The Thorne
(by Bay05 © 2015)
Pairing :
not sure yet...
Cast :
Kyuhyun, Yesung, Siwon, etc.
Genre :
Drama, Romance, General, Hurt... /stopstop
Rate : T-eenager
Warning :
Boys Love, Crack Pair, Alur ngebut, OOC, Typo(s)
A/n:
Hayy semuanya~~! Gimana, apa ada yang masih nunggu ff ini setelah Bay anggurin lebih dari 6 bulan?
Hehe, maaf ya, Bay hiatus tanpa pamit. Bay kelas 9, jadi baru saja ngadepin UN. Bay pikir masih bisa nulis ff di sela waktu tapi ternyata Bay jadi sibukk banget.
Nah selama 6 bulan itu, banyak banget ide-ide yang bermunculan. Jadi ff ini mungkin uda menyimpang jauh dari prolognya. Hehehe, maafkan author yang plin plan ini ya!
Sekali lagi Bay minta maaf baru bisa update sekarang. Untuk readers yang sudah datang, makasih ya masih mau baca ff amatir Bay.
.
.
.
Enjoy! ^^
.
.
.
Yesung meremas jemarinya. Ia mendatap Donghae berusaha meminta bantuan. Tuan Choi berpesan bahwa tugasnya di Jeguk hanyalah mengawasi Siwon dan belajar dengan baik. Jangan sampai menjadi pusat perhatian.
Karena itu Yesung tidak mungkin mengatakan bahwa ia berada dalam golongan social-care dan hyung-nya adalah private butler keluarga Choi.
Namun lebih tidak mungkin lagi jika ia dengan seenaknya mengarang nama perusahaan atau mengakui suatu perusahaan adalah miliknya, bukan?
"A-aku–"
Knock Knock
Suara pintu yang diketuk menginterupsi perkenalan Yesung pada teman-teman sekelasnya. Tak berapa lama dari balik pintu munculah seorang namja jangkung yang mampu membuat seisi kelas terkejut, tak terkecuali Kyuhyun dan Sungmin yang terlihat sedang berusaha menjaga ekspresi mereka senormal mungkin.
"Choi Siwon... jadi, kau kembali?" suara bass Kyuhyun yang pertama kali sadar dari keterkejutannya terdengar jelas bahwa ia tak menyukai pemandangan yang ada di hadapannya.
"Lama tidak berjumpa, kawan-kawan. Maaf aku sedikit terlambat hari ini. Nampaknya Kim Yesung melupakan janjinya untuk berangkat bersamaku" Siwon kembali berkata sambil memandang Yesung dengan pura-pura kesal, membuat seisi kelas kembali terkejut tak terkecuali namja manis yang sedang memperkenalkan diri.
Yesung meneguk ludahnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang Siwon bicarakan, namun instingnya mengatakan bahwa Siwon akan menyelamatkannya dari pandangan haus teman-teman barunya yang begitu penasaran akan latar belakang sosialnya, jadi ia hanya terdiam di depan. Yesung merutuk dalam hati, pasti sekarang ia terlihat sangat kaku dan bodoh.
"Kau mengenal Kim Yesung?"
Siwon melihat sang penanya dengan pandangan terheran yang ia miliki. Namja Choi tersebut berjalan mendekati Yesung dan menarik Yesung ke dalam pelukan bersahabatnya.
"Apa kau tak bisa melihat dari penampilannya? Kim Yesung adalah anak dari rekanan bisnis baru Choi Group. Appa sangat menyayanginya, jadi sebaiknya kalian jangan macam-macam dengannya, arra?"
Tentu saja apa yang Siwon katakan adalah kebohongan. Yesung berpakaian sangat sederhana. Hanya seragam Jeguk tanpa aksesoris maupun pemanis apapun. Gaya berjalannya juga sangat kaku dan ia tidak dapat membuat eye contact terlalu lama dengan orang yang berbicara padanya. Belum lagi dengan kegugupannya yang seolah mengatakan bahwa ia sama sekali tidak nyaman dengan sekolah sejenis Jeguk High School.
Namun entah sihir apa yang Siwon gunakan, semua orang nampaknya percaya kepadanya. Bahkan termasuk Kyuhyun yang sempat melihat mereka berdua dengan pandangan tak percaya, namun kemudian nampak tak begitu peduli.
"Ehem," Mr. Kwon berdehem, berusaha membuat muridnya kembali berkonsentrasi pada pelajaran.
"Terima kasih, Kim Yesung atas perkenalanmu dan selamat datang kembali, Choi Siwon. Kali ini saya akan melepaskanmu. Silahkan duduk dan kita akan kembali pada pelajaran. Buka buku kalian di halaman 67. Kita akan membahas bab baru."
.
.
Bay05
.
.
Yesung menghabiskan sepanjang waktu istirahat pertamanya di Jeguk dengan berdiam diri di kamar mandi. Untunglah ia memilih kamar mandi yang jauh dari keramaian sehingga tidak ada orang berlalu-lalang dan mendapatinya merenung di depan wastafel layaknya orang bodoh.
Perkenalan di kelas 11-3 tadi membuatnya sedikit trauma. Hell, ia sangat takut tadi! Jika ia bukan seorang namja, sekarang ia akan mengunci dirinya sendiri di salah satu bilik toilet dan menangis sejadi-jadinya disana.
Ia tidak habis pikir, apakah memang seperti ini kehidupan sehari-hari di Jeguk? Semua orang hanya peduli dengan latar sosialmu, berapa uang yang kau miliki dan perusahaan apa yang kau warisi nanti? Yesung tidak menyangka seperti inilah sekolah yang selalu dipuja temannya ketika ia berada di Junior High School dulu.
Menyeramkan dan Liar.
Yesung heran mengapa semua orang melihat dengan kagum remaja yang memakai seragam Jeguk ketika sekarang ia rela menukar apa saja asal ia dapat kembali ke kehidupannya yang dulu. Ia berniat memberitahukan teman-teman di sekolah lamanya bahwa Jeguk bukan sekolah yang patut mereka idam-idamkan.
"Membayangkan sesuatu yang menyenangkan, anak baru?"
Namja mungil itu tersentak kaget mendengar suara bass yang mulai ia hafal. Namja Kim tersebut memutar tubuhnya menghadap si brunette yang berjalan mendekatinya. Yesung bersiaga "Sekarang apalagi yang kau mau, Cho Kyuhyun? Apa kau belum puas mempermalukanku di kelas tadi?"
"Ah, jadi aku mempermalukanmu? Maaf, Kim Yesung." Kyuhyun menaruh kedua tangannya di dada, meminta maaf dengan nada paling mencemooh yang pernah Yesung dengar selama hidupnya.
"Tapi harusnya jika kau tidak berada dalam golongan social-care, kau tidak akan merasa dipermalukan tadi. Atau jangan-jangan, kau memang berada dalam kelompok social-care, ya?"
Yesung tidak menjawab, ia hanya mundur selangkah demi selangkah, seiring Kyuhyun yang semakin memojokannya. Yesung merasa begitu kecil, ia merasa bagai buruan yang siap diterkam Kyuhyun kapan saja.
Thug!
"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Kim Yesung?" suara Kyuhyun terdengar begitu mengintimidasi ketika akhirnya punggung yang Yesung menyentuh tembok di belakangnya. Kyuhyun menyeringai senang melihat keringat mulai mengalir dari pelipis Yesung.
"Minggir dari hadapanku, Cho Kyuhyun." sekuat tenaga Yesung berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar bergetar.
"Atau apa, huh?"
Kyuhyun menunduk agar wajahnya dapat berhadapan langsung dengan wajah tanpa cela Yesung. Dalam hati namja Cho itu tertawa melihat Yesung yang berusaha memutus eye contact dengannya.
"Orang-orang seperti kaulah yang paling membuatku risih." ujar Kyuhyun.
Si tampan mendekatkan wajahnya ke samping wajah Yesung. Maju perlahan hingga ia tepat di sebelah telinga Yesung. Si manis berdoa pada tuhan agar tidak ada orang yang masuk ke toilet ini. Posisi mereka sekarang ini pasti akan membuat banyak orang salah paham apalagi ia melakukannya dengan Kyuhyun yang notabennya salah satu orang paling populer di Jeguk.
"Aku tidak tahan dengan pengecut." bisik Kyuhyun di telinga Yesung.
"Orang-orang sepertimu, yang tak mau berjuang demi tempatnya yang diinjak orang lain. Yang tidak berusaha melawan ketika ia diinjak-injak. Orang-orang sepertimu membuatku muak, Kim Yesung. Jika aku harus memberimu satu masukan untuk bertahan hidup di Jeguk; kuatkanlah dirimu dan jangan jadi pengecut seperti sekarang ini"
Kyuhyun menjauhkan dirinya dari Yesung begitu ia selesai mengucapkan kata-kata yang membuat Yesung membatu tersebut. Kyuhyun memandang Yesung sinis kemudian ia berbalik, nampaknya ingin kembali menuju kelas.
"Tunggu, Cho Kyuhyun!" teriak Yesung sebelum Kyuhyun benar-benar keluar.
"Kau mengatakan bahwa aku pengecut, namun apa kau tak melihat dirimu sendiri?! Seseorang yang melampiaskan kemarahannya dengan menindas orang lain, kau pikir itu tindakan heroik? Kau pikir kau hebat karena kau menindas orang-orang?" racau Yesung berapi-api.
"Justru orang sepertimulah yang sebenarnya pengecut, Cho Kyuhyun! Orang yang memakai kekuatannya dengan asal. Kau pikir aku takut padamu? Kau pikir kau berkuasa di sekolah ini? Semua kekuatanmu itu hanya kepura-puraan." Yesung tersenyum puas ketika melihat tangan Kyuhyun terkepal erat.
"Hina aku, caci maki aku sesukamu, Cho Kyuhyun. Namun itu tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik! Terima kasih, tetapi aku tidak membutuhkan masukanmu, Cho." Nafas Yesung terengah-engah, namun rasanya puas sekali dapat meluapkan emosinya pada namja sok berkuasa itu.
Tubuh tegap Kyuhyun yang tadi berhenti sejenak melanjutkan jalannya dengan langkah pasti tanpa berbalik menghadap Yesung. Yesung tersenyum; ia menang. Ia pasti sudah menang melawan si Cho sok jagoan itu.
Yesung mungkin lebih miskin, namun ia tidak suka harga dirinya diinjak-injak seperti tadi. Hyung-nya selalu berkata untuk berbuat baik pada siapapun. Namun jika Cho Kyuhyun ingin perang, maka Yesung akan memberikannya.
Sekitar lima menit kemudian Yesung keluar dari toilet dengan senyum penuh kemenangan. Sayang sekali tak ada yang melihatnya tadi, pasti ia adalah satu-satunya orang yang berani melawan Cho Kyuhyun. Dan karena itulah namja brunette itu menjadi sok jagoan– pikir Yesung kesal.
Bruk!
Yesung hampir terjatuh ketika seorang namja bertubuh tegap berlari dan menyenggol bahunya. Si manis berdecak kesal ketika namja asing tersebut tidak repot-repot berhenti dan menanyakan keadaaannya atau paling tidak meminta maaf.
"Ck, dasar tidak sopan." gerutu Yesung.
Yesung memijat bahunya yang sedikit nyeri ketika ia menyadari orang-orang di sekitarnya berlari menuju arah yang sama. Si manis menoleh ke kanan dan ke kiri. Apa ada sesuatu yang terjadi?
Si raven kemudian memutuskan menggenggam tangan seorang yeoja mungil yang kebetulan berlari melewatinya. "Ada apa ini? Mengapa semua orang berlari?"
"Aku tidak tahu. Tapi kudengar Cho Kyuhyun sedang menghajar Jung Yunho di depan kelas 11-5"
gadis tersebut berkata begitu cepat kemudian kembali berlari menuju tempat tujuannya, meninggalkan Yesung yang masih terpaku di tempatnya.
'Sial, ini semua karenaku!' Si manis menyumpah pada dirinya sendiri kemudian berlari sekencang yang ia bisa menuju kelas 11-5.
.
.
Bay05
.
.
Brak!
Cho Kyuhyun tersenyum puas melihat Yunho meringis kesakitan ketika ia membanting tubuh namja Jung itu ke loker di belakangnya hingga terdengar bunyi hantam yang keras. Beberapa murid yeoja yang melingkari mereka dan melihat kejadian tersebut berteriak, namun tak ada satupun dari mereka yang berusaha menghentikan aksi beringas Cho Kyuhyun.
Kyuhyun meremas kerah seragam Yunho kasar, kemudian menghantam Yunho tanpa ampun tepat di rahang bawahnya.
"Hentikan, Cho Kyuhyun!" Kyuhyun baru akan meluncurkan hantaman lain ketika suara husky nyaring tersebut menghentikan kegiatannya.
Namja bersurai brunette tersebut menyeringai melihat namja mungil yang ia tunggu sedari tadi akhirnya datang juga. Kyuhyun melepaskan genggamannya di kerah seragam Yunho dengan kasar membuat namja Jung tersebut kembali terantuk ke loker di belakanganya.
Kyuhyun memandang kerumuman yang siswa yang melihatnya menghajar Yunho seolah menyuruh mereka semua untuk memberi jalan untuk Yesung. Begitu dilihatnya kerumunan tersebut mulai merenggang memberi jalan, tangan besarnya langsung menarik Yesung ke sebelahnya. Menempatkan namja Kim itu dihadapan Yunho yang sudah babak belur.
"Jung Yunho, apakah kau tau alasanmu kupukuli hingga seperti ini?"
Si tampan menarik Yesung semakin dekat padanya, Ia kemudian berkata dengan lantang.
"Hari ini ada seorang anak baru yang mengatakan jika aku tidak memiliki kekuasaan apapun di sekolah ini. Dan bahwa aku hanyalah seorang pengecut yang berpura-pura kuat. Apakah kau setuju dengannya, Yunho-ah?"
Yesung menunduk dalam. Hatinya terasa tertohok melihat Yunho menggeleng ketakutan. Sungguh ia tak menyangka akan jadi seperti ini. Ia akan menjaga mulutnya baik-baik tadi jika ia tahu nyawa orang lain sebagai taruhannya.
"JAWAB AKU!" Bentak Kyuhyun.
"T-tidak, Kyuhyun. A-aku tak berpikir begitu."
Kyuhyun memandang rendah Yunho, kemudian merangkul Yesung dengan sebelah tangannya. "Orang itu adalah Kim Yesung. Anak baru yang kukira pengecut, namun ternyata ia memiliki cukup keberanian untuk menantangku. Jujur aku salut padamu, Kim. Bahkan belum pernah ada orang yang mengatakan hal seberani itu padaku."
"K-kyuhyun kumohon hentikan semua ini" lirih Yesung pelan agar tak ada yang mendengarnya.
Kyuhyun melepaskan tangannya dari pundak Yesung kemudian mendorong namja manis tersebut. "Ah, jadi sekarang kau memohonku untuk berhenti? Kau harusnya berpikir dahulu sebelum menantangku. Well, aku mengampunimu kali ini. Jadikan ini sebuah pelajaran untukmu, anak baru."
"Kyuhyun, cepat selesaikan urusanmu. Mrs. Jung sudah mendengar tentang ini dan ia menuju kemari!"
seorang namja jangkung yang jika Yesung tidak salah mengingat namanya adalah Shim Changmin mengatakan hal tersebut tepat ketika seorang wanita paruh baya berbelok menuju koridor tersebut.
"Anak-anak apa yang kalian lakukan disini!"
Teriakan lantang Mrs. Jung menggema di penjuru koridor tersebut membuat kerumunan yang ada disana bubar seketika tak terkecuali Kyuhyun dan teman-teman segengnya yang berbaur melarikan diri dengan para murid yang lain menyisakan Yunho yang merintih kesakitan di lantai dan Yesung yang berusaha membantunya.
"Ms. Jung, saya dan Kim Yesung akan mengantarkan Jung Yunho ke ruang kesehatan." Yesung medongak ketika mendengar suara yang cukup familiar di telinganya dan menemukan Choi Siwon disana.
"Baiklah, apa kalian tau siapa yang membuat keributan ini?"
"Kami tidak tahu Ms. Jung, saya dan Yesung baru saja datang dan semua anak berhamburan ke kelas masing-masing." jelas Siwon meyakinkan.
Wanita paruh baya tersebut menghela nafasnya, ia memijit kepalanya. Jelas keributan ini akan menjadi tumpukan masalah baru untuknya. Ms. Jung terlihat begitu tertekan ketika ia mempersilahkan Yesung dan Siwon mengantar Yunho ke ruang kesehatan.
.
.
Bay05
.
.
"Haah" Yesung membuang nafasnya berat. Setelah beribu-ribu kali ia menyampaikan permintaan maaf kepada Yunho –walaupun Yunho sendiri sudah memaafkan Yesung dari awal– akhirnya Yesung keluar dari balik tirai ruang kesehatan dan membiarkan suster sekolah merawat luka Yunho.
"Kau rasanya begitu tertekan tadi" Siwon yang menyandarkan dirinya pada pintu ruang kesehatan berkomentar.
Yesung menatap Siwon malas. "Kau pikir bagaimana perasaanku membuat anak seseorang babak belur seperti itu? Belum lagi Cho Kyuhyun sialan itu mengumumkan kepada seluruh sekolah bahwa ini semua karenaku. Harusnya sejak awal aku tidak menerima penawaran Mr. Choi untuk pindah ke sekolah ini"
Siwon melebarkan matanya begitu ia mendengar kalimat terakhir Yesung. Dengan panik Siwon menerjang Yesung dan meletakkan telunjuknya di bibir tipis tersebut. "Sssshhh... jangan mengatakannya keras-keras. Semua orang disini mengira kau adalah orang kaya baru"
Si manis mendorong Siwon menjauh. "Ada masalah yang lebih besar sekarang, bagaimana jika Ms. Jung tau aku terlibat dalam perkelahian tadi? Jika sekolah memutuskan untuk menjatuhkan drop out padaku di hari pertama sekolah, aku bisa habis oleh Leeteuk hyung."
"Tenang saja, bukankah tadi kau sudah mendengar kebohonganku pada Ms. Jung? Ia tak akan memanggilmu walau separuh sekolah ini berkata kau terlibat pada perkelahian tadi. Apakah kau lupa siapa yang memiliki sekolah ini?"
Yesung berdecih. "Dasar tukang pamer. Lagipula aku baru tahu jika ternyata Choi Siwon adalah seorang aktor yang hebat. Baru sehari kau kembali dan kau sudah mengatakan dua kebohongan besar."
"Ya, Kim Yesung! Apa kau tak sadar semua kebohongan yang kubuat itu untuk melindungimu? Ck, bukankah Appa menyuruhmu pindah kesini untuk mengawasiku. Namun mengapa yang terjadi malah kebalikannya, huh?"
Namja Kim itu hanya menyengir lebar. "Hehe, kurasa Tuan Muda Choi tak selamanya angkuh dan menyebalkan."
Siwon memutar bola matanya bosan. "Hey, yang tadi itu tidak gratis"
"Duh, kau ini sangat kaya tapi masih saja meminta imbalan? Aku tidak punya uang untuk membayar kebohonganmu!" gerutu Yesung.
"Ya, bukan itu yang kumaksud! Bukankah Appamemintamu mengawasiku? Katakan pada Appayang baik-baik saja tentangku. Appa selalu panik walau aku membuat kenakalan yang paling kecil sekalipun."
Si manis menampangkan wajah berpikir sejenak, menurtunya berbohong terutama pada orang yang memberinya tempat tinggal selama ini jelas bukan hal yang baik. Namun, ia setuju dengan Siwon bahwa orang tuanya terlalu protective pada anak bungsu mereka.
'Bukankah berbohong demi kebaikan itu tak apa?' –Yesung berpikir sejenak. Setelah menimbang beberapa hal, ia akhirnya menyetujui tawaran Siwon dengan syarat Siwon tak melakukan hal yang menurutnya melewati batas.
.
.
Bay05
.
.
Setelah kejadian hari itu Yesung dan Siwon menjadi jauh lebih dekat dari sebelumnya. Mereka selalu dekat satu sama lain karena jelas hal tersebut menguntungkan mereka; dengan Siwon, Yesung dapat terbebas dari masalahnya di sekolah dan begitu juga sebaliknya. Dengan Yesung, Siwon dapat terbebas dari masalahnya di rumah.
Walau mereka tidak selalu terlihat bersama –karena memang Siwon lebih suka menghabiskan waktu sendiri– namun setidaknya Siwon cukup terbuka pada adik dari private butler keluarganya tersebut, hal yang cukup langka terutama karena Siwon dan Yesung baru mengenal kurang lebih selama sebulan.
"Jadi, kau akan pulang larut hari ini?"
"Begitulah, tolong katakan pada eomma aku ada pelajaran tambahan hari ini, oke?"
Yesung menggelengkan kepalanya melihat tingkah tuan mudanya itu. "Kau tahu Siwon, aku rasa aku sudah terlalu banyak berbohong pada Ms. Choi,"
"Ayolah, Yesung-ah. Toh selama ini, tak ada hal buruk yang terjadi dan kau tahu benar jika aku masih membangkang dalam batas wajar. Aku berjanji jika aku melakukan sesuatu yang kelewat batas, kau boleh melaporkanku pada appa sekalipun."
Yang lebih pendek menghela napasnya. Mau bagaimanapun, ia tak akan bisa menolak permintaan tuan mudanya itu. "Baiklah, tapi ini jangan pulang lebih dari jam 6, orang tuamu bisa curiga"
"Yes! Terima kasih, kau yang terbaik, Yesung!" girang Siwon seraya berlari di koridor menuju parkiran sekolah untuk mengambil mobilnya dan bersenang-senang dengan temannya.
Yesung berdecak, kadang ia heran tentang mana sifat Siwon yang asli –sifat dingin dan sok tak peduli yang biasa ia tampilkan dalam keadaan normal atau sifat hiperaktifnya yang ia tampilkan ketika ia sedang menginginkan sesuatu?
Namja Kim itu membuka pintu lokernya dan memasukkan buku matematika yang ia gunakan untuk pelajaran terakhir tadi ke dalam lokernya. Ketika ia akan menutup dan menguncinya, betapa terkejutnya Yesung melihat sosok namja baby face tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Bersandar pada loker di sebelahnya.
"Omo! Lee Sungmin-ssi?"
Sungmin menyeringai melihat Yesung yang kaget seperti itu. Seringainya begitu tipis namun berbahaya, mengingatkan Yesung pada seringai Kyuhyun. Terbesit ketakutan di hati Yesung, apa tadi Sungmin mendengar percakapannya dengan Siwon? Bisa gawat jika fakta ia dan Siwon tinggal seatap terbongkar.
"Ah, rupanya kau sudah mengenalku? Walaupun kita sekelas, rasanya kita belum pernah benar-benar mengobrol , ya? Apa kau keberatan berbicara sebentar denganku?"
'Matilah kau, Kim Yesung!' –batin Yesung pada dirinya sendiri.
Yesung tersenyum kikuk. "Mengobrol denganku? Tentang apa?"
"Sesuatu yang cukup pribadi, aku tak bisa mengatakannya disini."
Maka disinilah Yesung sekarang. Di tempat yang Sungmin katakan sebagai apartemen pribadinya. Yesung semakin gugup, memang hal sepribadi apa yang Sungmin ingin bicarakan hingga mereka harus membicarakannya di tempat yang benar-benar tidak ada orang lain?
"Kau mau minum sesuatu, Yesung-ah?"
Yang ditanya menggeleng pelan. Untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, Yesung tidak nyaman berada sendirian di sekitar Sungmin. Targetnya sekarang adalah menyelesaikan percakapan dan pergi dari apartemen Sungmin secepatnya.
"Jadi, kau sudah lama mengenal Choi Siwon?"
Si manis membesarkan matanya, jelas takut identitas aslinya akan terbongkar. Namun ia berusaha menjaga ekspresinya senormal mungkin. "Tidak, aku baru saja mengenalnya."
Sungmin tersenyum. "Ah, jadi kau mungkin tak mengetahui hal ini."
Namja Kim itu mengangkat sebelah alisnya. Siwon mengenal Sungmin sebelum ini? Yesung mengerti harusnya ia tak mencampuri urusan Siwon. Namun entah mengapa sebagian dirinya ingin tahu tentang hubungan Siwon dan Sungmin di masa lalu.
"Sebelum Siwon berangkat ke Amerika, orang tuanya berusaha menjodohkan Siwon denganku. Aku tahu kami terlalu muda untuk itu, namun begitulah hidup kami; telah diatur dan direncanakan oleh orang tua kami. Tentu saja Siwon menolak, ia selalu menemukan cara untuk kabur dari acara tersebut."
Sungmin mengatakannya dengan begitu lancar sehingga Yesung yakin itu bukan sebuah kebohongan.
Namja Lee itu menghela nafasnya. "Setelah Siwon berangkat ke Amerika, kupikir orang tua kami juga melupakan pertunangan bodoh itu. Namun diluar dugaanku, kemarin Ms. Choi menghubungiku dan mengatakan bahwa ia masih sangat ingin Siwon berakhir denganku."
Yesung terkejut –tentu saja. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa di abad ke-21 ini masih ada perjodohan seperti itu, terutama untuk orang-orang yang ia kira berpikiran maju seperti mereka. Perlahan ia mengerti mengapa Siwon tumbuh menjadi pemberontak, Choi bungsu itu pastilah tak suka dikekang dan dibatasi.
"Tapi bahkan setelah tiga tahun, Siwon masih menolak perjodohan tersebut. Ia mengatakan ia takkan pernah menyetujuinya. Disitulah aku butuh bantuanmu, Yesung–"
"Sungmin-ssi, kurasa kau salah paham disini. Aku dan Siwon tidak sedekat itu. Apalagi ia keras kepala. Aku tak mungkin bisa membujuknya untuk melakukan sesuatu yang tak ingin ia lakukan. Apalagi untuk hal seserius ini." Yesung menjelaskan, berharap Sungmin tidak menariknya dalam masalah keluarganya dan keluarga Choi.
"Kau tak perlu, Yesung." Sungmin menatap Yesung sambil tersenyum janggal.
"Kau tak perlu sedekat itu dengan Siwon. Yang penting Siwon akan datang jika kau mengajaknya ke suatu tempat, 'kan? Ajaklah ia makan di suatu restaurant. Namun bukannya kau, tetapi aku dan orang tua kami yang akan ada di restaurant tersebut."
Yesung tersentak kaget. Entah mengapa ia tidak setuju dengan ide mengelabui Siwon seperti ini. Ia tidak yakin Siwon akan menyukainya. "Aku tidak tau, Sungmin. Kurasa itu bukan ide yang bagus."
"Oh ayolah, Kim Yesung. Jangan menjadi lemah seperti ini. Kau tahu betapa orang tua kami menginginkan ini, bukan? Apa kau tak bersimpati pada kami?"
Si manis terlihat ragu. "Tapi pasti ada cara lain kan selain membohongi Siwon–"
"Yesung-ssi. Asal kau tahu saja, aku adalah murid kesayangan Ms. Jung"
"Ne?"
Sungmin menyeringai. "Aku melihat beberapa hari lalu kau dan Kyuhyun berseteru dan menyebabkan Jung Yunho menjadi korbannya. Aku penasaran bagaimana reaksi Ms. Jung jika aku katakan kau dan Kyuhyun bersekongkol dan membully Jung Yunho bersama?"
Mata Yesung membola tak percaya. "Lee Sungmin?! Kau mengancamku?"
Namja baby face itu kembali menyeringai tipis. Ia memutar ponsel di tangan kirinya. "Aku tidak mengancamu, Yesung. Aku hanya memberikanmu penawaran; kau ingin membantuku atau menjalani skorsselama beberapa hari?"
Yesung memejamkan matanya. Satu lagi kejutan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai siapapun di sekolah barunya tersebut (mungkin dengan Donghae sebagai pengecualian). Ia tak menyangka bahkan orang semanis Sungmin pun diam-diam memiliki sisi iblis seperti ini.
Yesung tak ingin membohongi Siwon, namun di sisi lain ia juga tidak bisa membiarkan Leeteuk dan Mr. Choi kecewa padanya, apalagi di minggu pertamanya sekolah di Jeguk. Ia hanya berdoa pada tuhan semoga keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang terbaik.
"Baiklah, Lee Sungmin. Aku akan melakukannya, kau puas?" suara Yesung terdengar bergetar.
Sungmin tersenyum lebar. Wajah manisnya kembali terlihat. Ia berdiri kemudian menepuk pundak Yesung ringan. "Aku selalu tahu jika kau bisa diandalkan."
.
.
Bay05
.
.
Dua hari setelahnya, di sinilah Yesung berada. Di toilet restaurant mewah milik salah satu teman dekat Sungmin. Selama dua hari terakhir ini Yesung sama sekali tak berbicara dengan Siwon, walau mereka baru mengenal Yesung merasa begitu bersalah akan mengelabui Siwon. Ia tak ingin hatinya luluh jika ia melihat dua obsidian menawan Siwon.
Yesung menatap ponselnya nanar. Setelah menarik napas dalam-dalam, Yesung akhirnya mendial nomor Siwon. Terdengar bunyi nada sambung beberapa kali sebelum akhirnya Siwon mengangkat panggilan darinya.
"Yeoboseyo, Choi Siwon?" Si manis menggigit bibirnya, suaranya bergetar. Ia bukan namja yang cengeng namun entah mengapa hatinya berdentum keras hanya dengan menelepon Siwon.
"Yeoboseyo, Yesung-ah?! Astaga, akhirnya kau meneleponku! Mengapa dua hari ini kau selalu mengabaikanku, huh?" terdengar suara berat di seberang line.
"Siwon, aku butuh bantuanmu." Yesung mengabaikan pertanyaan Siwon.
"Nde? Bantuan seperti apa?"
Si manis mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, seolah berusaha menguatkan dirinya sendiri. Dari kaca kecil di pintu toilet ia dapat melihat Sungmin menyeringai senang melihat wajah pucatnya.
"Bisakah kau datang ke Beale St. restaurant di Hongdae?"
"Beale St. Restaurant? Bagaimana kau bisa berakhir disana, Yesung-ah?"
"Cho Kyuhyun memaksaku kesini"
Yesung menilai dirinya sebagai pembohong paling menjijikkkan di dunia setelah ia mengatakan hal tersebut. Degup jantungnya kembali berdetak lebih cepat ketika Siwon tidak langsung memberikan jawaban. Ada jeda lama sebelum akhirnya Siwon kembali bersuara.
"Cho Kyuhyun memaksamu? Apakah dia mengancammu lagi atau–" suara Siwon terdengar khawatir.
"Hanya datang kesini, okay? Aku menunggumu."
tanpa menunggu Siwon membalas perkataanya Yesung langsung menutup panggilannya. Ia langsung mematikan ponselnya agar Siwon tak menghubunginya lagi. Yesung berpegangan pada wastafel di depannya. Ia begitu gugup hingga rasanya kakinya lemas sekali dan tak bisa menopang berat tubuhnya.
Yesung merasa begitu buruk telah membohongi Siwon. Ia dapat melihat Sungmin tersenyum puas diluar. Yesung merasa tidak sanggup berbicara pada Sungmin karena itu ia langsung keluar dari toilet dan berjalan meleawati Sungmin. Ia tak ingin kembali lagi, dan terlebih tak ingin melihat reaksi Siwon ketika namja Choi itu menyadari Yesung telah berdusta padanya.
.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Siwon datang dengan berlari masuk ke dalam restaurant tersebut. Nafasnya terangah-engah, kedua matanya bergerak liar mencari keberadaan Yesung. Beberapa orang di dalam restaurant memandangnya aneh namun Siwon tidak peduli. Yesung bersama Kyuhyun, dan itu bukan hal baik.
"Apa anda Tn. Choi Siwon?" seorang pelayan mendekati Siwon yang masih mengambil nafasnya. Namja tampan tersebut melihat pelayan tersebut dengan mata berapi-api.
"Ya, aku Choi Siwon. Tetapi, nona, apakah kau melihat seorang namja. Tingginya sekitar 2 inchi lebih pendek dariku dan bersurai hitam, kemudian–"
Pelayan tersebut menuntun Siwon menuju ruangan kecil di sudut restaurant. "Teman anda sudah menunggu di ruang VIP, tuan."
Siwon menaikkan sebelah alisnya "Apa? Rasanya tidak mungkin Yesung melakukan hal itu. Kurasa anda salah orang."
Pelayan tersebut tetap berjalan, ia membuka pintu ruang VIP tersebut dan betapa terkejutnya Siwon melihat keluarga Lee dan Appa-nya tengah bercengkrama di ruang tersebut. Bukankah tadi Yesung mengatakan ia kemari dengan Kyuhyun? Apa maksudnya semua ini?
"Siwon-ah, akhirnya kau datang juga."
Pintu di belakang Siwon ditutup oleh pelayan tadi namun Siwon masih betah berdiri di tempatnya. Siwon masih terlalu kaget, tentu saja. Namun kemudian ia melihat senyum licik Sungmin yang langsung membuatnya mengerti bahwa pasti Yesung dan Sungmin bersekongkol untuk memancingnya kesini.
Siwon terpaku. Yang tak membuatnya mengerti adalah mengapa Yesung setuju untuk membantu Sungmin? Bukankah ia sudah tahu bahwa Siwon adalah orang yang bebas dan tidak suka diatur. Kemudian suatu kemungkinan terbesit di pikiran Siwon.
Uang!
Tentu saja. Walau Siwon tak pernah mengira Yesung serendah itu untuk melakukan semuanya demi uang namun di jaman seperti sekarang ini siapa yang tak membutuhkannya? Mungkin saja Yesung benar-benar butuh uang untuk beberapa keperluannya dan Sungmin muncul di saat yang tepat.
"Ayo Siwon, duduklah." Appanya kembali menyuruh Siwon untuk duduk.
Choi junior itu menatap Appa-nya tajam. "Appa, sudah berapa kali kukatakan aku tak bisa menerima perjodohan bodoh ini? Berhenti mencoba menyatukanku dengan Sungmin."
"Kami tidak akan membicarakan perjodohan, Siwon-ah. Paling tidak, apakah kau tidak ingin makan siang bersama dan mengenal keluarga kami lebih baik? Kau sama sekali tak berubah sejak masa Junior High school," kali ini Sungmin angkat bicara, namun Siwon memandangnya muak. Ia tak pernah menyukai Sungmin dan seluruh kepalsuannya.
"Makan siang omong kosong." Siwon menatap Sungmin tajam.
"Choi Siwon! Duduk disini atau appa akan menghukummu!" geram Mr. Choi.
"Lakukan semaumu, appa. Namun aku tidak akan pernah setuju dengan perjodohan ini." Siwon memutar badannya dan berjalan menuju pintu. Ia muak dengan semua perjodohan ini. Siwon benar-benar membencinya.
Klek Klek
Mr. Choi tersenyum kecil melihat putra bungsunya berusaha membuka pintu dengan amarah. "Kembali kemari, Siwon. Appa tak sebodoh itu membiarkan kau lari dari sini. Pintu tersebut tak akan terbuka kecuali Appa mengatakannya. Sekarang kembali kesini dan berbuat baiklah sebagaimana Appa membesarkanmu!"
Gigi Siwon menggertak kesal, urat nadi di lehernya terlihat seolah menjelaskan ia membenci keadaannya sekarang. Ia menendang pintu tersebut keras-keras.
"Siwon, kau bisa melukai dirimu sendiri." Sungmin berkata lembut.
"BERHENTI BERBICARA SEOLAH KAU MENGENALKU, LEE SUNGMIN!" Bentak Siwon. Jantungnya berdegup begitu kencang saking geramnya. Wajah Siwon memerah, dan dengan seluruh harga dirinya yang sudah dirampas paksa akhirnya Siwon berbalik.
Dengan berat hati ia duduk di samping appa-nya dan melaksanakan makan siang dengan keluarga Lee walau selama acara tersebut Choi junior itu jelas memperlihatkan ketidaksukaannya.
.
.
Bay05
.
.
Siwon kembali ke rumahnya sekitar pukul 4 sore. Kemarahannya masih meluap-luap terlihat jelas dari raut wajahnya yang keras. Yang paling ia inginkan sekarang adalah masuk ke kamarnya dan membanting apapun yang ia bisa untuk mengatasi kemarahannya.
Langkah Siwon begitu lebar, cepat dan pasti. Namun baru saja ia sampai di lorong yang menuju ke kamarnya, sebuah tangan mungil menghentikan pergerakannya. Tanpa menoleh pun Siwon sudah tahu siapa pemilik tangan tersebut.
Dengan kasar Siwon menepis tangan tersebut dan melanjutkan perjalanannya. Namun lagi-lagi tangan tersebut menggapainya. Kali ini lebih erat sehingga ia tidak dapat menepisnya dengan mudah.
"Siwon aku–"
"LEPASKAN TANGANKU!" Bentak Siwon begitu keras hingga menggema di lorong tersebut. Namja Choi itu membalik badannya dan mendapati Yesung –orang yang paling tak ingin ia temui saat ini– berdiri disana, ketakutan melihatnya.
"Siwon, maafkan aku. Sungmin menyuruhku melakukannya."
"Untuk apa, huh? Uang?! Aku tak menyangka kau serendah itu, Kim Yesung."
Yesung melebarkan matanya. Ia tak menyangka bahwa Siwon akan mengira Yesung melakukan semua itu demi uang.
"Dipaksa Cho Kyuhyun katamu?! Kau bahkan membawa nama musuh terbesarku untuk memanfaatkanku. Sebenarnya kau ini ada di pihak siapa?!" Siwon kembali membentak Yesung, suaranya lebih keras daripada yang ia inginkan.
"Kau benar-benar salah paham, Siwon. Aku bisa menjelaskan semuanya. Sungmin–"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" potong Siwon liar.
"Aku tidak peduli bagaimana kau bisa terjebak dalam hal ini. Namun satu hal yang pasti; itu adalah keputusanmu apakah kau mau mengelabuiku atau tidak. Dan jika dalam hal ini kau memilih untuk membohongiku, kurasa aku tak bisa percaya padamu lagi, Kim Yesung."
Yesung ingin membela dirinya sendiri. Namun nyalinya menciut melihat muka Siwon yang merah sempurna dan nafasnya yang naik turun. Yesung tahu ia telah membuat Siwon marah dan kecewa. Ia juga telah menghilangkan kepercayaan Siwon padanya. Tetapi Siwon harus tahu bahwa Yesung tak pernah menginginkan semua itu untuk terjadi.
Siwon tersenyum pahit melihat Yesung yang menunduk diam.
"Kau tak menjawab, kan? Sekarang aku tahu siapa kau sebenarnya, Yesung. Aku bodoh sekali mengira kau berbeda dari yang lain, mengira akhirnya aku bisa percaya pada seseorang. Namun ternyata kau sama busuknya dengan orang lain!"
"Tidak begitu, Siwon..." Yesung menunduk, terlalu takut untuk menatap mata Siwon.
"Lalu bagaimana, huh?! Aku tidak akan pernah memandangmu dengan sama lagi, Yesung. Kau menjijikkan."
"Siwon, kumohon kau harus percaya–"
"DIAM!"
Siwon membentak Yesung keras. Tangan kanannya ia angkat ke udara, bersiap untuk menampar Yesung. Si manis pun menutup matanya bersiap untuk menerima sakit di pipinya. Namun tidak, selama beberapa saat Yesung memejamkan matanya, namun Siwon tidak menamparnya.
"Akh!" Pada akhirnya Siwon berteriak frustasi, ia mengacak rambut hitamnya kasar. Diturunkannya tangan kanannya yang hampir saja ia gunakan untuk memukul Yesung.
"Aku kecewa padamu, Kim Yesung." terdengar begitu lirih namun Yesung masih dapat mendengarnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Siwon berbalik dan berjalan cepat ke kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya, meninggalkan Yesung yang membatu sendirian di lorong tersebut. Kedua onyxnya berkaca-kaca.
Yesung meratapi dirinya sendiri. Rasanya ia tak pantas menangis. Benar kata Siwon; Sungmin mungkin mengancamnya namun kenyataannya Yesung sendirilah yang memutuskan untuk membohongi Siwon. Dilihat dari sisi manapun, tetap saja ia yang bersalah.
Namja Kim itu berpegangan pada tembok di sampingnya. Tubuhnya yang lemas dan masih bergetar itu langsung merosot ke lantai. Ia menekuk lututnya dan membenamkan wajah manisnya disana.
"Maafkan aku, Choi Siwon. Maafkan aku..."
.
.
Be careful who you trust,
Because the devil was once an angel
.
.
TBC!
Bay ngga sempet buat ff di KyuSung Day maupun sewaktu Yesung kembali dari wajib militernya. Jadi anggap saja ff ini sebagai perayaan KyuSung Day dan kembalinya Yesung, ya! XD
Sekarang ini Bay punya cukup banyak waktu kosong jadi mohon reviewnya supaya Bay bisa melanjutkan ff ini secepatnya!
Semakin banyak reviewnya, semakin cepat Bay post chapter selanjutnya, okay?^^
Thanks A LOT to :
Mylovelyyeye – Cloud – neshita kim3424 – DevilCute – Zee – Neena535 – alinzajazky – Hsc – KimDongNeul – yesung ukeuke – jeremy kim84 – AKUsukaYESUNG – YY – SasaClouds – Jy – ajib4ff – cassandraelf – rina afrida – Harpaairiry – YeShaSparkClouds – reny . Rhey – Ye'Im Clouds – cloudssatya – ryani clouds – Yanie – Clouds246 – olla cyongwonhi – afifah . Kulkasnyachangmin – purie . Sarie – yesungie lover – Kim Raein – yesung ukeku – sparkcloud0208 – sweetyYeollie – dan beberapa yang muncul sebagai 'Guest'
Makasih! Maaf jika ada yang kelewatan maupun typo, tolong bilang ya! ^^
