Chapter 8
"Pemaksaan"
Kuroko POV
Aku membuka mata dan melihat atap kamar ketika terbangun. Melihat ke arah jam, dan ternyata aku tertidur cukup lama, sekarang sudah jam 10 pagi. Memang hari ini hari libur, tapi tidak biasanya aku bangun siang seperti ini. Mungkin aku terlalu capek memikirkan apa yang akan terjadi hari in... HARI INI SABTU.
Aku hampir saja lupa janjiku dengan Akashi-kun, gawat untung saja aku tidak tertidur sampai sore, meskipun itu tidak mungkin bagiku. Entah kenapa, aku bisa panik seperti ini. Padahal pada waktu pertandingan melawan Akashi-kun sendiri pun tidak sepanik ini. Yang membuatku panik bukan Akashi-kun melainkan Kise-kun tentu saja.
Apakah rencana ini akan berhasil? Aku harap iya, tapi di satu sisi aku harap rencana ini tidak akan pernah terjadi, alias gagal. Kenapa? Tentu saja ini memalukan, dan aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan pikiran yang masih penuh, aku berdiri dari tempat tidurku, dan bersiap-siap untuk mandi. Aku mengambil baju yang akan kupakai nanti, menyiapkan handuk, dan lainnya. Aku hanya ingin terlihat rapi, yah meskipun itu tidak terlalu penting. Lalu dengan cepat aku masuk ke dalam kamar mandi.
Sewaktu mandi pun pikiranku masih penuh dan pusing apa yang akan terjadi nanti, apa yang akan terjadi nanti, apa yang akan terjadi nanti. Semua pikiran itu terus menghantuiku, dan tidak terasa aku sudah berada di kamar mandi selama setengah jam. Bagus sekali.
Aku mengecek jam yang ada di handphoneku dan ternyata sudah jam 11. Benar-benar tidak terasa. Aku mulai memakai kemeja bewarna kuning, dipadukan dengan rompi biasa bewarna coklat. Aku memakai baju ini karena mengingat rambut Kise-kun kuning, konyol memang. Lalu dengan celana panjang hitam, dan tidak lupa juga membawa jaket untuk berjaga-jaga.
Aku melihat ke arah jam lagi, dan ternyata sudah Pk.11.35. Aku benar-benar masih punya waktu beberapa jam, jadi aku memutuskan untuk turun ke bawah dan melihat apakah ada makanan yang tersedia. Setelah mengecek, di meja makan hanya ada sandwich dan pudding coklat yang rupanya kesukaan papa. Mungkin Ryouko-san yang membelinya.
"Tetsuya? Kau mau pergi?" Tiba-tiba suara Ryouko-san muncul begitu saja, entah dari mana. Aku mencari-cari bayangannya, rupanya ia ada di dapur.
"Jam 12 nanti" Jawabku, tanpa menoleh ke arahnya.
Ryouko-san keluar dari dapur dan menampakkan wajahnya yang sepertinya kelelahan, meskipun begitu ia masih tetap saja terlihat cantik. Ibu dan anak ini benar-benar menakutkan, mereka berdua dalam keadaan apapun masih terlihat menajubkan. "Makanlah sandwich ini, masih ada waktu bukan?" Kata Ryouko-san, mengambil beberapa sandwich yang ada di meja.
"Baiklah" Aku mengambil sandwich dan memakannya. Aku merasakan ada hal yang ganjil di dalam sandwich ini... "Mayones...?"
Ryouko-san tertawa kecil dan menyengir di saat yang sama. "Ah, kau tidak suka?"
"Tidak apa, lumayan" Responku, seolah berkata sandwich ini enak, meskipun agak aneh, tapi yah.
Aku melihat ke arah jam di ruang tamu, dan ternyata sudah jam 12. Dengan cepat aku menghabiskan sandwich yang ada di tanganku, dan memakai sepatuku yang ada di rak sepatu. "Aku pergi dulu" pamitku kepada Ryouko-san, dan ia hanya mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban.
Aku memperbaiki rompiku, takut terlihat tidak rapi, dan langsung pergi berjalan menuju ke stasiun. Dari rumah ke stasiun kira-kira membutuhkan waktu 15 menit sendiri, jadi aku sudah memastikan bahwa aku akan tiba disana tepat waktu.
Aku pikir seperti itu, tetapi di tengah jalan rupanya ada perbaikan jalan yang membuatku harus berputar arah. Kenapa tiba-tiba ada perbaikan jalan? Padahal kemarin saja tidak ada apa-apa. Jadi, mungkin aku membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk ke stasiun. Aku berjalan setengah berlari untuk menuju stasiun, takut akan terlambat dengan janjiku.
Sesampainya di stasiun, tentu saja langsung mencari bayangan Akashi-kun. Aku melihat ada lelaki yang berambut merah sedang menyandar di salah satu tiang dekat sana, aku pun langsung pergi menemuinya "Akashi-kun" Kataku sesaat setelah dengan pasti Akashi-kun melihatku.
"Hm hm, seperti biasa, kau tepat waktu. Capek?" Tanyanya dengan lembut, sudah lama sekali aku tidak melihat sifatnya yang ini. Kejadian di final itu benar-benar membuat Akashi-kun yang lama kembali seperti semula, menghirup udara di Jepang ini lagi, sudah sadarkan diri.
"Tidak, aku baik-baik saja" Jawabku, menghapus sedikit keringat di keningku menggunakan tangan kanan. "Jadi, kita akan kemana?"
"Aquarium" Jawabnya singkat, langsung mengambil tanganku dan bergegas berjalan ke arah salah satu kereta yang sepertinya Akashi-kun sudah memastikannya. Dia benar-benar memikirkan jadwal kencan hari ini, bukan? Eh tunggu, haruskah aku mengatakan kalau ini ken..can?
Setelah beberapa menit berada di dalam kereta, aku baru ingat bahwa aku harus memberi Kagami-kun kabar, untuk menjalankan rencana ini.
"Kagami-kun, kita berdua akan ke akuarium" Aku memencet tombol kirim, dan beberapa detik kemudian ponselku bergetar.
"Baiklah! Aku sudah menyiapkan Kise dan Aomine disini, semoga berhasil!" Ketika aku melihat pesan itu, aku langsung tertawa kecil melihat betapa bodohnya dia mengatakan "menyiapkan" terlihat bahwa Kise-kun dan Aomine-kun diperlakukan seperti barang dagangan yang siap untuk dijual. Melihat jawaban bodoh itu, aku memutuskan untuk tidak membalanya.
"Ada apa?" Tanya Akashi-kun bingung, melihatku cekikikan meskipun tidak keras, tapi ia menyadarinya.
"Tidak apa-apa, hanya mengingat kejadian kecil" Kataku berbohong. Tidak mungkin aku bilang bahwa aku tertawa karena pesan dari Kagami-kun bukan? Bisa-bisa nanti Akashi-kun memaksaku untuk melihat pesannya.
"Hmm" Gumam Akashi-kun seperti tidak tertarik, padahal kalau Kise-kun ia pasti akan memaksaku untuk menceritakannya. Tapi baguslah, aku tidak perlu mengarang atau mengingat hal bodoh yang harus kuceritakan, itu mungkin akan susah.
"Ah, sudah sampai" Sesaat Akashi-kun mengatakan itu, aku melihat bahwa akuarium berada persis di depan stasiun kita berhenti. Aku tidak melihat Akashi-kun atau siapapun yang aku kenal disana. Aku kira tidak mungkin, mereka harus menjalankan rencananya diam-diam, tanpa terlihat oleh kita berdua.
Kise POV
"Hahh? Kenapa aku harus pergi dengan kalian berdua?!" Tanyaku merengek seperti anak kecil, tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh dua orang ini, Aominecchi dan Akashicchi. Mereka benar-benar aneh, tiba-tiba datang tanpa diundang dan mengajakku untuk pergi ke akuarium.
"Sudahlah Kise! Kau ikut saja, ini hari libur dan kau tidak ada pekerjaan bukan?" Paksa Aominecchi dan menarik tanganku tanpa ampun. Kagamicchi juga berusaha menarik badanku seakan-akan aku adalah beban untuk bahan olahraga.
Aku mendesis seperti ular, mencoba menarik badanku kebelakang, menolak mereka berdua. "Tidak ada pekerjaan apanya! Sebentar lagi aku ada pemotretan!" Teriakku, tetap menolak apa yang mereka paksa kepadaku.
"Aku tidak peduli!" Secara tiba-tiba, Aominecchi mengangkat badanku, sedangkan Kagamicchi mengangkat kakiku layaknya aku sedang diangkut oleh kuli. Mereka berdua memang pantang menyerah, aku tidak mengerti kenapa orang-orang seperti ini bisa tercipta. Ups.
"Baiklah, bawa diaaaa!" Kagamicchi berteriak, menyuruh Aominecchi untuk berlari. Aku benar-benar diperlakukan seperti layaknya barang jualan. Dengan bingung dan penyesalan yang dalam aku memutuskan untuk menyerah. Tepuk tangan untuk mereka berdua! Jarang sekali, seorang Kise Ryouta bisa menyerah akan pekerjaan karena ulah para monster ini untuk memaksanya pergi ke akuarium! Wow.
"SIALLLL, BAIKLAH AKU MENYERAH!" Teriakku dengan keras, membuat orang-orang disekitar kita yang sudah dari awal mengira kita ada sekumpulan pelawak atau orang aneh, semakin jijik kepada kita dengan memberikan ekspresi ewh.
"Bagus" Aominecchi dan Kagamicchi menurunkan kecepatannya, dan dengan perlahan namun kasar meletakkan aku kembali seperti semula. "Kenapa kalian memaksaku seperti ini? Jarang sekali"
"Midorima sedang bingung soalnya ia memecahkan barang keberuntungannya hari ini, yaitu piring kaca bermotifkan kodok. Murasakibara sibuk dengan snacknya, ia masih kebingungan mana yang akan dimakan duluan, pocky atau happytos. Lalu Akashi tidak bisa dihubungi" Kagamicchi menjelaskan.
Aku terdiam, entah aku harus marah, tertawa atau bagaimana. Yang pertama, memangnya ada piring bermotifkan kodok? Lalu apa yang dibingungkan dari memakan yang mana duluan? Dua-duanya juga akan dimakan, kenapa harus dibingungkan. Untuk Akashicchi, aku tidak tahu harus berkata apa sejujurnya. "Jadi kalian mengajakku untuk pergi bersama kalian, padahal aku punya alasan yang lebih masuk akal dari mereka bertiga?" Tanyaku dengan sadis, seperti mengancam.
"Sudah, sudahlah, sekali-sekali kau perlu liburan juga" Kata Aominecchi menghiburku, meskipun lebih terlihat mengejek yang membuatku ingin memukul wajahnya.
Aku menghembuskan nafas dan mengangkat bahu secara bersamaan. "Baiklah, baiklah, kalau ada dua tikus bodoh yang memohon seperti ini, siapa yang akan berkata tidak bukan?" Kataku mengejek mengeluarkan ekspresi yang tidak menyenangkan tentunya. Sial, kenapa aku harus pergi bersama para dua kecoak bodoh ini? Dan lagi-lagi aku menyebut mereka dengan sebutan hewan yang lain.
Aku memutuskan untuk memberi pesan kepada manager-ku, bahwa aku tidak bisa pergi ke pemotretan hari ini karena ads urusan penting yang mendadak. Gawat, aku membuatnya repot. Wanita itu bisa-bisa membunuhku disaat kita akan bertemu di pertemuan berikutnya, entah kapan.
Setelah beberapa menit ber-agumentasi dari hal yang tidak penting sama sekali, sekitar 30 menit kemudian akhirnya kita sampai di akuarium. Jujur saja, aku masih tidak mengerti kenapa aku harus pergi ke akuarium bersama mereka. "Hey hey kalian! Lihat ada bintang di dalam air!" Teriak Kagamicchi dengan gembira menunjukan hewan yang ada di dalam air itu. Aku hanya menghembuskan nafas karena kebodohan Kagamicchi, "itu bintang laut bodoh" Kata Aominecchi sebelum aku sempat berkata apa-apa, baguslah aku tidak perlu menjawabnya.
Sesaat melihat-lihat ke dalam akuarium, aku melihat dua orang yang sepertinya sudah sangat dikenal oleh kedua mataku. Kurokocchi... dan Akashicchi...? Apa yang mereka lakukan disini? Aku sangat ingat bahwa Kurokocchi mengatakan bahwa ia tidak menyukai Akashicchi secara seksual. Tapi, ia memang tidak tahu apakah ia akan menolaknya apa tidak. Badanku langsung gemetar melihat fakta bahwa Kurokocchi terlihat sangat bahagia bersama Akashicchi, jarang sekali ia bisa tertawa seperti itu. Padahal aku tahu, bahwa Akashicchi bukan tipe orang yang biasa membuat lelucon, jadi cukup aneh bisa membuat Kurokocchi tertawa lepas seperti itu.
Aku tanpa takut langsung menghampiri mereka berdua, dan menghadapi langsung bahwa aku memang cemburu. Aku sekarang sudah menyadarinya, tepatnya sudah dari beberapa hari yang lalu, atau mungkin bertahun-tahun yang lalu. Mengapa? Karena dari dulu cuman Kurokocchilah yang bisa bertahan dengan sifatku ini, cuman Kurokocchi yang bisa membuatku nyama bersamanya, cuman Kurokocchi yang bisa menerima dan mengetahui segala hal tentangku ini.
Aku menyukainya, aku sangat menyukainya. Hal ini rasanya mau langsung kuucapkan di hadapan dunia, bahwa cuman aku yang hanya bisa membuat Kurokocchi bahagia, bukan orang lain, ataupun Akashicchi. Aku tanpa segan langsung menarik Kurokocchi dari Akashicchi, dan membawanya ke tempat lain. Tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Akashicchi atau bahwa ia akan mengutukku nanti.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku dengan marah, tapi tentu saja tidak memperlihatkannya.
Kurokocchi terlihat kebingungan dengan kemunculanku, lalu tiba-tiba marah. "Aku... hanya menjadikan ini sebagai hal terakhir dan aku akan menolaknya nanti..." Kata Kurokocchi jujur, ia tidak mungkin berbohong. Aku lega memang mendengar perkataan itu. Tapi, tetap saja rasa cemburu ini masih tidak bisa ditahan.
Aku mengambil nafas dan menghembuskanya kembali, "Baiklah, begini..." Kata-kataku tertahan ditengah, tidak biasanya aku akan merasa gugup begini, padahal biasanya meskipun aku akan menembak seseorang tidak mungkin segugup ini.
"Oke, aku akan jujur. Dengarkan aku oke?" Kurokocchi mengangguk sebagai jawaban, masih bingung apa yang akan kuucapkan. "Aku menyukaimu, aku benar-benar menyukaimu Kurokocchi, jadi aku tidak ingin kau diambil siapapun. Aku hanya ingin kau menjadi milikku seorang dan tidak akan menyerahkanmu kepada Akashicchi. Jadi, kau harus menolaknya oke?" Kataku panjang lebar, menjelaskan perasaanku kepada Kurokocchi. Aku melihat Kurokocchi melongo, seperti tidak percaya apa yang telah aku katakan tadi.
"Eh... kau serius.. kau tidak mabuk?" Tanya Kurokocchi masih kebingungan.
Aku tersenyum mendengar jawaban dari Kurokocchi. "Tentu saja tidak, apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
"... Aku juga tidak tahu..." Jawabnya, lalu diam sesaat.
"Jadi, bagaimana, kau mau jadian denganku?" Tanyaku secara romantis, tapi kenyataannya tidak. Itu lebih seperti... terlihat memaksa. Kurokocchi melihat kearahku, lalu menunduk. Wajahnya benar-benar memerah, akupun tidak yakin Kurokocchi akan menerimaku, ia seperti bukan tipe yang menyukai lelaki apalagi sepertiku. Tentu saja aku kaget, disaat melihat Kurokocchi mengangguk pelan dengan malu.
"Eh? Kurokocchi kau serius?!" Tanyaku tak percaya, bagaikan seperti mimpi. Sekali lagi Kurokocchi mengangguk pelan, berusaha tak mengeluarkan suara.
"Se-sejujurnya.. aku sudah menyukaimu dari smp bodoh..." Kata Kurokocchi dengan sadis, namun manis. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan ia katakan.
"Aku tidak menyadarinya...?" Kataku, memikirkan masa lalu sekilas. Kurokocchi benar-benar tidak terlihat bahwa ia menyukaiku, mungkin ia pintar menyembunyikan perasaannya. Memikirkan itu saja membuatku meringis tidak jelas. "Jadi, mamaku dan papamu akan menikah itu bukan suatu kebetulan, eh? Atau lebih seperti... Takdir?"
Kurokocchi melihatku sekali lagi, dan mengangguk pelan dengan rasa malu dan wajah yang sangat merah seperti kepiting rebus, BENAR-BENAR MANIS. Maksudku, aku sangat jarang bahkan hampir tidak pernah melihatnya seperti ini.
Lalu dengan pelan Kurokocchi berkata,
"Aku menyukaimu juga, Kise-kun"
Yoooooo, akhirnya Kuroko sama kise jadian eeeyy, aku juga gak bakal nyangka loolololol. Dan aku jujur aja gatau apa yang bakal terjadi di chapter selanjutnya, gatau ide apa yang bakal muncul.
Panjang banget ya astaga, sudahlah aku soalna rencana emang mau jadiin mereka jadian di satu chapter biar gak kelamaan haha. Maaf juga kalo ada salah kata sama typo ya, maklumi aja kecapean: -(
Kalo ada ide ngomong aja yaa
Jangan lupa review gays, biar seru HAHA.
BHAY ILYSM
