Chapter 6
"Perasaan apa ini?"
Kise POV
Aku menuangkan secangkir teh, dan menaruhnya di atas meja. "Hah..." entah kenapa aku selalu menghela nafas berulang kali dari pagi ini.
Kurokocchi masih tertidur di kamarnya, aku terbangun lebih dahulu darinya mengingat pagi ini ada pemotretan sebelum pergi ke sekolah.
Sepertinya Kurokocchi memerlukan banyak istirahat karena hari ini ia akan bertanding melawan Rakuzan. Sedangkan aku.. malah berbuat seperti itu kepadanya bahkan sebelum ia bertanding. Semoga aja dia tidak terlalu memikirkan masalah kemarin.
"Ryouta? Tumben bangun pagi" Mama tiba-tiba datang dari arah belakang sambil menguap dengan malasnya, hampir mengagetkanku.
"Oh, pagi ma. Aku ada pemotretan hari ini" Kataku sambil meneguk secangkir teh manis yang kubuat barusan.
"Ahh, kau benar-benar anak yang seperti diharapkan Ryouta~!" Mama dengan girangnya langsung memelukku erat dan bertingkah seperti anak 17 tahun. Dia memang seperti itu, biasakanlah. Bahkan mungkin bisa berpura-pura menjadi anak umur 5 tahun. Apa yang tidak bisa dilakukannya? Menaruh sabun di atas mata. Iya aja.
"Baiklah ma, ini terasa seperti incest, menjijikan" Kataku mengeluarkan ekspresi 'ewh'
Mama melepas pelukannya dariku dan mulai menyiapkan beberapa hal di dapur untuk membuat sarapan pagi. Ia mengambil beberapa roti dan menumpuknya menjadi satu, lalu mengisi roti-roti itu dengan ham, sayur, dan beberapa bahan pelengkap lainnya. Yang pasti sih bukan bawang.
Mama menaruh sandwich yang dibuatnya itu diatas meja dan menuangkan beberapa mayones diatasnya. Itu adalah favoritnya, memakan roti sambil menggunakan mayones. Jadi apapun yang kulakukan, ia pasti tidak akan tidak menaruh mayones. Yah, itu pun tidak terlalu buruk rasanya, bahkan mungkin enak. Aku mulai terinfeksi oleh virus mamaku. Oh, apakah itu buruk untuk berkata seperti itu?
"Makhan" Suruh mama dengan beberapa sandwich di dalam mulutnya. Itu seperti ia memakan permen karet yang banyak sampai tidak bisa bernafas.
Aku tidak menjawab apa-apa, tetapi langsung mengambil sandwich dan memakannya. Lalu tiba-tiba pikiranku langsung tertuju ke Kurokocchi karena masalah kemarin dan berpikir tentang banyak hal lagi.
"Mama" Panggilku ke arah mama yang masih makan sandwich dengan asiknya.
"Hm~?" Dia menoleh ke arahku sebagai respon, bahwa ia tidak bisa menjawab dengan baik karena mulutnya penuh dengan sandwich. Aku terdiam sejenak, bermaksud berpikir apa yang akan kukatakan kali ini.
"Err.. menurutmu bagaimana kalo aku tiba-tiba jadi bi?" Tanyaku, dengan berwajah sedikit gugup namun tak terlalu kelihatan. (*bi: bisexual bisa menyukai cewek maupun cowok)
Mama melihatku dengan tampang yang terkejut namun tenang. Ia menghela nafas dan menatapku dengan senyum, "Ryouta, bagi mama kau adalah kau. Jadi jangan pedulikan mama, bahkan jika kau menjadi sebuah pohon pun mama tetap menyayangimu"
Tertawa, aku melihat ke arah mama, "Pohon? Bagaimana aku bisa menjadi seperti itu?" Tanyaku cengingisan.
"Kan ada penyakit yang bisa membuatmu jadi pohon. Kutil kayu atau apalah itu namanya"
"... Aku tidak mau menjadi seperti itu"
"Tentu saja"
Aku tersenyum menatapnya, "Baiklah, aku pergi dulu~" Kataku sambil mengambil tas dan terlihat mama tersenyum dibalik mulut yang masih penuh dengan sandwich, lagi.
Aku bergegas pergi ke lokasi pemotretan dengan menaiki bus yang biasanya, cuman sedikit berbalik arah karena lokasinya sedikit berbeda dengan arah sekolah. Tentu saja aku akan ijin dengan sekolah bahwa aku masuk siang karena ada keperluan.
Pemikiran yang cerdas bukan?
Beberapa jam setelah menghabiskan waktu di pemotretan dan sekolah, aku langsung menuju ke arena pertandingan untuk menonton pertandingan antara Seirin dan Rakuzan. Dan aku benar-benar tepat tiba pada waktunya. Tepat sekali, pertandingannya sudah mau selesai. Nice.
Mungkin aku terlalu sibuk di sekolah untuk mengurusi beberapa hal yang penting, yah seperti biasa berfoto dengan para wanita dan memberi tanda tangan. Bukan salahku, mereka yang memintanya.
Seperti harapanku, Seirin menang. Lalu, meskipun tidak terlalu jelas, aku melihat bahwa Akashicchi sudah kembali kesadarannya seperti dahulu kala sewaktu jaman SMP. Akashicchi dan Kurokocchi bersalaman dengan damainya, seperti benar-benar bahwa mereka sudah saling meminta maaf dan mendukung satu sama lain.
Tim Seirin yang menorehkan kemenangan sebagai juara, langsung saling berpelukan dan menangis dengan kerasnya. Mungkin mereka masih tidak percaya, karena sampai tahun lalu mereka bukan apa-apa dan selalu kalah terlebih dahulu. Kedatangan Kurokocchi dan Kagamicchi benar-benar... mengubah sejarah bagi Seirin.
Aku berkata seperti itu sudah seperti orang cemburu saja, aneh.
Dengan bersemangat aku pergi ke lokasi bagian belakang, tempat ganti pakaian dan toilet. Aku akan menduga bahwa Kurokocchi akan pergi ke toilet setelah pertandingan, biasanya sih untuk menyegarkan diri dan berpikir sejenak.
Aku membuka pintu dan dengan bangganya bahwa Kurokocchi akan ada disitu, sendirian. "Hey, Kurokocch—" Kata-kataku terpotong disaat melihat Akashicchi juga berada disana. Seperti sedang... membicarakan sesuatu yang penting, dan entah kenapa atau ini hanya ilusi belaka. Posisi mereka berdua seperti orang yang akan berciuman tapi tidak jadi karena ada kecoak lewat? Aku kecoaknya?
Suasana jadi hening dan canggung. Mulutku masih terbuka karena tidak bisa berkata apa-apa. "Hm, oh. Oke, maaf aku mengganggu kalian" Kataku, segera menutup pintu kamar mandi dan berdiam diluar.
Apakah yang aku lihat benar-benar nyata? Mereka mau berciuman? Sebenarnya ada apa dengan mereka? Kenapa aku bertanya terus? Kurokocchi? Akashicchi?
Entah kenapa aku benar-benar kebingungan dengan situasi ini, entah kenapa jantungku berdetak kencang, entah kenapa aku merasa terkhianati. Entah kenapa aku merasa sakit melihat mereka berdua.
Aku meningintip dari balik pintu dan mendengar Akashicchi berkata "Aku akan menunggu jawabanmu" dengan menaruh kecupan di pipi Kurokocchi.
Tidak. Ini benar-benar nyata, Akashicchi menyukai Kurokocchi? Lalu bagaimana dengan Kurokocchi sendiri? Mengetahui Akashicchi akan keluar dari kamar mandi, aku bergegas untuk sembunyi kearah pintu yang lain, seolah sudah pergi dari tadi. Aku benar-benar tidak tau apakah aku bisa datang menemui Kurokocchi lagi dan menemuinya. Aku benar-benar seorang pencundang.
Tapi, berpikir dengan keadaan seperti ini, tidak mungkin aku menemui Kurokocchi setelah kejadian kemarin dan barusan bukan? Jadi, dengan berat hati aku memutuskan untuk kembali ke rumah.
Di tengah perjalanan, pikiranku masih penuh dengan pertanyaan dan gangguan. Bahkan aku hampir menabrak tiang karenanya. Benar-benar hal yang menyebalkan. Lebih anehnya lagi, mengapa aku merasa terkhianati? Padahal Kurokocchi bukan siapa-siapaku. Eh, dia saudara tiriku, baiklah. Dia juga sahabatku, baiklah.
Mungkin perasaan ini hanya sekedar cemburu karena merasa sahabatmu telah diambil oleh orang lain bukan? Mungkin iya.
Sesampainya di rumah, aku langsung pergi ke kamar dan menyiapkan diri untuk mandi di tengah malam ini. Tujuannya tentu saja untuk mendinginkan kepalaku yang masih penuh dengan pikiran.
Dari sini, aku bisa mendengar kamar Kurokocchi terbuka lalu tertutup, tertanda ia sudah sampai di rumah. Aku mencari kesempatan agar bisa keluar dari kamar mandi tanpa bertemu dengannya, tentu saja ini akan menjadi canggung untuk sekarang jika aku menemuinya.
Setelah ganti baju dan mengeringkan rambut dengan handuk, aku pergi ke lantai bawah untuk meminta makanan ke Mama, dan Kurokocchi sedang duduk di meja makan. Pasti mereka sedang membicarakan kemenangan Seirin hari ini.
"Ryouta! Ayo cepat kesini!" Teriak mama untuk menyuruhku bergegas ke meja makan. Jadi mereka menunggu kita berdua untuk makan malam bersama.
Aku menuruni tangga dan duduk bersama keluarga untuk makan bersama. Keadaan kali ini benar-benar canggung, Kurokocchi juga tidak berani menatap mataku, kelihatannya ia juga terganggu dengan kejadian kemarin malam dan tadi sore.
"Jadi, apa kau sudah mengucapkan selamat ke Tetsuya?" Tanya mama kepadaku.
"Belum, tadi sepulang sekolah aku ke lokasi pemotretan lagi dan tidak bisa menemui Kurokocchi di arena pertandingan" Ah, gawat aku berbohong. "Ngomong-ngomong, selamat Kurokocchi~!" Ucapku dengan girang, seakan tidak peduli dengan masalah-masalah yang sedang berjalan.
"Terima kasih" Jawabnya dengan sedikit canggung, masih tidak berani melihat mataku.
Beberapa jam dihabiskan mama, papa tiri, aku, dan Kurokocchi berbincang-bincang mengenai pertandingan tadi dan curhatan tidak penting dari mama.
Acara makan malam ini pun ditutup oleh mama yang sudah tidak tahan dengan rasa ngantuknya. Akhirnya, kami semua menuju kamar masing-masing untuk tidur tentunya. Aku dan Kurokocchi menaiki tangga bersama dan situasinya sangat canggung.
"Kurokocchi" Panggilku disaat ia akan memasuki kamarnya. "Ada yang mau kubicarakan"
"Aku... benar-benar tidak ada apa-apa dengan Akashi-kun" Katanya langsung menuju topik, mengalihkan pandangan matanya dan terlihat gugup.
"Lalu tadi itu apa?" Tanyaku, seperti seorang ayah yang putrinya telah mempunyai pacar, merasa direbut.
"Ngg.." Geramnya, mungkin ia bingung akan menjawab apa terhadap pertanyaanku. Jarang sekali Kurokocchi menutupi hal dariku, dan itu semakin membuatku tidak nyaman.
"Tidak apa-apa" Kataku menenangkannya.
"Sebenarnya entah kenapa Akashi-kun tadi tiba-tiba berkata bahwa ia selama ini menyukaiku dan.. begitulah.. Ia hampir saja... menciumku, tapi aku merasa beruntung karena tadi kau datang.." Katanya menjelaskan, dengan sedikit gugup dan gemetar.
Aku mengambil nafas dan menangkan pikiran. Sudah seperti dugaanku, Akashicchi menyukai Kurokocchi.
"Jadi, bagaimana jawabanmu?"
"Aku menyukainya"
Jleb. Entah kenapa hatiku merasa sakit.
"Tapi sebagai teman"
Sekarang tidak.
Aku tersenyum dan mengacak-acak rambut Kurokocchi yang seperti biasa kulakukan. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu"
"Apa kau akan menolaknya?"
"Aku tidak tahu"
"Kau.. mau menerimanya?"
"Aku... tidak tahu" Mendengar jawaban yang ragu-ragu disaat menanyakan bahwa ia akan menerima Akashicchi apa tidak, membuatku sangat cemburu entah kenapa. Aku benar-benar tidak bisa berpikir panjang.
"Sebaiknya jangan" Kataku seraya mengambil kecupan di bibir Kurokocchi.
Ah, gawat. Aku melakukannya lagi.
Tapi kali ini tidak mabuk.
Yaaaaaaa aaaii. Gimana-gimana? Gatau deh haha, aslinya aku bingung banget mau ngebuat gimana lanjutannya. Kalau ada saran bilang ya!
Maaf kalo ada typo, salah tanda baca, salah kata, huruf besar kecil. Maklumi ya huahahaha
Jangan lupa buat review gayss.
