Dalnim That Embraces Haenim
Copyright ©Mayonice08
2012
a Haehyuk Fic
ROMANCE, ANGST
AU, YAOI, OOC
.
.
Hyukjae itu ...
Seperti cahaya rembulan.
.
.
a/n: Ini adalah ff lama yang baru sempat ku post. Judul mengalami perubahan dan penambahan cerita. Semoga suka.
Ost Fic: Secondhand Serenade – Broken
.
Bagian 2
.
Kekasihnya itu tengah terlelap. Donghae tertidur setelah kelelahan menangis dan memohon pada Hyukjae untuk mengabulkan keinginannya. Donghae berbaring miring memeluknya dari belakang. Deru nafasnya yang stabil menandakan ia tak terjaga.
Hyukjae tak pernah mengira Donghae akan sebergantung itu padanya. Donghae itu sosok yang mandiri. Donghae sosok yang kaku di hadapan orang lain. Namun, di depannya, pemuda itu seolah bertransformasi menjadi sosok lain.
Hyukjae memandang tangan Donghae yang melingkari pinggangnya. Tertidur pun, pemuda ini tak pernah melepaskannya. Donghae selalu memperangkapnya dalam pelukan. Ia meletakkan telapak tangannya tepat di atas tangan Donghae, memainkan jemari Donghae yang hangat.
Berhenti menjadi model.
Sedetik pun tak pernah terbersit di hati Hyukjae ia akan melakukannya. Haruskah Hyukjae menyerah dan mengikuti kemauan Donghae?
Keinginan Hyukjae itu sederhana. Ia hanya ingin bahagia. Kebahagian bersama Donghae. Itu berarti, jika Donghae bahagia. Hyukjae pun bahagia. Sederhana sekali.
.
.
"Hyukjae, ma chérie," Ayah Hyukjae tersenyum sambil merentangkan tangan menyambut Hyukjae. Semenjak Hyukjae memutuskan pindah dengan Donghae. Intensitas pertemuan mereka berkurang. Lelaki itu rindu bermanja-manja dengan anaknya.
"Papa sudah makan?" tanya Hyukjae.
Ayah-nya menggeleng.
"Aku bawa pancake mapel dan salad buah kesukaan Papa," seru Hyukjae. Ia memamerkan rantang berisi makanan yang dibawanya.
Ayahnya segera menggiring Hyukjae menuju meja makan. Hyukjae menyiapkan piring dan minuman untuk sarapan. Ia segera bergegas meletakkannya di meja makan. Menarik kursi di samping Ayahnya.
"Pancake buatanmu memang yang paling juara," puji Ayahnya sambil mengunyah pancake dengan sirup mapel tersebut.
Hyukjae tersenyum senang mendengarnya. "Makan yang banyak, Papa. Aku rindu sarapan bersama Papa," aku Hyukjae.
"Kau tak ada jadwal?"
Hyukjae menatap wajah Ayahnya lekat. "Aku mundur dari dunia model," lirihnya. Ayahnya cukup kaget mendengar penuturan Hyukjae.
"Kenapa? Bukankah itu mimpimu," Ayah Hyukjae mengamati gelagat putra semata wayangnya.
"Tak apa, Papa. Donghae memintaku untuk tinggal di rumah saja. Lagipula, cepat atau lambat aku akan hengkang dari dunia model. Kupikir, jika aku keluar sekarang, tak ada bedanya," jawab Hyukjae.
"Donghae memaksamu?" Ayahnya segera menudingkan pertanyaan itu.
Kepala Hyukjae menggeleng cepat. "Tidak Papa, dia tak memaksaku, aku melakukannya karena kupikir―" Jemari Hyukjae bergerak mendekati tangan Ayahnya. Ia menaruh telapak tangannya di atas tangan hangat sang Ayah. "―aku ingin memperjuangkan Donghae, Pa. Aku tak ingin egois. Aku harap kisah Papa dan Mama tidak terjadi padaku."
Ketakutan Hyukjae akan perpisahan melanda hubungan percintaannya. Ayah dan Ibunya berpisah karena Ibu Hyukjae jauh lebih sibuk dengan karirnya. Hyukjae tahu jika percekcokan mereka berawal dari komunikasi yang buruk serta ego masing-masing. Ibunya terlalu memuja karirnya. Sedang Ayah Hyukjae yang agak kolot kala itu, berharap Ibu Hyukjae untuk keluar dari pekerjaan dan memfokuskan diri pada keluarganya. Semua berujung pada perceraian. Hyukjae tak mau hal itu terjadi padanya.
"Hyukjae-ah, apa Donghae membuatmu bahagia?" tanya Ayah Hyukjae. Lelaki itu begitu khawatir. Ia tahu Hyukjae menyembunyikan sesuatu darinya.
Mencintai Donghae itu mudah. Seperti aliran air yang mengalir menuju lautan lepas. Ia tinggal membiarkan hatinya bergerak sendiri. Tahu-tahu cintanya sudah sebesar lautan pada Donghae.
Bersama Donghae itu sulit. Kekasihnya bukanlah pemuda biasa. Donghae punya masa lalu yang membuat ia seperti ini. Ketakutan. Kegelisahan Donghae kehilangannya. Temperamen Donghae yang meledak. Cemburunya. Egoisnya. Hal itu melukai Hyukjae.
Lantas, jika Ayahnya bertanya apakah ia bahagia? Jauh dalam lubuk hati, Hyukjae menemukan bahagia ketika ia bersama Donghae. Kekasihnya itu memberikan cahaya baru di hidupnya. Terlepas dari apapun sikap Donghae yang begitu salah. Hyukjae bahagia.
Hyukjae mengangguk. Ia memeluk lengan sang Ayah. "Donghae membuatku bahagia, Papa. Papa tak usah khawatir," ucapnya.
Hyukjae bahagia, semenyedihkan dan seegois apapun Donghae terhadapnya. Asal bersama pemuda itu. Hyukjae bahagia.
.
.
"Apa yang kau lakukan, sayang?"
Hyukjae menoleh ketika suara Donghae terdengar di gendang telinganya. Ia menghentikan kegiatannya mengocok adonan roti. Menyunggingkan senyum pada kekasihnya itu, sebelum bergerak mendekat pada Donghae untuk mengecupnya.
"Selamat datang, aku tak mendengar suaramu membuka pintu,"ucap Hyukjae. Berganti mengecup pipi sebelah kiri Donghae.
Donghae meliriknya dengan sebelah alis terangkat. Kekasihnya itu tengah mengenakan apron. Apron berwanakan hijau jingga dengan aksen bunga-bunga kecil di bagian ujungnya. Tangan Hyukjae juga terbalut sarung tangan untuk memasak.
"Kau terlalu asik dengan kegiatanmu, sedang apa, hm?" Donghae membawa kekasihnya itu dalam pelukan.
Hyukjae terkekeh pelan sambil mendorong Donghae untuk melepaskannya. "Lepaskan, Hae. Kotor. Tubuhku penuh tepung. Kau tak lihat aku sedang apa, hm?"
"Kau bisa memasak?"
Pertanyaan Donghae itu dijawab dengan kerutan dahi Hyukjae. Hyukjae melayangkan tatapan sebal. Sekali lagi ia mendorong tubuh kekar Donghae.
"Sudah sana mandi, kau akan tahu jawabannya satu jam lagi," serunya kembali mendorong Donghae untuk keluar dari dapur apartemen.
Kekasihnya itu mengerucutkan bibir dan memasang ekspresi kecewa. "Aku belum menciummu sayang, mandinya nanti saja, ya?" tawar Donghae. Dasar lelaki.
.
.
"Aku tak pernah tahu kau bisa memasak," aku Donghae. Ia menatap takjub pada kepingan biskuit kering di depannya. Bentuknya memang tak bulat sempurna, tapi dari harumnya biskuit itu terlihat begitu menggoda.
Hyukjae dengan telaten memasukkan kepingan biskuit itu ke dalam toples berukuran sedang. Donghae yang tak tahan, segera meraup satu keping. Ia menggigit biskuit berwarnakan coklat itu.
Renyah, garing, dan manis pas. Manis yang pas. Donghae suka ketika rasa coklat biskuitnya pecah di lidahnya. Tak begitu manis yang membuatnya enek. Rasa manis ini sesuai dengan seleranya.
"Enak, Hyukjae-ah," pujinya sambil mengambil satu keping lagi.
"Benarkah?" Hyukjae merona bahagia. Senyum gusinya tertampil cantik. Ia sudah lama tak memanggang biskuit. Terakhir kali ia membuat biskuit itu ketika masih di Perancis. Ketika Ibunya dan dirinya belum disibukkan dengan pekerjaan.
Hyukjae senang melihat Donghae mengunyah biskuit buatannya dengan lahap. Ia segera duduk di samping Donghae. Menopangkan tangan di atas meja sambil memandang kekasihnya itu.
Jika melihat tingkah Donghae yang kekanakkan seperti ini, semua orang pasti takkan percaya Donghae adalah sosok tempramental. Donghae sangat hangat, dia lembut, menyanjung Hyukjae penuh kasih. Tapi, ketika ia meledak. Semua itu lenyap. Digantikan Donghae yang mengerikan.
Hyukjae merelakan mimpinya demi lelaki ini. Ia berusaha menutup rapat impiannya. Membiarkan model menjadi masa lalunya. Kalau boleh memilih, Hyukjae ingin bertahan. Model adalah hidup Hyukjae. tapi, Donghae lebih penting dari hal itu. Sulit untuk melepaskan impiannya. Hyukjae belajar pelan-pelan untuk ikhlas melepaskannya. Mencari kegiatan lain untuk menyibukkan diri.
Seperti yang tengah Hyukjae lakukan saat ini. Ia sudah lama tak bersentuhan dengan dunia dapur. Menjadi penggangguran dadakan, Hyukjae suntuk. Menemukan dapur sebagai tempatnya melampiaskan gundah. Memanggang biskuit adalah langkah pertamanya. Ia rindu membuat cake ataupun muffin aneka rasa.
"Cobalah ini sayang," Donghae berkata. Membuyarkan lamunan Hyukjae. Donghae menyodorkan biskuit coklat yang tinggal separuh ke depan wajahnya.
Hyukjae membuka mulutnya. Membiarkan Donghae menyuapinya. Belum sempat ia melahap biskuit itu. Donghae mendekatkan wajah mereka. Bibir tipis Donghae meraupnya. Melumat bibirnya dengan kasih. Hyukjae pasrah, ketika Donghae menciumnya penuh gairah. Ia membiarkan kekasihnya itu. Donghae melepas ciuamannya. Meninggalkan bibir Hyukjae yang mengkilat basah dan membengkak
"Benar-benar enak," seru Donghae dengan binar indah di maniknya.
.
.
Demi Donghae. Hyukjae melepaskan kebebasannya.
Cermin itu retak dan porak poranda. Suara pecahannya ketika vas bunga dilayangkan ke arah cermin cukup keras, memekakkan telinga. Donghae dengan nafas tak beraturan, naik turun. Menahan emosinya. Amarah tampak jelas terlihat di wajah Donghae.
Di hadapannya, Hyukjae tak meringsut menghindar. Meski kentara kalau ia ketakutan dengan sikap Donghae. Pemuda itu berusaha untuk tak menunjukkannya melalui pandangan. Hanya saja, ketika gesture tubuh bisa berbohong, mata adalah jendela terhebat untuk menilik sebuah kejujuran.
"Sudah kubilang tak boleh keluar, ya tak boleh! Harus berapa kali aku menegaskannya kepadamu, Hyukjae!" teriak pemuda itu. Ia mengepalkan kedua tangannya. Seolah ingin meninju sesuatu.
Hyukjae menatap Donghae nanar. Kali ini, apalagi salahnya? Apalagi tindakannya yang salah dan menyulut amarah Donghae.
"Aku tak suka orang lain menatapmu. Kalau aku bilang kau tak boleh melangkahkan kaki dari tempat ini. Kau harus patuh, Hyukjae!" Donghae membentaknya dengan nada yang naik satu oktaf.
Kelopak mata Hyukjae terpejam ketika mendengar kekasihnya itu berteriak. Ini bukan kali pertama Donghae meneriakkinya. Ini juga bukan kali pertama sakit di hatinya merayap dalam diam ketika pemuda kekanakan yang ia cintai berubah menjadi sosok lain ketika marah.
Telapak tangan Donghae menangkup kasar dagu Hyukjae. Tangan hangat itu yang biasa Hyukjae genggam, kini mencengkeram dagunya untuk menengadah.
Manik kelam dan bening itu menatapnya nyalang. Lambat laun, menjadi tatapan sedih. Tatapan sedih yang membuat Hyukjae tak mampu setitikpun menyelipkan perasaan benci dengan perlakuan Donghae.
"Kumohon, mengertilah. Hyukjae ..." Donghae berbisik lirih dengan ekspresinya yang sedih. Air mata sudah jatuh menggenang. Donghae tak pernah secengeng ini jika dihadapkan dengan orang lain. Hanya pada Hyukjae, air mata itu mudah jatuh. Hanya pada Hyukjae, perasaan Donghae teragukan. Dipenuhi ketakutan.
Hyukjae yang sedari awal menahan air matanya terjatuh, kini lumpuh dalam dekapan kekasihnya. Ia membiarkan Donghae merenggut tubuhnya dalam pelukan. Ia membiarkan pemuda itu memperangkapnya dalam pelukan posesifnya.
"Aku takut Hyukjae-ah. Aku takut kau pergi, dan meninggalkanku," lirih Donghae lagi. Suaranya serak diiringi tangis.
Jemari Hyukjae merangkak naik. Ia menyusupkan jari-jarinya ke dalam surai Donghae. Pelukan itu berbalas. Memeluk kekasihnya erat, Hyukjae menepuk punggung Donghae dengan sayang.
"Tak akan, Hae. Aku takkan meninggalkanmu," balasnya penuh keyakinan.
.
.
Hyukjae menurunkan ponsel yang tengah ia genggam. Sebuah panggilan dari Perancis. Ayah tirinya menelpon langsung. Ayahnya itu memberikan kabar mengenai kondisi Ibunya.
Hyukjae terlalu kaget untuk berkata apa-apa. Ibunya yang selama ini ia kenal adalah tipikal wanita yang bersemangat, penuh keceriaan dan energik. Selama ini, Ibunya menyembunyikan kondisi kesehatannya dari Hyukjae maupun Ayah Hyukjae.
Mark―suami Ibu Hyukjae mengabarkan tentang Ibunya yang tengah terbaring selama satu minggu dengan kondisi yang lemah. Hyukjae harus pulang. Bagaimanapun juga, ia takkan tega berdiam diri disini sedangkan Ibunya tengah sakit di Perancis.
Pulang? Sepertinya hal itu akan susah Hyukjae lakukan. Ia harus memohon pada Donghae untuk mengizinkannya. Baru saja pemuda itu menyeruak masuk dalam pikirannya. Donghae tengah berdiri di ambang pintu depan.
Kekasihnya itu meletakkan sepatu yang ia kenakan. Langkahnya cepat menuju Hyukjae. Donghae terlihat lelah. Pemuda itu memeluk Hyukjae cepat.
"Aku pulang," gumamnya.
Hyukjae menyambut pelukan itu dengan suka cita. Ia mengeratkan lengannya pada bahu Donghae. Menepuk sayang punggung itu.
"Dalnim-ku masak apa hari?" tanya Donghae tanpa melepaskan pelukannya.
"Masakan kesukaanmu, mandi dulu sana. Setelah itu kita bisa makan bersama," Hyukjae menyarankan. Ia membantu Donghae melepas dasi yang melingkar di lehernya. Menarik dasi itu lepas dari kemeja yang Donghae kenakan.
"Hae... bolehkah aku pergi beberapa hari ke Perancis?" Hyukjae bertanya agak ragu. Ia mencuri-curi pandang ke arah Donghae yang berdiri di hadapannya.
"Kau ingin meninggalkanku, Hyukjae-ah?" desis Donghae. Pemuda itu seketika memandang Hyukjae tajam.
Rambut-rambut halus di belakang leehr Hyukjae berdiri. Tubuhnya entah kenapa bereaksi cepat ketika Donghae mulai menunjukkan tanda-tanda akan meledak.
"Bukan, Hae. A―" tergagap Hyukjae susah melanjutkan ucapannya. Ia terlalu takut bertemu pandang dengan Donghae.
"Sudah kubilang. Kau tak boleh kemanapun, kan? Apa kau tak mengerti, hah?" suara Donghae mulai naik satu oktaf.
Tubuh Hyukjae mulai gemetar. Hyukjae takut. Tapi, ia takkan menyerah kali ini."Hae, aku hanya akan pergi sebentar. Aku takkan―"
"Kau sudah berjanji. Kau sudah berjanji!" Donghae berteriak lagi. Memotong ucapan Hyukjae. Tak membiarkan kekasihnya itu menyelesaikan ucapannya.
Kepala Hyukjae berdenyut sakit mendengarnya. Hatinya juga. Rasanya sakit. Sesak.
Hyukjae menangis tersedu. Lelehan air mata itu salah satu bukti rasa sakit yang didera hatinya. Ia benar-benar lelah menahan perasaan tertekannya. Rasa cintanya yang mendalam, membuat Hyukjae buta akan sikap Donghae yang salah. Kegelisahan dan keposesifan Donghae yang melebihi batas wajar.
"Aku akan pergi, baik tanpa izinmu atau tidak," seru Hyukjae. Pernyataannya tersebut membuat keheningan seketika muncul di ruangan tersebut.
.
.
TBC
.
Terimakasih kepada :
Sugarplum137, kakimulusheenim, rani . gaem. 1, Haehyuklee, dekdes, haesyah elfishy, eunhyukuke, yungyung, Polarise437, lee ikan, RianaTieEdge, nurul. p. putri, naehyuk61, ryesung, Lee Haerieun, ahahyuk, jewELF, nyukkunyuk, HAEHYUK IS REAL, malaallrise. Silver, kartikawaii, haehyuk86, NkPark, Haehyuk456, TakanOnodera, Wonhaesung Love, choco137, ibessemalina,.
.
.
ma chérie itu panggilan sayang dalam bahasa Perancis untuk anak cewek. Padahal disini Hyuk cowok -_-. So sorry, anggap saja artinya benar ya.
Terimakasih yang sudah meninggalkan review,favorit, follow dan yang telah menyediakan waktunya membaca ff ini. ff ini jadinya 3shoot. Chapter terakhir sesegera mungkin dipost.
Mohon, review?Atau favorit?Atau follow?
Thanks guys.
