Chapter 5

"Gawat"

Kise POV


"Ryouta-kun, aku mau kita putus"

"Kenapa?" Tanyaku dengan bingung, tapi entah kenapa tidak merasa tersakiti sama sekali.

Momoko-chan menghembuskan nafas dengan berat "Aku.. tidak tahu. Aku hanya merasa, kau tidak membutuhkanku, dan aku muak dengan itu jujur saja..." Dia menghentikan kata-katanya dan menghembuskan nafas sekali lagi. "Jadi, lebih baik kita putus daripada merasa tidak enak satu sama lain"

Aku hanya terdiam mendengar kata-katanya. "Hmm. Baiklah kalau itu memang maumu"

"Sudah kuduga, kau sama sekali tidak berperasaan!" Bentaknya, lalu pergi meninggalkanku.

Jujur saja aku sama sekali tidak mengerti perasaan wanita. Bilangnya ingin putus, setelah disetujui malah membentak. Kalau memang tidak ingin putus, kenapa dia menyarankan itu dari awal?

Tapi aku mengerti sih, dia hanya ingin aku menahannya untuk berkata "tidak" dia ingin tau apakah aku masih peduli padanya apa enggak. Yah, jujur saja aku sama sekali tidak keberatan jika putus.

Terlebih lagi dia over-protective dan itu membuatku tidak nyaman sekali. Hahh, meskipun begini aku tetap merasa sedikit despresi sekaligus enteng.

Setelah beberapa menit melamun disitu, aku pun dengan malasnya berjalan untuk kembali ke rumah. Di tengah jalan pun, aku masih memikirkan apa yang harus kulakukan, meskipun aku tidak harus melakukan apa-apa. Bahkan aku tidak mengerti apa yang kupirkan. Entahlah, aku hanya bingung saja.

Angin hari ini benar-benar dingin dan kencang. Jari-jariku berlari ke arah rambutku untuk membenarkannya sedikit setelah terkena tiupan angin. Bagaimana pun juga, dalam keadaan apa pun, dimana pun, penampilan harus nomer satu. Biar ganteng.

Sesampainya di rumah, aku melihat mama dan "papa" ku masih bermesraan di ruangan tengah sambil menonton tv. "Aku pulangggg~" Kataku, menyapa mereka. Bisa dibilang ini kebiasaan yang baik di Jepang. "Selamat datang!" Jawab mereka dari kejauhan, sedikit tidak menghiraukan kedatanganku. Berasa obat nyamuk.

Aku menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari sosok kecil di rumah ini. Kelihatannya dia lagi di atas, begitu pikirku. Sesampainya di lantai dua, terlihat pintu kamar Kurokocchi terbuka dengan lebarnya. Tanpa segan aku merabahkan tubuhku ke tempat tidur yang empuk milik Kurokocchi.

"Kise-kun" Aku tergejolak kaget tiba-tiba wajah kurokocchi muncul di depanku. "Apa yang kau lakukan di kamarku?"

"Biarkan aku tidur disini"

"Kasur ini hanya muat untuk 1 orang"

"Cuek"

"... Ada apa?" Akhirnya menjerumus ke pertanyaan itu, kurokocchi benar-benar mengerti tentang diriku. Mungkin terlihat dari raut wajahku ini.

Aku menghela nafas panjang, dan diam sesaat. Melihat ke arah langit-langit untuk menyiapkan kata-kata yang harus kukatakan.

"Aku diputusin"

Kurokocchi tidak diduga terlihat sedikit kaget dengan wajah datarnya itu. Ia meneguk ludahnya dan dengan segan bertanya "Perempuan yang waktu itu?"

"Hm hm" Jawabku enteng, memasang tampang malas untuk memikirkannya. Tidak sengaja aku menoleh ke arah kurokocchi dan entah kenapa aku merasa dia tersenyum. "Kenapa kau tersenyum?" Tanyaku tidak paham.

"Hah? Eh, tidak kok" Katanya, tanpa mengalihkan pandangan.

Tapi aku benar-benar mengerti Kurokocchi itu orangnya seperti apa, jadi aku yakin bahwa dia tersenyum barusan, meskipun aku tidak tahu mengapa.

"Okelah" Kataku, tertawa kecil. "Jadi, boleh aku tidur disini?"

Dia berpikir sejenak, memeriksa kasur kecilnya itu. "Tidak, disini sempit"

"Aku lagi males tidur di kamarku" Kataku memohon, walaupun tidak teelihat seperti itu.

"Tidak tetap tidak"

"Kurokocccchiiiii~"

Kurokocchi melihat kearahku sekitar beberapa detik, dan akhirnya menghembuskan nafas sebagai jawaban terakhir. "Baiklah"

"HORRR—" Kata-kataku terputus disaat Kurokocchi berkata "Tapi, kau janji tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh"

Alisku mengerut mendengar perkataan Kurokocchi, "Hm? Aneh-aneh seperti apa?"

Kurokocchi terdiam beberapa saat, aku benar-benar tidak mengerti. "Seperti memelukku di malam hari dan mengelus rambutku" Katanya, dengan wajah memerah.

Wajahnya memang tidak terlihat merah, tapi aku yakin dari ekspresinya dia malu dan memerah. Gimana lagi, ekspresinya itu memang kadang sulit ditebak. Karena itulah, aku punya kebiasaan untuk menebak ekspresinya, jad sekarang aku cukup bisa membaca ekspresinya itu.

"Itu kan kebiasaan Kurokocchi" Bantahku.

"Kebiasaan memeluk wanita di malam hari?"

"Bu-bukan, oke! Errhm, begini rambutmu kan halus dan wangii~"

Dengan entengnya ia memutar matanya seakan sudah bosan dengan kata-kata rayuan seperti itu. "Jangan bicara yang aneh-aneh"

"Beneran!" Kataku sambil langsung menarik tubuh Kurokocchi ke arahku dan dengan cepat mengacak-acak rambutnya dan mengendus wangi rambut Kurokocchi. "Tuh kan, wangi"

Mata Kurokocchi terbelalak kaget dan menepis tanganku dengan kasarnya, "Hentikan!" Jarang sekali Kurokocchi membentak seperti itu, aneh memang. Akhir-akhir ini dia sering sekali bersikap tidak seperti biasanya, terlebih lagi jika aku mendekatinya.

"Jangan macam-macam, kau mau tidur apa tidak?" Tanyanya mengancam.

Aku tersenyum, melihat ke arah Kurokocchi. "Baiklah-baiklah~ Ah, tapi sebelum itu"

Lalu, aku mengangkat tubuhku dan keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah untuk mengambil beberapa bir dari kulkas dan segera kembali ke kamar atas. Aku membuka pintu kamar Kurokocchi dengan kerasnya, "Mari minumm!"

Kurokocchi terlihat datar namun memberi tampang ewh kepada diriku ini, yah aku tau mengapa. "Kita masih dibawah umur"

"Lupakan saja untuk hari ini, kau mau?" Kataku menawarkan dengan cekikikan, tidak serius. Paling juga dia akan menjawab tidak seperti biasanya, akan aneh juga kalau Kurokocchi akan menerima tawaran untuk minum seperti ini.

Kurokocchi terdiam beberapa saat seperti ia sedang berpikir matang-matang untuk menjawab. "Baiklah, aku akan mecobanya"

Aku tergejolak kaget mendengar respon Kurokocchi. Ini adalah hal yang tidak disangka-sangka. "EHH? Kau serius? Aku hanya bercanda Kurokocchi, sebaiknya jangan"

Ia memandangku dengan tampang penasaran, "Kenapa tidak?"

"Ini tidak cocok untukmu"

"Sedikit saja" Katanya memaksa. Kurokocchi rasa penasarannya benar-benar kelewat batas deh kali ini. (Lah terus kamu apa Kise, dasar)

Aku berpikir sejenak, untuk menentukan jawaban yang terbaik untuknya. "Baiklah. Satu botol saja oke?"

Kurokocchi hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia mengambil satu botol bir kaleng yang habis kuletakkan di atas meja dan membuka penutupnya. Dengan bimbang ia masih berpikir apakah harus meminumnya apa tidak.

"Kau tidak usah memaksakan dirimu" Kataku, melihatnya bingung seperti itu.

"Tidak aku akan meminumnya" Balasnya, lalu dengan tangan sedikit gemetar dan mata tertutup ia meneguk sedikit dari dalam kaleng bir tersebut. Ditengah-tengah tegukan itu, ia membuka matanya dan terbelalak.

Kurokocchi menghentikan minumnya dengan tiba-tiba, "Rasanya... Aneh... Tapi tidak buruk" Katanya dengan sedikit pujian.

Aku hanya tersenyum dan membuka kaleng botol untuk diriku sendiri dan tanpa segan meminumnya dengan langsung beberapa tegukan. "AAAHHHH" Teriakku, seperti orang mabuk.

Jujur saja, aslinya aku sedikit despresi karena memang diputuskan tadi, tapi yah sudahlah. Aku juga tidak terlalu menyukai perempuan itu, jadi kupikir hal seperti itu tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.

Aku mengambil botol yang kedua

Ketiga

Keempat

Kurokocchi pun sepertinya sudah menghabiskan satu botol dan tidak akan mencobanya lagi, karena botol itu tinggal satu dan berada di tanganku. "Kise-kun, aku rasa sudah cukup..." Katanya mengkhawatirkanku.

Tapi dalam keadaan seperti ini, pikiranku sudah agak melayang meskipun tidak terlalu mabuk, aku masih sadar kok. Lalu, tanpa berpikir panjang aku pun meneguk botol yang kelima dan menghabiskannya dengan cepat.

Tapi tenang saja aku masih sadar, meskipun agak pusing sedikit.

Karena bir yang ini tidak terlalu banyak anggurnya jadi aku rasa ini pun tidak akan terlalu mempengaruhiku.

"Kise-kun..?" Panggil Kurokocchi untuk memastikan apakah aku baik-baik saja. Memasang tampang wajah khawatir seperti itu.. benar-benar gawat ya.

"Aku tidak apa-apa. Ayo tidur" Kataku sambil berdiri dan membuang semua botol kaleng di tempat sampah.

Dengan segera, aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur Kurokocchi yang sempit ini, tapi muat untuk dua orang. Kurokocchi dengan gaya berjalannya seperti biasa, berjalan ke arah sini dan menyiapkan diri untuk tidur pula.

Ia mematikan lampu kamarnya yang berada di bagian belakang atas tempat tidur itu, sekaligus juga lampu belajarnya. "Kau tidak membaca buku?" Tanyaku penasaran.

"Tidak, hari ini aku capek, dan mau cepat tidur" Jawabnya singkat, padat, dan jelas.

Kurokocchi tidur dengan menghadap tembok sebelah kanannya, dan aku yang masih terjaga, menatap langit-langit di atas. Tanpa sengaja, rambut Kurokocchi mengenai bagian wajahku.

Wangi dan harum.

Bahkan wanginya lebih enak daripada wanita yang selama ini kukenal. Dengan hati-hati aku mengusap rambutnya dan merasakan kelembutannya. Benar-benar lembut, lembutnya beda dengan rambut wanita yang lain.

"Kise-kun, aku belum tidur dan aku bilang jangan aneh-aneh" Bisiknya dengan protes.

Tetapi aku hanya terdiam dan masih melanjutkan memainkan rambutnya. Melihat ke lebih dalam, aku memperhatikan punggung Kurokocchi yang kecil, namun bisa bermain hebat di lapangan itu sungguh menajubkan.

Entah kenapa, aku mendekati tubuh kecilnya itu dan mencium wanginya juga. Perlahan-lahan memegangi tangannya yang lebih kecil dan ramping dariku, namun kuat. Ia benar-benar masih tetap lelaki. Tapi kenapa aku bisa jadi seperti ini?

Mungkin aku mabuk dan merasa seperti ini. Kulit halus dan putihnya itu benar-benar membuatku ingin memeluknya. Aku yang masih memegang tangannya, menggenggam lebih erat dan nafasku menjadi sedikit lebih pendek dari biasanya.

"Kise-kun?" Panggilnya dengan kesal dan berbalik ke arahku. Aku memperhatikan bibir kecilnya itu, dan terlihat lembut di mataku. Mungkin aku benar-benar mabuk...

Tanpa berpikir panjang lagi, aku menempelkan bibirku ke bibir Kurokocchi dengan perlahan namun pasti. Dan itu.. terasa berbeda dari biasanya, itu pasti karena aku mabuk. Aku sudah tidak dapat berpikir lagi.

Jantungku berdetak dengan kencang, tidak seperti biasanya. Aku meneruskan untuk mencium bibir Kurokocchi dengan lebih dalam, namun tetap lemah lembut. Kurokocchi di lain sisi terus menggerang, menyuruhku berhenti. Tentu saja ia akan merasa jijik dengan ini, dicium dengan lelaki.

Tapi aku tahu aku tidak boleh meneruskannya lebih dari ini, jadi aku memutuskan untuk berhenti.

Sebagai tanda akhir, aku mencium leher Kurokocchi dan bibirnya dengan dalam seperti tadi sekitar beberapa detik dan dahinya sebagai akhir.

Aku menatap Kurokocchi yang dengan bingung dengan apa yang telah terjadi barusan. Tetapi, ekspresinya kali ini benar-benar tidak biasa, tidak datar dan tidak serius, ini lebih ke... seksi... Ia memasang wajah yang ingin diapa-apakan. Aku dapat mendengar detak jantungnya lebih keras dariku, nafasnya tersenggal-senggal dan ia berulang kali meneguk ludahnya. Dia terlihat tidak biasa dengan hal seperti ini.

Gawat, kalau begini aku benar-benar tidak bisa menghentikan diriku.

Untuk menahan diri, aku dengan buru-buru mencium dahinya lagi dan tersenyum kecil, "Selamat tidur" bisikku kepadanya.

Lalu aku pun dengan perasaan yang masih bingung dan rumit, menghadap ke arah lain dari Kurokocchi dan berpikir bagaimana caranya mengendalikan detak jantungku ini. Aku pun memutuskan untuk menutup mataku dan mengatur nafasku.

Apa yang harus kulakukan ketika bertemu dengannya besok pagi? Bagaimana aku harus menyapanya? Aku harus bersikap seperti apa?

Hari ini aku benar-benar.. Mabuk.. Ya..


Hai hai hai, hahahaha... Maaf ya kalo yang dibawah umur baca ini. Tapi kalian kalo dibawah umur udah baca homo lehih gawat lagi. (Yasudahlah)

Kejadian di atas jangan ditiru ya gays. Yang bir itu okeoke. Terus maklumi kalo masih ada typo ya hiks.

Jangan lupa review yaa. Makasih juga buat yang udah ngingetin kalo di chapter sebelumnya kedouble an udah diperbaikin kok.

Review ya gaaaayssss.