The Thorne
(by Bay05 © 2014)
Pairing :
not sure yet...
Cast :
Kyuhyun, Yesung, Siwon, Leeteuk, etc.
Genre :
Drama, Romance, General, Hurt... /stopstop
Rate : T-eenager
Warning :
Boys Love, Crack Pair, Alur ngebut, OOC, Typo(s)
A/n:
Gimana gimana? Apakah sudah mulai jamuran menunggu ff Bay? (kek ada yang nunggu aja-_-v)
Mau gimana lagi, Bay gabisa janji banyak-banyak deh...
Bay bener-bener sibuk. Fangirling aja hampir ga sempet lagi. Jadi mohon maaf buat yang minta update kilat. Rasanya harapan itu akan selamanya menjadi angan angan semata #apasih
.
.
Enjoy!^^
.
.
Yesung menyeka keringat sebesar biji jagung yang mengalir turun di dahinya. Sudah pukul sembilan malam dan Kona Beans –restaurant tempat ia bekerja pun sudah tutup sejak setengah jam lalu. Kini ia tinggal membereskan beberapa meja lagi sebelum ia dapat benar-benar pergi.
"Aah~ akhirnya selesai juga." namja manis itu tersenyum puas melihat meja dan kursi yang telah ia tata rapi.
Namun tidak ada waktu baginya untuk bersantai. Kona Beans telah tutup bukan berarti pekerjaannya telah berakhir.
Setelah memastikan semuanya benar-benar rapi dan bersih, Yesung buru-buru mengambil mantelnya dan berlari menuju stasiun kereta bawah tanah terdekat. Berkejaran dengan waktu untuk berangkat menuju tempat bekerja ketiganya hari ini.
Sebuah bar di pusat Gangnam.
.
.
Bay05
.
.
"Ya! Kim Yesung! Darimana saja kau?! Pesanan telah menumpuk sejak sepuluh menit lalu, kau pikir aku bisa menangani semuanya?!" Yesung baru saja datang ketika seorang namja manis ber-name tag 'Kim Junsu' yang terlihat kerepotan dengan dua nampan di tangan datang mendampratnya.
"A-ah, mianhae. Aku sudah mencoba datang ke sini secepatnya, tetapi jalanan di luar–"
"begitu padat hingga kau terlambat. Aku sudah mendengarnya ribuan kali, Kim! Ck, jika kau tidak benar-benar menginginkan pekerjaan ini, maka keluarlah. Biar aku mencari seorang yang lebih bertanggung jawab." Namja cantik itu mengomel yang hanya bisa ditanggapi anggukan oleh Yesung.
Ia sudah terlalu terbiasa dengan ini. Yesung tahu bahwa Junsu sebenarnya baik dan penyayang. Hanya saja memang ia yang terlalu sering menyulut amarah namja bersurai light brown itu dengan datang terlambat dan membuat Junsu kerja sendiri di menit-menit pertama.
Junsu memberikan salah satu nampannya pada Yesung. "Sebotol champagne dan segelas mojito. VIP 13."
Si raven hanya bisa kembali mengangguk. Tidak ingin temannya itu semakin naik pitam. Dengan tangan mungilnya, Yesung membawa nampan tersebut ke deretan meja VIP seperti yang dikatakan Junsu.
Dengan sopan Yesung menaruh sebotol champagne dan segelas mojito tersebut di atas meja lebar untuk sang tamu VIP; seorang pria tua dengan beberapa yeoja bayaran yang bergelayut di badan gempalnya dengan manja.
Yesung hanya bisa berdecak keheranan. Merasa iba pada istri pria tersebut yang kini pasti sedang menunggu suaminya untuk pulang dari 'rapat bisnis' yang ia jalani. Bagaimana bisa ada manusia yang seperti itu? Tega membohongi kekasihnya sendiri untuk kesenangan semalam dengan yeoja yang bahkan tak ia ketahui namanya.
"Hey, pelayan!" Yesung mencium bau alkohol tajam yang menguar dari mulut pria itu kala ia memanggil Yesung dengan nada tak bersahabat.
Namja Kim itu berbalik. Sebisa mungkin berusaha menekan rasa bencinya pada pria di hadapannya. Bagaimana pun pria ini adalah tetaplah seorang customer. Customer VIP yang memiliki keanggotaan premium di bar ini.
Atau dengan kata lain, Yesung harus menghormatinya walau hatinya berkata sebaliknya.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
Pria tersebut berdiri dari tempat duduknya dengan seringai tipis. Jemarinya terulur mengusap pipi mulus Yesung. "Sungguh indah. Berapa hargamu untuk semalam, manis?"
Yesung melongo. "Ne?"
Seringai pria itu semakin lebar. "Ah, aku benar-benar menyukai seseorang dengan wajah polos sepertimu. Berikan saja hargamu untukku, sayang. Aku sanggup membayar berapapun untukmu." tangan nakal pria itu turun ke bagian paling sensitif Yesung, membuat namja manis itu tersentak. Ia menghempas tangan pria itu kasar.
Apa-apaan ini?! Apakah pria ini benar-benar sedang merayunya? Yesung tahu bahwa beberapa pelayan di bar ini memang sering memberi 'pelayanan lebih' pada customer berdompet tebal untuk 'tips' yang bahkan lebih besar dari gaji mereka selama sebulan.
Tetapi Yesung tidak seperti itu. Yesung mendaftar kerja di bar ini sebagai pelayan, dan yang ia tahu tugasnya hanyalah mengantar minuman. Tidak lebih.
"Jeosonghamnida, tetapi saya tidak tertarik, Tuan."
"Manis, sepertinya kau tidak mengetahui dengan siapa kau berhadapan, eoh?" Pria hidung belang itu menahan bahu Yesung, mengunci pergerakannya.
Yesung kembali berusaha menolak dengan halus. Ia sudah terlalu akrab dengan semua ini, berbagai orang dengan berbagai latar belakang pernah ia alami. Dari karyawan biasa hingga pemilik perusahaan raksasa, semua pernah menggodanya.
Maka dari itu, pemilik perusahaan mebel seperti tuan Bang –pria yang kini menggodanya– pun tak dapat membuatnya tertarik.
"Tipe pemberontak kecil. Aku menyukainya." Pria itu bergerak maju, menciumi leher jenjang Yesung yang terlihat begitu menggoda. Tak peduli Yesung telah berusaha keras menjauhkan badan besarnya. "T-tuan, saya bisa melaporkan anda atas tuduhan pelecehan."
Tawa mengerikan mengalun sempurna dari mulutnya. "Geurae? Lalu, kau pikir jaksa pemerintah itu benar-benar sanggup melawan barisan pengacaraku? Kau tahu, menutup kasus sekecil itu semudah membalikkan telapak tangan untukku, sayang."
Tuan Bang baru saja akan membuka kancing pertamanya ketika tiba-tiba seorang pemuda jangkung menariknya ke belakang. Kemudian dengan geram memukul rahang sebelah kirinya hingga pengusaha gempal itu hampir saja terjungkal ke belakang. Membuat beberapa yeoja di sekitar mereka berteriak ketakutan.
"Bukankah baru kemarin kau berjanji padaku hal seperti ini tak akan terulang, ahjussi?" namja bersurai ikal itu berbicara dengan nada begitu dingin dan pandangan meremehkan. "Jika ini terjadi lagi, aku benar-benar akan menghubungi polisi."
Pandangan si tampan beralih pada Yesung yang masih berdiri dengan kaki gemetar. Mungkin syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Dengan seenaknya pemuda tampan itu menggandeng tangan Yesung menjauhi Tuan Bang yang masih terkapar di lantai.
"Y-yah! Kau siapa, seenaknya memegang tanganku?!" walau masih sedikit takut, Yesung menyentakkan pegangan si tampan di lengannya.
"Hey, apa kau tidak sadar aku baru saja menyelamatkanmu dari pria tua bangka itu?"
"T-tapi bisa saja kan jika ternyata kau juga jahat. Kau berpura-pura menyelamatkanku dan pria tadi adalah komplotanmu. Aku tidak bisa dibodohi semudah itu, kau tahu?" Yesung mengacungkan telunjuk mungilnya tepat di depan wajah tampan itu.
Yesung melihat pria di hadapannya dengan tatapan menyelidik. "Dan lagi.. Berapa umurmu, hah?! Bagaimana kau bisa masuk ke bar orang dewasa seperti ini? Kau memakai tanda pengenal palsu? Cepat pulang, kau bisa membuat eomma-mu khawatir!"
Namja bersurai brunette ikal itu hanya bisa melongo. Melihat namja manis di depannya dengan heran. Ini adalah pertama kalinya karyawan bar ini berbicara secara informal dan bertingkah secara tidak hormat padanya yang notabennya adalah anak pemilik bar ini.
Apalagi sampai-sampai mengusirnya keluar karena ia dinilai belum cukup umur. Dan– hey! Bicara soal umur, bahkan si mungil di depannya ini terlihat dua tiga tahun lebih muda darinya.
"Apakah kau pelayan baru? Kau tidak tahu siapa aku?"
"Mengapa aku harus mengenalmu?" Yesung bertanya sewot.
"Aku Cho Kyuhyun. Pewaris satu-satunya Cho Corporation. Bar ini adalah milik orang tuaku, yang berarti dua hal; kau harus berterima kasih padaku karena aku telah menyelamatkanmu, dan yang kedua, kau harus menghormatiku karena aku adalah boss-mu disini. Paham?"
Sejenak Yesung terdiam. Namja tampan yang mengaku bernama Cho Kyuhyun pun menyeringai, namja manis di depannya ini pastilah tengah mengutuk dirinya sendiri karena bersikap kurang ajar pada atasannya. Tetapi–
"Ck, apa kau sudah benar-benar mabuk? Dimana rumahmu? Security bisa mengantarmu pulang. Maaf aku punya pekerjaan lain. Jangan berkeliaran di bar lagi, itu buruk untukmu." Yesung berkata singkat meninggalkan Kyuhyun dengan ekspresi cengo-nya.
"Yah! Aku benar-benar pewaris Cho Corporation!"
"Ne, anggaplah saja aku percaya. Dan terima kasih telah menyelamatkanku tadi." Yesung tersenyum penuh arti meninggalkan namja muda yang telah memerah sempurna wajahnya.
.
.
Bay05
.
.
Yesung menyeret tubuhnya melewati pekarangan rumah megah ini. Walau bekerja hingga larut sudah menjadi kebiasaannya, tetap saja tubuhnya terasa remuk. Namun setidaknya dengan begitu Yesung dan hyung-nya, Leeteuk, bisa terus menghidupi diri mereka.
Hyung-nya bekerja sebagai private butler dari keluarga Choi yang termasuk dalam golongan konglomerat di Korea Selatan. Dan untunglah Tuan dan Nyonya Choi cukup baik untuk memberikan mereka tempat tinggal.
Walau memang hanya ruangan kecil di pojok rumah yang dulunya berfungsi sebagai gudang, namun ruangan itu cukup terawat. Bahkan lebih baik dari rumah kontrakan mereka terdahulu.
Klek.
Yesung bersyukur ia sudah mencapai pintu rumahnya sebelum ia benar-benar pingsan. Yesung membuka pintu sepelan mungkin, tak ingin membangunkan hyung-nya.
"Yesung-ah." Namja manis itu berjengit kaget mendengar suara berat yang menyambutnya. Buru-buru ia menyalakan saklar di tembok sebelah kirinya dan menemukan Leeteuk yang duduk dengan wajah lelah. Sepertinya cukup lama menunggu kedatangannya.
"Hyung belum tidur?"
"Kau pulang larut lagi?" Leeteuk tak menggubris pertanyaan adiknya, menatap Yesung dengan pandangan intimidasi.
"Mwo? Aku berkerja di bar hyung. Tentu saja aku pulang malam."
Leeteuk menghela napasnya. "Sudah empat hari kau pulang terlambat. Tiga hari lalu kau beralasan lembur. Dua hari lalu kau dimarahi oleh Junsu. Kemarin seorang yeoja melabrakmu. Sekarang apa, seorang pria menggodamu? Atau ada anak remaja yang mengusilimu?"
Si manis menundukkan kepalanya selayaknya seorang pencuri yang baru tertangkap basah. "Hyung sudah mengatakan padamu, hyung tidak setuju kau bekerja di bar. Resikonya terlalu besar dan kau akan terlalu lelah. Sudah saatnya kau berhenti, Yesung-ah."
"Tapi, hyung. Aku bekerja di bar untuk–"
"Menambah penghasilan dan membuatku bahagia. Ck, bagaimana aku bisa bahagia jika aku dapat tidur sementara adikku bekerja sembari diganggu oleh orang-orang jahat di luar sana?"
Leeteuk menghela napasnya. "Kau membuat hyung merasa tidak berguna, Yesung-ah."
Yesung menatap Leeteuk sedih. Selama ini ia memang bekerja di bar untuk sekedar menambah uang saku agar ia tak begitu merepotkan Leeteuk, tak menyangka bahwa hyung-nya juga terluka. "Aku tidak bermaksud seperti itu, mianhae.."
"Gwenchana, hanya berjanjilah besok kau sudah berhenti dari pekerjaan itu." Leeteuk menatap Yesung sungguh-sungguh dan di balas dengan anggukan ragu dari yang lebih muda.
"Bagus!" Leeteuk mengacak rambut Yesung. "Besok anak bungsu keluarga Choi akan datang. Hyung berharap sepulang dari Kona Beans kau bisa kesini untuk menyambutnya."
"Eh? Aku tak tahu keluarga Choi memiliki anak yang lain?"
Leeteuk menjitak Yesung keras. "Ck, itu karena kau yang selalu cuek terhadap sekitarmu. Tuan muda Kangin memiliki seorang adik yang bersekolah di luar negeri. Entahlah, yang pasti besok ia kesini dan persiapannya benar-benar besar mengingat Choi bungsu itu sudah tidak berkunjung ke Seoul dalam waktu yang cukup lama."
Yesung mengangguk mengerti. "Arraseo, besok akan kuusahakan pulang secepatnya."
.
.
Bay05
.
.
Yesung berlari secepat yang ia bisa menuju halte bus terdekat. Kemarin ia telah berjanji pada Leeteuk untuk datang di acara penyambutan anak bungsu keluarga Choi. Sebelum berangkat sekolah tadi hyung-nya berkata bahwa calon tuan muda mereka akan datang sekitar pukul lima.
Si manis telah berusaha menyelesaikan pekerjaannya di Kona Beans secepat yang ia bisa. Itupun ia masih harus menghabiskan 3000 won untuk membelikan Jonghyun –salah satu teman pelayannya di Kona Beans– pernak-pernik kesukaannya sebagi upah untuk mengerjakan sisa tugasnya hari ini. Dalam hati Yesung mengutuk temannya yang kelewat perhitungan itu.
Tiin!
Karena tidak fokus, sebuah mobil sport keluaran terbaru hampir saja menabrak Yesung ketika namja manis itu menyebrang. Tidak sampai melukai namja manis itu, memang. Namun suara klaksonnya cukup keras untuk mengagetkan Yesung, hingga entah bagaimana membuatnya jatuh ke trotoar.
"Yah, apa yang kau lakukan disitu?!" Seorang namja yang terlihat sepantaran dengan Yesung keluar dari mobil tersebut dengan wajah yang tidak dapat dikatakan menyenangkan.
"Apa kau tidak bisa melihat disini bukan tempat untuk menyebrang? Bagaimana tadi jika aku menabrakmu?! Aku bisa dipenjara atas kebodohan orang lain."
Yesung mencoba berdiri, sedikit meringis merasakan sakit di pergelangan kakinya. Sepertinya terkilir ketika tadi ia jatuh. Tetapi bagaimanapun juga semua ini salahnya karena tidak menyebrang pada tempatnya.
"Mianhae. Saya akan lebih hati-hati saat menyebrang lain kali." Yesung membungkukkan badannya.
Namja yang beberapa senti lebih tinggi darinya itu menatap Yesung kesal. "Aku tidak peduli dengan cara menyebrangmu. Yang penting, jangan melibatkanku jika kau tertabrak. Aku tidak ingin mendapat masalah."
Tanpa mengatakan apapun lagi namja dengan balutan tuxedo itu kembali masuk ke dalam mobil mewahnya. Meninggalkan Yesung yang berjalan tertatih menuju halte bus sambil menggerutu kesal.
"Dasar orang kaya, selalu bertindak sesukanya."
.
"Omo! Apa yang terjadi padamu, Yesungie?" Leeteuk buru-buru menghampiri adiknya yang baru saja datang dengan langkah tertatih. Namja dengan single dimple itu meletakkan sebelah tangan Yesung di bahunya, memapah si manis untuk duduk di kursi terdekat.
Yesung meringis kecil. "Terima kasih, hyung. Maaf aku sedikit terlambat. Apa tuan muda sudah datang?"
"Belum. Presdir Choi memanggil tuan muda ke kantornya. Sepertinya presdir Choi dan tuan muda akan datang bersama nanti malam. Dan kau belum menjawab pertanyaanku, Yesungie. Apa yang terjadi padamu?" Leeteuk mengusap wajah Yesung yang bermandi peluh dengan wajah khawatir.
Yang lebih tua buru-buru mengambil es dari kulkas di sampingnya kemudian mengompres kaki Yesung yang mulai membengkak dan sedikit membiru.
"Gwenchana. Tadi aku hanya kurang berhati-hati ketika menyebrang. Bukan masalah besar. Lagipula, mengapa hyung tidak memberitahuku jika tuan muda tidak jadi datang sore ini? Aku kan tidak perlu berlari seperti orang gila tadi." Yesung mem-poutkan bibirnya sebal.
Leeteuk berlutut, melihat seberapa parah keadaan kaki Yesung. Ia menatap si manis gemas. Sejak kecil, Yesung memang sering terluka karena kecerobohannya sendiri. Dan rasanya hingga sekarang namja bersurai raven itu belum belajar dari kesalahannya.
"Kau ini, masih saja ceroboh. Jika begini sebaiknya kau tak usah mengikuti acara penyambutan. Kakimu akan semakin parah jika kau memaksakan berjalan."
"Dan jangan berpikir kau dapat mengubah keputusan hyung." Leeteuk menyela melihat Yesung akan membuka mulutnya.
Ck. Melihat Yesung yang masih saja ceroboh dan suka merajuk di umurnya yang keenam belas, sepertinya Yesung akan terus menjadi 'adik kecil' yang harus Leeteuk pantau dan lindungi untuk selamanya.
.
.
Bay05
.
.
Yesung menggerakkan kakinya keatas dan ke bawah. Masih terasa sakit, tentu saja. Namun setidaknya sekarang bengkaknya sudah mulai mengempis dan ia sudah dapat berjalan lurus walau masih sedikit pincang. Semua terima kasih pada Leeteuk yang begadang mengompres kakinya sepanjang malam.
Dengan terkantuk Yesung melangkah menuju dapur. Ia tidak terbiasa sarapan, karena itu biasanya Leeteuk selalu menyempatkan untuk membuatkan segelas susu cokelat hangat untuknya yang ditaruh di pantry.
Mata sabit Yesung membola begitu ia mendapati seorang dengan postur tegap (yang cukup familiar) terlihat meminum susu cokelatnya. Tidak seberapa jelas memang, namun sosok tersebut meminum susunya di pojok pantry, tempat Leeteuk biasa meletakkan susunya.
Si manis menghampiri sosok itu, sedikit heran juga. Rasanya semua orang di rumah ini –termasuk Tuan dan Nyonya Choi– pun tahu tentang kebiasaan minum susunya, dan tidak akan ada yang berani mengusiknya, mengingat wajah manis Yesung dapat berubah seperti malaikat pencabut nyawa jika sudah menyangkut susu cokelat.
"Yah! Itu milikku, pabbo!" Tanpa ragu Yesung menjitak sosok yang meminum susunya keras. Tak peduli setelah ini ia dapat terlibat masalah.
Namja yang baru saja Yesung pukul itu menjauhkan gelasnya, tersedak cukup parah.
"Kau?! Yah, apa yang kau lakukan disini?" Yesung mengacungkan telunjuknya pada namja itu curiga. Ingatannya memang payah, namun Yesung yakin benar jika namja ini adalah namja sombong yang hampir menabraknya kemarin.
Si tampan mengusap mulutnya yang belepotan susu cokelat, kemudian pandangannya teralihkan pada si manis yang baru saja menjitaknya. Raut wajahnya berubah tak menyenangkan. "Kau?! Jangan sembarang bicara, aku adalah pemilik rumah ini. Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini?"
"Mwo?!" Yesung mengerutkan wajahnya. Ia belum pernah melihat namja ini di rumah ini. Namun jika ia memang benar pemilik rumah ini, maka hanya ada satu kemungkinan yang tersisa...
"Apa kau tidak dengar? Aku pemilik rumah ini. Choi Siwon. Anak bungsu keluarga Choi. Demi tugan, apa kau tak pernah melihat berita?" Si tampan menggerutu sebal sementara Yesung membeku di tempatnya berdiri.
Yesung meneguk ludahnya, j-jadi namja ini adalah tuan muda yang dimaksud hyung-nya?
Kriett..
Yesung belum selesai memproses segalanya ketika pintu dapur terbuka. Memperlihatkan sosok sepuh Tuan Choi dengan raut wajah lelah seperti biasanya. Sepertinya bisnis membuat Tuan Choi menua dengan cepat.
"Ah, Choi sajangnim." Yesung langsung membungkuk hormat melihat kedatangan tuan besarnya. Membuat namja tampan di sebelahnya heran. Bukankah namja manis ini tadi terlihat seperti harimau yang akan memakannya hidup-hidup? Bagaimana bisa ia sekarang bersikap begitu sopan di depan appa-nya.
Tuan Choi mengalihkan pandangannya pada Siwon. "Jadi, apa kau sudah berkenalan dengan Yesung?"
"Ah, jadi kau yang bernama Kim Yesung? Adik dari private butler keluarga kami? Well, tidak terlalu buruk." namja tampan yang mengaku bernama Siwon itu menyeletuk asal, dan sukses mendapat death glare dari Yesung.
"Kalian sebaya, tidak heran jika mudah bagi kalian untuk menjalin pertemanan."
Siwon membuka mulutnya, akan memprotes pernyataan appa-nya. Namun Yesung lebih dari cepat untuk menginjak kaki Siwon, menyuruh tuan mudanya diam. "Ne, sajangmim."
Tuan Choi tersenyum penuh arti. "Jika begitu, bisakah kau ke ruanganku sebentar, Yesung? Aku perlu bicara empat mata denganmu."
Yesung meletakkan secangkir teh di meja Tuan Choi, kemudian duduk di sofa yang dipersilahkan oleh pria baya tersebut.
"Jadi, bagaimana sekolahmu? Apa kau menyukainya?"
Yesung sedikit heran dengan pernyataan Tuan Choi, namun ia memutuskan untuk mengangguk. "Baik-baik saja, sajangnim. Saya menyukainya."
Tuan Choi mengangguk mengerti. "Begitukah? Lalu apa kau keberatan jika aku memindahkanmu ke Jeguk?"
"Ye?!" Mata Yesung membola sempurna mendengar penawaran Tuan Choi.
Mimpi apa ia semalam, hingga ia ditawari untuk bersekolah di Jeguk. Semua teman sekolahnya begitu memuja dan menyegani siapapun yang berhubungan dengan Jeguk High School. Siapapun yang memakai seragam Jeguk berhak untuk memamerkannya dan mendapat tatapan kagum semua orang. Pada dasarnya Jeguk adalah impian seluruh pelajar di Korea Selatan. Atau mungkin dengan Yesung sebagai pengecualian.
Bukan apa-apa, hanya saja Jeguk adalah sekolah yang terlalu prestige untuknya. Baginya murid Jeguk hanyalah sekumpulan anak pengusaha borju yang tak perlu merasakan kerasnya hidup sepertinya. Dan fakta bahwa Jeguk High berada dalam naungan Choi group juga sama sekali tak membantu.
"S-saya tidak memiliki masalah dengan sekolah saya sekarang, sajangnim. Lagipula saya tidak yakin saya dapat beradaptasi di Jeguk dengan baik."
Tuan Choi menghela napasnya. "Aku tidak sedang menawarimu, Yesung. Aku memintamu. Aku benar-benar butuh bantuan dengan Siwon."
"Bantuan?"
Tuan Choi mengangguk. "Choi Siwon adalah anak yang sulit..."
"Siwon tidak pernah akur dengan siapapun di sekelilingnya. Ia sering membuat onar dengan temannya, membuat kami harus berkali-kali meminta maaf pada relasi kerja kami karena anaknya terus diganggu oleh Siwon. Hubungan Siwon dengan kakaknya juga tak begitu bagus, mereka hampir tak pernah berinteraksi."
Yesung memiliki banyak pertanyaan di otaknya. Namun ia memilih diam, menyimak cerita Tuan Choi lebih lanjut.
"Awalnya kami menganggap bahwa itu hanya kenakalan anak kecil yang meminta diperhatikan karena saya dan nyonya Choi jarang berada di rumah. Tetapi seiring Siwon tumbuh, semuanya tak kunjung membaik. Puncaknya adalah ketika Siwon menghadiri rapat bisnis pertamanya, dan Kangin bahkan hampir tidak melihatnya. Dan di waktu yang sama, ia kembali membuat masalah dengan anak relasi bisnis terpenting kami."
Tuan Choi menghentikan ceritanya, sejenak melihat foto keluarganya di dinding. "Kangin adalah anak yang baik, dan jika ia memperlakukan Siwon sedingin itu, maka Siwon pasti telah membuat kesalahan yang besar. Saat itulah kami sadar, satu-satunya pilihan adalah menjauhkan Siwon dari semua masalah ini. Dengan mengirimnya ke Amerika, kami melindunginya."
"Setelah empat tahun berada di Amerika, kupikir semua masalah ini selesai. Namun kemarin ketika aku mengatakan pada Kangin bahwa adiknya telah datang, raut wajahnya tiba-tiba berubah tak senang."
"Aku belum yakin jika Siwon telah berubah. Maka dari itu aku butuh seseorang untuk mengawasinya. Jika aku memindahkanmu ke Jeguk, kau akan dapat mengamati keseharian Siwon dan Siwon tidak akan merasa terganggu karena bukan anak buahku yang mengawasinya. Jadi, apa kau bisa membantuku?"
Yesung meneguk ludahnya. Ia tidak yakin dengan semua ini, namun rasanya berat juga untuk mengatakan tidak. Tuan dan Nyonya Choi telah memberikan kakaknya pekerjaan dan memberinya tempat untuk tinggal. Ia tidak mungkin menjadi seorang yang tak tahu diuntung dengan menolak keinginan mereka untuk merubah anaknya menjadi pribadi yang lebih baik.
"Hanya mengawasi, bukan?"
Tuan Choi mengangguk. "Ne, kau hanya perlu mengawasinya. Dan jika ada hal tidak beres yang terjadi, katakan padaku."
Yesung menghela napasnya. "Baiklah, saya akan melakukannya, sajangnim."
.
.
Bay05
.
.
"Lee Donghae!"
Bagai anak umur lima tahun yang melihat truk es krim, Yesung berlari dengan mata berbinar begitu ia melihat sosok tampan yang sering ia panggil 'ikan' dahulu. Tanpa memberi kesempatan Donghae untuk bicara, Yesung langsung menghambur memeluk namja tampan itu.
"K-kim Yesung~ aku bisa mati!" Donghae berusaha melepaskan pelukan erat Yesung di tubuhnya seraya membuka mulutnya lebar mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Si manis masih memeluk Donghae selayaknya Donghae adalah teddy bear kesayangannya untuk beberapa saat hingga akhirnya ia melepaskannya setelah puas melepas rindunya.
Yesung langsung menunjukkan cengiran khasnya dan membentuk v-sign dengan kedua jari mungilnya. "Hehehe, apa aku memelukmu terlalu erat? Mianhae~ aku terlalu merindukanmu setelah lima tahun berpisah, ikan."
Donghae memutar bola matanya jengah. "Bukankah baru kemarin kita melakukan video call hingga larut malam? Apanya yang lima tahun"
Si manis mengangkat bahunya tak peduli. "Itu tadi adalah pertemuan pertama kita setelah lulus dari sekolah dasar. Apakah kau tidak tahu aku merindukanmu setiap saat? Jika tidak ada kau, siapa lagi yang kupanggil ikan?"
"Jadi kau hanya merindukan panggilan ikan-ku?" Si tampan pura-pura merajuk, membuat Yesung menggeleng cepat.
"Aniya! Tentu saja tidak. Aku merindukan semuanya darimu, Hae-ah. Tetapi kau selalu sok sibuk, sulit sekali dihubungi. Untunglah akhirnya Tuan Choi memindahkanku ke Jeguk, sehingga pertemanan kita bisa terus berlanjut."
"Hey, bukankah kita selalu berkomunikasi dengan baik? Aku bahkan selalu memberi waktuku untukmu, tidak mungkin aku bisa melupakan pertemanan kita begitu saja." Donghae mengacak rambut Yesung gemas.
Yesung dan Donghae telah saling mengenal selama tiga belas tahun, sejak keduanya bahkan masih belum mengecap sekolah dasar. Sosok Yesung yang terlihat kuat dan cuek bisa berubah menjadi manja dan menggemaskan hanya ketika ia bersama Donghae.
Sementara Donghae sendiri pada dasanya adalah seorang yang penyabar dan penyayang. Karena itu ia menjadi satu-satunya orang yang bisa menghadapi kepribadian Yesung yang aneh dan sedikit bipolar. Keduanya saling melengkapi, karena itu mereka dapat terikat dalam suatu hubungan platonik.
Namun sekitar lima tahun lalu, ketika mereka baru saja akan memasuki Junior High School, Donghae mengatakan bahwa ia tak akan berada di sekolah yang sama dengan Yesung karena appa Donghae –yang merupakan sekertaris Choi Corp– mendapat tawaran untuk memindahkan Donghae ke Jeguk.
Awalnya tentu saja Yesung begitu kecewa karena Donghae mengingkari janjinya. Butuh ratusan permintaan maaf dan hadiah yang harus Donghae kirimkan hingga akhirnya Yesung mau memaafkannya. Sejak saat itu, Donghae selalu menyempatkan untuk berkomunikasi dengan Yesung tidak peduli betapa sibuknya ia.
Lalu kemarin, bagaikan sebuah takdir Tuan Choi memberi Yesung kepercayaan untuk bersekolah di Jeguk. Mempertemukan kembali Yesung dan Donghae.
Yesung menarik lengan Donghae. "Sudahlah, kajja temani aku ke ruang guru."
"Jadi, kau murid baru yang direkomendasikan Presdir Choi? Siapa namamu sekali lagi?" seorang yeoja paruh baya ber-name tag 'Ms. Hwang' itu membetulkan kaca mata bacanya, mengamati beberapa lembar kertas di tangannya.
"Kim Yesung." Yesung menjawab sopan.
Wanita yang telah memutih beberapa helai rambutnya itu mengangguk. Ia meletakkan kertas-kertas tadi dan mengambil selembar formulir. "Presdir Choi memindahkanmu ke Jeguk dalam golongan social-care. Semua biaya pendidikan primer-mu telah dibiayai oleh Choi Corp."
Yesung mengangguk. "Ne, saya mengerti."
"Secara khusus Presdir Choi meminta agar kau berada di kelas 11-3. Dan kulihat nampaknya kau mengenal baik Class President 11-3."
"E-eh, kami berasal dari sekolah dasar yang sama, Hwang seonsaengnim." kali ini Donghae berusaha menjelaskan.
Hwang seonsaengnim mengangkat dua bahunya tak peduli. "Baguslah jika begitu. Tuan Lee, kau bisa membantuku mengajak tuan Kim berkeliling sekolah ini, bukan?"
"Ne, seonsaengnim."
"Baiklah, kalian bisa keluar."
.
.
Bay05
.
.
Yesung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seumur hidup ia tak pernah menjadi pusat perhatian, ia tak pernah tahu rasanya diperhatikan oleh orang banyak. Karena itu, sekarang ketika seluruh mata memandangnya, Yesung tak tahu lagi cara menghadapinya selain dengan menunduk berusaha menghindari tatapan semua orang.
"Ehem..." Mr. Kwon –guru statistika– berdehem sambil mengetuk papan menyadari bahwa tak seorangpun dari muridnya memperhatikan kelas yang ia berikan. Rasanya wajah manis merona Kim Yesung lebih menarik daripada ilmu yang harus mereka pelajari untuk melanjutkan bisnis keluarga mereka kelak.
"Mr. Kwon" tanpa memperhatikan keadaan, seorang namja dengan surai brunette ikal mengangkat tangan dengan wajah arogan.
Sang guru hanya bisa menghela napasnya. Ia berusaha menahan amarahnya yang sudah berada di ujung batas. Dari ekspresinya Mr. Kwon sudah dapat menebak jika muridnya yang satu ini tengah merencanakan sesuatu, dan ia hanya dapat berharap itu bukanlah sesuatu yang akan menyusahkan dirinya.
"Ya, Cho Kyuhyun-ssi?"
Ah, apa aku belum mengatakannya?
Entah kebetulan atau takdir buruk, Yesung berada di kelas yang sama dengan Cho Kyuhyun, bocah yang ia temui di bar beberapa hari lalu. Ck, ternyata anak itu tidak membual soal 'pewaris satu-satunya Cho Group.'
Yesung tidak yakin, namun sepetinya Cho Kyuhun tidak mengingatnya. Untunglah kali ini dewi fortuna masih mengasihaninya. Bisa terjadi masalah jika ada orang yang tahu bahwa ia sempat bekerja di bar malam.
"Ada seorang anak baru disini. Dan kurasa kami semua penasaran tentangnya. Apa anda keberatan jika kami mengambil sedikit waktu anda, membiarkannya memperkenalkan diri?"
Mr. Kwon mendudukkan dirinya di kursi guru. "Jika itu dapat membuat kalian memperhatikan pelajaran saya."
Kyuhyun memperlihatkan smirk andalannya. Ia mengalihkan pandangannya pada Yesung yang menatap Mr. Kwon dengan pandangan ragu. Seringaiannya semakin lebar melihat Yesung dengan gemetar berjalan perlahan menuju depan kelas.
Si manis membungkuk memberi hormat. "A-annyeong. Kim Yesung imnida. Saya adalah murid baru disini. Mohon bantuannya."
Seorang yeoja dengan surai ruby mengangkat tangannya. "Kim Yesung, bagaimana caramu masuk ke Jeguk?"
Yesung mengangkat sebelah alisnya. "Ye?"
"Semua orang tahu jika Jeguk adalah sekolah mewah dan hanya orang-orang yang benar-benar beruntung yang bisa masuk ke sini. Entah karena mereka anak seorang pengusaha, pejabat atau mungkin mentri. Apa yang dilakukan orang tuamu?"
"Atau kecuali, kau masuk ke Jeguk dalam kelompok social-care?" Yeoja itu melanjutkan membuat beberapa orang disana tertawa meremehkan.
"Yeah, Kim! Kami sangat penasaran tentangnya. Apa orang tuamu memiliki perusahaan? Apa namanya?" Kali ini seorang namja berwajah baby-face menimpali.
Yesung meremas jemarinya. Ia mendatap Donghae berusaha meminta bantuan. Tuan Choi berpesan bahwa tugasnya di Jeguk hanyalah mengawasi Siwon dan belajar dengan baik. Jangan sampai menjadi pusat perhatian.
Karena itu Yesung tidak mungkin mengatakan bahwa ia berada dalam golongan social-care dan hyung-nya adalah private butler keluarga Choi.
Namun lebih tidak mungkin lagi jika ia dengan seenaknya mengarang nama perusahaan atau mengakui suatu perusahaan adalah miliknya, bukan?
"A-aku–"
.
.
.
.
To Be Continued :)
Bagaimana? Apa sudah mulai absurd? ff ini memang mengacu pada The Heirs, tapi Bay nggak sepenuhnya retell. Jadi jangan mengasumsikan Ye bakal berakhir dengan Won atau Kyu, ya. Soalnya Bay belom mutusin juga. Bisa aja Ye berakhir dengan seme yang lain juga kan XD (ada yang punya usul?)
Untuk nama sekolahnya, Bay putusin untuk makai nama Jeguk, sesuai dengan The Heirs. Soalnya Bay gabisa ngarang nama sekolah yang ga klise. Mohon dimaklumi ya, otak Bay lagi buntu-buntunya.
Maaf updatenya lama. Bay sedikit sedih liat masalah-masalah yang terjadi di dunia per-Kpopan tahun 2014 ini. Bay cuma bisa berdoa semoga ga ada masalah lagi yang terjadi buat dunia K-pop. It has been a tough year.
Terakhir, mohon review-nya, ya^^
Special Thanks To :
evechan – DahsyatNyaff – rina afrida – m2qs – gnagyu – jeremy kim84 – AKUsukaYESUNG – KIMCLOUDS – Aimikka Cloudy – CloudSparkyuLove – Lele Clouds – Aura Kim – afifah . Kulkasnyachangmin – SparkCLoud0324 – spark ju clouds – Ye'Im Clouds – BlackCloudss – Reani Clouds – ajib4ff – Afifa Han – reny . rhey – alinzajazky – SasaClouds – indah . Lestari . 18 – cloudssatya – libra . Sparkcloudky – Purie Mayangsari – cassandraelf – kim . A . yeppa – kyusung shipper – ErmaClouds 13 – kyusung – Ksfrvr – ryani clouds – olla . Yongwonhi – budiarti . Fitria – beberapa Guest
Makasih semuanya^^
Maaf jika ada typo atau yang ga ketulis^^)v
