SUASANA di dalam ruangan dengan pencahayaan lilin di setiap sudutnya itu terlihat tenang. Walaupun begitu, atmosfir di dalamnya sangatlah berat dan tidak menutup kemungkinan bahwa sebentar lagi akan ada baku hantam dengan tingkat yang tinggi. Semuanya yang berada dalam ruangan itu masih bungkam—hanya berkomunikasi dari pandangan tajam saja. Hingga pada akhirnya sesosok bersurai merah yang sedaritadi duduk di kursi mewah tunggal di ujung meja panjang akhirnya berdiri dengan senyum misterius.
"Baiklah. Baiklah. Aku mengerti perasaanmu, Daiki. Dan karena Kau tidak mau menyerahkan istrimu untuk makan malamku," sosok bersurai merah itu menggantungkan kalimatnya. Dan segera melanjutnya dengan sebuah seringai lebar di wajah, "Kau harus menyerahkan bayimu sebagai gantinya!"
Sosok bersurai biru gelap yang sedang duduk tenang di bangku dekat dengan sosok lainnya yang bersurai pirang, mendadak berdiri dengan gusar dan menggebrak meja hingga terlihat meja tersebut rusak parah, "Apa maksudmu, Seijuurou?! Lagipula Kau bukanlah dari bangsa lamia(1)!"
Kedua tangan milik sosok bersurai merah terlipat di depan dada, "Itulah konsekuensinya. Bukankah Kau paham betul akan hukum itu, Daiki? Kau adalah ketua dari bangsa ghoul(2) di sini.
"Tapi itu tidak bisa kuterima! Dia adalah anakku yang pertama yang sangat sulit kudapatkan! Kau tahu sendiri, bukan? Ghoul dan manusia itu sangat mustahil untuk mempunyai anak?" balas sosok bersurai biru gelap itu.
"Kalau begitu kenapa Kau menikahi manusia lemah?"
Mendadak bibir sosok bersurai biru gelap itu terkatup dengan wajah yang tertunduk, "Karena... karena aku mencintainya! Aku mencintai wanita itu!"
"Daiki... Daiki... Daiki... Aku sangat mengenalmu! Dan sangat tidak masuk akal jika hanya karena hal kecil ini bangsa ghoul akan dimusuhi yang lainnya."
"Persetan dengan hukum! Aku tidak akan menyerahkan istri atau anakku untuk Kau makan!" detik berikutnya si Surai Biru Dongker itu pergi begitu saja meninggalkan ruangan yang dipakai untuk rapat penting itu.
Sebuah seringai lebar muncul di wajah sosok bernama Seijuurou itu, "Menarik sekali." Ia lalu menatap para makhluk-makhluk yang duduk di kanan kirinya—di pinggir meja panjang, "Jangan pulang dulu! Aku akan memberikan misi untuk kalian"
*Info tambahan
(1) Lamia = Makluk ganas pemakan bayi.
(2) Ghoul = Monster dari Arab kuno. Konon ini juga tertulis dalam Al-Qur'an (ghala). Awalnya Ghoul dianggap sebagai Jin, namun seiring dengan berlalunya waktu, Ghoul lebih sering digambarkan sejenis zombie atau vampir. Ghoul tinggal di gurun pasir dan memangsa pengelana—sering juga merusak makam.
.
.
.
Merah dan Hitam-Setengah Hidup Kita
By Mizuki Rae Sichi
Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi
T+
AkaKuro slight KagaKuro & many more
Romance—Supernatural
KALAU TIDAK SUKA, JANGAN GUBRIS MACAM-MACAM OK?
.
.
.
Pada malam itu, bulan purnama bersinar terang dengan sedikit warna merah terang di sekelilingnya. Walaupun begitu, para manusia yang hidup di dekat hutan tampak enggan untuk keluar untuk sekedar berkumpul atau bermain bersama yang lain. Karena bulan purnama yang di kelilingi oleh warna merah merupakan pertanda buruk. Ini sudah tercantum dalam aturan dan sejarah. Bahwa di bumi ini, yang hidup bukan hanya manusia, hewan, dan tumbuhan. Namun juga makhluk-makhluk ganas yang saat ini menempati piramida makan paling atas. Monster.
Sekelompok makhluk yang menyerupai manusia bertudung hitam dengan aksen merah itu berjalan dengan cepat melewati hutan dan rumah-rumah. Aura yang terpancar di sekeliling tubuh mereka terlihat sangat mengerikan. Walau mereka mengabaikan rumah-rumah berisi manusia yang memiliki denyut menggoda dan darah segar yang mengalir, bukan berarti mereka tidak tergiur. Hanya saja mereka kini sedang menjalani misi penting dari pemimpin mereka—yang kini berjalan dengan gagah di garis paling depan.
Sebuah rumah kecil yang memancarkan lampu yang hangat adalah tujuan dari gerombolan bertudung itu. Dengan tanpa tata krama, mereka mendobrak pintu kayu berwarna putih yang dipernis itu hingga menemukan sesosok makhluk yang menyerupai manusia yang memiliki surai biru dongker dan kulit yang gelap, sedang berdiri dengan waspada.
"Selamat malam, Daiki. Atau bisa kusebut Aomine-san? Boleh kami berkunjung ke kediamanmu yang hangat ini?" ucap sang pemimpin, dengan nada main-main.
Sosok bersurai biru dongker itu mendengus dan terkekeh pelan, "Kunjungan macam apa ini? Kalian harus membayar pintu itu lho."
"Rumahmu nyaman sekali, Daikicchi!" ujar salah satu dari mereka yang memiliki surai berwarna pirang. Dia duduk dengan santai di salah satu sofa dan mengedarkan pandangan. Dan dengan seenaknya mengambil figura yang tergeletak di atas perapian, "Whoa! Jadi ini istrimu?! Cantik juga ssu!"
"Oii! Jangan sentuh sembarangan, Ryota!"
Si Surai merah tersenyum—tidak, menyeringai perlahan, "Jadi, di mana istri dan anakmu?"
"Hee? Kenapa kalian terlihat buru-buru? Mau segelas teh atau kopi?"
"Apakah ada makanan?" tanya salah satu dari mereka yang memiliki postur tubuh yang tinggi besar dan mempunyai surai ungu.
"Tentu, Atsushi. Kau mau apa? Teh? Kopi? Cake?"
"Sepertinya cake yang terbuat dari daging istrimu yang manis atau kelembutan daging bayimu terlihat enak." Ucap Atsushi.
"Ayolah! Satsuki tidak semanis yang kalian kira! Dia tidak pandai memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah! Geez! Semuanya selalu aku."
"Cukup, Daiki! Aku tidak mau bertele-tele lebih lama! Serahkan bayimu atau istrimu!" perintah si Surai Merah, dingin dan tajam.
"Geez! Kalian masih mempertanyakannya?" sangkal sosok bersurai biru dongker yang bernama Aomine Daiki itu.
"Aku mencium aroma darah yang nikmat dari lantai dua." Ujar salah satu dari mereka yang memiliki surai hijau lumut.
"Shintarou benar!" tambah si Surai Merah bernama Seijuurou. Dengan kecepatan super, ia melesat ke lantai dua. Sementara Daiki langsung ditahan Atsushi dan Ryota.
"Gawat! Oii, Teme! Jangan ke sana!" teriak Daiki, seperti kesetanan.
Terlambat karena Seijuurou sudah sampai dan mendobrak pintu bercat putih yang dihiasi oleh nama yang terbuat dari bantal-bantal kecil yang membentuk tulisan "Tetsu". Aksesoris boneka pada pintu itupun seolah membangun figur manis untuk si Penghuninya. Seketika ruangan bernuansa anak-anak terefleksi di kedua mata yang berbeda warna milik Seijuurou. Seringai di wajah rupawan milik si Surai Merah semakin menjadi-jadi saat melihat gundukan di atas ayunan bayi yang ditutupi selimut. Aroma darah yang manis semakin kuat menari di penciuman makhluk berdarah azazil(3) dan vampir(4) itu. Dan ketika tangan pucat berkuku panjang milik Seijuurou menyibak selimut bayi tersebut...
Hanya ada sebuah boneka kelinci dan selembar sapu tangan yang terdapat noda darah.
"Sial!" pekik Seijuurou, menggebrak ayunan hingga ayunan tersebut rusak. Namun melihat sapu tangan itu, seringai di wajah rupawannya kembali muncul. Seijuurou pun lalu meluncur ke lantai satu kembali.
"Memang sesuai dengan namamu. Ahomine! Ini darah bayimu, bukan?" tanya Seijuurou santai, sembari menunjukan sapu tangan itu. Dan Daiki tidak menjawab sama sekali. "Dasar bodoh. Kalau begini, aku bisa dengan mudah melacak anakmu. Aku akan terus mencarinya sampai ke ujung dunia sekalipun." Bisik Seijuurou, dengan nada yang mengerikan. Ia lalu memunggungi Daiki sembari menghirup dalam-dalam aroma manis dari sapu tangan itu.
Daiki terbelalak kaget. Tadi dirinya sangat panik hingga dengan sembarangan menaruh darah mimisan anaknya, "Seijuurou-teme! Kenapa Kau sangat terobsesi pada bayiku?! Bukankah ini hanya urusanku denganmu?!"
"Ya. Ini memang benar-benar salahmu. Dengan sembarangan menciptakan spesies baru. Apalagi malah bercampur dengan manusia yang lemah itu." Gumam Seijuurou. Kepalanya menoleh ke arah Daiki namun hanya menampilkan satu sisi wajahnya saja, "Tapi aku rasa aku akan menemukan sesuatu yang menakjubkan jika aku bisa mengambil anakmu.
"Oke! Oke! Aku akan menjadi ketua ghoul lagi dan tunduk pada perintahmu! Tapi tolong biarkan istri dan anakku bebas! Aku mohon!"
"Walau seberapa merendah untuk meminta belas kasihku, Kau terlambat, Daiki. Aku sudah menghirup aroma manis dari darah anakmu. Aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan dan menikmatinya setiap tetes darahnya."
"Keterlaluan!" pekik Daiki, sembari mengepalkan kedua tangan dengan kuat hingga mengalami tremor. Kedua matanya terpejam dan saat terbuka matanya berubah menjadi menakutkan. Irisnya berwarna merah pekat dan bagian putih pada matanya berubah menjadi hitam kelam. Pinggiran matanya pun terdapat semacam urat-urat merah yang menonjol.
"Bunuh dia!" perintah Seijuurou, santai. Ia melangkah keluar dari rumah itu.
Daiki terbelalak dan terus mencoba untuk memberontak, "Tidak! Ke mari Kau, Seijuurou! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" seketika ia berkelit saat mendadak Ryota melayangkan kuku panjang yang biasa digunakan untuk merobek kepala manusia.
"Whoa! Kau memang menakjubkan, Daikicchi!" ujar Ryota, pura-pura.
"Kau hanya zombi(5) yang dikendalikan Seijuurou! Sadarlah!"
"Ya! Dan karena itu aku hanya mematuhi perintah Seicchi! Karena hanya Seicchi yang membangunkanku dari tidur panjangku." Ucap Ryota, sembari terus melayangkan kuku-kuku panjangnya pada Daiki.
Dengan kecepatan super, Daiki terus menghindar dari serangan Ryota ataupun makhluk-makhluk yang 'berkunjung' ke rumahnya ini. Ia mendengus geli, "Andai saat itu aku saja yang membongkar kuburanmu. Padahal aku sangat ahli dalam hal itu."
Ryota terkekeh di tengah aksinya, "Sayangnya waktu sudah berlalu. Dan Seicchi sudah lebih dulu menemukan bakatku."
Daiki bersalto untuk menghindari serangan bertubi-tubi itu. Tidak ayal, aksi-aksi mereka membuat perabot rumah pecah semua—termasuk foto keluarga yang sangat berharga bagi Daiki. Firasat buruk menghantui Daiki saat foto keluarga itu benar-benar terpecah berhamburan.
Sementara Seijuurou menghirup udara dengan khidmat sampai memejamkan kedua mata setannya. Menghirup udara layaknya mencium aroma masakan yang enak. Hingga sebuah seringai tampil di wajah rupawan itu.
"Ke arah utara."
Daiki yang mendengar hal itu, seketika terbelalak kaget. Saat ia hendak melesat untuk menahan Seijuurou, dirinya sudah lebih dahulu ditahan para monster ini.
"Daiki."
Dengan kasar surai biru dongker milik Daiki pun dijambak untuk dipaksa melihat iris hijau milik Shintarou.
"AAAARGH!" teriak Daiki, saat perlahan tubuhnya seolah menjadi patung. Kehidupannya tersedot dalam mata zamrud yang mengerikan itu.
"Dia menjadi manekin. Mungkin cocok untuk jadi patung di toko baju. Seorang basilisk(5) memang hebat ssu!" Komentar Ryota, riang. Menepuk pundak Shintarou dengan akrab.
"Tapi tidak sekarang!" dengan cepat Atsushi menghancurkan Daiki dengan mudah hingga berkeping-keping, "Nah, pasti Sei-chin harus memberi tambahan manusia hidup untuk sarapanku besok."
Para monster itu lalu menghampiri pemimpin mereka.
"Jadi? Sekarang apa?" tanya Shintarou, melipat kedua tangan di dada.
"Mencari bocah bernama Tetsu yang aromanya darahnya sudah membuatku mabuk." Jawab Seijuurou, dengan seringai penuh ambisi.
*Info Tambahan
(3) Azazil = Nama asli dari iblis dan merupakan nenek moyang para jin. Sebelum diciptakan Adam, Azazil pernah menjadi Imam para malaikat, bendaharawan surga, dan bapak dari para jin. Sebelum dilaknat Tuhan, Azazil memiliki wajah rupawan, banyak ilmu, terbanyak dalam beribadah, dan kebanggaan para malaikat.
(4) Vampir = Setan penghisap darah yang berpenampilan rupawan.
(5) Basilisk = (Yunani: basilikos—raja kecil) reptil dalam legenda Eropa yang dikenal sebagai raja ular dan memiliki kemampuan untuk menimbulkan kematian bila menatap matanya.
.
.
.
Momoi Satsuki menginjak pedal gas sedalam mungkin. Linangan air mata di pipi halusnya membuat pandangannya menjadi kabur untuk menyetir. Sesekali ia menengok ke jok belakang, di mana terdapat buah hatinya yang baru menginjak delapan bulan di dunia. Satsuki menghapus air matanya yang menganak sungai sembari terus memperhatikan jalan. Lintasan terjal yang mereka lalui sangatlah berbahaya. Lampu mobil sedannya tidak sanggup untuk menerangi semuanya.
"Apa harus seperti ini?" isak Satsuki, sembari mengusap air mata. "Daiki... maaf! Maaf karena membiarkanmu untuk mengurus semuanya!"
Erangan kecil dari bibir mungil bayi di jok belakang seolah menjadi pengobat luka batin Satsuki. Dengan lucunya, bayi itu mengusap-usap matanya sendiri dengan tangan yang dibungkus kaos tangan khas bayi—yang membuat tangannya seperti balon. Mata sewarna dengan lautan milik si Bayi mengerjap dengan polos sembari menatap Satsuki yang terus menginjak pedal gas.
Mau tidak mau, Satsuki menoleh cukup lama lalu terkikik pelan di tengah tangisnya, "Terima kasih, Tetsu-kun. Mama sudah jauh lebih baik kok." Ucapnya, parau. Lalu wanita bersurai pink itu kembali fokus pada medan perjalanan di hadapannya.
Si Bayi menggumam dengan bahasanya sendiri. Seolah mencoba berkomunikasi pada wanita yang telah membawanya ke dunia. Dengan raut gembira si Bayi menghentak-hentakan tangan balonnya ke udara. Rupanya si Bayi sedang menghibur dengan wajah tanpa dosanya.
Satsuki tertawa kecil, "Tetsu-kun..."
Lalu si Bayi menjejalkan satu tangannya yang terbungkus kaos tangan ke dalam mulut dan mengayun-ayunkan kepala bersurai biru mudanya—seperti sedang mendengarkan musik.
Kedua tangan Satsuki yang cantik, menggenggam stir mobil dengan kuat, "Mama berjanji akan terus melindungimu sampai akhir! Dan Mama juga berjanji akan membesarkanmu hingga Mama bisa melihat kamu sukses! Ah, ah, bahkan sampai melihatmu berjalan di altar, Tetsu-kun!"
Si Bayi yang bernama Aomine Tetsu itu hanya bergumam dengan bahasanya sendiri.
"Mama tidak akan menyerah! Walau mungkin Kau akan menggigit Mama suatu hari." Lirih Satsuki. Ia menoleh sekilas ke belakang, "Nah, mulai sekarang, namamu adalah Kuroko Tetsuya!"
Tetsu mengeluarkan gelak senang.
"Kau suka, ya? Maaf, ya, karena harus merubah nama pemberian Ayahmu." Gumam Satsuki, dengan nada yang bergetar menahan tangis, "Sekarang... kita akan pergi ke negeri yang jauh."
.
.
.
*Beberapa tahun kemudian
Seorang pemuda bersurai biru muda berjalan menggendong tas menuju sebuah rumah di kompleks yang mengindikasikan sebuah kehidupan di kota. Walaupun begitu, rumah yang menjadi tujuan langkah kaki berbalut kaos kaki dan sepatu itu adalah rumah yang sangat sederhana. Dari sini terlihat bahwa lampu beranda pada rumah itu sudah dinyalakan. Sapaan dari wanita paruh baya yang biasa mengirim uang dan makanan ke rumahnya, selalu dijawab Tetsuya dengan hangat. Bagaimanapun wanita paruh baya itu merupakan satu-satu yang sudah dianggap kerabat olehnya, yang peduli walau awalnya Tetsuya dan ibunya hanyalah orang asing yang miskin. Yang dahulu menawarkan rumah untuk Tetsuya dan ibunya sebagai tempat tinggal sementara sampai Satsuki mendapat pekerjaan.
Saat pemuda bersurai biru itu melihat jam yang bertengger di pergelangan tangan kirinya, waktu memanglah sudah menunjukan pukul enam sore. Benar-benar tepat untuk orang-orang kembali pada naungan mereka masing-masing karena takut akan kegelapan. Mungkin beberapa orang sudah tidak percaya akan mitos-mitos akan monster pemburu manusia, namun pemuda bersurai biru itu sangatlah percaya. Karena... dirinya adalah salah satu dari monster itu.
"Aku pulang."
Seorang wanita setengah baya menghentikan aktivitasnya dari dapur hanya untuk menyambut kedatangan sang anak semata wayang, "Selamat datang, Tetsu-kun!"
Pemuda berusia 16 tahun itu melepas sepatu dan merapikannya dengan baik sesuai ajaran sang bunda selama ini. Wajahnya selalu datar dan memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis. Kulitnya seputih salju dengan tubuh ringkih akibat terlalu sering sakit-sakitan sewaktu kecil—sampai sekarang.
"Bagaimana debut SMAmu? Mama ingin dengar, dong." Tanya wanita bersurai pink itu, berjongkok di sebelah sang anak yang sibuk dengan aktivitasnya merapikan sepatu dan melepas tas.
"SMA Teiko mengagumkan. Namun aku baru mendapat beberapa teman saja karena aku tidak pandai bergaul." Jelas pemuda bernama Tetsuya itu.
Wanita bernama Momoi Satsuki itu segera mengacak-acak surai lembut milik sang anak, "Seiring waktu kamu pasti bisa mendapat banyak teman, kok!"
Tetsuya tersenyum tipis, "Ha'i." Dan saat ia berdiri, sebuah bunyi tanda kelaparan muncul. Dengan reflek, ia memegangi perutnya. Sial, padahal Tetsuya tidak mau merepotkan ibunya lagi untuk mencari makanan untuknya. Tapi apa yang bisa diharapkan dari perut yang sudah kosong selama seminggu?
Satsuki memandang anaknya dengan horor. Walau sang anak memiliki wajah imut dan layaknya bocah yang lemah, jangan salah karena Kuroko Tetsuya adalah... setengah ghoul. Makhluk kejam yang memangsa bangsa manusia seperti ibunya.
Dengan panik, Satsuki mengguncang kedua pundak Tetsuya, "Sudah berapa hari Kau menahannya?!"
Bukannya menjawab, Tetsuya justru berlari menuju kulkas di dapur. Dengan kalap, ia meraih sebotol yang berisi cairan berwarna merah dan segera meneguknya dengan rakus. Itu bukanlah sirup ataupun jus buah. Melainkan darah manusia yang diam-diam didapat Satsuki dari rumah sakit tempat wanita itu bekerja sebagai dokter bedah.
"Hanya itulah yang bisa Mama dapat."
Satsuki melihat anaknya dengan pandangan prihatin. Ya, seperti inilah keadaan Tetsuya jika tidak bisa lagi menahan nafsu makannya. Pernah dulu saat Tetsuya masih belum bisa mengendalikan diri, anak itu menggigit ibunya sendiri hingga sang ibu tidak bisa bekerja selama beberapa hari karena pendarahan yang hebat. Dan akibat itu, Tetsuya memutuskan untuk berlari dari kenyataan. Selama beberapa hari Tetsuya menghilang. Satsuki sudah tidak tahu lagi berapa banyak manusia yang menjadi korban sang anak. Hanya Tetsuya yang kacaulah yang Satsuki temukan di ujung perbatasan Negara Seirin ini saat itu. Semenjak itulah sifat Tetsuya menjadi dingin. Tapi naluri Satsuki yang merupakan ibu kandung dari Tetsuya, justru mengerti akan hal itu. Bahwa sang anak hanyalah merasa bersalah hingga merasa tidak pantas untuk berbincang riang seperti dulu. Walaupun begitu, Satsuki terus memancing Tetsuya agar mau berkomunikasi dengannya dalam durasi yang panjang.
Darah kental dalam botol besar itu habis dalam sekejap. Sisa-sisanya mengalir di antara sela bibir yang ranum.
"Maaf, Tetsu-kun. Hari ini tidak ada mayat yang tidak mempunyai keluarga. Padahal Mama sudah berusaha keras di rumah sakit kemarin."
"Gochisousama deshita." Gumam Tetsuya, sembari mengusap bibirnya yang dihiasi aliran darah, "Ini bisa menekan rasa laparku kok, Ma."
"Tapi Mama tahu kamu tidak akan puas hanya dengan darah! Kau ingin daging 'kan? Nah, sekarang, makanlah!" perlahan Satsuki menurunkan fabrik bagian pundaknya. Hingga terlihatlah sebuah pundak yang sangat menggiurkan bagi Tetsuya.
Tetsuya menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia lalu menatap ibunya dengan mata ghoul-nya yang hanya di mata kiri—sementara mata kanannya normal, "Terima kasih atas tawaranmu, Ma. Tapi aku cukup hanya dengan darah, kok." Lalu dengan langkah yang lebar, anak itu menaiki tangga menuju kamarnya. Berusaha menahan diri untuk tidak menyerang ibunya lagi seperti dulu. Tetsuya benar-benar menyesal saat itu. Dirinya membabi buta para manusia dan melahap mereka tanpa ampun. Kejar-kejaran dengan aparat kepolisian pun sempat terjadi. Untungnya saat itu Tetsuya selalu menyamar. Dan untungnya lagi, ibunya masih mau membukakan pintu rumah untuknya. Rumah yang sangat ia cintai walau tanpa kehadiran seorang ayah.
"Tetsu-kun..."
.
.
.
Tetsuya berjalan ke sekolah dengan wajah datar seperti biasa. Sialnya, perutnya kembali berbunyi. Godaan akan daging manis para gadis ataupun anak-anak selalu menghantui. Namun jika mengingat wajah sang ibu, langsung saja semua ambisi itu hancur. Tetsuya benar-benar harus mengendalikan diri kalau masih ingin memasuki rumah.
"Bersabarlah! Aku yakin Mama akan mendapat mayat dari rumah sakit hari ini!" batin Tetsuya, menyemangati diri sendiri. Ia lalu melangkahkan kaki memasuki sekolah yang baru ditempatinya kemarin. Dipikir-pikir, dirinya jadi ingin bertemu dengan teman barunya yang duduk di depan mejanya.
Kelas berlabel 1-B sudah di depan mata. Tetsuya melangkahkan kaki untuk masuk. Dan seperti biasa, tiada sapaan hangat untuknya mengingat hawa keberadaannya yang sangat tipis—kata ibunya, itu justru karunia dari kekuatan ghoul-nya. Dengan santai dan seolah semua orang di kelas hanyalah patung, Tetsuya berjalan menuju bangkunya yang terletak di pojok kanan belakang.
Orang yang Tetsuya ingin temui ternyata sudah duduk santai di bangku sambil menulis sesuatu. Entahlah, mungkin menyalin jawaban tugas rumah milik anak lain.
"Ohayou, Kagami-kun!" sapa Tetsuya.
Laki-laki bertubuh besar dan berotot itu terkesiap dan sontak menoleh ke belakang, "Sejak kapan...?"
"Sudah daritadi." Jawab Tetsuya, polos.
"Geez! Mengagetkan saja!"
"Kau sedang apa, Kagami-kun?" tanya Tetsuya, polos.
Si Bisep bersurai merah pekat layaknya warna darah itu menjawab, "Menyalin jawaban tugas. Kau sudah mengerjakan?" ia kembali berkutat pada rumus dan kanji—yang sedikit ia lupa karena tempat tinggalnya yang bukanlah di Negeri Seirin ini.
"Aku sudah mengerjakannya begitu pulang sekolah. Memangnya di Negara Yosen tidak memberikan pelajaran pembangunan karakter seperti itu, ya?" tanya Tetsuya, datar.
"Tentu saja ada, Bodoh!" teriak Kagami, tidak terima. Untuk sejenak, dirinya hilang selera terhadap menulis dan justru asyik memandangi wajah imut milik sahabat barunya, "Kalau Kau mau menceramahiku, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Lebih baik bantu aku atau diamlah!" lalu pemuda bernama lengkap Kagami Taiga itu kembali menulis.
Tetsuya bergeming. Bukan karena tamparan kata-kata dari sang teman melainkan menahan sebuah nafsu yang membuncah. Terlihat jelas di mata ghoul Tetsuya. Denyut nadi yang hangat. Darah yang berdesir memancing dahaga. Dan daging yang sedikit lemak berbalut otot yang sangat menggiurkan—pastinya berprotein tinggi dan sangat bercita rasa luar biasa. Untuk beberapa saat Tetsuya tidak bisa mengendalikan diri. Hingga...
Kagami memutar badannya ke belakang, "Oii Kuroko! Ikut tim basket, yuk?"
Untungnya Tetsuya sudah kembali normal, "Ah? Basket? Itu adalah olahraga favoritku sejak kelas lima. Aku melihatnya dari televisi."
"Nah, kalau begitu, sepakat dong?"
Tetsuya mengangguk dengan senyum tipis, "Hum."
"Yosh! Aku jadi tidak sabar!"
Tetsuya benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Cepat-cepat ia berdiri, "Kagami-kun, aku permisi mau ke toilet." Detik berikutnya bocah bersurai biru muda itu berlari kencang dan menghilang dari kelas.
Kagami yang heran hanya bergumam setuju. Alis bercabangnya saling bertaut. Itu adalah kebiasaan Tetsuya jika ia ingin berbincang santai lebih lama. Entahlah, Kagami jadi merasa bingung dan minder sendiri. Ia takut kalau Tetsuya tidak menyukainya dan memutus tali persahabatan mereka.
.
.
.
Di dalam salah satu kabin kamar mandi, terdengarlah raungan yang amat keras hingga menggema dengan jelas. Untungnya tiada orang lain di sana mengingat waktu sudah menunjukan bahwa pelajaran akan berlangsung. Tetsuya ingin sekali memasuki kelas dan belajar bersama teman-teman. Namun, nafsu lapar seolah membakar kerongkongannya saat ini. Sebelah matanya pun sudah berubah menjadi mata ghoul. Tetsuya hanya berdoa agar tidak ada orang yang akan datang ke dalam toilet saat ini, karena ia takut ia akan kehilangan kendali.
Namun...
"Kuroko? Apa Kau masih di sini?"
Tetsuya terbelalak kaget. Tangan yang mengalami tremor berusaha menutupi sebelah mata ghoul-nya. Sembari menahan diri dan menelan liur, akhirnya pemuda bersurai biru itu bersuara, "Aku masih di sini, Kagami-kun."
Lalu terdengar keran air wastafel yang menyala.
Kagami terkekeh pelan, "Lama sekali. Memangnya Kau habis makan apa sampai menguras perutmu?"
"Aku belum makan apapun seminggu ini, Kagami-kun." Batin Tetsuya. Ia lalu menekan tuas kloset—berpura-pura kalau dirinya sedang melakukan aktivitas di dalam, "Sepertinya aku agak kurang sehat."
"Eh? Mau kuantar ke UKS?" tawar Kagami, sembari mematikan keran air.
"Tidak usah, Kagami-kun. Dan bisakah Kau pergi duluan? Aku takut Kau terganggu karena baunya. Lagipula bukankah sekarang pelajaran sudah dimulai?" ujar Tetsuya, mencari alasan untuk membuat Kagami menjauh untuk saat ini.
Terdengar gelak tawa dari si Pemuda Bersurai Merah Pekat, "Bodoh! Tidak usah sungkan! Dulu karena sudah terlalu akrab, Himuro dan aku bahkan sering adu kentut, mengupil, dan bahkan saling berbagi lolipop."
Kedua alis Tetsuya mengernyit lirih. Mungkin Kagami ingin menjalin relasi dengannya. Dan Tetsuya pun begitu. Dengan suara parau ia bersuara, "Tapi aku takut Kagami-kun tidak akan suka dengan baunya."
Kagami mendecak jenaka, "Ayolah!"
Akhirnya pintu kabin yang didiami oleh Tetsuya, perlahan membuka.
Bersambung
Yo minna! :D Kali ini saya ingin berkecimpung ke dunia AkaKuro lebih dalam dengan membawa fanfik multibab
Yoroshiku ne!
19 April 2015
Rae
bentar, ada extra nih
Akhirnya pintu kabin yang didiami oleh Tetsuya, perlahan membuka. Menampilkan sosok Tetsuya yang sedang duduk di atas kloset.
"Kau kenapa?" Tanya Kagami.
"Aku… aku hanya tidak kuat saat bermain di fanfik "Karena Aku Suka Akashi-kun" yang rilis setelah fanfik ini." Gumam Tetsuya, dengan nada yang lirih.
Kagami menahan tawa hingga terdengar seperti balon yang dikeritkan, "Bodoh! Kau sudah di honor si Rae tuh! Jangan begitu!"
"Tapi aku tetap tidak suka saat aku kerasukan arwah Momoi-san dan memiliki aura seperti perempuan. Apakah Kagami-kun tahu, aku harus bertahan mati-matian untuk menahan rasa maluku saat berciuman dengan Akashi-kun."
Bukannya bersimpati, Kagami justru tertawa terbahak-bahak, "Yang pasti aku suka karena di sana Kau punya oppai!"
"Kagami-kun…." Gumam Tetsuya, dengan nada rendah dan menakutkan. Wajahnya tertunduk dalam hingga, "IGNITE PASS KAI!"
