Chapter 4

"Apa yang harus dilakukan"

Kuroko POV


"Jadi.."

Aku hanya terdiam mendengar gumaman Kagami-kun.

"Sekarang kau tinggal dengan Kise, menjadi saudara tiri Kise, dan kau... menyukai Kise. Nice"

Aku mengangguk sebagai persetujuan.

"Jadi apa yang akan kau lakukan, Kuroko?"

Aku berpikir sejenak, mencerna apa yang dimaksud oleh Kagami-kun. "Aku tidak tau"

Kagami-kun hanya menghembuskan nafas sebagai tanda ia sudah tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi. "Apa kau tidak akan berusaha untuk agar dia lebih menyukaimu, memperhatikanmu, atau apapun itu?"

"..." Diam. Sekali lagi tidak tahu harus menjawab apa. "Eng.. Sejujurnya aku tidak tau apa yang harus kulakukan, Kagami-kun. Lagipula, jika aku berusaha seperti itu pun tidak berguna, karena tidak mungkin ia akan menyukaiku"

"Meskipun begitu, kau tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya bodoh"

"Aku tau bahwa ia akan mempunyai wanita yang baik sebagai pendampingnya"

"Oh ya? Kalau kau bisa mengubah hal itu untuk terjadi, kenapa enggak?"

Wow, Kagami-kun yang seperti itu pun terkadang bisa memberikan nasihat yang baik juga. Berarti, dia tidak sepenuhnya bodoh.

"Jadi apa yang harus kulakukan?"

"Kasih perhatian kepadanya? Jujur aja aku enggak terlalu masalah hal beginian"

"Hmm..."

"Sudahlah aku pergi beli roti dulu"

Aku tidak menjawab atau menoleh ke arah Kagami-kun yang berjalan menuju kantin. Aku masih berpikir apa yang harus kulakukan agar aku dapat mendapatkan perhatian dari Kise-kun.

Membayangkan apa yang akan seorang wanita lakukan kepada Kise-kun.. Mungkin seperti membuatkan bekal? Atau menyapanya sepulang sekolah dengan salam kasih sayang? Memandikannya? Menyanyikan lagu nina bobo sebelum tidur?

Terlalu banyak yang harus dilakukan. Seharusnya, dari sifat Kise-kun aku tidak perlu melakukan apa-apa, mungkin aku hanya cukup untuk bersifat seperti biasa saja. Tetapi, tetap lebih berbeda dari biasanya. Lebih tepatnya, aku tidak mungkin akan melakukan hal-hal seperti yang aku sebutkan di atas tadi.

Sudahlah, lebih baik aku tidur dulu. Pelajaran berikutnya adalah bahasa jepang dan aku cukup lelah dikarenakan latihan kemarin, aku tidur pun tidak ada yang akan tahu ataupun menghiraukanku.

Beberapa jam berlalu, sekolah akhirnya bubar dan aku sudah tidak mengantuk lagi. Cuaca hari ini mendung, dan kelihatannya hujan akan turun. Kelihatannya, hari ini tidak akan ada latihan karena senior cukup sibuk dengan tugas-tugasnya. Padahal 3 hari lagi kita akan bertanding melawan Rakuzan dan mereka malah santai, meskipun itu tidak masalah bagiku.

Aku berjalan keluar menuju gerbang sekolah dengan malasnya. Hari ini benar-benar melelahkan, meskipun aku hanya tertidur sepanjang perjalanan tadi.

"Kurokocchi!" Suara seseorang memanggilku dari pintu gerbang sekolah sambil melambaikan tangannya.

Jantungku langsung berdetak, dan senyum di wajahku mengembang, walaupun tidak terlalu terlihat. Jadi begini rasanya menyukai seseorang. Meskipun orang itu belum tentu akan menyukaimu balik, kau akan tau bahwa hanya karena dialah kau bisa merasakan hal yang dinamakan cinta seperti ini.

"Kise-kun, ada apa?"

"Aku sudah bilang, 'kan? Aku akan menjemputmu hari ini!"

"Ah.. aku lupa, maaf" Bodohnya aku bisa melupakan hal sepenting ini.

"Sudahlah, sudahlah! Sebaiknya kita cepet pulang, soalnya bakal turun hujan deh keliatannya" Kise-kun membuka payung yang ada di tangan kirinya lalu badannya membatu sejenak. "Ahhhhhhhh, Kurokocchi aku lupa membawakanmu payung, soalnya tadi aku habis ada pemotretan dan.. Ah, sudahlah payung ini cukup untuk berdua kok"

"Kise-kun, aku tidak apa-apa, sebaiknya kau pulang duluan saja"

"Kurokocchi, sifatmu selalu seperti itu. Selalu lebih mementingkan orang lain daripada dirimu sendiri, perhatikan dirimu juga dong! 3 hari lagi kau bakalan tanding lawan Akashicchi, bagaimana kalau sampai sakit, dasar!"

Perkataan Kise-kun langsung menancap dipikiranku, dan aku terdiam sejenak. "Ah, kau betul juga, baiklah"

Hah, padahal ini adalah kesempatan yang langka, tetapi sifatku yang seperti ini memang susah diubah, dan aku bukanlah seorang wanita. jadi, beginilah.

"Bagus, ayo jalan"

Aku mengangguk, sebagai jawaban iya. Hujan mulai turun, dan aku baru menyadarinya bahwa Kise-kun berjalan di sebelah kiriku agar aku tidak terkena percikan air jika ada mobil yang lewat. Ah, aku benci sekali dengan sifatnya itu, seakan dia selalu menjagaku meskipun aku bukan apa-apanya.

"Heh, kenapa kau diam kurokocchi?" Kise-kun memulai pembicaraan dengan cekikikan.

"Aku tidak tau harus bicara apa"

"Apa sajalah, dari yang penting sampai tidak penting"

"Hm.. Ah, Kagami-kun dia alisnya terbelah dua"

"... Kurokocchi"

"Ya?"

"Kita semua sudah tau itu..."

"Katanya dari yang tidak penting"

"Pfft — HAHA, Kau ternyata bisa membuat lelucon juga! Tapi memang, alisnya itu bentuknya aneh"

"Sa-ngat-a-neh" Kataku dengan mengeja seakan untuk membuatnya lebih jelas.

Kise-kun tanpa diundang tiba-tiba mengelus dan mengacak-acak rambutku dengan kasarnya, tetapi lembut. "Kise-kun?"

"Hmm hmm, rambutmu sampai sekarang pun masih tetap halus ya"

"Eh..?"

"Kau lupa? Aku dulu juga sering memegang rambutmu seperti ini"

"Mana mungkin aku lupa"

"Jadi kau selalu ingat? Tidak diduga"

Buff, tiba-tiba wajahku memerah walaupun tidak terlalu merah, memalukan berkata seperti itu. "Soalnya kau aneh"

"Hahh—? KUROKOCCCHIIIIIII KAU JAHAT"

Aku tertawa melihat kebodohan Kise-kun seperti itu, sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini. Aneh rasanya, bahwa kita menjadi saudara seperti ini. Entah aneh entah takdir, tapi aku akan menikmati hal ini semua.

Beberapa menit kemudian, kita berdua pun menaiki bus pemberhentian terakhir. Di perjalanan Kise-kun masih berbicara dan curhat dari hal yang tidak penting sampai tidak penting. Singkatnya, semuanya tidak penting. Tapi semua itu membuat kita berdua jadi tidak bosan.

Akhirnya, kita pun sampai di tempat tujuan, meskipun kita masih perlu berjalan beberapa meter lagi. Dengan celotehan yang konyol, Kise-kun hampir saja terpleset terkena genangan air. Itu benar-benar membuatnya kelihatan bodoh, entah apakah ia tetap akan bersifat seperti itu juga dihadapan orang lain.

Setelah berjalan beberapa meter dan mendekati rumah, disitu berdiri sesosok wanita yang terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang.

"Ryouta-kunnn!" Panggil wanita itu dari kejauhan, memanggil nama depan Kise-kun.

"Momoko-chan? Kenapa kau ada disini?" Tanya Kise-kun, menuju ke arah wanita yang tidak kukenal itu.

"Tentu saja untuk menemuimu!"

"Bukankah aku sudah bilang? Aku sibuk hari ini"

"Ahh, begini. Aku mau minta maaf atas kejadian kemarin. Ya ya yaaaa?"

Kise-kun menghembuskan nafasnya. "Sudahlah lupakan masalah kemarin, kamu udah lama nunggu disini kan?"

"Yah, lumayan sih. Tapi gapapa kok"

"Yaudah ayo masuk"

Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya melongo melihat keadaan sekitar. Kise-kun masuk ke rumah dengan menggandeng wanita itu didepanku. Menggandeng. Menggandeng.

Dengan ragu, aku memaksakan diriku untuk bertanya kepada Kise-kun tentang wanita itu. "Kise-kun itu siapa?"

Kise-kun hanya meringis dan menjawab, "Dia.. pacarku"

Jleb.

Aku sudah mengetahuinya, Kise-kun pasti mempunyai seseorang yang mendampinginya setiap saat. Aku hanya teman biasa baginya, bukan apa-apa. "Ooh" Jawabku singkat, seakan tidak peduli.

"Kalau begitu aku keatas dulu" Kataku seraya langsung naik ke atas, tidak berani untuk menatap mata Kise-kun.

Terserah dia menganggapku aneh atau apa, tapi mengetahui Kise-kun mempunyai kekasih didepan mataku, benar-benar membuatku... sakit. Aneh memang, anak cuek sepertiku bisa merasakan hal tidak logis seperti cinta ini.

Aku bergegas untuk masuk ke kamarku sendiri, mengganti pakaian, dan langsung membuang tubuhku ke dalam kasur. Pikiranku kosong, tidak tahu harus berbuat apa. Entah mengapa, aku sama sekali tidak punya mood untuk membaca buku sekalipun. Kejadian kali ini benar-benar membuatku syok.

Tanpa sadar, aku mengecek ponsel yang ada di sebelah bantal dan melihat ada 1 email baru. Dari Kagami-kun.

"Woi, Kuroko"

Jarang sekali Kagami-kun mengirim email seperti ini. Pasti ada sesuatu yang penting, begitu pikirku.

Dengan malas aku membalas emailnya. "Ada apa?"

3 detik kemudian, email baru masuk lagi. Bagaimana bisa ia mengetik dengan cepat seperti itu...

"Aku benci dengan Aomine"

"Kau selalu berkata begitu tapi kau tetap menyukainya"

"Aku malu ngomong tentang hal ini, tapi Ahomine itu masih saja membeli buku porno padahal dia sudah... memili SIAL MESKIPUN CUMAN NGETIK INI MEMALUKAN."

"Tenang saja, aku menangkapmu"

"Baiklah, jadi aku kesal karena itu, karena itu tadi kita bertengkar"

"Bodoh"

"What the fUck"

"Itu sifat Aomine-kun dari SD sudah membeli banyak majalah porno. Maklumi"

"Tidak"

"Memagnya kau tidak pernah membelinya"

"Pernah tapi tidak separah dia"

"Sama saja bukan"

"Tidak"

"Sama"

"Tidak"

"Terserah"

"Baiklah aku memaafkannya"

"Baguslah"

"Bagaimana kelanjutanmu dengan si kuning itu"

Melihat kata-kata itu, aku jadi sangat malas membahasnya. Tapi yasudahlah.

"Tidak tahu"

"Ada apa?"

"Dia sudah punya kekasih"

"Lalu?"

"Dan kekasihnya manis sekali"

"Lalu?"

"Aku tidak tahu lagi"

"Lalu?"

"Aku tidak akan pernah membahas tentang hal ini denganmu lagi"

"Maksudku, lalu kenapa? Mereka hanya pacaran, bukan menikah. Mereka bisa putus kapan saja"

"Lalu Kise-kun akan mendapat kekasih baru"

"Kalau begitu berusahalah"

".."

"Lakukan sesuatu bodoh, kau ingin menyerah begitu saja? Kalo gitu, namamu bukan Kuroko Tetsuya"

"Lalu siapa?"

"Bakaroko Idiotsuya"

"Bagus juga"

"Terserah, itu tergantung darimu. Tapi aku bilang, jangan menyerah"

"Mungkin kau bisa jadi Kagami Teguh" (GANGERTI HAHA)

"Hah, siapa itu. Sudahlah aku mau tidur bye"

Melihat itu, aku tidak membalasnya lagi. Aku menatap langit-langit yang ada di kamar, berpikir apa yang harus kulakukan menghadapi ini.

Apa aku harus menyerah begitu saja? Tapi kalau berusaha, berusaha seperti apa?

Aku benar-benar tidak mengerti...


Yo yo yo yo yo. Ini sudah mau mulai ceritanya /ea. aku gangerti mau ngomong apa, jadi singkatnya tetep ikutin yaa! Jangan lupa review juga, yang gapenting juga gapapa. Soalnya kadang ngeliat review dari kalian itu bisa bikin cekikikan sendiri lol.

Makasihh!