AKHIRNYA pintu kabin yang didiami oleh Tetsuya, perlahan membuka. Menampilkan Tetsuya yang sedang duduk di atas kloset yang masih bersih.

Dengan santai Kagami memasuki kabin tersebut lalu mengendus udara di sekelilingnya, "Tidak ada bau. Yang kurasakan hanyalah aroma tubuhmu yang berbau vanila."

Tetsuya terus menundukkan kepala sembari menutupi sebelah matanya.

"Kau tadi sedang tidak buang air 'kan?" tanya Kagami, menyelidik. Menusuk tepat ke arah wajah Tetsuya yang menunduk lirih.

"Maaf, Kagami-kun. Tapi bisakah Kau keluar secepatnya?" lirih Tetsuya, terus menahan diri. Aroma darah dan daging milik Kagami benar-benar membuatnya tersiksa. Apalagi dengan sialnya, Kagami justru mendekatkan diri.

"Kau ini kenapa sih, Kuroko? Apa Kau tidak menyukaiku sebagai sahabatmu?"

"Bukan begitu!"

"Lalu?"

Napas Tetsuya menjadi tidak stabil, "Daging."

"Hah?"

Perlahan Tetsuya melepaskan tangannya dari mata kiri, lalu mendongak dengan wajah yang dihiasi oleh seringai, "Sudah kubilang untuk segera pergi, bukan?!" kekehan yang menakutkan meluncur, "Boleh aku meminta darah dan daging segar itu?"

Kagami terlonjak kaget hingga terjatuh ke lantai toilet yang dingin, "Ap-apa?" gumamnya, dengan nada yang tercekat, "Ku-Kuroko? Kau... ghoul?"

.

.

.

Merah dan Hitam-Setengah Hidup Kita

By Mizuki Rae Sichi

Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi

T+

AkaKuro slight KagaKuro & many more

Romance—Supernatural

KALAU TIDAK SUKA, JANGAN GUBRIS MACAM-MACAM OK?

.

.

.

Chapter 2

Tetsuya menundukkan wajah. Terlihat air mata menetes banyak ke atas keramik toilet, "Aku belum makan selama seminggu lebih..." dengan langkah yang gontai, ia berjalan mendekati Kagami yang beringsut menjauh, "Mamaku belum mendapatkan mayat dari rumah sakit..." semakin dekat dan Kagami pun semakin beringsut ketakutan, "Jadi aku hanya bisa mengonsumsi darah yang seharusnya digunakan untuk trasnfusi manusia..." Kagami mendecih saat tidak bisa beringsut lagi. Tetsuya lalu melanjutkan dan mendongak dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengemis, "Aku memohon padamu. Hanya satu gigitan saja!"

Mendadak Kagami membeku saat melihat ekspresi Tetsuya yang menurutnya bagai malaikat yang terkurung dalam tubuh setan. Akhirnya ia memantapkan diri untuk melepas semua kancing untuk melepas kemejanya dan memperlihatkan pundak berototnya. Dengan wajah tertunduk, Kagami bergumam, "Kalau begitu, makanlah!"

Tanpa basa-basi lagi, Tetsuya segera mengoyak pundak besar berotot itu. Menggigitnya dengan dalam hingga ia mendapat gumpalan daging, lemak, dan otot yang tadi ia impikan. Benar-benar diselimuti nafsu hingga Tetsuya mengerang nikmat. Tidak bisa menahan diri lagi.

Senyum tipis muncul di wajah kesakitan Kagami. Ia membelai surai biru yang ternyata sangat lembut bagai bulu perut anak kucing. Dan ajaibnya, Tetsuya menghentikan acara makannya. Dengan bingung, Kagami lalu bertanya, "Kenapa?"

Air mata di pelupuk Tetsuya akhirnya meleleh. Ia menunduk dan menangis terisak, "Maaf! Aku melakukannya lagi! Maaf! Aku benar-benar meminta maaf!"

Ternyata Tetsuya seolah mengulang kesalahannya seperti dulu saat ia menggigit ibunya.

Kagami yang tidak mengerti hanya memiringkan kepala. Detik berikutnya sengatan rasa sakit menyerang pundaknya yang kini terdapat luka yang menganga dan diselimuti banyak darah. Tangan besar itu terus berusaha menyumbat darah yang memuncrat.

Tetsuya menghapus air matanya lalu menatap Kagami yang terus mengerang kesakitan. Dadanya sangat ngilu melihat semuanya terjadi lagi bagai deja vu. Sebagai penebus dosa, akhirnya Tetsuya mendekatkan wajahnya pada luka itu lalu menjilatinya layaknya kucing. Dan dengan ajaib, luka itu perlahan menutup sempurna. Darahnya pun menghilang.

Kedua mata beriris merah milik Kagami terbelalak mengindikasi rasa terkesima yang luar biasa. Rasa sakitnya hilang dalam sekejap, "H-hebat." Gumam Kagami, masih mematung dengan ekspresi takjub.

Setelah semuanya dirasa sempurna, akhirnya Tetsuya bangkit dan mata ghoul-nya hilang—berganti menjadi mata aqua lagi. Lidah mungilnya menjilat ceceran darah yang menghiasi area bibirnya. Lalu menatap Kagami dengan lirih, "Maafkan aku, Kagami-kun. Aku benar-benar bodoh tidak bisa mengendalikan diri. Ini sama saja seperti dulu. Aku tidak pernah belajar!"

Seolah tidak ada yang terjadi, Kagami tersenyum hangat lalu mengacak-acak surai biru—yang mulai ia sukai, "Yang penting lukaku sudah hilang 'kan? Dan seharusnya aku yang meminta maaf karena mengganggu privasimu."

.

.

.

"Jadi Kau adalah anak ghoul dan manusia?" tanya Kagami, memastikan. Kuroko dan dirinya kini sedang berjalan di koridor untuk mencapai kelas.

Tetsuya hanya mengangguk pelan dengan wajah datarnya.

"Wow! Hebat! Tapi aku salut padamu yang bisa bertahan seminggu! Kudengar, ghoul akan sangat tersiksa bagai menelan api bila sedang kelaparan."

Langkah Tetsuya berhenti. Kepala bersurai biru muda itu tertunduk dalam. Kedua tangan pucat milik si Mungil mengepal sangat kuat hingga mengalami tremor.

"Ada apa?" tanya Kagami, ikut menghentikan langkahnya dan menghampiri Tetsuya yang ternyata sudah tertinggal jauh.

Bibir tipis Tetsuya perlahan bergerak, "Apakah... Kagami-kun tidak merasa keberatan? Bahwa aku ini... ghoul?" lirihnya.

Kagami tersenyum lalu merangkul pundak kecil itu, "Bodoh! Kau ini bicara apa sih? Sekali sahabat, ya tetap sahabat!"

Tetsuya mendongak dan menatap Kagami dengan kagum.

"Ayo!" ajak Kagami, sedikit menyeret Tetsuya namun terasa sangat berat. Ia berhenti lagi dan menatap sepasang iris aqua lagi, "Ada apa lagi?"

"Kagami-kun itu kuat sekali. Darah dan dagingmu yang kumakan memberi kekuatan yang sangat besar! Rasanya seperti memakan 100 manusia biasa."

"Hah? Maksudmu apa sih?"

Tetsuya menatap Kagami dengan tegas, "Maukah Kagami-kun menjadi cahayaku?"

Untuk beberapa saat keheningan mencekik keduanya. Hingga...

"HAH?!" teriak Kagami kaget.

Jari telunjuk Tetsuya tertempel di bibir, "Shh...! Jangan berisik! Semua sedang pelajaran!"

Kagami lalu mengecilkan suaranya hingga berbisik, "Apa maksudmu?"

"Aku membutuhkan makanan yang kuat untuk membangun tubuh. Kau bisa lihat sendiri, bukan? Aku ini lemah dan sangat pucat. Ini karena makananku hanyalah mayat lansia dan orang yang kurang gizi. Walau rasa mereka sangatlah hambar dan sebenarnya tidak enak, tapi aku tetap memakannya. Itu adalah hasil jerih payah Ibuku." Tetsuya berjalan sembari menatap langit yang berwarna biru, "Aku selalu penasaran bagaimana rasa makanan manusia. Ibuku selalu masak di dapur, namun aku tidak pernah mencicipi masakannya sedikit pun. Aku jadi sering merasa bersalah. Yang bisa kukonsumsi hanyalah susu. Karena itu sama saja darah."

Kagami mengerjapkan kedua mata berisi merahnya—tanda kebingungan.

Tetsuya melanjutkan, "Semakin kuat makanan yang kukonsumsi, maka aku akan semakin kuat juga. Dan sebaliknya." Jelas Tetsuya, "Jadi... aku ingin Kau menjadi sumberku, Kagami-kun. Aku tahu ini sangat kurang ajar mengingat kita baru saling mengenal. Namun aku harus melawan Generasi Keajaiban."

"Generasi... apa?"

"Generasi Keajaiban. Atau organisasi yang paling tertinggi dan ajaib di dunia ini karena keberadaannya yang sulit dilacak. Organisasi itu terdiri dari lima golongan tertinggi yang diketuai oleh seorang azazil setengah vampir yang sangat hebat. Dan beranggotakan bangsa ghoul, basilisk, zombi, dan giant. Ayahku adalah ketua ghoul di situ."

Kagami mengangguk paham.

"Sayangnya Ayahku wafat ketika melindungi Ibuku dan aku. Karena aturan dalam organisasi itu adalah tidak boleh ada yang mengikat hubungan dengan manusia dan bahkan sampai menghasilkan keturunan."

Kagami terkesiap, "Jadi, Ibumu adalah manusia biasa?"

Tetsuya mengangguk, "Ha'i." Ia melanjutkan, "Ibuku awalnya hanyalah sumber makanan bagi Ayahku. Namun seiring waktu, mereka saling jatuh cinta dan menikah."

"Hmm... Lalu bagaimana—maaf, Kau dan Ibumu bisa selamat?" tanya Kagami, sungkan.

"Kami kabur. Memanfaatkan Ayahku sebagai umpan. Dari Negeri Touou ke Seirin ini." Jawab Tetsuya. Tangannya mengepal kuat sekali, "Maka dari itu... aku ingin membalaskan dendam Ayahku pada mereka!"

Kedua mata Kagami terbelalak. Ia benar-benar terkesima dengan salah satu sahabatnya ini.

"Tapi tentu saja aku tidak akan memaksa Kagami-kun, kok. Mungkin aku akan men..."

"Aku ikut!" potong Kagami. Sebuah seringaian penuh ambisi terpancar di wajahnya, "Makanlah sesukamu! Aku pasti akan membantumu hingga akhir!"

Kedua mata Tetsuya menyipit, "Asal Kau tahu, Generasi Keajaiban itu sangatlah kuat. Mereka mengincar Ibuku dan aku. Kemungkinan besar jika Kagami-kun menjadi sekutuku, Kagami-kun juga akan diincar mereka."

"Masa bodoh! Lagipula siapa juga yang menawariku tantangan ini? Kau harus bertanggung jawab karena sifatku yang menyukai tantangan sudah bangkit!" tegas Kagami, berapi-api. Ia lalu menatap Tetsuya dengan senyum lembut, "Aku juga sebenarnya empati dan sangat mengidolakanmu! Kau itu memiliki sesuatu yang membuat orang lain tertarik."

Tetsuya menghentikan langkah dan mengerjap polos, "Ternyata Kagami-kun bisa bicara dalam juga, ya?"

"Kau mengejekku?!" bentak Kagami.

"Tapi aku senang akhirnya Kagami-kun mempercayaiku!" gumam Tetsuya, dihiasi dengan senyum tipis, "Aku tidak akan mengecewakanmu!"

Sontak Kagami terbelalak takjub. Di matanya, Tetsuya sedang berdiri dengan sepasang sayap putih dengan sebuah flower crown mawar putih dan cahaya lembut yang memancar dari tubuhnya.

"Malaikat." Gumam Kagami, tanpa sadar.

"Eh?" gumam Tetsuya, bingung.

"Ah, tidak!" seru Kagami. Menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan delusi kurang ajar itu. Perlahan wajahnya justru memanas dan jantungnya berdebar kencang.

"Wajahmu memerah. Kau sakit?" tanya Tetsuya, menempelkan punggung tangan pada dahi Kagami.

Hal itu justru membuat wajah Kagami semakin panas, "S-sudahlah! Ayo cepat ke kelas!" ajak Kagami, mengalihkan pembicaraan. Ia berjalan lebih dulu sembari menutupi wajah panasnya.

Diam-diam Tetsuya tersenyum lembut sembari menatap punggung kokoh itu.

.

.

.

Beruntunglah saat Tetsuya dan Kagami memasuki kelas, sang guru yang semula Kagami ketahui sedang melakukan acara mengajarnya, kini justru tidak ada di kelas. Dengar-dengar sedang mengurusi siswa-siswa baru yang terlambat mendaftar sebagai murid sekolah favorit ini.

Dan betapa kagetnya saat mendadak pintu kelas digeser, menampilkan sang wali kelas mereka yang berwajah tajam dan tegas. Di belakangnya, ada dua orang murid asing yang mengekor. Satu memiliki surai hijau lumut, iris mata zamrud yang dibingkai kacamata berframe hitam. Sementara yang lainnya memiliki tubuh yang mungil, surai merah—bersama iris mata yang senada, dan aura intimidasi yang kuat.

"Kali ini kalian akan mendapat teman baru." Ucap sang wali kelas. Ia lalu menatap kedua murid barunya, "Silahkan memperkenalkan diri!"

"Perkenalkan, aku Akashi. Yoroshiku." Ucap si Surai Merah. Singkat, padat, dan jelas.

"Dan aku Midorima. Kami sepupu yang baru pindah dari Negeri Touou. Kami terlambat mendaftar di sini bukan karena kami malas, nanodayo. Kami hanya sibuk." Jelas si Surai Hijau Lumut, sembari menimang-nimang boneka beruang kecil di tangannya yang diperban.

Beberapa kata yang terbesit di benak murid-murid lainnya adalah, Midorima itu tsundere akut dan aneh.

Mendadak Tetsuya terkesiap saat menatap mata zamrud milik Midorima. Rasanya itu tidak asing dan menyimpan sesuatu yang membuat Tetsuya serasa ingin menangis—entah kenapa. Hati Tetsuya seolah terikat pada zamrud itu. Namun itu bukanlah ikatan yang bagus, justru membuatnya seolah dicekik rasa takut yang berlebihan. Zamrud itu mengunci seluruh pergerakan Tetsuya hingga tubuh itu membeku dan mengalami tremor.

"Mereka aneh, ya, Kuroko?" bisik Kagami, menoleh ke belakang. Namun mendadak ia terheran dengan sang sahabat yang seperti melihat setan, "Kau kenapa?"

Tetsuya akhirnya tersadar dan menatap Kagami dengan datarnya, "Aku tidak apa-apa."

Mendadak ada yang mengetuk dan menggeser pintu kelas. Menampilkan beberapa pembantu sekolah yang membawa dua bangku dan dua meja tunggal, "Ano... permisi. Kami membawa bangku tambahan untuk kelas ini."

"Oh, silahkan letakkan di belakang sana." Tunjuk wali kelas.

Para pekerja itu menaruh dua bangku dan dua meja itu sesuai perintah sang guru. Tepat di sebelah Kagami dan Tetsuya. Sontak saja itu membuat yang bersangkutan menjadi membeku. Terlebih Tetsuya yang sebenarnya ingin menghindari Midorima.

Sang wali kelas kembali bersuara, "Mereka berdua akan duduk di samping Kagami-kun dan Kuroko-kun."

"Terima kasih, Pak!" ucap Akashi dan Midorima, dengan kharismatik. Mereka lalu berjalan menuju tempat yang ditunjuk wali kelas. Akashi duduk di bangku paling belakang—tepat di samping Tetsuya. Sementara Midorima menempatkan diri di samping Kagami.

Di dalam hati, Tetsuya sangat ingin menjaga jarak dari mata crimson yang lebih menakutkan dari milik Kagami itu.

Si Surai Merah menatap Tetsuya dengan senyum superior, "Salam kenal. Namamu?"

Dengan bibir yang kelu, Tetsuya lalu menjawab, "Kuroko... Tetsuya."

Diam-diam Akashi menyeringai dengan aura yang gelap. Ia bergumam dengan nada intimidasinya kembali, "Kalau begitu, salam kenal, Tetsuya!"

Sontak Tetsuya menoleh pada wajah Akashi yang menyeringai. Selama ini tidak ada yang memanggilnya begitu kecuali ibunya. Bahkan Kagami yang notabene-nya sekarang adalah sahabatnya, sama sekali belum memanggilnya begitu.

Seolah mengerti akan kondisi Tetsuya saat ini, Kagami langsung bertanya dengan khawatir, "Kuroko? Kau kenapa?"

"Tidak ada apa-apa, Kagami-kun." Jawab Tetsuya, datar seperti biasa.

"Siapa dia?" tanya Akashi, dengan angkuh.

"Perkenalkan, dia sahabatku, Kagami Taiga. Walau kami baru dipertemukan di SMA ini, tapi kami cepat akrab." Jelas Tetsuya, dengan nada datar seperti biasa.

"Hee? Tapi maaf saja. Aku paling benci saat ada orang lain yang mengganggu acaraku." Gumam Akashi, dingin. Menatap Kagami dengan penuh amarah.

Mendadak Kagami menjadi sangat ketakutan. Kedua lututnya menjadi lemas dan tubuhnya mengalami tremor—walau dirinya kini sedang dalam posisi duduk di atas bangku.

"Hentikan, Akashi!" sebuah suara lain akhirnya memutuskan kontak Akashi dengan Kagami.

Akashi menatap Midorima dengan dingin, "Seperti yang kubilang tadi, aku paling benci saat ada orang lain yang mengganggu acaraku, Midorima."

Bukannya takut, Midorima justru melawan tatapan itu dengan tegas, "Hentikan." Gumamnya.

Detik berikutnya Akashi akhirnya mengalah dan menghela napas. Midorima ikut menghela napas lega. Si Surai Hijau itu menatap Tetsuya, "Salam kenal, Kuroko."

Tetsuya hanya mengangguk.

.

.

.

Kedua kaki berbalut kaos kaki dan sepatu putih itu melangkah dengan santai menuju sebuah rumah sederhana yang memancarkan cahaya yang hangat. Senyuman bahagia yang terpancar bertambah berkali lipat saat kedua kaki itu memasuki rumah.

"Aku pulang,"

Tiada jawaban. Ini membuat spekulasi tersendiri bagi pemuda bernama Tetsuya itu. Cepat-cepat ia melepas sepatu dan mencari sosok yang biasanya selalu menyambutnya dengan hangat jika ia pulang. Saat Tetsuya melangkah lebih dalam, hanya kekacauan yang ia dapat. Semua perabot termasuk alat elektronik seperti dihancurkan dengan paksa. Dan yang membuat Tetsuya mempunyai firasat buruk adalah, ceceran darah yang menghiasi keramik dan tembok rumah. Langkah yang diliputi ketakutan itu lalu menuju ke dapur. Seketika kedua mata biru itu terbelalak dan lututnya menjadi lemas.

"T-tidak!" gumam Tetsuya, dengan nada yang tercekat. Tubuh ringkihnya benar-benar tumbang dan lemas. Perlahan hidungnya terasa pedih dan air mata mulai mengumpul di pelupuk mata. Dengan memaksakan diri, pemuda bersurai biru itu merangkak menuju seorang wanita cantik bersurai pink. Yang kini bersimbah darah dan menatap Tetsuya dengan kosong.

"Mama?" gumam Tetsuya, sembari menangkap wajah wanita itu yang kini sangatlah pucat dengan berhias darah yang mengering, "A-apa yang terjadi?" air mata Tetsuya kali ini benar-benar mengalir dengan deras. Ia menciumi pipi ibunya. Yang saat ini takkan memberinya senyuman hangat lagi.

Cukup. Tetsuya benar-benar marah sekarang! Dendam dalam hatinya benar-benar membara. Namun jika dipikir-pikir dirinya sama sekali tidak tahu siapa yang menyebabkan kekacauan ini. Lagipula, tubuh ringkihnya belum bisa bertarung. Mungkin untuk saat ini Tetsuya hanya mampu berduka dulu terhadap ibunya dan mengatur strategi serta mencari pelaku semua ini.

Perlahan Tetsuya memeluk ibunya. Tidak peduli jika darah ibunya menempel pada seragam dan tubuhnya. Menghirup semakin dalam dan dalam hingga Tetsuya menyimpan baik-baik aroma itu dan... dapat! Ada aroma-aroma asing dalam tubuh ibunya. Aroma mawar yang maskulin dan remah-remah makanan.

"Aku akan mencari pemilik aroma ini. Dan aku berjanji akan membalaskannya untukmu, Ma!" tegas Tetsuya. Tangis pemuda itu pecah di tengah keheningan yang melanda. Isaknya benar-benar pilu. Hingga mendadak ia menghentikan tangisnya dan menoleh ke ambang pintu dapur. Di mana wanita paruh baya yang sangat ia kenal berdiri dengan tubuh bergetar dan lemas.

Kantong plastik yang berisi buah-buahan segar yang wanita itu bawa jatuh dengan begitu saja ke lantai. Wanita itu perlahan ikut menangis, "Ada apa ini?" tanyanya, dengan nada yang tercekat.

Tetsuya menangis kesengukan sembari memeluk ibunya dan menenggelamkan wajahnya di sana, "Bibi... tolong aku!"

.

.

.

Pemakaman Satsuki berlangsung pilu. Hanya sedikit yang datang untuk melayat—mengingat Tetsuya dan ibunya tidak mempunyai saudara. Dan sejak menikah dengan Daiki, Satsuki memang sudah dibuang dari keluarganya. Hanya wanita paruh baya yang baik hatilah yang merangkul Tetsuya dengan sayang. Di pelukan wanita paruh baya itu, air mata Tetsuya seolah telah habis. Wajah datarnya semakin datar. Bahkan saat Kagami menghiburnya, Tetsuya sama sekali tidak menggubris.

"Mulai saat ini, Tetsuya bisa tinggal dengan Bibi kok. Nanti Bibi akan merawatmu sebagaimana Satsuki merawatmu." Ucap wanita paruh baya itu. Membelai surai biru yang halus milik Tetsuya.

Tetsuya menatap wanita paruh baya itu dan menggeleng dengan lemah, "Terima kasih banyak tapi tidak usah, Bi. Aku akan tetap tinggal di sini. Aku tidak mau meninggalkan keluargaku lagi. Sudah cukup dulu kami meninggalkan Ayah sendirian. Dan sekarang aku tidak mau meninggalkan ibu dan rumah ini."

Wanita itu menatap Tetsuya dengan berkaca-kaca sembari membelai pipi halus itu, "Baiklah kalau begitu. Tapi tidak usah khawatir karena Bibi akan sering-sering ke rumahmu untuk merawatmu."

"Tidak usah repot-repot, Bi." Tolak Tetsuya, halus.

Wanita itu menggeleng dengan senyum lembut, "Bibi tidak punya anak. Jadi Bibi sangat senang bila Kau mau membagi bebanmu pada Bibi."

Kedua sudut bibir Tetsuya tertarik, membentuk sebuah senyuman haru. Ia menangis lagi, "Terima kasih, Bi."

"Aku juga akan selalu di sampingmu, Kuroko! Jangan lupakan aku!" sahut Kagami, sembari merangkul pundak kecil itu dengan akrab.

Tetsuya menatap Kagami dengan terkesima, "Kagami-kun... terima kasih!"

Gerombolan remaja bersurai warna-warni datang berpakaian serba hitam. Masing-masing membawa sebuket bunga putih sebagai bentuk bela sungkawa. Kedua mata Tetsuya menyipit saat mencium aroma yang sangat familiar mampir di penciumannya. Benar-benar yakin karena indera ghoul-nya tidak pernah salah. Aroma mawar yang maskulin dan remah-remah makanan.

"Oh, selamat sore, Tetsuya. Kau masih mengenalku, bukan? Aku Akashi. Aku dan saudara-saudara ikut berduka atas wafatnya Ibumu."

Tetsuya tidak membalas apapun. Hanya menatap si Surai Merah itu dengan tajam.

"Taiga sudah lebih dulu di sini, ya?" kata Akashi, beralih menatap Kagami yang berdiri di sebelah Tetsuya.

"Hee? Tidak kusangka saudara-saudaramu memiliki rambut yang warna-warni. Kalian ini apa? Pasukan pelangi?" sindir Kagami.

Akashi mendengus geli, "Kami berbeda keluarga. Otomatis berbeda gen." Tidak mau berlama-lama berurusan dengan Kagami, Akashi pun mendekati Tetsuya dan mendekapnya, "Tidak apa-apa. Kau tidak sendirian, kok."

Tetsuya hanya melirik orang yang sedang memeluknya kini dengan tatapan sinis. Ia menghela napas, "Terima kasih, Akashi-kun."

.

.

.

Beberapa hari kemudian, akhirnya Tetsuya memutuskan untuk pergi ke sekolah. Tiada lagi yang mengucapkan "Hati-hati di jalan!". Hanya rumah yang dingin dengan aroma pemakaman yang masih terasa. Si Wanita Paruh Baya sudah datang tadi pagi untuk mengantar sarapan untuknya berupa sepiring roti lapis, sebutir apel, dan segelas susu sapi segar. Percuma. Itu hanya akan berakhir di tempat sampah karena Tetsuya tentu tidak akan mengonsumsi makanan manusia. Well, pengecualian untuk susu.

Teman-teman Tetsuya di sekolah yang memiliki niat untuk mengucapkan bela sungkawa untuknya, justru dirasa telah mengoyak luka yang sudah mengering. Ternyata dugaan Tetsuya benar, bahwa ia belum siap mental untuk berjalan sendirian. Luka itu terus berdarah walau Kagami berusaha keras untuk mengobatinya. Dan bertambah parah ketika melihat seorang pemuda yang memiliki wajah aristorat, yang duduk di sampingnya. Tetsuya benar-benar menahan diri untuk tidak menangis sampai bel pulang sekolah berbunyi.

Kagami memasukan seluruh buku dan alat tulisnya. Ia lalu duduk menghadap ke Kuroko, "Ne, Kuroko! Temani aku makan, yuk?" Ajaknya, dengan hangat. Terus mencoba untuk menghibur sang sahabat yang seharian ini murung.

Tetsuya yang semula sedang mengemas seluruh barang-barang, akhirnya menoleh ke arah Kagami yang sedang memasang raut ramah. Ia tidak mampu menolak si Surai Merah Pekat itu. Tidak mau melihat senyuman hangat untuknya menghilang begitu saja. Tetsuya berdehem untuk membersihkan tenggorokannya lalu bersuara, "Baiklah."

"Yosha! Aku akan menraktirmu sesuatu nanti."

"Kuharap Kagami-kun ingat bahwa aku ini tidak sepertimu," gumam Tetsuya.

"Kau pikir aku bodoh? Tentu saja aku mengerti! Kau pasti suka dengan apa yang kubelikan untukmu nanti."

"Terserah Kagami-kun saja." Ucap Tetsuya, datar.

Akhirnya keduanya meninggalkan sekolah yang sudah sepi menuju sebuah restoran cepat saji bernama Maji Burger. Tetsuya yang belum pernah pergi ke tempat seperti ini hanya bingung bagaimana Kagami bisa mendapat makanan secepat kilat saat kembali dari konter. Kagami datang membawa satu nampan berisi tumpukan burger dan kola berukuran besar. Lalu si Surai Merah itu kembali pergi ke konter untuk memesan sesuatu. Akhirnya segelas cairan berwarna putih yang bersuhu dingin dan beraroma vanila datang di antar oleh Kagami, untuk Tetsuya.

"Apa ini?" tanya Tetsuya, datar.

"Vanila kocok. Komposisinya, susu sapi, es krim, dan ekstrak vanila. Cobalah!" ujar Kagami. Ia kini sedang membuka bungkusan salah satu burgernya dan melahapnya, "Kau bilang, Kau hanya bisa mengonsumsi susu, bukan?"

Walau pada awalnya ragu, Tetsuya tetap meminumnya melalui sedotan yang sudah menancap di gelas tersebut. Dan air wajah si Surai Biru berubah menjadi penuh kebahagiaan. Mungkin di dalamnya ada campuran makanan manusia. Namun Tetsuya tidak merasa terganggu. Rasanya benar-benar ringan dan melepaskan semua kegalauan Tetsuya. Berbeda saat dirinya meminum darah manusia. Ah, kalau diingat-ingat kembali, stok darah di kulkasnya hanya tersisa satu botol lagi.

Kagami terkikik saat melihat wajah Tetsuya yang merona setelah meminum vanila kocok itu, "Kau suka?"

Senyuman hangat di wajah Tetsuya memancar dengan tenang, "Iya. Enak sekali."

"Sudah kuduga!" seru Kagami, menjentikkan jemarinya dan membentuk isyarat menembak. Ia kembali menggigit burger keju di tangan kanannya, "Ne, Kuroko! Mau menginap ke rumahku?"

Kedua alis Tetsuya mengernyit, "Terima kasih, tapi sepertinya aku tidak bisa, Kagami-kun."

Kagami meraih sebotol kola di meja dan meminumnya, "Kau ini! Aku tahu Kau tidak bisa meninggalkan rumahmu. Tapi bisakah Kau lupakanlah semuanya sejenak? Kau terlihat kacau! Mungkin nanti kita bisa bermain play station, bermain poker, atau catur, ya boleh. Semaumu saja."

"Kagami-kun itu sangat baik." Gumam Tetsuya, "Tapi aku takut hilang kendali dan menerkammu."

"Bodoh! Aku ini memang sumbermu 'kan? "Makanlah sesukamu", Kau ingat?"

Butuh beberapa saat untuk Tetsuya berpikir hingga, "Baiklah. Maaf merepotkan."

"Yosha! Ettou... bagaimana kalau setelah ini kita ke taman rekreasi? Naik kincir atau wahana adrenalin?" ajak Kagami, "Kau mungkin butuh sesuatu yang menantang, Kawan!"

Tetsuya tersenyum tipis, "Terserah Kagami-kun saja."

.

.

.

Ternyata saran Kagami benar. Setelah menaiki beberapa wahana adrenalin, Tetsuya menjadi kembali bersemangat dan melupakan semua masalahnya sejenak. Tetsuya benar-benar tidak sadar bahwa malam ini ia terus tertawa dan tersenyum bahagia. Kagami yang melihat itu semua hanya merona dan menahan detakan jantungnya yang menggebu-gebu. Tahan. Masih banyak waktu untuk menembak Tetsuya sebagai kekasihnya. Kagami hanya ingin saat ini Tetsuya menerimanya dan akhirnya mencintainya dulu. Ia sudah punya rencana romantis untuk melangsungkan acara penembakan itu.

"Kau menikmatinya, Kuroko?" tanya Kagami, dengan nada yang lembut.

Tetsuya yang berjalan di sebelah Kagami, tersenyum dan mengangguk.

"Kalau begitu, aku akan sering-sering mengajakmu ke sini dan ke Maji Burger untuk membeli vanila kocok."

"Terima kasih." Gumam Tetsuya.

Saat mereka sedang asyik berbincang di sebuah jalan yang sepi, segerombolan berjubah hitam beraksen merah, berdiri menghadang Kagami dan Tetsuya. Tudung hitam yang mereka kenakan membuat wajah mereka hanya terlihat bagian hidung, bibir, dan dagu. Melihat kulit mereka yang pucat, membuat Tetsuya memasang posisi siaga untuk lari.

"Siapa kalian?" tanya Kagami, angkuh. Tidak suka jalannya dihadang seperti ini.

"Kagami-kun, mereka berbahaya! Lari!" teriak Tetsuya, sembari menarik lengan kekar milik Kagami dan putar balik dengan kecepatan penuh.


Yare-yare, maaf ini meleset dari DL. Sebenarnya chap 2 itu udah siap dari chap 1 publish. Tapi karena modem saya nggak bisa digunakan, lalu wifi sekolah sangat lemot, dan jadwal saya ke warnet Cuma seminggu sekali, yaaa malah jadi lupa XD /plak

O iya, ada yang bilang di chap 1 mirip drama Korea "Blood". Jujur, saya memang terinspirasi dari situ :D. Tapi saya nggak ada niat buat jiplak kok. Lagipula waktu itu saya nonton drama itu nggak sengaja dan diloncat-loncat karena nggak ada subtitle-nya (kampretnya saya nggak dunlot sub-nya sekalian x_x). Dan saya benar-benar kaget pas pasang subtitle, inti dari cerita itu hampir mirip dengan fic ini TwT tapi tenang, saya akan berusaha nggak njiplak kok :D.

Dan lagi, mohon maaf aja, ini juga nggak akan menjiplak Tokyo Ghoul buatan Ishida Sui-sensei kok :D. Saya hanya mengadopsi ciri-ciri ghoul dari TG agar mudah untuk membayangkannya. Dan ghoul di fanfic ini, nggak punya kakuja, melainkan punya anugerah (misalnya Kuroko punya kemampuan misdirection, hati salju (dia bisa menaklukan hati yang paling kuat sekalipun), dan masa depan (pikirannya) nggak bisa dibaca Akashi—saya pakai ini karena di Extra Game, Akashi bilang kalo Kuroko itu selalu melakukan hal-hal yang nggak bisa diperkirakannya).

Yahh, okelah segitu aja cuap-cuapnya. Kepanjangan tuh tehee. Sampai jumpa di chap selanjutnyaa! :D

~Rae

12 Mei 2015