name], ikut kami sebentar?" seorang gadis berperawakan tinggi langsing sedang menghalang jalanku. Ia bersama 2 sekoconya terlihat tidak senang. "ada apa?"
"hmph," ia mendengus culas. "aku mau membalas perbuatan kasarrmu pada Akashi-sama! Seperti ini kah kau memperlakukannya? Kau pikir ia pantas di sakiti? Kau saja tidak sebanding dengannya!" gadis itu menarikku kasar menuju salah satu koridor sepi. Ia berteriak garang dan semakin garang manakala aku menampakkan wajah bingung.
Oh! Jelas aku bingung! Apa ini? Pem-bully-an pada anak pindahan?
"heh, harusnya kamu nuduk! Kita sedang marah!" gadis satu lagi, dengan rambut pendek agak berisi. Kedua temannya memegang tanganku. Masing-masing satu.
oke, ini fix perbuatan kriminal. Kalau sampai aku terluka, aku bisa menuntut mereka ke kantor polisi.
Sudut mataku melihat seperti sesosok bayangan bertubuh kecil sedang mengamati kami termasuk aku.
"aku bicara padamu, orang baru! Kau punya telinga tidak?"
"…"
Diam adalah emas.
"hoy! Mau kutampar ya?"
"…"
Maaf orang lama, aku lebih suka diam.
"kurang ajar! Tidak tahu diri!"
"cukup! Sedang apa kalian di sini?" lelaki bertubuh tinggi atletis mendatangi kami. Sorot matanya dingin, di balik kacamatanya, aku bisa melihat bulu mata panjang yang sangat indah. Dia siapa?
"midorima-sama?"
"aku tidak mau mengganggu nodayo. Tapi kalian menghalangi jalanku!"
"ma-maafkan kami, midorima-sama!" mereka kompak membungkuk 90 derajat.
Aku masih trauma dengan insiden bungkuk membungkuk.
Jadi aku tidak ikutan.
Karena aku tidak ikut membungkuk, orang bernama midorima itu memerhatikanku.
"sebaiknya segera selesaikan urusan kalian. Sebentar lagi bel." Kemudian dia lewat. Semilir menyegarkan merebak di sepanjang jalan.
Wanginya enak. Pikirku.
Agak sedikit berbau keringat. Tapi enak. Memangnya makanan?
KRUYUKK.. krukk
Aku lapar…
Ingin makan, tapi situasi tidak mendukung. Kini aku tahu rasanya di-bully, seperti di kekang dan tidak bisa bergerak bebas. Umpama..
Burung dakam sangkar?
"cukup hari ini. Kalau sampai aku lihat kau berbuat seperti itu pada Akashi-sama, aku tak akan segan padamu!" mereka berlalu tanpa berbalik. Peluang di-bully terbuka lebar di depanku, ada yang berkeinginan menggantikan posisi itu? Tampaknya tidak ada ya..
Aku ikut berbalik. Tujuanku adalah kantin.
"i-itu.. midorima-sama, kan?"
"iya! Kyaa.. aku suka dia! Apalagi kalau dia main basket!"
Tuing! Antenaku berdiri tegak. Basket?
"iya, iya! Sudah tinggi, tampan, jago basket pula. Kudengar dia dari kalangan elite ya? Beruntungnya aku bisa masuk sini.."
Kedengar beberapa orang teriak girang ketika orang bernama midorima itu melewati mereka. Meski tidak tersenyum dan cenderung cemberut, mereka tetap senang.
Jago basket ya?
Kuharap bisa berkenalan dengan orang itu suatu saat nanti. Atau kapan-kapan. Sekarang yang terpenting adalah mengisi perut ini dengan makanan.
"aku ambil ini, juga ini, ah ini juga.. oh yang coklat jangan lupa! . .naaa.." aku bersenandung bahagia.
Bahagia itu sederhana. Sama seperti makan roti melon.
"jangan rakus-rakus." Sebuah suara menyahut datar. Aku menoleh pada sumber suara. Betapa terkejutnya aku bahwa ternyata dia...
Pfttt.. gue merasa fic ini jadi ambiguu..
Maaf ya telat publish! Gomeennnnn..
Jadi gimana? Lanjut? ato Hapus?
It's up to you!
Re-vi-ew :3
