[ Tokyo-2, A.D 0102, 10 tahun kemudian usai Perang Dunia III ]
WUUUUUUUUUSSSSHHHHHH.
Sebuah sepeda meluncur dengan sangat cepat di pesisir kota yang sudah dibangun dengan gotong royong setelah Perang Dunia 3 selesai. Di era tersebut, Jepang yang meski kalah lagi, sudah mampu membangun kembali perekonomian serta roda kehidupannya dengan cepat, kembali berjaya sebagai negara yang maju—walau tidak semaju waktu dulu.
Sang pengendara sepeda itu lalu tertawa sarkas selagi ia meluncur dengan lincah, "Hmh! Harusnya aku yang berangkat duluan, bukan Tetsumi-chan!"
.
.
.
The Basketball Which Kuroko Plays ~ Akashi's Family
© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃
Chapter : 1 – Akashi Tetsuryu dan Akashi Tetsumi
Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki
Warnings : OOC, AU, Utopia!Fantasy!AU (?), dan masih banyak lainnya.
A/N (Mun) : AAAYYEEEEYYY! AKHIRNYA DAPAT IDE AWAL UNTUK SERI INI! Kali ini Mun coba buat fanfic yang santai, tidak seperti fanfic Mun yang lain. Tapi besar kemungkinan seri ini juga pendek, paling twoshot atau threeshot, tergantung endingnya kayak apa dulu. Selamat membaca!
.
.
.
Di depannya, ada sebuah sepeda lain dan seorang anak perempuan sebaya dengannya yang mengayuhnya dengan sangat cepat.
Dengan hati-hati agar tas sekolahnya tidak jatuh dari keranjang di depannya, ia berteriak dengan lantang dan sedikit kesal kepada gadis berambut biru cerah itu, "OOOIIII TETSUMIIII! Harusnya aku duluan yang berangkat, bukan kamu! Gimana kalau ketahuan Seijuurou-tousama? Lagian, kau mencuri sepedaku ituuuuu! Nanti aku aduin ke Seijuurou-tousama!"
Gadis itu lalu tertawa kecil, "Ayo kejar aku Kak, kalau kau bisa."
"OI! JANGAN BERANTEM DONG! INI SUDAH MAU BEL MASUK! MASA' KITA TELAT MENGHADIRI UPACARA MASUK SEKOLAH CUMA GARA-GARA BERANTEM DI JALAN? !" teriak kakaknya Tetsumi itu panik.
CKIIIIITT.
Gadis dan kakaknya itu dengan gesit mengerem sepedanya begitu mereka sudah tiba di depan gerbang sekolahnya yang masih terbuka lebar. Di gerbang itu, terpahat sebuah papan nama sekolah itu—Teikou Secondary School. Tanpa tedeng aling-aling, mereka langsung mengayuh sepedanya perlahan-lahan masuk ke dalam kompleks sekolah itu, walau mepet sekali waktunya.
HUP!
Tetsumi lalu melompat dari sepedanya dan membawanya masuk ke parkiran, demikian juga kakaknya. Namun apesnya, ketika mereka sudah menemukan tempat untuk memarkir sepedanya, di sana sudah berdiri seorang laki-laki dewasa berambut merah cerah dan bermata heterokromik yang sedang menyilangkan kedua tangannya menanti mereka berdua sejak awal. Ia mengenakan setelan jas berwarna cokelat tua dipadu dengan kemeja berwarna putih dan dasi berwarna merah sedikit gelap, plus celana panjang berwarna sama seperti setelan jasnya.
GLEK.
"Wah, kalian masih (nyaris) telat lagi, seperti biasa." sindir laki-laki itu jengkel.
"W-Wahhh... Seijuurou-tousama!" pekik Tetsumi dan kakaknya kaget.
Laki-laki dewasa itu lalu memijat dahinya, "Akashi Tetsumi. Akashi Tetsuryu. Kalau aku menemukan kalian berdua telat lagi karena berantem di jalan, pokoknya apa saja alasan yang dibuat-buat dan tidak masuk akal, aku akan 'mendisiplinkan' kalian sendiri. Sudah, ayo cepat masuk sana. Biar aku yang memarkirkan sepeda kalian. Sini."
Kedua 'Akashi' ini dengan patuh memberikan sepedanya ke Seijuurou yang menjadi ayah adopsi mereka, dan buru-buru masuk ke gedung itu dengan tergesa-gesa. Begitu mereka sudah menghilang, tiba-tiba ada seekor—tidak, seorang manusia berambut kuning muncul dari pohon yang ditanam di dekat gerbang itu seraya berkata dengan genit, "Akashicchi, baru pertama kalinya aku melihatmu—WAAAHHH!"
CKRIS.
"Tolong jangan mengomentari metode pendidikanku terhadap dua anak manisku. Kalau aku menemukanmu mengatakan hal itu sekali lagi, nyawamu bayarannya."
Dua kalimat itu ternyata sangat ampuh membungkam mulut bawel-anjir-somplak milik pria berambut kuning itu.
Tambahannya, satu gunting itu ternyata memotong sedikit, sediiiiiikiiiiiit bagian rambut dan mencoreng pipi sebelah kanan yang mulus milik pria annoying dan manja itu, menambah lengkap penderitaannya.
"I-Iya deh, Akashicchi-ssu... Tahun ajaran baru begini jangan menambah suasana horror dong-ssu, kasihan Ryucchi dan Tetsumicchi-ssu." pinta pria yang mirip anak anjing atau anak ayam somplak yang cengeng itu dengan tatapan aduh-tolong-jangan-mengapa-apakan-Kurokocchi-ku.
CKRIS.
"A-Aduh! I-Iya deh, aku kan kangen sama Kurok—."
CKRIS!
"He-Hentikan! Be-Beneran—."
CKRIS!
"Kau tidak patut kangen sama Tetsuya-ku, Ryouta yang super somplak dan super annoying." ejek Seijuurou itu dengan tatapan bersiaplah-kau-nyawamu-akan-melayang.
"TIDAAAKKKK! Da-Darimana kau tahu soal somplak gituan—."
"Dari Tetsuya 11 tahun yang lalu, Ryouta somplak."
JELEB.
Diam-diam Ryouta, pria berambut kuning itu, mojok di salah satu sudut parkiran itu dengan air mata buaya mengisi penuh satu kolam ikan. Merasa puas mengerjai mantan bawahannya, ia lalu memarkirkan kedua sepedanya plus menggemboknya dengan kunci ganda. Diam-diam pula ia mengecek pedal sepeda dan rantainya, memastikan tidak ada masalah apapun pada dua sepeda kesayangan kedua anak adopsinya.
Puas menangis ria, Ryouta lalu berdiri seraya mendekati pria berambut merah cerah itu, "Akashicchi... Bagaimana kabar kedua anak adopsimu-ssu? Dan perkembangan tentang keberadaan Kurokocchi-ssu?"
"Seperti yang kau lihat tadi, mereka masih sehat walafiat. Sangat sehat malah. Dan tentang Tetsuya... Sayangnya, aku masih belum menemukannya. Satsuki saja masih kelimpungan di bagian investigasi dan intelijen kepolisian daerah bersama Daiki mencari jejak Tetsuya." jawab Seijuurou dengan wajah sedikit muram.
"Heeh... Kau tidak menanyai Ryucchi dan Tetsumicchi tentang keberadaan Kurokocchi-ssu?"
"Tidak. Waktu aku menanyainya, mereka tidak tahu. Mereka kenal Tetsuya sebagai kakak sulung mereka, tetapi mereka tidak ingat di mana dia. Petunjuknya nol, kita masih harus berjuang keras. Sudah, ayo masuk. Sebentar lagi upacara masuk sekolah di mulai. Aku tidak mau pamorku sebagai Kepala Sekolah SMP Teikou hancur lebur di mata kedua anakku." ujar Seijuurou berpaling dari Ryouta dan berjalan menuju gedung sekolah.
Ryouta lalu ikut mengekor di belakang Seijuurou seraya bergumam dengan lirih, "Mereka ditemukan di bekas gereja di luar mainland Jepang 'kan? Aneh sekali... Seingatku tidak ada pulau seperti itu di sini-ssu."
Sang kepala sekolah lalu mengoreksinya, "Tidak. Di 10 kilometer ke tenggara dari Tokyo-2 ini, ada pulau buatan di mana sebuah gereja kecil dan bernuansa khas Eropa pada Abad Pertengahan dibangun di sana. Pulau itu disebut 'The Land of Prayers', di mana bahkan seorang pendosa selevel koruptor dan pembunuh kelas kakap bisa memohon ampunan di sana. Mereka ditemukan di sana."
Si rambut kuning lalu mencondongkan badannya mencuri lihat wajah sang kepala sekolah, "Tetapi tetap saja rasanya aneh-ssu."
"Aneh di mananya?"
Ryouta lalu meneruskannya, "Jika memang benar Ryucchi dan Tetsumicchi ada di sana, lantas kenapa Kurokocchi tidak? Harusnya Kurokocchi menjaga mereka berdua, 'kan karena mustahil dua anak berumur 5 tahun berada di sana, jauh dari mainland-nya."
"Tetsuya diketahui sedang belajar di Cina, tetapi jejaknya menghilang persis setelah Perang Dunia III dimulai. Percuma berbicara tentang ini, ujung-ujungnya tidak bakal habis juga." Seijuurou menyudahi topik tersebut.
"Akashicchi berbohong-ssu. Padahal di hatimu, Akashicchi sangatlah sedih akan hilangnya jejak keberadaan Kurokocchi-ssu, ya 'kan?" sindir Ryouta miris.
Tidak ada jawaban dari mulut sang kepala sekolah.
Langkah kaki mereka mengisi keheningan yang mengerikan itu; bahkan tidak ada satu pun di antara mereka berdua yang membuka topik baru. Sebenarnya, dari lubuk hati yang terdalam, Ryouta ikut bersedih akan hilangnya Kuroko Tetsuya. Bahkan Aomine Daiki, Momoi Satsuki, Murasakibara Atsushi, dan Midorima Shintarou—walau ia meragukan yang terakhir—kaget ketika mendengar mantan kaptennya membawa masuk dua anak kecil yang berparas sama seperti sang phantom player yang mereka sayangi dari The Land of Prayers.
Dia bersama ehem-semenya-ehem Aomine Daiki memutuskan untuk mengasuhnya bersama-sama selagi sang mantan kaptennya keluar dari rumahnya untuk mengurusi masalah keamanan. Saat itu, Seijuurou yang masih berusia delapan belas tahun sudah dipercaya untuk mengomandoi beberapa pasukan elit Jepang menghadang musuh, dan selalu berhasil. Namun hasilnya menakutkan; tidak jarang ia sering bermimpi buruk menyaksikan sadisnya perang.
Ryouta dan Seijuurou sama-sama tahu, sebagai salah satu dari Generation of the Previous People—alias generasi orang-orang terdahulu, perang sungguh brutal. Ryouta kehilangan Kasamatsu, seniornya yang ia hormati, akibat ranjau darat; sedangkan Seijuurou kehilangan seluruh bawahan klub basket semasa SMA-nya karena bom atom yang meluncur di atas langit kota Nara, di mana mereka berjuang melawan Sekutu.
Akibat dari perang itulah, Ryouta kehilangan pendengarannya—walau ia berusaha menutup-nutupinya dengan kemampuan berbicaranya yang bagus. Tambahannya, ia menggunakan alat bantu mendengar untuk membantunya menyaring apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Dan Seijuurou diam-diam kehilangan tangan sebelah kirinya hingga buntung, karena tebasan musuh. Dia sendiri memutuskan untuk menggunakan tangan palsu untuk menyamarkan luka yang pedih itu.
Semua itu terasa bagaikan petir menyambar di siang bolong, sungguh menyakitkan.
.
.
.
"Ya. Aku sangat sedih, tetapi bukan berarti aku boleh berputus asa."
Segera saja mata Ryouta mengerlip sebentar, dan kemudian mengulangnya dengan singkat, "Maksudmu, Akashicchi-ssu?"
"Maksudku, kau, aku, bahkan semua anggota Generation of Miracles sangat berduka atas hilangnya Tetsuya. Namun ada satu hal yang membuatku tetap berjuang; ini semua demi kedua anakku. Kita tidak boleh memberinya keputusasaan, dan harus menyembunyikan fakta ini rapat-rapat sebelum kita menemukan titik terang mengenai keberadaan Tetsuya. Paham?" Seijuurou mengulanginya dengan lebih tegas, walau ia menyembunyikan setitik suara serak di balik wajah tegasnya.
Tersenyum simpel, Ryouta menggangguk yakin, "Iya, baiklah Akashicchi-ssu. Sudah, kita sudah tiba di aula ternyata."
Langkah kakinya berhenti tepat beberapa puluh sentimeter di depannya dan mata heterokromnya memandang pintu masuk aula tersebut, serta diam-diam mata tajam tersebut berkaca-kaca, "... Ya. Tahun ini lagi, seolah terulang dalam memoriku. Tidak, aku tidak boleh putus asa! Seorang Emperor tidak boleh menyerah begitu saja!"
Tangan kanannya mulai menyentuh gagang pintu itu, dan perlahan mendorongnya ke dalam.
Seijuurou dan Ryouta bersiap untuk memulai tahun ajaran baru, sambil berjuang mencari setitik jejak keberadaan Tetsuya seraya terus membesarkan Tetsuryu dan Tetsumi dengan penuh kasih sayang. Bagi Seijuurou, ia kini merasa sudah seperti seorang ayah yang berumur lima puluh tahun; takut jikalau ia akan meninggal sebelum bertemu dengan Tetsuya tersayangnya...
...Perjalanan mereka baru saja dimulai.
.
.
.
[ Adventure goes on~ ]
