[ Subuh hari pada keesokan harinya ]

TOK. TOK.

Seisi ruang pertemuan dalam suatu gedung yang belum lama dibangun ulang ini di pusat Tokyo-2, seluruh manusia dewasa yang berkumpul di sana mengheningkan cipta. Beberapa detik kemudian, mereka menepukkan kedua tangannya, sedangkan di pihak lawannya yang duduk di sisi kiri ruang pertemuan itu hanya bisa menggangguk pasrah; bahkan ada yang terpaksa mendengus pelan.

Terkadang, vote di sebuah persengketaan bisa memenangkan segalanya.

"Mulai sekarang, Tembok Besar Nara akan dibongkar serta proses penyatuan Negara Federasi Jepang Selatan dengan Kekaisaran Jepang akan dimulai detik ini. Seluruh warga yang dulunya warga Kekaisaran Jepang di Negara Federasi Jepang akan didata dan dikembalikan ke keluarga. Setelahnya..."

PLOK PLOK.

Kini semua pihak yang menjadi 'korban' atas Perang Dunia III itu senang bukan kepalang; tak lama lagi mereka akan bersua dengan keluarganya setelah sekian lama terjerumuskan dalam kepedihan rasanya 'perang' tersebut...

.

.

.

The Basketball Which Kuroko Plays ~ Akashi's Family

© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃

Chapter : 2 – Langkah Pembebasan

Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki

Warnings : OOC, AU, Utopia!Fantasy!AU (?), dan masih banyak lainnya.

A/N (Mun) : Tadaaaahhh~ akhirnya chap 2 mampir ke sini! Brokoro banget ini aaaaahhh~~~~ *peyuk-peyuk duo Kuroko Jr. (?)*

.

.

.

[ Di kediaman Akashi di pinggiran Tokyo-2, pukul 7 lewat 30 menit di hari yang sama ]

"Hei! Tetsuryu, Tetsumi! Bangun!"

Terdengar suara tegas milik seorang pria berambut merah membara menggema di dalam rumah khas Jepang tradisional. Tak butuh beberapa menit, di sisi kanan dan kiri koridor rumahnya yang besar menjawab suara tersebut dengan suara 'bruk-bruk-brak-pluk', pertanda dua manusia lainnya yang menjadi penghuni tetap rumah itu, sudah bangun di pagi yang cerah seperti biasanya.

Di sisi kiri koridor rumah itu lalu digeser pintunya oleh seorang remaja perempuan yang masih ngantuk, bebarengan dengan sisi kanan koridornya. Mengenakan baju piyama berwarna biru tua bergaris-garis, cowok yang menghuni sisi kanan kamar yang ada di sisi kanan koridor rumah besarnya itu lalu bergumam dengan pelan, "A-Aiyah, Seijuurou-tousama... Iya, iya, kami bangun."

"Hari ini hari apa ya...?" gumam gadis itu masih setengah sadar.

Cowok itu lalu menjawab sambil menguap dengan pelan, "Kayaknya hari Selasa deh. PR dari Kise-sensei belum kelar kan?"

Cewek itu langsung menepuk dahinya, terkesiap kaget mendengar pertanyaan cowok yang menjadi kakak kandungnya, "A-Ah, aku lupa. Tapi kemarin malam aku sempat me-review bab pertama bareng Seijuurou-tousama. Jadi sepertinya aku bisa mengerjakannya nanti. Ayo makan, perutku sudah mau berseriosa nih."

"Oke, oke, nanti bantu aku ya."

"Sip."

Mereka berdua lalu bergabung dan menutup pintunya.

BLAM.

Mereka lalu berjalan menuju ruang makan yang berada di dua kamar jauhnya dari kamar cowok tersebut. Di situ ada ruang makan, dan ketika mereka memasuki ruang itu, mereka melihat Seijuurou Akashi—ayah adopsi mereka berdua—sedang menyiapkan makanan. Mereka melihat baju piyama yang dikenakan ayah mereka terlihat rata di lengan sebelah kirinya; sang ayahanda rupanya sudah melepas tangan palsunya.

Jujur, meski bertahun-tahun mereka tinggal bersama Seijuurou, mereka masih ngeri melihat buntungnya tangan kiri ayahanda mereka. Mereka masih ingat, di tahun pertama mereka diasuh oleh pria tersebut, mereka disambut oleh pria itu yang tangan sebelah kirinya berdarah-darah dan lenyap tanpa sisa. Mereka ketakutan, dan Seijuurou memutuskan untuk menyembunyikan diri selama beberapa bulan guna menghindarkan mereka dari melihat hal-hal yang menakutkan seperti itu.

"...halo?" Rupanya Seijuurou sudah duduk di sisi kanan meja makan itu dengan tatapan heran.

"A-ah, maaf, aku bengong." Cowok itu seketika kaget, lamunan menakutkan itu segera buyar dengan suksesnya.

Tersenyum kecil, Seijuurou lalu mengangsurkan mangkuk yang berisi nasi ke dua anak adopsi kesayangannya. Mata heterokromnya menyelidik ekspresi anak laki-lakinya dengan tatapan intens. Merasa canggung diperhatikan oleh sang ayahandanya, cowok itu lalu bertanya dengan wajah tsundere yang disembunyikannya dalam wajah pokerface, "Ada apa, Seijuurou-tousama?"

"Kau kelihatannya masih takut akan 'itu' ya, Tetsuryu." jawab Seijuurou datar.

DEG.

Kenangan berdarah itu kembali menyerang imajinasi cowok bernama Tetsuryu itu segera setelah sang ayahandanya mengatakan hal tersebut.

Mata biru cerahnya yang sempat memelotot sebentar, lalu kembali normal. Ia lalu menarik kursinya yang berada di sisi kiri meja berbentuk persegi itu, dan menggangguk sedih, "Ya... Melihat hilangnya tangan kiri Seijuurou-tousama saja membuatku bergidik ngeri."

"Oh, tapi jangan khawatir. Aku benar-benar baik-baik saja. Toh ini sudah nyaris sepuluh tahun lalu, jadi jangan merasa ngeri. Biasakan dirimu dengan ini, oke, Tetsuryu?" ujar Seijuurou seraya mengangsurkan mangkuk lain yang berisi sayuran yang dimasaknya—yang mirip dengan sabu-sabu dalam artian sup yang berisi sayur-sayuran dan lauk yang dipanaskan lalu dimasukkan ke air yang sudah dipanaskan—ke dua anaknya.

"Anyway... Seijuurou-tousama..."

"Panggil Papa saja tidak apa-apa, Tetsumi." koreksi Seijuurou tegas.

"Seijuurou-tousama saja... Nah... Aku ingin mendengar atau membaca berita hari ini."

Seijuurou lalu tersenyum kecil. Ia lalu berdiri dan bergerak ke belakang, di mana dapurnya berada. Selang belasan detik kemudian, ia kembali dengan membawa radio analog yang kecil. Ia lalu menaruhkan radio itu di dekat Tetsumi, dan membiarkan gadis itu mendengarkannya sendiri. Usai menghidupkan radio itu, Tetsumi lalu menentukan FM-nya.

PLOK.

"Itadakimasu." doa Tetsuryu tanpa basa-basi.

PIP PIP.

'…mat pagi, dengan JapanNews FM hari ini! Hari ini kami siarkan breaking news…!'

PLIK.

Mata biru cerah milik Tetsumi mendelik sebentar ke radio itu, demikian juga Seijuurou. Radio itu lalu meneruskannya, 'Subuh ini telah terjadi kesepakatan besar di antara pihak United Nations II selaku pihak penengah dengan dua negara yang bertikai, Kekaisaran Jepang dan Negara Federasi Jepang Selatan. Kesepakatan itu adalah berupa…

Penyatuan dua negara tersebut secara bertahap. Seperti yang diketahui pemirsa, Negara Federasi Jepang Selatan merupakan negara boneka buatan para pemenang Perang Dunia III. Diketahui telah terjadi protes dan perang diplomasi berkepanjangan selama berdirinya negara tersebut, hingga usai Perang Dunia III, para petinggi negara tersebut sepakat untuk melawan negara-negara pemenang Perang Dunia III dengan menyelundupkan beberapa tahanan kamp-kamp di belakang Tembok Besar Nara yang diciptakan di awal Perang Dunia III…'

HAP! Nyam nyam! HAP! GLUK!

Seijuurou tetap khusyuk mendengarkan berita radio itu. Kemarin siang aku 'kan pergi ke Roppongi-2 untuk mencari data tahanan yang akan diselundupkan… Tapi…

'Proses penyatuan dua negara tersebut dimulai dengan akan dibongkarnya Tembok Besar Nara…'

DEG.

BROOOOTTTTT.

TAK!

Tiga pasang mata segera melotot ke radio analog itu. Seijuurou seketika mengambil radio itu dan menaruhnya di tengah-tengah meja makan tersebut. Tetsumi, nama gadis itu, menatap dalam-dalam radio itu seraya mendengarkan apa yang akan diserukan oleh radio illegal itu, sedangkan Tetsuryu rupanya batuk-batuk sebentar.

"OHOK! OHOK! A-Asem… Radio itu nyaris saja membunuhku…" keluh Tetsuryu meminum air putih yang disodorkan ayahandanya.

'…Sesudah pendataan tahanan-tahanan di kamp Bunkedan, Hashiburi, dan Xingyao. Selanjutnya, hingga detik ini belum ada kabar mengenai media yang akan dipergunakan para pejabat Negara Federasi Jepang Selatan untuk menyatakan kesediaannya bergabung dengan Kekaisaran Jepang. Demikianlah berita yang kami bawakan hari ini, dan selamat pagi!'

PIP PIP.

Tetsumi lalu berkomentar dengan wajah kagum, "Berita yang mengagetkan… Eh? Seijuurou-tousama?"

Mata bulat milik Tetsumi melihat ekspresi ayahandanya menjadi sangat serius dan sulit dilukiskan. Antara rasa kaget, senang, dan satu lagi… Setitik kekhawatiran. Ia lalu pamit keluar dari ruang makannya ke kedua anaknya, memintanya segera pergi ke sekolah secepatnya sebelum bel masuk berdentang, tipikal ayahanda yang sangat disiplin. Namun insting wanita Tetsumi memang tidak bisa diabaikan.

Tetsumi merasakan kalau ayahandanya mencemaskan sesuatu. Sesuatu yang jauh lebih penting dan sepertinya… Menyangkut nyawa seseorang.

-xXx-

[ Di jalan menuju SMP Teikou, pukul 8.10 ]

WUUUUUUUUUSSSSSSSSSSSHHHHH.

Dua bersaudara Akashi tersebut langsung mengayuh pedalnya dengan sangat cepat, seolah tidak mau kalau salah satu dari mereka akan menjadi korban teguran petugas keamanan sekolah itu. Kali ini Tetsuryu yang mendahului Tetsumi, dan memakai sepeda berwarna hitam plus cokelat karat; sebuah sepeda jaman dulu milik sang ayahandanya.

Syuuuussssshhhh.

Sebuah sepeda lain ikut bergabung dengan mereka. Tetsumi yang menyadari suara sepeda dikayuh dari belakang, lalu menoleh ke belakang. Ia mendapatinya bukan hanya satu sepeda, namun dua sepeda! Dan si pengendara sepeda itu seorang cowok berambut hitam dengan mata berwarna hijau yang salah satunya ditutupi dengan eyepatch berwarna putih dan gadis berambut panjang berwarna ungu dengan mata berwarna lime, yang mengenakan pakaian musim semi SMP Teikou.

"A-Ah! Mi-Midorima-kun dan… Murasakibara-chan? !" teriak Tetsumi kaget.

"A-Akashi-chan! Halo!" sapa si surai hitam itu sumringah.

Tetsuryu yang ikut melihat sebentar ke belakang, menyadari kehadiran dua anak sepantarannya. Ia langsung meneriaki mereka dengan panik sambil mengayuh sepedanya, "He-Hei! Kazuya, tumben banget kau telat ke sekolah! Da-Dan… Tatsushiya-chan! Kau juga!"

CKIIIIIIIIITTTTT.

Tiba-tiba Midorima Kazuya, si surai raven itu, mengerem sepedanya di tengah-tengah balapan tersebut. Dengan senyuman nista, ia lalu berkata sambil menyandarkan kedua tangannya pada kemudi sepedanya, "Tsuryu-kun sudah kan, mendengar berita tadi pagi itu?"

CKIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTT.

"A-Apa? Yang tentang penyatuan Federation of South Japan alias Negara Federasi Jepang Selatan 'kan? Sudah. Apa sih yang ada di dalam pikiranmu, Kazuya-kun?" tanya Tetsuryu penasaran setelah sukses mengerem laju sepedanya. Tetsumi dan Murasakibara kecil juga mengerem sepedanya di saat yang hampir bersamaan dengannya.

"Aku cuma bertanya kok. Lagian… Ah sudahlah." ujar Kazuya sambil mengayuh sepedanya sekali lagi.

"… Kau masih belum bisa melupakan 'dia', ya?" tanya Tetsuryu penasaran.

PIK.

Ia berhenti sesaat kemudian setelah pertanyaan itu, dan ia lalu memasang wajah sumringah seperti biasa, "Nggak juga kok. Lagian… Kita semua menderita 'kan, kehilangan orang-orang yang kita sayangi karena perang… Aku juga kehilangan mata kananku ini… Rasanya agak sakit juga sih, tapi sudah berlalu 'kan perangnya, lho?"

Syuuusssshhhh!

Kazuya lalu mengayuh sepedanya lebih cepat dari tiga sahabatnya, dan meninggalkan mereka dengan irama tergesa-gesa menuju ke sekolah. Tatsushiya yang melihat kaburnya Kazuya dari mereka bertiga, lalu menjelaskan kepada mereka berdua sambil memakan snack-snack yang dibawanya sedari tadi di keranjang sepedanya, "Tetsuchin, Ryuchin, Kazuchin sudah bersikap aneh dari pagi lho."

"Bersiap aneh?" Kali ini kepala Tetsuryu teralihkan ke gadis jumbo tersebut.

*nyam*

"Waktu mendengar siaran radio analog itu, Kazuchin mendadak menggebrak mejanya ketika mendengar berita tersebut. Dan… Entah apa sumbernya, namun liburan lalu Kazuchin sering uring-uringan lho." jawab Tatsushiya sambil membuka kantong snacknya yang entah sekarang sudah ke berapa kalinya.

Tetsuryu menggangguk kecil, "Yaaa. Aku dengar dari Seijuurou-tousama, sebagian dari anggota Kiseki no Sedai yang berjaya se-dekade yang lalu hilang… Tidak terkecuali ayahnya Kazuya-kun dan ayahmu, ya 'kan, Tatsushiya-chan?"

Tatsushiya hanya bisa menggangguk sedih. Dia bahkan berhenti memakan snacknya. Ia lalu ganti menyandarkan kedua tangannya pada kemudi sepedanya, "Ketika mendengar berita itu, aku juga gelisah. Kau tahu, Ryuchin, kalau aku juga bernasib sama seperti Kazuchin… The Parentless Children. Lelah juga kalau harus tinggal di panti yang jelek itu, belum lagi dua kakakku yang juga hilang."

PUK PUK.

"Sudah, tidak apa-apa, Tatsushiya-chan. Kau bisa numpang main di rumah kami kok." hibur Tetsumi bijak.

"Aku juga tahu cerita itu, Tatsushiya-chan. Dia mungkin lebih… Menyesali hilangnya matanya." gumam Tetsuryu melamun.

Mata bulat milik Tetsuryu lalu diedarkannya ke pinggiran kota Tokyo-2 yang merupakan pantai terbuka. Mereka sendiri berada di atas aspal jalan yang dibentuk ulang dan dibangun di atas sebuah tembok setinggi 10 meter yang cukup curam dari pantai ke pinggiran jalan tersebut. Dan dari laut di sana, matahari rupanya sedang bersinar terang, naik sedikit demi sedikit ke tengah-tengah langit kota Tokyo-2.

Gadis berambut ungu itu lalu menggangguk pelan, "Ya, Ryuchin. Dia pasti marah kepada orang-orang Federation of South Japan yang tidak langsung menjadi penyebab hilangnya mata berharganya."

GREP.

Merasa kalau sudah membuang cukup banyak waktu, Tetsumi lalu mulai mengayuh sepedanya dan memutar arah ke jalan satu-satunya ke sekolah seraya memperingatkan mereka berdua, "Sudahlah, teman-teman. Lihat, kita sudah membuang 10 menit di sini. Pagar sekolah akan ditutup pukul 8.30 hari ini. Buruan!"

"Ah! Gawaaaaat! Ayo buruan, Tetsuchiiinnn~~~~~"

Syuuussssshhhhh!

Tetsumi dan Tatsushiya buru-buru mengayuh sepedanya, mulai balapan untuk mencapai pagar sekolahnya. Namun di luar dugaan mereka, Tetsuryu justru tidak ikut balapan dengan mereka. Malahan, ia sudah turun dari sepedanya dan menggapai pagar pembatas jalan. Semilir angin mulai berhembus pelan, menyambut dirinya.

Kita semua menderita 'kan, kehilangan orang-orang yang kita sayangi karena perang…

Deg.

Matanya menatap laut yang terbentang jauh di luar pantainya dengan tatapan dalam-dalam.

Aku juga kehilangan mata kananku ini…

"Kau masih tidak kuat melihat dirimu yang itu, Kazuya-kun…" gumam cowok itu sambil memasukkan tangan kirinya ke saku celana seragamnya.

Rasanya agak sakit juga sih, tapi sudah berlalu 'kan perangnya, lho?

PREK.

Ia lalu mengambil sesuatu dari saku celana seragamnya. Di tangan kirinya, ada selembar foto usang yang masih berwarna, di mana ada tiga orang yang berdiri sambil berangkulan satu sama lain, dan di belakangnya ada seorang laki-laki paruh baya berambut hitam dengan mata berwarna biru cerah yang bulat. Ada wanita paruh baya yang mengapit tangan kiri laki-laki tersebut, dan beliau adalah wanita cantik berambut sebahu berwarna biru cerah dengan mata berwarna hitam dan kulit pucat pasi. Mereka berdua berdiri di belakang pantai pada senja hari dengan wajah cerah.

Satu dari tiga muda-mudi yang ada di foto itu adalah seorang laki-laki berusia kira-kira belasan tahun; beberapa tahun lebih tua dari dua anak yang jauh lebih kecil tersebut, dan mewarisi rambut biru cerah dan warna mata yang senada dengan rambutnya, sama sepertinya dan Tetsumi.

Mereka berlima sangatlah bersemangat dan riang, berbeda dengan sekarang; hanya didampingi oleh 'teman'nya kakaknya yang menjadi ayah adopsi mereka. Meski sudah sepuluh tahun berbilang, ia sama sekali berbohong kalau ia senang dengan keluarga yang sekarang ini. Ia masih canggung berhadapan dengan sang emperor, mungkinkah karena auranya itu…?

GRASP.

Kita semua menderita 'kan, kehilangan orang-orang yang kita sayangi karena perang…

"Kau benar, Kazuya-kun… Aku pun sangat menderita…"

TES TES.

Beberapa tetes air mata membanjiri foto itu. Tetsuryu menangis untuk pertama kalinya semenjak ditemukan oleh Seijuurou.

Ia lalu menenggelamkan mukanya pada pelukan kedua tangannya di atas pagar pembatas itu, bergumam dengan suara sangat lirih, "Apa Seijuurou-tousama juga mengalami hal yang sama…? Kehilangan orang-orang yang dia cintai…? Tetsuya-niichan… Mama… Papa… Aku sangat menyayangi kalian… Hiks… Jangan tinggalkan Tetsuryu sama Miichan…"

TES. TES.

"Kazuya-kun… Kau ternyata kuat dan sabar… Aku iri denganmu…"

Tak ada yang akan tahu bahwa pada pagi itu, bahwa seorang Akashi Tetsuryu menangis. Cowok ini bersumpah, demi kenangan manisnya di masa lalu bersama Tetsumi, ia akan menyembunyikan fakta itu. Sepuluh tahun itu terlalu lama baginya untuk menunggu kakak dan Mama serta Papanya untuk pulang ke sisi mereka berdua. Andaikata ada mesin waktu, ia akan mengubahnya dan memutarbalikkan sebuah fakta.

Bahwa Mama serta Papanya sudah tiada serta kakaknya hilang.

Serta kenangan menakutkan itu, di mana dia yang waktu kecil menyaksikan sendiri kematian orang tuanya di The Land of Prayers bersama Seijuurou-tousama dan adik kembarnya… Baginya, kematian orang tua merupakan kiamat kubra dan musibah yang sangat mengerikan…

.

.

.

[ Adventure goes on~ ]