[ Di depan Tembok Besar Nara, sore hari. ]
"Bebaskan kami! Hayo nih!"
"HIDUP JEPANG!"
Kini para tahanan dan warga kota bergumul persis di depan gerbang tembok yang terbuat dari batu bata setinggi dua puluh meter tersebut. Di depannya, para petugas bersenjata berjajar menghalangi akses para tahanan untuk menerobos masuk gerbang tersebut. Sang Komandan, yang mudah dikenali hanya dengan seragam tentaranya yang berbeda dengan para petugas tersebut, lalu meneriakkan perintahnya lewat speaker-nya, "Tolong tenang! Perintah dari pejabat Federation of South Japan belum turun!"
Salah satu tahanan dari kamp yang paling dekat dengan Tembok Besar Nara itu—seorang laki-laki paruh baya yang bertampang tembem dan gendut—langsung memaki para petugas itu, "Bullshit! Tidak ada yang tidak jelas lagi! BEBASKAN KAMI SEKARANG JUGA! CEPAT NIH!"
.
.
.
The Basketball Which Kuroko Plays ~ Akashi's Family
© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃
Chapter : 4 – Langkah Pembebasan
Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki
Warnings : OOC, AU, Angsty!AU (?), ada kemungkinan sedikit superanatural dan masih banyak lainnya.
A/N (Mun) : Okeh. Kuputuskan untuk mengubahnya jadi ke angst. Gak tahu kenapa, tapi lagi pengen menulis yang kayak begini~ jadinya seperti ini.
.
.
.
[ Di tanah yang jauh dari Tembok Besar Nara, saat yang sama ]
Gerombolan manusia yang bergerak menuju Tembok Besar Nara rupanya menarik perhatian beberapa manusia lain yang sedang berasyik-masyuk dengan bola basket. Kuroko yang masih duduk di bangku panjang di dalam stasiun bobrok itu, lalu menolehkan kepalanya ke kejauhan, di mana terlihat beberapa titik manusia yang bergerak ke arah Tembok Besar Nara.
Ogiwara yang ujung-ujungnya malah ikut bermain basket, lalu menghampiri pria buntung dan berperban tersebut, "Hari ini katanya semua tahanan kamp Xingyao, Bunkedan dan Hashiburi akan berduyun-duyun ke Tembok Besar Nara untuk menanti pembebasan mereka. Tak kusangka mereka justru datang di saat yang lebih awal."
"Ya. Kuharap nggak bakal menjadi semacam perseteruan berdarah, Ogiwara-kun." sahutnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari gerombolan tersebut.
"Yaahhh… Aku pribadi agak ragu sih. Orang-orang di kamp Hashiburi sadis semua, maklum bekas tentara Kekaisaran Jepang yang ditahan sebelum dibuat negara boneka seperti ini." Ogiwara menimpalinya dengan ragu.
Pria berambut biru cerah itu lalu ganti menoleh ke sahabat baiknya dengan wajah heran, "Kamu tinggal di kamp Hashiburi? Aku kok nggak tahu ya, Ogiwara-kun…"
Pria yang berambut hitam keoranyean itu hanya bisa tertawa kecil. Ia lalu berkacak pinggang dan menjawab dengan renyah, "Habis, Tecchan nggak tanya sih yaaaa~ aku sih sering mondar-mandir antara kamp Hashiburi sama Xingyao, soalnya orang-orang di sana ganas semua. Takuik pisan…Jadinya ya ditukar sama yang lain dan berakhir masuk dan tinggal di kamp Hashiburi."
PLUK.
Dua anak remaja yang tadi ditemuinya pagi hari langsung memeluk pinggang Ogiwara seraya menimpali perkataan pria tersebut, "Aku di kamp yang sama kayak Ogiwara-niisan! Kamp Hashiburi itu satu-satunya kamp yang menampung tahanan anak-anak~ dan juga tahanan wanita—yah, walau di semua kamp juga ada. Tahanan wanita di kamp kami yang paling banyak tuh!"
"Wah, wah, setidaknya lebih baik dari Xingyao. Oh ya, Nak, siapa nama kalian?" tanya Kuroko sambil berdiri dan menuruni tangga yang ada di balkon stasiun itu, hendak berjalan mendekati mereka bertiga.
"Namaku Hanamiya Makoto!" jawab anak berambut hitam yang memeluk tangan kanan Ogiwara dengan senyuman khas.
"Mu-ra-sa-ki-ba-ra. Murasakibara Rikugyo." Anak berambut ungu yang memeluk tangan kiri Ogiwara, menjawabnya dengan malu-malu.
Kuroko perlahan teringat akan sesuatu, dan berbisik ke Ogiwara, "Ogiwara-kun… Hanamiya-kun itu awalnya kan…"
Tahu akan arah pertanyaan sahabat baiknya, pria berambut oranye itu tersenyum kecut, dan kembali berbisik dengan pelan, "Ya. Mau tak mau, ia harus hidup bersama Rikugyo yang merupakan kakaknya Murasakibara Tatsushiya-chan. Yah… Kalau Hanamiya-kun, sih, Teppei-kun yang mengasuhnya. Kudengar dia sedang menghilang untuk melakukan sesuatu, Tecchan."
Teppei-kun…Kuroko menghela napas. Ia masih ingat, beberapa senior dari bekas SMA-nya ada yang masih hidup, dan salah satunya Riko dan Teppei. Riko diketahui masih berduka karena suaminya—Hyuuga Junpei—tewas ketika berusaha melindungi anak-anak yang dikawalnya masuk ke bunker di salah satu tempat di dekat kota Miyagi di saat Federation of South Japan belum berdiri.
"Yah, kuharap Teppei-kun bisa bertahan hidup." harap Ogiwara menggaruk kepalanya.
DUK. DUK DUK.
Terdengar samar-samar bola basket dipantulkan beberapa kali oleh dua remaja yang ceria tersebut. Ogiwara menyadari bahwa seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat tampak berjalan kemari ke arah mereka. Wanita itu lalu tersenyum ramah, dan berkacak pinggang sambil mengelap wajahnya yang berkeringat, "Kuroko-kun, dari tadi kerjaannya cuma menatap kami bermain basket, kenapa tidak sekaligus jadi wasit?"
"Habis, ia sepertinya masih trauma, Hyuuga-chaaaan." jawab Ogiwara dengan wajah melas.
DUK DUK DUK.
FLAP FLAP FLAP.
WUSSSHHH.
Seketika mereka bertiga menengadahkan kepalanya ke langit oranye itu, di mana ada banyak burung gagak yang mengepakkan sayapnya menghiasi langit tersebut. Suasana sakral itu perlahan berubah ketika tiga pasang mata itu menemukan ada tiang asap tipis yang menyembul dari kejauhan. Melihat adanya asap tipis tersebut, seketika bayangan yang mengerikan mulai menyerang imajinasi mereka bertiga lagi.
Pertanda buruk… Sebuah pertempuran berdarah lagi…
-xXx-
[ Di belakang Tembok Besar Nara ]
DOR DOR!
DUAK!
DUAK!
Kini suasana di belakang Tembok Besar Nara—di mana semua tahanan kamp-kamp yang semengerikan Auschwitz—berubah seratus delapan puluh derajat.
Banyak tahanan yang menjadi korban tak bersalah akan pertempuran yang sebenarnya tidak perlu terjadi; mereka berjuang mempertahankan hak merdekanya. Banyak dari tahanan tersebut dengan perkasa menerjang dan menyerang para sipir dan tentara; memaksanya membukakan pintu titanium yang membatasi hati mereka dengan hati mereka di dalam Tembok Besar Nara tersebut.
"Be-Berhenti di situ! Tolong tenang!" seru sang kepala sipir berusaha menenangkan amukan para tahanan.
BRUAGH.
Tiba-tiba seorang tahanan—kali ini seorang laki-laki berambut ungu dengan rambut yang tumbuh dengan sangat pendek pada dagunya—menghajar balik sang kepala sipir. Wajahnya segera menjadi sangat garang, dan ia tanpa basa-basi menubrukkan kepala sang kepala sipir ke tanah seraya mengejeknya, "Berani sekali kamu, dasar sampah!"
Tahanan yang terkesiap melihat tindakan pria yang tingginya luar biasa tinggi itu, langsung mengomporinya dengan semangat, "Ayo lanjut! Ayo! Jangan hanya diam saja, bantu Murasakibaraaa!"
CREEESSSHHHH.
Tiba-tiba salah satu sipir itu mengeluarkan pisau kecil, dan menusuki jantung salah satu tahanannya. Satu orang pun ikut tumbang.
"BRENGSEK KAAAUUUU! !" kutuk Murasakibara—nama pria berambut ungu itu—mengamuk.
BRUAAGGGHHH.
Di saat Murasakibara sedang gila-gilanya beradu dengan para sipir, banyak tahanan yang mengambil kesempatan menggali tanah di dekat Tembok Besar Nara yang tidak diawasi para sipir, dan berakhir ditembaki oleh mereka. Ada pula yang melempar batu sembarang arah, ujung-ujungnya ditembak. Beberapa menit kemudian, para polisi didatangkan dari daerah pesisir untuk menjaga para tahanan yang lepas kendali.
"Aku sangaaaa~at benci kalian." gerutu Murasakibara sebal.
DUAK!
"Be-Berhenti di sana, Tahanan 9021!" Salah satu sipir memperingatkan sang titan itu dengan menodongkan moncong senjata apinya.
"Aku tidak peduli—."
DOR.
"TIDAAKKKK! ! ! MURASAKIBARA-SAAANNN!" Sebagian dari para tahanan itu menyadari tembakan itu, dan menyaksikan sang titan itu perlahan tumbang.
Air mata bertumbangan satu sama lain, menangisi tumbangnya sang Shield of Aegis tersebut. Amarah para tahanan perlahan bertambah besar. Seolah tidak rela sang 'pelindung'nya tewas tertembak pada jantungnya oleh sang sipir tersebut, mereka segera berubah menjadi berserker dan mulai menghabisi para sipirnya satu per satu.
DOR DOR!
"PERTAHANKAN TEMBOK BESAR NARA! JANGAN BIARKAN PARA TAHANAN LEWAT!"
"BEBASKAN KAMI! KITA BALASKAN DENDAM MURASAKIBARA-SAAAAN!"
BRUAGH! BRUAGH!
DUAK!
Para tahanan itu dengan muka merah padam karena marah atas kematian sang raksasa tersebut, mendobrak paksa barisan para sipir dan polisi. Namun jauh dari gerombolan para tahanan yang sangat mengidamkan kebebasan mutlak, ada seseorang yang duduk dengan menggenggam sebilah pisau dengan segenap perasaan amarah dan kesal. Pada matanya ditutupi oleh perban dekil, dan rambutnya berwarna hijau sedikit tua.
Di antara tahanan lainnya yang merupakan wanita, pria yang diperban pada matanya itu, menghela napas dengan pasrah dan sangat kesal. Banyak tahanan wanita yang memutuskan untuk tidak ikut para tahanan yang di dekat Tembok Besar Nara tersebut, dan segelintir pria lemah pun ikut masuk hitungan, salah satunya pria yang diperban pada matanya tersebut.
TES. TES.
Di balik perbannya, pria itu menangis.
"… Kenapa… Takao… Kenapa… Murasakibara… Kiseki no Sedai kini telah tumbang seorang… nodayo…" ucapnya lirih.
Meski ia kini tak bisa lagi menggunakan kedua manik emerald-nya, ia tahu satu hal.
Sang Shield of Aegis telah tumbang; dan ia merasakan suatu perasaan menusuk yang seolah-olah mengatakan bahwa dialah sang mangsa selanjutnya; suatu pembantaian tiada berperikemanusiaan yang masih saja berlanjut walau kedua negara tersebut kini bersiap untuk kembali bersua membawa ceritanya sendiri…
-xXx-
[ Malam hari, Tokyo-2 ]
DRAP DRAP!
Di rumah Akashi, terlihat beberapa anak yang membawa tas kempingnya ke dalam mobil Toyota Avan*a berwarna silver keluaran lama. Langkah kaki mereka terdengar sangat tergesa-gesa, demikian juga seorang pria dewasa yang menemani mereka. Dengan berbekalkan pakaian berbahankan wool berwarna abu-abu dan celana jeans berwarna cokelat yang sedikit longgar, pria dewasa bersurai merah terang itu mengingatkan anak-anaknya, "Tetsuryu. Tetsumi. Tatsuhiya. Kazuya. Kalian harus tenang di perjalanan ya."
"Sip, Seijuurou-tousama/Akashi-san!" sahut empat anak serempak sembari berbaris masuk ke jok belakang mobil tersebut.
"Eh, siapa yang di depan nih?" tanya Akashi Seijuurou—nama pria dewasa itu—menyelidik.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan datar pria tersebut. Keempat anak itu saling sikut-menyikut, tidak mau kalau mereka harus duduk di samping sang Kepala Sekolah SMP Teikou yang dikenal sangat tegas dan sadistik. Bagi mereka, walau di luar Seijuurou selalu baik dan sopan, tetapi kalau sudah menyangkut individu, tentu saja tidak bakal semudah itu untuk meluluhkan hati sang Emperor.
"Ya sudah deh. Aku saja, Seijuurou-tousama." Tiba-tiba seorang anak gadis berambut panjang sepinggang berwarna biru cerah mengajukan diri.
Tersenyum kecil, pria dewasa itu segera berlari ke jok depan sebelah kanannya, di mana ia biasa mengemudikan mobil kuno tersebut, "Duduk yang rapi! Kita malam ini akan mengebut sampai ke depan Tembok Besar Nara!"
BRAK!
Seorang anak laki-laki berparas mirip dengan anak gadis yang duduk di jok depan, membanting pintu mobil itu dengan cepat, demikian juga pria tersebut dalam waktu yang hampir bersamaan. Dengan gesit pria itu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya, dan memasukkannya ke dalam lubang kunci di dekat setir tersebut.
BROOOOMMMM.
"Apakah kita bisa mencapai tempat itu dalam waktu singkat? BBM sedang sangat langka di sana-sini, lho?" tanya anak laki-laki berambut hitam, cemas sambil mendekati pria dewasa yang sedang sibuk menyalakan mesin mobilnya itu.
"Jangan khawatir. Aku pasti akan menemukan pompa bensin dan mengisikannya. Ingat, aku itu absolute."
"Baiklah, baiklah, Akashi-san." Memutuskan untuk pasrah, ia lalu kembali ke jok belakangnya.
Apabila Anda melawan seorang Akashi Seijuurou, nyawamu bayarannya. Hal itu juga berlaku untuk seorang Midorima Kazuya.
Mata heterokromiknya mencuri pandang ekspresi empat anak yang sekarang bergantung kepada dirinya. Menyeringai licik, kaki kanan Seijuurou segera menginjak pedal gasnya, sehingga mobilnya segera melaju dengan cepat! Anak-anak yang mengendarai mobil kuno itu, segera menjerit dengan suksesnya merespon cepatnya seorang Akashi Seijuurou mengendarai mobil tersebut.
BROOOOOOOOOMMM! ! !
Mobil itu melaju dengan sangat cepat, seolah-olah kecepatannya sudah setara dengan kecepatan cahaya. Bagi 'trio' Akashi, Midorima dan Murasakibara sama-sama khawatir; mendoakan keselamatan orang yang mereka cintai masing-masing, tidak lupa dengan lengkapnya semua orang yang mereka cintai.
.
.
Tolong…Sa-saya ha-hampir mati…
-xXx-
[ Kembali ke dekat Tembok Besar Nara ]
"HUWAAAA! ! ! !"
"Ti-Tidak… Mama… Papa…"
Banyak anak-anak yang menangis di dekat kamp Hashiburi yang cukup dekat dengan kamp Bunkedan yang menjadi saksi atas tumpahnya pergolakan menakutkan tersebut. Anak-anak dikumpulkan di satu ruang yang cukup besar di dalam salah satu lantai kamp Hashiburi, dan dijaga oleh tentara. Ada pula wanita-wanita yang berusaha menenangkan mereka yang sedang berduka akan terjadinya pertempuran tersebut.
Di antara anak-anak yang masih polos di situ, hanya ada satu anak yang terlihat tidak menangis.
Anak itu mengigit bibir bawahnya sambil meringkuk berdempetan dengan anak-anak lainnya.
Sejumput rambut merah ditata berantakan, menandakan ciri khasnya. Anak itu menundukkan kepalanya lebih ke dalam, seolah tidak mau mendengarkan maupun melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Di dalam hatinya, pastilah berkecamuk pelbagai perasaan yang bergolak bagaikan didihan lava api yang menyala, saking menyakitkannya.
"Perhatian! Jika perintah dari para petinggi Federation of South Japan untuk memproklamirkan pemersatuan belum turun, kalian akan ditahan sebagai perusuh!" Terdengar suara bentakan dari para tentara yang mencoba meredam kebisingan ruangan tersebut.
"Tidak! Tidak! Tolong bebaskan kami sekarang juga! Kumohon, kasihanilah kami!"
BRUAGH!
"Tolong tenang! Kami takkan berbuat apapun jika Anda tidak memberontak seperti ini!"
"Pak, tolong percepat proklamasinya! Awas kamu!"
DUAKKK!
"Bebal sekali!"
Teriakan-teriakan dan caci-maki yang keluar dari mulut hampir seluruh orang dewasa—kebanyakan wanita—merajai ruangan tersebut. Saking kerasnya, tangisan anak-anak yang kebanyakan berusia antara sepuluh sampai dua belas tahun itu semakin mengeras seiring dengan kekerasan tersebut. Bahkan ada juga yang membawa salah seorang tahanan wanita keluar dari ruangan itu, dan hampir semua penghuni kamp itu hafal di luar kepala apa gerangannya; mereka akan disiksa hingga mati.
Bagi anak itu, kekerasan yang seperti itu tidak ada bedanya dengan yang dilakukan kaum Pol Pot yang mengakibatkan adanya seribu tengkorak yang berserakan dengan perasaan pilu dan menyayat hati puluhan tahun yang lalu.
Anak itu lalu memegangi erat sebuah syal berwarna merah dan biru cerah yang dikalungkan pada lehernya. Syal itu unik; dua warna yang sangat bertolak belakang itu dipilin dan dieratkan secara bebarengan, sehingga memunculkan motif unik yang ada pada syal itu.
TES TES TES!
"MAMAAA! ! !"
"A… Aku tidak mau lagi… Hiks…"
Semakin tersalurkan tangisan dan perasaan mereka, semakin menderitalah anak tersebut. Meski demikian, ia juga sama susahnya dengan semua anak-anak tersebut. Sudah sering sekali ia melihat teman-teman sepermainannya di kamp itu dibunuh di depan matanya; ia bahkan tidak sudi lagi untuk bermain dengan anak yang lain—dengan alasan trauma psikologis tentunya.
TES TES!
BRUAGH!
"DIAAAMMM! ! ! ! PERINTAHNYA BELUM TURUN!"
TAK! CTAAANG!
Suasana seketika menjadi hening ketika sang kepala sipir ternyata datang membawa tongkat besi yang biasa dipakai untuk menghukum para tahanan. Di situ mereka bisa melihat banyak bercak darah yang menempel pada tongkat tersebut. Beberapa wanita segera berpelukan saking takutnya, dan semakin meringkuk dengan itu tidak memeluk siapapun; ia hanya ingin mempercayai dirinya sendiri saja. Meski demikian, ia sepertinya ragu kalau ia sendiri bakal mampu bertahan dari kegilaan perang tersebut. Bukan tidak mungkin ia akan seketika menjadi orang gila saat itu juga.
Murasakibara-kun… Hyuuga-chan… Midorima-san… Aku takut…
Tidak ada yang tidak takut terhadap siksaan tersebut.
Serta mulai lenyapnya harapan akan langkah pembebasan tersebut.
.
.
.
[ Adventure goes on~ ]
